← Nggak Diundi

Chapter Seventeen

Panggung

POV: Panji

Talita: GUYS

Talita: Sabtu aku MC di soft opening resto di Kuningan

Talita: Kalian dateng

Gilang: ini undangan apa perintah

Talita: PERINTAH

Talita: Aku dikasih jatah 1 meja. 6 kursi. Makan gratis

Gilang: aku dateng

Talita: kamu nggak usah dateng

Gilang: kamu bilang perintah

Talita: AKU RALAT

Bram: Saya datang.

Vira: Aku juga 🙂

Nindy: Aku shift sampai jam 6. Telat gapapa?

Talita: GAPAPA BANGET. acaranya jam 7

Talita: panji?

Panji: Ikut

Talita: satu kata doang

Talita: nindy kamu ngajarin dia ngetik dong

Nindy: Nggak. Aku suka gitu

Dan tidak ada yang membalas apa-apa selama empat menit setelah itu, yang menurut Gilang malam itu adalah “empat menit paling berisik dalam sejarah grup”.


Restonya di lantai dasar sebuah gedung baru, dan seluruhnya berwarna hijau tua dan kuningan, dan menunya tidak ada harganya, dan kursinya lebih nyaman dari sofa di kontrakanku.

Aku memakai kemeja yang aku setrika dua kali.

“Kamu setrika dua kali?” tanya Nindy waktu kami masuk.

“Kenapa kamu tahu?”

“Lipatannya ilang total. Kalau sekali masih ada bekas.”

“Kamu merhatiin lipatan?”

“Aku merhatiin banyak hal,” katanya, dan duduk.

Meja kami di sisi kanan, agak jauh dari panggung kecil di depan. Bram dan Vira sudah di sana. Gilang datang lima menit kemudian dengan rambut yang jelas-jelas dia tata dan kemeja yang jelas-jelas baru, dan waktu Bram bilang “kemejanya bagus,” Gilang menjawab “ini lama banget” dengan kecepatan yang membuat semua orang tahu itu bohong.

Lampu redup jam tujuh lewat.

Dan Talita naik ke panggung.


Aku perlu mencatat ini dengan jujur.

Talita di panggung adalah orang yang berbeda.

Bukan berbeda seperti Nindy berbeda. Nindy berpindah antara dua versi dirinya. Talita naik ke panggung dan menjadi fungsi.

Suaranya berubah — lebih penuh, lebih bulat, mengisi ruangan tanpa terdengar berteriak. Posturnya berubah. Kecepatan bicaranya berubah. Dia menyapa pemilik resto, menyebut nama tiga sponsor tanpa membaca, membuat lelucon tentang parkiran yang membuat seluruh ruangan tertawa, dan menyerahkan mikrofon ke pemilik resto dengan gerakan yang sudah dilakukannya seribu kali.

Selama lima puluh menit dia tidak salah sekali pun.

Dan selama lima puluh menit itu, aku memperhatikan sesuatu yang tidak enak.

Setiap kali ruangan tertawa, Talita melihat ke belakang ruangan.

Bukan ke orang yang tertawa. Ke belakang — ke arah pintu, ke arah tempat kru berdiri, ke arah pemilik resto yang berdiri melipat tangan.

Dia mengecek.

Setiap kali. Lima puluh menit. Tidak sekali pun dia menikmati tawanya sendiri.

“Dia bagus banget,” kata Vira pelan.

“Iya,” kata Bram.

“Dia bagus banget,” ulang Gilang, ke gelasnya, dengan nada yang berbeda dari keduanya.


Yang terjadi di meja selama lima puluh menit itu adalah hal lain.

Mejanya bundar dan agak sempit untuk enam orang, dan kakiku dan kaki Nindy bertemu sekitar sepuluh menit setelah acara mulai.

Tidak sengaja. Sungguh — pertama kali itu tidak sengaja, ujung sepatuku kena ujung sepatunya waktu aku menggeser posisi duduk.

Aku menariknya.

Tiga puluh detik kemudian kakinya kembali.

Aku pikir itu juga tidak sengaja. Meja sempit. Aku tidak bergerak.

Lalu, mungkin dua menit kemudian, dia menggeser lagi — dan kali ini bukan ujung sepatu. Sisi kakinya menempel di sisi kakiku, dari mata kaki sampai betis, dan berhenti di situ.

Dan tidak pergi.

Aku menoleh ke arahnya.

Dia sedang menonton panggung. Dagunya di tangan. Wajahnya menunjukkan minat yang wajar terhadap sambutan pemilik resto tentang filosofi hijau tua dan kuningan.

Aku menonton panggung juga.

Lima puluh menit.

Selama lima puluh menit itu tidak ada satu pun dari kami yang bergerak, dan tidak ada satu pun dari kami yang mengakui bahwa ada sesuatu yang perlu diakui, dan aku ikut tertawa di tempat yang tepat dan menjawab Bram dua kali dan mengambilkan air untuk Vira sekali, semuanya dengan kaki yang menempel di kaki orang lain di bawah taplak.

Sekali, di menit ketiga puluh, Nindy berkata tanpa menoleh:

“Kaki kamu anget.”

“Iya.”

“Kaki aku dingin.”

“Iya.”

Hening.

“Itu doang?” katanya.

“Kamu mau aku bilang apa?”

Nindy menoleh, akhirnya.

Dan di ruangan yang redup itu, dengan lampu panggung memantul di sisi wajahnya, dia berkata dengan suara yang sangat pelan:

“Nggak. Itu aja.”

