Chapter Fourteen
Hujan
POV: Panji
Hujan mulai jam delapan lewat waktu kami baru sampai depan kontrakanku, dan berhenti jam setengah dua belas, dan di antara dua angka itu tidak terjadi apa-apa sama sekali.
Aku menulis kalimat itu dan aku tahu kalimat itu tidak jujur.
Tidak terjadi apa-apa. Itu benar. Tapi “tidak terjadi apa-apa” ternyata bisa jadi peristiwa tersendiri, dan aku baru tahu itu malam Sabtu itu.
Sabtu sore Nindy datang ke Bekasi.
Bukan idenya. Idenya Bu Ratih — ada pesan di grup bahwa kencan grup keempat “akan diumumkan menyusul, mungkin menginap”, dan Talita langsung mengetik lima belas pesan berturut-turut, dan di tengah kekacauan itu Nindy mengirim pesan terpisah ke aku.
Nindy: Kamu kerja sabtu?
Aku: Enggak
Nindy: Aku pengen liat pabriknya
Aku: Nggak boleh masuk
Nindy: Ya nggak masuk. Liat dari luar
Nindy: Aku pengen liat tempat kamu tiap hari
Aku membaca kalimat terakhir tiga kali.
Aku: Itu cuma gedung
Nindy: Mas
Aku: Iya
Aku: Jam berapa
Jadi hari Sabtu jam empat sore aku berdiri bersama Nindy di seberang pagar pabrik, di trotoar, memandangi bangunan abu-abu yang panjang dan tidak punya jendela di sisi ini.
“Ini?”
“Iya.”
“Ini jelek banget.”
“Iya.”
“Kamu di sini delapan jam sehari.”
“Sembilan kalau ada batch tambahan.”
Nindy memasukkan jari ke celah pagar dan memandanginya lama sekali, dengan wajah yang tidak sesuai dengan objeknya.
“Ruang panelnya di mana?”
“Yang atas. Yang ada AC-nya nonjol itu.”
“Yang mana?”
“Sini.” Aku berdiri di belakangnya dan menunjuk lewat bahunya supaya arahnya sama. “Yang kedua dari kanan.”
Dia tidak bergerak menjauh.
Aku tetap di situ mungkin lima detik lebih lama dari yang perlu, dengan tanganku terangkat di samping kepalanya, dan aku bisa merasakan bahwa dia menahan napas dan aku tidak tahu kenapa.
Aku menurunkan tangan.
“Kedua dari kanan,” katanya.
“Iya.”
“Oke.” Dia mengangguk pelan, masih memandang. “Oke.”
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa. Sekarang aku tahu.”
“Tahu apa?”
“Kalau aku lagi kerja dan kamu lagi kerja, aku tahu kamu lagi di mana.”
Aku tidak punya jawaban untuk itu.
Kami makan di warung dekat situ, lalu jalan tanpa tujuan, dan jam delapan lewat sepuluh langitnya pecah tanpa peringatan sama sekali.
Bukan gerimis. Langsung deras.
Kami lari ke gang terdekat dan itu kebetulan gang kontrakanku, dan waktu sampai depan pintu kami sudah basah seluruhnya, dan Nindy tertawa dengan rambut menempel di dahi dan air menetes dari ujung hidungnya.
“Masuk,” kataku.
“Nggak apa-apa?”
“Kamu mau berdiri di luar?”
“Enggak.”
“Ya masuk.”
Dia masuk.
Dan aku baru sadar di detik kedua setelah pintu tertutup bahwa aku belum pernah punya orang lain di ruangan ini selain Gilang.
Kontrakanku satu petak dengan kamar mandi di belakang. Ada kasur, ada meja, ada rak, ada sofa dua dudukan yang aku beli bekas empat tahun lalu karena Gilang bilang orang dewasa harus punya sofa.
Nindy berdiri di tengah dengan air menetes dan melihat sekeliling.
“Rapi banget.”
“Iya.”
