Chapter Ten
Ruang Tunggu
POV: Panji
Formulir refleksi mingguan itu ternyata dibaca.
Bu Ratih mengirim pesan hari Minggu malam:
Sesi evaluasi tengah program. Selasa, 19.00, kantor. Satu pasangan masuk bergantian, 15 menit. Yang lain menunggu di luar.
Talita: BU JADI IBU BACA FORMULIRNYA
Bu Ratih: Tentu saya baca.
Talita: BU SAYA NULIS YANG ANEH-ANEH DI HALAMAN 3
Bu Ratih: Saya tahu.
Talita: BU
Gilang: talita nulis apa
Talita: BUKAN URUSAN KAMU
Bu Ratih: Mas Gilang, halaman 2 Anda kosong.
Gilang: itu sengaja bu. itu simbolik
Bu Ratih: Simbolik dari apa?
Gilang: dari ruang kosong dalam diri
Bram: Astaga.
Talita: BRAM NGOMONG ASTAGA
Selasa jam tujuh kurang, enam orang duduk di lorong depan ruangan Bu Ratih di kursi-kursi plastik yang berderet menempel dinding, seperti orang menunggu antrean di puskesmas.
Nindy datang paling akhir lagi, langsung dari shift, dan duduk di sebelahku tanpa menyapa siapa pun karena dia sedang mengunyah sesuatu yang jelas dia beli di jalan.
“Kamu makan,” kataku.
“Iya.”
“Bagus.”
“Jangan puji aku soal makan.”
“Kenapa?”
“Karena aku dua puluh tujuh tahun.”
“Kemarin kamu belum makan sampai jam sepuluh.”
“IH.” Dia menyikutku. “Nggak usah dibahas.”
Talita, dari kursi tiga di sebelah kiri, menoleh dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
“Apa itu barusan.”
“Nggak ada apa-apa,” kata Nindy.
“Kamu nyikut dia.”
“Enggak.”
“Nindy. Aku MC. Aku dibayar buat lihat orang dari jarak lima belas meter.”
“Kamu duduk tiga meter.”
“MAKANYA JELAS BANGET.”
Bu Ratih membuka pintu.
“Bram, Vira.”
Mereka masuk.
Lima belas menit itu berjalan lambat sekali.
Gilang mencoba mengintip lewat celah pintu dan gagal. Talita mencoba mendengarkan dengan menempelkan telinga ke dinding dan gagal, lalu menyatakan bahwa dindingnya “kedap suara secara sengaja” dan bahwa itu “mencurigakan”.
Nindy menghabiskan roti bakarnya dan bersandar.
Aku melihat ke arahnya dan melihat sesuatu.
“Kerah kamu ke dalem.”
“Hah?”
“Yang kanan.”
Dia meraba lehernya sendiri dengan satu tangan, gagal, meraba lagi, gagal lagi.
“Yang mana sih.”
“Sini.”
Aku membetulkannya. Dua detik. Selesai.
Dan waktu aku menarik tangan, Nindy tidak bergerak ke belakang seperti biasa.
Dia malah mengangkat tangannya sendiri, dan menyentuh kerah kemejaku — yang tidak ada masalahnya sama sekali, yang lurus, yang aku setrika sendiri kemarin — dan meluruskannya dengan dua tangan, pelan, dari bawah dagu ke bahu.
Di lorong.
Di depan Gilang, Talita, dan kursi plastik.
“Kerah kamu juga miring,” katanya.
“Nggak miring.”
“Miring.”
“Nindy, aku setrika sendiri—“
“Miring.“
Tangannya turun dari kerahku ke ujung bahu, berhenti di situ setengah detik, lalu lepas.
Aku melihat wajahnya. Wajahnya lurus ke depan. Sangat lurus. Terlalu lurus.
Di kursi seberang, ada bunyi seperti orang tersedak.
“Gilang,” kata Talita, pelan sekali, “kamu lihat itu.”
“Aku lihat.”
“Itu barusan apa.”
“Aku nggak tahu.”
“Itu di depan mata kita.”
“Aku tahu, Ta.”
