← Nggak Diundi

Chapter Thirty Two

Penutupan

POV: Panji

“Empat minggu lalu,” kata Bu Ratih, “enam orang duduk di ruangan ini dan tidak ada satu pun yang mau.”

Dia berdiri di ujung meja dengan map tebal yang belum dia buka.

“Mas Panji didaftarkan tanpa sepengetahuannya. Mas Gilang mendaftar untuk mengantar. Mbak Talita mendaftar karena, saya kutip dari formulirnya, ‘buat bahan cerita’.”

“BU.”

“Mbak Vira mendaftar karena sepupu Mas Gilang. Mas Bram mendaftar karena kakaknya memaksa. Mbak Nindy mendaftar karena—“ Dia melirik map. “Karena rekan kerjanya mengisi formulir atas namanya sebagai lelucon.”

Aku menoleh.

Nindy sedang memandangi tangannya sendiri di pangkuan.

“Wulan?” kataku, pelan.

“Wulan,” katanya, tanpa menoleh.

“Kamu nggak pernah cerita.”

“Kamu nggak pernah nanya.”

Dan dia mengatakannya tanpa nada apa-apa, tanpa niat menusuk, dan justru karena itu rasanya seperti dipukul.


“Enam orang yang tidak mau,” lanjut Bu Ratih. “Itu bukan kegagalan. Itu justru sampel yang bagus.”

“Bu, kami sampel?” kata Gilang.

“Kalian selalu sampel.”

“BU.”

Bu Ratih membuka mapnya.

“Saya akan membacakan sesuatu, lalu saya akan pergi.” Dia mengeluarkan enam lembar. “Ini formulir pendaftaran kalian. Halaman pertama. Bagian yang tidak pernah saya bahas.”

Dia mengangkat lembar pertama.

“Pertanyaan nomor satu. ‘Apa yang Anda harapkan dari program ini?’”

Talita menutup wajahnya. “Bu, jangan.”

“Mbak Talita menulis: ‘Nggak ngarep apa-apa. Serius.’”

“BU.”

“Mas Gilang menulis: ‘Cari pengalaman.’”

“Itu jawaban yang bagus!”

“Itu jawaban orang yang tidak mengisi formulir dengan serius, Mas Gilang.” Dia meletakkannya. “Mas Bram menulis dua kalimat yang panjang dan sopan dan tidak mengandung informasi apa pun.”

Bram tertawa. “Betul, Bu.”

“Mbak Vira menulis: ‘Ketemu satu orang.’”

Ruangan diam.

Aku menoleh ke Vira.

Vira tersenyum ke arah Bu Ratih. Senyumnya lengkap.

“Itu jawaban paling jujur di angkatan ini,” kata Bu Ratih. “Dan saya baru mengerti maksudnya minggu kemarin.”

Vira tidak bergerak.

“Bu,” kata Talita, dan suaranya tajam sekali, “lanjut aja.”

Bu Ratih menatap Talita.

Lalu dia menatap Vira.

Dan dia meletakkan lembar itu dan mengambil yang berikutnya tanpa berkata apa-apa lagi.

Dan itu adalah hal paling baik yang pernah aku lihat dilakukan Bu Ratih.


“Mbak Nindy menulis: ‘Nggak tahu. Wulan yang isi. Tapi saya nggak batalin.’”

Aku menoleh.

“Saya perhatikan kalimat kedua,” kata Bu Ratih. “Orang yang benar-benar tidak mau, membatalkan. Butuh tiga puluh detik untuk membatalkan.”

Nindy tidak mengangkat wajah.

“Dan Mas Panji.” Bu Ratih mengangkat lembar terakhir. “Formulir Mas Panji diisi orang lain seluruhnya, jadi jawabannya bukan miliknya.”

“Iya, Bu.”

“Kecuali satu.”

Aku mengangkat wajah.

“Kolom terakhir,” katanya. “Tanda tangan dan tanggal. Ada tulisan tangan yang berbeda dari sisanya.”

Gilang berhenti bergerak.

“Ditulis dengan pulpen lain, di bagian bawah, di luar kotak.” Bu Ratih membaca. “‘Ini bukan tulisan dia, ini tulisan saya. Tolong tetap terima. Dia orang paling baik yang saya kenal dan dia nggak punya siapa-siapa.’”

Ruangan diam total.

Aku menoleh ke Gilang.

Gilang sedang menatap meja dengan rahang yang mengeras.

“Lang.”

“Jangan.”

“Lang—“

“Panji, jangan sekarang.” Suaranya serak. “Aku serius. Jangan sekarang.”


Bu Ratih menutup mapnya.

“Saya akan pergi sekarang,” katanya. “Sebelum itu, tiga kalimat.”

Semua orang menoleh.

“Satu. Program ini selesai malam ini. Saya tidak akan menghubungi kalian, dan saya tidak akan menjawab kalau kalian menghubungi saya.”

“Bu—“

“Dua.” Dia mengangkat tangan. “Sebagian dari kalian akan pulang malam ini dan merasa ada yang belum selesai. Itu wajar. Empat minggu memang tidak cukup untuk apa pun.”

