Chapter Twenty Nine
Antrean
POV: Vira
Talita menelepon jam satu siang hari Sabtu dan langsung bicara sebelum aku sempat mengucapkan halo.
“Vir. Kamu di rumah?”
“Iya.”
“Aku ke sana.”
“Ta—“
“Aku udah di jalan.”
Dan dia menutup telepon.
Dia sampai jam dua dengan wajah tanpa riasan untuk kedua kalinya minggu itu, dan berdiri di depan pintu apartemenku dan berkata:
“Bram udah ngomong sama kamu, ya.”
Aku menahan pintu.
“Dari mana kamu tahu?”
“Dia yang bilang.” Talita masuk tanpa dipersilakan. “Kemarin di penginapan. Dia bilang, ‘Ta, tolong temenin Vira hari Sabtu.’”
“Dia bilang gitu?”
“Persis gitu.” Dia melepas sepatunya. “Terus dia bilang, ‘dia nggak akan telepon siapa-siapa, jadi kamu yang harus dateng.’”
Aku berdiri di ruang tamuku sendiri dan tidak bisa bicara.
“Vir.”
“Ya.”
“Bram itu laki-laki paling baik yang pernah aku ketemu dan aku benci dia karena itu.”
Dan aku tertawa.
Dan setelah aku tertawa aku menangis, dan aku menangis selama mungkin empat menit di sofa apartemenku sendiri di depan seorang perempuan dua puluh enam tahun yang tiga minggu lalu aku kira cuma berisik.
Aku tiga puluh tahun.
Aku ingin memulai dari situ karena itu penjelasan untuk hampir semuanya.
Aku tiga puluh tahun, aku manajer klinik, aku punya apartemen sendiri walaupun masih dicicil, dan aku sudah lima tahun tidak punya hubungan yang bertahan lebih dari empat bulan.
Bukan karena tidak ada yang mendekat. Ada. Cukup banyak, sebenarnya.
Masalahnya semua orang yang mendekati aku mendekat karena hal yang sama: karena aku enak diajak bicara.
Aku tahu itu bunyinya seperti keluhan orang yang tidak punya masalah. Tapi kalau kalian pernah jadi orang yang enak diajak bicara, kalian tahu apa yang terjadi.
Orang datang. Orang cerita. Orang merasa lebih baik. Orang menganggap perasaan lega itu adalah perasaan suka.
Dan tiga bulan kemudian mereka sadar bahwa mereka sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang aku, dan mereka pergi, dan mereka pergi dengan sangat sopan karena aku juga membuat perpisahan jadi nyaman.
Aku bagus dalam membuat orang nyaman.
Itu satu-satunya keahlian yang aku punya dan itu yang membunuh aku.
Bulan Desember tahun lalu, Ibu didiagnosis.
Aku tidak akan menceritakan detailnya. Yang penting adalah hari itu, tanggal delapan belas Desember, aku pulang kerja dan langsung ke apotek di dekat klinik untuk menebus resep, dan aku sudah tidak makan sejak pagi, dan aku sudah menangis di toilet kantor dua kali, dan aku sudah menelepon adikku dan berkata “nggak apa-apa kok” dengan suara yang sangat tenang.
Antreannya panjang. Sabtu sore.
Aku berdiri di antrean nomor dua belas dan memegang resep dan tiba-tiba lantainya miring.
Aku ingat berpikir: jangan di sini. Jangan di depan orang.
Dan lalu ada tangan di sikuku.
Aku tidak jatuh.
Itu bagian pertamanya. Aku tidak sempat jatuh karena ada seseorang di belakangku dalam antrean yang memegang sikuku sebelum lututku sempat menekuk.
Dia tidak bertanya apa-apa.
Dia memindahkan aku ke kursi tunggu di dinding — tiga langkah, dengan tangan di siku, tanpa satu kata pun. Dia mengambil tasku yang jatuh dan menaruhnya di pangkuanku. Dia pergi.
Aku ingat berpikir, dengan sangat jelas, di tengah semua itu: oh, dia pergi.
Dan aku ingat merasa lega, karena tidak ada yang harus aku jelaskan.
Lalu dia kembali dengan air.
Botol kecil, dari kulkas di depan apotek, sudah dibuka tutupnya.
Dia menyodorkannya. Aku mengambilnya. Aku minum.
Dan dia berkata satu kalimat.
Cuma satu, dalam seluruh peristiwa itu.
Dia bilang: “Duduk dulu. Nomornya nggak akan ilang.”
