← Masih di Folder Draf

Chapter Thirty Four

Dua Detik

POV: Bima

Aku berlatih mengucapkan ijab kabul tiga ratus dua kali.

Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya. Seratus kali di kos Bendungan Hilir, di depan cermin kecil di balik pintu, dengan kipas angin yang mengeluh. Seratus kali di kereta ekonomi Jakarta–Purwokerto dan kembali, dengan suara pelan supaya penumpang di sebelahku tidak mengira aku gila. Dua kali di depan Pakde Narto, yang mengoreksi pengucapanku pada nama Renata karena menurutnya aku terlalu lama di suku kata kedua. Seratus kali di pantry lantai tujuh, setelah jam kerja, di depan Dodi, yang setiap kali aku selesai mengucapkannya bertepuk tangan dan berteriak SAH! dengan toa sampai satpam lantai tujuh datang dan menyita toanya.

Kamis pagi, sebelas Februari, pukul delapan, aku duduk di karpet hijau di ruang utama Masjid Agung Al-Azhar, di depan meja kecil berlapis kain putih, dengan beskap hijau botol ukuran XL di bahu yang dijahit Bulik Har dan blangkon yang, untuk pertama kalinya, tidak kebesaran.

Aku tidak ingat satu kata pun.

“Mas,” bisik Dodi dari barisan di belakangku. Ia duduk bersila di antara Pak Darto dan Jordi, dengan batik cokelat dan peci yang dipinjam dari Pak Haji Rasyid. “Mas, napas. Lo pucet.”

“Dod... aku lupa.”

“Lupa apa?”

“Lupa semua. Ijab kabulnya. Tiga ratus dua kali latihan, ilang semua.”

“Bim.” Dodi mencondongkan badan ke depan. “Gue denger lo latihan seratus kali di pantry. Gue hafal. Satpam lantai tujuh hafal. Bu Yuyun hafal. Lo nggak lupa. Lo cuma takut.”

Aku menatap meja kecil di depanku. Di atasnya ada buku nikah, sebuah map, dan seperangkat alat salat yang dibungkus kain beludru hijau. Di sebelah alat salat, sebuah kotak kecil berisi emas empat gram. Dan sebuah amplop putih yang di depannya kutulis dengan tulisan tangan kecil dan rapi seperti cetakan: Uang tunai Rp4.712.000.

Penghulu, seorang bapak tua dengan janggut putih dan kacamata tebal, membaca amplop itu dan mengangkat alisnya.

“Empat juta tujuh ratus dua belas ribu?” tanyanya. “Angka yang spesifik, Nak.”

“Iya, Pak.”

“Ada artinya?”

Aku menatap angka itu. Empat koma tujuh satu dua. Enam pasang tagihan dengan nomor seri faktur pajak yang sama. Malam di lantai tujuh. Blazer krem di bahuku. Faktur kedua puluh enam sampai empat puluh delapan yang ia cocokkan di kursi rusak Dodi pukul satu pagi.

“Ada, Pak,” kataku. “Itu angka yang pertama kali bikin kami kerja bareng.”

Penghulu menatapku lama di balik kacamatanya yang tebal. Lalu ia tersenyum dan tidak bertanya lagi.

Di sisi meja yang lain, Papa duduk bersila dengan peci hitam dan jas abu-abu, tongkat kayunya diletakkan di karpet di sebelahnya. Papa yang akan menjadi wali nikah. Ia menatapku dengan wajah pensiunan direktur bank yang sedang membaca proposal kredit.

“Siap?” tanya Papa.

“Belum, Pak.”

Papa tertawa pelan. “Bagus. Laki-laki yang bilang siap waktu ijab kabul itu bohong.”

Di belakang Papa, di balik tabir kayu berukir yang memisahkan ruang utama dari ruang perempuan, aku tidak bisa melihat siapa pun. Tapi aku tahu ia ada di sana.

Aku tahu, karena udaranya wangi. Melati, dan sesuatu yang lebih hangat di bawahnya, seperti kayu manis. Bahkan di masjid. Bahkan di balik tabir kayu.


“Saudara Bima Wicaksono bin Wicaksono,” kata Papa. Tangannya menggenggam tanganku di atas meja kecil berlapis kain putih. Telapak tangannya hangat dan sedikit gemetar. “Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Renata Halim binti Hadi Halim, dengan mas kawin seperangkat alat salat, emas seberat empat gram, dan uang tunai sebesar empat juta tujuh ratus dua belas ribu rupiah, dibayar tunai.”

