Chapter Twenty Two
Rendi
POV: Nindy
Adikku datang hari Senin tanpa memberi tahu.
Aku pulang shift jam delapan dan dia sudah duduk di depan pintu kontrakanku dengan satu ransel dan sandal jepit, main ponsel, seperti orang menunggu bus.
“Mbak.”
Aku berdiri di mulut gang selama mungkin lima detik.
“Rendi.”
“Iya.”
“Kamu di sini dari kapan?”
“Jam empat.”
“Empat jam?”
“Iya.”
“Kenapa nggak nelepon?”
Dia mengangkat bahu. “HP-ku mati.”
Aku membuka pintu dan menyuruhnya masuk dan menyalakan lampu dan menaruh tasku, dan selama semua itu aku tidak berkata apa-apa, karena aku sedang mengurus sesuatu di dalam diriku sendiri yang butuh perhatian penuh.
Dia duduk di lantai. Dia tidak bertanya boleh atau tidak. Dia duduk di lantai kontrakanku seperti dia duduk di ruang tamu Ibu.
“Ibu tahu kamu ke sini?”
“Tahu.”
“Kok Ibu nggak bilang aku?”
“Ibu bilang biar surprise.”
Aku menutup mata.
Dua bulan lalu aku akan langsung memasak.
Itu bukan tebakan. Itu fakta tentang diriku. Dua bulan lalu, kalau Rendi muncul di depan pintu jam delapan malam, aku akan menaruh tas, mencuci tangan, dan langsung memasak mi telur sambil menanyakan apakah dia sudah makan, dan aku akan menanyakannya dengan nada yang lembut, dan aku tidak akan menyinggung apa pun sampai dia kenyang.
Aku tahu persis bagaimana caranya. Aku sudah melakukannya sepuluh tahun.
Malam itu aku duduk di kursi plastik di seberangnya dan tidak memasak apa-apa.
“Kamu udah makan?”
“Belum.”
“Oke.”
Dan aku tidak bergerak.
Rendi menunggu. Dia menunggu dengan sangat sabar, karena selama dua puluh dua tahun hidupnya menunggu selalu berhasil.
Sepuluh detik. Dua puluh.
“Mbak?”
“Hm.”
“Aku belum makan.”
“Iya. Aku denger.”
Dan aku duduk di situ.
Dan Rendi menatapku dengan wajah bingung yang tulus — betul-betul tulus, dia tidak sedang manipulatif, dia cuma tidak punya pengalaman lain — dan aku merasakan sesuatu yang sangat aneh di dada.
Bukan marah.
Kasihan.
Kasihan karena aku sadar bahwa yang membuat adikku begini bukan adikku. Aku yang begini.
“Rendi.”
“Iya?”
“Kamu drop out kapan?”
Wajahnya berubah.
“Mbak—“
“Aku nggak marah. Aku nanya kapan.”
“…Semester empat.”
“Berarti setahun lalu.”
“Iya.”
“Aku ngirim delapan ratus tiap bulan selama setahun.”
Dia menunduk.
“Rendi, lihat aku.”
Dia melihat.
“Uangnya ke mana?”
Dan dia mengatakan hal yang membuat seluruh percakapan itu berubah bentuk.
“Ke Ibu,” katanya.
Aku duduk di kursi plastik dan tidak berkata apa-apa selama mungkin lima belas detik.
“Ke Ibu?”
“Iya.”
“Semuanya?”
“Nggak semuanya. Aku ambil dua ratus buat hidup.” Dia menggosok lututnya. “Sisanya Ibu yang pegang.”
“Buat apa?”
“Buat—“ Dia berhenti. “Mbak, Ibu sakit.”
Dan aku berdiri.
Aku tidak memutuskan untuk berdiri. Badanku berdiri.
“Sakit apa?”
“Aku nggak boleh bilang.”
“Rendi.”
“Ibu bilang jangan bilang Mbak Nindy—“
“Sakit apa.“
Dan adikku, dua puluh dua tahun, yang duduk di lantai kontrakanku dengan ransel yang belum dibuka, menangis.
Bukan menangis dramatis. Dia cuma menutup wajahnya dan bahunya bergetar dan dia berkata, “Aku juga nggak tahu semuanya, Mbak. Aku disuruh diem. Aku disuruh diem setahun.”
Aku tidak akan menulis semuanya di sini.
Aku akan menulis bagian yang penting: bukan yang paling buruk. Ibu sakit, dan sakitnya butuh kontrol rutin dan obat yang mahal, dan itu bukan sesuatu yang selesai bulan depan tapi juga bukan sesuatu yang harus aku takutkan malam ini.
Aku mengecek namanya di ponsel sambil Rendi bicara, karena aku apoteker dan itu yang aku lakukan, dan aku membaca tiga sumber dan menutupnya dan bernapas.
Yang menghancurkan bukan penyakitnya.
Yang menghancurkan adalah kalimat berikutnya.
“Kenapa Ibu nggak bilang aku?” kataku.
Dan Rendi menghapus wajahnya dan berkata, dengan nada orang yang mengulang kalimat yang sudah sering dia dengar:
“Ibu bilang, ‘Nindy udah capek.’”
Aku memasakkan mi telur pada akhirnya.
Bukan karena kalah. Karena dia belum makan dan sekarang jam sembilan dan itu dua hal yang berbeda.
Aku memasakkannya dan menaruhnya di depan dia dan duduk lagi.
“Rendi.”
“Iya.”
