← Nggak Diundi

Chapter Six

Diam Dulu

POV: Nindy

Aku mandi empat puluh menit.

Ini fakta yang aku tahu karena aku masuk jam sepuluh lewat lima dan keluar jam sepuluh lewat empat puluh lima, dan karena Wulan menggedor pintu di menit ketiga puluh dua sambil berteriak bahwa dia sudah mau pipis dari tadi.

Empat puluh menit. Untuk badan yang seharian di ruangan ber-AC dan tidak melakukan apa pun kecuali berdiri.

Aku tidak akan menjelaskan apa yang aku pikirkan selama empat puluh menit itu. Aku akan bilang saja bahwa aku menghabiskan sebagian besarnya dengan menempelkan dahi ke dinding keramik dan bertanya kepada diriku sendiri, dengan sopan, apa-apaan.

Apa-apaan, Nindy.

Kamu dua puluh tujuh tahun.

Kamu duduk di trotoar depan warung nasi goreng dan cerita soal Pak Sutan ke laki-laki yang kamu kenal sebelas hari, dan dia bilang “nanti”, dan kamu hampir nangis, dan sekarang kamu berdiri di kamar mandi seperti anak SMA.

Air panasnya habis di menit ketiga puluh delapan. Aku tetap di situ tujuh menit lagi.


Yang perlu kalian tahu tentang aku adalah ini.

Aku bukan orang yang gampang. Aku bukan orang yang butuh diperhatikan. Aku dua puluh tujuh tahun, aku bayar kontrakan sendiri, aku kirim uang ke Ibu tiap bulan, aku pegang shift terpanjang di apotek karena aku yang paling bisa diandalkan, dan aku sudah empat tahun tidak menangis di depan siapa pun.

Empat tahun.

Terakhir kali aku menangis di depan orang adalah waktu aku memutuskan hubunganku dengan Bagas, dan yang aku tangisi bukan Bagas. Yang aku tangisi adalah waktu dia bertanya, dengan tulus, dengan bingung, “Kamu kenapa sih tiba-tiba?”

Empat tahun bersama.

Dan pertanyaannya tiba-tiba.

Aku hafal semuanya tentang dia. Alergi udangnya. Ukuran sepatunya. Nama guru SD-nya yang dia benci. Aku hafal bahwa dia tidak bisa tidur kalau AC-nya di bawah dua puluh empat.

Dan waktu aku tanya balik — pelan-pelan, iseng, di bulan ketiga puluh sembilan — apa warna favoritku, dia bilang, “Ungu, kan?”

Aku benci ungu.

Aku tidak marah waktu itu. Itu bagian yang paling aneh. Aku tidak marah sama sekali. Aku cuma duduk di situ dan merasakan sesuatu yang sangat sunyi, seperti masuk ke ruangan yang sudah lama kosong dan menyadari bahwa kamu sendiri yang mengosongkannya, karena kamu terus-terusan mengangkut barang keluar untuk orang lain dan tidak pernah ada yang mengangkut masuk.

Jadi aku berhenti.

Dan selama empat tahun setelah itu aku sangat, sangat baik-baik saja.


Yang bikin masalah bukan parfumnya.

Semua orang mengira masalahnya di situ. Bahkan aku mengira begitu selama dua hari — aku pikir aku begini gara-gara Selasa malam, gara-gara dia mencondongkan badan ke leherku seperti itu, seperti tidak ada apa-apa, seperti aku benda.

(Dan aku harus jujur di sini karena ini catatan kepalaku sendiri dan tidak ada yang membacanya: aku memikirkan dua puluh senti itu lebih sering dari yang pantas. Aku memikirkannya di tengah menghitung stok. Aku memikirkannya waktu ada pasien menjelaskan gejalanya. Aku bahkan sempat, sekali, membaui pergelangan tanganku sendiri di tengah shift seperti orang gila.)

Tapi bukan itu.

Masalahnya adalah dia berhenti di trotoar dan bilang, “Kamu kenapa?”

Kalimat itu.

Dua kata itu.

Kalian tahu berapa kali aku mengucapkan kalimat itu ke orang lain dalam seminggu? Aku mengucapkannya belasan kali sehari. Itu kalimat kerjaku. Bapak kenapa? Ibu keluhannya apa? Mbak, sakitnya di sebelah mana?

Dan aku tidak ingat kapan terakhir ada yang mengucapkannya ke aku.

Bukan “kamu capek ya” — itu ada. Ibu bilang itu tiap telepon.

Bukan “istirahat, dong” — itu banyak. Wulan bilang itu tiap hari.

