Chapter Eighteen
Pelumas
POV: Panji
Aku sampai jam delapan kurang tujuh menit, membawa satu kaleng pelumas semprot, satu sikat kawat kecil, dan satu lap yang aku potong dari kaus lama.
Aku tidak akan menjelaskan kenapa aku membawa tiga barang untuk satu rel yang berkarat, kecuali bahwa aku memikirkannya sejak Sabtu malam dan sempat mempertimbangkan membawa amplas juga sebelum memutuskan itu berlebihan.
Nindy melihat kalengnya dan langsung menyipitkan mata.
“Itu apa?”
“Pelumas.”
“Yang di tangan satunya?”
“Sikat.”
“Kenapa ada sikat?”
“Karatnya harus dibersihin dulu. Kalau langsung disemprot, pelumasnya nyampur sama karat terus jadi pasta.”
Nindy berdiri di depan pintu apotek dengan kunci di tangan dan menatapku selama tiga detik.
“Kamu mikirin ini dari Sabtu?”
“Iya.”
“Berapa lama?”
“Nggak lama.”
“Panji.”
“Dua puluh menit.”
“MAS.”
“Aku ngecek jenis relnya dulu di foto.”
“Foto apa?”
“Aku foto relnya Sabtu malem.”
Dia menutup mata.
“Kamu foto rel rolling door apotek aku.”
“Iya.”
“Buat riset.”
“Iya.”
Dia membuka matanya, dan wajahnya melakukan sesuatu yang aku tidak bisa baca sama sekali, dan dia berbalik dan membuka pintu tanpa berkata apa-apa lagi.
Aku mengerjakannya jam sembilan, setelah apotek tutup, di trotoar dengan lampu jalan sebagai satu-satunya penerangan.
Nindy duduk di anak tangga di sebelahku dengan tas di pangkuan.
“Kamu nggak harus nungguin.”
“Ini apotek aku.”
“Iya, tapi kamu bisa duduk di dalem.”
“Aku mau di sini.”
“Nyamuk.”
“Aku bawa lotion.”
Aku menyikat relnya. Karatnya banyak — lapisan tipis oranye yang menempel di sepanjang alur, dan waktu disikat menghasilkan bunyi yang tidak enak dan bubuk yang menempel di jari.
Nindy diam sepuluh menit.
Lalu dia berkata:
“Mas.”
“Hm.”
“Kenapa kamu selalu bawa alat?”
“Hah?”
“Kamu selalu bawa sesuatu. Roti waktu itu. Wafer. Sekarang tiga barang buat satu rel.” Dia menggeser posisi duduknya. “Kamu nggak pernah dateng kosong.”
Aku menyikat.
“Aku nggak bisa ngomong,” kataku.
“Apa?”
“Aku nggak pinter ngomong. Aku nggak tahu cara bilang hal-hal yang orang lain bilang.” Aku memindahkan sikat ke alur kedua. “Jadi aku bawa barang.”
Nindy tidak menjawab.
Aku terus menyikat, dan setelah beberapa saat aku menyadari bahwa dia belum bicara selama lebih dari satu menit, yang tidak biasa.
Aku menoleh.
Dia sedang memandangiku dengan tangan di lutut dan tas yang sudah dia turunkan ke anak tangga, dan wajahnya — aku tidak bisa menyebutnya apa. Bukan sedih. Bukan senang.
“Kenapa?” kataku.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu—“
“Aku tahu. Aku bilang gitu terus.” Dia menarik napas. “Lanjutin aja.”
Aku lanjutkan.
Selesai jam setengah sepuluh.
Aku menyemprot, mengelap kelebihannya, menarik rolling door turun sampai bawah, lalu naik lagi, lalu turun lagi.
Turun dalam satu gerakan. Halus. Bunyinya cuma gesekan pelan.
“Coba,” kataku.
Nindy berdiri. Dia memegang besinya dan menarik.
Turun.
Dia menaikkannya. Menurunkannya. Menaikkannya lagi.
“Astaga.”
“Iya.”
