← Nggak Diundi

Chapter Nineteen

Tiga Perempuan

POV: Nindy

Talita: NINDY VIRA

Talita: Rabu. Kopi. Cuma kita bertiga

Talita: Cowok-cowoknya nggak usah tahu

Vira: Boleh 🙂

Nindy: Kenapa nggak boleh tahu

Talita: Karena kalau Gilang tahu dia bakal dateng

Talita: Dan kalau Gilang dateng aku bakal ke penjara

Jadi hari Rabu jam empat sore aku duduk di kafe di lantai dua ruko bersama dua perempuan yang tiga minggu lalu tidak aku kenal sama sekali.

Talita datang tanpa riasan.

Itu hal pertama yang aku catat, dan aku tidak mengomentarinya, karena aku tahu persis bagaimana rasanya dikomentari soal wajah.

Dia kelihatan lebih muda. Dan lebih capek.

“Aku baru bangun,” katanya, langsung, sebelum ada yang bertanya. “Semalem acara sampai jam dua.”

“Kamu tidur berapa jam?” tanya Vira.

“Lima.”

“Ta.”

“Aku tahu.”

“Ta.”

“VIRA. AKU TAHU.”

Vira mengangkat dua tangan dan tersenyum, dan Talita menyandarkan kepala ke sandaran kursi dan mengerang ke langit-langit, dan aku duduk di situ menonton keduanya dan menyadari bahwa aku menyukai mereka.

Itu juga hal yang tidak aku duga dari acara ini.


Dua puluh menit pertama isinya Talita mengeluh soal Gilang.

Dua puluh menit penuh. Tanpa jeda. Dengan detail yang sangat spesifik.

“Dia balesin chat aku tiga jam.”

“Terus?”

“Terus kalau aku bales cepet dia langsung online.”

“Terus?”

“TERUS DIA TUNGGU TIGA JAM LAGI.”

“Kenapa?”

“AKU NGGAK TAHU, NINDY. ITU YANG BIKIN AKU GILA.”

Vira menutup mulutnya dengan cangkir.

“Kamu ketawa?” kata Talita.

“Enggak.”

“Vira, aku lihat.”

“Aku cuma—“ Vira menaruh cangkirnya. “Ta, kamu ngomongin dia dua puluh menit.”

Talita berhenti.

Dia duduk di situ dengan mulut setengah terbuka.

“…Dua puluh menit?”

“Dua puluh dua,” kataku.

“Kamu ngitung?”

“Aku ngitung.”

“NINDY.”

“Kamu yang bilang cuma kita bertiga,” kataku. “Aku pikir kita jujur.”

Talita menutup wajahnya dengan dua tangan dan mengeluarkan bunyi panjang, dan Vira tertawa untuk pertama kalinya sore itu — tawa yang lepas, kepala ke belakang, tidak dijaga.

Dan aku melihat itu.

Aku melihat Vira tertawa lepas dan aku mencatatnya, karena aku sudah tiga minggu memperhatikan Vira dan itu tawa pertamanya yang tidak dipasang.


Aku perlu menjelaskan sesuatu tentang Vira.

Dari luar dia perempuan yang paling selesai di antara kami. Rambutnya selalu rapi. Blusnya tidak pernah kusut. Dia tiga puluh tahun, manajer klinik, dan dia punya kualitas yang aku iri: dia bisa membuat orang cerita.

Semua orang cerita ke Vira. Talita cerita. Bram cerita. Bahkan Gilang cerita.

Dan dalam tiga minggu, aku tidak pernah mendengar Vira menceritakan apa pun tentang dirinya.

Bukan tidak bicara. Dia bicara banyak. Dia menjawab pertanyaan dengan lengkap dan hangat dan tidak ada yang merasa ditolak.

Tapi kalau kalian tanya aku sekarang apa yang Vira sukai, apa yang dia takutkan, kenapa dia ikut acara ini — aku tidak bisa menjawab satu pun.

