← Nggak Diundi

Chapter Eleven

Yang Nggak Aku Pilih

POV: Nindy

Wulan kembali kerja hari Rabu dan langsung tahu.

Bukan karena aku cerita. Aku tidak cerita apa-apa. Aku bahkan sengaja memasang wajah paling biasa yang aku punya dan menanyakan kabar ibunya dengan sungguh-sungguh, dan Wulan menjawab dengan sungguh-sungguh, dan kami bekerja berdua selama dua jam penuh dengan sangat normal.

Lalu jam sebelas dia berkata, sambil menyusun sirup batuk:

“Nin.”

“Hm.”

“Kamu ngecek HP tujuh belas kali dari tadi.”

Aku berhenti.

“Kamu ngitung?”

“Aku nggak ngitung. Aku ngasal.” Dia meletakkan botol terakhir. “Tapi dari reaksi kamu kayaknya lebih dari tujuh belas.”

Aku tidak menjawab, karena tidak ada jawaban yang tidak memperburuk keadaan, dan Wulan tertawa dan pergi ke gudang.

Dan aku berdiri di depan rak sirup batuk dan melihat ponselku, yang layarnya mati, yang sudah aku cek — ternyata, kalau dihitung jujur — jauh lebih dari tujuh belas kali sejak pagi.

Tidak ada pesan.

Tidak ada yang perlu dikirim. Kami baru ketemu semalam. Dia mengantar aku sampai gang, seperti biasa, dan bilang “kabarin kalau udah masuk” seperti biasa, dan aku mengabari seperti biasa, dan dia membaca dan tidak membalas seperti biasa karena Panji tidak membalas hal yang tidak butuh balasan.

Jadi tidak ada masalah.

Aku cuma mengecek ponsel tujuh belas kali dalam empat jam untuk sesuatu yang aku tahu tidak akan datang.


Aku mau menjelaskan sesuatu, karena kalau tidak, nanti kelihatannya aku ini perempuan yang gampang.

Aku bukan gampang.

Aku ini orang yang, waktu Bagas mengajakku pacaran, minta waktu sebelas hari untuk berpikir. Sebelas hari. Dia sampai bertanya apakah aku sedang menunggu tawaran yang lebih baik.

Aku bukan menunggu tawaran yang lebih baik. Aku sedang membuat daftar. Aku betul-betul membuat daftar, di aplikasi catatan, dua kolom, dan aku menimbangnya selama sebelas hari sampai kolom kirinya menang dengan selisih tipis.

Begitu caraku memilih orang.

Dan itu yang mengganggu aku sekarang.

Karena aku tidak memilih Panji.


Aku sudah memikirkan ini sejak malam Selasa, sejak Bu Ratih menanyakan pertanyaan sialan itu, dan aku menjawab “enggak” dengan sangat cepat karena jawabannya memang jelas.

Kami tidak akan pernah bertemu.

Aku sudah memeriksanya. Aku serius — aku sudah memeriksanya, di kepala, malam itu juga, sambil menatap langit-langit.

Pabriknya di Bekasi. Aku belum pernah ke Bekasi selama tiga tahun terakhir. Dia belanja di minimarket dekat kontrakannya, aku di dekat apotek, jaraknya sembilan kilometer. Dia tidak punya media sosial. Dia tidak ke kafe. Dia tidak nongkrong. Temannya satu, namanya Gilang, dan Gilang tidak kenal siapa pun yang aku kenal.

Tidak ada satu pun jalur di dunia ini yang menghubungkan aku dan laki-laki itu.

Kecuali satu: sebuah spreadsheet milik ibu-ibu berblazer merah bata, dan sebuah fotokopi KTP yang dicuri temannya.

Itu saja.

Itu satu-satunya alasan aku kenal orang yang sekarang aku pikirkan tujuh belas kali dalam empat jam.


Yang orang tidak mengerti tentang perasaan begini adalah bahwa yang bikin takut bukan besarnya.

Yang bikin takut adalah betapa mudahnya ini tidak terjadi.

Kalau Gilang tidak fotokopi KTP itu — tidak terjadi.

Kalau Gilang mengisi nomor 31 dengan jawaban lain — mungkin tidak terjadi.

Kalau aku ambil shift pagi bulan itu, kalau aku tidak baca pesan Bu Ratih tepat waktu, kalau aku telat sepuluh menit lagi dan Bu Ratih memutuskan aku tidak serius —

tidak terjadi.

Dan aku akan hidup terus. Aku akan baik-baik saja. Aku akan tetap kerja empat belas jam dan tetap mengirim uang ke Ibu dan tetap tidak menangis di depan siapa pun, dan aku tidak akan pernah tahu bahwa ada satu orang di kota ini yang bisa mendengar suaraku turun setengah nada.

Aku tidak akan pernah tahu bahwa itu ada.

Dan aku akan menyebut hidupku baik-baik saja, dan aku akan benar.

Itu yang bikin aku tidak bisa tidur, bukan hal-hal manisnya.

Berapa banyak lagi yang seperti ini? Berapa banyak orang yang lewat sembilan kilometer dari aku setiap hari selama dua puluh tujuh tahun, yang seharusnya, yang bisa, dan tidak pernah — karena tidak ada spreadsheet yang kebetulan mempertemukan?

Aku berdiri di depan rak sirup batuk dan merasa sangat, sangat kecil.


