Chapter Thirty Six
Extra 1 — Pesawat Pertama
POV: Bima
Aku belum pernah naik pesawat.
Aku tidak menyembunyikannya. Aku hanya tidak pernah ditanya. Selama dua puluh delapan tahun, semua perjalananku bisa dihitung dengan karcis kereta ekonomi, tiket bus antarkota, dan satu kali kapal feri ke Nusakambangan waktu study tour SMP, yang berakhir dengan aku muntah di kantong plastik milik Pak Guru Bahasa Indonesia.
Jadi ketika Minggu pagi, empat belas Februari, pukul lima lewat dua puluh, Pak Rahmat menurunkan kami di depan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, aku berdiri di trotoar dengan dua koper, satu tas punggung, satu tas jinjing kulit milik istriku, dan perasaan seperti anak SD yang dibawa ke kebun binatang untuk pertama kalinya.
“Mas Bima,” kata Pak Rahmat, membungkuk sedikit di samping mobil. “Selamat jalan. Jaga Ibu, ya.”
“Iya, Pak.”
“Jangan dibikin capek.”
Aku menatapnya. Pak Rahmat menatapku. Telingaku mulai panas.
“Maksud saya jalan-jalannya, Mas,” katanya, dengan wajah yang sangat datar dan mata yang sama sekali tidak datar. “Jalan-jalannya jangan dibikin capek.”
Lalu ia masuk ke mobil putih itu dan pergi, dan aku berdiri di trotoar dengan telinga yang sekarang merah sepenuhnya.
Di sebelahku, istriku tertawa pelan.
Ia memakai gaun linen putih yang jatuh sampai betis, dengan potongan leher persegi yang memperlihatkan tulang selangka, dan tali tipis yang diikat di belakang leher. Rambutnya tergerai, bergelombang besar, jatuh di bahu yang terbuka. Kacamata hitam bertengger di kepalanya. Sandal kulit cokelat, tanpa hak. Tidak ada blazer. Tidak ada heels. Tidak ada tablet berisi neraca.
Di jari manis tangan kirinya, cincin emas kuning yang sedikit penyok.
Tiga laki-laki yang sedang mengantre di pintu masuk menoleh bersamaan. Seorang petugas troli berhenti mendorong trolinya. Seorang bapak bersarung yang sedang mengangkat kardus mi instan menurunkannya lagi, perlahan, seperti orang yang lupa kenapa ia mengangkatnya.
Istriku tidak memperhatikan mereka. Ia memperhatikanku.
“Kamu tegang,” katanya.
“Nggak.”
“Telinga kamu merah, tangan kamu megang pegangan koper kayak megang tali rakit, dan kamu udah ngecek paspor tiga kali di mobil.”
“Empat kali.”
“Kita ke Bali, Bim. Enggak butuh paspor.”
“Aku tahu. Tapi Ayu bilang bawa aja. Buat jaga-jaga.”
“Jaga-jaga kalau pesawatnya nyasar ke Singapura?”
“Ayu bilang bisa aja.”
Renata menatapku lama. Lalu ia melangkah maju, sangat dekat, sampai aku bisa mencium wangi melati dan kayu manis di lehernya, dan ia membetulkan kerah kemejaku yang tidak perlu dibetulkan.
“Suamiku,” katanya pelan, “belum pernah naik pesawat.”
Ia tidak bertanya. Ia hanya mengatakannya, dengan suara yang sangat lembut, dan dengan cara yang membuatku mengerti bahwa ia sudah tahu sejak lama.
“Belum,” kataku.
“Kenapa enggak bilang?”
“Nggak ada yang nanya.”
Ia tersenyum. Senyum yang sangat kecil, yang hanya muncul di sudut bibirnya yang merah bata.
“Sekarang aku nanya,” katanya. “Kamu takut?”
Aku memikirkannya. Pertanyaan yang adil layak dijawab dengan jujur.
“Sedikit,” kataku. “Sekitar empat puluh persen.”
“Empat puluh persen.”
“Enam puluh persennya penasaran.”
