Chapter Fifteen
Tutup Botol
POV: Nindy
Aku ingin bilang dari awal bahwa aku tahu.
Aku tahu persis apa yang aku lakukan. Aku bukan orang yang tidak sadar. Aku dua puluh tujuh tahun, aku sarjana farmasi, aku punya kartu izin praktik dengan nomor yang aku hafal, dan aku sepenuhnya sadar bahwa selama sepuluh hari terakhir aku telah berubah menjadi orang yang tidak bisa membuka tutup botol.
Botolnya longgar.
Semua botolnya longgar.
Aku yang melonggarkannya duluan di dapur, sebelum aku bawa keluar, supaya kalau dia gagal aku tidak perlu menjelaskan apa-apa.
Aku tidak akan membela diri. Aku cuma akan menjelaskan bagaimana ini dimulai.
Ini dimulai hari Senin.
Kami di warung mi, dan aku memesan es teh, dan tutupnya susah, dan aku betul-betul tidak bisa membukanya — yang itu asli, sungguh, botolnya memang keras.
Aku sudah mau menggigitnya.
Lalu tangannya datang dan mengambil botol itu dari tanganku tanpa berkata apa-apa, membukanya, dan mengembalikannya, dan langsung melanjutkan kalimatnya yang tadi terpotong soal suhu ruangan gudang.
Dia tidak berhenti bicara.
Dia tidak melihat ke arahku.
Dia tidak mengatakan “sini” atau “biar aku” atau apa pun yang menandakan bahwa dia sedang melakukan sesuatu untuk seseorang.
Dia cuma mengambil, membuka, mengembalikan, dan meneruskan kalimatnya.
Dan aku duduk di situ memegang botol yang sudah terbuka dan merasakan sesuatu di dada yang begitu tidak sebanding dengan peristiwanya sehingga aku hampir malu.
Yang perlu kalian tahu adalah aku ini orang yang membuka tutup botol untuk orang lain.
Aku yang mengangkat galon di apotek karena Wulan sakit punggung. Aku yang mengganti lampu di kontrakan sendiri dengan berdiri di kursi plastik. Aku yang, waktu ban motor Ibu bocor jam sembilan malam di kampung, naik travel empat jam untuk mengurusnya.
Aku bisa. Aku selalu bisa. Aku bangga bisa.
Dan yang tidak pernah aku bilang ke siapa pun — yang bahkan tidak pernah aku bilang ke diriku sendiri sampai hari Senin itu — adalah bahwa aku capek.
Bukan capek badan.
Capek yang lain. Capek karena setiap hari, dari bangun sampai tidur, tidak ada satu pun momen di mana aku boleh jadi orang yang tidak bisa.
Dan hari Senin itu aku diberi satu momen. Empat detik. Sebuah botol.
Dan aku langsung tahu, dengan kejelasan yang mengerikan, bahwa aku menginginkan lebih.
Jadi hari Selasa aku melonggarkan tutup botolnya di dapur dan membawanya keluar dan berkata, “Mas, ini keras.”
Dan dia membukanya.
Dan hari Rabu aku bilang, “Aku bingung mau makan apa, kamu aja yang pilihin.”
Dan dia bilang, “Kamu nggak suka pedes?” — dia ingat aku tidak suka pedas, aku menyebutnya sekali, sekali, tiga minggu lalu — dan memesankan.
Dan hari Kamis aku bilang, “Mas, bawain ini,” untuk tas yang beratnya tidak ada satu kilo.
Dan dia bawa.
Tanpa bertanya. Tanpa menggoda. Tanpa satu pun ekspresi yang menandakan bahwa dia sadar aku sedang jadi orang lain.
Itu yang membuat semuanya makin parah.
Kalau dia menyadari, aku akan malu, dan malu akan menghentikan aku. Kalau dia menggoda — “tumben manja” — aku akan langsung berhenti, aku tahu diriku, aku akan langsung kembali jadi galak selama dua minggu.
Tapi dia tidak menyadari apa pun.
Buat Panji, aku minta, dan dia kasih, dan tidak ada lapisan apa-apa di antaranya. Tidak ada tabungan. Tidak ada catatan. Tidak ada “aku udah bantuin kamu, jadi nanti kamu—“
Kosong.
Bersih.
Dan aku, yang seumur hidup mengangkut barang keluar dari ruangan, tiba-tiba berdiri di depan pintu yang terbuka dan tidak ada yang menjaganya.
Aku jadi rakus.
Aku benci diriku sendiri karena itu, dan aku tetap rakus.
Hari Jumat aku melewati batas.
Kami di minimarket, jam sembilan malam, dan aku memegang dua botol air dan sebuah keripik dan ponselku, dan aku berdiri di depan kasir dan tanganku penuh.
Dan aku bisa menaruh semuanya di konter.
Itu yang dilakukan manusia normal. Kamu taruh barangnya di konter.
Aku menoleh ke Panji dan bilang, “Pegangin.”
Dan menyodorkan ponselku.
Dia mengambilnya.
Dan kemudian aku menaruh semua barang di konter dengan dua tangan yang sekarang kosong, dan membayar, dan mengambil kembali ponselku dari tangannya, dan dia berkata “kembaliannya” dan menyerahkan uangnya juga, dan kami keluar.
