Chapter Ten
Taruhan Pantry
POV: Bima
Hari Jumat pagi, di dinding pantry lantai tujuh, tepat di sebelah dispenser air dan di bawah poster Cuci Gelasmu Sendiri, Ibumu Tidak Kerja di Sini, muncul sebuah papan tulis putih kecil.
Papan itu tidak ada hari Kamis sore. Hari Jumat pukul tujuh lewat tiga puluh, saat aku masuk untuk mengisi botol minum, papan itu sudah tergantung di sana dengan paku yang jelas dipasang tergesa-gesa, sedikit miring ke kanan.
Judulnya ditulis dengan spidol merah, huruf kapital, digarisbawahi dua kali:
KAPAN BIMA NEMBAK?
(Taruhan resmi Divisi Finance. Min. Rp20.000. Bandar: Dodi. Uang dikumpulkan di kaleng Khong Guan meja Dodi.)
Di bawahnya ada daftar yang ditulis tangan dengan spidol biru.
- Minggu ini — Mbak Wina — Rp20.000
- Sebelum gajian — Tim Treasury (patungan) — Rp100.000
- Sebelum Natal — Jordi (IT) — 1 martabak telur bebek 4
- Tahun depan — Bu Tini (kantin) — Rp50.000
- Bu Renata yang nembak duluan — Pak Komar (satpam malam) — Rp100.000
- Tidak akan pernah — Pak Darto — Rp50.000
Aku berdiri di depan papan itu memegang botol minum yang belum diisi.
“Keren, kan?” kata Dodi di belakangku. Ia membawa mug bertuliskan World’s Okayest Employee dan wajah orang yang sangat bangga pada karyanya. “Gue bikin semalem. Udah empat belas peserta. Dua orang dari Legal nanya bisa transfer atau nggak.”
“Dodi. Copot.”
“Nggak bisa, Bim. Udah ada uang orang di kaleng Khong Guan. Itu tanggung jawab moral.”
“Pak Darto ikut?”
“Pak Darto peserta pertama.” Dodi menyesap kopinya dengan puas. “Dia pasang ‘tidak akan pernah’. Katanya, ‘Bima itu anak baik, tapi saya sudah tiga puluh tahun kerja kantoran dan tidak pernah lihat staf AP jadian sama CFO.’ Terus dia nambahin lima puluh ribu.”
“Bu Tini juga?”
“Bu Tini bilang dia udah dua puluh tahun jualan nasi rames dan belum pernah lihat Bu Renata makan di kantin. Terus kemarin Bu Renata makan, habis, sama sambel. Katanya itu tanda-tanda.”
Aku menatap baris kelima. Bu Renata yang nembak duluan. Pak Komar. Rp100.000.
“Pak Komar satpam malam,” kataku.
“Iya. Katanya Rabu malem dia lihat sesuatu.” Dodi menaikkan alisnya naik turun. “Katanya lo turun dari lift jam satu pagi bareng Bu Renata, terus lo masuk mobil putih. Mobil yang sama yang tiap pagi lo pelototin dari balik pilar.”
Botol minum di tanganku hampir jatuh.
“Lo pikir gue nggak tahu soal pilar?” Dodi menepuk bahuku. “Bim. Bim. Semua orang tahu soal pilar. Mas Yanto udah cerita ke satu gedung dari minggu lalu.”
Aku menghabiskan pagi itu dengan berusaha tidak menatap ke arah pantry, dan gagal.
Setiap kali seseorang lewat menuju dispenser, mereka berhenti di depan papan itu. Ada yang tertawa, ada yang memotret, ada yang mengeluarkan dompet. Pukul sembilan, Mbak Wina menambahkan dua puluh ribu lagi untuk pilihan minggu ini. Pukul sepuluh, seseorang dari Procurement menulis baris baru: Udah jadian, cuma backstreet — Rp30.000. Pukul sebelas, Jordi datang dari lantai dua belas khusus untuk mengubah taruhannya dari satu martabak menjadi dua.
“Mas,” katanya kepadaku dengan mata berbinar. “Saya yakin, Mas. Saya yakin sebelum Natal.”
“Mas Jordi… tolong deh, jangan ikut-ikutan.”
