Chapter Thirty
Jawaban
POV: Nindy
Dia menjemputku jam enam kurang sepuluh, dan aku sudah menunggu di depan gang sejak setengah enam.
Aku memakai baju yang aku beli hari Kamis. Aku memakai parfum yang sama seperti malam wafer. Aku sudah menyusun kalimatku selama lima hari dan aku sudah mengulangnya di kamar mandi pagi itu sampai suaraku tidak bergetar.
Rencananya: setelah penutupan.
Aku merusak rencanaku sendiri dalam empat menit.
Kami naik taksi karena dia tidak punya mobil dan aku tidak mau naik ojek dengan baju ini.
Dia duduk di sebelahku dan memegang tanganku, dan tangannya lebih hangat dari biasanya, dan dia diam.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu ke mana tadi pagi?”
“Bogor.”
Aku menoleh.
“Ngapain?”
“Ketemu Bapak.”
Dan aku duduk tegak, karena selama empat minggu Panji menyebut bapaknya tepat satu kali, di kontrakan, malam hujan, dan cuma satu kalimat: “Bapak aku ada tapi kami nggak ngomong.”
“Kamu ketemu Bapak kamu?”
“Iya.”
“Kalian nggak pernah ngomong.”
“Iya.”
“Terus kenapa hari ini?”
Dan dia menoleh ke aku, di kursi belakang taksi, dengan lampu jalan lewat di wajahnya, dan berkata:
“Karena aku nyari katanya.”
Aku ingin berhenti di sini dan mencatat sesuatu.
Aku ingin mencatat bahwa selama tiga detik setelah kalimat itu, aku adalah orang paling bahagia di kota ini.
Tiga detik. Aku menghitungnya belakangan, berkali-kali, dan aku yakin tiga detik.
Aku merasakan sesuatu naik dari perut ke tenggorokan dan aku hampir mengeluarkan bunyi, dan aku mengeratkan tanganku di tangannya dan aku pikir — aku betul-betul pikir —
Dia pergi ke Bogor.
Dia bangun jam lima. Dia naik kereta. Dia ketemu bapaknya yang dua puluh tahun nggak dia ajak ngomong.
Buat aku.
Tiga detik.
Dan lalu aku bertanya pertanyaan berikutnya, karena aku ini orang yang selalu bertanya pertanyaan berikutnya, karena itu kerjaanku, karena aku dibayar untuk tidak berhenti di jawaban pertama.
“Terus kamu nemu?” kataku.
“Iya.”
“Kamu nemu katanya?”
“Iya.”
Dan Panji menoleh dan berkata:
“Nindy, aku nggak dapet kamu.”
Aku berhenti bernapas.
“Aku milih kamu.”
Taksinya lewat perempatan.
Aku menatap wajahnya dan aku menunggu diriku sendiri merasakan sesuatu.
Dan yang datang bukan yang aku tunggu.
Yang datang adalah pertanyaan.
Aku benci diriku sendiri untuk ini. Aku benci diriku sendiri sampai sekarang. Ada seorang laki-laki yang mengatakan kalimat paling bagus yang pernah aku dengar seumur hidup, di kursi belakang taksi, dengan tangannya di tanganku, dan otakku — otak sialan ini, otak yang dilatih sepuluh jam sehari untuk mendengar jeda dua detik —
otakku bertanya: dari mana kalimat itu?
“Panji.”
“Ya?”
“Kamu nemunya gimana?”
Dan dia — karena dia Panji, karena dia tidak punya kemampuan untuk melakukan hal lain — menjawab dengan lengkap.
Dia menceritakan semuanya.
Buku tulis sampul cokelat. Dua ratus tujuh puluh empat hari. Berat badan, jam tidur, nangka dari pasar. Bapaknya yang tidak pernah bilang sayang sekali pun dan mencatat berapa sendok air.
Dan aku mendengarkannya dan aku menangis di taksi.
Sungguh — aku menangis. Ceritanya bagus. Ceritanya salah satu hal paling bagus yang pernah aku dengar dan aku menangis dan sopirnya melirik dari kaca dan aku tidak peduli.
