← Nggak Diundi

Chapter Twenty Eight

Bapak

POV: Panji

Aku naik kereta jam enam pagi hari Sabtu ke Bogor.

Aku tidak memberi tahu siapa pun. Tidak Nindy, tidak Gilang. Aku mengirim satu pesan jam setengah enam:

Aku: Aku ada urusan pagi. Nanti malem aku jemput jam 6

Nindy: Urusan apa

Aku: Nanti aku cerita

Nindy: Oke

Lalu, empat menit kemudian:

Nindy: Panji

Nindy: Kamu nggak lagi kabur kan

Aku berdiri di peron dan membaca itu tiga kali.

Aku: Enggak

Aku: Aku nggak bisa kabur. Aku nggak tahu caranya

Nindy: Ya udah

Nindy: Hati-hati


Rumah Bapak di gang sempit di belakang pasar, sama seperti dua puluh tahun lalu, kecuali sekarang catnya hijau dan dulu putih.

Aku ke sana dua kali setahun. Lebaran dan ulang tahun Ibu.

Ini bukan salah satu dari keduanya.

Bapak membuka pintu dengan sarung dan kaus dalam dan wajah orang yang belum selesai bangun.

Dia melihatku.

“Panji.”

“Pak.”

Dia melihat ke belakangku, seolah mengecek apakah ada orang lain, atau apakah ada mobil ambulans.

“Ada apa?”

“Nggak ada apa-apa.”

“Kamu ke sini bukan lebaran.”

“Iya.”

Dia berdiri di pintu selama mungkin empat detik.

“Masuk,” katanya.


Rumahnya lebih rapi dari yang aku ingat.

Bapak enam puluh tiga sekarang dan pensiun dari pabrik keramik empat tahun lalu, dan dia membuat kopi untuk kami berdua tanpa bertanya apakah aku mau kopi.

Kami duduk di ruang depan.

Ada foto Ibu di dinding. Yang itu masih sama.

“Kamu kurus.”

“Aku sama aja, Pak.”

“Kurus.”

“Iya.”

Hening.

Bapak dan aku tidak pernah bisa bicara. Ini bukan hal baru dan bukan hal yang menyakitkan lagi. Kami dua orang yang tinggal di rumah yang sama selama sembilan tahun setelah Ibu meninggal dan tidak satu pun dari kami tahu cara membuka mulut, dan kemudian aku pindah, dan kemudian dua puluh tahun lewat.

Dia bertanya soal kerjaanku. Aku menjawab. Aku bertanya soal lututnya. Dia menjawab.

Lima menit.

Lalu kopi kami habis dan tidak ada lagi yang tersedia untuk dibicarakan.

Dan aku berkata:

“Pak, aku mau nanya sesuatu.”


Bapak menaruh cangkirnya.

“Tanya.”

Aku sudah menyusun kalimat ini di kereta selama satu setengah jam.

Aku sudah membuangnya semua di gang.

“Bapak sayang sama Ibu?”

Dia mengangkat wajah.

Dan selama mungkin lima detik penuh, orang tua itu memandangiku dengan ekspresi yang tidak pernah aku lihat di wajahnya selama dua puluh delapan tahun.

“Kenapa nanya itu?”

“Aku perlu tahu.”

“Perlu buat apa?”

Dan aku menjawab jujur, karena aku selalu menjawab jujur:

“Ada orang. Dia bilang dia sayang sama aku. Aku nggak bisa bales, karena aku nggak tahu itu apa.”

Bapak tidak bergerak.

“Aku nggak mau ngasih dia kata yang aku nggak yakin,” kataku. “Dia udah pernah dikasih yang bohong.”

Dan Bapak — yang tidak bicara denganku lebih dari lima menit sejak aku enam belas tahun — menyandarkan punggungnya ke kursi dan menutup mata.


“Bapak nggak pernah bilang sayang sama Ibu kamu,” katanya.

Aku merasakan sesuatu jatuh di perut.

“Sekali pun?”

“Sekali pun.”

“Kenapa?”

“Nggak tahu.” Dia membuka mata. “Zaman Bapak orang nggak ngomong gitu. Kalau ngomong gitu malah aneh.”