Aku kenal orang seperti itu.

Aku bercermin setiap hari.


“Vir,” kataku, sekitar jam lima.

“Ya?”

“Bram gimana?”

Talita langsung menoleh dengan kecepatan predator.

“IYA. BRAM. Aku juga mau tanya.”

Vira mengaduk kopinya.

“Bram baik,” katanya.

“Itu doang?” kata Talita.

“Dia beneran baik, Ta.” Vira mengangkat wajah. “Dia dengerin. Dia nggak pernah motong. Dia inget hal-hal kecil.”

“Terus?”

“Terus apa?”

“VIRA.”

Vira tertawa. “Apa sih.”

“Kamu suka nggak?”

Dan di situ ada jeda.

Jeda yang panjangnya mungkin dua detik, yang untuk orang lain tidak akan berarti apa-apa, tapi aku ini orang yang dibayar untuk mendengar jeda dua detik antara “obatnya diminum teratur, kok” dan kenyataannya.

“Aku suka orangnya,” kata Vira.

Talita menepuk meja. “ITU BUKAN JAWABAN.”

“Itu jawaban.”

“Itu jawaban yang dipakai orang buat nggak jawab!”

“Ta.” Vira masih tersenyum. “Aku tiga puluh. Aku udah nggak bisa jawab ‘suka’ atau ‘nggak suka’ kayak umur dua puluh.”

“Kenapa nggak bisa?”

“Karena sekarang ada faktornya.”

“Faktor apa?”

Vira mengaduk kopinya lagi.

“Faktor apakah dia mikirin aku juga,” katanya.

Dan Talita berkata “AAAH” dan mulai berteori dan tidak berhenti selama sepuluh menit.

Dan aku duduk di situ dan berpikir bahwa aku sudah tahu jawabannya.


Ini yang aku simpulkan sore itu, dan aku menuliskannya di sini persis seperti yang aku pikirkan waktu itu, supaya jelas seberapa yakin aku dan seberapa salah aku.

Satu: Vira suka Bram.

Dua: Vira ragu, karena Vira tidak yakin Bram memikirkan dia.

Tiga: Vira benar untuk ragu, karena aku sudah tiga minggu memperhatikan dan Bram tidak pernah sekali pun melihat Vira dengan cara yang salah. Dia sopan. Dia perhatian. Dia menuangkan air ke gelas Vira sebelum gelasnya sendiri.

Dan tidak ada satu pun dari itu yang punya panas di dalamnya.

Empat: jadi masalahnya Bram. Bram terlalu baik untuk bilang tidak dan terlalu jujur untuk pura-pura iya, dan dia sedang menyelesaikan empat minggu ini dengan terhormat.

Lima: dan Vira tahu.

Aku bahkan merasa bangga waktu menyimpulkan itu. Aku ingat perasaan itu — perasaan orang yang membaca situasi dengan benar dan tidak perlu memberi tahu siapa pun.

Aku betul soal Bram.

Aku betul soal Vira tahu.

Aku salah soal apa yang dia tahu.


Jam setengah enam Talita ke toilet, dan tinggal aku dan Vira.

“Nindy.”

“Ya?”

“Boleh nanya?”

“Boleh.”

Dia mengaduk kopinya yang sudah dingin dan sudah tidak perlu diaduk.

“Panji gimana?”

Dan aku — yang tiga hari sebelumnya berdiri di trotoar dan menarik kerah orang dan tidak bisa tidur sampai jam tiga — menjawab dengan sangat tenang:

“Dia aneh.”

Vira tertawa. “Aneh gimana?”

“Aneh yang bagus.”

“Contohnya?”

Aku memikirkannya. Aku memikirkan mana yang boleh diceritakan dan mana yang milikku.

“Dia benerin rolling door apotek aku,” kataku.

“Kamu minta?”

“Enggak.”