Papa mengguncang tanganku sekali.

Aku membuka mulut.

Tiga ratus dua kali. Pantry lantai tujuh. Kereta ekonomi. Cermin kecil di balik pintu kos. Pakde Narto yang bilang suku kata kedua terlalu lama.

“Saya terima nikah dan kawinnya Renata Halim binti Hadi Halim dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”

Satu tarikan napas.

Hening.

Penghulu menoleh ke kiri dan ke kanan, ke dua orang saksi. Saksi pertama adalah Pakde Narto, dengan blangkon dan kacamata baca di ujung hidung. Saksi kedua adalah Pak Ruslan, dengan kemeja batik terbaiknya dan kumis yang disisir sangat rapi.

“Bagaimana, saksi? Sah?”

“Sah,” kata Pakde Narto.

“Sah,” kata Pak Ruslan. Suaranya bergetar.

Dan dari barisan di belakangku, terdengar satu suara yang terlalu keras untuk masjid, yang kemudian dibungkam oleh tiga orang sekaligus:

“SAH!”

Itu Dodi. Tanpa toa. Toanya sudah disita oleh Pak Darto di pintu masjid. Tapi Dodi tidak butuh toa.

Seluruh masjid tertawa. Penghulu tertawa. Papa tertawa sambil mengusap matanya. Lalu penghulu mengangkat kedua tangannya dan memimpin doa, dan seluruh ruangan mengangkat tangan, dan aku mengangkat tanganku yang gemetar dan tidak bisa mendengar satu kata pun dari doa itu karena jantungku terlalu keras.


Buku nikah diletakkan di depanku untuk ditandatangani.

Penghulu menyodorkan sebatang pulpen hitam. Pulpen dinas, dengan logo Kementerian Agama di batangnya.

“Pak,” kataku pelan. “Boleh saya pakai pulpen saya sendiri?”

Penghulu menatapku. “Pulpen apa?”

Aku merogoh saku beskap hijau botol. Aku mengeluarkan sebatang pulpen merah. Merek biasa, yang dijual di toko alat tulis mana pun. Tutupnya tergigit di ujung.

Penghulu menatap pulpen merah itu. Lalu ia menatap tutupnya yang tergigit. Lalu ia menatapku.

“Tinta merah tidak lazim untuk buku nikah, Nak,” katanya.

“Saya tahu, Pak.”

“Kenapa merah?”

Aku menatap pulpen itu di tanganku.

“Karena empat tahun lalu, Pak,” kataku, “ada orang yang nulis dua belas angka pakai pulpen ini di pojok kertas saya. Dan saya nggak pernah nelepon nomornya.” Suaraku pecah sedikit. “Saya mau pulpen ini nulis sesuatu yang sampai.”

Penghulu diam lama.

Lalu ia menarik kembali pulpen dinasnya, dan menunjuk kolom tanda tangan di buku nikah dengan jarinya yang keriput.

“Tanda tangan di sini,” katanya. “Dengan tinta apa pun yang kamu mau.”

Aku menandatanganinya. Dengan tinta merah, sedikit pudar karena empat tahun disimpan, di kolom Suami. Lalu penghulu membalik buku itu dan membawanya ke balik tabir kayu berukir, ke ruang perempuan, dan aku mendengar suara-suara pelan di baliknya. Suara Mama Halim. Suara Mama Lies. Suara Ibu. Suara Tasya yang terisak.

Lalu suara yang kukenal lebih baik dari suara mana pun di dunia, pelan, sangat pelan, nyaris tidak terdengar:

“Boleh saya pakai pulpen yang sama?”


Tabir kayu itu dibuka pukul delapan lewat dua puluh lima.

Ia keluar dari ruang perempuan dengan Mama Halim di satu sisi dan Ibu di sisi yang lain.

Ia memakai kebaya hijau botol.

Kebaya brokat hijau botol yang dijahit Bulik Har di Purwokerto, dengan kain batik parang berwarna cokelat keemasan dan selendang tipis yang tersampir di bahu kirinya. Rambutnya disanggul di tengkuk dengan untaian melati yang menjuntai sampai ke bahu kanan, panjang dan putih dan wangi. Di keningnya, paes tipis dengan garis yang presisi. Di telinganya, anting mutiara nenek Halim. Bibirnya merah bata. Bahkan untuk akad. Bahkan di masjid.

