Chapter Thirty Seven
Tangan Kosong
POV: Nindy
Sebelas hari.
Aku menghitungnya, tentu saja. Aku menghitung semuanya. Itu penyakit yang aku dan dia sama-sama punya dan tidak ada satu pun dari kami yang menyadarinya sampai terlalu lambat.
Sebelas hari, dan aku tidak mengirim satu pun pesan.
Aku ingin dicatat bahwa itu bukan hal yang mudah. Itu hal paling sulit yang pernah aku lakukan, dan aku sudah pernah menutup mata Ibu waktu Bapak meninggal, dan aku sudah pernah mengurus jenazah sendirian di umur sembilan belas.
Sebelas hari lebih sulit.
Karena setiap hari, kira-kira empat sampai enam kali, aku membuka percakapan kami dan mengetik sesuatu dan menghapusnya.
Aku menyimpan semuanya di kepala. Aku hafal semua yang aku tulis dan hapus.
Mas.
Kamu udah makan?
Wafer merahnya masih ada?
Panji aku nggak sengaja mikirin kamu waktu ada pasien nanya soal antasida dan itu nggak masuk akal sama sekali.
Aku salah.
Aku nggak salah tapi aku kangen.
Rolling doornya masih enteng.
Yang terakhir itu aku ketik hari Minggu dan aku menatapnya selama tiga menit dan aku menghapusnya huruf per huruf, dari belakang, karena aku tidak sanggup menekan tombol hapus lama-lama.
Wulan tahu di hari ketiga.
“Nin.”
“Hm.”
“Kamu berantem sama yang bawa wafer?”
“Enggak.”
“Nin.”
“Wulan, aku lagi ngitung stok.”
“Kamu ngitung stok yang sama tiga kali.”
Aku menaruh papan jalanku.
“Wulan.”
“Iya?”
“Kamu yang isi formulir aku, ya.”
Dia berhenti bergerak.
“…Kamu tahu dari mana?”
“Bu Ratih baca di depan enam orang.”
“ASTAGA.” Dia menutup mulutnya. “Nin, aku cuma bercanda. Aku isi jam dua siang pas sepi. Aku pikir kamu bakal ketawa terus batalin.”
“Aku nggak batalin.”
“Iya. Kenapa?”
Dan aku berdiri di depan rak sirup batuk dan berkata:
“Aku nggak tahu.”
Dan Wulan tidak bertanya lagi, karena Wulan orang baik, dan karena dia bisa melihat wajahku.
Yang paling sulit bukan kangennya.
Yang paling sulit adalah aku tidak tahu apakah aku sedang melakukan hal yang benar atau apakah aku sedang menghancurkan sesuatu dengan sangat rapi.
Karena ada dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama: dia tidak datang. Dan itu berarti aku benar. Dan aku akan sangat, sangat sedih, dan aku akan pulih dalam enam bulan seperti aku selalu pulih, dan aku akan menjadi perempuan dua puluh delapan tahun yang pernah punya empat minggu yang bagus.
Kemungkinan kedua: dia datang. Dan aku akan tahu.
Tapi ada kemungkinan ketiga yang tidak pernah aku hitung sampai malam Selasa.
Kemungkinan ketiga: dia mau datang, dan dia tidak tahu dia boleh.
Aku terbangun jam tiga pagi hari Selasa dengan pikiran itu dan aku duduk di kasur dan aku hampir mengetik.
Aku hampir mengetik: Panji, kamu boleh.
Dan aku tidak, karena kalau aku mengetik itu, aku memberi instruksi lagi, dan seluruh sebelas hari itu jadi sia-sia.
Aku duduk di kasur sampai jam empat.
Hari Rabu aku shift sampai jam delapan.
Aku tidak berdandan. Aku ingin sangat jelas soal itu — aku tidak berdandan, aku tidak memakai parfum, aku memakai seragam yang sama seperti hari-hari lain dan rambut yang diikat dengan jepit hitam yang sama.
Kalau aku bersiap, berarti aku berharap.
Kalau aku berharap, berarti aku menunggu.
Kalau aku menunggu, itu bentuk lain dari meminta.
Jadi aku bekerja seperti biasa. Aku melayani empat puluh tiga orang. Aku menolak menjual antibiotik ke seorang bapak tanpa resep dan dia marah dan aku tetap menolak.
Jam tujuh lewat lima puluh aku mulai membereskan.
Jam tujuh lewat lima puluh lima aku mematikan komputer.
Jam delapan kurang dua aku mematikan lampu papan nama.
Dan selama seluruh sepuluh menit itu aku tidak melihat ke arah pintu kaca sekali pun, dan aku sangat bangga pada diriku sendiri, dan aku membencinya.
Aku keluar jam delapan lewat empat.
Aku mengunci pintu geser dengan dua putaran.