Ia tertawa. Lalu ia mengambil tas jinjing kulitnya dari tanganku, menyelipkan tangannya ke tanganku yang bebas, dan menarikku masuk ke terminal.
“Ayo, Pak Bima,” katanya. “Empat puluh persen itu tanggung jawab aku.”
Kursi kami nomor 2A dan 2B.
Aku tidak tahu apa artinya sampai pramugari menyapa kami di pintu pesawat dengan senyum yang dua kali lebih lebar dari senyum yang ia berikan kepada penumpang di belakang kami, lalu mengantar kami ke kabin kecil di bagian depan dengan kursi kulit krem yang besar, lebar, dan bisa direbahkan, dengan bantal sungguhan dan selimut sungguhan dan segelas jus jeruk yang sudah menunggu di sandaran tangan.
Aku berhenti di lorong.
“Ren.”
“Hm?”
“Ini kelas bisnis.”
“Iya.”
“Kamu bilang kita bagi dua.”
“Kita bagi dua.” Ia duduk di kursi 2A, dekat jendela, dan menyilangkan kaki dengan gerakan yang membuat pramugari di belakangku lupa menutup kompartemen bagasi. “Kamu bayar villa malam pertama. Aku bayar sisanya.”
“Itu bukan bagi dua. Itu bagi sembilan puluh tiga dan tujuh.”
“Kamu ngitung?”
“Aku selalu ngitung.”
Ia menepuk kursi 2B di sebelahnya. “Duduk, Mas Akuntan. Kita bisa audit nanti di Bali.”
Aku duduk. Kursinya sangat empuk dan sangat lebar sampai aku tidak tahu harus meletakkan tanganku di mana. Aku meletakkannya di pangkuan. Lalu di sandaran tangan. Lalu di pangkuan lagi.
Renata memperhatikan semua itu dengan dagu bertumpu di kepalan tangannya.
“Kamu lucu banget,” katanya.
“Aku nggak tahu tanganku harus ditaruh di mana.”
Ia mengulurkan tangan, mengambil tangan kananku, dan meletakkannya di atas lututnya. Di atas kain linen putih yang tipis, tepat di atas lutut.
“Di sini,” katanya. “Sampai mendarat.”
Aku menatap tanganku di atas lututnya. Kain linen itu sangat tipis. Aku bisa merasakan kulitnya yang hangat di bawahnya.
“Ren,” kataku pelan. “Ini pesawat. Ada orang.”
“Orangnya lagi baca koran.” Ia melirik bapak berkemeja batik di kursi 1C yang memang sedang membaca koran, terbalik, sambil sesekali melirik ke belakang lewat celah kursi. “Lagi pura-pura baca koran,” koreksinya. “Biarin aja. Biar dia tahu kamu punya siapa.”
Pesawat mulai bergerak pukul enam lewat lima.
Pelan pada awalnya. Berbelok di landasan. Lampu-lampu biru di pinggir landasan melintas di jendela satu per satu. Pramugari memperagakan cara memakai sabuk pengaman dan masker oksigen, dan aku memperhatikannya dengan sangat serius, karena aku tidak tahu kalau masker oksigen bisa jatuh sendiri dari langit-langit, dan aku ingin tahu persis apa yang harus kulakukan kalau itu terjadi.
“Kamu nyatet?” bisik Renata.
“Di kepala.”
“Pintu daruratnya ada berapa?”
“Delapan. Dua di depan, empat di tengah, dua di belakang. Yang terdekat dari kita sebelas langkah ke kiri.”
Ia tertawa tanpa suara, dan bahunya berguncang di sebelahku.
Lalu pesawat berhenti di ujung landasan.
Mesinnya menderu.
Bukan deru. Raungan. Seluruh kabin bergetar. Jus jeruk di sandaran tanganku bergoyang. Pesawat melesat ke depan dengan kecepatan yang membuat punggungku menempel ke kursi, dan jendela di sebelah Renata berubah menjadi garis-garis lampu yang memanjang, lalu aku merasakan perutku tertinggal di landasan sementara tubuhku naik.