Di jari manis tangan kirinya, cincin emas kuning yang sedikit penyok, sudah dikecilkan di tukang emas depan Pasar Wage minggu lalu sehingga tidak lagi kebesaran.

Ia menatapku dari ujung karpet hijau.

Aku tidak bisa bernapas.

Aku sudah memeriksanya empat tahun, empat bulan, dan dua puluh hari. Aku sudah melihatnya dengan blazer dan heels, dengan sweter kebesaran dan kaus kaki tebal, dengan jins Tasya dan sepatu kets, dengan gaun merah tanpa sepatu, dengan kebaya krem gading di gang belakang Pasar Wage. Aku sudah melihatnya menangis di ruangannya dan tertawa di tangga darurat dan tertidur di kursi belakang mobil satu jengkal dari bahuku. Aku sudah membandingkannya dengan semua orang yang pernah kulihat, dan selisihnya selalu terlalu besar untuk dianggap kesalahan pembulatan.

Tapi aku belum pernah melihatnya berjalan ke arahku sebagai istriku.

Datanya berubah. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, angkanya naik di luar perkiraan.

Dari balik tabir, aku mendengar Mbak Wina menangis keras. Aku mendengar Jordi berbisik ya ampun. Aku mendengar Pak Darto membuang ingus ke sapu tangan. Aku mendengar Dodi berbisik kepada siapa pun di sebelahnya, dengan suara serak: “Bu Renata lewat, Wi-Fi masjid langsung mati.”

Ia berhenti di depanku. Ia duduk bersimpuh di sebelahku, di atas karpet hijau, di depan meja kecil berlapis kain putih. Ia menatapku dari jarak setengah meter.

“Kamu lupa ijab kabulnya?” bisiknya.

“Hampir.”

“Dodi bilang kamu latihan tiga ratus kali.”

“Tiga ratus dua.”

Ia tersenyum. Matanya basah. Maskaranya, untuk pertama kalinya, tidak luntur sama sekali. Mbak Sarah yang memastikannya, katanya nanti. Mbak Sarah membeli maskara tahan air paling mahal di Jakarta dan mengoleskannya sendiri.

“Tanya dulu,” bisiknya.

“Tanya apa?”

“Boleh aku mencium tanganmu?”

Aku menatapnya. Ia sudah tahu jawabannya. Seluruh masjid tahu jawabannya. Tapi ia bertanya.

“Boleh,” kataku.

Ia mengambil tangan kananku dengan dua tangannya, menunduk, dan menciumnya. Lama. Bibirnya hangat di punggung tanganku. Saat ia mengangkat wajahnya, ada noda merah bata yang sangat samar di kulitku, di atas buku jari.

Aku tidak menghapusnya sampai malam.


Resepsi diadakan pukul empat sore, di halaman rumah keluarga Wiraguna di Menteng.

Mama Lies yang menawarkannya. Ia menawarkannya di dapur, dua minggu setelah lamaran, sambil mengupas jeruk. Hendra dulu senang kalau rumah ini ramai, katanya. Sudah tiga tahun rumah ini cuma ramai untuk pengajian. Biar ramai untuk yang lain.

Halaman di bawah dua pohon beringin yang umurnya lebih tua dari Republik dihias dengan lampu-lampu kecil yang digantung di antara cabang-cabangnya. Meja-meja bundar berlapis kain putih. Bunga melati di setiap meja. Tidak ada lili. Mbak Sarah memastikannya.

Di pintu masuk, di atas sebuah standar kayu, terpajang sebuah bingkai.

Di dalam bingkai itu, sehelai kertas HVS yang kekuningan di bagian tepi, dengan bekas lipatan dua kali yang sudah diluruskan sebisanya. Di bagian atasnya, tulisan tangan kecil dan rapi seperti cetakan, empat tahun lebih muda: Tugas Akhir — Analisis Biaya-Volume-Laba. Bima Wicaksono. Huruf A besar dilingkari tinta merah di pojok kanan atas.

Dan di pojok kanan bawah, tulisan miring dengan tinta merah yang sudah pudar:

Kalau mau diskusi.

Dua belas angka di bawahnya sudah ditutup dengan selotip kecil berwarna emas. Renata yang menutupnya. Katanya, nomor itu sudah tidak perlu ditelepon siapa pun lagi.

