← Nggak Diundi

Chapter Thirty One

Uji Panel

POV: Panji

Ruangan yang sama seperti malam pertama.

Meja panjang yang sama, taplak yang sama, lampu gantung yang empat minggu lalu jelas-jelas baru dibeli dan sekarang sudah berdebu di satu sisi.

Enam kursi.

Semua orang sudah di sana. Talita berdiri di dekat jendela sedang bicara dengan Vira. Bram sedang membantu pelayan memindahkan meja kecil. Gilang sedang mengetik di ponselnya dengan wajah orang yang sedang tidak mengetik apa pun penting.

Nindy masuk lebih dulu dan langsung ke arah Talita, dan memeluknya, dan Talita berkata sesuatu dan Nindy tertawa.

Tawanya bagus. Panjangnya pas. Berhenti di tempat yang tepat.

Dan di setengah detik terakhir, nadanya turun.

Aku berdiri di ambang pintu dan mendengarnya, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan informasi itu.


Aku duduk di kursi paling ujung, yang sama seperti malam pertama.

Nindy duduk di sebelahku, yang sama seperti malam pertama, dan jaraknya juga sama seperti malam pertama.

Diukur.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Vira, dari seberang meja.

“Nggak apa-apa,” kata Nindy.

Dan Vira mengangguk dan tersenyum dan tidak bertanya lagi, dan aku memperhatikan bahwa Vira adalah satu-satunya orang di ruangan yang tidak bertanya dua kali.


Aku permisi ke toilet jam tujuh kurang lima belas, dan aku tidak ke toilet.

Aku ke tangga darurat.

Ada pintu besi di ujung lorong yang mengarah ke tangga beton yang jelas jarang dipakai, dan aku duduk di anak tangga antara lantai dua dan lantai tiga, di bawah lampu neon yang satu batangnya mati.

Dan aku mengerjakannya.


Aku perlu menjelaskan sesuatu tentang pekerjaanku, karena ini satu-satunya cara aku bisa menjelaskan apa yang aku lakukan di tangga itu.

Di ruang panel, kalau ada dua sampel dan kamu curiga ada beda tapi kamu tidak yakin, kamu tidak boleh menebak.

Kamu melakukan uji.

Cara paling dasar namanya uji segitiga. Kamu ambil tiga sampel: dua sama, satu beda. Kamu tidak tahu yang mana. Kamu cicipi ketiganya dan kamu tunjuk yang beda.

Kalau kamu bisa menunjuk dengan benar berulang kali, bedanya nyata.

Kalau tidak, bedanya tidak ada — dan yang kamu kira beda itu cuma harapan.

Aku duduk di tangga beton dan aku menyusun uji segitiga untuk diriku sendiri.

Pertanyaannya: apa bedanya suka dan nurut?


Uji pertama.

Sampel A: Gilang menelepon jam dua pagi tahun 2019 dan berkata bapaknya masuk rumah sakit.

Aku berangkat. Aku naik ojek malam-malam. Aku duduk di lorong rumah sakit sampai jam enam pagi.

Sampel B: Nindy mengirim pesan hari Senin dan berkata ibunya sakit.

Aku bilang aku datang besok. Aku beli kotak obat jam setengah tujuh.

Beda?

Aku duduk di tangga dan aku menguji dan jawabannya: tidak ada beda.

Aku akan melakukan hal yang sama untuk keduanya. Nindy benar. Aku menjawab siapa pun yang bertanya.

Ujinya gagal.


Uji kedua.

Aku ganti sampelnya.

Sampel A: Talita menelepon dari Cikarang dan bilang tangannya gemetaran.

Aku pergi. Aku menyetir. Aku diam dua puluh menit.

Sampel B: Nindy bilang tangannya dingin di halte.

Aku diam. Aku membiarkan.

Beda?

Aku mencari.

Dan aku menemukan sesuatu, dan yang aku temukan itu kecil, dan aku hampir membuangnya.

Waktu Talita bilang tangannya gemetaran, aku langsung tahu apa yang harus aku lakukan.

Waktu Nindy bilang tangannya dingin, aku tidak tahu apa-apa. Aku berdiri di halte selama beberapa detik dengan otak yang benar-benar kosong, dan lalu dia mengambil tanganku, dan aku membiarkannya karena aku tidak punya prosedur.

Aku menuliskannya di kepala:

Untuk semua orang lain, aku tahu harus ngapain. Untuk dia, aku nggak tahu.

Apakah itu bedanya?

Aku menguji lagi. Aku mencari kasus lain.

Bapak. Aku tidak tahu harus apa dengan Bapak. Dua puluh tahun aku tidak tahu.

Ujinya gagal lagi.


Aku duduk di tangga selama mungkin sepuluh menit dan aku gagal enam kali.

Dan aku hampir berhenti.

Aku hampir berdiri dan kembali ke ruangan dan menerima bahwa Nindy benar dan bahwa aku memang tidak punya bedanya.

Dan lalu aku ingat sesuatu yang Pak Har katakan di tahun pertamaku.