Aku mencengkeram sandaran tangan dengan tangan kiriku.
Tangan kananku masih di atas lutut Renata. Aku tidak sadar aku juga mencengkeramnya sampai aku merasakan jari-jarinya menyusup di antara jari-jariku, menggenggam balik, kuat, hangat.
“Bima.”
Aku tidak bisa menjawab. Pesawat miring ke kanan. Di jendela, Jakarta tiba-tiba menjadi sangat kecil, dengan lampu-lampu jalan yang masih menyala kuning di bawah langit yang mulai merah muda.
“Bima. Lihat aku.”
Aku menoleh.
Ia menatapku dari jarak dua jengkal. Matanya tenang. Sangat tenang. Mata yang sama yang menatapku di lift lantai delapan belas yang macet, waktu tangannya dingin dan ia tidak bisa bernapas, waktu aku bilang kepadanya, berulang kali, bahwa aku masih hangat dan aku tidak ke mana-mana.
“Aku di sini,” katanya. “Aku masih hangat. Aku enggak ke mana-mana.”
Aku menatapnya.
Ia mengatakannya persis seperti aku mengatakannya. Kata demi kata. Ia ingat. Ia menyimpan kalimat itu di suatu tempat selama berbulan-bulan, dan sekarang, empat ribu kaki di atas Tangerang, ia mengembalikannya kepadaku.
“Napas,” katanya. “Kayak gini.” Ia menarik napas panjang, pelan, lewat hidung. Aku mengikutinya. “Keluarin.” Kami mengeluarkannya bersama.
Pesawat berhenti miring. Raungan mesinnya berubah menjadi dengung yang lebih rendah. Lampu tanda sabuk pengaman berbunyi ding pelan.
“Udah,” kata Renata. “Udah di atas. Udah aman.”
Aku melepaskan cengkeramanku di sandaran tangan. Jari-jariku pegal.
Tapi aku tidak melepaskan tangannya.
“Gimana?” tanyanya.
“Empat puluh persennya udah turun jadi lima belas.”
“Enam puluh persen yang penasaran?”
Aku menoleh ke jendela. Di bawah kami, awan-awan putih bergulung seperti kapas yang dihamparkan di atas sawah. Matahari baru muncul di cakrawala, dan cahayanya memantul di sayap pesawat dengan warna jingga keemasan yang belum pernah kulihat di mana pun.
“Naik jadi delapan puluh lima,” kataku pelan.
Renata tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya ke bahuku, dengan tangan masih bertaut, dan kami menatap awan-awan itu bersama selama sepuluh menit tanpa berkata apa-apa.
Lalu ia berbisik, sangat pelan, sangat dekat dengan telingaku:
“Kamu tahu enggak, Bim, dulu aku benci terbang.”
“Kenapa?”
“Karena aku selalu terbang sendirian. Rapat di Singapura. Audit di Surabaya. Pulang dari Medan setelah Papa operasi lutut.” Jeda. “Tiga tahun aku duduk di kursi dekat jendela, dan kursi di sebelahku selalu kosong, atau diisi orang asing yang tidurnya ngorok.”
Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya mengeratkan genggamanku.
“Sekarang enggak kosong,” katanya. Ia mengangkat wajahnya dari bahuku dan menatapku dengan mata yang sedikit basah, dan senyum yang sama sekali tidak sedih. “Sekarang isinya laki-laki yang ngitung pintu darurat.”
Satu jam lima menit kemudian, setelah sarapan nasi goreng dengan telur ceplok yang kuningnya sempurna, yang kumakan habis dan yang setengahnya dicuri Renata dari piringku, pesawat mulai turun.
Aku sudah lebih tenang. Aku bahkan berani melihat ke luar jendela waktu pesawat berbelok di atas laut biru yang sangat jernih sampai aku bisa melihat warna karang di bawahnya.
Tapi Renata tidak melihat ke luar jendela.
Ia melihatku.
