Chapter Thirty Six
Delapan dari Lima Puluh Enam
POV: Panji
Aku mencari Bu Ratih hari Sabtu.
Aku ingin mencatat bahwa ini adalah hal pertama yang aku lakukan dalam dua puluh delapan tahun tanpa ada satu orang pun yang menyuruh.
Bukan karena aku menyadarinya waktu itu. Aku baru menyadarinya di kereta.
Aku cuma bangun hari Sabtu pagi dan tahu bahwa aku harus bertanya sesuatu kepada seseorang, dan bahwa orangnya bukan Gilang, bukan Bapak, dan bukan Nindy.
Masalahnya: Bu Ratih sudah bilang dia tidak akan menjawab kalau dihubungi.
Aku mencoba nomornya. Tidak diangkat.
Aku mengirim pesan. Centang dua, tidak dibaca.
Aku ke gedung tempat programnya diadakan dan lantai duanya dikunci dan resepsionis di bawah bilang ruangannya disewa per acara dan penyewanya tidak meninggalkan kontak.
Aku berdiri di lobi gedung itu selama mungkin lima menit.
Lalu aku ingat sesuatu.
Malam pertama, waktu Bu Ratih menaruh mapnya di meja, aku melihat sampulnya. Aku selalu melihat hal-hal seperti itu dan aku selalu tidak tahu untuk apa.
Di sudut kanan bawah map itu ada stiker kecil. Logo, dan tulisan.
KOPERASI KARYAWAN DHARMA SEJAHTERA
Aku mencarinya di ponsel.
Alamatnya di Pasar Minggu. Bukan koperasi lagi — sekarang jadi kantor kecil yang menyewakan ruangan dan mengadakan pelatihan.
Aku naik KRL.
Kantornya di lantai satu ruko dengan pintu kaca yang stikernya sudah mengelupas.
Ada satu meja resepsionis kosong dan satu ruangan di belakang dengan pintu terbuka.
Dan di ruangan itu, seorang perempuan lima puluhan sedang duduk di depan komputer dengan kacamata baca dan blazer yang dicantelkan di sandaran kursi.
Aku mengetuk kusen pintu.
Bu Ratih menoleh.
Dan wajahnya menunjukkan sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya, yaitu kaget.
“Mas Panji.”
“Selamat siang, Bu.”
Dia melepas kacamatanya.
“Bagaimana Anda menemukan tempat ini?”
“Stiker di map Ibu.”
Bu Ratih diam beberapa detik.
“Malam pertama?”
“Iya, Bu.”
“Anda membaca stiker di map saya pada malam pertama dan mengingatnya selama lima minggu.”
“Iya.”
Dan Bu Ratih — yang selama empat minggu tidak pernah sekali pun menunjukkan ekspresi yang tidak dia rencanakan — menyandarkan punggungnya ke kursi dan tertawa.
Satu kali. Pendek.
“Duduk,” katanya.
Ruangannya sempit. Ada dua lemari arsip. Ada kalender tahun lalu yang belum diganti.
Dia menuang air dari teko ke gelas plastik dan menyodorkannya.
“Saya sudah bilang saya tidak akan menjawab kalau dihubungi,” katanya.
“Iya, Bu.”
“Anda tetap datang.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan aku berkata:
“Karena Ibu bilang nggak akan menjawab kalau dihubungi. Ibu nggak bilang nggak akan menjawab kalau didatangi.”
Bu Ratih menatapku lama sekali.
“Mas Panji,” katanya, “Anda ini orang yang sangat aneh.”
“Iya, Bu. Kata orang.”
“Silakan,” katanya. “Satu pertanyaan.”
“Delapan dari lima puluh enam.”
“Ya.”
“Ibu bilang delapan pasangan bertahan lebih dari setahun.”
“Ya.”
“Saya mau tahu bedanya.”
Bu Ratih menaruh gelasnya.
“Bedanya dengan yang empat puluh delapan?”
“Iya.”
“Kenapa Anda mau tahu?”
Dan aku berkata:
“Karena saya nggak punya pembanding, Bu.”
Aku menjelaskannya, karena dia menunggu, dan karena aku tidak bisa tidak menjelaskan.
Aku bilang bahwa aku dua puluh delapan tahun dan tidak pernah punya siapa-siapa. Bahwa ibuku meninggal waktu aku sembilan. Bahwa aku punya satu teman dan temanku yang menghampiri duluan. Bahwa selama empat minggu ini aku tidak pernah tahu apakah aku melakukan sesuatu karena aku mau atau karena diminta, dan bahwa aku sudah mengujinya di tangga darurat dan sudah menemukan bedanya dan bahwa jawabannya tetap tidak menolong.
Bu Ratih mendengarkan tanpa memotong.
Waktu aku selesai, dia diam mungkin sepuluh detik.
Lalu dia berdiri dan membuka lemari arsip.
Dia mengeluarkan map — bukan yang tebal, yang tipis — dan menaruhnya di meja.
“Ini bukan formulir kalian,” katanya. “Ini catatan saya. Empat belas angkatan.”
Dia membukanya.
Halaman-halaman berisi tulisan tangan. Nama, tanggal, dan di sebelahnya catatan pendek.
“Saya mengikuti semua pasangan selama setahun,” katanya. “Bukan menghubungi mereka. Menghitung. Saya punya cara sendiri.”
“Ibu bilang Ibu nggak ngurusin setelah penutupan.”
“Saya tidak mengurus,” katanya. “Saya mengamati. Itu berbeda.”
Dia membalik ke halaman terakhir.
“Delapan pasangan,” katanya. “Anda mau tahu apa persamaannya?”
“Iya, Bu.”
“Bukan skor kecocokan.”
Aku mengangkat wajah.