Lalu dia sampai ke bagian kereta.
“Terus di kereta aku inget kuesionernya,” katanya.
“Kuesioner apa?”
“Nomor tiga puluh satu.”
Dan sesuatu di dadaku bergerak.
“Gilang yang isi,” kataku.
“Iya.”
“Yang katanya dia tulis apa yang biasa kamu bilang.”
“Iya.” Dia mengeluarkan ponselnya. “Aku tanya dia tadi. Pertanyaannya: ‘Apa yang Anda lakukan ketika seseorang yang Anda pedulikan sedang kesulitan?’”
Dia menunjukkan layarnya.
Dan di layar itu ada balasan Gilang, dan di balasan Gilang ada empat kata.
“Diam dulu. Nanya belakangan.”
Aku menatap layar itu.
Aku menatapnya lama sekali. Cukup lama sampai taksinya belok dua kali.
Dan sesuatu di dalam diriku berubah bentuk, pelan-pelan, dengan cara yang tidak aku mengerti pada waktu itu dan baru aku mengerti dua hari kemudian.
“Mas.”
“Ya?”
“Aku juga jawab itu.”
Dia menoleh cepat.
“Apa?”
“Nomor tiga puluh satu.” Aku mengembalikan ponselnya. “Aku jawab itu juga. Persis.”
Panji tidak bicara.
“Aku isi kuesionernya di ruang belakang apotek jam sebelas malem,” kataku. “Aku inget nomor itu karena aku mikir lama. Terus aku tulis apa yang aku bilang ke pasien yang nangis di depan konter.”
“Diam dulu—“
“—nanya belakangan,” kataku.
Dan kami duduk di taksi, dua orang, dengan jawaban yang sama untuk pertanyaan yang sama, dan itu seharusnya jadi momen paling indah dalam empat minggu terakhir.
Dan aku merasa dingin.
“Panji.”
“Ya.”
“Kamu pergi ke Bogor tadi pagi.”
“Iya.”
“Kamu bangun jam lima, naik kereta, ketemu Bapak kamu.”
“Iya.”
“Kenapa hari ini?”
“Karena Sabtu.”
“Iya,” kataku. “Tapi kenapa hari ini?”
Dan dia berkata:
“Karena kamu bilang hari Kamis.”
Dan di situlah semuanya jatuh.
Aku ingin sangat jelas tentang apa yang terjadi berikutnya, karena aku sudah mengulangnya di kepala ratusan kali dan aku ingin adil.
Panji tidak melakukan kesalahan.
Dia menjawab pertanyaanku dengan jujur. Dia selalu menjawab dengan jujur. Itu satu-satunya hal yang dia bisa.
Yang terjadi adalah aku mendengar jawabannya dan aku melihat sesuatu yang selama empat minggu ini tepat di depan mataku dan tidak pernah aku lihat.
“Kamu ke Bogor karena aku bilang di Cisarua,” kataku.
“Iya.”
“Kalau aku nggak bilang, kamu nggak pergi.”
Jeda.
“…Iya.”
“Panji.” Suaraku masih tenang. Aku ingat itu — suaraku masih sangat tenang. “Coba pikirin sesuatu sama aku.”
“Oke.”
“Siapa yang megang tangan duluan?”
Dia diam.
“Di halte,” kataku. “Siapa?”
“Kamu.”
“Siapa yang nyium duluan?”
“Kamu.”
“Yang di teras?”
“Kamu.”
“Yang di lift?”
“Kamu.”
“Yang duduk di pangkuan kamu?”
“Nindy—“
“Siapa, Panji.“
“Kamu.”
Taksinya berhenti di lampu merah.
“Yang bilang sayang duluan?” kataku.
“Kamu.”
“Yang bilang kedua kalinya?”
“Kamu.”
“Yang nyender di bahu di mobil Gilang?”
“Kamu.”
Aku menoleh ke jendela.
“Empat minggu,” kataku. “Delapan belas kali ketemu. Sebutin satu hal yang kamu mulai duluan.”
