Chapter Thirty Nine
Nangka
POV: Panji
Kami naik kereta jam delapan pagi hari Minggu.
Nindy tidak bicara selama dua puluh menit pertama, yang tidak biasa, dan waktu aku menoleh dia sedang memegang tasnya dengan dua tangan seperti orang menunggu wawancara.
“Nin.”
“Hm.”
“Kamu gugup.”
“Enggak.”
“Kamu megang tas pakai dua tangan.”
“Itu karena keretanya goyang.”
“Keretanya lurus.”
“PANJI.”
Dan dia menoleh, dan wajahnya benar-benar pucat, dan aku baru sadar bahwa aku tidak pernah memikirkan bahwa ini hal besar untuk dia.
“Kamu takut?”
“Aku bukan takut.”
“Terus?”
Dia menghela napas.
“Aku nggak pernah dikenalin ke bapaknya siapa pun,” katanya.
“Kamu empat tahun sama Bagas.”
“Empat tahun.” Dia mengangguk ke arah jendela. “Dan nggak pernah sekali pun.”
Aku duduk di kursi kereta dan aku tidak tahu harus bilang apa.
“Nindy.”
“Apa.”
“Bapak aku nggak bakal ngomong banyak.”
“Iya.”
“Dia bakal nanya kamu kerja di mana, terus dia bakal diem.”
“Iya.”
“Itu bukan karena dia nggak suka.”
“Aku tahu.”
“Dia gitu ke aku juga.”
Dan Nindy menoleh, dan mengambil tanganku, dan berkata:
“Iya, Mas. Aku tahu.”
Bapak membuka pintu dengan kemeja.
Kemeja.
Dia tidak memakai kemeja waktu aku datang hari Sabtu delapan hari lalu, dan dia tidak memakai kemeja waktu aku datang Lebaran tahun lalu, dan aku berdiri di gang itu selama satu detik penuh sebelum bisa bicara.
“Pak.”
“Panji.” Dia melihat ke sebelahku. “Ini Nindy?”
“Iya, Pak.”
Dan Nindy — yang di kereta pucat, yang memegang tas dengan dua tangan — langsung berubah.
Aku melihatnya berubah. Punggungnya lurus. Wajahnya terbuka. Dia menyalami Bapak dengan dua tangan dan menunduk sedikit dan berkata “Nindy, Pak. Maaf ngerepotin.”
Wajah kerja.
Dan Bapak, yang tidak tahu apa-apa, berkata:
“Masuk. Panas di luar.”
Rumahnya sudah disapu.
Aku melihatnya begitu masuk dan aku tidak berkomentar. Lantainya bersih, kursinya diluruskan, dan taplak meja yang biasanya tidak ada sekarang ada.
Ada tiga gelas di meja. Sudah disiapkan.
Bapak membuat teh.
“Bapak duduk aja,” kata Nindy, berdiri.
“Nggak apa-apa.”
“Saya bantu, Pak.”
“Duduk,” kata Bapak.
Dan Nindy duduk.
Aku memperhatikan itu karena dalam lima minggu terakhir aku belum pernah melihat Nindy duduk waktu disuruh duduk.
Sepuluh menit pertama persis seperti yang aku bilang di kereta.
Bapak bertanya dia kerja di mana. Nindy menjawab. Bapak bertanya apoteknya di daerah mana. Nindy menjawab. Bapak bertanya berapa jam sehari.
“Sepuluh, Pak. Kadang empat belas.”
Bapak mengangguk.
Dan diam.
Dan aku duduk di kursi itu dan menghitung detiknya dan memikirkan bagaimana caranya mengisi, dan aku tidak menemukan cara mengisi, karena aku tidak pernah bisa mengisi.
Lalu Bapak berkata:
“Panji bilang ibu kamu sakit.”
Aku menoleh cepat.
Nindy menaruh gelasnya.
“Iya, Pak.”
“Sakit apa?”
Dan dia menyebutkannya.
Bapak mendengarkan sampai selesai.
Lalu dia bertanya:
“Kontrolnya berapa bulan sekali?”
“Sebulan.”
“Yang nganter siapa?”
“Adik saya.”