Di bawah bingkai, sebuah kartu kecil dengan tulisan tangan Renata, dengan tinta merah dari pulpen yang sama:

Empat tahun, empat bulan, dua puluh hari kemudian: sudah didiskusikan.

Setiap tamu yang masuk berhenti di depan bingkai itu. Setiap tamu.


Dodi menjadi MC.

Ia memakai jas hitam yang disewa dari tempat penyewaan di Pasar Senen, dasi kupu-kupu merah, dan rambut ikal yang dipaksa rapi dengan pomade sampai mengilap seperti sepatu pantofel yang baru disemir. Ia memegang mikrofon nirkabel di satu tangan. Di tangan yang lain, ia memegang toa. Pak Darto sudah mengembalikan toanya. Dodi bilang ia membutuhkannya untuk situasi darurat.

“HADIRIN YANG BERBAHAGIA,” katanya, lewat mikrofon dan toa sekaligus, sehingga suaranya bergema dua kali di halaman Menteng. “SELAMAT DATANG DI RESEPSI PERNIKAHAN PALING BERSEJARAH DALAM SEJARAH WIRAGUNA GROUP!”

Halaman bersorak.

Lalu Dodi menurunkan toanya, dan dengan suara biasa lewat mikrofon, ia membacakan sesuatu yang membuat seluruh halaman diam.

“Sebelum kita mulai,” katanya, “saya sebagai bandar resmi papan taruhan Kapan Bima Nembak? di pantry lantai tujuh, ingin mengumumkan hasil akhirnya.”

Ia mengeluarkan kaleng Khong Guan dari bawah meja MC.

“Total taruhan yang terkumpul selama tiga bulan: tiga juta empat ratus tujuh puluh lima ribu rupiah,” katanya. “Ditambah satu martabak telur bebek empat dari Jordi. Ditambah lima puluh ribu dari Pak Darto, yang kalah di depan dinding lift lantai dua.”

Pak Darto, di meja paling depan, mengangkat gelasnya.

“Setelah musyawarah panjang dengan dewan juri, yang terdiri dari saya, Mbak Wina, dan Bu Yuyun,” lanjut Dodi, “kami memutuskan bahwa pemenangnya adalah...”

Ia berhenti. Halaman menahan napas.

“...Pak Komar. Satpam malam. Dengan taruhan: Bu Renata yang nembak duluan.”

Pak Komar, yang duduk di meja paling belakang dengan batik pinjaman dan wajah yang tidak percaya, berdiri perlahan.

“Karena,” kata Dodi, menatap ke arah pelaminan, ke arahku dan Renata, “empat tahun lalu, dengan pulpen merah, di pojok lembar tugas, Bu Renata yang nembak duluan.”

Halaman meledak.

Pak Komar menerima kaleng Khong Guan itu di depan meja MC dengan dua tangan, seperti menerima piala. Ia menangis. Ia menangis dan menyalami Dodi, lalu menyalami Pak Darto, lalu berjalan ke pelaminan dan menyalamiku dengan tangan yang gemetar.

“Mas,” katanya. “Uangnya mau saya pakai buat umroh. Istri saya sudah nabung sepuluh tahun. Tinggal kurang segini.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Dan satu lagi, Mas.” Pak Komar menatap Renata, yang duduk di sebelahku dengan gaun putih gading yang menggantikan kebaya hijau botol untuk resepsi. “Saya sudah lima tahun jaga malam di gedung itu, Bu. Lima tahun saya lihat Ibu pulang jam sebelas, jam dua belas. Sendirian. Lihatin jendela mobil.” Ia mengusap matanya. “Sekarang Ibu nggak sendirian lagi. Itu lebih dari umroh, Bu.”


Hadiah-hadiah datang sepanjang sore.

Pak Yusuf dari Lumière datang sendiri, dengan rompi hitam dan dasi kupu-kupu merah anggur, membawa dua piring yang ditutup kubah perak. Ia meletakkannya di meja pelaminan dan membuka kubahnya. Crème brûlée dengan dua stroberi yang dipotong setengah. Tart lemon dengan meringue yang dibakar ujungnya.

“Dari sisa deposit, Madame,” katanya kepada Renata, dengan aksen yang berusaha terdengar Prancis tapi tetap Betawi. “Sesuai catatan reservasi. Dua makanan penutup.” Ia menatapku. “Yang satu untuk dia. Dia akan bilang kenyang.”