Ia sudah menarik selimut krem dari kompartemen dan menyelimutkannya ke pangkuan kami berdua, katanya karena AC-nya dingin. Di bawah selimut itu, tangannya tidak lagi di tanganku. Tangannya di pahaku. Di atas celana katun abu-abu, pelan, diam, hanya diletakkan di sana seolah-olah itu tempat paling wajar di dunia untuk meletakkan tangan.
Lalu jari telunjuknya bergerak.
Satu garis kecil. Dari lutut, naik sedikit. Pelan sekali. Lalu berhenti.
Aku menatap lurus ke depan, ke sandaran kursi 1B.
“Ren,” bisikku.
“Hm?”
“Tangan kamu.”
“Kenapa tangan aku?”
“Lagi ngapain?”
“Ngitung.” Ia tersenyum ke arah jendela, tidak ke arahku, dengan wajah yang sangat polos. “Kamu kan suka ngitung. Aku lagi belajar. Ini satu.” Jarinya bergerak lagi, satu garis kecil, sedikit lebih tinggi. “Ini dua.”
“Renata.”
“Tiga.”
“Kita mau mendarat.”
“Aku tahu.” Ia akhirnya menoleh kepadaku. Matanya gelap dan sangat tenang dan sama sekali tidak polos. “Makanya aku berhenti di tiga.”
Ia menarik tangannya dari bawah selimut dengan gerakan yang sangat santai, membetulkan rambutnya ke belakang telinga, dan mengambil kacamata hitamnya dari atas kepala.
“Sisanya,” katanya, memakai kacamata itu, “nanti malam.”
Pesawat menyentuh landasan dengan satu guncangan keras.
Aku tidak merasakannya sama sekali.
Villa itu ada di Ubud, di tepi lembah yang dalam, di tengah sawah terasering yang hijau sampai ke ujung pandangan.
Sopir yang menjemput kami bernama Bli Wayan, dan ia berbicara tanpa henti selama satu jam perjalanan dari bandara, tentang upacara di pura dekat rumahnya, tentang anaknya yang baru masuk SMA, tentang harga canang yang naik, dan tentang betapa ia jarang menjemput tamu bulan madu yang suaminya duduk sangat tegak di kursi belakang seperti sedang wawancara kerja.
“Santai, Pak,” katanya lewat kaca spion. “Ini Bali. Di Bali nggak ada yang buru-buru.”
“Iya, Bli.”
“Istrinya cantik sekali, Pak. Bapak beruntung.”
“Iya, Bli. Saya tahu. Saya udah ngecek.”
Bli Wayan tertawa sampai mobilnya sedikit oleng.
Villa kami punya gerbang kayu berukir, jalan setapak dari batu andesit yang dikelilingi pohon kamboja, dan satu bangunan beratap alang-alang dengan dinding kaca yang menghadap langsung ke lembah. Di depannya, di tepi lembah, sebuah kolam renang pribadi berwarna hijau toska yang ujungnya seperti tumpah ke sawah di bawah.
Di atas ranjang besar berkelambu putih, kelopak bunga mawar merah disusun menjadi bentuk hati. Di tengah hati itu, dua handuk putih yang dilipat menjadi bentuk dua angsa yang saling berciuman.
Aku berdiri di ambang pintu kamar dan menatap angsa-angsa itu.
Renata berdiri di sebelahku dan menatapku menatap angsa-angsa itu.
“Kamu mau ngapain?” tanyanya.
“Aku mau baca prosedur keselamatan villa dulu.”
“Apa?”
Aku menunjuk ke sebuah map kulit cokelat di meja samping pintu, bertuliskan Guest Information & Safety Procedures. “Di bandara aku nggak sempat baca jalur evakuasinya. Aku mau tahu kalau ada gempa, kita lari ke mana. Bali kan daerah rawan gempa. Terus kolamnya nggak ada pagarnya. Terus lembahnya dalam. Aku mau tahu—”
“Bima.”
“Lima menit, Ren. Sebentar aja.”
Aku duduk di sofa rotan di sudut kamar dan membuka map kulit itu. Halaman satu: nomor telepon resepsionis. Halaman dua: jam sarapan. Halaman tiga: In Case of Earthquake.
