Chapter Four
Batch Gagal
POV: Panji
Hari Selasa aku mengirim pesan.
Aku memikirkannya selama mungkin empat menit sebelum mengetik, dan yang aku pikirkan bukan bagaimana caranya supaya terdengar bagus. Yang aku pikirkan adalah apakah orang yang tidur setengah dua dan bangun jam lima itu perlu ditanya dulu atau tidak.
Aku putuskan perlu.
Aku: Kamu pulang jam berapa hari ini
Nindy: Delapan
Nindy: Kenapa
Aku: Aku ada barang dari kantor. Kebanyakan. Mau nggak
Nindy: Barang apa
Aku: Wafer
Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.
Nindy: Kamu ngajak ketemu buat ngasih wafer?
Aku: Iya
Nindy: Mas
Aku: Kenapa
Nindy: Nggak apa-apa
Nindy: Jam delapan. Depan apotek. Jangan telat, aku laper
Aku sampai jam delapan kurang sepuluh dan berdiri di trotoar sambil memegang kantong plastik yang isinya empat kilo wafer gagal.
Bukan gagal yang basi. Gagal yang tidak lolos panel. Batch nomor tujuh yang aku tolak minggu lalu, plus dua batch lain yang lapisannya terlalu tipis, plus satu kotak yang salah cetak sehingga tulisannya terbalik. Semuanya aman dimakan. Semuanya tidak boleh dijual. Setiap dua minggu ada satu meja di kantor yang penuh barang begini dan siapa pun boleh ambil, dan selama empat tahun aku tidak pernah ambil, karena tidak ada yang mau aku kasih.
Nindy keluar jam delapan lewat empat menit, mematikan lampu papan nama dari dalam, mengunci pintu geser dengan dua putaran, dan menarik rolling door setengah lalu berhenti karena berat.
Aku menaruh kantong dan menariknya sampai bawah.
“Makasih,” katanya.
“Berat ya.”
“Enggak. Aku bisa sendiri.”
“Iya.”
“Aku beneran bisa sendiri.”
“Iya,” kataku lagi.
Dia melihatku sebentar, seperti mengecek apakah “iya”-nya itu sungguhan atau sedang menyindir. Aku tidak sedang menyindir. Dia memang bisa sendiri. Cuma tadi kebetulan aku berdiri di sebelahnya.
Lalu dia melihat kantong plastiknya.
“Itu semua?”
“Empat kilo.”
“Empat KILO?”
“Aku bilang kebanyakan.”
Dia jongkok di trotoar — jongkok, di depan apotek, masih pakai seragam — dan membuka kantongnya, dan mengeluarkan satu kotak yang tulisannya terbalik.
Dan dia tertawa.
Bukan dengus. Tawa beneran, pendek, dari perut, dengan bahu naik.
“Kenapa terbalik?”
“Salah pasang film cetak.”
“Terus dibuang?”
“Nggak boleh dijual. Konsumen bisa komplain.”
“Komplain apa? Wafernya sama aja.”
“Iya,” kataku. “Tapi orang beli itu bukan cuma wafernya.”
Nindy mendongak dari posisi jongkoknya, dan lampu jalan di belakangnya membuat dua helai rambut di pelipis kirinya kelihatan — dua helai yang sejak malam Senin belum sekali pun aku lihat masuk ke dalam ikatannya.
“Kamu selalu ngomong kayak gitu?”
“Kayak gimana?”
“Kayak lagi jelasin sesuatu yang penting, tapi topiknya wafer.”
“Wafer itu penting.”
“Buat kamu.”
“Buat aku.”
Dia berdiri, membawa kotak yang terbalik itu, dan tidak mengembalikannya ke kantong.
Kami duduk di bangku taman kecil dua blok dari apotek, di bawah lampu yang setengah mati dan kedip setiap beberapa detik.
Aku membuka dua kotak. Nindy membuka tiga.
“Mas.”