“Dia bohong,” kataku.

Pak Yusuf tersenyum di balik kumis tipisnya. “Saya tahu, Monsieur. Pak Hendra yang menulisnya.”

Satrio Hadikusumo tidak datang. Tapi pukul lima sore, seorang kurir mengantarkan buket bunga yang sangat besar ke meja penerima tamu. Bukan lili. Bukan mawar. Melati. Ratusan kuntum melati putih, dirangkai dengan daun pandan, dibungkus kertas cokelat sederhana dengan pita rafia.

Kartunya ditulis dengan tinta hitam, tulisan tangan yang licin dan percaya diri.

Renata. Bukan lili. Bukan mawar. Aku belajar dari orang yang lebih teliti dariku. Selamat. Kali ini aku kalah dengan senang hati. — S.

P.S. Untuk Bima: invoice kuartal depan sudah kuperiksa sendiri NPWP-nya. Tiga kali.

Ibu Laksmi Dharmawangsa datang dengan kebaya abu-abu dan memberikan sebuah amplop kepada Renata. Di dalamnya, salinan laporan audit forensik independen yang baru selesai seminggu lalu. Di halaman pertama, sebuah catatan tangan dengan tinta biru: Gunawan mengundurkan diri. Kasusnya sudah diserahkan ke penegak hukum. Kursi CFO aman. Kursi Direktur Utama kosong. Dewan sedang mencari seseorang yang teliti. Pikirkan baik-baik, Nak. — L.

Renata membaca catatan itu, lalu melipat amplopnya, lalu menyelipkannya ke tas tangan tanpa berkata apa-apa. Tapi aku melihat sudut bibirnya bergerak.

Ibu menjaga stan mendoan di sudut halaman, dengan wajan besar yang dibawa Mas Yanto dari Purwokerto dengan kereta ekonomi. Bulik Har membantunya. Antrean di depan stan mendoan lebih panjang dari antrean di depan stan sate dan stan kambing guling. Jordi menjaga stan martabak telur bebek empat, karena katanya ia masih punya utang moral. Bu Tini dari kantin menjaga stan nasi rames. Sayur lodeh, tempe goreng, telur balado.

Mama Lies duduk di meja keluarga dengan Mama Halim dan Ibu, tiga perempuan berkebaya, tertawa bersama atas sesuatu yang tidak bisa kudengar. Di leher Mama Lies, rantai emas tipis dengan cincin emas putih di ujungnya berkilau di bawah lampu-lampu yang digantung di cabang beringin.

Di dinding ruang tengah, yang bisa terlihat dari halaman melalui pintu yang dibuka lebar, foto Hendra dalam bingkai kayu jati tersenyum ke arah halaman yang ramai.


Pukul tujuh malam, Dodi mengangkat toanya.

“HADIRIN! MOMEN YANG DITUNGGU-TUNGGU! SESI FOTO DI PELAMINAN! SEMUA LANTAI TUJUH, MAJU!”

Lantai tujuh maju. Lalu lantai delapan belas. Lalu Treasury, Legal, Procurement, IT. Lalu satpam lobi dan satpam malam dan Bu Yuyun dan Bu Tini. Mereka berdesakan di depan pelaminan di bawah pohon beringin, empat puluh, lima puluh, enam puluh orang, sementara fotografer sewaan berteriak menyuruh mereka merapat.

Aku berdiri di pelaminan di sebelahnya.

Ia memakai gaun putih gading untuk resepsi. Gaun panjang dengan lengan brokat yang menutupi sampai pergelangan, potongan leher yang memperlihatkan tulang selangkanya, dan ekor gaun yang menyapu karpet pelaminan. Rambutnya masih disanggul dengan untaian melati dari akad tadi pagi, sekarang sedikit layu dan lebih wangi. Di jari manisnya, cincin emas kuning. Di lehernya, tidak ada apa-apa.

Ia berdiri dengan wajah ke arah kamera, tersenyum dengan senyum yang membuat fotografer sewaan lupa menekan tombol rana dua kali.

Aku menatapnya.

Lalu, untuk pertama kalinya dalam empat tahun, empat bulan, dan dua puluh hari, aku mengulurkan tangan lebih dulu.

Aku meletakkan dua jariku di lengannya. Di atas brokat putih gading, tepat di atas siku.