“Ini rapi yang serem, Mas.”
“Kenapa serem?”
“Nggak ada barang yang nggak ada gunanya.” Dia menunjuk rak. “Rak kamu isinya perkakas sama dokumen. Nggak ada pajangan. Nggak ada foto.”
“Aku nggak punya foto.”
“Nggak punya foto sama sekali?”
“Nggak ada yang motoin.”
Dia menoleh cepat.
“Jangan bilang gitu.”
“Kenapa?”
“Ya jangan aja.”
Aku mengambil handuk dan kaus dari lemari dan menyodorkannya.
“Ganti. Kamar mandi di belakang.”
“Ini kaus kamu?”
“Iya.”
“Kamu nyuruh aku pakai kaus kamu?”
Aku memikirkannya sebentar.
“Kamu basah,” kataku. “Dan aku nggak punya baju cewek.”
Nindy mengambil kaus itu dari tanganku dan pergi ke belakang tanpa berkata apa-apa, dan waktu pintu kamar mandi tertutup aku berdiri di tengah ruangan dan baru sadar bahwa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
Aku menghitungnya. Tujuh puluh empat.
Biasanya enam puluh dua.
Aku mencatat itu tanpa tahu harus diapakan.
Dia keluar dengan kausku yang kebesaran empat ukuran dan celana pendek olahraga yang tali pinggangnya dia ikat dua kali, dan rambutnya dibungkus handuk, dan dia berdiri di ambang pintu dengan wajah menantang.
“Jangan komentar.”
“Aku nggak komentar.”
“Kamu mikir.”
“Aku selalu mikir.”
“Kamu mikir tentang ini.”
Aku mikir tentang ini.
Aku tidak bilang begitu. Aku bilang, “Aku ganti dulu,” dan pergi ke belakang.
Hujannya tidak berhenti.
Jam sembilan tidak berhenti. Jam sepuluh tidak berhenti. Kami duduk di lantai bersandar ke sofa dengan dua gelas teh karena aku tidak punya kopi, dan Nindy mengecek aplikasi ojek setiap lima belas menit dan selalu mendapat jawaban yang sama.
“Nggak ada driver.”
“Iya.”
“Nggak ada satu pun.”
“Hujan.”
“Aku tahu hujan, Mas.” Dia menaruh ponselnya. “Aku lagi ngeluh, bukan nanya.”
“Oh.” Aku menyandarkan kepala. “Maaf.”
“Kamu tuh.”
“Apa?”
“Nggak apa-apa.”
Kami diam. Bunyi hujan di seng itu keras sekali, jenis bunyi yang membuat orang tidak perlu bicara.
Jam sepuluh lewat dia berkata, tanpa menoleh:
“Boleh nanya sesuatu yang nggak sopan?”
“Boleh.”
“Kamu beneran belum pernah pacaran?”
“Belum.”
“Sama sekali?”
“Sama sekali.”
“Kenapa?”
Aku memikirkannya.
“Nggak ada yang mau,” kataku.
“Bohong.”
“Enggak.”
“Mas. Kamu—“ Dia berhenti. “Kamu nggak jelek.”
“Aku tahu aku nggak jelek. Aku juga nggak bagus.”
“Bukan itu maksudku.”
“Terus apa?”
Nindy menoleh.
“Kamu tuh perhatian sampai bikin orang takut,” katanya. “Itu masalahnya, ya? Orang jadi salah tingkah.”
“Aku nggak tahu.”
“Kamu nggak pernah nanya?”
“Ke siapa?”
Dia membuka mulut, dan menutupnya.
“Oh,” katanya.
Dan nadanya turun, dan aku menoleh, dan dia sudah memandang ke arah lain.
Jam sebelas aku bilang, “Kamu tidur di kasur.”
“Terus kamu?”
“Sofa.”
“Sofanya dua dudukan.”
“Iya.”
“Kamu nggak muat.”
“Aku muat kalau nekuk.”
