Chapter Forty
Angkatan 15
POV: Panji
Enam bulan kemudian, hari Rabu, jam delapan malam.
Aku berdiri di trotoar depan apotek dan menunggu.
Aku ingin mencatat sesuatu tentang enam bulan itu, dan yang aku catat bukan hal besar, karena tidak ada hal besar.
Yang terjadi adalah ini: aku datang setiap Rabu.
Tidak setiap hari. Kami sudah mencoba setiap hari selama dua minggu di bulan pertama dan hasilnya adalah aku tidur empat jam semalam dan Nindy hampir salah menyerahkan obat, dan kami duduk di bangku taman dan menghitung dengan jujur dan menyerah.
Sembilan kilometer itu nyata.
Jadi: Rabu dan Sabtu. Kadang Minggu.
Dan yang aku pelajari dalam enam bulan adalah bahwa Rabu itu jauh lebih penting daripada Sabtu, karena Sabtu itu mudah.
Rabu itu hari di mana aku sudah kerja delapan jam dan mencicipi lima puluh sampel dan yang aku inginkan adalah pulang dan mandi dan tidur.
Rabu itu hari di mana Bu Ratih bilang empat puluh delapan pasangan berpikir “nanti saja”.
Jadi aku datang setiap Rabu, dan aku tidak pernah bilang ke Nindy bahwa aku sengaja memilih Rabu, dan enam bulan kemudian dia bilang ke aku bahwa dia sudah tahu sejak minggu ketiga.
Rolling door-nya turun dalam satu gerakan.
Aku sudah melumasi ulang dua kali. Bulan Desember dan bulan Maret.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu bawa apa?”
“Nggak bawa apa-apa.”
“Bohong.”
Aku mengangkat kantong plastik.
“IH.”
“Ini bukan buat kamu.”
“Terus buat siapa?”
“Buat Wulan. Dia nagih yang merah.”
Nindy mengambil kantongnya dan melihat ke dalam dan berkata, “Ini empat kotak,” dan aku bilang, “Tiga buat Wulan,” dan dia bilang, “Terus yang satu?” dan aku tidak menjawab, dan dia memukul lenganku dengan kantong plastik itu.
Kabar enam bulan, singkat, karena semuanya sudah tidak dramatis lagi:
Ibu Nindy kontrol setiap bulan. Rendi yang mengantar, naik motor, dan sekarang dia kerja di bengkel dan tidak pernah lagi mengirim foto motor tanpa teks.
Bapak sudah dua kali ikut.
Yang pertama bulan Desember, karena Rendi demam. Bapak naik kereta jam lima pagi dan naik bus dan sampai jam sebelas dan mengantar Ibu Nindy kontrol dan pulang hari itu juga.
Yang kedua bulan Maret, tanpa alasan.
Nindy meneleponku dari kampung malam itu dan bilang “Mas, Bapak kamu dateng lagi” dan suaranya pecah di kata terakhir, dan aku duduk di kontrakan dan tidak tahu harus bilang apa.
Aku menelepon Bapak besoknya.
“Pak.”
“Hm.”
“Kenapa Bapak dateng lagi?”
Dan Bapak bilang:
“Bapak nggak ada kerjaan.”
Dan menutup teleponnya.
Gilang dan Talita jadian bulan November dan putus bulan Januari dan jadian lagi bulan Januari juga, tiga hari kemudian, dan Talita menyatakan di grup bahwa yang Januari itu “nggak dihitung”.
Talita: itu bukan putus. itu jeda
Gilang: kamu bilang “kita selesai”
Talita: AKU BILANG “KITA SELESAI MAKAN”
Gilang: KAMU NGGAK BILANG MAKAN
Bram: Saya lihat chatnya. Dia tidak bilang makan.
Talita: BRAM
Bram membuka kantor arsitek kecil bulan Februari dengan dua orang lain. Dia mengirim foto papan namanya ke grup dan Talita membalas dengan tiga puluh emoji dan Gilang membalas “ini kayak logo bank” dan Bram membalas “Terima kasih.”
Dan Vira.
Aku akan sampai ke Vira, karena Vira adalah alasan kami berdiri di depan gedung itu malam Rabu bulan Maret.
Kami jalan lewat gedungnya karena kebetulan.
Itu benar. Aku ingin dicatat bahwa itu benar-benar kebetulan — kami mencari tempat makan dan jalannya memutar dan tiba-tiba kami di jalan itu, dan Nindy berhenti mendadak.
“Mas.”
“Hm.”
“Lantai duanya nyala.”
Aku mendongak.
Lampu lantai dua menyala. Jendelanya kuning.
Dan lewat kaca, ada bayangan orang bergerak. Beberapa.
“Angkatan lima belas,” kata Nindy.
Dan kami berdua berdiri di trotoar itu — trotoar yang sama, di bawah papan nama yang sama, di tempat aku bilang “oke” enam bulan lalu dan Nindy naik taksi —
dan tidak ada satu pun dari kami yang bicara selama mungkin sepuluh detik.
“Kamu mau naik?” kataku.