Dan dia berdiri di dekat situ — bukan di sebelahku, sekitar dua meter, menghadap ke arah lain — sampai antreannya sampai ke nomorku.
Lalu dia menunjuk papan nomor dengan dagu, mengangguk sekali, dan pergi.
Aku mencarinya selama delapan bulan.
Aku tahu itu terdengar gila. Aku tahu.
Aku bahkan tidak mencari dengan cara yang aktif — aku tidak pasang pengumuman, aku tidak posting apa pun. Aku cuma pergi ke apotek itu setiap Sabtu sore selama dua bulan.
Setiap Sabtu. Sore. Antrean panjang.
Aku bahkan membeli barang-barang yang tidak aku butuhkan supaya punya alasan berdiri di sana.
Dia tidak pernah datang lagi.
“Kenapa?” kata Talita.
Dia duduk bersila di sofaku dengan bantal di pangkuan dan matanya besar.
“Kenapa apa?”
“Kenapa kamu nyariin dia delapan bulan? Vir, dia cuma ngasih air.”
Dan aku berkata:
“Ta, hari itu aku nangis dua kali di kantor dan nggak ada satu orang pun yang tanya.”
Talita menutup mulutnya.
“Aku manajer. Aku yang nanya orang lain. Aku yang beliin makan waktu ada perawat yang nangis.” Aku menarik napas. “Dan hari itu aku hampir pingsan di apotek dan yang nolongin aku orang asing yang nggak nanya apa-apa.”
“Terus?”
“Terus aku pulang dan aku sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Kalau dia nanya,” kataku, “aku bakal bilang ‘nggak apa-apa’. Aku pasti bilang gitu. Aku selalu bilang gitu.”
Aku menoleh ke Talita.
“Dia nggak nanya. Jadi aku nggak perlu bohong.”
Yang bikin aku tahu itu bukan modus adalah dia pergi.
Aku memikirkan ini berbulan-bulan.
Kalau dia mau apa-apa, dia akan menunggu terima kasihnya. Semua orang menunggu terima kasihnya. Itu bukan kejahatan — itu manusiawi. Kamu menolong, kamu ingin tahu bahwa pertolonganmu sampai.
Dia menunjuk papan nomor dan pergi.
Delapan bulan kemudian, sepupuku bilang temannya ikut program kencan.
Dan aku — yang tidak pernah minta apa-apa ke siapa pun — menelepon Gilang, yang cuma dua kali aku temui, dan berkata:
“Lang, aku mau ikut. Tapi kamu bawa satu orang cowok yang normal, ya. Yang beneran normal.”
Aku bahkan tidak tahu kenapa aku minta itu.
Aku pikir aku cuma ingin memperbaiki peluang statistik.
Malam pertama, waktu Gilang masuk ruangan dengan seorang laki-laki di belakangnya, aku sedang membaca sesuatu di ponsel.
Aku mendongak.
Dan aku tidak mengenalinya.
Itu bagian yang tidak pernah aku ceritakan ke siapa pun sampai hari ini, dan aku menceritakannya ke Talita di sofa hari Sabtu itu dan aku tahu bunyinya menyedihkan:
Aku tidak mengenalinya.
Aku ingat tangannya di sikuku. Aku ingat botol air. Aku ingat suaranya — aku ingat suaranya dengan sangat baik, aku bisa mendengarnya di kepala selama delapan bulan.
Aku tidak ingat wajahnya.
Aku baru yakin di malam ketiga, waktu dia mengucapkan sesuatu dengan nada yang sama, dan seluruh badanku dingin sekaligus.
Delapan bulan aku cari.
Dan dia duduk empat kursi dari aku, dan namanya sudah dibacakan dengan nama orang lain.
Talita tidak bicara selama mungkin satu menit.
“Vir.”
“Hm.”
“Kenapa kamu nggak bilang?”
“Bilang ke siapa?”
“KE DIA.”
Aku menggeleng.
“Vira, kalau kamu bilang—“
“Ta.” Aku menoleh. “Kalau aku bilang, gimana?”
Talita membuka mulut.
Dan menutupnya.
“Dia nggak inget,” kataku. “Aku nanya di lorong, waktu evaluasi. Aku nanya bulan Desember tahun lalu dia udah kerja di situ apa belum. Aku nyiapin itu dua minggu, Ta. Dua minggu aku nyusun cara nanya yang nggak keliatan aneh.”
“Terus?”