“Aku merasa nggak sopan.”
“Aku juga.”
“AKU MERASA HARUS KELUAR DARI LORONG INI.”
“Ta—“
“NINDY. KAMU DENGER AKU?”
“Enggak,” kata Nindy, masih lurus ke depan.
Bram dan Vira keluar. Bram kelihatan biasa saja. Vira kelihatan biasa saja.
“Gilang, Talita,” panggil Bu Ratih.
“Bu, saya nggak mau masuk sama dia.”
“Masuk.”
“Bu.”
“Talita.”
Mereka masuk. Pintu tertutup. Dan enam detik kemudian sudah terdengar suara Talita dari dalam.
Yang tersisa di lorong: aku, Nindy, Bram, Vira.
Lalu Nindy berdiri.
“Aku ke toilet.”
“Aku ikut,” kata Bram, langsung. “Saya mau ambil air. Ada di lantai bawah, kan?”
“Ada.”
Mereka pergi.
Dan tinggal aku dan Vira di lorong dengan kursi plastik dan lampu neon yang satu batangnya berkedip.
“Panji.”
“Ya.”
Vira duduk dua kursi dari aku. Dia memindahkan tasnya ke pangkuan, lalu ke lantai, lalu ke pangkuan lagi.
“Boleh nanya?”
“Boleh.”
“Kamu tinggal di daerah mana?”
“Kebon Jeruk.”
“Oh.” Dia mengangguk. “Deket.”
“Deket apa?”
“Deket kantor lama saya.”
“Oh.”
Hening.
“Kamu udah lama kerja di pabrik itu?”
“Empat tahun.”
“Empat tahun.” Dia mengangguk lagi. “Berarti tahun lalu udah di situ.”
“Iya.”
“Tahun lalu bulan Desember, kamu udah di situ?”
Aku menoleh.
Pertanyaannya spesifik dengan cara yang aneh, dan aku tidak bisa menemukan alasannya.
“Iya,” kataku. “Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Aku menunggu.
Vira tersenyum — senyum yang lengkap, sampai ke mata, yang selalu dia punya — dan berkata, “Saya cuma lagi cari tahu apakah dunia ini sekecil yang orang bilang.”
“Kecil gimana?”
“Ya kadang kan orang ternyata pernah ketemu. Terus nggak sadar.”
“Oh.”
“Kamu pernah ngalamin nggak?”
Aku memikirkannya dengan serius, karena dia bertanya dengan serius.
“Kayaknya enggak,” kataku. “Aku nggak inget wajah orang.”
Vira berhenti tersenyum.
Bukan berhenti mendadak. Senyumnya turun pelan-pelan, dari mata dulu, lalu mulut, seperti sesuatu yang kehabisan tenaga.
“Nggak inget wajah orang,” ulangnya.
“Iya. Aku inget suara. Bau juga. Wajah nggak.”
“Kenapa gitu?”
“Nggak tahu. Dari dulu.”
“Terus kalau ada orang yang kamu pernah ketemu terus ketemu lagi?”
“Ya nggak inget.”
“Sama sekali?”
“Sama sekali.”
Lampu neon di atas kami berkedip.
Vira menunduk dan membuka tasnya dan mencari sesuatu yang jelas tidak dia cari, karena dia mengaduk-aduk isinya selama sepuluh detik lalu menutupnya lagi tanpa mengeluarkan apa pun.
“Vira.”
“Ya?”
“Kamu nggak apa-apa?”
Dia mengangkat wajah dengan cepat.
“Nggak apa-apa,” katanya. “Kenapa?”
“Kamu buka tas terus nggak ngambil apa-apa.”
Vira menatapku.
Selama mungkin tiga detik penuh, dia menatapku dengan ekspresi yang aku tidak punya nama untuknya — sesuatu yang di antara ingin tertawa dan ingin berdiri dan pergi.
“Kamu perhatian banget, ya,” katanya.
“Nggak juga.”
“Iya. Perhatian banget.” Dia menutup tasnya. “Ke semua orang.”