Satu detik.

Kain brokatnya halus dan sedikit dingin karena angin malam Menteng. Di bawahnya, aku merasakan lengannya menegang, seperti orang yang baru saja tersengat listrik.

Dua detik.

Aku menarik tanganku.

Ia menoleh perlahan dan menatapku.

Wajahnya merah. Merah dari pipi sampai ke telinga. Merah sampai ke leher, sampai ke tulang selangka yang terlihat di balik potongan leher gaunnya. Merah dengan warna yang belum pernah kulihat di wajahnya, warna yang lebih terang dari bibir merah bata, warna yang biasanya hanya ada di telingaku.

Renata Halim. CFO Wiraguna Group. Perempuan yang sejak umur tujuh belas tahu persis apa yang terjadi pada sebuah ruangan ketika ia masuk. Perempuan yang tahu kapan harus menatap, kapan harus diam, kapan harus menyentuh lengan selama dua detik saja dan membiarkan laki-laki itu memikirkan dua detik itu sampai seminggu.

Wajahnya merah karena dua detik.

“Kamu,” bisiknya. “Kamu yang nyentuh duluan.”

“Iya.”

“Dua detik.”

“Aku ngitung.”

“Tentu aja kamu ngitung.” Ia menutup mulutnya dengan tangan. Bahunya bergetar. “Bima. Wajahku.”

“Merah.”

“Aku tidak pernah merah.”

“Aku tahu,” kataku. “Udah aku periksa empat tahun. Baru kali ini.”

Dari kerumunan di depan pelaminan, aku mendengar sebuah jeritan yang sangat panjang dan sangat keras. Tasya. Dengan ponsel terangkat tinggi di atas kepala semua orang, merekam.

“KAKAK MERAH! KAKAKKU MERAH! INI PERTAMA KALI DALAM SEJARAH! AKU REKAM! AKU REKAM!”

Lalu Dodi mengangkat toanya.

Ia membuka mulut. Ia menatap pelaminan. Ia menatap wajah Renata yang merah dan tanganku yang baru saja turun dari lengannya. Ia menatap kerumunan enam puluh orang dari lantai tujuh, delapan belas, dan semua lantai di antaranya.

Lalu ia menurunkan toanya, perlahan, tanpa mengatakan apa pun.

Ia tersenyum. Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun empat bulan aku mengenalnya, Dodi Saputra tidak butuh toa untuk mengatakan sesuatu. Ia hanya mengacungkan dua jempol ke arah pelaminan, dengan mata yang basah, di bawah lampu-lampu yang digantung di cabang beringin.

Fotografer sewaan menekan tombol rana.

Klik.

Di foto itu, nanti, yang dicetak besar dan digantung di dinding ruang tengah rumah kami di Kebayoran Baru, enam puluh orang berdesakan di depan pelaminan. Sebagian tertawa. Sebagian menangis. Pak Darto dengan kupluk beruang yang entah kenapa ia pakai lagi. Mbak Sarah, tersenyum, sungguhan tersenyum, untuk pertama kalinya di depan kamera mana pun. Jordi memeluk kotak martabak. Pak Komar memeluk kaleng Khong Guan. Ibu dan Mama Lies dan Mama Halim bergandengan tangan.

Dan di tengah, di pelaminan, seorang perempuan bergaun putih gading dengan wajah yang merah sampai ke leher, menatap laki-laki di sebelahnya seolah-olah ia baru saja melihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan angka mana pun.

Dan laki-laki di sebelahnya, dengan beskap hijau botol ukuran XL di bahu, kacamata bingkai tipis, dan telinga yang sama sekali tidak merah.


Pukul sepuluh malam, Pak Rahmat mengantar kami pulang ke Kebayoran Baru.

Ia menyetir dengan sangat pelan dan sangat halus, menghindari setiap lubang di jalan dari Menteng sampai Kebayoran. Di kaca spion, aku melihat matanya. Matanya basah. Ia tidak berkata apa-apa sepanjang jalan.

Di kursi belakang, Renata bersandar di bahuku. Tidak satu jengkal jaraknya. Tidak ada jarak sama sekali.

Ia tidak tidur. Ia hanya bersandar, dengan mata terbuka, menatap lampu-lampu jalan yang melintas satu per satu. Tangannya di pangkuanku. Jari-jarinya bertaut dengan jari-jariku. Cincin emas kuning di jari manisnya bersentuhan dengan buku jariku setiap kali mobil berbelok.

