Chapter Thirteen
Nggak Harus Lucu
POV: Panji
Rabu malam kami makan di warung tenda yang Nindy pilih karena, katanya, “aku pengen liat kamu makan di tempat yang piringnya nggak steril.”
“Piringnya steril.”
“Mas. Itu dilap pakai kain yang sama sejak jam lima.”
“Aku tetep makan.”
“Aku tahu kamu tetep makan. Aku pengen liat ekspresinya.”
Ekspresiku, kata dia setelah itu, “mengecewakan.”
Kami duduk di bangku panjang di pinggir jalan dengan dua piring nasi goreng, dan malam itu Nindy sedang dalam mode yang belum pernah aku lihat.
Dia lucu.
Bukan lucu yang biasa — yang kering, satu kalimat, langsung menusuk. Malam itu dia bercerita. Panjang, dengan suara yang diganti-ganti, dengan tangan yang bergerak, dengan jeda yang ditaruh di tempat yang tepat.
Dia menceritakan tentang ibunya.
“Jadi Ibu telepon jam sebelas malem,” katanya. “Jam sebelas, Mas. Aku udah tidur. Aku pikir ada apa-apa. Aku angkat panik banget—“
Dia memerankan dirinya sendiri mengangkat telepon. Suaranya serak-serak panik. Aku tertawa.
“—terus Ibu bilang, ‘Nin, kamu tahu nggak harga beras naik?’”
“Jam sebelas malem?”
“JAM SEBELAS MALEM.” Dia menepuk meja. “Aku bilang, Bu, ini jam sebelas. Ibu bilang, ‘Ibu tahu, makanya Ibu telepon sekarang, tadi Ibu sibuk.’”
Aku tertawa lagi.
Dia melanjutkan. Cerita berikutnya soal adiknya, Rendi, yang katanya kuliah semester enam dan minggu lalu mengirim pesan berisi satu foto motor dan tidak ada teks apa pun.
“Cuma foto motor?”
“Cuma foto motor. Nggak ada tulisan. Nggak ada apa-apa.” Dia mengangkat ponselnya seolah menunjukkan bukti. “Terus aku bales, ‘apa?’ Terus dia bales, ‘nggak apa-apa.’ TERUS DIA KIRIM FOTO MOTORNYA LAGI.”
“Terus?”
“Terus aku transfer.”
Dia tertawa waktu mengatakannya.
Aku juga tertawa, karena memang lucu, karena cara dia menceritakannya memang lucu.
Lalu dia lanjut ke cerita ketiga.
“Terus Ibu telepon lagi Jumat. Ini yang paling bagus.” Dia menaruh sendoknya untuk bisa pakai dua tangan. “Ibu bilang, ‘Nin, bulan depan mungkin agak kurang.’ Aku bilang, kurang berapa, Bu? Ibu bilang, ‘Ya nggak tahu, pokoknya kurang.’”
“Kurang buat apa?”
“NAH ITU DIA. Aku tanya juga! Aku bilang, Bu, kurangnya buat apa? Terus Ibu diem lama banget terus bilang—“
Dan di situ dia berhenti.
Bukan berhenti dramatis untuk efek. Berhenti yang lain.
Aku menunggu.
Dia mengambil sendoknya lagi.
“Terus Ibu bilang sesuatu yang lucu,” katanya. “Nanti aku ceritain.”
Dan dia langsung pindah ke cerita tentang Wulan dan kurir itu, dengan suara yang sama, dengan tangan yang sama, dengan jeda di tempat yang sama.
Aku mendengarkan dua kalimat.
Lalu aku menaruh sendokku.
“Nindy.”
“—jadi kurirnya itu ternyata namanya bukan Deni, itu—“
“Nindy.”
Dia berhenti.
“Apa?”
“Ibu kamu bilang apa?”
Wajahnya tidak berubah. Itu yang paling aku ingat. Wajahnya sama sekali tidak berubah — masih dalam posisi orang yang sedang bercerita lucu, alis masih naik, mulut masih setengah tersenyum.
“Udah, nggak penting.”
“Kamu bilang nanti kamu ceritain.”
“Iya, nanti.”
“Sekarang aja.”
“Mas.” Dia tertawa. “Kamu kenapa sih. Aku lagi cerita soal Wulan.”