“Enggak.”
“Oke.”
“Kamu mau naik?”
“Enggak.”
“Ya udah.”
Dan kami tidak naik.
Kami berdiri di trotoar itu selama mungkin dua menit sambil melihat jendela lantai dua, seperti dua orang tua yang lewat depan sekolahnya.
Lalu pintu lobi terbuka.
Vira keluar dengan map di tangan.
Map tebal. Sampul cokelat tua.
Dia melihat kami dan berhenti.
“Astaga.”
“Vir?”
“Kalian ngapain di sini?”
“Kami lewat,” kata Nindy.
“Bohong.”
“Beneran lewat.”
“Nindy, ini gang kecil.”
“NGGAK, ini beneran lewat.”
Dan Vira tertawa, dan memeluk Nindy, dan kemudian menyalamiku dengan dua tangan seperti selalu.
Dia kelihatan sama. Rambut ditata. Blus yang tidak kusut.
Kecuali satu hal.
“Vir,” kataku. “Map kamu.”
Dia mengangkatnya.
“Iya.”
“Itu map Bu Ratih.”
“Sekarang map aku.”
Ceritanya begini, dan Vira menceritakannya di trotoar sambil sesekali melirik ke atas karena katanya dia cuma punya sepuluh menit.
Bulan November dia menelepon Bu Ratih.
“Kamu nelepon dia?” kata Nindy. “Dia nggak pernah ngangkat.”
“Aku nggak nelepon. Aku dateng ke kantornya.”
“Kamu tahu kantornya di mana?”
Vira menoleh ke aku.
“Panji yang kasih tahu.”
Nindy menoleh ke aku juga.
“Aku cuma dikasih tahu alamatnya,” kataku. “Sisanya dia sendiri.”
“Aku dateng dan aku bilang, ‘Bu, saya mau kerja sama Ibu.’” Vira memindahkan mapnya ke tangan satunya. “Dan Bu Ratih bilang, ‘Kenapa?’”
“Terus kamu bilang apa?”
Dan Vira berkata:
“Aku bilang, ‘Karena saya bikin Angkatan 14 ada dan saya nggak dapet apa-apa, dan saya nggak mau itu jadi hal paling penting yang pernah saya lakuin.’”
Hening di trotoar.
“Terus?”
“Terus dia diem lima belas detik,” kata Vira. “Terus dia bilang ‘Senin, jam sembilan. Bawa laptop.’”
“Kamu ngurus programnya?”
“Aku ngurus setengahnya. Bu Ratih tetep yang baca formulir.” Vira mengangkat bahu. “Tapi kuesionernya aku yang rombak. Sekarang tiga puluh delapan pertanyaan.”
“Kamu buang dua?”
“Aku buang lima, aku tambah tiga.”
“Yang nomor tiga puluh satu?”
Dan Vira tersenyum.
“Nomor tiga puluh satu nggak aku sentuh.”
Nindy bertanya sesuatu yang aku tidak berani tanyakan.
“Vir.”
“Hm.”
“Kamu gimana?”
Dan Vira Handayani berdiri di trotoar dengan map tebal di tangan dan berkata:
“Aku nggak lagi nyari.”
“Vir—“
“Bukan itu maksudnya.” Dia mengangkat tangan. “Aku bukan lagi nyerah, Nin. Aku beneran lagi nggak nyari.”
“Bedanya?”
“Bedanya delapan bulan kemarin aku bangun tiap pagi dan hal pertama yang aku pikirin adalah satu orang yang aku nggak tahu wajahnya.” Dia menyandarkan mapnya ke dada. “Sekarang hal pertama yang aku pikirin adalah lima puluh enam pasangan yang gagal dan kenapa.”
“Itu lebih baik?”
“Itu lebih besar,” kata Vira. “Buat sekarang itu cukup.”
Dan Nindy memeluknya lagi, lebih lama, dan Vira menepuk punggungnya dua kali dengan tangan yang memegang map.
Pintu lobi terbuka lagi.
Seorang laki-laki keluar — mungkin tiga puluhan, kemeja yang jelas dibeli minggu ini, dan wajah orang yang baru saja keluar dari ruangan untuk bernapas.
Dia berdiri di trotoar dan mengeluarkan ponselnya dan tidak melakukan apa-apa dengan ponselnya.
Vira melihatnya.
“Mas Ardi.”
Dia menoleh cepat. “Eh, Mbak Vira. Maaf, saya cuma—“
“Nggak apa-apa. Lima menit lagi masuk ya.”
“Iya, Mbak.”
Dan dia berdiri di situ, memegang ponsel yang layarnya mati, tidak jauh dari kami.
Dan setelah beberapa detik dia berkata, ke arah umum, ke arah tidak seorang pun:
“Mbak, boleh nanya?”
“Boleh.”
“Ini beneran nggak bisa tuker?”
“Nggak bisa.”
“Sebulan?”
“Sebulan.”
Dia menghela napas dan memasukkan ponselnya ke saku.
