Chapter Seven
Tiga Jam
POV: Panji
Gilang datang ke kontrakanku hari Kamis malam tanpa diundang, membawa dua bungkus nasi goreng dan sebuah rencana.
“Aku udah mikirin ini semaleman,” katanya, sambil melepas sepatu tanpa membuka talinya, yang selalu dia lakukan dan selalu membuat sepatunya rusak dalam tiga bulan.
“Mikirin apa.”
“Kamu.”
“Aku nggak minta dipikirin.”
“Justru itu masalahnya.” Dia duduk di lantai dan membuka bungkusnya. “Panji. Kita udah dua minggu. Dua minggu dari empat. Setengah, Panji. Setengah.”
“Belum setengah. Baru sebelas hari.”
“Jangan dihitung!”
“Kamu yang mulai ngitung.”
“Aku ngitung buat efek dramatis, kamu ngitung buat—“ Dia melambaikan sendok. “Buat apa sih kamu ngitung?”
“Buat tahu.”
Gilang menutup mata sebentar seperti orang yang sedang menahan sakit kepala.
“Oke. Dengerin.” Dia menaruh sendoknya. “Aku bikin daftar.”
“Daftar apa.”
Dia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi catatan, dan berdeham seperti orang yang mau membaca sambutan.
“Satu. Jangan bales chat langsung. Tunggu minimal tiga jam.”
“Kenapa?”
“Biar kelihatan sibuk.”
“Aku emang sibuk.”
“Ya makanya!”
“Tapi kalau aku lagi nggak sibuk pas dia chat, aku bales.”
“ITU YANG SALAH.”
Aku mengunyah.
“Dua. Jangan terlalu baik. Cewek itu nggak suka yang terlalu baik. Harus ada bumbunya. Kadang cuek dikit.”
“Kenapa aku harus cuek.”
“Biar dia mikirin kamu.”
“Kalau aku cuek dia mikirin aku?”
“Iya!”
“Kayaknya kalau aku cuek dia mikirin orang lain.”
Gilang membuka mulut, menutupnya, lalu melanjutkan ke nomor tiga tanpa membahas.
“Tiga. Jangan cerita soal kerjaan kamu.”
Aku berhenti mengunyah.
“Kenapa?”
“Panji.” Dia menaruh ponselnya dan menatapku dengan mata yang sangat serius. “Kamu tuh kalau udah cerita soal wafer, kamu bisa empat puluh menit. Aku pernah ngitung. Empat puluh menit, Panji, soal ketebalan lapisan.”
“Itu penting.”
“BUAT KAMU.”
“Iya, buat aku.”
“Nah!” Dia menunjuk. “Nah! Itu! Itu yang harus kamu—“
Ponselku bergetar di lantai.
Aku mengambilnya.
Nindy: Mas
Nindy: Yang wafer merah masih ada?
Aku mengetik.
Aku: Ada. Kenapa
Nindy: Wulan nagih. Katanya enak
Nindy: Padahal itu yang gagal
Aku: Semua yang aku kasih gagal
Nindy: IYA AKU TAHU
Nindy: Bawain lagi dong
Aku: Besok?
Nindy: Boleh
Aku menaruh ponsel.
Gilang sedang menatapku dengan wajah orang yang baru saja melihat kecelakaan.
“Kamu bales.”
“Iya.”
“Berapa detik itu tadi.”
“Nggak tahu.”
“Panji.” Suaranya naik satu oktaf. “Delapan detik. Delapan. Detik.”
“Dia nanya wafer.”
“NGGAK PENTING DIA NANYA APA—“
“Kalau aku diemin tiga jam, dia mikir aku nggak punya waferya. Terus dia nggak jadi nagih. Terus Wulan nggak dapet.” Aku mengambil sendok lagi. “Kenapa itu bagus?”
“Karena—“
Gilang berhenti.
Dia duduk di situ dengan mulut setengah terbuka selama mungkin empat detik.
“Karena secara psikologis,” katanya akhirnya, jauh lebih pelan, “ketersediaan yang terlalu tinggi menurunkan nilai persepsi.”
“Kamu baca itu di mana.”
“Utas.”
“Utas apa.”
“Utas tentang penjualan.”
“Kamu pakai teknik jualan buat pacaran?”
“YA SAMA AJA!”
“Nggak sama.”
“Sama, Panji! Kamu punya produk, kamu punya pasar—“
“Nindy bukan pasar.”
Gilang menutup mulut.
Kali ini agak lama.
“Ya bukan pasar,” katanya. “Aku cuma—“
“Aku ngerti maksud kamu.” Aku menghabiskan nasiku. “Tapi aku nggak bisa. Aku nggak bisa mikir orang kayak gitu. Aku bakal salah terus.”
Dia menginap, karena selalu begitu, karena kontrakanku dekat kantornya dan Gilang tidak pernah menolak sesuatu yang gratis.
Jam sebelas dia sudah tiduran di lantai dengan bantal sofa, main ponsel, sambil sesekali menghela napas keras supaya aku bertanya.
