Chapter Forty
Extra 5 — Sebelas Lantai
POV: Bima
Jarak antara lantai tujuh dan lantai delapan belas adalah sebelas lantai.
Empat puluh empat meter, kalau satu lantai empat meter. Dua puluh tiga detik dengan lift nomor tiga, kalau tidak berhenti di lantai mana pun. Dua ratus enam puluh empat anak tangga di tangga darurat, kalau lift sedang ramai. Aku menghitungnya dua tahun lalu, waktu pertama kali disuruh mengantar berkas ke ruang CFO, dan aku tidak pernah lupa.
Selama dua tahun, sebelas lantai itu terasa seperti jarak antara Purwokerto dan bulan.
Hari Senin, dua minggu setelah akad nikah, sebelas lantai itu terasa jauh lebih jauh.
Pak Rahmat mengantar kami pukul tujuh kurang lima belas.
Kami duduk di kursi belakang mobil putih itu, berdua, seperti di malam pernikahan. Bedanya, pagi ini Renata memakai blazer.
Blazer abu-abu arang dengan potongan yang tajam di bahu, kemeja sutra putih di dalamnya, rok pensil abu-abu yang sama, dan heels hitam sembilan senti yang membuatnya, kalau berdiri, sedikit lebih tinggi dariku. Rambutnya disanggul rendah di tengkuk, rapi, tanpa satu helai pun yang lepas. Bibirnya merah bata. Anting mutiara. Jam tangan kulit hitam.
CFO Wiraguna Group. Perempuan yang hari ini, pukul sepuluh, akan berdiri di ruang rapat dewan lantai dua puluh dan menerima penunjukan sebagai Pelaksana Tugas Direktur Utama.
Aku tidak bisa berhenti menatapnya.
Lima hari aku melihatnya dengan kaus abu-abuku yang pudar. Dengan kemeja Kamisku. Dengan gaun satin merah bata yang membuatku mimisan dua kali. Dengan tidak memakai apa pun, di bawah kelambu putih, di sofa rotan di depan hujan. Lima hari aku melihatnya merajuk, tertawa, menangis, cemburu pada instruktur selancar, dan menolak membiarkanku menggerakkan kaki.
Dan sekarang ia duduk di sebelahku dengan blazer abu-abu arang dan wajah yang sangat tenang, membaca laporan di tabletnya, dan ia terlihat seperti orang yang tidak pernah merajuk sekali pun seumur hidupnya.
“Kamu ngelihatin aku,” katanya, tanpa mengangkat mata dari tablet.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Aku lagi nyocokin data.”
“Data apa?”
“Kamu yang ini,” kataku, “sama kamu yang kemarin minta digendong ke kolam.”
Tangannya berhenti menggeser layar tablet. Di kaca spion, aku melihat sudut mata Pak Rahmat berkerut.
Renata mengangkat kepala. Ia menatapku dengan wajah CFO. Dingin. Tajam. Wajah yang dulu membuatku tidak bisa bernapas di ruangannya.
Lalu, di bawah tablet, tanpa mengubah wajahnya sedikit pun, ia meletakkan tangannya di pahaku. Dan meremasnya.
“Datanya cocok?” tanyanya.
Aku menelan ludah. “Cocok.”
“Bagus.” Ia kembali ke tabletnya. Tangannya tidak pindah dari pahaku sampai mobil berhenti di lobi Wiraguna Tower.
Kami turun dari mobil secara terpisah.
Itu keputusan kami berdua, yang kami bicarakan semalam di ranjang di Kebayoran Baru, dengan lampu tidur kuning dan kepalanya di dadaku. Pasal 7 Kode Etik sedang direvisi. Belum disahkan. Sampai disahkan, di kantor kami adalah CFO dan staf yang sekarang ada di bawah Financial Controller. Tidak ada yang disembunyikan, karena seluruh gedung sudah tahu, dua ribu orang membaca surel lamaranku. Tapi tidak ada yang dipamerkan juga.
Profesional, katanya semalam. Di kantor kita profesional.
Iya, kataku.
Kamu sanggup?
Aku sanggup. Kamu?
Ia tidak menjawab. Ia hanya tertawa di dadaku, dan aku tidak tahu artinya.
Sekarang aku tahu.
Renata turun lebih dulu, berjalan masuk ke lobi dengan heels sembilan senti yang berbunyi di lantai marmer, dan seluruh lobi menoleh. Mas Yanto di meja satpam berdiri tegak dan memberi hormat dua jari di pelipis. Mbak resepsionis menjatuhkan pulpennya. Dua staf Procurement yang sedang mengantre di depan lift berhenti mengobrol.