Aku memegang besi rolling door — yang sekarang turun dalam satu gerakan, yang sudah sebelas hari turun dalam satu gerakan, yang setiap malam mengingatkan aku pada seseorang yang memfoto besi —
dan aku menariknya.
Dan waktu aku berbalik, dia ada di trotoar.
Aku tidak bisa bergerak.
Aku berdiri di depan rolling door yang sudah tertutup dengan kunci gembok di tangan, dan Panji berdiri di trotoar sekitar dua meter dari aku, dan aku tidak bisa bergerak sama sekali.
Dia memakai kemeja. Yang disetrika dua kali; aku bisa melihat dari lipatannya yang hilang total.
Rambutnya basah di ujung. Dia mandi sebelum datang.
Dan tangannya kosong.
Aku perlu menjelaskan kenapa itu yang membuat aku hampir jatuh.
Dalam empat minggu, Panji tidak pernah sekali pun datang dengan tangan kosong.
Wafer. Roti. Pelumas, sikat, lap. Kotak obat lansia dengan sekat tujuh. Jaket kedua. Payung untuk orang lain.
Dan waktu aku tanya kenapa, dia bilang:
“Aku nggak pinter ngomong. Jadi aku bawa barang.”
Dia berdiri di trotoar dengan dua tangan kosong di samping badan.
Tidak ada kantong plastik. Tidak ada apa-apa.
Dan aku tahu — sebelum dia membuka mulut, sebelum satu kata pun keluar — aku tahu apa artinya.
Dia tidak datang untuk memberi sesuatu.
Dia tidak datang untuk memperbaiki sesuatu.
Dia tidak menjawab apa-apa.
“Panji.”
“Hai.”
Suaraku tidak keluar dengan benar.
“Kamu ngapain di sini?”
Dan dia berkata:
“Nggak ngapa-ngapain.”
“…Apa?”
“Aku nggak ngapa-ngapain,” katanya. “Aku cuma dateng.”
“Kamu—“ Aku menelan. “Kamu bawa apa?”
“Nggak bawa apa-apa.”
“Kamu selalu bawa.”
“Iya,” katanya. “Hari ini enggak.”
Dan dia berdiri di situ dengan tangan di samping badan dan tidak melakukan satu pun gerakan untuk mendekat.
“Aku nggak minta kamu dateng,” kataku.
“Aku tahu.”
“Aku nggak bilang apa-apa selama sebelas hari.”
“Aku tahu. Aku ngitung.”
“Kamu ngitung?”
“Sebelas,” katanya. “Hari ini yang kedua belas.”
Aku menjatuhkan kunci gemboknya.
Bunyinya keras di trotoar. Aku tidak mengambilnya.
“Kenapa hari ini?” kataku.
Dan aku mendengar suaraku sendiri dan suaraku pecah di kata terakhir dan aku benci itu.
“Karena Rabu,” katanya.
“Panji, aku bilang Rabu itu bukan tanggal—“
“Aku tahu.”
“Aku bilang itu contoh—“
“Aku tahu, Nindy.”
Dan dia mengambil satu langkah. Satu. Dan berhenti.
“Aku nggak dateng karena Rabu,” katanya. “Aku dateng karena aku mau, dan hari ini kebetulan Rabu, dan aku sempet mikir buat nunggu sampai Kamis biar nggak keliatan kayak nurut.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Terus aku sadar itu bodoh,” katanya. “Kalau aku nunggu sampai Kamis biar nggak keliatan nurut, itu tetep aja aku ngatur diri aku berdasarkan omongan kamu.”
“Terus?”
“Terus aku dateng hari ini.”
Dia berdiri di trotoar dan berkata:
“Nindy, aku nggak punya bukti.”
Aku menoleh.
“Aku nggak punya cara buat ngebuktiin ini bukan nurut,” katanya. “Aku udah nyari. Aku ke Bu Ratih hari Sabtu—“
“Kamu ke Bu Ratih?”
“Iya. Dia nggak mau diangkat telponnya, jadi aku dateng ke kantornya.”
“Kamu tahu kantornya di mana?”
“Ada stiker di mapnya. Malam pertama.”
Dan aku tertawa.
Aku tertawa di trotoar dengan air mata jatuh dan kunci gembok di aspal, karena tentu saja, karena tentu saja dia ingat stiker di map dari malam pertama, karena laki-laki ini mengingat semua yang tidak diingat siapa pun dan tidak mengingat satu pun wajah.
“Terus dia bilang apa?”
“Dia bilang aku udah mulai duluan,” kata Panji. “Cuma ke orang yang salah.”
Dia mengambil satu langkah lagi.
“Aku nggak bisa ngebuktiin apa-apa sama kamu,” katanya. “Aku cuma bisa dateng.”
“Panji—“
“Dan besok aku dateng lagi kalau kamu mau.”
“Aku nggak minta—“
“Aku tahu kamu nggak minta.” Dan suaranya, untuk pertama kalinya dalam lima minggu, naik sedikit. Sedikit sekali. Setengah nada. “Nindy, aku dua puluh delapan tahun. Kamu tahu ada berapa orang di dunia ini yang bakal sedih kalau aku nggak pulang?”
Aku tidak bisa menjawab.
“Dua,” katanya. “Gilang sama Bapak. Dan Bapak butuh tiga hari buat nyadar.”
“Panji—“
“Sekarang tiga.”
Dan dia berhenti di depanku, satu langkah, dan tidak menyentuh apa pun.
“Aku nggak tahu apa itu cukup,” katanya. “Aku nggak tahu apa aku bakal jadi orang yang bisa mulai duluan tiap kali. Aku nggak tahu apa aku bakal ngerti kode kamu, karena aku nggak ngerti kode.”
“Iya.”
“Tapi aku bisa dateng,” katanya. “Itu aja yang aku punya. Aku bisa dateng terus.”
Dan aku berkata:
“Kata siapa aku nggak bisa sendiri.”
Dan itu keluar salah.
Itu keluar sepenuhnya salah — bukan galak, bukan menantang, bukan seperti dua kali sebelumnya. Itu keluar seperti orang yang menyebutkan kalimat yang dulu dia percaya dan sekarang tidak lagi.
Panji berhenti.
“Nggak ada yang bilang,” katanya, otomatis, seperti selalu.
Dan aku menangis.
“Aku bisa sendiri,” kataku. “Aku bisa sendiri, Panji. Aku bisa sendiri dua puluh tujuh tahun. Aku bisa banget.”
“Iya.”
“Aku benci bisa.”
Dan Panji Ardiansyah berdiri di trotoar depan apotek dengan tangan kosong dan berkata:
“Aku tahu.”
Aku yang bergerak.
Aku ingin jujur soal itu, karena selama sebelas hari aku memikirkan siapa yang akan bergerak, dan pada akhirnya tetap aku, dan aku tidak peduli sama sekali.
Karena dia sudah datang.
Datangnya duluan.
Sisanya cuma dua meter trotoar.
Aku menabraknya lebih dari memeluknya, dan wajahku di lehernya, dan aku menangis di kemeja yang disetrika dua kali, dan tangannya naik ke tengkukku dan menetap di situ dan tidak bergerak.
“Sebelas hari,” kataku ke lehernya.
“Aku tahu.”
“Kamu tahu berapa kali aku hampir chat?”
“Enggak.”
“Enam puluh empat.”
Dan aku merasakan dia berhenti bernapas.
“Kamu ngitung?” katanya.
“Aku ngitung, Panji.”
Dan dia menunduk dan menempelkan wajahnya di rambutku dan berkata, dengan suara yang teredam:
“Kita berdua rusak, ya.”
Dan aku tertawa ke lehernya sampai aku sesenggukan.
Aku mengambil kunci gembok dari aspal.
Tanganku gemetar sehingga aku menjatuhkannya lagi, dan dia yang mengambilnya, dan dia memasukkannya ke tanganku dan menutup jariku dengan jarinya.
“Mas.”
“Ya.”
“Ini jam delapan lewat.”
“Iya.”
“Ojek ke Bekasi empat puluh menit.”
“Iya.”
Aku mengangkat wajah.
Dan aku menatapnya di bawah lampu jalan yang kedip, laki-laki yang tidak ingat wajah siapa pun dan ingat semua suara, yang datang hari Rabu jam delapan malam tanpa membawa apa-apa.
“Jangan pulang,” kataku.
Dan Panji tidak bertanya kenapa.
Untuk pertama kalinya dalam lima minggu, dia tidak bertanya kenapa.
Dia cuma bilang:
“Oke.”
Kontrakanku di gang ketiga, lantai dua, pintu hijau yang catnya mengelupas di sudut bawah.
Aku membuka kuncinya dengan tangan yang tidak berfungsi dan aku menjatuhkan kuncinya untuk ketiga kalinya malam itu dan kami berdua tertawa dan aku menyuruhnya diam dan dia bilang dia tidak bersuara.
Aku menyalakan lampu.
Lalu aku mematikannya lagi.
“Nindy?”
“Bentar,” kataku.
Dan aku berdiri di gelap di kontrakan sendiri dengan punggung di pintu yang baru saja aku tutup, dan aku mendengar napasnya dua langkah dari aku, dan aku tahu persis apa yang akan terjadi dan aku sudah tahu sejak trotoar.
“Panji.”
“Ya.”
“Aku nggak lagi minta apa-apa.”
Hening.
“Aku tahu,” katanya.
Dan aku mengulurkan tangan di kegelapan dan menemukan kemejanya.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong reading
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15