Chapter Twenty Three
Tengkuk
POV: Panji
Aku sampai jam delapan kurang lima belas dan menunggu di trotoar.
Nindy keluar jam delapan lewat tujuh, dan aku tahu dari cara dia berjalan bahwa dia belum tidur.
“Berapa jam?”
“Empat.”
“Empat?”
“Tiga koma lima.”
Dia menarik rolling door yang sekarang turun dalam satu gerakan, dan menguncinya, dan berdiri menghadapku.
“Kamu bawa apa?”
“Hah?”
“Kamu selalu bawa sesuatu.”
Aku mengangkat kantong plastik.
“Roti?”
“Bukan.”
Dia mengambilnya dan membukanya dan berhenti.
“Ini apa?”
“Kotak obat.”
“Aku apoteker, Panji.”
“Iya.”
“Aku punya kotak obat.”
“Ini buat Ibu kamu.”
Nindy berdiri di trotoar memegang kotak plastik bersekat tujuh dengan huruf hari yang dicetak besar-besar.
“Yang buat lansia,” kataku. “Sekatnya tujuh, hurufnya gede, tutupnya nggak keras. Aku cek dulu di toko, yang lain tutupnya keras.”
Dia tidak bergerak.
“Kalau nggak cocok nggak apa-apa. Aku nggak tahu obatnya apa aja.”
“Panji.”
“Ya?”
“Kamu beli ini kapan?”
“Tadi pagi. Sebelum masuk.”
“Kamu masuk jam tujuh.”
“Iya.”
“Berarti kamu ke toko obat jam enam pagi.”
“Buka jam setengah tujuh.”
Nindy menutup kotaknya.
Dia memasukkannya ke dalam kantong plastik dengan sangat hati-hati, dan melipat kantongnya, dan memasukkannya ke tas.
“Ayo,” katanya.
“Ke mana?”
“Ke mana aja.”
Kami jalan ke taman kecil dua blok dari apotek, yang sama seperti malam wafer, dengan lampu yang masih kedip.
Dia bercerita selama empat puluh menit.
Semuanya. Rendi yang menunggu empat jam. Uang yang ke Ibu, bukan ke Rendi. Sakitnya, namanya, obatnya, jadwal kontrolnya. Mekanisme transfer yang sudah dia tetapkan. Anggaran yang sudah dia hitung ulang.
Dia bercerita seperti orang melapor.
Rapi. Berurutan. Dengan angka.
Dan aku mendengarkan sampai selesai, dan waktu dia selesai, dia menghela napas dan berkata:
“Ya udah. Gitu.”
“Oke.”
“Aku udah urus semuanya.”
“Iya. Kedengerannya.”
“Jadi nggak ada yang perlu dikhawatirin.”
“Oke.”
Dia mengangguk.
Dan duduk.
Dan tidak bicara lagi.
Aku menghitung satu menit.
Nindy duduk di bangku dengan tas di pangkuan dan memandang lurus ke depan, ke arah lampu yang kedip, dan tidak melakukan apa-apa.
Dia tidak menangis. Dia tidak menghela napas. Dia tidak menggerakkan tangan.
Dia cuma berhenti.
Dan aku menyadari sesuatu, duduk di bangku itu — aku menyadarinya dengan cara yang sama seperti aku menyadari batch tujuh, yaitu data yang sudah lengkap dan tinggal disebutkan:
Semua yang dia ceritakan selama empat puluh menit itu adalah pekerjaan.
Tidak ada satu kalimat pun tentang apa yang dia rasakan.
Bukan karena dia menyembunyikan. Karena dia betul-betul belum sempat, karena dari jam delapan malam kemarin sampai jam delapan malam ini dia mengurus, dan orang yang mengurus tidak punya ruang untuk yang lain.
“Nindy.”
“Hm.”
“Ibu kamu sakit.”
Dia menoleh.
“Iya. Aku baru cerita empat puluh menit.”
“Iya,” kataku. “Tapi kamu belum bilang itu.”
“Bilang apa?”
“‘Ibu aku sakit.’”
Dan Nindy membuka mulut untuk membantah.
Dan tidak ada yang keluar.
Aku tidak tahu kenapa aku melakukan yang berikutnya.
Aku sudah memikirkannya berhari-hari sesudahnya dan aku tetap tidak punya penjelasan yang memuaskan. Aku bukan orang yang menyentuh orang. Aku memegang siku kalau ada yang mau jatuh. Aku memegang tangan kalau ada yang mengambil tanganku.
Malam itu aku mengangkat tangan dan menaruhnya di tengkuknya.
Di belakang leher, di bawah ikatan rambutnya, telapak penuh.
Dan aku menahannya di situ.
Nindy berhenti bernapas.
“Panji—“
“Bilang.”
“Apa?”
“Bilang yang tadi.”
“Aku udah bilang semuanya—“
“Bukan yang itu.”