“Mas, saya yang bikin email itu kekirim. Saya punya tanggung jawab moral buat mastiin ini happy ending.”
Lalu, pukul sebelas lewat dua puluh, lantai tujuh mendadak sunyi lagi.
Aku sudah hafal pola itu. Aku menoleh ke arah lift, menunggu melihat blazer dan heels dan rambut hitam bergelombang.
Tapi yang keluar dari lift adalah Mbak Sarah.
Mbak Sarah tidak pernah turun ke lantai tujuh. Sama seperti Bu Renata, ia makhluk lantai delapan belas. Kehadirannya di karpet biru tua lantai tujuh terasa sama janggalnya dengan melihat burung hantu di siang hari. Ia berjalan dengan langkah cepat dan efisien, membawa amplop cokelat di tangan, dan wajahnya sedatar meja.
Ia berhenti di depan mejaku.
“Bima Wicaksono.”
“Iya, Mbak.”
“Dari Bu Renata.” Ia meletakkan amplop cokelat itu di mejaku. “Salinan dokumen yang Ibu minta kamu periksa ulang. Tidak mendesak. Bisa dikembalikan Senin.”
Aku membuka amplop itu sedikit. Di dalamnya ada beberapa lembar dokumen rutin: rekap uang muka perjalanan dinas bulan September. Tidak ada yang perlu diperiksa ulang. Aku sudah memeriksanya dua minggu lalu.
Aku menatap Mbak Sarah. Ia menatapku balik.
Lalu matanya bergeser ke arah pantry. Ke papan tulis putih yang miring di dinding.
Ia berjalan ke sana. Ia membaca papan itu dari atas sampai bawah dengan wajah yang sama persis seperti saat membaca laporan perjalanan dinas. Seluruh lantai tujuh membeku. Dodi menyelinap ke bawah mejanya.
Mbak Sarah mengambil spidol merah dari tepi papan. Ia menulis sesuatu di bawah baris terakhir. Lalu ia meletakkan spidolnya, kembali ke mejaku, dan berdiri di sana dengan tangan terlipat di depan perut.
Aku melirik papan itu. Di baris paling bawah, dengan tulisan tangan yang sangat rapi:
Sarah (Lt. 18) — Abstain. Tapi untuk catatan: kalian semua akan kalah.
“Mbak,” kataku pelan. “Itu maksudnya apa?”
Mbak Sarah tidak menjawab pertanyaanku. Ia menatap jam di dinding, lalu menatapku, lalu berkata dengan suara yang cukup pelan supaya tidak terdengar sampai ke kubikel sebelah.
“Saya sudah tiga tahun bekerja dengan Bu Renata, Bima. Saya mau memberitahumu satu hal, dan saya hanya akan mengatakannya sekali.”
“Iya, Mbak.”
“Bu Renata tidak pernah menggoda orang yang tidak ia anggap.”
Lalu ia berbalik dan pergi. Pintu lift terbuka dan menutup. Lantai tujuh kembali bernapas.
Dodi muncul dari bawah mejanya. “Dia ngomong apa? Bim. Dia ngomong apa ke lo?”
Aku tidak menjawab. Aku sedang mengulang kalimat itu di kepalaku.
Bu Renata tidak pernah menggoda orang yang tidak ia anggap.
Menggoda.
Aku memikirkan kata itu sepanjang siang. Aku memikirkannya saat mencocokkan faktur nomor 0612 sampai 0640. Aku memikirkannya saat makan siang di meja pojok kantin, yang hari ini kosong karena semua orang mengira aku akan makan bersama Bu Renata lagi dan tidak berani duduk di dekatku. Aku memikirkannya saat menelepon Ibu, yang bertanya apakah mendoan kirimannya sudah sampai ke Bu Renata.
“Durung, Bu. Masih neng kos.”
(Artinya: “Belum, Bu. Masih di kos.”)
“Lho, kok durung? Mas Yanto wis nggawa wingi. Mesti isih anget—”
(Artinya: “Lho, kok belum? Mas Yanto udah bawa kemarin. Pasti masih hangat—”)
“Wis adem, Bu. Dari kemarin.”
(Artinya: “Udah dingin, Bu.”)