Dan dia menoleh kembali ke panggung.

Dan menggeser kakinya dua senti lebih dekat.


Acaranya selesai jam delapan lewat. Talita turun panggung dan langsung dikelilingi tiga orang kru, dan kami menunggu dua puluh menit sampai dia bisa datang ke meja.

Dia datang dengan tumit di tangan, jalan tanpa alas kaki di karpet.

“Aku benci sepatu itu.”

“Kamu bagus banget,” kata Vira.

“Makasih.”

“Serius, Ta. Aku merinding pas bagian yang—“

“Makasih.” Talita duduk. “Beneran, makasih.”

Dia mengambil gelas air Gilang tanpa izin dan meminumnya sampai habis.

“Eh itu punyaku—“

“Diem.”

Dia menaruh gelasnya. Dan selama mungkin tiga detik, sebelum dia sadar ada orang yang melihat, wajahnya turun.

Semuanya sekaligus. Bahu, alis, sudut mulut.

Aku pernah melihat itu.

Aku melihatnya lewat kaca apotek, tiga minggu lalu, di wajah orang lain.

Lalu Talita menyalakan lagi.

“OKE,” katanya, keras. “Siapa yang mau dengerin aku ngomongin pemilik restonya?”

“AKU,” kata Gilang.

“Aku nggak nanya kamu.”

“Kamu nanya semua orang.”

“Aku nanya semua orang KECUALI kamu.”

“Itu nggak—“

“Panji.” Talita menoleh ke aku. “Kamu mau denger?”

“Boleh.”

“Tuh.” Dia menunjuk aku sambil melihat Gilang. “Gitu jawabnya.”

“Dia cuma bilang ‘boleh’!”

“Iya. Boleh. Nggak pakai teriak.”


Yang aku ingat dari sisa malam itu ada dua hal.

Yang pertama: Talita bercerita selama dua puluh menit dan lucu sekali, dan di tengah cerita dia berhenti dan berkata, “Bentar, aku ngomong terus ya. Maaf.”

Dan Bram bilang, “Nggak apa-apa.”

Dan Vira bilang, “Enak kok denger kamu cerita.”

Dan Gilang bilang, “Ya emang kamu dari tadi ngomong terus.”

Dan Talita menoleh ke Gilang dengan wajah yang sangat siap untuk berkelahi, dan Gilang buru-buru menambahkan, “—dan itu bagus,” dengan nada panik yang membuat seluruh meja tertawa.

Yang kedua terjadi waktu semua orang sudah berdiri untuk pulang.

Talita sedang memakai kembali sepatunya, jongkok di dekat kursi, dan aku kebetulan berdiri paling dekat.

“Ta.”

“Hm?”

“Kamu ngecek.”

Dia mendongak. “Hah?”

“Tiap orang ketawa, kamu lihat ke belakang.”

Talita berhenti memasang tali sepatunya.

“Kamu merhatiin itu?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Nggak tahu. Kelihatan.”

Dia menyelesaikan talinya dengan sangat pelan.

“Itu namanya ngecek klien,” katanya, sambil berdiri. “Kalau kliennya nggak ketawa, aku ganti materi.”

“Oh.”

“Semua MC gitu.”

“Oke.”

“Kenapa ‘oke’?”

“Karena kamu jawabnya cepet,” kataku.

Talita menatapku.

Di belakangku, Nindy memanggil sesuatu tentang taksi. Gilang sedang berdebat dengan Bram tentang siapa yang bayar padahal makanannya gratis.

“Panji,” kata Talita.

“Ya?”

“Kamu tuh ngeselin, ya.”

“Kata orang.”

“Kata siapa?”

“Nindy.”

“Oh.” Dia mengangguk pelan. “Iya. Pantes.”

Dan dia jalan mendahuluiku ke pintu, dan aku tidak memikirkan percakapan itu lagi selama tiga hari.


Di taksi, Nindy bersandar dan menutup mata.

“Kamu ngantuk?”

“Enggak.”

“Kamu merem.”

“Aku lagi mikir.”

“Mikir apa?”

Dia tidak menjawab selama mungkin lima belas detik.

“Mas.”

“Hm.”

“Kaki aku pegel.”

“Kenapa?”

“Karena aku nggak gerak lima puluh menit.”

Aku menoleh.

Matanya masih tertutup. Tapi sudut mulutnya naik sedikit — kecil sekali, ditahan, seperti orang yang tidak mau ketahuan.

“Kamu juga nggak gerak,” katanya.

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan aku menjawab, sambil melihat ke luar jendela, dengan suara yang menurutku waktu itu terdengar biasa saja:

“Karena kalau aku gerak, kamu bakal narik.”

Nindy membuka matanya.

Dia menoleh ke aku dengan cepat sekali.

“Kamu bilang gitu juga waktu di halte.”

“Iya.”

“Kamu selalu tahu?”

“Enggak,” kataku. “Aku cuma tahu kalau kamu narik itu susah balik lagi.”

Dan Nindy Pramesthi, di kursi belakang taksi, di jalan Kuningan jam sepuluh malam, menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tidak berkata apa-apa sampai kami sampai di gangnya.

Waktu turun, dia menahan pintu sebentar.

“Panji.”

“Ya.”

“Besok kamu bawa pelumas, kan?”

“Iya.”

“Jam delapan?”

“Jam delapan.”

“Oke.” Dia menutup pintu. Lalu membukanya lagi. “Panji.”

“Ya?”

“Jangan telat.”

Dan dia menutupnya lagi sebelum aku sempat menjawab.