Tanganku tidak bergerak. Kulit di tengkuknya hangat, jauh lebih hangat dari tangannya yang selalu dingin, dan aku bisa merasakan denyutnya di ujung jariku dan denyutnya cepat sekali.
“Panji, aku—“
“Nindy.”
Dan dia menunduk.
Kepalanya turun sampai dagunya hampir kena dada, dan tanganku ikut turun karena tanganku ada di lehernya, dan dia berkata dengan suara yang hampir tidak keluar:
“Ibu aku sakit.”
“Iya.”
“Ibu aku sakit dan aku baru tahu setahun kemudian.”
“Iya.”
“Dan aku—“ Napasnya pendek. “Dan aku nggak boleh marah. Aku nggak boleh marah sama orang sakit, Panji. Aku nggak boleh.”
“Kamu boleh.”
“Enggak.”
“Kamu boleh marah sama orang sakit,” kataku. “Kamu cuma nggak boleh ninggalin mereka. Itu dua hal beda.”
Dan Nindy menangis di bangku taman dengan tanganku di tengkuknya, dan aku tidak memindahkannya, dan aku tidak menariknya ke bahuku, dan aku tidak mengucapkan apa pun selama mungkin dua menit.
Waktu dia selesai, dia mengangkat kepala.
Dan tanganku masih di situ.
“Mas.”
“Ya.”
“Tangan kamu.”
“Iya.”
“Kamu nggak lepas-lepas.”
Aku melihat tanganku sendiri seolah itu milik orang lain.
“Aku nggak tahu kenapa,” kataku.
“Kamu nggak tahu?”
“Enggak.”
“Kamu selalu tahu alasan semua yang kamu lakuin.”
“Iya.”
“Terus yang ini?”
Aku memikirkannya.
Aku memikirkannya sungguh-sungguh, dengan cara yang sama seperti aku memikirkan kenapa lapisan cokelat pecah di suhu tertentu, dan aku tidak menemukan apa pun.
“Aku nggak punya alasannya,” kataku. “Aku cuma pengen.”
Nindy menatapku.
Dan dia mengangkat tangannya sendiri dan menaruhnya di atas tanganku yang di tengkuknya — menutupi, seperti yang aku lakukan di rolling door — dan menekannya sedikit.
“Ini pertama kali kamu ngelakuin sesuatu tanpa alasan,” katanya.
“Iya.”
“Kamu sadar nggak?”
“Sekarang sadar.”
Dan dia tertawa.
Basah, pendek, dari dalam.
“Panji.”
“Ya.”
“Empat hari lagi.”
“Tiga.”
Dia mengangkat wajah cepat. “Tiga?”
“Kamis kita berangkat. Jumat pulang. Sabtu penutupan.” Aku menurunkan tanganku, akhirnya, dan meletakkannya di lutut. “Yang kita punya sekarang tinggal tiga.”
“Kamu ngitung sampai segitu detail?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan aku tidak menjawab.
Bukan karena aku tidak mau. Karena aku sedang mencoba, di bangku taman itu, dengan sungguh-sungguh, untuk pertama kalinya, mencari kata untuk hal yang aku rasakan.
Dan aku berdiri di depan pintu ruangan yang isinya kosong.
Aku punya sembilan tahun kosakata untuk pahit.
Aku bisa menyebut pahit logam, pahit gosong, pahit kulit jeruk, pahit tanin, pahit obat, pahit yang datang di depan dan pahit yang datang di detik ketiga.
Aku tidak punya satu pun untuk ini.
“Nindy.”
“Iya?”
“Sabtu malem,” kataku, “abis penutupan. Kamu ada waktu?”
Dia menoleh sangat cepat.
“…Ada.”
“Aku mau ngomong.”
“Ngomong apa?”
“Aku belum tahu.”
“Kamu belum tahu tapi kamu mau ngomong?”
“Iya.”
“Panji—“
“Aku butuh tiga hari,” kataku. “Aku lagi nyari.”
“Nyari apa?”
Dan aku menjawab dengan sangat jujur, karena aku selalu menjawab dengan jujur, dan karena aku tidak punya kemampuan untuk melakukan hal lain:
“Katanya.”
Nindy Pramesthi duduk di bangku taman di bawah lampu yang kedip dengan mata merah dan kotak obat lansia di dalam tasnya.
Dan dia berkata, sangat pelan:
“Ya udah. Sabtu.”
“Sabtu.”
“Aku juga mau ngomong.”
“Oke.”
“Kamu nggak nanya mau ngomong apa?”
“Enggak,” kataku. “Kamu juga lagi nyari.”
Dan dia menutup mata dan menyandarkan kepala ke bahuku, dan kali ini tidak pura-pura tidur, dan kami duduk di situ sampai lampu tamannya mati sendiri jam sepuluh.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk reading
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15