“Ya digoreng meneh! Kowe ki piye to. Gawan ibumu kok ora dikirim—”
(Artinya: “Ya digoreng lagi! Kamu ini gimana sih. Bawaan ibumu kok nggak dikirim—”)
Aku menatap kantong plastik berisi kotak mendoan di bawah mejaku. Kotak itu kubawa dari kos tadi pagi. Mas Yanto menyerahkannya kemarin, setelah pulang dari Purwokerto. Isinya dua puluh mendoan buatan Ibu, dibungkus daun pisang, dengan catatan kecil berhuruf besar-besar yang ditulis Ayu: UNTUK BU RENATA. DARI IBUNYA MAS BIMA. JANGAN DIMAKAN MAS BIMA.
Aku belum mengantarnya. Aku tidak tahu bagaimana mengantarnya. Kalau aku naik ke lantai delapan belas membawa kotak mendoan, satu gedung akan tahu dalam sepuluh menit.
Pukul lima sore, aku turun ke lobi untuk pulang.
Aku turun lebih cepat dari biasanya karena aku tidak ingin memikirkan papan tulis di pantry lebih lama lagi. Aku membawa tas kerja di satu tangan dan kantong plastik berisi kotak mendoan di tangan lain. Aku sudah memutuskan akan menitipkannya kepada Mas Yanto untuk diberikan kepada Pak Rahmat, supaya Pak Rahmat yang menyerahkannya kepada Bu Renata, supaya tidak ada yang melihat.
Itu rencana yang bagus. Rencana yang rapi. Tiga perantara.
Pintu lift terbuka di lobi.
Di depan pintu putar, diparkir dengan mesin menyala dan lampu hazard berkedip, ada sebuah mobil sedan hitam panjang yang mengilap seperti sepatu pantofel yang baru disemir. Di sebelahnya, bersandar di pintu penumpang dengan satu tangan di saku celana, berdiri seorang laki-laki.
Ia tinggi, hampir setinggi aku. Setelannya abu-abu gelap, jatuh di tubuhnya dengan cara yang hanya bisa dicapai penjahit. Kemejanya putih dengan dua kancing atas terbuka. Rambutnya disisir ke belakang dengan uban di pelipis yang membuatnya terlihat seperti aktor iklan jam tangan. Di tangan kirinya ada buket mawar merah yang begitu besar sampai menutupi separuh dadanya.
Seluruh lobi menatapnya. Resepsionis. Antrean lift. Mas Yanto, yang berdiri di posnya dengan wajah curiga.
“Itu siapa, Mas?” bisikku kepada Mas Yanto.
Mas Yanto menjawab tanpa menggerakkan bibir. “Satrio Hadikusumo. Bankir. Mantan pacarnya Bu Renata. Jaman dulu, sebelum Bu Renata nikah. Minggu lalu dia kirim bunga lili segede gaban ke lantai delapan belas. Katanya Bu Renata suruh taruh di pantry.”
“Mantan pacar.”
“Mantan pacar, Bim. Level sultan. Mobilnya itu harganya bisa beli rumah Bulik Har sekampung.”
Aku berdiri di samping pilar. Pilar yang sama. Aku tidak sengaja berdiri di sana; kakiku membawaku ke sana karena sudah dua tahun kakiku berhenti di sana setiap pagi.
Pukul lima lewat delapan, pintu lift eksekutif terbuka.
Bu Renata keluar.
Ia sudah berganti pakaian. Ia memakai gaun berwarna merah tua yang panjangnya tepat di bawah lutut, dengan lengan tiga perempat dan potongan leher yang lurus memperlihatkan tulang selangkanya. Gaun itu sederhana, tanpa hiasan apa pun, tapi jatuhnya di tubuhnya seperti air yang menuruni batu: mengikuti setiap lekuk dengan sopan dan tanpa ampun sekaligus. Rambutnya digerai dengan gelombang besar yang baru ditata. Bibirnya merah bata, lebih tegas dari biasanya. Heels-nya hitam, tinggi, dan bunyinya di lantai marmer seperti hitungan mundur.
Lobi berhenti.
Benar-benar berhenti. Antrean lift berhenti bergerak. Resepsionis berhenti mengetik. Seorang kurir paket yang sedang mendorong troli berhenti di tengah jalan dan troli itu terus meluncur sendiri sampai menabrak pot tanaman.
