← Nggak Diundi

Chapter Three

Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya

POV: Panji

Kencan grup pertama diadakan hari Sabtu, jam sebelas siang, di tempat makan yang punya halaman belakang dan terlalu banyak tanaman gantung.

Bu Ratih tidak ikut. Dia mengirim pesan ke grup — grup WhatsApp yang dia buat sendiri dan dia beri nama PPT — Angkatan 14 — berisi lokasi, jam, dan satu kalimat tambahan:

Saya tidak hadir. Saya akan tahu kalau ada yang tidak hadir.

“Serem,” kata Talita, sambil menaruh ponselnya di meja layar ke bawah. “Aku suka.”

“Kamu suka semua yang serem,” kata Gilang.

“Makanya aku bisa duduk sebelah kamu.”

“Itu nggak nyambung.”

“Nyambung banget.”

Bram menuangkan air ke gelas Vira sebelum menuangkan ke gelasnya sendiri. Vira bilang terima kasih. Talita melihat itu dan berkata, keras, “Nah. Itu. Gilang, lihat.”

“Lihat apa.”

“Airnya.”

“Aku bukan pelayan.”

“Bram juga bukan.”

“Bram itu arsitek.”

“Terus kenapa?”

“Arsitek itu emang begitu.”

“Begitu gimana?”

“Begitu—“ Gilang menggerakkan tangannya ke arah Bram secara umum, “—itu.”

Bram tertawa. Tawanya enak dan tidak dibuat-buat, dan aku memperhatikan bahwa dia tertawa untuk lelucon yang sasarannya dirinya sendiri, yang bukan hal kecil.

Aku duduk di ujung, dan Nindy duduk di sebelahku.

Lebih dekat dari yang di ruangan Bu Ratih. Bukan dekat. Cuma lebih dekat.

Dia datang dengan rambut yang tidak basah kali ini, kaus longgar warna gading, dan wajah orang yang sudah bangun sejak jam lima dan sudah menyelesaikan tiga hal sebelum sampai di sini.

“Kamu tidur jam berapa?” tanyaku.

Dia menoleh. “Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Mas.”

“Kamu ngucek mata dua kali sejak duduk.”

“Itu karena tanaman gantungnya.”

“Oh.” Aku melihat ke atas. “Iya, ya. Debunya lumayan.”

Nindy melihatku selama beberapa detik dengan ekspresi yang tidak bisa aku baca sama sekali.

“Setengah dua,” katanya akhirnya.

“Kenapa setengah dua?”

“Stok opname.”

“Sabtu pagi kerja lagi?”

“Nggak. Ini libur.”

“Bagus.”

“‘Bagus’ doang?”

“Iya. Bagus,” kataku. “Kalau kamu kerja lagi habis tidur setengah dua, aku bakal nggak enak sama Bu Ratih.”

Dia mendengus. Pendek, sekali, lewat hidung.

Aku sudah dengar dia bicara mungkin total lima menit sepanjang hidupku, dan aku sudah tahu bahwa dengus itu adalah tawa versi paling kecilnya.


Makanannya datang berbarengan, dan selama dua puluh menit berikutnya meja itu jadi milik Talita.

Dia menceritakan pekerjaannya sebagai MC, dan dia menceritakannya seperti orang yang tahu persis di mana harus berhenti supaya orang tertawa. Soal pengantin yang tidak muncul. Soal peluncuran produk mi instan di mana dia harus mengucapkan kata “gurih” empat puluh satu kali dalam sembilan menit. Soal direktur yang salah menyebut nama perusahaannya sendiri di atas panggung.

“Terus kamu gimana?” tanya Vira.

“Ya aku ulangin. Bener. Sambil senyum. Sambil dalam hati mikir, Pak, itu perusahaan Bapak.”

Semua orang tertawa.

Aku juga tertawa. Talita lucu. Betul-betul lucu, bukan lucu yang harus ditolong.

Tapi aku memperhatikan sesuatu waktu tawanya reda: dia langsung melihat sekeliling meja, cepat, satu putaran penuh, memeriksa wajah semua orang.

Dia tidak menikmati bahwa kami tertawa. Dia sedang mengecek bahwa kami tertawa.

