Chapter Twenty
Tanpa Riasan
POV: Panji
Talita menelepon hari Jumat jam empat sore, dan itu aneh karena Talita tidak pernah menelepon siapa pun.
“Panji.”
“Ya.”
“Kamu di mana?”
“Kantor. Baru selesai.”
“Kamu bisa nyetir?”
“Aku nggak punya mobil.”
“Aku punya mobil. Kamu bisa nyetir?”
“Bisa.”
“Oke.” Ada bunyi berisik di latar. “Aku di daerah Cikarang. Acaranya batal di tengah jalan. Klien berantem sama vendor, aku disuruh pulang, dan aku—“
Suaranya berhenti.
“Talita?”
“Aku nggak bisa nyetir sekarang.”
“Kenapa?”
“Tangan aku gemeteran.”
Aku berdiri di parkiran pabrik dengan tas masih di bahu.
“Kirim lokasi,” kataku.
“Panji—“
“Kirim lokasi, Ta.”
Dia di parkiran sebuah gedung serbaguna, duduk di kursi pengemudi mobilnya sendiri dengan pintu terbuka dan kaki di luar.
Rambutnya masih ditata. Bajunya masih baju panggung — blazer, rok, sepatu tumit yang sudah dilepas dan ditaruh di kursi penumpang.
Wajahnya sudah dihapus.
Semua. Bersih. Dengan tisu basah yang bungkusnya masih terbuka di dasbor.
Aku tidak berkomentar.
“Kunci.”
Dia memberikan kuncinya.
“Pindah.”
Dia pindah ke kursi penumpang. Dia memindahkan sepatunya ke belakang. Dia memasang sabuk pengaman dan menariknya dua kali untuk memastikan.
Aku menyetir keluar parkiran.
Dan kemudian tidak ada yang bicara selama dua puluh menit.
Aku tidak menyalakan radio. Bukan karena aku memutuskan tidak; aku memang tidak pernah menyalakan radio. Gilang selalu mengeluh soal itu.
Talita duduk dengan tangan di pangkuan dan memandang ke depan.
Aku menyetir.
Jalannya macet di Cibitung, lalu lancar, lalu macet lagi di pintu tol. Aku pindah jalur dua kali. Aku berhenti di lampu merah. Aku maju lagi.
Dua puluh menit.
Aku tidak menanyakan apa yang terjadi. Aku tidak menanyakan apakah dia baik-baik saja. Aku tidak berkata “yang sabar ya” atau “nggak apa-apa” atau apa pun.
Bukan karena aku bijak.
Karena aku tidak tahu apa yang terjadi, dan aku tidak mau menebak, dan menebak itu yang membuat orang harus mengoreksi tebakanmu waktu mereka sedang tidak punya tenaga.
Di menit kedua puluh satu, Talita berkata:
“Kamu nggak nanya.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Kamu bilang tangan kamu gemeteran. Itu udah cukup buat aku dateng.”
Dia menoleh.
“Itu doang?”
“Iya.”
“Kamu nggak penasaran?”
“Penasaran.”
“Terus kenapa nggak nanya?”
“Karena kamu bakal cerita kalau kamu mau.”
Talita tidak menjawab.
Kami lewat rest area. Aku bertanya apakah dia mau berhenti. Dia bilang tidak. Kami terus.
Lima menit kemudian dia bilang:
“Kliennya bilang aku terlalu tua.”
Aku tidak menoleh, karena aku sedang di jalur kanan.
“Bukan ke aku langsung. Ke koordinatornya. Dia pikir aku nggak denger.” Suaranya rata. “Dia bilang, ‘kok MC-nya yang ini, yang kemarin lebih fresh.’”
“Kamu dua puluh enam.”
“Iya.”
“Itu nggak tua.”
“Di kerjaan aku, iya.”
Aku pindah jalur.
“Terus?”
“Terus koordinatornya belain aku. Dia bilang aku yang paling bagus. Terus kliennya bilang, ‘ya udah nggak apa-apa, ini cuma soft opening.’” Talita tertawa. “‘Cuma soft opening.’ Aku nyiapin materinya dua hari.”
