Chapter Sixteen
Gilang Ngeliat
POV: Panji
Gilang muncul di warung mi hari Selasa tanpa diundang, tanpa memberi tahu, dan dengan penjelasan yang tidak masuk akal.
“Aku lewat.”
“Kamu nggak lewat.”
“Aku lewat, Panji.”
“Ini gang buntu.”
Dia duduk di bangku seberang kami dan memanggil pelayan seperti orang yang sudah memesan sejak seminggu lalu.
“Mi ayam, pangsit dua, es teh.” Lalu, ke arah kami, dengan senyum paling palsu yang pernah aku lihat: “Aku cuma sebentar.”
Nindy melirikku.
Aku mengangkat bahu.
“Nindy, kan?” kata Gilang.
“Kita udah ketemu lima kali.”
“Iya, tapi kita belum pernah ngobrol.” Dia menaruh sikunya di meja. “Aku pengen kenalan yang bener.”
“Kenapa?”
“Karena aku sahabatnya.”
“Terus?”
“Terus aku punya tanggung jawab moral.”
Nindy menyandarkan punggung dan bersedekap, dan aku melihat sesuatu yang menarik terjadi di wajahnya: dia berpindah mode. Bukan ke mode Panji. Ke mode yang aku lihat waktu dia melayani pelanggan yang mencurigakan di apotek.
“Silakan,” katanya.
“Silakan apa?”
“Interogasinya.”
Gilang berkedip. “Ini bukan interogasi.”
“Mas Gilang, kamu duduk di gang buntu.”
“Aku LEWAT—“
“Aku nggak marah.” Dia mengambil es tehnya. “Aku cuma bilang, silakan.”
Gilang menatapnya beberapa detik dengan ekspresi orang yang sadar dia baru saja kalah di ronde pertama.
“Oke,” katanya. “Satu pertanyaan.”
“Silakan.”
“Kamu tahu Panji ini gimana?”
“Gimana apanya?”
“Dia tuh—“ Gilang menggerakkan tangan ke arahku secara umum. “Dia nggak ngerti apa-apa.”
“Aku duduk di sini,” kataku.
“Diem.”
“Aku denger semua yang kamu—“
“Diem, Panji.“
Nindy menaruh gelasnya.
“Aku tahu,” katanya.
“Kamu tahu?”
“Iya.”
“Kamu tahu dia nggak pernah pacaran?”
“Tahu.”
“Kamu tahu dia bisa ngomongin wafer empat puluh menit?”
“Empat puluh?” Nindy menoleh ke aku. “Kamu bilang dua puluh.”
“Aku nggak pernah bilang dua puluh.”
“Kamu bilang ‘nggak lama’.”
“Dua puluh itu nggak lama.”
“MAS.”
“NAH!” Gilang menepuk meja. “Nah! Itu! Kamu lihat kan?”
“Lihat apa?”
“Dia gitu terus!”
“Iya,” kata Nindy. “Aku tahu.”
Dan dia bilangnya sambil mengambil tisu dari kotak dan mengelap sisi meja yang basah kena kondensasi gelasku, tanpa melihat, seperti orang yang sudah melakukannya berkali-kali.
Gilang berhenti bicara.
Aku tidak menyadari apa yang terjadi selama sepuluh menit berikutnya, dan aku baru mengerti nanti malam waktu Gilang menjelaskannya di teras dengan wajah orang yang baru pulang dari perang.
Yang terjadi menurut catatanku sendiri adalah ini:
Mi datang. Nindy memindahkan mangkuknya ke tengah, mengambil sendok, dan menyisihkan semua irisan cabainya ke pinggir piring.
Lalu dia mendorong piring cabainya ke arahku.
Aku memakannya.
“Mas.”
“Hm.”
“Punya kamu ada pangsitnya dua, punya aku satu.”
“Ambil.”
“Aku nggak minta.”
“Kamu ngasih tahu.”
“Iya,” katanya. “Aku ngasih tahu.”