Dan Panji — dan ini bagian yang membuat aku tidak bisa tidur selama dua malam — Panji betul-betul memikirkannya.
Dia tidak membela diri. Dia tidak bilang “itu nggak adil”. Dia tidak bilang “aku bawa roti, aku bawa pelumas, aku bawa kotak obat”.
Dia duduk di kursi belakang taksi dan dia mencari, dengan sungguh-sungguh, seperti orang yang diberi soal dan ingin menjawab dengan benar.
Aku bisa melihat dia mencari.
Dan setelah mungkin dua puluh detik, dia berkata:
“Aku bawa wafer.”
“Iya.”
“Aku ngajak kamu ketemu buat itu.”
“Iya,” kataku. “Itu satu.”
Hening.
“Satu, Panji. Dalam empat minggu.”
“Nindy.”
“Aku belum selesai.”
“Oke.”
Aku menghapus wajahku dengan punggung tangan dan aku menoleh ke dia.
“Kamu tahu kenapa aku nggak bisa berhenti mikirin ini?”
“Enggak.”
“Karena semua yang kamu lakuin itu bener,” kataku. “Semuanya. Rotinya bener. Pelumasnya bener. Kotak obatnya bener. Bapak kamu bener. Nggak ada satu pun yang salah.”
“Terus?”
“Terus semuanya jawaban.”
Aku menunjuk ke arahnya, ke arah dadanya, dan tanganku gemetar dan aku membenci itu.
“Aku meringis — kamu benerin rolling door. Aku nggak makan — kamu bawa roti. Ibu aku sakit — kamu beli kotak obat. Aku bilang sayang — kamu ke Bogor nyari katanya.”
“Iya.”
“Iya?“
“Iya,” katanya. “Itu bener semua.”
Dan aku berteriak.
Aku berteriak di kursi belakang taksi di jalan Rasuna Said jam enam lewat dua puluh, di depan sopir yang tidak minta terlibat, dan yang aku teriakkan adalah:
“AKU NGGAK MAU JADI SOAL, PANJI.”
Taksinya berhenti.
Bukan karena teriakanku. Kami sudah sampai. Sopirnya menepi dan mematikan argo dan duduk sangat diam.
Panji membayar. Aku keluar duluan.
Kami berdiri di trotoar di depan gedung tempat kami pertama kali bertemu empat minggu lalu, dan lampu lantai dua sudah menyala, dan aku bisa melihat bayangan orang bergerak di dalamnya.
Empat puluh menit lagi.
“Nindy.”
“Jangan sekarang.”
“Aku mau ngomong.”
“Panji, di dalem ada lima orang.”
“Aku tahu.”
“Talita ada di dalem. Bu Ratih ada di dalem.”
“Aku tahu.” Dia berdiri di depanku di trotoar. “Aku mau ngomong sekarang.”
Dan aku melihat wajahnya dan aku melihat sesuatu yang belum pernah aku lihat di wajah itu.
Panik.
Empat minggu. Delapan belas kali. Tidak sekali pun aku melihat Panji panik.
Dan itu — itu — yang membuat aku hampir berhenti. Aku hampir berhenti. Aku hampir bilang oke.
“Ngomong,” kataku.
“Aku nggak tahu cara mulai,” katanya.
“Aku tahu.”
“Bukan—“ Dia menggeleng. “Aku nggak lagi minta maaf. Aku beneran nggak tahu caranya. Aku dua puluh delapan tahun dan aku nggak pernah mulai apa-apa sama siapa pun.”
“Aku tahu, Panji.”
“Aku nggak pernah punya temen selain Gilang, dan Gilang yang nyamperin aku duluan waktu magang.” Suaranya tetap rata dan itu yang paling menyakitkan. “Aku nggak pernah ngajak siapa pun makan. Aku nggak pernah nelepon orang duluan.”
“Aku tahu.”
“Jadi kalau kamu nanya kenapa aku nggak mulai duluan,” katanya, “jawabannya bukan karena aku nggak mau.”
“Terus apa?”
Dan Panji berkata:
“Karena aku nggak tahu aku boleh.”
Dan itu.