“Empat dari delapan itu punya skor di bawah rata-rata angkatannya,” katanya. “Satu pasangan punya skor terendah dalam sejarah program saya. Mereka sekarang punya dua anak.”
“Terus apa?”
Bu Ratih menutup mapnya.
Dan berkata:
“Setelah program selesai, ada satu orang yang menghubungi lebih dulu tanpa alasan.”
Aku duduk di kursi plastik itu.
“Cuma itu?”
“Cuma itu.”
“Bu, itu terlalu—“
“Sederhana?” Dia mengangkat alis. “Ya. Sangat sederhana. Itu sebabnya empat puluh delapan pasangan gagal.”
Dia menyandarkan punggungnya.
“Mas Panji, saya sudah melihat lima puluh enam pasangan berdiri di trotoar pada malam penutupan dan mengucapkan hal-hal yang indah.” Dia melipat tangannya. “Semuanya tulus. Saya percaya semuanya.”
“Terus?”
“Terus hari Senin mereka bangun dan pergi bekerja, dan hari Selasa mereka lembur, dan hari Rabu mereka lelah, dan hari Kamis salah satu dari mereka berpikir ‘nanti saja, besok’, dan hari Jumat sudah lima hari, dan lima hari itu terasa seperti terlalu lama untuk memulai.”
Aku tidak bergerak.
“Empat puluh delapan pasangan,” katanya. “Bukan karena mereka tidak suka. Karena tidak ada satu pun yang mau jadi orang yang menghubungi duluan.”
“Bu.”
“Ya.”
“Kalau salah satu dari mereka bilang dia nggak akan ngehubungin duluan lagi?”
Bu Ratih menoleh.
“Mbak Nindy bilang begitu?”
Aku tidak menjawab.
“Mas Panji, saya tidak bertanya untuk ikut campur.” Dia mengambil gelasnya. “Saya bertanya karena jawabannya mengubah nasihat saya.”
“…Iya, Bu. Dia bilang begitu.”
“Kenapa?”
“Karena dia yang mulai duluan semua hal selama empat minggu.”
“Dan dia lelah.”
“Iya.”
Bu Ratih mengangguk pelan.
“Kalau begitu,” katanya, “posisi Anda justru jauh lebih baik dari empat puluh delapan pasangan itu.”
Aku mengangkat wajah.
“Kenapa, Bu?”
Dan Bu Ratih berkata:
“Karena mereka tidak tahu siapa yang harus mulai. Anda tahu.”
Aku duduk di ruangan itu dan aku merasakan sesuatu berpindah tempat di dalam kepalaku.
“Bu.”
“Ya.”
“Saya takut kalau saya dateng, itu cuma nurut.”
“Nurut kepada siapa?”
Aku membuka mulut.
Dan berhenti.
“Mas Panji,” kata Bu Ratih. “Dia melarang Anda datang, atau menyuruh Anda datang?”
“…Nggak dua-duanya.”
“Dia bilang apa persisnya?”
Aku mengingatnya. Aku mengingat semuanya. Aku selalu mengingat semuanya.
“Dia bilang dia nggak akan minta apa-apa lagi,” kataku. “Nggak nanya, nggak nyuruh, nggak ngasih kode.”
“Dan?”
“Dan dia bilang ‘Rabu itu bukan tanggal, itu contoh’.”
Bu Ratih menaruh gelasnya dengan bunyi kecil.
“Mas Panji.”
“Ya, Bu.”
“Perempuan itu menghapus semua instruksi dari ruangan,” katanya. “Semuanya. Sampai bersih.”
“Iya.”
“Sehingga apa pun yang Anda lakukan setelah itu, tidak ada satu orang pun di dunia — termasuk Anda sendiri — yang bisa menyebutnya menurut.”
Dan aku duduk di kursi plastik di kantor koperasi bekas di Pasar Minggu, dan untuk pertama kalinya dalam enam hari, aku bisa bernapas dengan benar.
“Bu.”
“Ya.”
“Dia ngasih saya jalan.”
“Ya,” kata Bu Ratih. “Dan dia melakukannya dengan cara yang paling mahal, karena dia tidak boleh memberitahu Anda bahwa itu jalan.”
Aku berdiri jam tiga.
“Bu, makasih.”
“Sama-sama.”
“Maaf udah nyari-nyari.”
“Tidak apa-apa.” Dia memakai kacamatanya lagi dan menghadap komputer. “Mas Panji.”
“Ya?”
“Satu hal lagi, dan ini bukan bagian dari program.”
Aku menunggu.
“Anda mengingat stiker di map saya selama lima minggu,” katanya, tanpa menoleh. “Anda naik kereta ke Pasar Minggu hari Sabtu untuk bertanya kepada seorang perempuan lima puluh empat tahun yang sudah bilang tidak akan menjawab.”
“Iya.”
“Tidak ada satu orang pun yang menyuruh Anda melakukan itu.”
Aku berdiri di ambang pintu.
Dan Bu Ratih menoleh, dan melepas kacamatanya lagi, dan berkata:
“Anda sudah mulai duluan, Mas Panji. Anda cuma mulai ke orang yang salah.”
Di kereta pulang aku duduk di dekat pintu dan aku membuka aplikasi catatan.
Aku menghapus dua baris yang aku tulis di tangga darurat.
Dan aku mengetik satu baris baru:
Rabu. Jam 8. Tanpa alasan.
Dan lalu aku menghapusnya juga.
Karena kalau aku menulisnya, itu jadi tugas.
Dan aku duduk di kereta dari Pasar Minggu ke Manggarai dengan ponsel yang layarnya sudah mati dan tidak ada satu pun catatan di dalamnya, dan aku mengingatnya.
Aku selalu mengingat semuanya.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam reading
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15