Lalu dia melihat kami. Dan melihat cara Nindy berdiri, dan melihat tangan kami, dan wajahnya berubah.
“Mbak, kalian—“
“Angkatan empat belas,” kata Nindy.
Dan mata laki-laki itu melebar.
“Mbak.”
“Iya?”
“Boleh nanya beneran?”
“Boleh.”
Dan dia berkata:
“Gimana caranya tahu?”
Nindy menoleh ke aku.
Aku tidak menjawab, karena aku tidak punya jawaban, karena aku tidak pernah punya jawaban untuk pertanyaan sebesar itu dan aku sudah berhenti berpura-pura punya.
Dan Nindy berkata:
“Nggak ada caranya.”
“Hah?”
“Nggak ada caranya, Mas.” Dia mengangkat bahu. “Kamu nggak bakal tahu. Nggak sebulan, nggak setahun.”
“Terus gimana?”
Dan Nindy Pramesthi berdiri di trotoar depan gedung itu dan berkata:
“Diam dulu. Nanya belakangan.”
Laki-laki itu berkedip.
“…Itu artinya apa, Mbak?”
“Artinya jalanin dulu sebulan,” katanya. “Jangan tiap malem pulang terus ngitung ini beneran apa enggak. Jangan tiap ketemu mikir ‘ini karena aku suka apa karena disuruh’.”
“Terus kapan nanyanya?”
“Belakangan.”
“Belakangan itu kapan?”
Dan Nindy berkata:
“Nanti kamu tahu sendiri. Rasanya nggak enak banget.”
Vira tertawa.
Dan laki-laki itu berdiri di situ dengan wajah orang yang tidak mengerti sama sekali, dan Vira menepuk bahunya dan menyuruhnya naik, dan dia naik, dan pintu lobi menutup.
“Nin.”
“Hm.”
“Kamu ngasih dia nasihat.”
“Iya.”
“Nasihatnya jelek.”
“IH.”
“Itu nasihat paling jelek yang pernah aku denger,” kataku. “Itu bahkan lebih jelek dari nasihat Gilang.”
“NGGAK MUNGKIN.”
“Gilang nyuruh aku nunggu tiga jam. Kamu nyuruh dia nunggu sebulan.”
Dan Nindy memukul lenganku dengan kantong plastik berisi empat kotak wafer, dan Vira menonton kami berdua dengan tangan menutup mulut, dan di lantai dua ada seseorang membuka jendela dan suara Bu Ratih keluar dari sana, jelas sekali, mengisi seluruh gang:
“—tidak ada rotasi, tidak ada tukar, dan ini penting, tidak ada negosiasi.“
Aku dan Nindy berhenti bergerak bersamaan.
Dan kami berdua mendongak ke jendela lantai dua.
Dan tidak ada satu pun dari kami yang bicara selama mungkin lima detik.
Vira pamit jam sembilan kurang.
“Vir.”
“Hm?”
“Bilang ke Bu Ratih,” kata Nindy.
“Bilang apa?”
Nindy memikirkannya.
“Bilang aja Angkatan empat belas masih ada dua,” katanya.
“Dua?”
“Kami sama Gilang-Talita.”
Vira mengangguk.
“Dia bakal nanya berapa bulan.”
“Bilang enam.”
“Dia bakal bilang enam bulan belum apa-apa.”
“Aku tahu,” kata Nindy. “Bilang aja.”
Kami jalan pulang.
Dan di ujung gang, Nindy berhenti dan menoleh ke belakang, ke gedung itu, ke jendela lantai dua yang masih kuning.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu inget waktu Bu Ratih nanya di sesi evaluasi?”
“Yang mana?”
“‘Kalau program ini nggak ada, kalian bakal tetep ketemu?’”
“Iya.”
“Aku bilang enggak.”
“Iya.”
“Dan kamu nggak bisa jawab.”
“Iya.”
Dia menoleh ke aku.
“Sekarang kamu bisa jawab?”
Dan aku memikirkannya, dengan sungguh-sungguh, seperti aku memikirkan semua pertanyaan.
“Enggak,” kataku.
“Enggak?”
“Enggak, Nin. Kita nggak akan pernah ketemu.” Aku memasukkan tangan ke kantong. “Nggak ada satu pun jalan. Aku udah ngecek.”
“Kamu ngecek?”
“Aku ngecek berkali-kali.”
Dan Nindy berdiri di ujung gang dan berkata:
“Terus?”
Dan aku berkata:
“Terus aku nggak dapet kamu.”
Dia berhenti bernapas.
“Aku dikasih kamu,” kataku. “Sama spreadsheet, sama fotokopi KTP, sama Wulan yang lagi bercanda jam dua siang.”
Aku mengangkat bahu.
“Terus aku milih kamu,” kataku. “Dan besok aku milih lagi.”
Dan Nindy Pramesthi mengambil tanganku di ujung gang di bawah lampu jalan yang kedip, dengan tangan yang masih dingin, yang selalu dingin, yang akan selalu dingin —
dan berkata:
“Ya udah. Ayo pulang.”
Dan kami pulang.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15 reading