Chapter Twelve
Pura-pura
POV: Nindy
Kencan grup ketiga adalah ide Talita, bukan Bu Ratih, dan itu ketahuan dari kualitasnya.
Bu Ratih: Sabtu, kegiatan luar ruang. Detail dari Mbak Talita.
Talita: KITA KE PANTAI
Gilang: pantai mana
Talita: ANYER
Gilang: TALITA ITU TIGA JAM
Talita: EMPAT KALAU MACET
Gilang: KENAPA KAMU SEMANGAT
Bram: Saya bisa nyetir.
Talita: BRAM KAMU MALAIKAT
Gilang: aku juga bisa nyetir
Talita: KAMU BISA NYETIR TAPI KAMU NGGAK BISA DIEM
Jadi hari Sabtu jam enam pagi kami berenam berangkat dengan dua mobil, yang segera menjadi masalah tersendiri karena Talita menolak duduk sekelompok dengan Gilang dan Gilang menyatakan itu diskriminasi, dan akhirnya Bram menyelesaikannya dengan cara Bram — yaitu menyarankan sesuatu yang masuk akal dengan suara pelan sampai semua orang setuju tanpa sadar.
Mobil Bram: Bram, Vira, Talita.
Mobil Gilang: Gilang, aku, Panji.
“Kenapa aku di mobil kamu,” kataku ke Gilang.
“Karena Talita jahat.”
“Itu bukan alasan.”
“Itu alasan paling jujur yang pernah aku kasih.”
Pantainya biasa saja. Aku akan bilang itu duluan supaya tidak terdengar seperti aku sedang meromantisasi apa pun.
Airnya cokelat. Pasirnya kasar. Ada tiga warung yang menjual mi instan dengan harga yang tidak masuk akal dan satu orang yang berkeliling menawarkan ban dalam untuk disewa.
Tapi kami di situ delapan jam dan tidak satu pun dari kami mengeluh, kecuali Gilang, yang mengeluh sepanjang delapan jam itu dan jelas-jelas sedang paling senang di antara kami semua.
Talita membuat lomba. Tentu saja dia membuat lomba.
“Bikin istana pasir. Berpasangan. Yang kalah traktir mi.”
“Ta, kita bukan anak TK.”
“Gilang, kalau kamu ngomong sekali lagi aku dorong ke laut.”
Aku dan Panji kalah telak.
Bukan karena kami tidak berusaha. Kami berusaha. Masalahnya Panji mendekati istana pasir dengan cara yang sama seperti dia mendekati semua hal, yaitu dengan mengetes materialnya dulu.
“Pasir yang di sini beda sama yang di sana.”
“Mas.”
“Yang deket air lebih ngiket.”
“MAS. Waktunya lima belas menit.”
“Iya, tapi kalau kita pakai yang kering, ambruk.”
“Ya udah pakai yang basah!”
“Yang basah nggak bisa dibentuk tinggi.”
“PANJI.”
“Aku lagi ngitung.”
Dia menghabiskan enam menit dari lima belas untuk membandingkan dua jenis pasir.
Dan yang paling gila adalah: istana kami memang tidak ambruk. Istana Bram–Vira ambruk di menit kesebelas. Istana Gilang–Talita ambruk sebelum menit ketiga karena mereka berkelahi memperebutkan ember.
Istana kami bertahan.
Tingginya sembilan sentimeter.
“Ini apa,” kata Talita.
“Istana,” kata Panji.
“Ini kayak kue.”
“Tapi nggak ambruk.”
“NINDY. Ini kayak kue.”
“Aku tahu,” kataku.
“Kenapa kamu senyum?”
“Aku nggak senyum.”
“Kamu senyum, Nindy. Kamu senyum ke tumpukan pasir sembilan senti.”
Dan aku memang senyum.
Aku senyum karena aku baru saja menyadari sesuatu yang tidak akan aku katakan ke Talita.
Selama enam menit itu, waktu Panji jongkok membandingkan dua genggam pasir dengan wajah orang yang sedang bekerja, aku duduk di sebelahnya dan tidak melakukan apa-apa dan tidak bosan sedikit pun.
Aku tidak bosan.
Kalian tahu berapa langka itu?
Aku ini orang yang di ruang tunggu dokter gigi mengecek ponsel setiap sembilan puluh detik. Aku ini orang yang tidak bisa nonton film tanpa membuka aplikasi lain di tengahnya. Aku ini orang yang, waktu Bagas cerita soal kerjaannya, dalam hati sudah menyusun daftar belanja.
Dan aku duduk di pasir yang kasar selama enam menit menonton seorang laki-laki menimbang pasir, dan otakku diam.
Diam total.
Aku bahkan tidak memikirkan apa-apa tentang dia. Aku tidak sedang jatuh cinta di situ atau apa pun. Aku cuma duduk, dan panas, dan ada bunyi ombak, dan ada orang di sebelahku yang sedang serius soal hal yang tidak penting.
Otakku diam.
Dan aku belum tahu apa nama benda itu, tapi aku tahu aku belum pernah punya.
Kami pulang jam lima karena Bram bilang kalau lebih dari itu tolnya akan jadi mimpi buruk.
Delapan jam di pantai. Aku sudah bangun dari jam empat pagi. Aku sudah tidak tidur cukup selama entah berapa minggu.
Waktu mobil masuk tol, aku sudah tidak bisa menahan mata.
Panji duduk di belakang bersamaku karena Gilang bilang dia butuh “kursi depan buat kaki”, yang jelas-jelas bohong karena Gilang yang menyetir.
Aku ingat memikirkan bahwa aku harus menjaga jarak. Aku ingat menyandarkan kepala ke jendela dengan sengaja, ke arah yang berlawanan.