Aku turun tiga puluh detik kemudian. Mas Yanto memberi hormat dua jari di pelipis lagi, kali ini kepadaku, dengan senyum yang sangat lebar.
“Pangeran Lem Sepatu,” katanya. “Pulang bulan madu. Gimana, Mas?”
“Baik, Mas.”
“Baik aja?”
“Baik banget, Mas.”
Mas Yanto tertawa. “Bulik Sumi udah cerita di grup. Katanya Mas Bima telepon tiap malam, suaranya kayak orang habis lari maraton.”
Telingaku panas.
Lift nomor tiga terbuka. Renata sudah di dalam, sendirian, berdiri di pojok dengan tablet di dada. Ia tidak menoleh ke arahku.
Aku masuk. Pintu tertutup.
Dua puluh tiga detik.
Lift itu naik. Lantai dua. Lantai tiga. Renata menatap angka di atas pintu. Aku menatap angka di atas pintu. Tidak ada yang bicara. Profesional.
Lantai lima.
Lalu, tanpa menoleh, tanpa menggerakkan wajahnya sedikit pun, ia bergeser satu langkah ke kiri. Ke arahku. Sampai bahunya menyentuh lenganku.
Lantai enam.
Ia berbisik, masih menatap angka di atas pintu:
“Kangen.”
Aku menoleh kepadanya. “Ren. Kita baru turun dari mobil dua menit lalu.”
“Terus kenapa?”
Ding. Lantai tujuh. Pintu terbuka.
Ia melangkah mundur satu langkah, kembali ke pojok, dengan wajah CFO yang sempurna.
“Selamat pagi, Bima,” katanya dengan suara datar. “Semoga harimu produktif.”
Aku keluar dari lift dengan telinga merah.
Pintu menutup di belakangku.
Pesan pertama datang pukul delapan lewat tujuh menit.
Aku baru saja duduk di mejaku di lantai tujuh. Meja yang sama. Kursi yang sama, yang sekarang sudah diganti dengan kursi baru oleh Dodi sebagai hadiah pernikahan, biar lo nggak ketiduran lagi pake blazer orang. Monitor yang sama. Tumpukan faktur yang sama, yang sudah menumpuk dua minggu.
Renata: Kursi aku dingin.
Aku menatap pesan itu.
Bima: Nyalain penghangat?
Renata: Enggak ada penghangat di kursi direksi, Bim.
Renata: Maksudnya kursi aku dingin karena enggak ada kamu di sebelahnya.
Aku meletakkan ponselku menghadap ke bawah. Aku membuka faktur pertama. PT Cahaya Logistik Nusantara. Nomor faktur pajak 010.004-27.00891245.
Ponselku bergetar.
Renata: Kamu enggak bales.
Bima: Aku lagi kerja, Ren. Faktur dua minggu.
Renata: Aku juga lagi kerja. Laporan konsolidasi Q4. Delapan puluh tiga halaman.
Renata: Tapi aku masih sempet kangen.
Bima: Aku juga kangen.
Renata: Berapa persen?
Bima: Kamu tahu jawabannya.
Renata: Aku mau denger.
Bima: 100%. Dari lantai enam.
Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.
Renata: Bagus. Sekarang kerja yang bener. Jangan main HP.
Aku menatap pesan itu. Lalu aku menatap ponselku. Lalu aku menatap langit-langit, ke arah lantai delapan belas, sebelas lantai di atasku.
Dodi, di meja sebelah, memutar kursinya dengan sangat lambat ke arahku.
“Bim,” katanya.
“Apa?”
“Lo senyum-senyum sendiri sama HP. Dari tadi. Kayak orang gila.”
“Nggak.”
“Bim. Gue duduk di sebelah lo dua tahun empat bulan. Lo nggak pernah senyum-senyum sama HP. Lo bahkan nggak pernah senyum-senyum sama faktur, padahal lo cinta mati sama faktur.”
Ponselku bergetar lagi. Aku menutup layarnya dengan tangan.
Dodi menyipitkan mata.
Pukul sembilan lewat dua belas.
Renata: Rapat persiapan RUPS. Pak Ruslan presentasi. Aku enggak denger satu kata pun.
Bima: Kenapa?
Renata: Aku mikirin tangga ke-127 di Uluwatu.
Aku meletakkan ponsel menghadap ke bawah lagi. Faktur kedua belas. Telingaku merah.
Pukul sepuluh lewat empat puluh.
Renata: Udah dilantik. Plt Dirut.
Bima: Selamat, Ren. Aku bangga.