Aku membaca halaman tiga dengan sangat serius.
Lalu aku menyadari kamarnya sangat sepi.
Aku mengangkat kepala.
Renata tidak di ambang pintu lagi. Ia berdiri di tepi kolam, membelakangiku, di bawah sinar matahari siang yang terang. Ia sedang membuka ikatan tali gaun linennya di belakang leher.
Pelan.
Talinya terlepas. Gaun itu meluncur turun dari bahunya, dari punggungnya, sampai ke pinggang, dan ia menahannya di sana dengan satu tangan, sebentar, seperti sengaja memberiku waktu untuk melihat. Punggungnya telanjang di bawah matahari. Kulit kuning langsat yang bersih, tulang punggung yang lurus, lekuk pinggang yang membuatku lupa apa yang tertulis di halaman tiga.
Lalu ia melepaskan tangannya, dan gaun itu jatuh sepenuhnya ke lantai batu.
Di baliknya, ia memakai bikini hitam. Hanya bikini hitam.
Ia menoleh dari balik bahunya, menatapku yang sedang duduk di sofa rotan dengan map kulit masih terbuka di pangkuan.
“Lima menitnya udah lewat,” katanya.
Aku menatapnya. Map kulit itu tergelincir dari pangkuanku dan jatuh ke lantai.
“Ren...”
“Gempanya di mana, Mas Akuntan?” Ia melangkah mundur, satu langkah, ke tepi kolam. “Kamu udah baca, kan? Harus lari ke mana?”
“Ke... ke tanah lapang. Jauh dari bangunan.”
“Hmm.” Satu langkah mundur lagi. Tumitnya sekarang di bibir kolam. “Kalau tenggelam?”
“Belum sampai halaman itu.”
Ia tersenyum. Senyum yang sangat lebar, sangat cerah, dan sangat berbahaya.
“Ya udah,” katanya. “Aku ajarin langsung.”
Ia menjatuhkan diri ke belakang ke dalam kolam.
Air hijau toska memercik ke udara. Lalu permukaannya tenang lagi, dan ia tidak muncul.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga.
Aku sudah berlari sebelum otakku selesai menghitung. Aku tidak melepas sepatu. Aku tidak melepas kacamata. Aku tidak melepas kemeja katun putih yang kusetrika dua puluh menit tadi pagi. Aku melompat ke dalam kolam dengan seluruh pakaianku, dan air dingin menyergapku sampai ke ubun-ubun, dan aku membuka mata di bawah air dan—
Ia di sana. Di depanku. Mengambang dengan rambut yang melayang seperti tinta hitam di air hijau, tersenyum, dengan gelembung kecil keluar dari sudut bibirnya.
Ia baik-baik saja. Tentu saja ia baik-baik saja. Ia berenang sejak umur lima tahun di kolam klub di Medan. Ia pernah bilang kepadaku.
Ia mengulurkan tangan, melingkarkannya di leherku, dan menarikku ke permukaan.
Kami muncul bersamaan. Aku terbatuk. Kacamataku miring di hidung, penuh air. Kemejaku menempel di dada. Sepatuku entah di mana.
Ia tertawa. Tertawa sampai ia harus berpegangan di bahuku supaya tidak tenggelam sungguhan.
“Kamu lompat,” katanya di sela tawa. “Kamu lompat pakai sepatu.”
“Kamu nggak muncul.”
“Tiga detik.”
“Tiga detik itu lama, Ren.”
Tawanya berhenti. Pelan-pelan. Ia menatapku dari jarak sejengkal, dengan air menetes dari bulu matanya yang lentik, dari tahi lalat kecil di bawah mata kirinya, dari bibirnya.
Lalu ia mengangkat kedua tangannya dan melepas kacamataku. Pelan. Melipatnya. Meletakkannya di tepi kolam di belakangku.
Tanpa kacamata, wajahnya sedikit kabur. Tapi aku tidak butuh kacamata untuk tahu bentuk wajahnya. Aku sudah hafal.
“Bima,” katanya, sangat pelan.
“Iya.”