Aku ingat jendelanya keras dan bergetar dan setiap sambungan aspal mengetuk kepalaku.
Aku ingat memikirkan: sebentar saja.
Lalu aku tidak ingat apa-apa selama mungkin dua puluh menit.
Aku bangun karena mobilnya mengerem.
Dan yang pertama aku sadari, sebelum aku membuka mata, sebelum aku sadar aku di mana, adalah bahwa kepalaku tidak di jendela.
Kepalaku di bahu seseorang.
Aku tahu itu bahu Panji karena baunya. Bukan parfum — dia tidak pakai parfum. Bau deterjen dan sesuatu yang manis samar yang aku kemudian sadari adalah bau kerjaannya, bau yang menempel di kausnya dari ruangan tempat dia mencicipi wafer delapan jam sehari.
Aku tahu aku sudah bangun.
Aku tahu aku bisa duduk tegak sekarang, minta maaf, tertawa canggung, dan semuanya selesai dalam empat detik.
Aku tidak melakukannya.
Aku diam.
Aku diam dan aku tetap memejamkan mata dan aku membiarkan kepalaku di situ, dan itu adalah hal paling curang yang pernah aku lakukan dalam dua puluh tujuh tahun hidupku.
Aku pura-pura tidur di bahu orang selama dua puluh menit.
Ini yang terjadi selama dua puluh menit itu.
Menit pertama: aku mengecek apakah dia tahu. Napasnya biasa. Bahunya tidak tegang. Dia tidak bergerak sama sekali. Bagus.
Menit kelima: Gilang bicara dari depan. Sesuatu tentang rest area. Panji menjawab, dan suaranya lewat tulang bahunya masuk ke pipiku sebelum masuk ke telingaku, dan itu adalah hal paling aneh dan paling enak yang pernah aku rasakan, dan aku hampir membuka mata karena kaget.
Dia menjawab dengan suara yang lebih pelan dari biasanya.
Dia mengecilkan suaranya.
Menit kedelapan: mobil melewati jalan yang rusak. Kepalaku hampir tergelincir.
Dan tangannya naik.
Bukan memeluk. Bukan menarik. Dia cuma menaruh tangannya di sisi kepalaku — di rambut, di atas telinga — dan menahannya di tempat selama empat atau lima detik sampai jalannya rata lagi.
Lalu dia melepas.
Dan aku, dengan mata tertutup, di kursi belakang mobil Gilang, di tol Jakarta–Merak, harus mengerahkan seluruh kekuatan yang aku punya sebagai manusia dewasa untuk tidak melakukan apa-apa.
Menit kedua belas: Gilang menyalakan radio. Panji berkata, “Lang.”
“Apa?”
“Kecilin.”
“Kenapa?”
Hening satu detik.
“Dia tidur.”
Menit ketiga belas sampai delapan belas: aku tidak mencatat apa-apa. Aku sedang sibuk.
Aku sedang sibuk berdebat dengan diriku sendiri soal apakah ini curang atau bukan, dan siapa yang aku curangi, dan apakah ada bedanya kalau yang aku curangi adalah orang yang tidak akan pernah tahu, dan apakah orang yang mengecilkan suaranya untuk kepala yang tidak tidur itu pantas dicurangi.
Kesimpulanku: iya, ini curang, dan aku tetap melakukannya.
Menit kesembilan belas: Talita mengirim pesan ke grup dan ponsel Panji bergetar di sakunya, tepat di sebelah pahaku, dan dia tidak mengambilnya.
Dia tidak mengambilnya karena untuk mengambilnya dia harus bergerak.
Dan tiga menit kemudian bergetar lagi, dan tidak diambil lagi.
Menit kedua puluh: aku “bangun”.
Aku melakukannya dengan sangat buruk. Aku menggerakkan bahu, mengeluarkan bunyi kecil, dan mengangkat kepala dengan mata setengah terbuka seperti aktris sinetron.
“Eh—“ kataku. “Ya ampun. Maaf.”
“Nggak apa-apa.”
“Aku ketiduran.”
“Iya.”
“Berat, ya?”
“Enggak.”
Aku menegakkan badan dan mengusap wajah dan melihat ke luar jendela dan berpura-pura tidak tahu kami sudah sampai mana.
Dan waktu aku menoleh, dia sedang menggerakkan bahunya.
Pelan. Memutar. Dengan tangan yang satu memijat pangkal lehernya.
“Sakit?” kataku.
“Nggak.”
“Mas.”
“Kaku dikit.”
“Kenapa nggak kamu geser aja tadi?”
Dan dia menjawab, sambil terus memijat lehernya, tanpa memandangku, dengan nada yang persis sama seperti waktu dia menjelaskan soal pasir:
“Nanti kamu bangun.”
Aku menoleh ke jendela.
Aku menoleh ke jendela dan aku menekan gigi bawah dengan gigi atas dan aku memandangi lampu-lampu tol yang lewat satu per satu, dan aku menghitungnya, satu, dua, tiga, empat, sampai enam belas, sampai aku yakin suaraku akan keluar normal.
“Oh,” kataku.
“Hm.”
“Ya udah.”
Dan di kursi depan, Gilang — yang sejak tadi diam, yang tidak menyalakan radio lagi, yang menyetir dengan dua tangan di kemudi seperti orang yang sedang membawa sesuatu yang mudah pecah — Gilang berkata, ke arah kaca depan, ke arah tidak seorang pun:
“Astaga.”
“Apa?” kata Panji.
“Nggak apa-apa,” kata Gilang.
Dan dia tidak bicara lagi sampai kami keluar tol.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura reading
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15