Chapter Eight
Garamnya Kurang
POV: Panji
Kencan grup kedua diadakan di sebuah dapur sewaan di lantai tiga ruko, dan pesan Bu Ratih malam sebelumnya berbunyi:
Kelas memasak. Pasangan bekerja berdua. Satu masakan per pasangan. Saya akan mencicipi hasilnya.
Talita: BU IBU DATENG?
Bu Ratih: Saya datang untuk mencicipi. Bukan untuk hadir.
Talita: ITU SAMA AJA BU
Bu Ratih: Tidak sama.
Dapurnya panas dan ada empat kompor dan seorang koki muda yang jelas tidak dibayar cukup untuk menghadapi enam orang dewasa yang tidak saling kenal.
Bram sudah memakai celemek waktu kami datang. Sudah. Terikat rapi di belakang.
“Kamu bawa celemek sendiri?” tanya Talita.
“Ada di mobil.”
“Kenapa ada celemek di mobil?”
“Kadang saya masak.”
“Kadang kamu masak,” ulang Talita, ke arah langit-langit. “Gilang. Kamu dengar itu.”
“Aku denger.”
“Kadang. Dia. Masak.”
“Aku juga bisa masak.”
“Bisa apa?”
“Mi.”
“Itu bukan masak, itu merebus.”
“Merebus itu bagian dari masak!”
“Merebus itu bagian dari nunggu.”
Vira tertawa sambil mengikat rambutnya, dan koki muda itu menepuk tangan dua kali dengan putus asa dan mulai menjelaskan resep.
Ayam kecap. Sederhana. Tiga puluh menit.
Dan kemudian ada Bram.
Aku perlu mencatat sesuatu di sini supaya adil.
Bram bagus. Bukan bagus yang dipamerkan — dia tidak sekali pun mengatakan bahwa dia bisa. Dia cuma melakukan.
Dia memotong bawang dengan cara yang benar. Dia menyalakan kompor dan langsung mengecilkannya karena tahu wajannya terlalu tipis. Waktu Vira memegang pisau dengan cara yang berbahaya, dia tidak mengoreksi di depan orang; dia menunggu sampai Vira selesai, lalu berkata pelan, “Boleh saya tunjukin satu cara? Biar jarinya aman,” dan Vira bilang boleh, dan dia menunjukkannya dalam empat detik tanpa menyentuh tangan Vira sekali pun.
Aku memperhatikan itu. Bagian tidak menyentuhnya.
Talita memperhatikan juga, karena Talita memperhatikan segalanya, dan dia menyikut Gilang dan berbisik cukup keras untuk didengar dua meja.
“Belajar.”
“Aku lagi motong.”
“Kamu lagi ngancurin.”
“Ini gaya.”
“Ini kejahatan.”
Di sebelahku, Nindy sedang membaca resep dengan wajah yang sama seperti waktu dia membaca label obat.
“Kecapnya empat sendok makan,” katanya. “Tapi ini sendok makannya yang mana? Yang di laci ini beda ukuran semua.”
“Pakai yang paling kecil.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kurang bisa ditambah.”
Dia menoleh.
“Itu berlaku buat semua hal, ya.”
“Buat kecap iya.”
“Aku lagi bikin filosofi, Mas.”
“Oh.” Aku mengambil bawang putih. “Maaf.”
Dia mendengus dan mulai menuang.
Kami bekerja berdua dalam diam yang enak selama mungkin lima belas menit. Nindy ternyata rapi — dia mencuci setiap alat begitu selesai dipakai, dan menyusun bahan berurutan sebelum menyalakan kompor, dan aku menyadari itu kebiasaan dari kerjaannya, sama seperti aku menyadari bahwa aku sendiri tidak bisa berhenti mencium setiap bahan sebelum memasukkannya.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu nyium bawang.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Kebiasaan.”
“Baunya bawang, Mas.”
“Iya, tapi bawang ada dua macem.” Aku memberikan satu ke dia. “Cium.”
Dia mencium.
“Bawang.”
“Yang satunya.” Aku memberi yang lain.
Dia mencium yang itu.
Dia berhenti.
“…Yang ini lebih tajem.”
“Iya. Yang itu lebih muda. Kalau kamu pakai yang muda dengan takaran yang sama, hasilnya bakal nusuk.”
“Terus?”
“Terus kita pakai setengahnya dulu.”
Nindy menaruh bawang itu dan menatapku.
“Kamu tuh,” katanya, “kayak orang yang punya kemampuan super tapi kemampuannya nggak berguna buat nyelametin dunia.”
“Berguna buat ayam kecap.”
“Iya,” katanya. “Berguna buat ayam kecap.”
Dan dia tersenyum ke arah wajan, bukan ke arahku, dan aku tidak tahu kenapa senyum yang tidak diarahkan ke aku terasa lebih besar daripada yang diarahkan ke aku.
Bu Ratih datang jam dua belas lewat dengan blazer merah bata yang sama dan mencicipi tiga piring secara berurutan seperti juri lomba yang tidak dibayar.
“Bram, Vira.”
“Ya, Bu.”
“Bagus. Rapi. Terlalu rapi.”
“Terlalu rapi itu jelek, Bu?”
“Tidak jelek. Cuma tidak ada yang bisa saya ingat darinya.”
Bram mengangguk, betul-betul menerima, dan Vira menahan tawa dengan punggung tangan.