“Terus acaranya batal?”
“Batalnya bukan gara-gara itu. Batalnya beneran gara-gara vendor.” Dia menyandarkan kepala ke jendela. “Tapi aku udah dengar yang tadi. Jadi ya udah.”
Aku menyetir.
“Ta.”
“Hm.”
“Kamu ngapain hapus riasannya?”
Dia diam agak lama.
“Biar nggak luntur,” katanya.
“Oh.”
“Jangan bilang ‘oh’.”
“Kenapa semua orang benci aku bilang ‘oh’?”
“KARENA CARA KAMU BILANGNYA, PANJI.”
Dan dia tertawa — keras, mendadak, sedikit pecah — dan menutup wajahnya dengan tangan, dan bahunya berguncang, dan aku tidak bisa memastikan sampai lampu berikutnya apakah dia tertawa atau menangis.
Ternyata dua-duanya.
Kami berhenti di warung sate di pinggir jalan sekitar jam tujuh, karena dia bilang lapar, dan karena aku bilang bagus.
“Jangan puji aku soal makan.”
“Kenapa semua orang bilang gitu juga.”
“Siapa lagi yang bilang?”
“Nindy.”
“Oh.” Talita mengambil tusuk sate. “Ya iya lah.”
Kami makan di bangku panjang. Dia masih tidak memakai riasan. Dia masih memakai blazer panggung dengan sandal jepit yang dia ambil dari bagasi.
“Panji.”
“Hm.”
“Aku mau ngomong sesuatu dan kamu jangan aneh-aneh.”
“Oke.”
“Ini dua jam paling enak dalam dua minggu terakhir.”
Aku berhenti mengunyah.
“Kita nggak ngobrol dua puluh menit.”
“Iya,” katanya. “Itu maksudku.”
Aku tidak mengerti, dan aku bilang begitu.
Talita menaruh tusuknya.
“Panji, kerjaan aku itu ngisi kekosongan,” katanya. “Itu harfiah. Kalau ada tiga detik hening di acara, itu salah aku. Tiga detik. Aku dibayar buat mastiin nggak ada satu pun momen di mana orang bingung harus ngapain.”
“Iya.”
“Terus aku pulang dan aku ketemu temen dan mereka bilang ‘Talita ceritain dong yang lucu-lucu’.” Dia mengambil tusuk lain. “Dan aku ceritain. Karena aku bisa. Karena aku emang lucu.”
“Kamu emang lucu.”
“Iya. Aku tahu.” Dia menatap satenya. “Dan aku nggak pernah, satu kali pun, duduk sama orang selama dua puluh menit tanpa ngomong.”
Aku diam.
“Kamu nggak nyalain radio,” katanya.
“Aku nggak pernah nyalain radio.”
“Kamu nggak nanya.”
“Aku nggak tahu apa yang mau ditanya.”
“Kamu nggak ngisi.” Dia menoleh. “Panji, kamu nggak ngisi. Kamu diem dua puluh menit dan kamu nggak berusaha ngisi sama sekali dan kamu nggak keliatan nggak nyaman.”
“Aku nggak nggak nyaman.”
“IYA. ITU DIA.”
Dia menaruh tusuknya lagi dan menghadap ke depan.
Dan berkata, dengan suara yang sangat berbeda dari suara panggungnya:
“Aku boleh ngebosenin di depan kamu.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Jadi aku bilang, “Kamu nggak ngebosenin.”
Dan Talita menutup mata dan tertawa satu kali, dan menggeleng, dan berkata:
“Itu jawaban paling salah yang bisa kamu kasih dan itu yang bikin masalah.”
Aku mengantarnya sampai rumahnya jam sembilan, dan memesan ojek dari situ.
Sebelum turun, dia menahan pintu.
“Panji.”
“Ya?”
“Nindy tahu kamu jemput aku?”
“Belum. Aku belum sempet ngabarin.”
“Kabarin.”
“Iya.”
“Sekarang.”
Aku mengeluarkan ponsel dan mengetik di depannya.