“Astaghfirullah,” bisik Mas Yanto. “Ini lobi apa catwalk.”
Aku tidak berkata apa-apa. Aku tidak bisa. Aku hanya berdiri di samping pilar dengan tas di satu tangan dan kotak mendoan di tangan lain, dan menatap.
Bu Renata berjalan menuju pintu putar. Ia tidak melihat ke arahku. Matanya lurus ke depan, ke mobil hitam, ke laki-laki dengan buket mawar.
Satrio Hadikusumo menegakkan badan saat ia mendekat. Ia tersenyum, senyum yang terlihat seperti sudah dipakai di banyak sampul majalah. Ia menyodorkan buket mawar itu.
“Bukan lili,” katanya. Suaranya cukup keras untuk terdengar sampai ke pilarku. “Aku belajar.”
Bu Renata menerima buket itu. Ia tidak tersenyum, tapi ia juga tidak menolak.
“Kamu terlihat luar biasa,” lanjut Satrio. Ia mencium pipinya, kiri dan kanan. “Seperti biasa. Seluruh lobi ini lupa cara bernapas. Aku menghitung.”
“Berapa?”
“Semua.”
Lalu Satrio menoleh. Matanya menyapu lobi, dengan santai, seperti orang yang memeriksa siapa saja penontonnya. Matanya berhenti padaku. Pada pilar. Pada kemeja biru tua dan tas kerja dan kantong plastik berisi kotak mendoan yang dibungkus daun pisang.
Aku melihatnya mengenaliku. Aku tidak tahu dari mana. Mungkin dari stiker. Seluruh Sudirman sepertinya sudah melihat stiker itu.
Satrio tersenyum lebih lebar. Ia membukakan pintu penumpang untuk Bu Renata, dan saat Bu Renata masuk, Satrio berjalan beberapa langkah ke arahku. Tidak sampai dekat. Hanya cukup dekat untuk bicara tanpa berteriak.
“Kamu yang lem sepatu itu, kan?” katanya ramah.
“Iya, Pak.”
“Terima kasih sudah membantu Renata minggu lalu. Itu baik sekali.” Ia memasukkan tangannya ke saku celana, santai, seperti sedang mengobrol di lapangan golf. “Sisanya, biar saya yang urus.”
Ia mengangguk sekali, sopan, dan kembali ke mobilnya. Mobil hitam itu melaju pergi dari lobi Wiraguna dengan bunyi mesin yang halus dan mahal.
Aku berdiri di samping pilar sampai lampu belakang mobil itu menghilang di jalur keluar Sudirman.
“Bim,” kata Mas Yanto pelan. “Kowe ra popo?”
(Artinya: “Kamu nggak apa-apa?”)
“Ora papa, Mas.”
(Artinya: “Nggak apa-apa, Mas.”)
“Kuping mu ra abang. Biasane abang.”
(Artinya: “Kupingmu nggak merah. Biasanya merah.”)
Aku menyentuh telingaku. Mas Yanto benar. Telingaku tidak merah. Untuk pertama kalinya sejak hari Senin, telingaku sama sekali tidak panas.
Ternyata telingaku hanya memerah kalau aku menyembunyikan sesuatu. Dan saat itu, berdiri di samping pilar dengan kotak mendoan di tangan, aku tidak sedang menyembunyikan apa-apa. Aku baru saja melihat sesuatu dengan sangat jelas, sejelas angka di kolom saldo akhir.
Malam itu aku duduk di kamar kos dengan buku catatan cokelat di pangkuan dan kotak mendoan Ibu di sebelahku, belum dibuka.
Aku memikirkan semua yang terjadi sejak hari Senin. Aku memikirkannya dengan cara yang paling kukuasai: satu per satu, seperti mencocokkan faktur.
Bu Renata menyentuh lenganku dua detik. Bu Renata menyindir surat itu empat kali dalam satu rapat. Bu Renata makan di kantin di depan dua ratus orang dan tertawa sampai menangis. Bu Renata mengambil ponselku dan bicara dengan Ibu. Bu Renata mengirim pesan pukul sepuluh malam. Bu Renata turun ke lantai tujuh pukul satu pagi dan menyelimutiku dengan blazernya. Bu Renata tertidur di mobil satu jengkal dari bahuku.