Itu kalimat yang seharusnya menyelesaikan semuanya, dan aku tahu itu waktu dia mengucapkannya, dan aku tetap tidak bisa.
Karena di kepalaku ada suara Bu Ratih.
Hari Sabtu, alasannya saya cabut. Dan yang tersisa hanya orang yang mau repot.
Dan aku berdiri di trotoar dan aku berpikir: kalau selama empat minggu, dengan agenda, dengan formulir, dengan Bu Ratih, dengan alasan — kalau selama empat minggu dia tidak pernah mulai satu kali pun —
apa yang terjadi minggu depan, waktu alasannya dicabut?
Siapa yang akan mengetik duluan?
Aku.
Selalu aku.
Dan aku sudah dua puluh tujuh tahun jadi orang yang mengangkut barang keluar dari ruangan.
“Panji.”
“Ya.”
“Kalimat kamu tadi di taksi.”
“Yang mana?”
“Yang ‘aku nggak dapet kamu, aku milih kamu’.”
Dia menunggu.
Dan aku berkata:
“Kamu nggak milih aku.”
Dia tidak bergerak.
“Kamu jawab aku.”
Dan wajahnya berubah.
Bukan marah. Bukan sedih.
Kosong. Betul-betul kosong, dengan cara yang aku belum pernah lihat, seperti mesin yang dicabut.
“Nindy—“
“Aku nggak bilang kamu bohong.” Aku menghapus wajahku lagi. “Aku percaya kamu. Itu yang paling parah. Aku percaya setiap kata.”
“Terus kenapa—“
“Karena aku juga percaya kamu bakal jawab siapa pun yang nanya.”
Dan aku melihat kalimat itu masuk.
Aku melihatnya masuk ke wajahnya dan aku ingin menariknya kembali dalam setengah detik dan sudah terlambat.
“Panji, bukan gitu maksud—“
“Enggak,” katanya. “Kamu bener.”
“Aku nggak—“
“Kamu bener,” ulangnya. “Aku bakal jawab siapa pun yang nanya. Aku nggak tahu cara nggak jawab.”
Dan dia berdiri di trotoar dengan tangan di samping badan dan berkata, dengan suara yang sama sekali tidak naik:
“Aku nggak tahu bedanya, Nindy.”
“Apa?”
“Yang kamu bilang hari Rabu itu. Beda antara suka sama nurut.” Dia menatapku. “Aku nyari beda itu seminggu. Aku ke Bogor buat nyari. Dan aku nemu katanya tapi aku nggak nemu bedanya.”
Aku tidak bisa bicara.
“Jadi kalau kamu nanya sekarang apakah aku suka kamu atau aku cuma nurut,” katanya, “aku nggak bisa jawab. Karena aku nggak punya pembandingnya.”
Dan dia mengangkat wajahnya.
“Aku cuma tahu satu hal,” katanya. “Kalau bukan kamu yang nanya, aku nggak ke Bogor. Itu bener. Kamu bener.”
Hening.
“Tapi kalau bukan kamu yang nanya,” katanya, “aku juga nggak akan mau tahu jawabannya.”
Pintu gedung terbuka di belakangku.
“NINDY! PANJI!” Suara Talita, dari lantai dua, lewat jendela. “AYO NAIK! BU RATIH UDAH BAWA MAP!”
Aku tidak menoleh.
Panji tidak bergerak.
“Kita naik,” kataku.
“Nindy—“
“Kita naik, Panji.” Aku memakai wajahku. Aku memasangnya dengan sangat cepat, dengan keahlian dua puluh tujuh tahun, dan aku merasakannya klik di tempatnya. “Ada lima orang di atas.”
“Kita belum selesai.”
“Iya,” kataku. “Kita belum selesai.”
Dan aku jalan mendahuluinya ke pintu, dan aku menekan tombol lift dengan tangan yang gemetar, dan waktu pintunya terbuka aku melihat dinding tempat punggungnya menempel kemarin sore.
Empat detik.
Aku masuk dan berdiri menghadap pintu dan tidak menoleh ke belakang sama sekali.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban reading
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15