“Gilang, Talita.”
Hening.
“Ini apa?”
“Ayam kecap, Bu,” kata Gilang.
“Ini asin sekali.”
“Itu Talita yang—“
“KAMU yang nuang!”
“Kamu yang bilang ‘tambah dikit’!”
“‘DIKIT’, Gilang! DIKIT!”
“Aku nambahin dikit!”
“Kamu nambahin SETENGAH BOTOL!”
“Itu dikit menurut botolnya!”
Bu Ratih menaruh sendoknya.
“Saya suka ini,” katanya.
Talita berhenti berteriak. “Hah?”
“Rasanya buruk. Tapi saya bisa membayangkan kalian berdua di dapur.” Dia mengelap tangannya. “Itu lebih berharga.”
“Bu, itu pujian atau hinaan?”
“Ya.”
Talita membuka mulut dan tidak menemukan apa pun.
Lalu Bu Ratih sampai ke piring kami.
Dia mencicipi.
Dia berhenti.
Dia mencicipi lagi.
“Siapa yang masukin gula?”
“Nggak ada, Bu,” kata Nindy.
“Ini ada manisnya.”
“Itu bawangnya,” kataku. “Yang muda. Kalau ditumis pelan dia keluar manis.”
Bu Ratih menatapku selama tiga detik penuh.
“Nindy,” katanya, tanpa mengalihkan pandangan dariku. “Kamu tahu ini?”
“Sekarang tahu, Bu.”
“Hm.”
Dia menaruh sendoknya dan menulis sesuatu di lembarnya, dan tidak mengatakan apa pun lagi tentang piring kami, dan Talita berteriak “BU ITU ARTINYA APA” ke punggungnya yang sudah berjalan ke pintu.
Yang terjadi setelah itu adalah yang aku ingat.
Kami membereskan dapur, dan piring-piring bertumpuk di bak cuci, dan waktu Vira mengangkat panci yang masih panas, uapnya naik ke wajahnya dan dia terbatuk dan matanya berair.
Aku menarik tisu dari kotak di sebelahku dan memberikannya.
Itu saja.
Dia mengambilnya, berkata “makasih, Panji,” dan mengelap matanya, dan kembali mencuci.
Aku tidak memikirkannya lagi selama satu detik pun.
Tapi waktu aku berbalik, Nindy sedang melihatku.
Bukan melihat dengan curiga. Melihat dengan cara orang yang sedang mencocokkan dua hal di kepalanya.
“Apa?” kataku.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu bilang orang yang bilang ‘nggak apa-apa’ itu biasanya ada apa-apa.”
“Iya,” katanya. “Tapi aku belum tahu apa.”
Aku berhenti.
“Itu kalimat aku.”
“Aku tahu,” katanya, dan mengambil piring dari tanganku.
Kami pulang jalan kaki karena parkirannya penuh dan mobil Gilang terjepit dan Gilang memutuskan untuk berdebat dengan tukang parkir selama dua puluh menit dengan Talita sebagai penonton yang sangat tidak membantu.
Jadi aku dan Nindy jalan duluan ke arah halte.
Trotoar di jalan itu rusak. Bukan rusak parah, cuma ada bagian yang naik sepuluh senti karena akar pohon mendorong dari bawah, dan bagian itu tidak kelihatan karena tertutup daun.
Nindy sedang bicara — sesuatu tentang Wulan dan kurir itu — dan kakinya kena.
Aku sudah memegang sikunya sebelum aku tahu aku bergerak.
Itu refleks yang sama seperti waktu ada botol miring di meja lab. Tangan lebih cepat dari kepala. Tidak ada niat di dalamnya, dan aku tahu itu karena aku bahkan tidak berhenti bicara.
Nindy stabil dalam setengah detik.
Tapi tanganku masih di sana.
Aku tidak tahu berapa lama. Mungkin tiga detik. Mungkin empat. Cukup lama untuk aku merasakan bahwa kulit di lipatan sikunya lebih hangat dari kulit di lengan bawahnya, yang aneh, karena tangannya selalu dingin.
Aku melepasnya.
“Maaf. Ada akar.”
Nindy tidak menjawab.
Aku menoleh.
Dia berdiri diam di tengah trotoar, satu tangan memegang tempat yang barusan aku pegang, dan tidak melihat ke arahku sama sekali.
“Kamu kepeleset lagi?”
“Enggak.”
“Kakinya sakit?”
“Enggak.”
“Terus—“
“Panji.” Dia menarik napas. “Jalan aja.”
“Oke.”
Kami jalan.
Sepuluh langkah kemudian dia berkata, ke depan, tidak ke aku:
“Kamu selalu gitu?”
“Gitu gimana?”
“Megang orang.”
Aku memikirkannya.
“Kayaknya iya,” kataku. “Kalau ada yang mau jatuh.”
“Ke siapa aja?”
“Ke siapa aja.”
Nindy diam beberapa langkah.
“Oh,” katanya.
Dan nadanya turun setengah nada di ujungnya.
Aku menoleh cepat — refleks, sekarang, sudah jadi refleks — tapi dia sudah mempercepat langkah, dan halte sudah kelihatan, dan Talita berteriak dari belakang bahwa Gilang menang tapi juga kalah dan dia akan menjelaskan nanti.
Jadi aku tidak sempat bertanya.
Aku menyimpannya sebagai batch keempat.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang reading
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15