“Ini—“ Dia menurunkannya lagi. “Ini enteng banget.”
“Harusnya emang enteng.”
“Aku udah dua tahun narik itu.”
“Iya.”
“Dua tahun, Mas.”
“Kamu nggak lapor?”
“Aku lapor. Dua kali. Kata kantor pusat nanti dijadwalkan.” Dia menaikkannya lagi, dan menurunkannya lagi, seperti anak kecil yang menemukan mainan. “Nanti dijadwalkan. Setahun sembilan bulan.”
“Sekarang udah.”
Nindy berhenti.
Dia berdiri di situ dengan tangan masih di besi rolling door yang sudah setengah turun, dan dia tidak menurunkannya sampai bawah, dan dia tidak bicara.
“Nin?”
“Bentar.”
“Oke.”
Dia menurunkan rolling door-nya sampai bawah. Dia mengunci gemboknya. Dia mengambil tasnya dari anak tangga.
Lalu dia berdiri di depanku di trotoar.
“Panji.”
“Ya.”
“Kamu tahu nggak ini artinya apa?”
“Artinya relnya udah nggak karatan.”
“Bukan itu.”
“Terus apa?”
Nindy menaruh tasnya kembali ke tanah.
“Aku minta tolong ke kantor pusat dua kali dalam dua tahun dan mereka bilang nanti,” katanya. “Kamu nggak aku mintain apa-apa dan kamu foto relnya.”
“Kamu meringis.”
“Apa?”
“Hari Sabtu. Waktu tangan kamu kepeleset.” Aku memasukkan sikat ke kantong plastik. “Kamu meringis.”
“Iya.”
“Jadi aku benerin.”
“Iya,” katanya. “Aku tahu. Itu yang aku bilang.”
Dan aku berdiri di situ memegang kantong plastik berisi sikat kawat dan kain bekas, di trotoar depan apotek, jam setengah sepuluh malam, dan aku betul-betul tidak mengerti apa yang sedang dia coba katakan.
“Nindy, aku nggak—“
Dan dia menarik kerahku.
Dua tangan. Kerah, di bawah dagu, sisi kiri dan kanan, seperti waktu di lorong.
Dan dia menarik ke bawah.
Dan aku menunduk karena ditarik, bukan karena tahu, dan yang terjadi berikutnya terjadi terlalu cepat untuk aku catat dengan urutan yang benar.
Yang aku tahu:
Bibirnya dingin di detik pertama. Semua bagian tubuh Nindy selalu dingin dan aku belum pernah memikirkan bahwa itu juga berlaku untuk yang ini.
Dia berhenti di detik kedua. Tidak melepas — berhenti. Seperti orang yang sudah masuk ke ruangan dan berdiri di ambang pintu untuk melihat apakah dia akan diusir.
Aku tidak mengusirnya.
Aku tidak mundur, aku tidak menarik napas kaget, aku tidak melakukan apa pun kecuali berdiri di situ dengan kantong plastik di tangan kanan dan membiarkan.
Dan di detik ketiga aku merasakan bahunya turun.
Semuanya sekaligus, seperti yang aku lihat di wajahnya di kaca apotek dan di wajah Talita di resto, tapi kali ini bukan dimatikan. Kali ini dilepaskan.
Dan setelah itu dia tidak berhenti lagi.
Aku menjatuhkan kantong plastiknya di suatu titik. Aku tahu karena aku mendengar bunyinya di aspal, jauh, seperti terjadi pada orang lain.
Tanganku naik ke sikunya — ke tempat yang sama, refleks yang sama, seperti waktu ada akar pohon — dan berhenti di situ. Aku tidak menariknya lebih dekat. Aku cuma memegang, karena itu satu-satunya hal yang badanku tahu cara melakukan.
Dan Nindy mengeluarkan bunyi kecil di tenggorokannya waktu aku melakukan itu, satu suku kata, dan bunyi itu adalah hal paling menakutkan yang pernah aku dengar dalam hidupku.
Karena aku tidak tahu apa artinya.
Dan karena aku ingin mendengarnya lagi.
