Chapter Thirty Nine
Extra 4 — Hujan di Uluwatu
POV: Renata
Hari keempat, hujan.
Bukan gerimis. Hujan Februari yang turun dari langit Uluwatu seperti tirai abu-abu tebal, menghapus garis cakrawala, menghapus laut, menghapus tebing di seberang. Dari dinding kaca villa, yang terlihat hanya putih. Putih, dan suara hujan di atap alang-alang, dan sesekali gelegar petir yang menggetarkan gelas di meja.
Rencana hari ini: pura Uluwatu pukul empat, tari kecak saat matahari terbenam, makan malam ikan bakar di Jimbaran. Batal semua. Bli Wayan mengirim pesan pukul tujuh pagi: Mohon maaf Bu, jalan ke pura licin, kecaknya juga ditunda. Hari ini istirahat saja di villa. Bali juga butuh mandi.
Aku membaca pesan itu di ranjang, di bawah selimut, dengan kepala di dada Bima yang masih tidur.
Lalu aku meletakkan ponselku di nakas, menghadap ke bawah, dan memutuskan bahwa hari ini aku tidak akan menyentuhnya lagi.
Bima bangun pukul delapan dan langsung mencari setrika.
Aku tidak bercanda. Ia membuka mata, mendengar hujan, menatap langit-langit alang-alang selama sepuluh detik, lalu bangkit, mencium keningku, dan berkata dengan suara yang masih serak: “Ren, villa ini ada setrika nggak?”
“Kenapa?”
“Baju kita kusut semua. Dari koper. Udah empat hari.” Ia memakai kacamata. “Kemeja linen kamu yang krem lipatannya masih kelihatan. Terus celana pendek aku yang biru—”
“Bima. Kita bulan madu.”
“Iya. Makanya bajunya harus rapi.”
Ia menemukan setrika di lemari kecil dekat kamar mandi, beserta papan setrika lipat yang sudah agak goyang di salah satu kakinya. Ia memasangnya di ruang tengah, di depan dinding kaca, menghadap hujan yang memutih. Ia menuangkan air ke dalam setrika uap. Ia menyalakannya. Ia mengambil kemeja linen krem milikku dari koper, mengibaskannya, membentangkannya di papan, dan mulai menyetrika.
Dengan kaus abu-abu pudar dan celana training biru tua bergaris putih. Kaus yang kemarin malam kupakai. Celana yang ia bawa dari kos di Bendungan Hilir. Kaki telanjang di lantai batu. Rambut yang berdiri di satu sisi.
Aku duduk di ranjang dengan selimut melilit tubuhku dan menatapnya.
Uap naik dari setrika. Hujan mengalir di dinding kaca di belakangnya. Ia menyetrika kerah kemeja linen itu dengan sangat hati-hati, dari ujung ke tengah, lalu dari ujung yang lain ke tengah, persis seperti yang diajarkan Bu Sumi. Ia pernah cerita. Kerah dulu. Lalu bahu. Lalu lengan. Lalu badan. Selalu dalam urutan itu.
Aku menatap lengannya yang bergerak. Bahunya yang lebar di bawah kaus pudar. Konsentrasi di wajahnya. Bibir bawah yang sedikit digigit setiap kali ia menyetrika bagian yang sulit, seperti lipatan di sekitar kancing.
Ada sesuatu tentang laki-laki yang menyetrika bajumu dengan sangat serius di pagi hari yang hujan.
Sesuatu yang membuatku ingin mengacaukannya.
Kemeja biru muda itu kubawa diam-diam.
Kemeja biru muda yang ia pakai setiap hari Kamis selama empat tahun. Kemeja yang ia pakai di kelas Akuntansi Manajemen, di lantai delapan belas pertama kali, di Lumière, di ruang kaca Pak Darto, di gang belakang Pasar Wage. Kemeja yang sekarang punya bekas setrika berwarna cokelat muda berbentuk sempurna di bagian punggung, karena pagi setelah akad nikah ia lupa mengangkat setrika waktu melihatku turun tangga.
Ia bilang kemeja itu sudah tidak bisa dipakai ke kantor lagi. Ia bilang ia akan membuangnya.
Aku bilang jangan.
Ia bertanya kenapa.
Aku tidak menjawab. Aku melipatnya dan menyelipkannya ke dasar koperku, di bawah kotak berpita hitam, dan ia tidak tahu sampai sekarang.
Aku turun dari ranjang. Aku membuka koperku tanpa suara. Aku mengeluarkan kemeja biru muda itu.
Lalu aku masuk ke kamar mandi.
Lima menit kemudian, aku keluar.
Aku memakai kemeja biru muda itu. Hanya kemeja itu. Tidak ada yang lain di bawahnya. Kemeja itu terlalu besar untukku, dengan bahu yang jatuh jauh dari bahuku dan lengan yang menutupi sampai ujung jari, jadi aku menggulungnya sampai siku, seperti cara ia menggulungnya. Panjangnya sampai pertengahan paha. Aku mengancingkannya, tapi tidak semuanya. Tiga kancing paling atas kubiarkan terbuka.
Rambutku kugerai. Tidak kusisir. Masih berantakan dari tidur, dari tangannya semalam.
Aku berjalan ke ruang tengah. Kaki telanjang di lantai batu yang dingin. Pelan. Tanpa suara.
Bima masih menyetrika. Sekarang celana pendek biru miliknya. Ia membelakangiku, menghadap dinding kaca dan hujan.
Aku berdiri di belakangnya. Sangat dekat. Aku bisa mencium bau uap setrika bercampur bau kulitnya, sabun murah dan sesuatu yang hangat.
Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya dari belakang.
Tangannya berhenti. Setrika itu berhenti di atas celana pendek biru.
“Ren,” katanya. “Hati-hati. Setrikanya panas.”
“Aku tahu.”
“Kamu udah bangun?”
“Dari tadi.”
Aku menyandarkan pipiku di punggungnya. Di antara tulang belikatnya. Lalu aku menyelipkan tanganku ke bawah kaus abu-abunya, di perutnya, telapak tanganku menempel di kulitnya yang hangat.
Ia menarik napas tajam.
“Ren,” katanya lagi. Lebih pelan. “Aku lagi nyetrika.”
“Terusin aja.”
“Nggak bisa kalau kamu kayak gini.”
“Kenapa enggak bisa?” Jariku bergerak. Pelan. Naik sedikit. “Kamu kan teliti. Fokus. Kamu bisa ngecek faktur jam satu pagi waktu aku duduk di sebelah kamu. Masa nyetrika celana pendek enggak bisa.”
“Itu beda.”
“Bedanya apa?”
“Waktu itu kamu pakai blazer.”
Aku tersenyum di punggungnya. Aku menarik tanganku dari bawah kausnya. Aku melepas pelukanku.
Lalu aku berjalan memutari papan setrika, pelan, sampai aku berdiri di depannya, di antara papan setrika dan dinding kaca, dengan hujan putih di belakangku.
Ia mengangkat kepala.
Ia melihat kemeja itu.
Aku melihat matanya berubah. Pertama bingung, karena ia mengenali warnanya. Lalu terkejut, karena ia mengenali bekas setrika cokelat muda yang sempurna di punggung ketika aku berputar setengah lingkaran dengan sangat perlahan untuk menunjukkannya. Lalu sesuatu yang lain, ketika aku berputar kembali menghadapnya dan ia menyadari, dari cara kain biru muda itu jatuh di tubuhku, dari tiga kancing yang terbuka, dari kakiku yang telanjang sampai ke paha, bahwa tidak ada apa-apa di bawah kemeja itu.
Setrika di tangannya miring.
“Bim,” kataku. “Setrikanya.”
Ia menatap ke bawah. Ujung setrika itu sudah menempel di celana pendek biru, terlalu lama di satu tempat. Uap tipis naik.
Ia mengangkatnya dengan panik. Di celana pendek biru itu, sekarang ada bekas setrika berbentuk segitiga kecil yang cokelat.
Ia menatap bekas itu. Lalu menatapku.
“Ini,” katanya pelan, “yang kedua kalinya.”
“Iya.”
“Dua-duanya gara-gara kamu.”
“Iya.”
“Kamu sengaja.”
Aku tidak menjawab. Aku mengulurkan tangan ke samping papan setrika, ke stopkontak di dinding. Aku memegang kabel setrika itu. Dan aku mencabutnya.
Lampu merah kecil di setrika itu padam.
“Bajunya udah rapi,” kataku.
“Belum. Masih ada kemeja kamu yang—”
“Bajunya udah rapi, Mas.”
Ia berhenti bicara.
Aku melangkah maju. Satu langkah. Papan setrika itu ada di antara kami, dan aku mendorongnya ke samping dengan satu tangan. Papan setrika yang kakinya goyang itu bergeser, miring, dan jatuh ke lantai batu dengan bunyi keras yang tertelan suara petir di luar.
Tidak ada yang lagi di antara kami.
Aku meletakkan tanganku di dadanya. Di atas kaus abu-abu pudar. Aku merasakan jantungnya di bawah telapak tanganku, berlari.
“Sekarang,” bisikku, “giliran aku yang dibikin berantakan.”
Ia tidak mimisan kali ini.
Ia tidak bertanya. Ia tidak menghitung. Ia tidak melakukan apa pun yang biasanya ia lakukan.
Ia hanya menatapku selama satu detik, dengan mata yang sangat gelap di balik kacamata, lalu ia melepas kacamatanya sendiri, melemparnya ke sofa tanpa melipatnya, dan menarikku ke arahnya dengan dua tangan di pinggangku.
Ciumannya tidak pelan.
Ini bukan Bima yang meniup sup. Ini bukan Bima yang menanyakan izin di tali spageti. Ini Bima yang empat hari lalu kuajari, dan yang ternyata, seperti yang ia janjikan, adalah murid yang paling rajin. Ia menciumku seperti ia sudah menghafal setiap jawaban, seperti ia sudah mempelajari setiap catatan, seperti ia tahu persis di mana harus menyentuh supaya napasku berhenti.
Tangannya turun dari pinggangku. Ke bawah. Ke ujung kemeja biru muda yang menggantung di pertengahan pahaku. Dan berhenti di sana, di kulit telanjang di bawah ujung kain itu, dengan ibu jari yang bergerak pelan, sangat pelan, di bagian dalam pahaku.
Aku mendesah di bibirnya.
“Ren,” bisiknya. Suaranya hampir tidak bisa kukenali. Rendah. Kasar. “Kemeja aku.”
“Kenapa kemeja kamu?”
“Kamu pakai kemeja aku. Kemeja Kamis aku.” Bibirnya turun ke leherku. Ke tulang selangka yang terlihat di balik tiga kancing yang terbuka. “Empat tahun aku pakai kemeja ini tiap Kamis. Empat tahun aku mikir, kalau aku pakai kemeja yang rapi, mungkin suatu hari kamu bakal lihat aku.”
“Aku lihat,” bisikku. “Aku selalu lihat.”
“Sekarang kamu yang pakai.” Jari-jarinya naik ke kancing keempat. “Dan aku cuma bisa mikirin satu hal.”
“Apa?”
Ia membuka kancing keempat.
“Gimana cara ngelepasnya.”
Aku tertawa. Tawa yang pecah di tengah napas yang tersengal. Aku meraih wajahnya dan menariknya kembali ke bibirku, dan aku berbisik di sela ciuman:
“Kamu teliti, kan, Mas? Satu-satu. Jangan ada yang kelewat.”
Kancing kelima.
Kancing keenam.
Petir menggelegar di luar, dan dinding kaca bergetar, dan hujan menderu di atap alang-alang dengan suara seperti tepuk tangan ribuan orang.
Kancing ketujuh.
Kemeja biru muda dengan bekas setrika cokelat muda di punggungnya jatuh dari bahuku ke lantai batu, di samping papan setrika yang terguling dan celana pendek biru dengan bekas setrika berbentuk segitiga.
Ia menggendongku. Aku melingkarkan kakiku di pinggangnya. Ia tidak membawaku ke ranjang. Ranjang terlalu jauh. Ia membawaku ke sofa rotan besar di depan dinding kaca, di depan hujan yang memutih, di depan Samudra Hindia yang tidak terlihat, dan membaringkanku di sana di atas bantal-bantal batik.
Lalu ia menatapku dari atas. Lama. Dengan dada naik turun dan rambut yang berantakan dan mata yang sama sekali tidak polos lagi.
“Aku nggak bakal ngitung,” katanya.
“Bagus.”
“Tapi aku mau inget.” Ia menunduk. Bibirnya menyentuh tahi lalat kecil di bawah mata kiriku. “Semuanya. Hujannya. Kemejanya. Kamu.”
Aku menariknya turun.
Hujan Uluwatu menelan semua suara.
Kami tidak keluar dari bawah selimut sampai pukul tiga sore.
Hujan masih turun. Lebih pelan sekarang. Bukan lagi tirai, tapi gerimis yang lembut, yang berbunyi seperti bisikan di atap alang-alang. Dari ranjang, dinding kaca masih memutih, tapi di ujung sana, samar-samar, garis cakrawala mulai muncul lagi.
Aku berbaring di dadanya. Telingaku di atas jantungnya. Jantung yang sekarang berdetak pelan dan teratur.
Tujuh puluh dua. Aku menghitungnya.
Ternyata aku juga bisa menghitung.
“Bim.”
“Hm?”
“Jangan bangun dulu.”
“Aku nggak bangun.”
“Tadi kamu gerak.”
“Kaki aku kesemutan.”
“Lima menit lagi. Terus peluk lagi. Terus lima menit lagi.”
Ia tertawa pelan. Dadanya bergetar di bawah pipiku. Lengannya mengerat di punggungku.
“Ren.”
“Hm?”
“Kamu manja banget kalau lagi berdua.”
“Masa?”
“Di kantor kamu bisa bikin Pak Gunawan diem satu ruangan. Di sini kamu nggak mau aku gerakin kaki.”
“Itu beda.”
“Bedanya apa?”
Aku mengangkat kepala dari dadanya dan menatapnya. Ia menatapku balik, tanpa kacamata, dengan mata yang sedikit menyipit karena minus empat setengah.
“Di kantor,” kataku, “aku harus kuat. Dari umur dua puluh lima aku harus kuat. Waktu Hendra meninggal aku harus kuat. Tiga tahun aku harus kuat.” Aku menyentuh dagunya. “Di sini enggak harus.”
Ia diam.
“Di sini,” kataku, “aku boleh jadi orang yang enggak mau kamu gerakin kaki.”
Ia mengangkat tangannya dan menyelipkan rambutku ke belakang telinga. Gerakan yang dulu hanya aku yang melakukannya, sebelum menjelaskan angka yang penting.
“Boleh,” katanya. “Selamanya boleh.”
Aku menyandarkan kepalaku kembali ke dadanya.
Hujan berbisik di atap. Tujuh puluh dua detak per menit di bawah telingaku.
Lalu, karena hujan, karena sore yang abu-abu, karena detak jantung yang pelan dan teratur itu, aku mengatakan sesuatu yang belum pernah kukatakan kepada siapa pun.
“Bim. Aku takut.”
Lengannya berhenti bergerak di punggungku.
“Takut apa?”
“Hendra tidur,” kataku. Suaraku kecil. “Suatu malam di bulan Agustus, dia tidur di sebelah aku. Kayak gini. Persis kayak gini. Aku tidur di dadanya. Aku dengerin jantungnya.” Aku memejamkan mata. “Terus paginya dia enggak bangun.”
Bima tidak berkata apa-apa. Tapi aku merasakan jantungnya di bawah telingaku melompat. Satu detak. Lalu kembali teratur.
“Tadi malam,” lanjutku, “jam dua, aku bangun. Aku dengerin jantung kamu. Lama. Aku hitung sampai tiga ratus. Kamu tahu kenapa?”
“Kenapa?”
“Karena aku takut kalau aku berhenti dengerin, dia bakal berhenti juga.”
Hening.
Hujan.
Lalu lengannya mengerat di sekelilingku. Sangat erat. Sampai aku hampir tidak bisa bernapas. Dan ia mencium puncak kepalaku, lama, dan aku merasakan sesuatu yang hangat menetes di rambutku.
“Ren,” bisiknya. Suaranya pecah.
“Hm?”
“Bapak aku sakit dada enam bulan. Nggak bilang siapa-siapa. Bapak sing ngurus. Bapak pikir itu cinta. Ibu bilang itu cinta yang nggak percaya.” Ia menarik napas panjang. “Aku janji sama kamu. Sekarang. Di sini.”
Aku mengangkat kepala. Matanya basah.
“Kalau dada aku sakit,” katanya, “sekecil apa pun, aku bilang. Kalau aku pusing, aku bilang. Kalau aku capek, aku bilang. Kalau aku ngerasa ada yang nggak beres di badan aku, aku bilang ke kamu, hari itu juga, jam itu juga. Aku nggak bakal nyimpen apa pun di draf. Apalagi yang itu.”
Aku menatapnya.
“Terus aku bakal periksa,” lanjutnya. “Tiap tahun. Medical check-up lengkap. Jantung, darah, semuanya. Hasilnya aku kasih ke kamu. Kamu CFO. Kamu yang audit.”
Aku tertawa. Tawa yang basah dan pecah dan bercampur dengan air mata yang sudah jatuh dari mataku tanpa kusadari.
“Kamu mau aku audit hasil lab kamu?”
“Kamu teliti,” katanya. “Lebih teliti dari dokter mana pun.”
“Aku bukan dokter, Bim.”
“Aku tahu. Tapi kamu yang paling peduli angkanya.”
Aku menangkup wajahnya dengan dua tangan. Ibu jariku menghapus air mata di sudut matanya. Ia menghapus air mata di pipiku dengan cara yang sama.
“Janji?” bisikku.
“Janji.”
“Kalau kamu bohong—”
“Aku nggak pernah bohong ke kamu, Ren.” Ia tersenyum, kecil, di antara air mata. “Kecuali soal kenyang.”
Aku menciumnya.
Pelan kali ini. Tidak seperti tadi pagi. Bukan ciuman yang mengacaukan. Ciuman yang menyimpan. Ciuman yang berkata: aku di sini, kamu di sini, dan kita berdua akan bangun besok pagi.
Lalu aku menyandarkan keningku di keningnya. Mata kami terpejam. Hujan berbisik.
“Aku cinta kamu,” kataku. “Bukan yang di restoran. Bukan yang di pantai. Yang ini. Yang paling dalam. Yang takut kehilangan kamu dan tetap pilih kamu.”
Ia diam lama.
“Aku cinta kamu juga,” katanya akhirnya. Pelan. Sangat pelan. “Dari halaman empat belas laporan tahunan. Dari kelas hari Kamis. Dari pulpen merah.” Jeda. “Sampai sekarang. Sampai jam dua pagi kamu ngitung jantung aku.”
Ia mencium keningku.
“Dan besok,” bisiknya, “dan lusa, dan tiap pagi, aku bakal bangun. Biar kamu nggak usah ngitung lagi.”
Hujan berhenti pukul lima.
Langit di atas Samudra Hindia terbelah. Dari celahnya, sinar matahari sore turun miring, keemasan, menerangi laut yang tiba-tiba biru lagi, tebing kapur yang tiba-tiba putih lagi, dan dinding kaca villa yang basah dan berkilau seperti dilapisi berlian.
Kami berdiri di teras, berselimut satu selimut, menatapnya.
“Bim,” kataku.
“Hm?”
“Kemeja biru kamu kusut.”
Ia menoleh ke dalam, ke lantai batu, di mana kemeja Kamis itu masih tergeletak di samping papan setrika yang terguling.
“Iya,” katanya. “Kusut banget.”
“Mau kamu setrika?”
Ia menatapku. Ada sesuatu di sudut bibirnya. Sesuatu yang dulu tidak pernah ada. Sesuatu yang kuajarkan kepadanya, dan yang sekarang ia kembalikan dengan bunga.
“Nggak,” katanya. “Biarin kusut.”
Ia menarikku lebih rapat ke dalam selimut.
“Nanti malam,” bisiknya di telingaku, “kamu pakai lagi. Biar kusut lagi.”
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah
- 7 Satrio
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung
- 10 Taruhan Pantry
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu
- 14 Nomor untuk Konsultasi
- 15 Pengajian 17 November
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf
- 30 Purwokerto
- 31 Restu
- 32 Terkirim
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong
- 36 Extra 1 — Pesawat Pertama
- 37 Extra 2 — Mas
- 38 Extra 3 — Kangen Tiga Jam
- 39 Extra 4 — Hujan di Uluwatu reading
- 40 Extra 5 — Sebelas Lantai