Aku tidak bertanya.
“Panji.”
“Hm.”
“Talita itu ngeselin banget, ya.”
“Hm.”
“Serius. Ngeselin. Dari kemarin dia balesin semua chat aku pakai satu kata. Satu kata, Panji.” Dia mengangkat ponselnya. “Aku chat panjang, dia bales ‘ok’. Aku chat panjang lagi, dia bales ‘wow’. WOW. Apa maksudnya wow?”
“Berapa lama dia balesnya?”
Gilang diam.
“…Cepet,” katanya.
“Berapa cepet.”
“Nggak sampai semenit.”
“Terus kamu balesnya berapa lama?”
Gilang meletakkan ponselnya di dada dan menatap langit-langit.
“Tiga jam,” katanya.
Aku tidak berkata apa-apa.
“Diem kamu.”
“Aku diem.”
“Diem kamu yang itu lebih parah daripada ngomong.”
Dua belas lewat, waktu aku sudah setengah tidur, Gilang bicara lagi dari lantai.
“Panj.”
“Hm.”
“Kamu marah nggak sama aku?”
Aku membuka mata.
“Soal apa?”
“Soal daftarin kamu.”
Aku memikirkannya dengan serius, karena dia bertanya dengan serius, dan karena Gilang jarang bertanya dengan serius dan kalau dia melakukannya biasanya sudah tiga hari dia pikirkan.
“Enggak,” kataku.
“Beneran?”
“Beneran.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kamu nanya duluan aku bakal bilang nggak,” kataku, “dan sekarang aku nggak mau nggak.”
Hening.
“Panji.”
“Apa.”
“Itu kalimat paling bagus yang pernah kamu ucapin dan kamu ngucapinnya ke aku.” Suaranya penuh keluhan. “Ke aku, Panji. Di lantai. Jam dua belas.”
“Kamu yang nanya.”
“Simpen buat dia, dong.”
“Aku nggak nyimpen kalimat.”
“Nah itu masalah kamu yang keempat—“
“Lang.”
“Apa.”
“Vira itu kamu kenal dari mana?”
Dia diam sebentar.
“Sepupuku,” katanya. “Vira itu temen kantor sepupuku. Dia yang tahu soal acara Bu Ratih duluan, terus dia yang ngajakin aku.”
Aku membuka mata lagi.
“Dia yang ngajakin kamu?”
“Iya. Kenapa?”
“Nggak apa-apa.” Aku memutar badan menghadap dinding. “Aku kira kamu yang nyari.”
“Ya kalau aku yang nyari mana mungkin aku milih yang panitianya galak.”
Itu masuk akal.
Aku menutup mata dan tidur, dan aku tidak memikirkan hal itu lagi selama dua puluh dua hari.
Paginya aku bangun dan ada dua pesan dari Nindy dari jam setengah enam.
Nindy: Aku shift pagi
Nindy: Kalau kamu bawa waferya jangan pagi, aku nggak sempet
Aku membalas jam enam kurang.
Aku: Sore aja. Aku tungguin
Gilang, yang bangun karena bunyi notifikasi, mengintip dari lantai dengan satu mata.
“Jam berapa itu?”
“Enam kurang.”
“Kamu bales jam enam kurang?”
“Iya.”
Dia mengerang dan menutup wajahnya dengan bantal sofa.
Dari dalam bantal, teredam, dia berkata:
“Kalau ini berhasil aku bakal ngamuk.”
Ponselku bergetar lagi.
Nindy: ya udah
Lalu, empat detik kemudian:
Nindy: makasih ya udah bangun pagi
Lalu, sebelas detik kemudian:
Nindy: bukan makasih yang gimana-gimana
Lalu, dua detik kemudian:
Nindy: lupain
Aku membaca ketiganya dua kali.
Aku tidak mengerti kenapa yang kedua perlu dikoreksi oleh yang ketiga, dan aku tidak mengerti kenapa yang ketiga perlu ditarik oleh yang keempat.
Tapi aku mengerti satu hal, dan aku menyimpannya seperti aku menyimpan tahi lalat itu, tanpa tahu untuk apa:
Dia mengetik tiga kali untuk menghapus satu kalimat, dan tidak satu pun dari ketiganya berhasil menghapusnya.
“Lang.”
“Apa.” Masih dari bawah bantal.
“Kalau orang bilang ‘lupain’, itu artinya apa?”
Gilang mengangkat bantal dari wajahnya.
Dia melihatku selama beberapa detik dengan ekspresi yang tidak pernah aku lihat di wajahnya sebelumnya — bukan geli, bukan kesal. Sesuatu yang lebih mirip iri.
“Artinya jangan lupain,” katanya.
“Oh.”
“Panji.”
“Hm.”
“Jangan lupain.”
“Iya.”
Dia menaruh bantalnya kembali di wajahnya.
“Aku bakal ngamuk,” katanya lagi, teredam. “Aku bakal ngamuk banget.”
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam reading
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15