Dan aku berjalan di trotoar dan berpikir: Nindy, kamu barusan minta orang megangin HP kamu supaya kamu bisa naruh barang di konter yang jaraknya dua puluh senti.
Aku berhenti jalan.
“Kenapa?” katanya.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu berhenti.”
“Aku lagi mikir.”
“Mikir apa?”
Aku melihat wajahnya. Wajah orang yang betul-betul bertanya. Yang akan menerima jawaban apa pun yang aku berikan dan tidak akan menyimpannya untuk dipakai nanti.
“Mikir kenapa kamu nggak pernah nanya,” kataku.
“Nanya apa?”
“Kenapa aku jadi manja banget.”
Dan dia berkata — dan aku bersumpah dia mengatakannya dengan nada orang yang sedang menjelaskan cuaca —
“Emang kamu manja?”
Aku menatapnya.
“Mas.”
“Iya?”
“Aku minta kamu megangin HP aku.”
“Iya.”
“Buat naruh barang di konter.”
“Iya.”
“Itu manja.”
Panji memikirkannya. Dia betul-betul memikirkannya, aku bisa melihat dia memikirkannya, seperti orang yang diberi soal.
“Tangan kamu penuh,” katanya akhirnya.
“Ya bisa aku taruh dulu.”
“Bisa. Tapi kamu minta aku.”
“IYA. ITU MASALAHNYA.”
“Kenapa itu masalah?”
Dan di situ aku kehabisan kata.
Karena aku sadar bahwa aku sedang mencoba menjelaskan kepada seseorang bahwa perbuatan yang aku lakukan itu memalukan, dan bahwa satu-satunya orang di dunia yang bisa membuatku merasa malu tentang itu adalah dia, dan bahwa dia tidak akan pernah melakukannya, karena di kepalanya tidak ada kategori itu sama sekali.
Untuk Panji, ada tangan yang penuh dan ada tangan yang kosong.
Selesai.
“Nggak,” kataku. “Nggak masalah.”
“Oke.”
“Ayo jalan.”
Dan aku jalan tiga langkah di depan supaya dia tidak lihat wajahku.
Hari Sabtu kami di apotek sampai tutup, dan aku menarik rolling door sendiri karena aku selalu menarik rolling door sendiri.
Dan besinya keras minggu itu — asli, sungguhan, bukan karangan — karena hujan Rabu dan relnya berkarat.
Aku menariknya. Tidak turun.
Aku menariknya lagi. Turun sepuluh senti dan macet.
“Sini.”
“Nggak usah.”
“Nindy.”
“Aku bisa.”
Dan aku menariknya lagi, dan tanganku kepeleset dari besinya, dan buku jariku kena rel, dan aku mengeluarkan bunyi yang sangat tidak keren.
Dan lalu ada tangan yang menutupi tanganku di besi itu.
Bukan menggantikan.
Menutupi.
Telapaknya di atas punggung tanganku, jari-jarinya di sela-sela jariku di besi yang dingin, dan dia berdiri di belakangku dan menarik ke bawah, dan aku ikut tertarik, dan rolling door itu turun sampai bawah dalam satu gerakan.
Lalu dia melepas.
“Karatan,” katanya. “Besok aku bawa pelumas.”
Aku tidak menjawab.
Aku berdiri menghadap rolling door yang sudah tertutup, dengan punggung tangan yang masih hangat di satu sisi dan dingin di sisi lain, dan aku tidak bisa memutar badan selama mungkin lima detik penuh karena aku tahu wajahku sedang tidak bisa dipakai.
“Nindy?”
“Bentar.”
“Tangan kamu berdarah?”
“Nggak.”
“Sini aku liat.”
“Panji.”
“Iya?”
Aku memutar badan.
Dan dia berdiri di situ dengan wajah yang khawatir soal buku jari, cuma itu, betul-betul cuma itu, dan tidak ada satu pun bagian dari dirinya yang tahu bahwa dia baru saja melakukan hal paling brutal yang pernah dilakukan seseorang kepadaku.
“Nggak apa-apa,” kataku.
“Kamu meringis tadi.”
“Aku selalu meringis.”
“Enggak.”
“Mas.”
“Kamu meringis tadi,” katanya lagi, dan mengambil tanganku, dan membalikkannya, dan melihat buku jariku di bawah lampu jalan seperti orang memeriksa barang di ruang panel.
Merah. Tidak berdarah.
“Besok pelumas,” katanya, dan melepas tanganku.
Dan aku berkata, “Iya.”
Dan kami pulang.
Malamnya aku duduk di kasur dan aku melakukan sesuatu yang aku tidak pernah lakukan.
Aku mengambil semua botol di kontrakanku — botol air, botol saus, botol minyak — dan aku membuka tutupnya satu per satu.
Semuanya bisa.
Semuanya, tanpa kecuali, terbuka di percobaan pertama.
Aku duduk di lantai dapur dikelilingi botol-botol terbuka jam sebelas malam seperti orang gila, dan aku berkata keras-keras, ke kontrakan yang kosong:
“Kamu bisa, Nin.”
Dan aku menutup semuanya lagi.
Dan besoknya aku bawa satu botol ke luar dan melonggarkan tutupnya di dapur sebelum berangkat.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol reading
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15