“Terus Bapak sayang?”

Dan Bapak berkata:

“Panji, kamu tahu Ibu kamu sakit berapa lama?”

“Delapan bulan.”

“Sembilan.” Dia mengangkat jarinya. “Sembilan bulan. Yang delapan bulan itu di rumah. Yang terakhir di rumah sakit.”

“Iya.”

“Selama sembilan bulan itu Bapak berangkat kerja jam lima pagi.” Dia bicara pelan, seperti orang yang membaca. “Bapak pulang jam empat. Terus Bapak ke rumah sakit sampai jam sepuluh. Terus pulang, tidur empat jam, berangkat lagi jam lima.”

Aku diam.

“Sembilan bulan, Panji. Tiap hari.”

“Aku inget.”

“Kamu nggak inget. Kamu sembilan tahun.”

“Aku inget Bapak nggak ada.”

Dan Bapak menoleh cepat.

Dan aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya, dan aku menyesal mengucapkannya, dan sudah terlambat.

“Iya,” katanya. “Bapak nggak ada.”


Dia berdiri dan pergi ke belakang dan tidak kembali selama mungkin tiga menit.

Waktu dia kembali dia membawa sesuatu.

Buku tulis. Sampul cokelat. Tebal, tua, sudutnya sudah bulat.

Dia menaruhnya di meja di depanku.

“Buka.”

Aku membukanya.

Halaman pertama: tanggal, lalu tulisan tangan Bapak yang besar dan miring.

3 Feb. Bubur ayam habis setengah. Muntah jam 2. Dokter bilang wajar.

4 Feb. Bubur habis. Tidak muntah. Tidur 6 jam.

5 Feb. Tidak mau makan. Bapak bawa nangka dari pasar, mau sedikit.

Aku membalik halaman.

11 Feb. Muntah dua kali. Berat turun 1 kg.

12 Feb. Minta dibukain jendela. Bapak bukain. Dingin tapi tidak apa-apa.

13 Feb. Nangka lagi.

Aku membalik lagi. Dan lagi.

Dua ratus tujuh puluh empat hari.

Tidak ada satu hari pun yang kosong.

Tidak ada satu kalimat pun tentang perasaan.

Berat badan. Jam tidur. Apa yang dimakan dan berapa banyak. Obat apa jam berapa. Kapan dokter datang. Apa yang dia minta.

Dan di halaman-halaman terakhir, tulisannya makin pendek dan makin sering.

Air 3 sendok.

Air 2 sendok.

Air.

Halaman terakhir ada tanggal dan tidak ada apa-apa lagi.


Aku menutup bukunya.

Aku tidak bisa bicara selama mungkin satu menit.

“Bapak nggak pernah bilang sayang,” kata Bapak. “Bapak nggak bisa. Sampai sekarang Bapak nggak bisa.”

“Pak—“

“Bapak nyatet nangka.”

Aku mengangkat wajah.

Dan orang tua itu duduk di kursinya dengan tangan di lutut dan berkata, dengan suara yang sepenuhnya rata:

“Sembilan bulan Bapak nyatet apa yang Ibu kamu mau makan. Karena kalau Bapak nggak nyatet, Bapak lupa. Dan kalau Bapak lupa, dia harus bilang dua kali.”

Dan di situ suaranya berhenti.

Cuma sebentar. Setengah detik. Dan datang terlambat, di ujung, di kata “dua kali”.

Aku mengenali bunyinya.

Aku sudah mendengar bunyi itu enam kali dalam empat minggu terakhir dari mulut orang lain.


“Pak.”

“Hm.”

“Itu namanya apa?”

Bapak melihat ke arah foto di dinding.

“Nggak ada namanya,” katanya. “Itu yang kamu lakuin.”

“Tapi orang punya kata.”

“Orang punya kata karena orang nggak punya sembilan bulan.” Dia mengambil bukunya kembali dan meletakkannya di pangkuan. “Kata itu buat orang yang belum sempet nunjukin. Biar ada yang bisa dikasih dulu.”