Aku ingat dia berdiri di ruang panel dan berkata: “Panji, kalau kamu nggak bisa nemu bedanya, kamu salah bikin pertanyaan. Jangan tanya ‘apa bedanya’. Tanya ‘apa yang ilang kalau salah satunya nggak ada’.”

Aku duduk tegak di tangga beton.


Uji ketiga.

Pertanyaannya aku ganti.

Bukan: apakah aku suka dia atau aku cuma nurut.

Tapi: apa yang hilang kalau dia berhenti nanya.

Aku memikirkannya.

Kalau Gilang berhenti menelepon aku jam dua pagi, aku akan baik-baik saja. Aku akan menyesal, tapi aku akan baik-baik saja. Aku akan tetap kerja, tetap membersihkan kulkas hari Sabtu, tetap makan sendiri.

Kalau Talita berhenti menelepon, aku akan baik-baik saja.

Kalau Bapak berhenti — Bapak sudah berhenti dua puluh tahun. Aku baik-baik saja.

Aku memang orang yang baik-baik saja.

Empat tahun.

Dan lalu aku menaruh Nindy ke dalam ujinya.

Kalau Nindy berhenti nanya.

Dan aku duduk di tangga beton di bawah lampu neon yang satu batangnya mati, dan aku merasakan sesuatu yang aku belum pernah rasakan seumur hidupku, dan aku tidak bisa bernapas dengan benar selama mungkin sepuluh detik.

Bukan sedih.

Takut.


Aku belum pernah takut.

Aku ingin mencatat itu karena ini penting. Aku bukan orang pemberani; aku cuma tidak pernah punya sesuatu yang bisa hilang.

Ibu meninggal waktu aku sembilan dan aku tidak takut, aku cuma tidak mengerti.

Aku pindah dari rumah Bapak umur delapan belas dan aku tidak takut.

Aku bekerja empat tahun di ruangan tanpa jendela dan aku tidak pernah, satu kali pun, takut pada apa pun.

Dan aku duduk di tangga itu dan aku memikirkan bahwa Nindy berhenti bertanya, dan tanganku dingin.


Aku mengeluarkan ponselku dan aku mengetik di aplikasi catatan, karena aku selalu mencatat, karena kalau aku tidak mencatat aku lupa, karena kalau aku lupa dia harus bilang dua kali.

Aku mengetik:

Nurut = aku ngelakuin karena diminta. Kalau nggak diminta, aku nggak ngelakuin, dan aku baik-baik aja.

Suka = kalau dia berhenti minta, aku nggak baik-baik aja.

Aku menatap dua baris itu.

Bedanya nyata.

Bedanya nyata dan aku bisa menunjuknya dan aku bisa menunjuknya berulang kali dan tidak akan salah.

Aku berdiri.


Dan di situ aku menyadari masalahnya.

Aku berdiri di tangga beton dengan ponsel di tangan dan jawaban yang benar di layar, dan aku menyadari bahwa aku baru saja melakukan persis hal yang membuat semuanya hancur.

Nindy bertanya.

Aku pergi mencari.

Aku menemukan.

Aku akan kembali ke ruangan dan menyerahkan jawabannya, seperti aku menyerahkan lembar panel ke Pak Har, dan dia akan melihatnya dan dia akan tahu — dia akan langsung tahu — bahwa aku mengerjakannya karena dia menyuruh.

Empat puluh menit lalu dia bilang: aku nggak mau jadi soal.

Dan aku duduk di tangga darurat dan mengerjakannya sebagai soal.

Aku menghapus catatan itu.

Lalu aku mengetiknya lagi, karena menghapusnya tidak mengubah apa pun, dan karena aku tetap tidak mau lupa.


Aku kembali ke ruangan jam tujuh kurang dua menit.

Nindy melihatku masuk. Matanya bergerak ke wajahku, lalu ke tanganku, lalu kembali ke wajahku.

Dia tahu aku habis mengerjakan sesuatu.

Aku bisa melihat dia tahu.

Dan dia mengalihkan pandangan dan tersenyum ke arah Talita dan berkata sesuatu tentang makanan.

Aku duduk di kursiku.

“Mas.”

“Ya?”

“Kamu ke mana?”

Dan aku — karena aku Panji, karena tidak terpikir ada opsi lain — menjawab:

“Tangga darurat.”

“Ngapain?”

“Mikir.”

“Mikirin apa?”

Aku membuka mulut.

Dan Bu Ratih masuk dengan map yang lebih tebal dari malam pertama, dan menaruhnya di ujung meja dengan bunyi yang berat, dan berkata:

“Selamat malam.”

Nindy menoleh ke depan.

Dan aku duduk di sana dengan jawaban di saku dan tidak ada satu pun kesempatan untuk memberikannya, dan aku menyadari untuk pertama kalinya dalam hidupku bahwa punya jawaban yang benar itu tidak ada gunanya kalau kamu tidak tahu kapan harus mengucapkannya.

Gilang, dari seberang meja, melihat wajahku.

Dan dia menutup matanya sebentar, dan menggeleng sangat kecil, sekali.

Dia sudah bilang di teras.

Omongin sebelum acaranya selesai. Bukan sesudah.

Acaranya baru saja dimulai, dan aku sudah terlambat.