Dia mengambil satu pangsit dari mangkukku.
Lalu, sepuluh detik kemudian, dia mengangkat mangkuknya sendiri sedikit dan berkata, “Ini panas banget,” dengan suara yang sangat berbeda dari suara yang dia pakai untuk Gilang.
Aku menariknya, mengaduknya beberapa kali supaya uapnya keluar, dan mendorongnya kembali.
“Makasih.”
“Hm.”
Lalu dia bilang, “Botolnya keras.”
Aku membukanya.
Lalu dia bilang, “Aku nggak bawa tisu.”
Aku mengambilkan.
Lalu dia bilang, “Mas, kamu tadi bilang apa soal gudang?”
Dan aku menjelaskan soal suhu gudang selama mungkin empat menit, dan dia mendengarkan sampai selesai, dengan dagu di tangan, sambil makan, dan sekali dia menyela dengan pertanyaan yang bagus — dia tanya kenapa kelembapannya lebih penting dari suhunya — dan aku menjelaskan itu juga.
Selesai.
Itu semua yang terjadi.
Waktu aku selesai bicara, aku menoleh ke Gilang untuk menanyakan sesuatu.
Gilang sedang memegang gelas es tehnya setinggi dada.
Tidak minum. Tidak menaruh. Cuma memegang, di udara, dengan tangan yang sedikit bergetar, dan matanya bergerak dari Nindy ke aku dan kembali ke Nindy dengan kecepatan yang tidak wajar.
“Lang.”
Dia tidak menjawab.
“Lang.”
“Hah?”
“Es teh kamu.”
Dia melihat ke tangannya sendiri.
Dan menjatuhkannya.
Bukan pecah — gelasnya plastik, jatuh ke meja, es dan air tumpah ke seluruh permukaan dan ke celananya.
“ASTAGA,” teriak Nindy, langsung berdiri, langsung menyambar tisu, langsung mengelap meja dengan gerakan cepat orang yang terlatih menangani tumpahan. “Kamu nggak apa-apa? Kena?”
“Kena.”
“Panas?”
“Ini es.”
“YA MAKANYA AKU NANYA.”
“Nindy.”
“Apa?”
Gilang menatapnya.
“Nggak apa-apa,” katanya. “Nggak apa-apa.”
Dan dia duduk kembali, dan tidak bicara selama sisa makan malam, dan sekali aku menoleh dan menangkapnya sedang menatapku dengan ekspresi yang belum pernah aku lihat di wajahnya selama sembilan tahun berteman.
Malamnya dia datang ke kontrakan.
Aku tahu dia akan datang. Dia tidak bilang. Aku cuma tahu.
Dia duduk di teras, di anak tangga, dengan celana yang masih ada bekas basahnya, dan tidak bicara selama mungkin satu menit penuh.
“Panj.”
“Hm.”
“Aku mau nanya sesuatu dan aku mau kamu jawab jujur.”
“Aku selalu jawab jujur.”
“Iya. Itu masalahnya.” Dia menghela napas. “Kamu ngerti nggak apa yang barusan terjadi di warung?”
“Kamu numpahin es teh.”
“Sebelum itu.”
“Kamu ngomongin aku di depanku.”
“SEBELUM ITU JUGA.”
Aku memikirkannya.
“Kita makan mi,” kataku.
Gilang menutup wajahnya dengan dua tangan.
“Lang.”
“Bentar.” Suaranya teredam. “Bentar, aku lagi ngatur diri.”
Aku menunggu.
Dia menurunkan tangannya.
“Panji,” katanya. “Aku kenal kamu sembilan tahun.”
“Iya.”
“Sembilan tahun aku belum pernah lihat kamu deket sama cewek.”
“Iya.”
“Jadi tolong dengerin baik-baik, karena aku cuma bakal ngomong ini sekali.” Dia menoleh. “Cewek itu — Nindy — dia ngomong sama aku pakai suara satu. Terus dia noleh ke kamu dan suaranya ganti.”
“Ganti gimana?”
