← Masih di Folder Draf

Chapter Five

Kelas Hari Kamis

POV: Renata

Empat tahun lalu, di bulan September, seorang guru besar di sebuah kampus di Depok meneleponku dan bertanya apakah aku bersedia mengisi empat pertemuan kelas Akuntansi Manajemen sebagai dosen tamu praktisi.

Aku menolak dua kali. Aku dua puluh delapan tahun, baru enam bulan menjabat VP Finance di Wiraguna, dan kalenderku penuh sampai Natal. Guru besar itu menelepon untuk ketiga kalinya dan berkata, “Renata, kamu dulu mahasiswa saya yang paling sombong. Saya ingin tahu apakah kamu masih sombong, atau sudah cukup sombong untuk mengajar.”

Aku menerimanya. Tentu saja aku menerimanya.

Empat hari Kamis. Pukul tiga sore sampai lima. Ruang kuliah lantai dua dengan AC yang hanya separuh berfungsi, papan tulis putih yang bekas spidolnya tidak pernah benar-benar hilang, dan enam puluh mahasiswa tingkat akhir yang separuhnya mengantuk dan separuhnya lagi menatapku dengan cara yang sudah kukenal sejak SMA.

Kecuali satu.

Ia duduk di bangku paling depan, tepat di depan meja dosen. Kemejanya selalu disetrika terlalu rapi untuk ukuran mahasiswa. Kacamatanya berbingkai tipis. Ia mencatat semua yang kukatakan, bukan di laptop seperti yang lain, tapi di buku tulis bergaris dengan pulpen biasa, dan tulisannya kecil, rapi, nyaris seperti cetakan. Ia tidak menatapku seperti laki-laki lain menatapku. Ia menatap papan tulis, lalu bukunya, lalu papan tulis lagi, dan baru menatapku saat aku bicara, seperti orang yang mendengarkan dengan seluruh badannya.

Setiap pertemuan ia mengangkat tangan tepat satu kali. Tidak pernah dua. Pertanyaannya selalu tepat sasaran, selalu tentang hal kecil yang dilewatkan semua orang. Di minggu pertama ia bertanya kenapa aku menghitung biaya overhead dengan dua metode berbeda di dua slide berbeda, padahal itu kesalahan yang baru kusadari setelah ia menunjuknya. Di minggu kedua ia bertanya apakah angka di contoh kasus yang kuberikan berasal dari perusahaan sungguhan, karena menurutnya rasio perputaran persediaannya terlalu bagus untuk industri itu. Ia benar. Aku mengarangnya di mobil saat terjebak macet di Lenteng Agung.

Aku mulai menunggu pertanyaannya. Aku tidak mengakuinya kepada diriku sendiri waktu itu, tapi aku mulai menunggu. Setiap Kamis, pukul tiga lewat dua puluh, aku akan melirik ke bangku depan dan memikirkan apa yang akan ia tanyakan hari ini.

Di minggu ketiga, ia tidak bertanya tentang angka.

Kelas sudah selesai. Mahasiswa lain sudah berhamburan keluar. Aku sedang membereskan laptop dan termos kecil berisi teh melati dengan madu yang selalu kubawa ke kelas karena AC ruangan itu membuat tenggorokanku kering. Ia masih duduk di bangkunya, membereskan buku dengan sangat pelan, seperti orang yang sedang mengumpulkan keberanian.

Lalu ia berdiri, berjalan ke meja dosen, dan berkata, “Bu, maaf. Termos Ibu bocor.”

Aku melihat ke bawah. Tutup termosku memang longgar, dan setetes demi setetes teh melati sudah membentuk genangan kecil di atas map materi kuliahku.

“Oh,” kataku. “Terima kasih.”

Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya. Sapu tangan. Laki-laki dua puluh empat tahun di tahun 2022 masih membawa sapu tangan kain bermotif kotak-kotak biru. Ia mengelap genangan itu dengan hati-hati, lalu mengambil termosku, mengencangkan tutupnya, dan mengujinya dengan memiringkannya ke samping.

“Karetnya udah aus, Bu,” katanya. “Kalau Ibu mau, karet kayak gini bisa diganti di toko perabot. Harganya dua ribu lima ratus.”

Aku menatapnya. Dua ribu lima ratus. Ia bahkan tahu harganya.

“Kamu suka merhatiin hal-hal kecil, ya,” kataku.

Telinganya memerah. Aku ingat itu dengan sangat jelas. Merah seperti udang rebus, dari cuping sampai ke ujung atas.

“Maaf, Bu,” katanya. “Kebiasaan.”

Lalu ia mengembalikan termosku, membungkuk sedikit, dan pergi. Sapu tangannya tertinggal di mejaku, basah dan wangi melati. Aku menyimpannya di laci meja kantorku selama berbulan-bulan, sampai suatu hari aku pindah ruangan dan tidak menemukannya lagi.


Minggu keempat adalah pertemuan terakhir. Kamis, 13 Oktober 2022.

Minggu itu adalah salah satu minggu terburuk dalam hidupku. Tutup buku kuartal tiga. Dua malam tidak tidur. Ayahku masuk rumah sakit hari Senin karena tekanan darahnya naik, dan aku harus bolak-balik antara Sudirman dan Pondok Indah sambil memegang laptop di pangkuan di kursi belakang mobil. Hendra Wiraguna, direktur muda yang sudah setahun mengajakku makan malam dan setahun kutolak dengan sopan, mengirimiku bunga ke rumah sakit dengan kartu bertuliskan Kalau butuh apa-apa, saya ada. Itu manis. Itu juga membuatku merasa bersalah, karena aku tidak bisa membalasnya dengan perasaan yang sama.

Aku datang ke kelas hari itu dengan riasan yang lebih tebal dari biasanya untuk menutupi lingkaran hitam di bawah mata. Aku tersenyum sepanjang dua jam. Aku menjelaskan analisis biaya-volume-laba dengan suara yang terdengar ceria, bahkan di telingaku sendiri. Aku melontarkan lelucon tentang mahasiswa yang salah menghitung depresiasi, dan seisi kelas tertawa.

Tidak ada yang tahu. Aku memastikan tidak ada yang tahu. Aku sudah sangat ahli dalam hal itu.

Ia tidak mengangkat tangan hari itu.

Itu pertama kalinya dalam empat minggu. Pukul tiga lewat dua puluh lewat, lalu pukul empat, lalu pukul empat lewat tiga puluh, dan tangannya tidak terangkat. Ia hanya duduk di bangku depan dan menatapku, dan untuk pertama kalinya tatapannya bukan tatapan orang yang mendengarkan. Itu tatapan orang yang sedang membaca sesuatu yang lain. Sesuatu di balik riasanku. Sesuatu yang tidak ingin kutunjukkan.

Aku tidak tahu apa yang ia lihat. Tapi aku merasa telanjang, dan aku tidak pernah merasa telanjang di depan siapa pun, apalagi di depan mahasiswa.

Di akhir kelas, aku mengembalikan tugas terakhir mereka. Aku sudah menilainya semalam di rumah sakit, di sofa ruang tunggu, dengan pulpen merah yang selalu kubawa. Aku berjalan dari meja ke meja dan meletakkan lembar-lembar itu satu per satu.

Saat sampai di bangku depan, aku berhenti.

Tugasnya sempurna. Tentu saja sempurna. Aku sudah memberinya nilai A dan tidak menuliskan komentar apa pun karena tidak ada yang perlu dikomentari. Tapi saat aku berdiri di depan mejanya dan ia mendongak menatapku dengan mata yang tadi melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat, aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan seumur hidupku.

Aku membungkuk, mengambil pulpen merah dari saku blazer, dan menulis di pojok kanan bawah lembar tugasnya.

Kalau mau diskusi.

Dan di bawahnya, nomor ponsel pribadiku.

Aku menulisnya dengan cepat. Aku tidak menatapnya saat menulis. Aku meletakkan kertas itu di mejanya, berjalan ke meja berikutnya, dan melanjutkan membagikan tugas dengan tangan yang sedikit gemetar.

Aku perlu menjelaskan sesuatu tentang diriku supaya hal itu bisa dimengerti.

Sejak umur tujuh belas, aku tidak pernah menjadi orang yang memberi nomor lebih dulu. Laki-laki memintanya. Selalu. Di kafe, di kampus, di lobi hotel, di acara kantor, di pernikahan sepupu. Mereka memintanya dengan cara yang lucu, atau cara yang percaya diri, atau cara yang menyedihkan, dan aku memberikannya atau tidak memberikannya tergantung suasana hati. Aku tahu permainan itu. Aku tahu cara memainkannya dengan sangat baik. Aku tahu kapan harus menatap, kapan harus diam, kapan harus menyentuh lengan selama dua detik saja dan membiarkan laki-laki itu memikirkan dua detik itu sampai seminggu.

Aku tidak pernah menulis nomorku di kertas seseorang tanpa diminta.

Kalau mau diskusi. Siapa pun yang membaca kalimat itu tahu artinya. Tidak ada mahasiswa yang perlu diskusi setelah nilai akhir sudah keluar dan kelas sudah selesai. Itu bukan undangan untuk diskusi. Itu pintu yang dibuka sedikit, dengan sengaja, oleh seseorang yang terlalu lelah untuk membukanya lebih lebar.

Aku menunggu.

Malam itu, aku tidur dengan ponsel di samping bantal. Ayahku sudah membaik dan pindah ke kamar rawat biasa. Aku tidak bisa tidur, dan setiap kali ponselku bergetar, jantungku melompat. Itu asistenku waktu itu, menanyakan jadwal besok. Itu grup keluarga. Itu Hendra, menanyakan kabar ayahku.

Tidak ada nomor yang tidak kukenal.

Minggu pertama, aku bilang kepada diriku sendiri bahwa ia sedang mengumpulkan keberanian. Minggu kedua, aku bilang bahwa mungkin ia sibuk dengan skripsi. Minggu ketiga, aku bilang bahwa aku salah membaca tatapannya, bahwa ia hanya mahasiswa teliti yang kebetulan pandai memperhatikan, bahwa perempuan dua puluh delapan tahun yang menulis nomornya di tugas mahasiswa adalah perempuan yang terlalu lelah dan sedikit menyedihkan.

Minggu keempat, aku berhenti menunggu.

Atau setidaknya, aku berhenti mengakui bahwa aku menunggu.

Di bulan Desember, Hendra mengajakku makan malam untuk ketiga belas kalinya. Aku menerima untuk pertama kalinya. Ia membawaku ke restoran kecil di Menteng yang lampunya kuning dan menunya berbahasa Prancis, dan di akhir makan malam ia berkata, dengan wajah yang sangat serius dan telinga yang sama sekali tidak merah, “Renata, saya tahu kamu belum mencintai saya. Saya tidak keberatan menunggu.”

Aku menikahinya empat minggu kemudian.

Hendra laki-laki yang baik. Ia sabar dan lucu dan mencintaiku dengan cara yang membuatku malu karena tidak bisa langsung membalasnya. Selama tujuh bulan pernikahan kami, aku belajar mencintainya. Pelan-pelan. Sungguhan. Aku belajar mencintai cara ia bernyanyi sumbang di kamar mandi, cara ia selalu memesan dua makanan penutup dan memberikan satunya kepadaku, cara ia menyentuh rambutku sebelum tidur.

Lalu suatu pagi di bulan Agustus, ia tidak bangun.

Dan aku tidak pernah sempat memberitahunya bahwa ia sudah tidak perlu menunggu lagi.


Pukul dua siang, hari Rabu, aku duduk di ruanganku di lantai delapan belas dengan laptop terbuka dan tidak bisa membaca satu angka pun.

Tadi pagi, di ruang kaca Pak Darto yang sempit dengan tanaman lidah mertua yang setengah mati, laki-laki itu membacakan nama suamiku dengan suara yang sangat pelan dan sangat hati-hati, seperti orang yang memegang gelas yang retak. Lalu, saat aku bertanya kenapa ia masuk ke perusahaan ini, ia menatapku dan berkata, Karena nama Ibu ada di laporan tahunannya. Halaman empat belas.

Bima Wicaksono.

Aku tidak mengingat namanya selama empat tahun ini. Aku mengingat wajahnya, samar-samar. Aku mengingat telinganya yang merah, kemejanya yang terlalu rapi, sapu tangan kotak-kotak biru. Tapi namanya, yang kubaca sekilas di bagian atas lembar tugas saat aku menulis nomorku di pojoknya, sudah lama tenggelam di bawah ribuan nama vendor, nomor faktur, dan tanggal jatuh tempo.

Senin pagi, saat aku membaca tanggal di email itu, Kamis, 13 Oktober 2022, aku langsung tahu.

Aku hanya tidak mengizinkan diriku memikirkannya.

Sekarang aku memikirkannya. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya.

Pukul 23.48. Malam itu, saat aku berbaring di ranjang rumah dengan ponsel di samping bantal, menunggu nomor yang tidak kukenal, ia sedang duduk di kamar kos di Depok dan menulis surat untukku. Ia menulisnya, dan memberinya judul jangan dikirim, dan tidak pernah mengirimnya.

Ia tidak menelepon. Tapi ia menulis.

Aku tidak tahu harus merasakan apa tentang itu. Marah, mungkin. Atau sedih. Atau sesuatu yang lebih berbahaya dari keduanya, sesuatu yang sudah tiga tahun tidak kurasakan dan kukira sudah ikut terkubur di pemakaman keluarga Wiraguna di Karet.

Pintu ruanganku diketuk. Sarah masuk tanpa menunggu jawaban, membawa sesuatu yang sangat besar.

Buket bunga. Lili putih. Setidaknya tiga puluh tangkai, dibungkus kertas hitam dengan pita satin perak.

“Bu,” kata Sarah. “Kiriman.”

Aku menatap bunga itu. Lili putih. Bunga yang memenuhi rumah duka tiga tahun lalu, sampai baunya menempel di rambutku selama seminggu dan aku harus keramas lima kali untuk menghilangkannya.

“Dari siapa?”

Sarah menyerahkan kartunya. Kartu krem tebal, tulisan tangan dengan tinta hitam, tulisan yang kukenal karena dulu aku sering menerimanya di kotak surat apartemen lamaku.

Untuk perempuan yang masih membuat seluruh Sudirman lupa cara bernapas. Kudengar kamu punya pengagum rahasia baru. Aku tidak suka kalah dari anak magang. Makan malam, Jumat? — S.

Satrio Hadikusumo.

Aku meletakkan kartu itu di meja dan menatapnya seperti menatap tagihan yang tidak pernah kuminta.

Satrio adalah mantan pacarku. Dua tahun, ketika umurku dua puluh lima sampai dua puluh tujuh. Ia bankir investasi dengan jam tangan yang harganya setara mobil, senyum yang sudah terlatih di depan ratusan klien, dan kemampuan luar biasa untuk mengatakan hal yang tepat pada saat yang tepat. Ia tahu semua langkahnya. Kapan menelepon, kapan menghilang, kapan muncul lagi dengan bunga. Kami putus karena kami terlalu mirip: dua orang yang sama-sama tahu permainannya, dan sama-sama tidak mau kalah.

Ia menghadiri pemakaman Hendra. Ia memelukku di depan semua orang, terlalu lama, dan berbisik, Aku di sini kalau kamu butuh. Setelah itu ia mengirimiku pesan setiap tiga bulan sekali, selama tiga tahun. Tidak pernah memaksa. Tidak pernah pergi.

Satrio tahu bahwa kesabaran adalah strategi.

“Bunganya mau ditaruh di mana, Bu?” tanya Sarah.

“Pantry,” kataku. “Bilang buat siapa aja yang mau.”

“Lalu kartunya?”

“Simpan.”

“Dan makan malam hari Jumat?”

Aku tidak menjawab. Sarah menunggu dengan wajah datarnya yang sempurna, lalu, karena tiga tahun bekerja denganku mengajarinya membaca diamku, ia mengangguk dan keluar sambil memeluk tiga puluh tangkai lili putih yang hampir menutupi seluruh tubuhnya.


Ponselku bergetar. Tasya.

Adikku, dua puluh enam tahun, content creator dengan tiga ratus ribu pengikut yang sebagian besar menontonnya karena ia berani mengatakan hal-hal yang tidak berani dikatakan orang lain di depan kamera. Ia satu-satunya orang di dunia yang tidak takut kepadaku.

Aku mengangkatnya.

“KAKAK.” Suaranya begitu keras sampai aku harus menjauhkan ponsel dari telinga. “KAKAK. KENAPA AKU HARUS TAHU DARI ORANG LAIN?”

“Tahu apa?”

“Jangan pura-pura! Temenku kerja di Wiraguna, lantai sebelas, bagian Procurement. Dia kirim screenshot email ke aku. ‘Untuk Bu Renata (jangan dikirim).’ Kak. KAK. Ada cowok yang nulis surat cinta ke Kakak terus kekirim ke dua ribu orang dan Kakak nggak cerita ke aku?”

“Itu bukan surat cinta. Itu surat kekaguman.”

“Bedanya apa?!”

Aku tidak menjawab. Sudah dua kali dalam tiga hari aku mendengar pertanyaan itu, dan sudah dua kali aku tidak punya jawaban.

“Kak,” kata Tasya, suaranya mendadak lebih pelan. “Kamu udah baca suratnya?”

“Udah.”

“Kamu nangis?”

“Enggak.”

“Bohong.”

“Saya tidak nangis, Tasya.”

“Kamu pake ‘saya’. Kamu cuma pake ‘saya’ ke aku kalau lagi nahan nangis atau lagi marah. Dan kamu nggak kedengeran marah.”

Aku menutup mata.

“Kak,” lanjutnya, lembut, dengan suara yang hanya ia pakai di luar kamera. “Udah tiga tahun. Mas Hendra pasti nggak mau kamu begini terus.”

“Tasya.”

“Oke, oke. Aku nggak bahas Mas Hendra. Tapi, Kak, serius. Kamu tuh perempuan paling cantik yang aku kenal. Kamu pinter, kamu kaya, badan kamu kayak manekin butik, dan kamu udah tiga puluh dua tahun tapi masih kelihatan dua puluh enam. Kamu tuh janda paling nggak adil se-Jakarta, tahu nggak? Dan kamu buang semua itu buat duduk di lantai delapan belas sampai jam sepuluh malam tiap hari.”

“Aku enggak buang apa-apa.”

“Kak. Cowok itu. Yang nulis surat. Ganteng nggak?”

Aku membuka mata. Aku memikirkan bahu yang lebar, kemeja yang disetrika terlalu rapi, kacamata berbingkai tipis, wajah dengan rahang tegas yang jelas tidak tahu bahwa dirinya tampan. Dan telinga yang merah.

“Tasya, Kakak ada rapat.”

“KAK. KAMU DIEM TIGA DETIK. ITU ARTINYA GANTENG.”

Aku menutup telepon.


Sore itu, setelah semua orang di lantai delapan belas pulang dan langit Sudirman berubah dari jingga menjadi ungu, aku masih duduk di ruanganku.

Di mejaku ada sebuah map berisi daftar klaim karyawan yang menunggu persetujuan. Aku memintanya dari Sarah. Baris pertama dicetak dengan tinta hitam biasa, dan di sampingnya ada lingkaran kecil tinta merah yang menyebar seperti noda darah di kertas tisu, bekas pulpenku yang terlalu lama menempel tadi pagi.

EXP-2023-0712. Deposit Lumière, Menteng. Anniversary pert…

Aku tidak membuka rinciannya. Aku tidak sanggup. Belum.

Aku menutup map itu dan menatap pantulanku di dinding kaca yang gelap. Perempuan tiga puluh dua tahun dengan blazer krem, rambut yang mulai lepas dari ikatan, dan bibir merah bata yang sudah luntur di bagian tengah karena terlalu sering kugigit hari ini.

Empat tahun lalu, aku menulis nomorku di pojok tugas seorang mahasiswa dan menunggu teleponnya selama tiga minggu.

Ia tidak pernah menelepon.

Tapi ia menulis surat malam itu juga. Lalu, dua tahun kemudian, ia melamar ke perusahaan tempat aku bekerja hanya karena namaku ada di halaman empat belas laporan tahunannya. Lalu, selama dua tahun, ia duduk di lantai tujuh, sebelas lantai di bawah kakiku, dan tidak pernah sekali pun naik.

Aku tidak mengerti laki-laki itu.

Aku sudah mengerti hampir semua laki-laki yang pernah kutemui. Aku bisa membaca mereka seperti membaca neraca: aset, kewajiban, apa yang mereka inginkan, apa yang mereka sembunyikan. Satrio, misalnya, bisa kubaca sampai ke koma terakhir. Bahkan Hendra, yang paling tulus dari semuanya, bisa kubaca dengan mudah, karena ketulusannya selalu tertulis jelas di wajahnya.

Bima Wicaksono tidak menyembunyikan apa pun. Ia mengatakan semuanya, bahkan yang tidak ditanya, bahkan yang membuat telinganya terbakar.

Tapi aku tetap tidak bisa membacanya.

Aku mengambil ponselku. Aku membuka daftar kontak. Aku menggulirnya sampai ke huruf B, dan tentu saja tidak ada namanya di sana. Ia tidak pernah menelepon. Ia tidak pernah mengirim pesan. Selama empat tahun, satu-satunya jejak laki-laki itu di hidupku adalah sapu tangan kotak-kotak biru yang sudah hilang, dan sebuah email yang tiba di kotak masukku pada pukul 09.14 hari Senin bersama seribu sembilan ratus delapan puluh tujuh orang lainnya.

Kalau mau diskusi.

Empat tahun, dan kamu tidak pernah menelepon.

Aku ingin tahu kenapa.

Aku benar-benar, sangat ingin tahu kenapa.

Aku meletakkan ponsel di meja, layar menghadap ke bawah. Lalu aku membuka email baru dan mulai mengetik balasan untuk Satrio, karena perempuan tiga puluh dua tahun yang berpengalaman tidak duduk sendirian di kantor jam tujuh malam menunggu laki-laki yang tidak pernah menelepon.

Jumat. Jam tujuh. Kamu yang pilih tempat. Dan Satrio, aku tidak suka lili.

Aku menekan kirim.

Lalu aku duduk di sana lebih lama lagi, di ruangan yang wangi melati dan kayu manis, sampai lampu-lampu Sudirman menyala satu per satu seperti angka di kolom yang akhirnya seimbang.