Chapter Five
Setengah Detik
POV: Panji
Hari Jumat aku datang ke apotek jam tujuh lewat, bukan karena diminta, tapi karena aku lewat.
Itu bohong. Aku tidak lewat. Apotek itu tiga koma enam kilometer dari rumahku ke arah yang berlawanan dengan semua tempat yang biasa aku datangi. Tapi aku sudah bilang ke diri sendiri bahwa aku lewat, dan waktu itu aku belum punya alasan untuk memeriksa apakah itu benar.
Dari luar, lewat kaca, apotek itu terang sekali. Lampu putih, rak-rak lurus, lantai yang memantul.
Dan Nindy di belakang konter, sedang bicara dengan seorang ibu-ibu yang membawa anak.
Aku berdiri di luar dan menonton mungkin dua menit sebelum masuk, dan itu dua menit yang mengubah cara aku melihat dia.
Karena Nindy yang di dalam sana bukan Nindy yang di bangku taman.
Punggungnya lurus. Wajahnya terbuka. Dia mengangguk di tempat yang tepat, dia mengulang kalimat si ibu dengan kata-katanya sendiri supaya si ibu tahu dia didengar, dia jongkok sedikit supaya sejajar dengan anaknya waktu bicara ke anak itu. Tangannya bergerak menjelaskan dosis, tiga kali sehari, sesudah makan, jangan digabung sama yang ini.
Dia bagus. Bagus sekali. Bagus dengan cara yang tidak bisa dipalsukan.
Dan sepanjang dua menit itu, tidak satu kali pun wajahnya berhenti bekerja.
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya selain begitu. Waktu dia tersenyum, senyumnya dipasang. Waktu dia mengangguk, anggukannya dipasang. Semuanya benar, semuanya tepat, dan semuanya dikerjakan.
Si ibu pergi. Nindy mengetik sesuatu di komputer.
Lalu — selama mungkin tiga detik, sendirian, sebelum pelanggan berikutnya masuk — wajahnya berhenti.
Semuanya turun sekaligus. Bahu, alis, sudut mulut. Bukan sedih. Cuma dimatikan.
Lalu pintu berbunyi karena aku masuk, dan semuanya menyala lagi dalam setengah detik.
“Mas Panji?”
“Halo.”
“Ngapain?”
“Lewat.”
“Bohong.”
“Iya,” kataku.
Dia mengerjap. “Kamu ngaku secepet itu?”
“Kamu bilang bohong. Emang bohong.”
“Orang biasanya ngeles dulu.”
“Aku bukan—“
“Iya iya, kamu bukan orang biasanya.” Dia melambaikan tangan. “Tunggu, lima belas menit lagi tutup. Duduk situ.”
Dia menunjuk kursi plastik di dekat timbangan badan.
Aku duduk di kursi plastik di dekat timbangan badan.
Dua pelanggan lagi masuk. Aku menonton dua-duanya.
Yang pertama laki-laki tua yang menanyakan hal yang jelas-jelas sudah dia tanyakan sebelumnya, karena Nindy menjawab tanpa melihat kemasan. Yang kedua perempuan muda yang bicara sangat pelan sambil melirik ke arahku, dan Nindy langsung berkata, “Mas, tolong ke rak sebelah sana bentar,” tanpa penjelasan.
Aku pergi ke rak sebelah sana.
Aku berdiri di depan rak vitamin dan tidak melihat apa pun selama tiga menit, dan waktu perempuan itu pergi, Nindy tidak menjelaskan dan aku tidak bertanya.
“Makasih,” katanya.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu nggak nanya.”
“Bukan urusanku.”
Dia diam sebentar sambil mematikan komputer.
“Kamu tahu nggak berapa banyak orang yang nanya ‘kenapa sih’?”
“Nggak.”
“Semua,” katanya. “Semua orang yang pernah nungguin aku di sini.”
Jam delapan lewat dia menarik rolling door dan aku tidak membantu, karena minggu lalu dia bilang bisa sendiri dan aku percaya, dan dia melakukannya sendiri dan setelah itu melirik ke arahku dengan ekspresi yang tidak aku mengerti sama sekali.
“Kamu nggak bantuin?”
“Kamu bilang bisa sendiri.”
“Iya.”
“Jadi aku nggak bantuin.”
Dia menatapku selama tiga detik penuh.
“Kamu ngeselin, ya.”
“Kenapa?”
“Nggak tahu. Ngeselin aja.”
Kami jalan ke arah yang sama seperti Selasa tanpa membicarakan bahwa kami jalan ke arah yang sama seperti Selasa.
Malam itu dia banyak bicara. Lebih banyak dari dua pertemuan sebelumnya digabung. Dia bercerita tentang sistem stok yang error dan menampilkan angka minus dua ribu untuk salep kulit. Tentang rekan kerjanya yang bernama Wulan yang sedang dalam minggu ketiga tergila-gila pada kurir. Tentang seorang bapak yang tiap bulan datang membeli obat istrinya dan selalu membawa dua permen untuk siapa pun yang melayani.
“Terus bulan lalu dia dateng sendiri,” kata Nindy, “dan permennya cuma satu.”
Aku menoleh.
“Kenapa cuma satu?”
“Ya karena—“ Dia mengibaskan tangan. “Ya gitu, lah.”
“Istrinya?”
“Iya.”
“Oh.”
“Terus dia masih tetep beli obatnya, dua bulan,” katanya. Ringan. Dengan nada orang yang sedang bercerita lucu. “Aku nggak berani bilang. Kasihan. Terus bulan ini dia nggak dateng, dan aku nggak tahu itu bagus atau enggak.”