Aku menyimpan itu dan tidak bilang apa-apa.

Bram bicara sesudahnya, dan dia bicara dengan cara yang sangat mudah didengar. Dia menjawab pertanyaan dengan lengkap tapi tidak panjang, dia menyebut nama orang waktu bicara ke mereka, dan dua kali dia melempar pertanyaan ke Vira dengan cara yang membuat Vira punya sesuatu untuk diceritakan.

Vira menjawab dengan hangat. Dia hangat ke semua orang. Waktu Gilang menumpahkan sedikit sambal ke taplak, Vira yang lebih dulu memberikan tisu, sebelum pelayan datang.

Dan sekali, satu kali saja, waktu aku mengambilkan botol kecap yang ada di sisi mejaku dan menggesernya ke arah Bram tanpa diminta, aku merasa Vira melihat ke arahku.

Aku menoleh. Dia sudah melihat ke arah lain.


Yang aku sadari waktu piring sudah setengah kosong adalah bahwa Nindy belum bicara ke meja sama sekali.

Bukan diam yang tidak nyaman. Dia menyahut kalau ditanya, dia tertawa di tempat yang benar, dia menimpali Talita sekali dengan satu kalimat yang membuat Talita menunjuknya dan berteriak “IH, JAHAT.” Dari luar dia kelihatan ikut.

Tapi dia belum sekali pun memulai.

Semua yang keluar dari mulutnya adalah balasan.

“Nindy,” kata Talita akhirnya, seperti baru sadar. “Kamu belum cerita apa-apa.”

“Aku nggak punya cerita.”

“Masa apotek nggak ada cerita? Pasti banyak yang aneh-aneh.”

“Ada.”

“Nah, kan!”

“Tapi nggak bisa aku ceritain.”

“Kenapa?”

“Karena itu resep orang,” kata Nindy. Ringan sekali. “Mereka nggak minta ceritanya jadi bahan makan siang.”

Meja itu hening setengah detik.

Lalu Bram bilang, “Fair,” dan Talita bilang, “Oke, aku hormat,” dan Gilang bilang sesuatu yang bodoh soal obat kuat, dan Talita memukul lengannya, dan mejanya jalan lagi.

Aku tidak ikut jalan lagi.

Aku masih memikirkan kalimatnya, dan bukan isinya. Nadanya.

Dia bilang “Mereka nggak minta ceritanya jadi bahan makan siang” dengan nada yang sama seperti orang membacakan aturan. Rapi. Sudah jadi. Kalimat yang sudah pernah dipakai sebelumnya, mungkin banyak kali, sampai halus di semua sisinya.

Bukan jawaban. Pintu.


Setelah makan, kami pindah ke halaman belakang untuk kopi, dan meja pecah jadi kelompok-kelompok kecil seperti yang selalu terjadi. Gilang dan Talita berdiri di dekat pagar melanjutkan pertengkaran mereka. Bram dan Vira duduk di bangku panjang.

Aku dan Nindy berdiri di dekat tanaman gantung yang bikin dia ngucek mata tadi, karena itu satu-satunya tempat yang teduh.

“Boleh nanya?” kataku.

“Nanya aja.”

“Kalau kamu lagi nggak kerja, kamu ngapain?”

Dia menjawab langsung.

“Nonton. Beres-beres. Kadang lari kalau lagi rajin.”

Aku mengangguk.

Dan aku hampir melanjutkan ke hal lain — sungguh, aku hampir bilang sesuatu tentang lari, karena aku juga pernah mencoba lari dan berhenti setelah tiga minggu.

Tapi aku tidak jadi.

Karena jawabannya datang terlalu cepat.

Bukan cepat karena dia antusias. Cepat karena tidak ada yang perlu dicari. Tiga hal, urutannya rapi, panjangnya pas. Sama seperti kalimat resep tadi. Sudah pernah dipakai. Sudah halus di semua sisinya.

Dan di ujungnya — di kata “rajin” — nadanya turun setengah nada.

Sama seperti malam Senin. Sama seperti “Iya” yang waktu itu.

Aku berdiri di situ memegang gelas kopi yang terlalu panas untuk dipegang, dan aku melakukan hal yang aku lakukan setiap hari kerja selama empat tahun.