Dia mengambil tasnya.

“Tiga,” katanya. “Dan ini yang penting.”

Dia berdiri di ujung meja dengan blazer merah bata yang sama seperti malam pertama.

“Saya sudah menjalankan program ini empat belas kali. Lima puluh enam pasangan. Delapan yang bertahan lebih dari setahun.”

“Delapan dari lima puluh enam?” kata Talita. “Bu, itu jelek banget.”

“Itu sangat bagus, Mbak Talita.” Bu Ratih menyampirkan tasnya. “Tapi bukan itu yang mau saya sampaikan.”

Dia menoleh ke seluruh meja.

“Dari delapan itu,” katanya, “tidak ada satu pun yang mengaku pada malam penutupan.”

Aku duduk tegak.

“Semuanya bicara sesudahnya. Beberapa hari. Beberapa minggu. Satu pasangan, empat bulan.” Dia berjalan ke pintu. “Karena malam penutupan itu palsu. Semua orang sedih malam ini. Semua orang berpelukan malam ini. Semua orang berjanji malam ini.”

Dia membuka pintu.

“Yang benar,” katanya, “adalah orang yang masih repot hari Rabu depan, jam delapan malam, waktu tidak ada acara apa-apa dan tidak ada alasan sama sekali.”

Dan dia keluar.

Dan pintu tertutup.

Dan Talita berkata, ke arah pintu, dengan suara yang pecah:

“Bu, itu paling bagus.”


Yang terjadi setelah itu adalah persis yang Talita peringatkan di teras berkabut.

Semua orang jadi sedih.

Talita menangis dalam sembilan menit dan menyalahkan makanannya. Gilang memeluk Bram, yang jelas tidak siap dipeluk, dan berkata “kamu orang paling ngeselin yang aku hormati” dan Bram bilang “makasih, saya rasa”.

Ada foto. Banyak sekali foto. Talita mengatur posisi kami tiga kali.

Ada janji. “Kita bikin grup baru.” “Kita ketemu bulan depan.” “Kita ke pantai lagi tapi yang bagus.”

Dan aku berdiri di ruangan itu dan aku mendengar semuanya dan aku tahu Bu Ratih benar dan Talita benar, dan bahwa tidak ada satu pun dari kalimat itu yang akan bertahan sampai Rabu.

Vira memelukku sebentar.

“Panji.”

“Ya?”

“Makasih ya.”

“Buat apa?”

Dan dia berkata, dengan senyum yang lengkap sampai ke mata:

“Buat nggak nanya waktu di lorong.”

Dan dia mundur sebelum aku bisa menjawab, dan dia pergi ke Talita, dan Talita memeluknya dengan cara yang jauh lebih lama dari yang dia lakukan ke orang lain.


Nindy berdiri di dekat jendela sepanjang malam.

Aku menghampirinya jam sembilan lewat.

“Nin.”

“Hm.”

“Aku mau ngomong.”

“Aku tahu.”

“Sekarang.”

Dia menoleh.

“Panji, Talita lagi nangis.”

“Aku tahu.”

“Bram lagi bagi-bagi kartu nama.”

“Aku tahu.”

“Kamu mau ngomong di sini? Sekarang? Di ruangan ini?”

Dan aku melihat sekeliling.

Enam orang. Piring kotor. Talita dengan tisu. Gilang yang tertawa terlalu keras. Foto-foto. Janji-janji.

Bu Ratih benar.

“Enggak,” kataku.

“Ya udah.”

“Di luar.”

Nindy berhenti.

“Apa?”

“Di luar,” kataku. “Sekarang. Sebelum kita pulang.”

Dan dia menatapku selama tiga detik penuh dan aku tidak bisa membaca apa pun di wajahnya.

“Panji.”

“Ya?”

“Kamu nggak pernah minta apa-apa.”

“Aku tahu.”

“Empat minggu.”

“Aku tahu.”

Dan dia mengambil tasnya dari kursi, dan berkata:

“Ya udah. Ayo.”


Kami turun lewat tangga, bukan lift.

Dia jalan di depan. Aku di belakang.

Dan di antara lantai dua dan lantai satu dia berhenti mendadak, dan aku hampir menabraknya.

“Nin—“

“Bentar.”

Dia berdiri di anak tangga membelakangi aku.

“Kamu tahu nggak,” katanya, “yang paling nggak adil dari semua ini?”

“Enggak.”

“Aku pengen banget kamu ngomong sekarang.” Suaranya rata. “Aku pengen banget. Aku nunggu ini dari hari Kamis.”

“Terus?”

Dan Nindy berbalik.

Dan wajahnya sudah bukan wajah yang dipasang.

“Terus Bu Ratih ngomong barusan,” katanya, “dan aku denger, dan aku nggak bisa nggak denger.”

“Nindy—“

“Malem penutupan itu palsu, Panji.”

Dan dia menuruni anak tangga terakhir dan mendorong pintu keluar, dan udara malam masuk, dan aku berdiri di tangga selama satu detik penuh sebelum mengikutinya.