“Adik kamu bisa nyetir?”
“Naik motor, Pak.”
Bapak mengangguk pelan.
“Kalau habis kontrol, biasanya capek,” katanya. “Duduk dulu di parkiran lima belas menit sebelum jalan. Jangan langsung pulang.”
Nindy berhenti bergerak.
“…Iya, Pak.”
“Dan kalau dia bilang nggak capek,” kata Bapak, “itu bukan berarti nggak capek.”
Aku duduk di kursi itu dan aku menonton sesuatu terjadi yang tidak aku rencanakan sama sekali.
Bapak bicara.
Dia bicara selama mungkin dua puluh menit — tentang obat yang harus diminum sebelum makan dan yang sesudah, tentang cara menyusun jadwal supaya orangnya tidak perlu mengingat sendiri, tentang bahwa yang paling melelahkan bukan hari sakitnya tapi hari-hari di antaranya.
Dan Nindy mendengarkan.
Bukan wajah kerja. Aku bisa membedakannya sekarang.
Dia mendengarkan dengan tangan di lutut dan sekali dia bertanya sesuatu dan Bapak menjawab, dan mereka berdua berbicara tentang cara mengurus orang sakit seperti dua orang yang bertemu di negara asing dan menemukan bahwa mereka bicara bahasa yang sama.
“Bapak dulu berapa lama?” tanya Nindy.
“Sembilan bulan.”
“Sendirian?”
“Ada Panji.” Bapak menoleh ke aku. “Tapi dia sembilan tahun.”
Hening.
“Pak,” kata Nindy.
“Hm.”
“Yang paling susah apa?”
Dan Bapak berkata:
“Waktu dia minta maaf.”
Nindy menutup mulutnya.
“Dia minta maaf karena ngerepotin,” kata Bapak. “Itu yang paling susah. Bukan yang lain.”
Dan Nindy Pramesthi menangis di ruang tamu bapakku pada hari Minggu pagi jam sepuluh, dan Bapak berdiri dan pergi ke belakang dan kembali dengan tisu dan menaruhnya di meja dan duduk lagi tanpa berkata apa-apa.
Persis seperti yang aku lakukan di warung tenda.
Aku tidak pernah diajari itu.
Jam sebelas Bapak berdiri.
“Bapak ke pasar.”
“Pak, nggak usah—“
“Bentar aja.”
Dan dia keluar sebelum aku bisa menahannya.
Aku dan Nindy duduk di ruang tamu itu berdua.
Dia menghapus wajahnya dan menghela napas dan bersandar ke kursi.
“Mas.”
“Hm.”
“Bapak kamu—“ Dia berhenti. “Bapak kamu itu kamu, ya.”
“Apa?”
“Kamu tuh Bapak kamu, Panji.” Dia menoleh. “Persis. Cara ngomongnya. Cara diemnya. Cara naruh tisu.”
Aku tidak menjawab.
“Kamu bilang kalian nggak pernah ngomong.”
“Kami emang nggak pernah ngomong.”
“Terus kenapa kamu persis dia?”
Dan aku duduk di kursi itu dan aku tidak punya jawaban, karena aku memang tidak pernah memikirkannya, karena aku sudah dua puluh delapan tahun mengira aku ini orang yang tidak diajari apa-apa oleh siapa pun.
Bapak pulang empat puluh menit kemudian dengan dua kantong.
Yang satu isinya nasi bungkus.
Yang satu isinya nangka.
Aku melihat kantong kedua dan aku harus berdiri dan pergi ke belakang selama mungkin satu menit.
Waktu aku kembali, Bapak sudah menaruh nangkanya di piring dan Nindy sudah mengambil satu.
“Enak, Pak.”
“Iya.”
“Bapak sering beli?”
Dan Bapak berkata:
“Enggak. Udah lama enggak.”
Dan dia tidak menjelaskan.
Dan Nindy tidak bertanya.
Dan aku duduk di kursi di ruang tamu rumah yang aku tinggalkan dua puluh tahun lalu dan aku makan nangka dari pasar dan aku tidak bisa berkata apa-apa selama sepuluh menit.
Kami pulang jam dua.