Dia yang melepas.
Dia mundur setengah langkah dan menunduk dan meletakkan dahinya di dadaku, dan berdiri di situ dengan napas yang cepat dan tangan yang masih memegang kerahku.
Aku tidak bergerak.
Lampu jalan di atas kami berkedip sekali.
“Panji.”
“Ya.”
“Jangan ngomong apa-apa.”
“Oke.”
“Serius. Jangan.” Suaranya bergetar. “Kamu bakal ngomong sesuatu yang bener dan aku bakal nangis lagi dan aku udah nangis minggu lalu di warung tenda.”
“Oke.”
Hening.
“Kamu ngomong ‘oke’ dua kali.”
“Kamu nyuruh aku nggak ngomong.”
“‘Oke’ itu ngomong.”
“Terus aku harus apa?”
Dan Nindy mengangkat wajahnya dan menatapku dari jarak sepuluh senti, dengan mata yang basah dan wajah yang marah dan mulut yang masih merah, dan berkata:
“Kamu nggak nanya kenapa.“
“Hah?”
“Aku nyium kamu dan kamu nggak nanya kenapa.” Dia menggeleng. “Kamu nanya semua hal, Panji. Semua. Kamu nanya kenapa suara aku turun, kenapa aku nggak makan, kenapa aku bawa tas di bahu kanan terus. Dan barusan kamu nggak nanya.”
Aku memikirkannya.
“Aku tahu kenapa,” kataku.
Nindy berhenti bernapas.
“…Kamu tahu?”
“Iya.”
“Kamu tahu apa?”
Dan aku membuka mulut.
Dan aku menutupnya lagi.
Karena aku menyadari, berdiri di trotoar dengan kantong plastik di aspal dan tangan orang lain di kerahku, bahwa aku betul-betul tahu — aku tahu dengan cara yang sama seperti aku tahu batch tujuh salah — dan bahwa aku tidak punya satu pun kata untuk menyebutkannya.
Aku punya sembilan tahun kosakata untuk rasa.
Aku bisa membedakan pahit logam dari pahit kakao dari pahit gosong. Aku bisa menyebut selisih empat persen dalam ketebalan lapisan. Aku bisa menjelaskan kenapa bawang muda mengeluarkan manis kalau ditumis pelan.
Dan aku tidak punya satu kata pun untuk yang ini.
“Aku nggak bisa bilang,” kataku.
Nindy menatapku.
“Nggak bisa, atau nggak mau?”
“Nggak bisa.”
“Panji—“
“Aku nggak punya katanya,” kataku. “Aku tahu itu apa. Aku nggak punya katanya.”
Dan Nindy berdiri di trotoar depan apoteknya sendiri, dengan tangan di kerah orang yang baru saja memperbaiki rolling door-nya, dan menutup matanya, dan tertawa satu kali — pendek, basah, tidak ada apa-apa lucunya.
“Ya udah,” katanya.
“Nin—“
“Ya udah, Panji.” Dia melepaskan kerahku dan meratakannya dengan dua tangan, pelan, dari bawah dagu ke bahu. “Nanti aja.”
“Nanti kapan?”
“Nggak tahu.” Dia mengambil tasnya. “Nanti.”
Dia mengambil kantong plastikku dari aspal juga, dan memberikannya, dan berjalan ke arah gang.
Tiga langkah kemudian dia berbalik.
“Mas.”
“Ya?”
“Makasih ya udah benerin.”
“Iya.”
“Bukan makasih yang gimana-gimana.”
“Oke.”
“…”
“Nindy.”
“Apa.”
“Kamu selalu ngoreksi makasih kamu sendiri.”
Dia berdiri di mulut gang selama tiga detik.
“Iya,” katanya. “Karena kalau nggak dikoreksi, jadinya kelihatan.”
“Kelihatan apa?”
Dan dia tidak menjawab.
Dia masuk ke gang dan aku pulang, dan aku memegang kantong plastik itu sepanjang jalan dan tidak menaruhnya di lantai bus.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas reading
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15