Dia tertawa di akhir kalimat.
Tawanya bagus. Pas panjangnya, pas suaranya, dan berhenti di tempat yang tepat.
Kecuali di ujungnya.
Di setengah detik terakhir, ada nada yang turun. Tidak jatuh. Turun. Seperti sesuatu yang datang terlambat dan tidak sempat ikut.
Aku berhenti jalan.
Aku sedang mengucapkan sesuatu — aku bahkan tidak ingat apa, sesuatu tentang bapak itu — dan aku berhenti di tengah kata, di trotoar, di antara dua warung yang masih buka.
Nindy jalan dua langkah lagi sebelum sadar aku tidak ikut.
“Kenapa?”
Aku berdiri di situ.
Dan di kepalaku yang terjadi persis seperti yang terjadi di ruang panel. Bukan “ada sesuatu yang aneh.” Bukan firasat. Yang terjadi adalah: detik ketiga, pahit, logam, batch tujuh. Sebuah nada yang datang terlambat, di belakang, setelah manisnya turun.
Aku sudah dengar ini tiga kali.
Senin malam, waktu dia bilang “Iya” soal semua orang yang beli obat di dia.
Sabtu siang, waktu dia bilang “kalau lagi rajin.”
Dan sekarang.
“Panji?”
“Kamu kenapa?” kataku.
Nindy mengerjap. “Hah?”
“Ceritanya lucu.” Aku menunjuk ke arah umum antara kami. “Kamu ketawa. Terus di ujungnya suara kamu turun.”
“…Apa?”
“Setengah detik terakhir. Nadanya turun.” Aku mencari cara mengatakannya. “Ini ketiga kalinya. Yang pertama hari Senin, yang kedua Sabtu.”
Nindy tidak bergerak.
Ada motor lewat. Ada orang menggoreng sesuatu di warung sebelah kiri. Ada anjing menggonggong dua blok jauhnya.
“Kamu ngitung?” katanya.
“Nggak ngitung. Aku inget.”
“Kamu inget nada suara aku.”
“Iya.”
“Dari hari Senin.”
“Iya.”
Dia membuka mulut. Menutupnya.
Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak aku duga sama sekali: dia mundur satu langkah dan duduk di trotoar.
Bukan jongkok. Duduk. Di trotoar, di depan warung, masih pakai seragam apotek.
“Nindy—“
“Bentar.” Suaranya serak. “Bentar, ya. Bentar.”
Aku duduk juga.
Kami duduk berdampingan di trotoar dengan kaki di selokan yang untungnya kering, dan aku tidak bicara karena tidak ada yang perlu aku bicarakan.
“Bapak itu,” katanya akhirnya. “Namanya Pak Sutan.”
“Oke.”
“Aku tahu istrinya meninggal dari bulan Maret. Dari sistem. Kartunya nggak diperpanjang.” Dia menatap lurus ke depan. “Dan aku tetep jual obatnya dua bulan, Panji. Aku tetep jual. Aku tahu obat itu buat orang yang udah nggak ada dan aku tetep ngasih karena aku nggak tahu gimana caranya nggak ngasih.”
“Iya.”
“Terus bulan ini dia nggak dateng dan aku—“ Suaranya pecah, cuma sedikit, di satu kata. “Aku lega. Aku lega, dan aku ngerasa jahat banget karena lega.”
Aku diam.
“Kamu nggak mau bilang apa-apa?” katanya.
“Aku mau.”
“Ya bilang.”
“Nanti.”
Dia menoleh. “Kenapa nanti?”
“Karena kalau aku ngomong sekarang, aku ngambil giliran kamu.”
Nindy menatapku.
Matanya basah dan tidak jatuh, dan dia mengusapnya dengan pergelangan tangan sekali, kasar, seperti orang yang kesal pada matanya sendiri.
“Nggak ada yang pernah bilang gitu ke aku,” katanya.
“Bilang apa?”
“‘Nanti.’” Dia menarik napas panjang. “Semua orang langsung ngomong. Langsung nasihatin. Langsung bilang ‘yaudah nggak apa-apa’ padahal mereka belum tahu apanya.”
“Aku belum tahu apanya.”
“Iya. Makanya.”
Dia menyandarkan punggung ke tembok warung.
“Lanjut,” katanya. “Aku udah selesai.”
Jadi aku mengambil giliranku, dan yang aku katakan hanya ini:
“Pak Sutan tahu.”
Nindy menoleh cepat.
“Orang yang beli obat buat istrinya yang udah meninggal itu bukan nggak tahu istrinya meninggal,” kataku. “Dia tahu. Dia cuma belum bisa berhenti. Dan dia berhenti bulan ini.”
Nindy tidak bicara selama sepuluh detik penuh.
“Berarti dia baik-baik aja?”
“Aku nggak tahu. Aku nggak kenal.”
“Kamu nggak mau bohong bentar?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena kamu bakal tahu.”
Dia menutup mata dan menyandarkan kepala ke tembok, dan tertawa sekali, pelan, dan yang ini nadanya tidak turun sama sekali di ujungnya.
Aku mendengarnya dan aku tahu.
Aku duduk di trotoar depan warung nasi goreng dan aku tahu dengan cara yang sama seperti aku tahu batch tujuh salah: bukan karena aku menebak, tapi karena datanya sudah lengkap dan tinggal disebutkan.
Aku tidak menyebutkannya.
Belum ada kata yang aku punya untuk itu.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik reading
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15