“Terus dia bilang dia nggak inget wajah orang.” Aku tertawa sekali. “Sama sekali. Dia bilang itu ke aku dengan wajah orang yang lagi ngasih informasi teknis.”
“Ya kamu tinggal bilang ‘itu aku’—“
“Terus dia bakal bilang apa?”
Talita diam.
“Dia bakal bilang ‘oh’,” kataku. “Terus dia bakal nanya Ibu aku sekarang gimana. Dengan tulus. Dia bakal beneran pengen tahu.”
Aku mengambil tisu.
“Dan itu yang paling nggak bisa aku tanggung.”
“Kenapa?” kata Talita, pelan.
“Karena berarti dia baik ke aku persis kayak dia baik ke semua orang.”
Aku melipat tisu itu jadi empat.
“Ta, kamu tahu apa yang aku lakuin selama empat minggu ini?”
“Apa?”
“Aku ngitung.”
“Ngitung apa?”
“Aku ngitung berapa kali dia ngelakuin sesuatu buat aku, dan berapa kali dia ngelakuin hal yang sama buat orang lain.” Aku menaruh tisunya. “Tisu waktu kelas masak. Air waktu di pantai — dia ngambilin buat aku dan buat Bram. Payung waktu hujan di parkiran — dia kasih ke aku terus dia lari.”
“Vir—“
“Semuanya rata, Ta.” Suaraku keluar lebih tenang dari yang aku duga. “Nggak ada satu pun yang lebih. Nggak ada satu pun.”
Aku mengangkat wajah.
“Dan yang delapan belas Desember itu juga rata,” kataku. “Delapan bulan aku mikir itu spesial. Ternyata itu cuma hari Sabtu dan dia kebetulan ada di belakang aku.”
Talita menangis lebih dulu dari aku.
Itu yang aku ingat paling jelas. Dia yang menangis duluan, dan dia marah karena menangis duluan, dan dia bilang “SIALAN” dan mengusap wajahnya dengan bantal.
“Ta.”
“Diem.”
“Ta, aku nggak apa-apa.”
“KAMU NGGAK BOLEH BILANG GITU KE AKU.”
Dan aku menutup mulut.
Dan Talita menaruh bantalnya dan menoleh dengan wajah basah dan berkata:
“Vira. Empat minggu. Kamu duduk di meja yang sama sama dia empat minggu dan kamu nggak bilang apa-apa dan kamu tetep baik sama Nindy.”
“Nindy nggak salah apa-apa.”
“AKU TAHU NINDY NGGAK SALAH.” Dia menghapus matanya. “Aku lagi ngomongin kamu.”
Aku tidak menjawab.
“Kamu tahu nggak,” katanya, “hari Rabu di kafe, Nindy cerita soal rolling door. Dan kamu senyum.”
“Iya.”
“Kamu senyum, Vir.”
“Iya.”
“Gimana caranya?”
Dan aku berkata — dan aku ingat betul aku mengatakannya tanpa suaraku bergetar sedikit pun, karena aku sudah tiga puluh tahun berlatih:
“Karena ceritanya bagus, Ta.”
Talita pulang jam enam.
Di pintu dia memelukku terlalu lama dan berkata ke bahuku:
“Vir. Malem ini penutupan.”
“Iya.”
“Kamu mau dateng?”
“Iya.”
“Kamu yakin?”
Dan aku berkata:
“Aku bikin acara ini ada, Ta.”
Dia menarik diri.
“Apa?”
“Aku yang ngajakin Gilang,” kataku. “Kalau aku nggak nelepon dia bulan Juli, nggak ada Angkatan 14. Nggak ada Bu Ratih. Nggak ada malam pertama.”
Talita berdiri di pintu apartemenku dengan sepatu di tangan.
“Vir—“
“Aku bikin ruangan itu ada,” kataku. “Dan aku duduk di dalemnya empat minggu buat nonton.”
Dan aku menutup pintu sebelum dia bisa menjawab.
Aku duduk di lantai di balik pintu selama mungkin dua puluh menit.
Lalu aku bangun, dan aku mandi, dan aku memakai blus yang tidak kusut, dan aku menata rambutku, dan aku memasang wajah yang lengkap sampai ke mata.
Karena malam ini penutupan.
Dan karena aku bagus dalam membuat orang nyaman.
Dan karena tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang perlu tahu bahwa perempuan yang paling selesai di antara mereka adalah satu-satunya yang datang untuk sesuatu, dan pulang tanpanya.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean reading
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15