Jam dua siang ada ibu-ibu datang menanyakan obat maag untuk suaminya, dan aku melayaninya dengan sangat baik.

Jam tiga ada anak SMA beli plester dan aku menanyakan lukanya kena apa dan dia bilang jatuh dari motor dan aku menyuruhnya beli antiseptik juga, dan dia bilang tidak punya uang, dan aku memberikannya dari stok rusak yang harusnya dibuang.

Jam empat aku minum kopi.

Jam empat lewat sepuluh aku ingat bahwa aku tidak minum kopi lewat jam empat karena kalau lewat jam empat aku tidak bisa tidur, dan aku ingat bahwa aku tahu itu karena aku sendiri yang bilang, dan aku ingat kapan aku bilang.

Hari Selasa. Di halte.

Dan dia menjawab, “Oke,” dan tidak pernah menyebutnya lagi.

Lalu Jumat kemarin, waktu kami lewat minimarket jam sembilan malam dan aku bilang “bentar aku beli kopi”, dia berkata, tanpa nada apa pun, tanpa menoleh:

“Jam sembilan.”

Cuma itu.

Dua kata. Bukan larangan. Bukan ceramah. Cuma menyebutkan jam.

Dan aku berdiri di depan kulkas minimarket dan menaruh kopinya kembali dan mengambil air, dan aku tidak protes, padahal aku ini orang yang protes ke semua hal.

Aku menaruh cangkir kopi jam empat lewat sepuluh itu di wastafel tanpa menghabiskannya.

Aku tidak tahu itu artinya apa. Aku cuma tahu bahwa aku melakukannya, dan bahwa tidak ada orang yang menyuruhku, dan bahwa aku merasa aneh — merasa diperhatikan dari jauh, oleh seseorang yang tidak sedang memperhatikan, yang mungkin sedang mencicipi wafer di Bekasi dan tidak memikirkan aku sama sekali.


Jam setengah tujuh ponselku bergetar.

Aku menyambarnya dengan kecepatan yang memalukan.

Panji: Sabtu group date. Kamu shift?

Cuma itu.

Pertanyaan logistik. Enam kata. Tidak ada emoji, tidak ada basa-basi, tidak ada apa pun.

Dan aku berdiri di ruang belakang apotek dengan ponsel di tangan dan merasakan sesuatu di dada yang begitu tidak sebanding dengan enam kata itu sehingga aku hampir marah pada diriku sendiri.

Aku: Enggak. Libur

Panji: Oke

Panji: Aku jemput?

Aku menatap dua kata terakhir.

Tanda tanyanya.

Dia menaruh tanda tanya.

Bagas tidak pernah bertanya. Bagas bilang “aku jemput jam 7” dan itu selesai, dan aku selalu mengira itu tegas, dan aku baru sadar sekarang — di ruang belakang apotek, jam setengah tujuh malam, dengan bau kardus — bahwa yang tegas dan yang tidak bertanya itu bukan hal yang sama.

Aku: Boleh

Lalu, karena aku tidak bisa menahan diri:

Aku: Kamu selalu nanya ya

Panji: Nanya apa

Aku: “Aku jemput?” Pakai tanda tanya

Tiga titik.

Panji: Ya kan aku nggak tahu kamu mau apa enggak

Aku: Kalau aku bilang nggak mau?

Panji: Ya aku nggak jemput

Panji: Terus aku nanya kenapa

Aku tertawa keras sekali di ruang belakang sampai Wulan berteriak dari depan menanyakan apakah ada yang pecah.


Malamnya, di kontrakan, aku melakukan hal yang sangat bodoh.

Aku membuka aplikasi catatan.

Aku membuat dua kolom, seperti sebelas tahun yang lalu, seperti waktu Bagas. Kiri: alasan. Kanan: alasan.

Dan aku duduk di kasur selama dua puluh menit dan tidak bisa menulis satu pun di kolom kanan.

Bukan karena tidak ada.

Ada banyak. Aku tahu ada banyak — dia tinggal jauh, kami tidak punya apa-apa yang sama, dia tidak pernah pacaran sama sekali dan itu bukan hal sepele, dan aku sudah dua puluh tujuh dan aku tidak punya waktu untuk mengajari seseorang menjadi manusia.

Semua itu ada di kepalaku.

Aku tidak bisa menuliskannya.

Setiap kali aku mulai mengetik, tanganku berhenti, karena aku sadar bahwa aku sedang mencari alasan untuk tidak, dan bahwa aku sedang mencarinya dengan sangat rajin, dan bahwa orang yang mencari alasan untuk tidak dengan serajin ini sebenarnya sudah tahu jawabannya.

Aku menghapus catatan itu.

Lalu aku membuka kalender.

Dua minggu lima hari.

Aku menutupnya lebih cepat dari kemarin.

Dan aku berbaring dan menatap langit-langit dan berkata ke langit-langit, keras-keras, di kontrakan kosong:

“Aku nggak milih kamu.”

Langit-langitnya tidak menjawab.

“Aku nggak milih kamu,” kataku lagi. “Kamu dikasih ke aku.”

Dan yang paling menyebalkan dari semua ini — yang membuat aku menarik selimut sampai ke kepala seperti anak kecil — adalah bahwa aku mengucapkannya untuk menakut-nakuti diriku sendiri.

Dan itu tidak berhasil sama sekali.