“Kamu kenapa.” Dengan tanda tanya. Yang menunggu jawaban. Yang tidak sudah menyiapkan jawabannya sendiri.

Dan dia mengucapkannya bukan karena aku menangis. Aku tidak menangis. Aku sedang tertawa.

Dia mengucapkannya karena suaraku turun setengah nada di setengah detik terakhir.

Setengah detik.

Aku tidak tahu itu ada. Aku tidak tahu badanku melakukan itu. Aku sudah dua puluh tujuh tahun memakai badan ini dan ada yang bocor dari badanku yang aku sendiri tidak tahu, dan seorang laki-laki yang kerjanya mencicipi wafer menemukannya di hari kesebelas.

Yang bikin aku tidak bisa tidur bukan karena itu manis.

Yang bikin aku tidak bisa tidur adalah karena aku tiba-tiba sadar aku sudah bocor ke mana-mana selama bertahun-tahun, di depan puluhan orang, dan tidak satu pun dari mereka mendengar.

Berarti bukan aku yang pintar menyembunyikan.

Berarti mereka yang tidak mendengarkan.

Dan itu, entah kenapa, jauh lebih menyakitkan daripada kemungkinan yang pertama.


Bu Ratih: Selamat pagi. Group date kedua: Sabtu, pukul 10.00. Lokasi menyusul. Kehadiran wajib.

Bu Ratih: Saya lampirkan formulir refleksi mingguan. Diisi sebelum Jumat.

Talita: BU FORMULIR APA LAGI

Bu Ratih: Formulir.

Talita: BU

Gilang: bu ini berapa halaman

Bu Ratih: Empat.

Gilang: EMPAT

Bram: Siap Bu.

Talita: bram jangan gitu dong. jangan siap-siap gitu. kamu ngerusak solidaritas

Bram: Maaf.

Talita: NGGAK USAH MINTA MAAF JUGA

Aku sedang membaca itu di ruang belakang sambil makan roti jam sebelas siang waktu ponselku bergetar terpisah.

Panji: Formulirnya wajib ya?

Aku: Menurut kamu?

Panji: Aku mau nanya ke Bu Ratih

Aku menaruh rotiku.

Aku: Jangan

Panji: Kenapa

Aku: Mas. Kamu tanya, dia jawab, jawabannya jadi lima halaman

Aku: Isi aja. Nggak ada yang baca

Panji: Kamu tahu dari mana nggak ada yang baca

Aku: Diam dulu. Nanya belakangan

Tiga titik muncul.

Panji: Oke

Cuma itu.

Oke.

Aku menatap layar selama mungkin dua puluh detik, dan yang aku rasakan bukan senang, dan bukan geli, dan aku sungguh mencoba mencari kata yang benar untuk itu dan yang paling dekat adalah: aman.

Aku bilang sesuatu yang setengah perintah, tanpa penjelasan, dengan nada yang biasanya bikin orang tersinggung.

Dan dia bilang oke.

Bukan “kenapa”. Bukan “kok gitu”. Bukan “iya sih tapi kan”. Bukan diam yang ngambek yang harus aku bereskan tiga jam kemudian.

Oke.

Lalu, dua menit kemudian:

Panji: Nanti aku nanya

Panji: Belakangan

Dan aku — dua puluh tujuh tahun, apoteker, penanggung jawab shift malam, orang yang minggu lalu memarahi kurir sampai dia hampir menangis —

aku menaruh ponsel di meja layar ke bawah, meletakkan dahi di lengan, dan tersenyum ke dalam lipatan siku sendiri seperti orang tolol selama hampir satu menit penuh.

“Nin?”

Wulan di pintu.

“Apa.”

“Kamu ngapain?”

“Nggak ngapa-ngapain.”

“Kamu senyum ke meja.”

“Enggak.”

“Nin, aku lihat.”

“Wulan.”

“Apa?”

Aku mengangkat kepala.

“Kalau kamu sayang sama nyawa kamu,” kataku, “keluar.”

Dia keluar. Sambil ketawa. Sambil bilang sesuatu di lorong yang tidak jelas tapi jelas-jelas tentang aku.

Aku mengambil ponselku lagi.

Aku membaca ulang belakangan mungkin enam kali.

Lalu aku membuka kalender di ponsel, dan menghitung.

Tiga minggu dua hari lagi.

Aku menutup kalender itu dengan cepat sekali, seperti orang yang tidak sengaja membuka pintu ruangan yang belum siap dia masuki, dan aku kembali ke depan dan melayani tujuh orang berturut-turut dengan sangat baik.

Wajahku bekerja seperti biasa.

Aku tidak memikirkan hitungan itu lagi sampai malam.