“Ganti. Turun. Beda orang.”
“Semua orang gitu.”
“NGGAK SEMUA ORANG GITU.”
“Kamu juga gitu. Suara kamu ke bos kamu beda sama suara kamu ke aku.”
“Itu beda!”
“Bedanya di mana?”
“Bedanya—“ Gilang berhenti. “Bedanya suara aku ke bos aku itu naik. Suara dia ke kamu itu turun.”
Aku memikirkannya.
“Terus?”
“Panji.” Dia mencondongkan badan. “Orang naikin suara kalau lagi jaga diri. Orang nurunin suara kalau lagi nggak.”
Aku duduk di situ.
Aku duduk di teras kontrakanku dengan sahabatku yang celananya basah, dan aku memikirkan kalimat itu, dan aku memikirkan setengah detik yang selalu turun di ujung tawa Nindy, dan aku menyadari bahwa aku sudah punya dua data yang bentuknya sama dan artinya berlawanan.
“Lang.”
“Apa.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Dari mana apa?”
“Semua ini. Suara. Turun. Naik.”
Gilang menatap ke jalan.
“Aku sales, Panji,” katanya. “Aku sembilan tahun dengerin orang bilang ‘iya’ pakai lima puluh cara yang beda.”
“Terus kenapa nasihat kamu selalu jelek?”
“HEH.”
“Aku serius.”
Dia diam.
Lalu dia tertawa, satu kali, pahit.
“Karena aku pinter baca orang lain,” katanya, “dan bego total kalau soal diri sendiri.”
Aku tidak menjawab itu.
Aku memikirkan Talita, dan tiga jam, dan halaman dua yang kosong.
“Panj.”
“Hm.”
“Boleh aku ngomong satu hal lagi?”
“Boleh.”
Dia menarik napas.
“Kamu nggak tahu kan berapa besar ini.”
“Berapa besar apa?”
“Ini.” Dia menunjuk ke arah umum — ke jalan, ke gang, ke seluruh tiga minggu terakhir. “Kamu nggak tahu. Kamu pikir ini normal. Kamu pikir semua orang begini.”
“Emang enggak?”
“Enggak, Panji.“
Suaranya keras sekali, dan langsung setelah itu dia mengecilkannya, seperti orang yang kaget sama volumenya sendiri.
“Enggak,” ulangnya, pelan. “Orang nggak begini. Orang butuh tiga bulan buat sampai yang kayak tadi. Orang butuh bertengkar dulu, baikan dulu, salah paham dulu.” Dia menggeleng. “Kalian dua puluh hari.”
“Dua puluh dua.”
“Kamu ngitung?”
“Aku ngitung.”
Gilang menatapku lama sekali.
“Sejak kapan kamu ngitung?”
Aku tidak menjawab.
Aku tidak menjawab karena aku baru sadar, di teras itu, jam sepuluh malam, bahwa aku sudah menghitung sejak Bu Ratih menyebut aturan nomor lima dan aku pura-pura tidak mendengarnya.
Dan Gilang, yang bego total kalau soal diri sendiri, melihat wajahku dan langsung tahu.
“Oh,” katanya.
“Jangan.”
“Aku belum ngomong apa-apa.”
“Jangan, Lang.”
“Panji.”
“Aku belum siap denger.”
Gilang menutup mulutnya.
Dia duduk di situ mungkin dua puluh detik.
Lalu dia berdiri, menepuk celananya yang basah, dan berkata dengan nada yang sangat ringan, terlalu ringan:
“Delapan hari lagi, ya.”
“Lang.”
“Nggak apa-apa. Aku pulang.” Dia menuruni tangga. “Panj.”
“Apa.”
“Kalau nanti ada yang harus diomongin,” katanya, tanpa berbalik, “omongin sebelum acaranya selesai. Bukan sesudah.”
“Kenapa?”
“Karena sesudah itu susah.”
Dan dia pergi.
Dan aku duduk di teras sampai jam dua belas.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat reading
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15