“Hm.”
“Ini yang mana yang gagal?”
“Yang bungkusnya kuning itu lapisannya kurang tipis empat persen. Yang merah, cokelatnya kelamaan di tangki. Yang terbalik itu nggak ada masalah apa-apa, cuma tulisannya.”
“Kamu hafal?”
“Aku yang nolak.”
Dia berhenti mengunyah.
“Kamu yang nolak?”
“Iya.”
“Berarti ini gara-gara kamu semua?”
“Iya.”
“Mas Panji,” katanya, sangat serius, “kamu ngasih aku empat kilo bukti kejahatan kamu?”
Aku memikirkannya sebentar.
“Iya.”
Dia menutup wajahnya dengan kotak wafer dan bahunya berguncang lagi, dan kali ini aku tahu itu tawa, dan aku merasakan sesuatu di dada yang tidak enak dan enak sekaligus, seperti waktu air panas turun ke perut kosong.
Aku tidak tahu itu apa. Aku catat saja.
“Coba yang merah,” kataku.
“Kenapa?”
“Aku mau tahu kamu dapet nggak.”
Dia mengambil satu, menggigit, mengunyah dengan wajah orang yang sedang mengerjakan soal.
“Enak.”
“Tunggu.”
“Apa?”
“Tunggu tiga detik.”
Dia menunggu. Aku menghitung di kepala.
Di detik ketiga wajahnya berubah.
“IH.”
“Dapet?”
“Ada pahitnya!” Dia menoleh cepat, matanya besar. “Di belakang! Yang tadinya nggak ada!”
“Itu yang kelamaan di tangki.”
“Kok bisa aku nggak dapet di awal?”
“Karena manisnya nutup. Manisnya turun duluan, pahitnya tinggal.” Aku mengambil satu juga. “Semua orang bisa dapet, sebenernya. Cuma nggak semua orang nungguin.”
Nindy tidak menjawab.
Aku menoleh dan dia sedang melihat wafer di tangannya seperti benda itu baru saja mengatakan sesuatu tentang dirinya.
“Nindy.”
“Bentar.”
“Oke.”
Dia diam mungkin sepuluh detik.
“Kamu tahu nggak,” katanya akhirnya, “aku sepuluh jam sehari denger orang cerita, dan aku bisa tahu dalam tiga puluh detik siapa yang bohong soal dosisnya.” Dia menggigit lagi. “Tapi barusan aku nggak bisa dapet pahitnya wafer.”
“Itu beda.”
“Bedanya di mana?”
“Kamu dengerin orang buat nolongin mereka. Aku dengerin buat nyari yang salah.” Aku menghabiskan punyaku. “Kalau kamu nyari yang salah tiap kali orang cerita, kamu nggak bisa kerja di apotek.”
Dia menoleh penuh.
Lampu jalan kedip sekali, dua kali.
“Kamu ngomong gitu ke semua orang?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Nggak ada yang nanya.”
Angin bergerak.
Bukan angin besar, cuma cukup untuk membuat sesuatu bergerak dari arahnya ke arahku, dan aku mengangkat kepala sebelum aku memutuskan untuk mengangkat kepala.
Ada nada yang salah.
Aku mencondongkan badan.
Aku tidak memikirkannya. Aku betul-betul tidak memikirkannya — di kantor kalau ada nada yang tidak aku kenali aku mendekat dan menghirup dua kali pendek, dan itu yang badanku lakukan, dan yang aku dekati kebetulan bukan cawan sampel tapi leher orang.
Aku menghirup dua kali pendek.
Nindy berhenti bergerak sepenuhnya.
“Parfum kamu baru?” kataku.
Dia tidak menjawab.
“Bagian depannya jeruk.” Aku menghirup sekali lagi. “Tapi jeruknya habis kecepetan. Belakangnya ada kayu sama sesuatu yang manis. Bukan vanila. Yang lebih basah.”
Masih tidak ada jawaban.