Di pintu, Bapak menyalami Nindy dengan dua tangan.
“Nindy.”
“Iya, Pak?”
“Kalau ibu kamu kontrol dan kamu nggak bisa nganter, telepon Bapak.”
Nindy berhenti.
“Pak—“
“Bapak nggak ada kerjaan,” katanya. “Bapak bisa naik kereta.”
“Pak, itu jauh banget.”
“Bapak nggak ada kerjaan,” ulangnya.
Dan dia masuk ke dalam sebelum ada yang bisa menjawab.
Kami jalan ke stasiun dan tidak bicara sampai peron.
Nindy duduk di kursi besi dan memandangi rel dan tidak mengeluarkan satu kata pun, dan aku duduk di sebelahnya dan membiarkannya.
Keretanya masih dua puluh menit lagi.
Dan aku mengeluarkan sesuatu dari tas.
Buku tulis. Sampul biru.
Aku menaruhnya di pangkuannya.
“Ini apa?”
“Buka.”
Dia membukanya.
Halaman pertama. Tanggal, di sudut kiri atas. Tulisan tanganku yang kecil dan miring.
12 Agt. Nindy Pramesthi. Apoteker. Rambut basah di ujung, berarti cuci muka sebelum masuk. Naruh tas di lantai, bukan di kursi.
Suaranya turun setengah nada di ujung kata “Iya”.
Nindy berhenti bernapas.
“Panji.”
“Baca terus.”
Dia membalik halaman.
15 Agt. Nggak bisa jawab pertanyaan tentang dirinya sendiri. Bukan rahasia. Nggak pernah ditanya.
17 Agt. Nggak minum kopi lewat jam 4.
19 Agt. Kalau capek banget, bilang “aku bisa sendiri”. Bukan berarti bisa. Berarti nggak mau ngerepotin.
21 Agt. Nggak suka pedes. Nyisihin cabe ke pinggir piring.
23 Agt. Tangan selalu dingin. Bukan cuma pas cuaca dingin. Selalu.
24 Agt. Ngoreksi makasihnya sendiri. Bilang makasih, terus bilang “bukan makasih yang gimana-gimana”. Artinya makasih yang gimana-gimana.
Dia membalik lagi. Dan lagi.
28 Agt. Nggak pernah bawa jaket.
2 Sept. Kalau ada yang disimpen, suaranya turun setengah nada di ujung kalimat. Selalu di ujung. Nggak pernah di tengah.
4 Sept. Tahi lalat kecil di bawah rahang kanan. Cuma keliatan kalau noleh ke kiri.
9 Sept. Kalau nangis, megang tisu tapi nggak dipakai.
11 Sept. Kalau dia bilang “nggak apa-apa” dua kali, berarti ada apa-apa.
16 Sept. Ibu sakit. Adik namanya Rendi. Kirim ke rekening Ibu langsung, bukan ke Rendi.
Halaman-halaman berikutnya makin pendek dan makin sering.
20 Sept.
21 Sept.
22 Sept.
Sampai halaman yang kosong.
Nindy menutup bukunya dan meletakkan telapak tangannya di sampulnya dan tidak bergerak.
Peronnya berisik. Ada pengumuman. Ada anak kecil menangis di ujung.
“Kamu nulis ini dari malam pertama,” katanya.
“Iya.”
“Malam pertama, Panji. Waktu kamu belum kenal aku.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan aku berkata:
“Karena aku selalu nyatet. Kalau aku nggak nyatet, aku lupa.”
Dia menutup matanya.
“Dan kalau kamu lupa—“
“Kamu harus bilang dua kali.”
Dia menangis di peron stasiun Bogor sambil memegang buku tulis sampul biru dengan dua tangan.
Aku tidak memindahkannya. Aku tidak memeluknya. Aku duduk di kursi besi di sebelahnya dan membiarkan.
Waktu dia reda, dia berkata:
“Sebelas hari.”
“Hm?”
“Sebelas hari waktu aku diem.” Dia membuka halaman terakhir yang ada tulisannya. “Kamu tetep nulis.”
“Iya.”
“Kamu nulis apa?”