“Bima,” katanya pelan.

“Iya.”

“Kamu capek?”

Aku menatapnya. Ia tidak pernah menanyakan itu kepadaku. Aku yang selalu menanyakan itu kepadanya. Empat tahun aku menanyakan itu dalam diam, lalu berminggu-minggu dengan suara, lalu dengan pesan, lalu di ambang pintu kamar hotel di Purwokerto.

Ia menanyakannya kepadaku.

“Sedikit,” kataku. “Tiga ratus dua kali latihan ijab kabul.”

Ia tertawa di bahuku. Lalu ia mengangkat wajahnya dan mencium rahangku, pelan, di bawah telinga.

“Telinga kamu enggak merah,” bisiknya.

“Nggak ada yang aku sembunyiin.”

“Sama sekali?”

Aku memikirkannya. Aku memikirkannya dengan serius, karena itu pertanyaan yang adil, dan pertanyaan yang adil layak dijawab dengan jujur.

“Ada satu,” kataku.

Ia mengangkat alis.

“Aku... nggak tahu harus ngapain,” kataku pelan, sangat pelan, supaya Pak Rahmat tidak mendengar. “Abis ini. Malam ini. Aku beneran nggak tahu caranya, Renata.”

Ia menatapku. Dalam cahaya lampu jalan yang melintas, wajahnya terang, gelap, terang, gelap.

Lalu ia tersenyum. Senyum yang sangat berbahaya. Senyum yang membuatku mengerti, untuk ke sekian kalinya, kenapa Satrio Hadikusumo menunggu tiga tahun.

“Kamu enggak perlu tahu caranya,” bisiknya di telingaku. “Aku tahu.”

Jeda.

“Kamu cukup jangan lari.”


Pintu rumah di Kebayoran Baru dibuka oleh Bi Asih, yang menangis sejak pagi dan masih menangis sampai malam. Ia menyalami Renata. Ia menyalamiku. Ia bilang ia sudah menyiapkan dua cangkir teh di meja dapur, madu satu sendok, dan ia akan menginap di rumah adiknya di Tebet malam ini. Lalu ia pergi, dengan tas kecil di tangan, menutup pagar besi hitam dari luar.

Pak Rahmat tidak masuk. Ia berdiri di samping mobil putih di depan pagar, menatap kami di teras, dan memberi hormat. Dua jari di pelipis. Seperti Mas Yanto. Seperti Pak Komar.

Lalu mobil putih itu melaju pergi dengan sangat pelan, dan menghilang di tikungan.

Renata berdiri di teras dengan gaun putih gading dan melati yang layu di sanggulnya. Ia menatapku.

“Tanya dulu,” katanya.

“Boleh aku masuk?”

Ia tertawa. Pelan, rendah, dengan suara yang membuat bulu di tengkukku berdiri.

“Ini rumah kamu juga sekarang, Bima,” katanya. “Kamu enggak perlu nanya buat masuk ke rumah sendiri.”

“Aku tetap bakal nanya.”

“Aku tahu.” Ia mengambil tanganku. “Boleh.”

Kami masuk.

Ruang tengah gelap, kecuali satu lampu kecil di sudut. Dua cangkir teh di meja dapur, uapnya masih tipis mengepul. Di dinding, belum ada foto apa pun. Nanti, foto dari pelaminan akan digantung di sana.

Ia tidak menyalakan lampu lain.

Ia berjalan ke tangga, dengan ekor gaun putih gading menyapu lantai, dan berhenti di anak tangga pertama. Ia menoleh. Tanpa heels, di anak tangga pertama, matanya sejajar dengan mataku.

Ia mengulurkan tangannya.

Aku menyambutnya.

Kami naik tangga bersama, satu anak tangga demi satu anak tangga. Aku tidak menghitungnya. Untuk pertama kalinya, aku sama sekali tidak ingin tahu berapa jumlahnya.

Di ujung koridor lantai dua, sebuah pintu terbuka. Lampu tidur di dalamnya menyala kuning, redup, seperti cahaya di kamar pada pukul enam pagi.

Ia masuk lebih dulu. Ia berbalik di ambang pintu dan menatapku dengan mata yang gelap dan sangat lembut.

Aku masuk.

Pintunya tertutup.