“Aku tahu.”
“Ya udah dengerin.”
“Aku dengerin,” kataku. “Tapi tiga cerita kamu malam ini tentang orang minta uang, dan yang ketiga kamu potong.”
Sendoknya berhenti di udara.
Warung tenda itu berisik. Ada penggorengan, ada radio, ada dua meja di sebelah yang isinya bapak-bapak tertawa. Semua bunyi itu tetap ada.
“Aku nggak motong.”
“Kamu motong.”
“Aku cuma—“
“Nindy.”
Dan aku mengatakannya. Aku tidak menyusunnya dulu. Aku mengatakannya seperti aku menyebut nomor batch:
“Kamu nggak harus lucu di depan aku.”
Dia menaruh sendoknya.
Dia menaruh sendoknya dengan sangat hati-hati, sejajar dengan sisi piring, dan meluruskannya sedikit walaupun sudah lurus.
“Panji.”
“Ya.”
“Kenapa kamu ngomong gitu.”
“Karena kamu capek.”
“Aku nggak—“
“Kamu cerita tiga hal lucu berturut-turut dan nggak satu pun tentang kamu.”
Dia tidak menjawab.
“Cerita yang pertama tentang Ibu kamu. Yang kedua tentang adik kamu. Yang ketiga tentang Ibu kamu lagi.” Aku menghitung dengan jari, dan aku sadar setengah jalan bahwa menghitung dengan jari mungkin bukan hal yang tepat, tapi aku sudah mulai. “Semuanya tentang orang yang butuh sesuatu dari kamu. Dan kamu bikin semuanya lucu.”
“Karena emang lucu.”
“Iya. Emang lucu.” Aku menurunkan tanganku. “Tapi kamu ngirim uang tiap bulan dan Ibu kamu bilang bulan depan kurang, dan kamu belum sempet mikirin itu, dan sekarang kamu lagi ngelucuin sesuatu yang belum kamu pikirin.”
Nindy menatap piringnya.
Radio di warung itu memutar lagu dangdut yang sudah setengah jalan. Bapak-bapak di meja sebelah tertawa keras sekali tentang sesuatu.
“Jangan,” kata Nindy.
“Jangan apa?”
“Jangan gitu.”
“Gitu gimana?”
“Jangan—“ Suaranya berubah. Naik sedikit, retak di tengah. “Jangan tiba-tiba ngomong hal yang bener, Panji. Aku lagi baik-baik aja. Aku lagi cerita. Aku lagi—“
Dia berhenti.
Dan matanya penuh.
Bukan menangis. Cuma penuh, di pinggir, seperti gelas yang diisi sampai batas dan orangnya tidak berani menggerakkannya.
“Sialan,” katanya.
“Nindy—“
“Sialan. Sialan.” Dia mengusap matanya dengan pergelangan tangan, kasar, dua kali, dan yang keluar cuma satu — satu titik yang jatuh ke pipinya dan langsung dia hapus sebelum sampai ke rahang. “Aku nggak nangis. Ini bukan nangis.”
“Oke.”
“Ini karena aku capek.”
“Oke.”
“Dan berisik. Warungnya berisik.”
“Oke.”
“Kamu bisa nggak sih bilang selain ‘oke’?”
“Bisa,” kataku. “Tapi kamu belum selesai.”
Dia menatapku dengan mata basah dan wajah marah, dan selama tiga detik aku betul-betul mengira dia akan berdiri dan pergi.
Lalu bahunya turun.
“Rendi drop out,” katanya.
Aku diam.
“Dua semester lalu. Nggak ada yang bilang ke aku.” Suaranya rata sekarang, semua nadanya dicabut. “Uang yang aku kirim tiap bulan itu buat kuliah dia. Aku ngirim delapan ratus tiap bulan selama dua semester buat kuliah yang udah nggak ada.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Dari Ibu. Jumat. Itu yang Ibu bilang.” Dia menarik napas panjang. “Ibu bilang, ‘Bulan depan mungkin agak kurang, soalnya Rendi udah nggak kuliah, jadi—‘ terus Ibu berhenti sendiri. Karena Ibu sadar dia baru aja ngomong.”
“Dua semester.”
“Dua semester.” Nindy tertawa sekali, pendek, tanpa apa pun di dalamnya. “Dan yang bikin aku pengen ngamuk itu bukan uangnya, Mas. Delapan ratus ribu. Aku bisa cari. Aku shift dobel dua kali juga dapet.”
“Terus apa?”
“Mereka nggak bilang.”
Dia mengangkat wajah.
“Setahun. Setahun mereka nggak bilang. Dan aku telepon Ibu tiap minggu. Tiap minggu, Panji. Dan tiap minggu Ibu nanya aku udah makan belum dan aku bilang udah dan Ibu bilang bagus—“ Suaranya pecah lagi, dan kali ini dia tidak repot menghapusnya. “Dan selama setahun itu nggak ada satu pun dari mereka yang mikir, oh, mungkin Nindy perlu tahu.”
Aku tidak bicara.
“Kamu tahu kenapa?” katanya.
“Kenapa?”
“Karena aku bukan orang yang dikasih tahu.” Dia mengambil tisu dari meja, meremasnya, tidak memakainya. “Aku orang yang dikasih tagihan.”
Kami duduk di situ mungkin dua menit tanpa bicara.
Nasi gorengnya dingin. Bapak-bapak di meja sebelah pulang. Radio ganti lagu.
“Panji.”
“Ya.”
“Kamu nggak mau bilang apa-apa?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Kamu belum selesai.”
Dia mendongak.
“Aku udah selesai.”
“Kamu masih megang tisu.”
Nindy melihat ke tangannya sendiri, ke tisu yang sudah jadi gumpalan kecil dan tidak pernah menyentuh wajahnya sama sekali.
Dia menatapnya beberapa detik.
Lalu bahunya mulai bergetar, dan kali ini bukan tawa, dan dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis di warung tenda pinggir jalan pada hari Rabu malam selama mungkin empat puluh detik, dengan suara yang hampir tidak keluar, seperti orang yang bahkan menangis pun tidak mau merepotkan.
Aku tidak memegangnya.
Aku memikirkan itu — aku betul-betul memikirkannya, sepanjang empat puluh detik itu, apakah aku harus memegang bahunya atau tidak. Dan aku memutuskan tidak, karena minggu lalu di trotoar dia bilang semua orang selalu langsung bergerak, dan karena aku pikir yang dia butuhkan bukan disentuh tapi dibiarkan.
Aku cuma memindahkan kotak tisu ke dekat sikunya.
Waktu dia selesai, dia mengambil satu — bukan yang di tangannya — dan mengelap wajahnya, dan menghela napas yang sangat panjang, dan berkata ke arah meja:
“Aku benci kamu.”
“Oke.”
“Aku serius. Aku benci kamu. Aku udah empat tahun nggak nangis di depan orang dan kamu bikin aku nangis di warung tenda.”
“Aku minta maaf.”
“JANGAN MINTA MAAF.”
“Oke.”
“Kamu tuh—“ Dia melempar tisu gumpalan itu ke arahku. Meleset. “Kenapa sih kamu ngomong gitu tadi.”
“Yang mana?”
“Yang ‘nggak harus lucu’.”
Aku memikirkannya.
“Karena kamu lucu banget,” kataku. “Dan aku nggak mau kamu lucu terus.”
Nindy berhenti.
“Kenapa?”
“Karena kalau kamu lucu terus,” kataku, “aku nggak akan pernah tahu kamu lagi kenapa.”
Dia menatapku dengan mata merah dan hidung merah dan rambut yang dua helainya masih tidak mau ikut, dan aku tidak tahu harus melakukan apa dengan wajah seperti itu, jadi aku mendorong piringnya sedikit ke arahnya.
“Dingin,” kataku. “Tapi tetep makan.”
Dan Nindy Pramesthi, dua puluh tujuh tahun, penanggung jawab shift malam, orang yang minggu lalu memarahi kurir sampai hampir menangis, mengambil sendoknya dan makan nasi goreng dingin sambil sesenggukan, dan di antara suapan dia bergumam sesuatu yang aku tidak dengar.
“Apa?”
“Nggak,” katanya. “Nggak ada apa-apa.”
Dan nadanya tidak turun sama sekali di ujungnya.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu reading
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15