“Mas.”
“Nindy, kasurnya cuma satu.”
“Iya, aku tahu kasurnya cuma satu.” Dia menatapku. “Aku nggak lagi ngomongin kasurnya.”
Dan aku — dan ini bagian yang aku pikirkan berulang-ulang berhari-hari sesudahnya — aku menjawab:
“Terus kamu lagi ngomongin apa?”
Nindy menatapku selama tiga detik penuh.
Lalu dia tertawa. Satu suku kata. Tanpa apa-apa di dalamnya.
“Nggak,” katanya. “Nggak ada.”
Dia mengambil bantal dan pergi ke kasur.
Aku tidur di sofa dengan lutut ditekuk dan punggung yang tidak akan berterima kasih besok.
Lampu dimatikan jam sebelas lewat lima belas.
Jam sebelas lewat empat puluh, hujannya berhenti.
Aku tahu karena aku masih bangun.
Dan aku tahu Nindy juga masih bangun, karena napasnya tidak berubah — aku sudah dengar napas orang tidur, di bus, di mobil, dan napas orang tidur itu lebih lambat dan lebih dalam, dan napas Nindy malam itu sama persis seperti napas Nindy yang sedang duduk.
Kami berdua tidak tidur selama mungkin empat puluh menit di ruangan yang sama, empat meter jaraknya, dan tidak satu pun dari kami bicara.
Jam dua belas lewat, dia berkata:
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu belum tidur.”
“Belum.”
“Kok tahu aku belum tidur?”
“Napas kamu.”
Hening.
“Panji.”
“Ya.”
“Kenapa kamu nggak ngapa-ngapain?”
Aku membuka mata di kegelapan.
“Ngapain gimana?”
“Ya…” Suaranya kecil. “Gitu.”
Aku memikirkan pertanyaannya dengan sungguh-sungguh.
“Karena kamu nggak minta,” kataku.
Kasurnya berdecit. Dia berbalik.
“Kalau aku minta gimana?”
Dan aku — di sofa dua dudukan, dengan lutut ditekuk, jam dua belas lewat, di ruangan yang sudah berhenti hujan —
aku tidak menjawab.
Bukan karena aku menolak. Karena aku betul-betul tidak tahu jawabannya, dan aku tidak mau mengarang jawaban untuk pertanyaan sebesar itu.
Diamnya mungkin sepuluh detik.
Lalu Nindy berkata, cepat, dengan nada yang berubah total:
“Bercanda. Tidur, sana.”
“Nindy—“
“Tidur.”
“Aku lagi mikir.”
“JANGAN MIKIR.”
“Kamu nanya—“
“Panji.“ Suaranya tegas dan retak sekaligus. “Tidur.”
Aku diam.
Aku mendengarkan.
Dan sepuluh menit kemudian napasnya masih belum berubah juga.
Aku bangun jam lima. Dia sudah bangun duluan, duduk di tepi kasur dengan kausku, memandangi ponselnya.
“Ada driver,” katanya.
“Oke.”
“Aku pulang.”
“Oke.”
Dia berdiri. Dia melipat selimutku — melipat, dengan rapi, seperti orang di hotel — dan menaruhnya di ujung kasur.
Di pintu dia berhenti.
“Panji.”
“Ya.”
“Yang tadi malem itu—“
“Iya.”
“Kamu inget?”
“Iya.”
Dia menutup mata sebentar.
“Ya udah,” katanya. “Bagus.”
Dan dia pergi.
Dan aku berdiri di kontrakan yang tiba-tiba terasa lebih kosong dari empat tahun terakhir, memegang selimut yang dilipat oleh orang lain, dan aku memikirkan pertanyaan itu sepanjang hari Minggu, sepanjang Senin, dan sepanjang Selasa.
Kalau aku minta gimana?
Aku belum punya jawabannya.
Tapi aku sudah tahu satu hal: aku tidak ingin dia berhenti bertanya.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan reading
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15