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa,” katanya, dan tersenyum lagi, dan senyumnya kembali lengkap seperti semula. “Bagus, kok. Itu bagus.”
Pintu terbuka.
Talita keluar dengan wajah merah, diikuti Gilang yang tertawa terbahak-bahak, dan Talita menunjuk Gilang sambil berkata “AKU BAKAL BUNUH KAMU” dan Bu Ratih dari dalam berkata “Panji, Nindy.”
Nindy dan Bram muncul dari tangga tepat waktu.
Aku berdiri.
Waktu aku lewat, Vira berkata pelan, tanpa memandang:
“Panji.”
“Ya?”
“Selamat, ya.”
Aku berhenti.
“Selamat apa?”
Dia mengangkat wajah, dan tersenyum lagi.
“Formulir kamu,” katanya. “Bu Ratih bilang punya kamu paling lengkap.”
“Oh.” Aku mengangguk. “Aku isi apa adanya.”
“Iya,” kata Vira. “Kelihatan.”
Di dalam, Bu Ratih menyuruh kami duduk dan membuka dua map.
“Saya cuma punya satu pertanyaan malam ini,” katanya. “Untuk semua pasangan, sama.”
Dia menutup mapnya lagi tanpa membaca isinya.
“Kalau program ini tidak ada,” katanya, “kalian akan tetap ketemu?”
Nindy menjawab langsung.
“Enggak.”
Aku menoleh.
“Enggak, Bu,” ulangnya. “Kami nggak akan pernah ketemu. Dia kerja di pabrik di Bekasi, saya di apotek. Kami nggak punya temen yang sama. Kami nggak pernah ke tempat yang sama.”
“Jadi jawabannya tidak.”
“Jawabannya tidak,” kata Nindy.
Bu Ratih menoleh ke aku.
“Panji?”
Aku memikirkan pertanyaannya.
Aku memikirkannya lebih lama dari yang nyaman untuk semua orang di ruangan, dan Nindy mulai melirik, dan Bu Ratih tidak melirik sama sekali karena Bu Ratih orang yang bisa menunggu.
“Saya nggak bisa jawab,” kataku akhirnya.
“Kenapa?”
“Karena pertanyaannya soal dunia yang nggak ada.”
Bu Ratih menaikkan satu alis.
“Di dunia yang nggak ada itu, saya juga bukan saya yang sekarang,” kataku. “Saya yang sekarang udah ketemu dia. Jadi saya nggak bisa mikir sebagai orang yang belum.”
Ruangan hening.
Bu Ratih menulis sesuatu — pendek, tiga atau empat kata — dan menutup pulpennya.
“Cukup,” katanya. “Kalian boleh keluar.”
Di lorong, Nindy jalan tiga langkah di depanku dan tidak bicara sampai kami di tangga.
Lalu dia berhenti mendadak, dua anak tangga di bawah, sehingga tingginya jadi sejajar dengan bahuku.
“Barusan itu apa,” katanya.
“Yang mana?”
“Yang ‘dunia yang nggak ada’.”
“Itu jawaban.”
“Itu bukan jawaban, Mas. Itu—“ Dia menggerakkan tangan di udara, mencari. “Itu sesuatu.”
“Aku nggak bisa jawab pertanyaannya.”
“Iya, tapi kenapa nggak bisanya kayak gitu?”
Aku tidak mengerti pertanyaannya.
Nindy berdiri di anak tangga itu memandangku beberapa detik, lalu menghela napas, lalu memutar badan dan turun.
“Ya udah,” katanya.
“Nindy.”
“Apa.”
“Jawaban kamu tadi bener.”
Dia berhenti lagi.
“Kita emang nggak akan pernah ketemu,” kataku.
“Iya.”
“Itu yang bikin aku nggak bisa mikirinnya.”
Dia tidak menoleh.
Dia berdiri membelakangiku di tangga selama mungkin empat detik, satu tangan di pegangan besi, dan aku bisa melihat bahunya naik sekali — pelan, penuh — lalu turun.
“Ayo pulang,” katanya.
Suaranya turun setengah nada di ujungnya.
Batch kelima.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu reading
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15