“Dia nawarin?”

“Enggak juga.” Aku mengangkat bahu. “Aku meringis waktu tangan aku kepeleset. Dia lihat. Terus tiga hari kemudian dia dateng bawa pelumas, sikat, sama lap.”

Vira berhenti mengaduk.

“Tiga barang?”

“Tiga barang. Dan dia udah foto relnya duluan buat riset.”

Vira tidak bicara.

Aku menoleh.

Dan dia sedang tersenyum ke arah cangkirnya, dan senyumnya lengkap, sampai ke mata, seperti biasa.

“Iya,” katanya. “Dia gitu.”

“Kamu tahu?”

“Aku lihat,” katanya. “Waktu kelas masak. Dia ngambilin tisu buat aku sebelum aku sadar aku butuh tisu.”

“Oh.” Aku ingat itu. Aku ingat memperhatikannya, dan aku ingat rasanya tidak enak, dan aku ingat memutuskan bahwa itu bodoh. “Iya. Dia gitu ke semua orang.”

Dan Vira berkata:

“Iya.”

Cuma itu.

Satu kata.

Dan dia mengangkat cangkirnya dan meminum kopi dingin yang sudah tidak enak, dan aku — aku yang bisa mendengar jeda dua detik, aku yang dibayar untuk tahu siapa yang bohong soal dosisnya — aku tidak mendengar apa-apa.

Aku betul-betul tidak mendengar apa-apa.

Aku pikir dia sedang setuju denganku.


Talita kembali dari toilet dan langsung berkata, “Aku dapet ide.”

“Nggak,” kata Vira.

“Kamu belum denger.”

“Aku udah denger nada suaranya.”

“IDENYA BAGUS.”

“Ta.”

“Kita bikin acara lagi. Sendiri. Habis programnya selesai.” Talita duduk. “Kan Bu Ratih bilang dia nggak ngurusin apa-apa setelah malam penutupan. Ya udah kita urus sendiri.”

Dan aku merasakan sesuatu di perut.

“Bagus,” kataku.

“Kan?”

“Iya. Bagus.” Aku mengambil gelasku. “Kapan?”

“Ya kapan aja. Bulan depan. Dua bulan lagi. Kita kan tetep temenan.”

“Iya.”

“Nin, kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu mukanya aneh.”

“Aku selalu mukanya aneh.”

Dan Vira, dari seberang meja, berkata pelan:

“Enam hari lagi, ya?”

Aku menoleh.

“Apa?”

“Programnya.” Dia meletakkan cangkirnya. “Enam hari lagi selesai.”

Talita mengerjap. “Serius? Udah segitu?”

“Enam hari,” kata Vira.

Dan dia mengatakannya dengan nada yang sangat biasa, sangat ringan, nada orang yang menyebutkan jadwal.

Dan tidak ada satu pun dari kami yang bertanya kenapa dia hafal.


Malamnya aku pulang dan tidak bisa tidur lagi, dan bukan gara-gara ciuman itu.

Gara-gara “enam hari”.

Aku sudah tahu angkanya. Aku menghitungnya sendiri tiap malam. Tapi mendengarnya keluar dari mulut orang lain, di kafe, di antara tawa, sebagai fakta biasa — itu beda.

Itu membuatnya jadi benda.

Aku berbaring dan menatap langit-langit dan aku memikirkan apa yang dia bilang di trotoar.

Aku nggak punya katanya.

Dan aku memutuskan sesuatu malam itu, dan aku memutuskannya dengan sangat tenang, dan aku merasa sangat dewasa waktu memutuskannya.

Aku memutuskan untuk sabar.

Aku pikir: dia belum punya katanya. Ya sudah. Aku punya. Aku akan bilang duluan, dan dia akan belajar dari situ, dan kata itu akan ada.

Enam hari cukup.

Itu yang aku pikirkan.

Aku ingat aku bahkan tersenyum sebelum tidur.