Dan aku mengambil bukunya dan membalik ke halaman itu dan menunjukkannya.
Sebelas baris. Sebelas tanggal.
Semuanya sama.
Belum ada kabar.
Belum ada kabar.
Belum ada kabar.
Sebelas kali.
Nindy menutup bukunya dan meletakkannya di pangkuannya dan menoleh ke aku.
Dan dia tidak bertanya apa-apa.
Aku ingin mencatat itu karena itu penting: dia tidak bertanya apa-apa. Dia tidak bilang “terus?”. Dia tidak bilang “kenapa kamu kasih ini ke aku”. Dia cuma duduk di kursi besi dan melihat ke arahku dan menunggu tanpa meminta.
Dan aku berkata:
“Nindy.”
“Ya.”
“Aku nggak dapet kamu.”
Dan aku melihat wajahnya berubah, karena dia ingat, karena kami berdua ingat, karena kalimat ini sudah pernah aku ucapkan sekali di kursi belakang taksi dan jatuh ke lantai.
“Aku milih kamu,” kataku.
Dan kali ini aku melanjutkan.
“Aku milih kamu malam pertama waktu aku nulis nama kamu di buku ini,” kataku. “Kamu belum ngomong apa-apa sama aku waktu itu. Kamu cuma bilang ‘iya’ dua kali.”
“Panji—“
“Aku milih kamu waktu aku bawa wafer, dan itu satu-satunya hal yang aku mulai duluan dalam empat minggu, dan kamu bener soal itu, dan aku nggak akan bantah.”
Dia menutup mulutnya.
“Aku milih kamu sebelas hari waktu kamu diem,” kataku. “Dan aku nulis ‘belum ada kabar’ sebelas kali, dan nggak ada satu orang pun yang nyuruh aku nulis, dan nggak ada satu orang pun yang bakal baca.”
Aku menoleh ke rel.
“Dan aku bakal milih kamu hari Senin,” kataku. “Dan hari Selasa. Dan kalau hari Rabu aku capek dan aku mikir ‘nanti aja’, aku bakal inget bahwa empat puluh delapan pasangan mikir gitu.”
“Panji—“
“Aku nggak punya bukti,” kataku. “Aku nggak akan pernah punya. Gilang bilang nggak ada yang yakin, dan orang yang keliatan yakin itu cuma orang yang berhenti nunggu lebih cepat.”
Aku menoleh ke dia.
“Jadi aku berhenti nunggu,” kataku.
Nindy tidak bicara selama mungkin sepuluh detik.
Lalu dia berkata, dengan suara yang hampir tidak keluar:
“Aku nggak nanya apa-apa.”
“Aku tahu.”
“Aku nggak minta kamu ngomong itu.”
“Aku tahu,” kataku. “Makanya aku ngomong.”
Dan Nindy Pramesthi meletakkan buku tulis sampul biru itu di kursi besi di sebelahnya, dengan sangat hati-hati, dengan dua tangan, seperti orang meletakkan sesuatu yang tidak boleh jatuh.
Lalu dia menoleh ke aku.
“Mas.”
“Ya.”
“Aku sayang sama kamu.”
“Aku juga.”
Dan dia berhenti.
“Kamu bilang ‘aku juga’.”
“Iya.”
“Kamu bilang kamu nggak mau ngambil kata orang terus dipakai.”
Dan aku berkata:
“Itu bukan kata kamu lagi. Aku udah bilang duluan kemarin pagi.”
Dan Nindy tertawa — keras, sekali, di peron stasiun — dan menutup wajahnya dengan dua tangan, dan menangis dan tertawa bersamaan, dan seorang ibu-ibu di kursi seberang melihat kami dengan wajah yang sangat khawatir.
Keretanya datang.
Kami tidak naik yang itu.
Kami naik yang berikutnya, dua puluh menit kemudian, dan selama dua puluh menit itu dia membaca buku tulis itu dari awal lagi, halaman per halaman, sambil sesekali berhenti dan menutup matanya.
Dan waktu keretanya datang dia memasukkan buku itu ke tasnya sendiri.
Bukan ke tasku.
Aku tidak protes.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka reading
- 40 Angkatan 15