Bu Renata tidak pernah menggoda orang yang tidak ia anggap.
Menggoda. Mbak Sarah memilih kata itu dengan sangat hati-hati, seperti ia memilih setiap kata. Bukan menyukai. Bukan peduli. Menggoda.
Lalu aku memikirkan yang lain. Cincin emas putih polos yang diputar di antara ibu jari dan telunjuk pukul satu pagi. Satrio Hadikusumo dengan setelan buatan penjahit, mobil seharga rumah, dan suara yang tahu persis kapan harus dipelankan. Aku belajar. Bukan lili. Gaun merah tua. Lobi yang berhenti bernapas.
Sisanya, biar saya yang urus.
Aku menulis di buku catatan cokelat, di halaman paling belakang, di bawah baris Beliau tidak baik-baik saja.
Bu Renata masih mencintai almarhum suaminya.
Bu Renata punya Satrio Hadikusumo, yang selevel dengannya.
Bu Renata menggoda saya. Menggoda bukan berarti apa-apa. Menggoda berarti hiburan. Saya hiburan yang lucu karena saya tidak tahu cara bereaksi dan telinga saya merah.
Aku berhenti menulis. Aku membaca tiga baris itu lagi. Lalu aku menulis satu baris lagi di bawahnya, pelan, dengan huruf yang lebih kecil dari biasanya.
Bu Renata pantas mendapatkan yang lebih baik dari hiburan.
Aku menutup buku itu.
Keputusan itu tidak terasa seperti keputusan. Rasanya seperti menghitung ulang sebuah angka yang sudah kuketahui hasilnya sejak lama. Sejak empat tahun lalu, sebenarnya. Sejak kamar kos di Depok, kipas angin yang mengeluh, dan subjek email yang kutulis dengan sangat sadar: jangan dikirim.
Mulai Senin, aku tidak akan berdiri di samping pilar pukul 07.38.
Mulai Senin, aku akan meminta Pak Darto menitipkan dokumen untuk lantai delapan belas melalui kurir internal lagi, seperti dua tahun terakhir.
Mulai Senin, aku tidak akan naik ke ruang Saba pukul enam empat puluh lima untuk mematikan lampu. Aku tidak akan menitipkan pesan kepada Mbak Sarah. Aku tidak akan membalas pesan pukul sepuluh malam dengan apa pun selain angka.
Aku akan kembali ke lantai tujuh. Ke faktur nomor sekian sampai sekian. Ke meja pojok kantin. Ke tempatku.
Bu Renata tidak perlu tahu kenapa. Ia tidak perlu repot menolakku dengan sopan, atau merasa bersalah karena sudah menggodaku, atau menjelaskan bahwa Satrio Hadikusumo dan cincin di lehernya sudah mengisi semua ruang yang ada. Aku akan menghemat waktunya. Aku akan pergi sebelum ia harus menyuruhku pergi.
Itu hal paling baik yang bisa kulakukan untuknya.
Aku membuka kotak mendoan Ibu. Masih ada wangi daun pisang yang samar di balik bau minyak dingin. Aku mengambil catatan kecil dari Ayu, UNTUK BU RENATA, JANGAN DIMAKAN MAS BIMA, dan menyelipkannya di antara halaman buku cokelat, di sebelah selembar kertas lama yang terlipat dua kali.
Senin pagi, aku akan menitipkan kotak ini kepada Mbak Sarah dengan pesan untuk tim lantai delapan belas. Tanpa nama. Biar Mbak Sarah membaginya di pantry, bersama lili dan martabak dan semua hal lain yang dikirim orang ke lantai itu.
Aku mematikan lampu. Kipas angin mengeluh.
Di pantry lantai tujuh, di papan tulis putih yang miring, taruhan Pak Darto ternyata yang paling masuk akal.
Tidak akan pernah.
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah
- 7 Satrio
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung
- 10 Taruhan Pantry reading
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu
- 14 Nomor untuk Konsultasi
- 15 Pengajian 17 November
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf
- 30 Purwokerto
- 31 Restu
- 32 Terkirim
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong