← Masih di Folder Draf

Chapter Thirty Three

Lamaran

POV: Renata

Tiga minggu setelah email kedua terkirim ke dua ribu orang, aku duduk di kursi belakang mobil putih di jalan tol Cipali, menuju Purwokerto, dengan seorang adik yang tidak berhenti bicara selama empat jam.

“Kak. Kak. Aku udah riset. Di Banyumas, lamaran itu namanya nontoni dulu, terus ngelamar, terus seserahan. Tapi Bu Sumi bilang kita langsung aja, soalnya Mas Bima udah nggak sabar dan Pakde Narto udah sewa tenda.”

(Artinya: nontoni = “melihat dan berkenalan dengan calon dulu” … ngelamar = “melamar”)

“Tasya.”

“Dan aku udah cari tahu soal bahasa Ngapak. Kalau Bu Sumi bilang inyong, itu artinya ‘saya’. Kalau bilang kepriben, itu artinya ‘bagaimana’. Kalau bilang ora mudeng, itu artinya ‘nggak ngerti’. Aku udah latihan semalaman.”

“Bu Sumi ngomongnya Jawa biasa, Tasya. Enggak Ngapak banget.”

“Tapi Pakde Narto pasti Ngapak. Aku udah liat videonya di grup Trah Wicaksono.”

Aku menoleh perlahan. “Kamu ada di grup Trah Wicaksono?”

Tasya menatapku dengan wajah polos. “Mas Yanto yang masukin. Minggu lalu. Katanya biar komunikasi lancar.”

Di kursi depan, di sebelah Pak Rahmat, Papa menoleh ke belakang dengan alis terangkat. Papa, enam puluh empat tahun, pensiunan direktur bank, yang empat tahun lalu masuk rumah sakit karena tekanan darah dan sekarang berjalan dengan tongkat kayu yang ia benci. Papa yang selama tiga tahun terakhir tidak pernah bertanya kepadaku kapan aku menikah lagi, karena Papa tahu itu bukan pertanyaan yang bisa dijawab.

“Ada berapa orang di grup itu?” tanya Papa.

“Empat puluh delapan, Pa. Sama aku.”

“Mereka bicara apa saja?”

“Kebanyakan stiker, Pa. Sama foto kambing. Sama Pakde Narto nanya nomor tukang servis kulkas.” Tasya mengeluarkan ponselnya. “Tapi kemarin Bulik Har kirim foto beskap yang lagi dijahit buat Mas Bima. Warnanya hijau botol. Bulik Har bilang biar matching sama kebaya Kakak.”

“Kakak belum pilih kebaya, Tasya.”

“Bulik Har udah pilihin, Kak. Hijau botol juga. Udah dijahit.”

Di sebelahku, Mama, yang sejak tadi tidur dengan kepala di jendela, membuka satu mata.

“Bulik Har itu siapa?” tanya Mama.

“Adik almarhum bapaknya Mas Bima, Ma. Yang dulu nanya CFO itu apa.”

Mama menutup matanya lagi. “Mama suka dia,” katanya.


Di mobil kedua, di belakang mobil kami, Mama Lies duduk sendiri dengan sopirnya.

Aku tidak memintanya ikut. Ia yang meminta. Hari Minggu dua minggu lalu, setelah pengajian rutin di rumah Menteng, ia memanggilku ke dapur dan berkata, sambil mengupas jeruk, Nduk, Mama ikut ke Purwokerto. Mama mau ketemu ibunya. Mama mau bilang terima kasih sudah membesarkan anak yang bisa masak rendang.

(Artinya: “Nak,”)

Aku bertanya apakah Mama yakin. Aku bertanya apakah keluarga Wiraguna tidak akan bicara.

Mama Lies menatapku dengan mata yang sama dengan mata Hendra.

Nduk, katanya. Keluarga Wiraguna sudah cukup bicara. Sekarang giliran Mama yang bicara.

(Artinya: “Nak,”)

Di lehernya, sejak hari Sabtu di lantai dua puluh, tergantung rantai emas tipis dengan cincin emas putih polos di ujungnya. Ia tidak pernah melepasnya lagi.


Rumah Bu Sumi di gang belakang Pasar Wage terlalu kecil untuk acara lamaran, jadi Pakde Narto menyewa tenda.

Bukan tenda kecil. Tenda biru-putih yang menutupi seluruh gang, dari mulut gang sampai rumah paling ujung, dengan kursi lipat berjajar di sepanjang jalan dan karpet merah murahan yang digelar di atas aspal. Lampu-lampu hias berkelap-kelip di tiang tenda. Pengeras suara di ujung gang memutar lagu campursari. Di depan rumah Bu Sumi, tetangga-tetangga berdiri berjajar dengan baju terbaik mereka, dan anak-anak kecil berlarian di antara kursi.

Mobil kami berhenti di mulut gang. Pak Rahmat membukakan pintu.

Aku turun.

Aku memakai kebaya. Bukan hijau botol; Bulik Har akhirnya diyakinkan oleh Ayu bahwa hijau botol untuk akad, dan untuk lamaran sebaiknya sesuatu yang lebih lembut. Kebaya brokat berwarna krem gading dengan bawahan kain batik parang cokelat tua, yang kupilih sendiri di Pasar Baru bersama Mama Lies dan Tasya. Rambutku disanggul rendah dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan lepas di sisi wajah. Di telingaku, anting mutiara nenekku. Di jari manis tangan kiriku, cincin emas kuning yang sedikit penyok, sedikit kebesaran, yang selama tiga minggu ini membuat Sarah, Tasya, dan seluruh lantai delapan belas berhenti menatap apa pun selain tangan kiriku.

Bibirku merah bata. Bahkan di Purwokerto. Bahkan di bawah tenda biru-putih.

Gang itu berhenti bergerak.

Benar-benar berhenti. Lagu campursari dari pengeras suara masih berbunyi, tapi tidak ada satu pun orang di gang itu yang bergerak. Anak-anak kecil berhenti berlari. Ibu-ibu tetangga berhenti berbisik. Seorang bapak tua yang sedang menyalakan rokok berhenti dengan korek api masih menyala di tangannya, sampai apinya membakar jarinya dan ia menjatuhkan koreknya dengan teriakan kecil.

Lalu, dari ujung gang, terdengar suara yang sangat keras.

“YA ALLAH. YA ALLAH GUSTI. KUWI MANTUNE SUMI?”

(Artinya: “YA ALLAH. YA ALLAH GUSTI. ITU MENANTUNYA SUMI?”)

Seorang perempuan lima puluhan dengan kebaya ungu dan sanggul besar berlari dari depan rumah Bu Sumi ke arahku, menerobos kerumunan tetangga.

“AYU NE. AYU NE KOYO NANG TIPI.”

(Artinya: “CANTIKNYA. CANTIKNYA KAYAK DI TIVI.”)

“Bulik Har,” bisik Tasya di sebelahku, dengan nada orang yang bertemu idolanya.

Bulik Har berhenti di depanku. Ia menatapku dari ujung sanggul sampai ujung selop, dengan mulut terbuka. Lalu ia menggenggam kedua tanganku dan menatap cincin emas kuning di jari manisku.

“Cincin e Mas Wicak,” bisiknya. Matanya langsung basah. “Cincin e kakangku.”

(Artinya: “Cincinnya Mas Wicak,” … “Cincin kakakku.”)

“Iya, Bulik,” kataku. “Bima yang pasang.”

Bulik Har menatapku. Lalu, tanpa peringatan apa pun, ia memelukku. Keras. Dengan sanggul besar yang menekan pipiku dan kebaya ungu yang berbau melati dan kamper. Lalu ia melepaskanku, menoleh ke seluruh gang, dan berteriak:

“IKI MANTUNE SUMI! CFO! INYONG WIS NGERTI CFO IKU OPO SAIKI! SING NGURUS DUIT!”

(Artinya: “INI MENANTUNYA SUMI! CFO! SAYA SUDAH TAHU CFO ITU APA SEKARANG! YANG NGURUS UANG!”)

Gang itu bersorak.


Bu Sumi menunggu di depan pintu rumahnya.

Ia memakai kebaya biru tua dan kerudung yang, untuk pertama kalinya sejak aku melihatnya di layar ponsel, tidak miring. Ayu berdiri di sebelahnya dengan kebaya pink dan wajah yang sudah basah sebelum aku sampai. Di belakang mereka, di ambang pintu, berdiri seorang laki-laki tinggi dengan beskap cokelat dan blangkon, dan kacamata berbingkai tipis yang berembun di satu sisi.

Bima.

Ia memakai beskap. Beskap cokelat tua dengan kain jarik dan blangkon yang sedikit kebesaran. Ia berdiri sangat tegak, seperti orang yang diajari ibunya untuk berdiri saat tamu datang, dan ia menatapku dari ambang pintu dengan wajah orang yang baru melihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan angka mana pun.

Telinganya tidak merah. Ia tidak menyembunyikan apa pun. Ia hanya menatapku, terang-terangan, di depan seluruh gang.

Bu Sumi berjalan maju. Ia berhenti di depanku. Ia menatapku dari dekat, dengan mata yang sama dengan mata Bima dan Ayu: cokelat gelap, dengan bulu mata pendek dan lurus.

“Bu Renata,” katanya pelan, dengan bahasa Indonesia yang sangat hati-hati.

“Bu,” kataku. “Panggil Renata aja. Atau Rena.”

Bu Sumi menatapku lama. Lalu ia mengangkat tangannya dan menyentuh pipiku. Telapak tangannya kasar, hangat, dan berbau minyak goreng dan kencur.

“Nduk,” katanya. “Matur nuwun wis gelem nunggu anakku sing bodho.”

(Artinya: “Nak,” … “Terima kasih sudah mau menunggu anakku yang bodoh.”)

Aku tidak bisa menjawab. Mataku panas.

“Patang taun,” lanjut Bu Sumi. Suaranya bergetar. “Patang taun kertas iku disimpen. Saben bengi. Ibu ngerti. Ibu ndelok.”

(Artinya: “Empat tahun,” … “Empat tahun kertas itu disimpan. Setiap malam. Ibu tahu. Ibu lihat.”)

“Saya juga nunggu, Bu,” bisikku.

Bu Sumi menatapku. Lalu ia menarikku ke dalam pelukan, dan aku memeluk ibu Bima di depan rumah papan di gang belakang Pasar Wage, di bawah tenda biru-putih, di depan seratus tetangga dan anak-anak dan Bulik Har yang menangis keras dan Tasya yang merekam semuanya dengan ponsel meskipun sudah kularang.

Di belakangku, aku mendengar langkah kaki pelan di karpet merah.

Mama Lies.

Bu Sumi melepaskan pelukannya dan menatap ke balik bahuku. Ia melihat perempuan enam puluh tiga tahun dengan kebaya hitam dan selendang batik cokelat dan kerudung putih, dengan rantai emas tipis dan cincin emas putih di lehernya.

“Ini Mama Lies, Bu,” kataku. “Ibunya almarhum suami saya.”

Hening.

Seluruh gang tahu. Mas Yanto sudah menceritakan semuanya di grup Trah Wicaksono. Tentang Pak Hendra. Tentang pengajian. Tentang rendang. Seluruh gang tahu siapa perempuan berkebaya hitam itu, dan seluruh gang menahan napas.

Mama Lies berjalan ke depan. Ia berhenti di depan Bu Sumi. Dua perempuan, dua ibu, dua janda, berdiri berhadapan di depan rumah papan di bawah lampu hias yang berkelap-kelip.

“Bu Sumi,” kata Mama Lies. “Saya Lies. Saya ibunya Hendra.”

“Inggih, Bu,” kata Bu Sumi pelan. “Ibu sampun kesah tebih.”

(Artinya: “Iya, Bu,” … “Ibu sudah jauh-jauh datang.”)

“Saya ke sini untuk bilang terima kasih, Bu,” kata Mama Lies. “Anak Ibu menyelamatkan rendang anak saya. Di pengajian ulang tahunnya. Pakai kerisik.” Suaranya pecah sedikit. “Anak saya tidak bisa masak. Rendangnya selalu gosong. Tahun ini tidak gosong.”

Bu Sumi menatapnya.

“Dan anak Ibu,” lanjut Mama Lies, “memastikan hadiah terakhir anak saya sampai ke istrinya. Tiga tahun hadiah itu tidak sampai. Anak Ibu yang memastikannya.”

Ia mengulurkan tangannya.

“Saya titipkan dia ke anak Ibu,” kata Mama Lies. “Renata. Menantu saya. Saya titipkan.”

Bu Sumi menatap tangan yang terulur itu. Lalu ia tidak menyalaminya. Ia memeluknya.

Dua perempuan berkebaya, satu biru tua, satu hitam, berpelukan di depan rumah papan di gang belakang Pasar Wage, sementara seratus tetangga menangis, Bulik Har menjerit, Pakde Narto mengusap matanya dengan ujung blangkon, dan Tasya, di sebelahku, menurunkan ponselnya dan tidak lagi merekam.


Acara lamaran dimulai pukul sepuluh, di ruang tamu rumah Bu Sumi yang terlalu kecil, dengan pintu dan jendela dibuka lebar supaya tetangga di bawah tenda bisa menonton.

Pakde Narto membuka acara dengan bahasa Jawa krama yang sangat panjang dan sangat formal, dan Tasya, yang sudah latihan semalaman, tidak mengerti satu kata pun. Papa menjawab dengan bahasa Indonesia yang sangat sopan dan sangat singkat, karena Papa orang Medan dan tidak bisa bahasa Jawa sama sekali. Mama Lies menerjemahkan untuk Papa. Bulik Har menerjemahkan untuk Tasya, dengan terjemahan yang sangat bebas.

Lalu tiba giliran Bima.

Ia berdiri di tengah ruang tamu dengan beskap cokelat dan blangkon yang kebesaran. Ia memegang selembar kertas. Aku melihat kertas itu dari tempatku duduk. Tulisan tangannya kecil dan rapi seperti cetakan.

Ia membuka mulut.

“Bapak Halim yang saya hormati,” katanya. Suaranya sedikit bergetar. “Ibu Halim. Ibu Lies. Mbak Tasya. Bapak-bapak, Ibu-ibu, para tetangga.”

Ia menatap kertasnya.

“Saya sudah siapkan pidato,” katanya. “Tiga halaman. Nulisnya seminggu.”

Seluruh ruang tamu menunggu.

“Poin satu,” kata Bima.

Tasya, di sebelahku, menutup mulutnya dengan dua tangan.

“Saya Bima Wicaksono. Dua puluh delapan tahun. Staf Accounts Payable di Wiraguna Group, sekarang di bawah Financial Controller, sesuai keputusan dewan komisaris tanggal sembilan belas Desember. Gaji saya...” Ia menyebutkan angkanya. Dengan angka dan huruf. Seluruh tenda di luar menahan napas. “...dan dari gaji itu, separuh saya kirim ke Purwokerto untuk kuliah adik saya, Ayu, yang akan lulus dua tahun lagi.”

Papa, di kursi di seberangnya, mengangkat alisnya sedikit.

“Poin dua. Saya tidak punya rumah. Saya tinggal di kos tiga kali empat di Bendungan Hilir. Saya tidak punya mobil. Saya tidak punya tabungan yang cukup untuk membeli cincin. Cincin yang dipakai Renata sekarang adalah cincin almarhum bapak saya.”

Bulik Har mulai menangis lagi.

“Poin tiga.” Bima berhenti. Ia menatap kertasnya. Lalu ia melipat kertas itu dua kali dan memasukkannya ke saku beskapnya.

“Maaf,” katanya. “Saya nggak sanggup bacain sisanya.”

Ia menatap Papa.

“Pak,” katanya. “Poin tiga sampai poin dua belas isinya hal-hal yang bisa saya kasih. Saya bisa nyetrika. Saya bisa benerin sepatu. Saya bisa masak sop ayam sama rendang. Saya tahu takaran madu di teh Renata. Saya tahu kapan dia migrain. Saya tahu dia nggak suka tempe, tapi tetap dimakan biar penjualnya nggak tersinggung. Saya tahu dia bakal bilang kenyang, padahal bohong.”

Papa menatapnya.

“Tapi kayaknya Bapak nggak perlu daftar itu,” kata Bima. “Bapak sudah kenal putri Bapak jauh lebih lama dari saya. Bapak tahu semuanya.”

Ia menarik napas.

“Saya cuma mau bilang satu hal, Pak. Saya akan tanya dia. Setiap hari. Sebelum saya memutuskan apa pun. Dan saya akan tanya dia capek atau nggak. Setiap hari.” Suaranya pecah. “Soalnya empat tahun lalu, waktu dia ngajar di kelas saya, dia kelihatan capek, dan nggak ada yang nanya. Saya juga nggak nanya. Saya cuma nulis itu di surat yang nggak saya kirim.”

Ruang tamu itu sunyi. Di luar, di bawah tenda, seratus orang tidak bersuara.

“Dengan itu,” kata Bima, “saya, Bima Wicaksono, bersama keluarga saya, melamar putri Bapak, Renata Halim, untuk menjadi istri saya.”

Ia membungkuk dalam-dalam.

“Poin tiga sampai dua belas bisa saya kirim lewat email kalau Bapak perlu,” tambahnya pelan dari posisi membungkuk.

Papa menatapnya lama.

Papa, pensiunan direktur bank, yang empat puluh tahun membaca proposal kredit dan presentasi investor, yang bisa menemukan kebohongan di laporan keuangan dari jarak tiga meter. Papa menatap laki-laki dua puluh delapan tahun yang membungkuk di depannya dengan beskap cokelat dan blangkon kebesaran.

Lalu Papa tertawa.

Tawa yang pendek, keras, dan tidak bisa ditahan. Ia memukul lututnya sendiri dengan tongkat kayunya, dan tertawa sampai Mama harus menepuk punggungnya.

“Disetujui,” kata Papa, di sela tawanya. “Tanpa revisi.”

Aku menatap Papa.

Papa menatapku, dengan mata yang basah karena tertawa. “Rena bilang itu kalimatnya, kan? Waktu dia nembak di kantor?”

“Bukan dia yang nembak, Pa. Rena yang nembak. Empat tahun lalu.”

“Kalau begitu,” kata Papa, dengan suara yang tiba-tiba sangat lembut, “Papa senang dia akhirnya menjawab.”


Tanggal ditentukan pukul dua belas, di sela makan siang mendoan dan nasi rames yang dimasak Bu Sumi, Bulik Har, dan tiga tetangga sejak pukul tiga pagi.

Kamis, sebelas Februari.

Bima yang mengusulkannya. Ia mengusulkannya dengan suara pelan, dengan telinga yang sedikit memerah, dan semua orang bertanya kenapa Kamis. Ia tidak menjawab. Ia hanya menatapku.

Aku tahu kenapa. Kelas hari Kamis. Pukul tiga sore sampai lima. Ruang kuliah lantai dua dengan AC yang separuh rusak.

“Kamis,” kataku. “Setuju.”


Malam itu, aku menginap di sebuah hotel di pusat kota Purwokerto, satu-satunya hotel berbintang empat yang bisa ditemukan Sarah dengan pemberitahuan satu minggu. Papa, Mama, dan Tasya di kamar sebelah. Mama Lies di kamar seberang koridor.

Pukul sembilan malam, aku mendengar ketukan di pintu kamar.

Dua kali. Sopan.

Aku membuka pintu.

Bima berdiri di koridor hotel dengan kaus polo abu-abu dan celana bahan cokelat, tanpa beskap, tanpa blangkon. Di tangannya ada sebuah kantong plastik.

“Charger HP-mu,” katanya. “Ketinggalan di ruang tamu. Ibu nemu di bawah kursi.”

Aku menatap kantong plastik itu. Lalu aku menatapnya.

“Kamu kan bisa titip ke resepsionis.”

“Aku tahu.”

“Tapi kamu enggak titip.”

“Aku mau tanya sesuatu dulu.” Ia menelan ludah. “Boleh aku masuk? Lima menit. Buat nyerahin charger. Abis itu aku pulang.”

Aku menatapnya. Laki-laki yang sebulan lalu berdiri di depan pagar rumahku dengan kantong belanjaan dan meminta Bi Asih menanyakan apakah ia boleh memasak di dapur. Laki-laki yang sekarang berdiri di depan pintu kamar hotelku dengan charger ponsel dan bertanya apakah ia boleh masuk lima menit.

Aku memakai gaun tidur satin berwarna anggur dengan jubah tipis yang belum kuikat. Rambutku sudah dilepas dari sanggul dan jatuh bergelombang di bahu. Riasanku sudah kuhapus, kecuali bibir. Aku belum menghapus bibirku. Aku tidak tahu kenapa.

Aku tahu kenapa.

“Boleh,” kataku.

Ia masuk. Aku menutup pintu. Ia berdiri di tengah kamar hotel dengan kantong plastik di tangan, menatap ke mana pun kecuali ke arahku. Ke tempat tidur. Ke jendela. Ke televisi yang mati. Ke lukisan pemandangan sawah di dinding. Ke karpet.

Telinganya mulai memerah.

“Bima.”

“Iya.”

“Kamu ngelihatin karpet.”

“Karpetnya bagus.”

“Karpetnya cokelat, dan ada noda kopi dekat meja.”

“Nodanya... menarik.”

Aku berjalan mendekat. Pelan. Dengan kaki telanjang di atas karpet cokelat yang ada noda kopinya. Aku mengambil kantong plastik dari tangannya dan meletakkannya di meja. Lalu aku berdiri di depannya, dekat, sangat dekat, dan menatapnya dari bawah.

“Empat minggu lagi,” kataku pelan.

Jakunnya bergerak.

“Empat minggu lagi, Bima,” kataku, lebih pelan, “kamu enggak perlu ngelihatin karpet.”

Ia menatapku. Akhirnya. Matanya gelap di balik kacamata.

“Renata,” katanya. Suaranya serak. “Kamu sengaja.”

“Sengaja banget.”

“Kamu tahu apa yang kamu lakuin.”

“Aku udah tahu dari umur tujuh belas.” Aku mengangkat tangan dan melepas kacamatanya. Pelan. Satu tangan di setiap gagang. Aku melipatnya dan meletakkannya di meja, di sebelah kantong plastik berisi charger, sejajar dengan tepi meja. “Kamu enggak perlu tahu caranya. Kamu cukup jangan lari.”

“Aku nggak lari.”

“Bagus.”

Aku menciumnya.

Ia menciumku balik. Dan kali ini, tidak ada yang ragu. Tidak ada tangan yang menggantung seperti papan kayu, tidak ada napas yang ditahan, tidak ada terima kasih di akhir. Tangannya menemukan pinggangku di atas satin, menarikku mendekat, dan aku merasakan seluruh tubuhnya menegang lalu melunak lalu menegang lagi. Ia sudah belajar. Ia sudah memperhatikan. Tujuh minggu memperhatikan, dan sekarang ia tahu persis di mana tangannya harus berada.

Jubah tipisku meluncur dari satu bahu.

Ia berhenti. Ia menatap bahuku yang telanjang. Lalu menatapku.

“Tanya dulu,” bisiknya.

Aku hampir tertawa. Aku hampir menangis. Laki-laki ini. Laki-laki ini, di kamar hotel di Purwokerto, dengan jubah yang meluncur dari bahuku dan napas yang berantakan, berhenti untuk bertanya.

“Tanya,” bisikku.

Ia membuka mulut.

Ponselnya berbunyi.

Bukan bergetar. Berbunyi. Nada dering yang sangat keras, sangat ceria, sangat dangdut. Dari saku celananya. Di antara kami.

Kami membeku.

Ia merogoh sakunya dengan tangan yang gemetar. Layarnya menyala. Ibu (Purwokerto). Panggilan video.

“Jangan diangkat,” bisikku.

“Kalau nggak diangkat, Ibu bakal telepon lagi.”

“Biar.”

“Terus Ibu telepon Mas Yanto. Terus Mas Yanto telepon Pak Rahmat. Terus Pak Rahmat ngetuk pintu ini.”

Aku menatapnya. Ia benar. Aku tahu ia benar.

Aku menarik jubahku kembali ke bahu. Aku mundur dua langkah. Aku duduk di tepi tempat tidur dan menutup wajah dengan dua tangan.

Ia mengangkat panggilan itu.

“BIM!” Wajah Bu Sumi memenuhi layar, sangat dekat, seperti biasa. Hidung, sebagian kacamata, kerudung cokelat yang kembali miring. “Kowe nang ngendi? Kok ora mulih-mulih?”

(Artinya: “Kamu di mana? Kok nggak pulang-pulang?”)

“Lagi nganter charger, Bu.”

“Charger opo?”

(Artinya: “Charger apa?”)

“Charger Renata, Bu. Ketinggalan.”

“Lho, kok suwe? Hotele cedhak kok.” Lalu Bu Sumi menyipitkan mata ke layar. “Bim. Kacamatamu nang ngendi?”

(Artinya: “Kok lama? Hotelnya dekat kok.” … “Bim. Kacamatamu di mana?”)

Bima membeku.

Di layar, di belakang wajah Bu Sumi, wajah Bulik Har muncul. Lalu wajah Ayu. Lalu wajah Pakde Narto, yang memakai blangkon dan kacamata baca di ujung hidung.

“Lho, kok rame?” kata Bima lemah.

“Kene lagi ngrembug beskap,” kata Bu Sumi. “Bulik Har arep jahitke beskap nggo akad. Ijo botol. Ukuran klambimu opo? L opo XL? Bulik Har lali ngukur tadi siang.”

(Artinya: “Di sini lagi ngomongin beskap,” … “Bulik Har mau jahitkan beskap buat akad. Hijau botol. Ukuran bajumu apa? L atau XL? Bulik Har lupa ngukur tadi siang.”)

“Bu. Sekarang?”

“Lha iyo, sekarang. Tukang jahite mbukak jam lima esuk.”

(Artinya: “Ya iya, sekarang. Tukang jahitnya buka jam lima pagi.”)

“L, Bu. XL di bahu.”

“Bahumu jembar. Iyo, XL.” Bu Sumi menoleh ke belakang. “Har, XL.” Lalu ia menoleh kembali ke layar dan menyipitkan mata lagi. “Bim. Kupingmu abang.”

(Artinya: “Bahumu lebar. Iya, XL.” … “Bim. Kupingmu merah.”)

“Ora, Bu.”

(Artinya: “Nggak, Bu.”)

“Abang, Bim. Abang banget. Kowe ngapain?”

(Artinya: “Merah, Bim. Merah banget. Kamu ngapain?”)

Di belakangnya, Ayu menutup mulutnya dengan tangan. Bulik Har menatap layar dengan mata menyipit. Pakde Narto menurunkan kacamata bacanya.

“Bu,” kata Bima dengan suara tercekik. “Bima mulih saiki.”

(Artinya: “Bima pulang sekarang.”)

“Lha yo, mulih. Wis bengi. Ora ilok.”

(Artinya: “Ya iya, pulang. Sudah malam. Nggak pantas.”)

“Iya, Bu.”

“Salam kanggo Nduk Rena.”

(Artinya: “Salam buat Nak Rena.”)

“Iya, Bu.”

Bima menutup panggilan itu. Ia berdiri di tengah kamar hotel dengan ponsel di tangan, tanpa kacamata, dengan kaus polo yang kusut di bagian dada dan rambut yang berantakan di bagian belakang dan telinga yang merah seperti lampu darurat.

Aku menurunkan tangan dari wajahku dan menatapnya.

Lalu aku tertawa.

Aku tertawa sampai harus berbaring di tempat tidur, dengan jubah satin dan rambut yang menyebar di bantal, tertawa sampai air mata keluar dari sudut mataku. Ia berdiri di sana dan menatapku tertawa, dan perlahan, sudut bibirnya bergerak naik, dan ia ikut tertawa, pelan, lalu keras, sampai ia harus duduk di kursi di dekat meja.

“Beskap,” kataku di sela tawa. “Ibu kamu nelepon soal ukuran beskap.”

“XL di bahu.”

“Bulik Har. Pakde Narto. Ayu. Semua.”

“Semua.”

“Dan ibu kamu bilang telinga kamu merah.”

“Ibuku selalu tahu.”

Aku duduk. Aku mengusap mataku. Aku menatapnya dari tepi tempat tidur, dan ia menatapku dari kursi, dengan jarak dua meter di antara kami dan kantong plastik berisi charger di meja.

“Empat minggu,” kataku.

“Empat minggu,” katanya.

“Kamu bisa nunggu?”

Ia menatapku. Ia mengambil kacamatanya dari meja dan memakainya. Lalu ia menatapku lagi, kali ini dengan jelas.

“Aku udah nunggu empat tahun, tiga bulan, delapan belas hari,” katanya. “Empat minggu sih gampang.”

Ia berdiri. Ia berjalan ke pintu. Di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh.

“Renata.”

“Hm.”

“Kamu capek?”

Aku menatapnya. Laki-laki dengan kaus polo kusut dan telinga merah dan kacamata yang miring sedikit, berdiri di ambang pintu kamar hotel di Purwokerto pukul sembilan lewat dua puluh malam, setelah dihentikan ibunya sendiri di tengah hal yang paling tidak ingin dihentikan. Dan ia bertanya apakah aku capek.

“Enggak,” kataku. “Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, enggak.”

Ia tersenyum.

“Bagus,” katanya. “Selamat tidur, Renata.”

Ia keluar. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang sopan.

Aku berbaring kembali di tempat tidur, menatap langit-langit kamar hotel, dan memutar cincin emas kuning yang sedikit kebesaran di jari manisku. Sekali. Dua kali.

Lalu aku berhenti.

Aku tidak perlu memutarnya. Cincin ini bukan sesuatu yang belum selesai.

Ponselku bergetar di meja samping tempat tidur. Satu pesan. Dari nomor yang tidak kusimpan, dengan foto profil gadis berkerudung pink di depan sawah.

Bu Renata, eh, Mbak Rena. Maaf soal tadi. Ibu nggak tahu. Ibu cuma mau nanya ukuran beskap. Aku udah bilang ke Ibu jangan telpon jam segini, tapi Ibu bilang tukang jahitnya buka jam lima pagi.

Tapi Mbak, kata Ibu, kalau kuping Mas Bima merah, artinya dia lagi nyembunyiin sesuatu. Dan Ibu bilang, ini pertama kalinya Ibu lihat kuping Mas Bima merah tapi Mas Bima nggak kelihatan sedih.

Ibu bilang itu bagus.

Aku tersenyum ke layar ponsel.

Ibumu benar, ketikku. Itu bagus.

Lalu aku mematikan lampu, dan tidur nyenyak untuk pertama kalinya di kota yang belum pernah kukunjungi, dengan cincin almarhum ayah seseorang di jariku dan wangi minyak goreng dan kencur yang masih tersisa di kebaya yang tergantung di lemari hotel.