“Kemeja kamu basah.”
“Iya.”
“Berat, kan? Kalau basah.”
“Iya.”
“Boleh aku bantu?”
Ia bertanya. Ia selalu bertanya sekarang. Tapi tangannya sudah di kancing kemeja paling atas, dan matanya menatapku dengan cara yang membuatku mengerti bahwa pertanyaan itu bukan karena ia tidak tahu jawabannya.
“Boleh,” kataku. Suaraku serak.
Kancing pertama terlepas. Lalu kedua. Jari-jarinya bekerja pelan di bawah air, satu kancing demi satu kancing, tanpa terburu-buru, sambil terus menatap mataku. Di kancing keempat, telapak tangannya menyentuh dadaku yang telanjang, dan ia berhenti di sana. Ia menekan sedikit. Merasakan.
“Jantung kamu,” bisiknya.
“Kenapa?”
“Cepet banget.” Ia tersenyum. “Seratus dua puluh?”
“Mungkin lebih.”
“Gara-gara tiga detik tadi?”
“Bukan,” kataku jujur. “Gara-gara sekarang.”
Ia menatapku. Senyumnya berubah. Menjadi sesuatu yang lebih lambat dan lebih dalam dan jauh lebih berbahaya daripada senyum mana pun yang pernah ia berikan kepadaku di kantor, di lift, di gang belakang Pasar Wage.
Ia menarik kemeja basah itu dari bahuku, dan membiarkannya tenggelam pelan-pelan ke dasar kolam.
Lalu ia menciumku.
Di bawah matahari Ubud, di dalam air hijau toska, di tepi lembah yang dalam dengan sawah di bawahnya, istriku menciumku dengan bibir yang dingin karena air dan napas yang hangat, dengan tangan yang melingkar di leherku dan tubuh yang menempel sepenuhnya ke tubuhku, kulit ke kulit, tanpa apa pun di antaranya kecuali air dan selembar kain hitam yang sangat tipis.
Aku memeluk pinggangnya. Telapak tanganku menemukan kulit punggungnya yang licin dan hangat di bawah permukaan air. Ia mendesah pelan di bibirku, dan suara itu membuat sesuatu di dalam diriku yang selama empat tahun selalu menghitung dan menimbang dan menunggu, tiba-tiba berhenti melakukan semua itu.
Ia menarik diri. Sedikit. Bibirnya masih menyentuh bibirku.
“Bim,” bisiknya.
“Hm?”
“Ini baru siang.”
“Iya.”
“Malam nanti makan malam Valentine. Aku udah pesen.”
“Iya.”
“Habis itu...” Ia menggigit bibir bawahku. Pelan. Sangat pelan. Lalu melepaskannya. “Habis itu, kamu lihat sendiri.”
Ia melepaskan pelukannya, berenang mundur ke tengah kolam dengan gerakan yang sangat malas, dan mengapung telentang di atas air hijau dengan rambut yang mengembang dan mata yang terpejam menghadap matahari.
“Sepatu kamu di dasar kolam sebelah kiri,” katanya tanpa membuka mata. “Kemeja kamu di tengah. Kacamata di belakang kamu.”
Aku berdiri di dalam kolam setinggi dada, basah, tanpa kemeja, tanpa sepatu, tanpa kacamata, menatap istriku yang mengapung di bawah matahari Bali.
“Ren.”
“Hm?”
“Aku belum sampai halaman tentang tenggelam.”
Ia membuka satu mata.
“Enggak usah dibaca,” katanya. “Kamu udah tenggelam dari tadi.”
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah
- 7 Satrio
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung
- 10 Taruhan Pantry
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu
- 14 Nomor untuk Konsultasi
- 15 Pengajian 17 November
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf
- 30 Purwokerto
- 31 Restu
- 32 Terkirim
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong
- 36 Extra 1 — Pesawat Pertama reading
- 37 Extra 2 — Mas
- 38 Extra 3 — Kangen Tiga Jam
- 39 Extra 4 — Hujan di Uluwatu
- 40 Extra 5 — Sebelas Lantai