Aku mundur, dan waktu aku mundur aku melihat wajahnya dari jarak mungkin dua puluh senti, dan aku menyadari tiga hal berturut-turut.
Satu, dia tidak bernapas.
Dua, telinganya merah sampai ke pangkal.
Tiga — dan ini yang membuatku diam — dia sedang menoleh ke kiri, menjauhiku, dan di bawah rahang kanannya ada tahi lalat kecil yang tidak kelihatan dari posisi duduk biasa.
Aku belum pernah melihatnya sejak Senin. Berarti hanya muncul dari sudut ini.
Aku menyimpannya, entah kenapa.
“Nindy.”
“…Apa.”
“Kamu nggak apa-apa?”
Dia menoleh balik dengan cepat sekali dan hampir kena hidungku.
“Kamu ngapain sih!”
“Nyium parfumnya.”
“Ya kenapa harus deket?!”
“Kalau jauh nggak dapet yang belakangnya.”
“YA JANGAN DAPET!”
Aku mundur lagi, satu jengkal.
“Maaf.”
“Bukan—“ Dia menutup mulutnya dengan punggung tangan, lalu menurunkannya, lalu menutupnya lagi. “Astaga.”
“Aku beneran minta maaf. Kalau nggak nyaman aku nggak—“
“Bukan nggak nyaman.” Suaranya keluar terlalu cepat. Lalu berhenti. Lalu, jauh lebih pelan: “Bukan itu.”
Aku menunggu.
Dia tidak melanjutkan.
Kami duduk di situ dengan empat kilo wafer gagal di antara kami dan lampu yang kedip, dan aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi, karena aku bisa merasakan bahwa kalau aku bertanya sekarang aku akan mengambil sesuatu yang belum dia letakkan.
Setelah mungkin satu menit dia berdeham.
“Beli kemarin,” katanya, ke arah depan, bukan ke arahku. “Parfumnya.”
“Oh.”
“Jangan bilang ‘oh’.”
“Kenapa aku nggak boleh bilang ‘oh’?”
“Karena kamu bilang ‘oh’ itu kayak nge-tick kotak di formulir.”
Aku memikirkan itu.
“Iya juga,” kataku.
Dia mendengus.
Lalu, tanpa memandangku, dia bergeser di bangku.
Bukan dua sentimeter kali ini. Lebih. Sampai lengan kami hampir bersentuhan, hampir, dengan jarak yang terlalu kecil untuk disengaja dan terlalu rapi untuk kebetulan.
“Aku belinya karena hari ini mau ketemu kamu,” katanya. Cepat, satu tarikan napas, seperti orang melepas plester. “Dan aku nggak tahu kenapa aku ngomong ini sekarang. Jadi jangan bahas.”
“Oke.”
“Beneran jangan bahas.”
“Oke.”
Hening lima detik.
“Kamu nggak nanya kenapa?” katanya.
“Kamu bilang jangan bahas.”
“Iya tapi orang biasanya tetep nanya.”
“Aku bukan orang biasanya.”
“Itu—“ Dia berhenti. “Itu kedengerannya sombong banget kalau bukan kamu yang ngomong.”
“Aku nggak lagi sombong. Aku lagi jawab.”
Nindy menoleh.
Dan dari sudut ini, dari jarak ini, tahi lalat itu tidak kelihatan lagi, dan yang kelihatan cuma mata yang turun di ujung dan bibir yang lebih penuh di bawah dan dua helai rambut yang masih tidak mau ikut.
Aku catat itu juga.
Aku belum tahu untuk apa.
“Jeruknya emang cepet abis, ya?” katanya pelan.
“Iya.”
“Aku nggak sadar.”
“Nggak semua orang nungguin,” kataku.
Dia mengambil satu wafer lagi dari kotak yang tulisannya terbalik, dan tidak menggeser badannya kembali sampai kami pulang jam sepuluh.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal reading
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15