Aku: Aku jemput Talita di Cikarang tadi. Acaranya batal, dia nggak bisa nyetir. Baru nganter dia pulang
Terkirim.
Talita membaca layarnya dari samping.
“Kamu nulis semuanya.”
“Iya.”
“Kamu nggak mikir dua kali.”
“Kenapa aku mikir dua kali?”
Dia menatapku beberapa detik.
Lalu dia keluar dari mobil, menutup pintu, dan mengetuk kacanya.
Aku menurunkannya.
“Panji.”
“Ya?”
“Kamu tuh brengsek, ya.”
“Hah?”
“Bukan brengsek yang jelek.” Dia mundur satu langkah. “Brengsek yang nggak tahu.”
Dan dia masuk ke rumahnya.
Ponselku bergetar di ojek.
Nindy: Dia gapapa?
Aku: Sekarang udah
Nindy: Bagus
Nindy: Kamu udah makan?
Aku: Udah. Sate
Nindy: Sama dia?
Aku: Iya
Tiga titik. Lama.
Nindy: Aku di gang kamu
Aku membaca ulang.
Aku: Sekarang?
Nindy: Iya
Nindy: Aku bawa martabak. Kamu udah makan sih ya
Nindy: Ya udah aku pulang
Aku: JANGAN
Aku mengetik dengan huruf besar, yang belum pernah aku lakukan seumur hidup, dan ojeknya lewat lampu merah dan aku hampir menyuruhnya lebih cepat sebelum sadar itu berbahaya.
Dia duduk di anak tangga teras dengan kotak martabak di pangkuan.
Bajunya baju kerja. Rambutnya masih diikat kerja. Dia jelas langsung dari apotek.
“Kamu nunggu berapa lama?”
“Empat puluh menit.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Aku bilang. Barusan.”
Aku duduk di sebelahnya.
“Aku udah makan,” kataku.
“Aku tahu.”
“Tapi aku makan lagi.”
“Iya,” katanya. “Makan lagi.”
Kami makan martabak yang sudah dingin di teras, dan dia tidak bertanya apa-apa tentang Talita, dan aku menceritakannya semua tanpa ditanya — soal klien, soal koordinator, soal riasan yang dihapus.
Waktu aku selesai, Nindy diam.
“Kamu diem,” kataku.
“Iya.”
“Kenapa?”
Dia menaruh kotak martabaknya di anak tangga.
“Aku lagi nyoba nggak marah,” katanya.
“Marah sama aku?”
“Enggak.” Dia menoleh. “Sama diriku sendiri. Karena aku sempet marah.”
“Sempet?”
“Empat puluh detik. Pas kamu bilang kamu makan sate sama dia.” Dia menghela napas. “Terus aku mikir, oh, aku marah karena dia bareng kamu dua jam.”
“Terus?”
“Terus aku mikir lagi.” Dia mengangkat bahu. “Terus aku sadar aku bakal ngamuk kalau kamu nggak jemput dia.”
Aku menoleh.
“Kamu ngerti nggak?” katanya. “Kalau kamu nggak jemput dia, kamu bukan kamu. Dan yang aku suka itu kamu.”
Dan dia berhenti.
Dan matanya melebar sedikit.
Dan aku melihat dengan sangat jelas di wajahnya momen di mana dia mendengar kalimatnya sendiri.
“Nindy—“
“Jangan.”
“Kamu bilang—“
“Jangan, Panji.“
Dan dia menarik kerahku dengan satu tangan — cuma satu, kali ini, dan lebih cepat, dan tanpa memberi aku waktu untuk menunduk sendiri —
dan menciumku di teras kontrakan dengan mulut yang rasanya martabak dingin.
Dan yang ini tidak berhenti di detik kedua.
Yang ini tidak berhenti sampai lampu teras tetangga menyala karena sensornya kena gerakan, dan Nindy melepas dan menunduk dan berkata “sialan” ke arah lututnya, dan aku duduk di anak tangga dengan kotak martabak yang tumpah setengah di teras dan tidak ada satu pun bagian dari diriku yang peduli.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan reading
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15