Aku mengulang.

“Nonton apa?”

Nindy menoleh.

“Hah?”

“Nonton apa,” kataku. “Yang terakhir kamu tonton apa?”

Dia membuka mulut.

Dan tidak ada yang keluar.

Aku menunggu. Aku tidak menunggu dengan sengaja untuk membuatnya susah — aku menunggu karena aku betul-betul ingin tahu judulnya, karena aku pikir kalau bagus aku mau menonton juga.

Detik pertama lewat.

Detik kedua.

“Aku…” katanya.

Lalu dia berhenti.

Dan aku melihat sesuatu yang belum pernah aku lihat di wajah orang dewasa. Dia sedang mencari. Betul-betul mencari, ke belakang, jauh, seperti orang membuka laci satu-satu di ruangan gelap. Aku bisa melihat pencariannya di matanya, bergerak, cepat, lalu melambat, lalu berhenti.

Dia tidak menemukan apa-apa.

“Aku nggak inget,” katanya.

“Nggak apa-apa.”

“Bukan nggak apa-apa.” Suaranya berubah. Lebih pelan, dan ada yang retak tipis di dalamnya. “Aku beneran nggak inget, Panji. Aku bilang ‘nonton’ tadi kayak itu hal yang aku lakuin. Terakhir aku nonton sesuatu sampai habis itu…”

Dia berhenti lagi.

“…aku nggak tahu.”

Gelas kopi di tanganku masih terlalu panas. Aku memindahkannya ke tangan yang satu lagi.

“Terus yang beres-beres?” tanyaku.

“Itu beneran.”

“Yang lari?”

“Dua tahun lalu.”

“Oh.”

“Jangan bilang ‘oh’.”

“Kenapa?”

“Karena kamu bilang ‘oh’ terus aku jadi denger sendiri betapa—“ Dia menutup mata sebentar dan menekan pangkal hidungnya dengan dua jari. “Ya Tuhan.”

“Nindy.”

“Apa.”

“Aku nggak lagi ngetes kamu.”

Dia membuka mata.

“Aku nanya karena aku pengen tahu judulnya,” kataku. “Kalau bagus aku mau nonton. Itu aja.”

Dia menatapku.

Di belakangnya, di dekat pagar, Talita menjerit karena Gilang mengatakan sesuatu, dan suara itu terasa datang dari tempat yang sangat jauh.

“Kamu tahu nggak,” kata Nindy pelan, “berapa banyak orang yang nanya kabar aku tiap hari?”

“Nggak.”

“Banyak. Belasan. ‘Mbak, ini kenapa ya?’ ‘Mbak, saya nggak bisa tidur.’ ‘Mbak, suami saya nggak mau minum obatnya.’” Dia mengucapkannya tanpa nada mengeluh, cuma menghitung. “Belasan orang tiap hari nyeritain hal paling memalukan tentang badan mereka ke aku. Aku tahu siapa yang lagi hamil di kompleks sebelah sebelum ibunya sendiri tahu.”

Dia menoleh ke arah pagar, ke arah Talita yang sedang menepuk lengan Gilang.

“Dan nggak ada satu pun,” katanya, “yang pernah balik nanya.”

Aku tidak bilang apa-apa.

Bukan karena aku tidak tahu harus bilang apa. Karena aku tahu bahwa kalau aku bilang sesuatu sekarang, aku akan mengambil giliran yang bukan milikku.

Nindy menunggu.

Aku pikir dia menunggu aku menghibur, atau menjelaskan, atau bilang bahwa itu tidak adil.

Waktu aku tidak melakukan satu pun dari itu, dia menoleh lagi ke arahku, dan ekspresinya berubah lagi — dan yang ini benar-benar tidak bisa aku baca.

“Kamu aneh,” katanya.

“Iya, kata orang.”

“Bukan aneh yang jelek.”

“Ada aneh yang bagus?”

“Ada.” Dia mengangkat gelasnya, meniupnya, tidak meminumnya. “Sialnya ada.”

Dia bergeser sedikit ke kiri, ke dalam bayangan yang sama denganku, sehingga bahu kami terpisah mungkin sepuluh sentimeter.

Dan dia tidak menjelaskan kenapa.