“Mulai bulan depan, aku ngirim ke rekening Ibu langsung. Bukan ke kamu.”
“Iya.”
“Dan kamu kerja.”
“Iya.”
“Aku nggak nanya kamu mau apa enggak.”
“Iya, Mbak.”
“Dan kalau ada apa-apa sama Ibu, kamu telepon aku dalam satu jam.” Aku menatapnya. “Bukan besoknya. Bukan minggu depan. Satu jam.”
“Iya.”
“Rendi.”
“Iya?”
“Aku bukan capek karena kalian.”
Dia berhenti menyuap.
“Aku capek karena aku nggak pernah dikasih tahu,” kataku. “Kalau kalian kasih tahu, aku nggak capek. Aku cuma sedih. Sedih itu jauh lebih gampang daripada capek.”
Rendi tidak menjawab.
Dia makan mi telur di lantai kontrakanku dan sekali dia mengusap matanya dengan lengan, dan aku tidak berkomentar.
Dia tidur di lantai dengan bantal kursi. Aku di kasur.
Jam sebelas aku berbaring dan menatap langit-langit dan aku sadar sesuatu.
Aku sudah mengurus semuanya.
Dalam tiga jam aku sudah menetapkan mekanisme transfer, jadwal kontrol, siapa yang telepon siapa, dan aku bahkan sudah menghitung ulang anggaran bulananku dan tahu persis dari mana kekurangannya diambil.
Aku hebat dalam hal ini. Aku selalu hebat dalam hal ini.
Dan aku berbaring di kasur dan aku tidak merasa apa-apa.
Bukan tenang. Kosong.
Lalu ponselku bergetar.
Panji: Kamu udah tidur?
Dan aku menangis.
Begitu saja. Empat kata di layar, jam sebelas malam, dan aku menangis di kasur dengan tangan menutup mulut supaya Rendi tidak dengar.
Bukan karena pesannya manis. Pesannya tidak manis. Itu pertanyaan paling biasa yang bisa dikirim manusia.
Aku menangis karena selama tiga jam itu tidak ada satu pun momen di mana aku memikirkan apa yang aku rasakan, dan satu orang bertanya, dan seluruh benda itu ambruk.
Aku: Belum
Panji: Oke
Panji: Aku juga belum
Aku menatap layar.
Dan aku mengetik sesuatu yang aku sendiri kaget.
Aku: Adikku dateng. Ibu sakit. Aku baru tahu malam ini
Terkirim.
Tiga detik.
Panji: Kamu di rumah?
Aku: Iya
Panji: Adikmu masih di situ?
Aku: Tidur
Jeda.
Panji: Aku nggak bisa dateng sekarang. Jam segini nggak ada kendaraan ke sana
Panji: Besok jam berapa kamu selesai
Aku: 8
Panji: Aku di depan apotek jam 8
Lalu, dua puluh detik kemudian:
Panji: Kamu mau cerita sekarang atau besok?
Dan aku menatap kalimat itu sampai buram.
Kamu mau cerita sekarang atau besok.
Bukan “cerita dong”. Bukan “kenapa Ibu kamu”. Bukan “yang sabar ya”.
Dia menanyakan kapan.
Seolah ceritanya milikku dan dia cuma menanyakan jadwalnya.
Aku: Besok
Panji: Oke
Panji: Tidur
Aku: Iya
Aku: Panji
Panji: Iya
Dan aku mengetik tiga kata dan menghapusnya.
Dan mengetiknya lagi dan menghapusnya lagi.
Aku: Nggak jadi
Panji: Oke
Panji: Nanti aja
Aku tidak tidur sampai jam satu.
Dan jam satu itu aku melakukan sesuatu yang aku rencanakan dengan sangat rapi, karena aku ini orang yang merencanakan hal dengan rapi.
Aku membuka kalender.
Empat hari lagi.
Kamis: kencan grup terakhir. Menginap, katanya, di suatu tempat di Puncak. Bu Ratih belum kasih detail.
Jumat: pulang.
Sabtu: malam penutupan.
Dan setelah Sabtu: tidak ada apa-apa. Tidak ada agenda. Tidak ada grup WhatsApp yang harus dijawab. Tidak ada Bu Ratih yang mengirim formulir.
Tidak ada alasan.
Itu kata yang aku pakai di kepalaku, jam satu pagi, dan aku ingat memilih kata itu dengan sengaja.
Selama empat minggu ini, semua yang terjadi punya alasan dari luar. Kami bertemu karena ada agenda. Kami duduk berdampingan karena ada meja. Kami ke pantai karena Talita menyuruh.
Hari Sabtu, alasannya habis.
Dan yang tinggal cuma dua orang yang harus memutuskan sendiri, tanpa spreadsheet, tanpa blazer merah bata, apakah mereka mau repot-repot menyeberang sembilan kilometer setiap kali mau bertemu.
Aku duduk di kasur dan aku membuat rencana.
Rencananya sederhana.
Sabtu malam, setelah acara penutupan, aku bilang duluan.
Bukan setengah tidur di punggungnya. Bukan keceplosan di teras. Dengan benar. Menghadap dia. Dengan kata yang lengkap.
Karena dia bilang dia tidak punya katanya, dan aku pikir — dan aku ingat betapa yakinnya aku waktu memikirkan ini —
aku pikir kalau aku bilang duluan, dia akan punya.
Aku menaruh ponselku dan tidur.
Empat hari.
Aku merasa sangat siap.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi reading
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15