Aku duduk di kursi itu dan aku merasakan sesuatu terbuka.

Bukan pintu. Lebih seperti seseorang menyalakan lampu di ruangan yang selama ini aku kira kosong, dan ternyata ruangan itu penuh, dan aku cuma tidak pernah bisa melihat isinya.

“Jadi kalau aku nggak punya katanya—“

“Kamu punya,” kata Bapak.

“Aku nggak—“

“Panji.” Dia menoleh. “Kamu ke sini jam tujuh pagi hari Sabtu naik kereta dari Bekasi buat nanya sama Bapak yang dua puluh tahun nggak kamu ajak ngomong.”

Aku diam.

“Buat siapa?”

“Buat dia.”

“Nah.” Bapak menepuk buku tulis di pangkuannya. “Itu.”


Aku pulang jam sebelas.

Di pintu, Bapak berdiri dengan sarungnya.

“Panji.”

“Ya, Pak.”

“Namanya siapa?”

“Nindy.”

“Nindy.” Dia mengangguk. “Bawa ke sini kapan-kapan.”

“Iya.”

“Jangan lebaran.”

Aku berhenti.

“Kenapa jangan lebaran?”

“Karena kalau lebaran, Bapak tahu kamu dateng karena harus,” katanya. “Kalau bukan lebaran, Bapak tahu kamu dateng karena mau.”

Dan aku berdiri di gang itu dengan tas di bahu dan aku tidak bisa menjawab apa-apa selama beberapa detik.

“Pak.”

“Hm.”

“Bukunya.”

“Kenapa?”

“Boleh aku foto satu halaman?”

Bapak melihatku lama sekali.

“Buat apa?”

“Buat aku inget,” kataku. “Kalau nanti aku lupa lagi.”

Dan orang tua itu masuk ke dalam, dan keluar lagi dengan buku itu, dan membukanya di halaman yang dia pilih sendiri.

Bukan halaman terakhir.

5 Feb. Tidak mau makan. Bapak bawa nangka dari pasar, mau sedikit.

Aku memfotonya.

Dan waktu aku selesai, Bapak menutup bukunya dan berkata, tanpa memandangku:

“Nanti kalau kamu ngomong sama dia.”

“Iya?”

“Jangan pakai kata Bapak.”

“Terus pakai apa?”

Dan Bapak berkata:

“Pakai punya kamu. Kamu pasti udah punya. Kamu cuma belum pernah dengerin diri kamu sendiri.”


Di kereta pulang aku duduk di dekat jendela dan membuka foto itu berkali-kali.

Dan sekitar Cilebut, aku ingat sesuatu.

Aku ingat Gilang di mobil, empat minggu lalu, di lampu merah kedua.

Yang nomor tiga puluh satu aku nggak tahu jawabannya, jadi aku tulis apa yang biasa kamu bilang.

Dan aku ingat aku bertanya apa yang biasa aku bilang.

Dan Gilang keluar dari mobil tanpa menjawab.

Aku mengeluarkan ponselku.

Aku: Lang

Aku: Kuesioner nomor 31 itu pertanyaannya apa

Tiga titik muncul dalam empat detik.

Gilang: kenapa tiba tiba

Aku: Jawab aja

Gilang: bentar aku lupa

Gilang: aku masih simpen fotokopiannya

Lima menit.

Gilang: ketemu

Gilang: “Apa yang Anda lakukan ketika seseorang yang Anda pedulikan sedang kesulitan?”

Aku menatap layar.

Aku: Kamu jawab apa

Gilang: aku tulis apa yang kamu bilang waktu bapak aku masuk rumah sakit tahun 2019

Gilang: aku nelpon kamu jam 2 pagi dan kamu ngomong itu

Aku: Aku ngomong apa

Dan Gilang membalas:

Gilang: “Diam dulu. Nanya belakangan.”

Aku menutup mata di kursi kereta.

Dan aku tahu, di antara Cilebut dan Bojong Gede, apa yang akan aku katakan malam itu.

Aku sudah punya katanya.

Aku sudah punya sejak lama.

Aku cuma belum pernah mendengarkan diriku sendiri.