Renata: Ibu Laksmi pidato. Mama Lies dateng. Semua tepuk tangan.
Renata: Aku cuma mikir satu hal.
Bima: Apa?
Renata: Pengin pulang. Pengin dipeluk.
Aku menatap pesan itu lama. Perempuan yang baru saja dilantik menjadi pemimpin tertinggi sebuah perusahaan dengan dua ribu karyawan, di depan dewan komisaris, di depan ibu mertuanya, dengan tepuk tangan seluruh ruangan, mengetik di ponselnya bahwa ia ingin pulang dan dipeluk.
Bima: Nanti malam. Lama.
Renata: Janji?
Bima: Janji. Aku nggak pernah bohong.
Renata: Kecuali soal kenyang.
Bima: Kecuali soal kenyang.
Pukul sebelas, Pak Darto memanggilku ke ruang kacanya.
Ia menawarkan posisi supervisor. Tim AP dua belas orang. Kenaikan gaji dua puluh persen. Ruangan kecil sendiri di pojok lantai tujuh, dengan jendela.
Aku menolak.
Aku menolaknya di depan seluruh tim AP, karena Pak Darto lupa menutup pintu ruang kacanya, dan seluruh tim AP sudah berdiri di luar pintu itu sejak aku masuk. Aku menolaknya dengan telinga merah, dengan suara yang terlalu keras karena gugup, dan dengan kalimat yang kemudian dikutip Dodi di grup Lantai 7 Tim Hore selama tiga hari:
“Saya nggak mau ada satu orang pun di gedung ini yang mikir jabatan saya naik gara-gara istri saya, Pak. Kalau saya naik, saya mau naik karena faktur.”
Pak Darto menatapku lama. Lalu ia tersenyum di balik kumisnya.
“Kamu tahu, Bima,” katanya, “itu justru alasan yang paling bagus buat naikin kamu.”
Aku tidak mengerti maksudnya waktu itu. Aku baru mengerti seminggu kemudian.
Aku kembali ke mejaku. Ponselku bergetar.
Renata: Pak Darto bilang kamu nolak.
Bima: Iya. Kok kamu tahu?
Renata: Pak Darto langsung WA aku. Katanya, “Bu, suami Ibu keras kepala.”
Renata: Aku bales, “Saya tahu, Pak. Makanya saya nikahin.”
Aku tertawa sendiri. Keras. Dodi memutar kursinya lagi.
Pukul dua belas lewat lima belas, Dodi melihat ponselku.
Aku tidak sengaja meninggalkannya terbuka. Aku hanya pergi ke dispenser di pantry untuk mengisi botol minum, tiga puluh detik, dan ketika aku kembali, Dodi sedang berdiri di depan mejaku, menatap layar ponselku yang menyala dengan wajah orang yang baru saja melihat hantu.
“Dod.”
Ia tidak menjawab. Ia menunjuk layar itu dengan jari gemetar.
Aku menatap layarnya. Pesan terbaru dari Renata, yang masuk ketika aku di pantry:
Renata: Makan siang sendirian di ruangan. Salad. Enggak enak. Enggak ada kamu yang tiup.
Renata: Mas, aku kangen. Kangen banget. Kangen yang enggak sopan.
Dodi menatapku.
“Bim,” bisiknya. Suaranya bergetar. “Bu Renata.”
“Dod—”
“Bu Renata. Bu Renata. CFO. Plt Dirut. Yang bikin Pak Gunawan diskors. Yang bikin satu lantai delapan belas nggak berani napas.” Ia menelan ludah. “Manggil lo ‘Mas’.”
“Dod, balikin HP aku.”
“Terus bilang ‘kangen yang nggak sopan’.”
“Dodi.”
Dodi menatapku. Lalu menatap layar ponsel. Lalu menatapku lagi.
Lalu matanya berputar ke atas, dan lututnya lemas, dan ia jatuh perlahan ke belakang, sangat dramatis, ke kursi barunya yang beroda, yang meluncur mundur sepanjang dua meter di lantai karpet sampai menabrak lemari arsip dengan bunyi dug yang keras.
Ia tidak bergerak.
Seluruh lantai tujuh menoleh.
“DODI PINGSAN!” teriak Mbak Wina dari meja tiga.
“Nggak,” kataku. “Dia pura-pura.”
Dodi membuka satu mata. “Gue nggak pura-pura,” katanya lemah, dari kursi beroda yang menempel di lemari arsip. “Gue syok. Gue butuh air. Gue butuh oksigen. Gue butuh pindah divisi. Gue nggak sanggup duduk di sebelah cowok yang dipanggil ‘Mas’ sama Bu Renata.”
Pukul empat lewat lima puluh delapan, pesan terakhir datang.
Lantai tujuh sudah mulai sepi. Mbak Wina sudah pulang. Jordi dari IT sudah lewat dengan tas laptop dan berhenti di mejaku hanya untuk berbisik Mas, gue udah denger soal ‘Mas’. Selamat. Dodi sedang merapikan mejanya dengan gerakan yang sangat lambat, sambil sesekali melirik ke arahku, karena sejak siang ia tidak mau melewatkan satu pun pesan yang masuk.
Ponselku bergetar.
Renata: Pulang jam lima. Jangan telat.
Bima: Iya. Pak Rahmat jemput di lobi?
Renata: Pak Rahmat udah aku suruh pulang duluan. Aku udah di rumah.
Bima: Kamu udah pulang? Jam segini?
Renata: Plt Dirut boleh pulang jam empat di hari pertama.
Renata: Kamu naik ojek. Cepet.
Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Lama sekali.
Renata: Aku pakai gaun yang itu.
Aku menatap pesan itu.
Gaun yang itu.
Satin. Merah bata. Tali spageti. Renda di potongan leher. Di atas lutut. Kelambu putih. Brosur tur sepeda Tegallalang yang jatuh berputar di udara. Lima lembar tisu.
Sesuatu yang hangat menetes dari hidungku ke keyboard.
“BIM.” Dodi menjatuhkan tasnya. “BIM. HIDUNG LO.”
Aku menutupi hidungku dengan tangan. Darah merembes di sela jari.
Dodi berlari ke mejaku dengan tisu dari meja Mbak Wina. Ia menyodorkannya. Aku menerimanya dan mendongak, seperti yang diajarkan istriku. Napas lewat mulut.
Dodi menatapku. Lalu menatap ponselku yang masih menyala di meja. Lalu menatapku lagi.
Aku melihat pemahaman datang ke wajahnya perlahan, seperti fajar yang terbit di atas sawah.
“Bim,” katanya pelan. “Lo mimisan. Gara-gara WA.”
“Nggak.”
“Lo mimisan gara-gara Bu Renata WA.”
“Dod, jangan—”
“Ini udah berapa kali?” Matanya menyipit. “Ini bukan yang pertama, kan? Lo kayak udah biasa. Lo langsung dongak. Lo napas lewat mulut. Ini udah pernah terjadi.”
Aku tidak menjawab.
Dodi menatapku lama, dengan wajah yang campuran antara takjub, ngeri, dan sangat, sangat bangga.
“Ya Allah,” bisiknya. “Bim. Bulan madu lo kayak gimana.”
“Dodi.”
“Nggak, nggak, gue nggak nanya. Gue nggak mau tahu.” Ia mengangkat kedua tangannya. Lalu menurunkannya. “Oke gue mau tahu dikit.”
“DODI.”
“Oke, oke!” Ia mundur, mengambil tasnya dari lantai. Di ambang pintu lantai tujuh, ia menoleh, dengan senyum yang paling lebar yang pernah kulihat di wajahnya. “Bim. Pulang sana. Jangan bikin Bu Plt Dirut nunggu.”
Ia berhenti.
“Dan Bim.”
“Apa?”
“Bawa tisu. Satu kotak.”
Aku sampai di Kebayoran Baru pukul lima lewat tiga puluh dua.
Ojek berhenti di depan pagar besi hitam. Aku membayar, berterima kasih, dan berdiri di depan pagar dengan tas punggung, sekotak tisu yang kubeli di minimarket di Senopati, dan jantung yang berdetak seratus dua puluh.
Lampu di teras menyala kuning.
Bi Asih tidak ada. Ia mengirim pesan tadi siang, katanya Bu Renata menyuruhnya menginap di rumah adiknya di Tebet malam ini. Lagi.
Aku membuka pagar. Aku berjalan ke teras. Aku mengangkat tanganku untuk mengetuk pintu.
Pintu itu terbuka sebelum aku mengetuk.
Ia berdiri di ambang pintu.
Gaun yang itu. Satin merah bata, jatuh seperti air di setiap lekuk tubuhnya. Tali spageti yang sangat tipis di bahu yang telanjang. Renda di potongan leher yang rendah. Ujung gaun di atas lutut. Kaki telanjang di atas lantai marmer. Rambut tergerai bergelombang, bukan lagi sanggul rendah CFO, tapi tergerai, berantakan dengan sengaja. Bibir merah bata. Tidak ada blazer. Tidak ada tablet. Tidak ada Plt Dirut.
Hanya istriku.
Ia bersandar di kusen pintu dengan satu tangan, persis seperti di kamar mandi villa di Ubud, dan menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu matanya berhenti di kotak tisu di tanganku.
Ia tersenyum. Senyum yang sangat pelan dan sangat lebar dan sangat, sangat berbahaya.
“Kamu bawa tisu,” katanya.
“Dodi yang suruh.”
“Dodi tahu?”
“Aku mimisan di kantor. Jam lima kurang dua menit. Di depan dia.”
Ia tertawa. Tawa yang rendah dan serak. Ia mengulurkan tangannya, meraih kerah kemejaku, dan menarikku melewati ambang pintu.
Pintu tertutup di belakangku.
Ia mendorongku pelan ke pintu itu. Punggungku menempel di kayu jati. Tas punggungku jatuh ke lantai. Kotak tisu itu masih di tanganku.
“Kangen,” bisiknya. Sangat dekat. Bibirnya hampir menyentuh bibirku.
“Ren,” kataku. Suaraku serak. “Kita pisah sembilan jam.”
“Terus?”
“Sembilan jam,” kataku, “kok rasanya kayak empat tahun lagi.”
Ia menatapku. Senyumnya berubah. Lebih lembut. Lebih dalam. Matanya sedikit basah.
“Aku sayang kamu,” katanya. “Tadi lupa bilang. Di WA.”
“Kamu bilang kangen dua puluh tiga kali.”
“Kamu ngitung?”
“Kamu tahu aku ngitung.”
Ia mengambil kotak tisu itu dari tanganku. Pelan. Dan melemparnya ke sofa di ruang tengah tanpa melihat.
“Enggak usah tisu,” bisiknya di telingaku. “Kalau kamu mimisan, aku yang urus.”
Aku menatapnya. Lalu aku memeluk pinggangnya, menariknya rapat, dan kain satin merah bata itu licin dan dingin di bawah telapak tanganku, dan kulit di bawahnya sangat hangat.
“Ren,” bisikku. “Tanya dulu.”
“Hm?”
“Boleh aku cium kamu?” Aku menciumnya di sudut bibir. “Di sini?” Di rahangnya. “Dan di sini?” Di lehernya, di bawah telinga, di tempat wangi melati dan kayu manis paling kuat. “Dan di sini?”
Ia mendesah. Jari-jarinya meremas kerah kemejaku.
“Kamu udah jawab dari tadi,” katanya, terengah. “Dari pas kamu turun ojek.”
Aku menggendongnya.
Ia melingkarkan kakinya di pinggangku. Ia tertawa di leherku. Aku membawanya melewati ruang tengah, melewati foto kami di pelaminan yang sekarang tergantung besar di dinding, dengan enam puluh orang berdesakan dan seorang perempuan bergaun putih gading yang wajahnya merah sampai ke leher. Melewati dua cangkir teh di meja dapur yang ia siapkan dan sudah dingin. Ke tangga.
Aku menaiki tangga itu dengan istriku di pelukanku.
Aku tidak menghitung anak tangganya.
Di ujung koridor lantai dua, pintu kamar sudah terbuka. Lampu tidur sudah menyala kuning.
Ia berbisik di telingaku, tepat sebelum aku membawanya masuk:
“Mas.”
“Hm?”
“Besok kamu nyetrika kemeja Kamis yang baru, ya.”
“Kenapa?”
Ia menggigit daun telingaku. Pelan.
“Karena yang lama,” bisiknya, “malam ini aku pakai lagi.”
Pintunya tertutup.
Di buku catatan cokelat, di halaman setelah faktur-faktur lama dan pulpen merah yang tutupnya tergigit, ada satu baris baru dengan tulisan tangan kecil dan rapi seperti cetakan:
Senin. Hari pertama kerja setelah menikah. Jarak: 11 lantai. “Kangen”: 23 kali. Mimisan: 1 kali (kantor), 0 kali (rumah, karena dia yang urus).
Kesimpulan: 11 lantai terlalu jauh.
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah
- 7 Satrio
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung
- 10 Taruhan Pantry
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu
- 14 Nomor untuk Konsultasi
- 15 Pengajian 17 November
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf
- 30 Purwokerto
- 31 Restu
- 32 Terkirim
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong
- 36 Extra 1 — Pesawat Pertama
- 37 Extra 2 — Mas
- 38 Extra 3 — Kangen Tiga Jam
- 39 Extra 4 — Hujan di Uluwatu
- 40 Extra 5 — Sebelas Lantai reading