← Masih di Folder Draf

Chapter Eighteen

Ke Ruangan Saya

POV: Renata

Selasa pagi, pukul tujuh lewat sepuluh, aku menulis daftar aturan di buku catatan kulit hitam yang biasanya kupakai untuk mencatat poin-poin rapat direksi.

Aku menulisnya dengan pulpen merah. Aku menulisnya dengan sangat serius, dengan nomor, dengan huruf yang rapi. Aku sudah tiga belas tahun bekerja di dunia keuangan, dan aku tahu bahwa setiap hal yang berisiko memerlukan kebijakan tertulis.

Ketentuan Hubungan (Rahasia)

  1. Tidak ada kontak fisik di dalam gedung.
  2. Tidak naik lift yang sama.
  3. Makan siang bersama maksimal satu kali seminggu, dan tidak di kantin.
  4. Komunikasi kerja melalui surel kantor. Pesan pribadi hanya setelah pukul 19.00.
  5. Di gedung, panggil saya “Bu”. Tanpa pengecualian.
  6. Jangan sampai Dodi tahu.
  7. Pengecualian atas ketentuan di atas hanya dapat ditetapkan oleh pihak pertama.

Aku membaca daftar itu sekali lagi. Lalu aku menambahkan catatan di bawahnya:

Pihak pertama: R.H.
Pihak kedua: B.W.

Lalu aku memotret halaman itu dengan ponsel dan mengirimkannya kepada Bima, pukul tujuh lewat dua belas, melanggar ketentuan nomor empat sebelum ketentuan itu sempat berlaku.

Balasannya datang dalam empat puluh tiga detik.

Sudah saya terima dan pahami, Bu. Satu pertanyaan soal nomor enam.

Apa?

Dodi sudah tahu, Bu. Kemarin dia menangis di pantry.

Aku menatap pesan itu. Lalu aku mencoret nomor enam dengan satu garis merah, dan menulis di sebelahnya: Tidak berlaku. Terlambat.


Sarah meletakkan teh di mejaku pukul delapan.

Teh melati. Madu satu sendok teh. Sarah tidak bertanya lagi soal madu; ia sudah menambahkannya sejak hari Senin seolah-olah ia selalu melakukannya. Ia meletakkan cangkirnya, meluruskan tumpukan dokumen di sebelahnya, lalu tidak langsung pergi.

“Bu,” katanya. “Ibu ganti parfum?”

“Enggak.”

“Wanginya lebih kuat dari biasanya, Bu.”

“Saya pakai sedikit lebih banyak aja.”

Sarah menatapku dengan wajah datarnya yang sempurna. “Dan Ibu pakai anting yang baru. Dan lipstiknya dioles dua kali. Dan Ibu sudah melihat jam di dinding empat kali sejak saya masuk.”

“Sarah.”

“Ya, Bu.”

“Kamu dibayar buat ngatur jadwal saya, bukan ngaudit penampilan saya.”

“Ya, Bu.” Ia mengambil tabletnya. “Untuk catatan, Bu, anting itu cocok dengan Ibu. Tim Legal di lift tadi berhenti bicara waktu Ibu masuk. Satu orang menekan tombol lantai yang salah.”

Ia keluar. Aku menyentuh antingku. Anting emas kecil berbentuk daun, yang kubeli tiga tahun lalu dan tidak pernah kupakai karena terasa terlalu ceria untuk seorang janda.

Hari ini aku memakainya.


Ketentuan nomor tiga dilanggar pukul dua belas lewat lima belas.

Aku tidak merencanakannya. Aku hanya turun ke lantai tujuh untuk menyerahkan revisi anggaran kepada Pak Darto secara langsung, karena dokumennya penting dan kurir internal terlalu lambat. Itu alasan yang sah. Aku akan mengatakan hal yang sama kepada siapa pun yang bertanya.

Saat aku keluar dari ruang kaca Pak Darto, lantai tujuh sedang kosong karena jam makan siang. Hanya ada satu orang yang masih duduk di mejanya, dengan kotak bekal plastik berwarna biru di depannya dan buku catatan cokelat di sampingnya.

Ia mendongak saat mendengar langkahku. Ia tidak bisa menyembunyikan apa pun dari wajahnya, dan ia tidak mencoba. Wajahnya berubah dari biasa menjadi terang dalam waktu kurang dari satu detik, seperti lampu yang dinyalakan.

“Bu,” katanya.

“Kamu bawa bekal?”

“Iya, Bu. Nasi, tumis kangkung, telur dadar. Saya masak tadi subuh.”

Aku menatap kotak bekal biru itu. Tumis kangkungnya hijau terang dengan irisan bawang putih dan cabai merah. Telur dadarnya tebal dan berwarna kuning keemasan, dipotong empat dengan rapi. Nasinya dicetak di sudut kotak dengan bentuk yang hampir sempurna.

“Kamu masak sendiri tiap hari?”

“Hampir tiap hari, Bu. Lebih hemat.”

Aku menatap kotak itu lagi. Lalu aku menatap kursi Dodi yang kosong di sebelahnya. Kursi yang rusak pegasnya. Kursi tempat aku duduk pukul satu pagi dua minggu lalu, tanpa sepatu, dengan setumpuk faktur di pangkuan.

Aku menarik kursi itu dan duduk.

“Bu,” kata Bima pelan. “Ketentuan nomor tiga. Tidak di kantin.”

“Ini bukan kantin.”

“Tapi ini namanya makan siang bersama, Bu.”

“Saya enggak makan. Saya cuma duduk.” Aku mengambil sendok dari kotak bekalnya, menyendok sepotong telur dadar, dan memakannya. “Sekarang saya makan. Ini pengecualian. Pihak pertama menetapkan pengecualian.”

Bima menatapku. Telinganya memerah perlahan. Lalu, sangat pelan, sudut bibirnya bergerak naik.

“Telurnya enak,” kataku.

“Pakai sedikit santan, Bu. Ibu saya yang ajari.”

“Kenapa santan?”

“Biar lembut, Bu. Kata Ibu, telur dadar yang baik itu seperti orang yang baik. Luarnya agak keras, dalamnya lembut.”

Aku menyendok sepotong lagi. Kami makan bergantian dari satu kotak bekal, dengan satu sendok, di meja AP lantai tujuh yang kosong, di bawah stiker Kirim, Bim — Edisi Pangeran Lem Sepatu yang masih ditempel Mbak Wina di dinding kubikel. Ia makan dengan pelan. Aku makan dengan pelan. Kami tidak banyak bicara.

Itu makan siang paling enak yang pernah kumakan dalam tiga tahun.

Pukul dua belas lewat tiga puluh lima, pintu lift berdenting. Langkah-langkah kaki. Suara tawa. Lantai tujuh mulai kembali.

Aku berdiri, meletakkan sendok di kotak bekal, dan merapikan rokku.

“Terima kasih atas waktunya, Bima,” kataku dengan suara CFO. “Revisi anggarannya sudah saya serahkan ke Pak Darto. Tolong pastikan diproses hari ini.”

“Baik, Bu,” jawabnya dengan suara staf AP.

Aku berjalan menuju lift. Di tengah jalan, aku berpapasan dengan Dodi, yang membawa sekantong es teh plastik dan langsung berhenti di tengah lorong seperti tiang listrik.

Dodi menatapku. Lalu menatap meja Bima, di mana kotak bekal biru dengan satu sendok masih terbuka. Lalu menatapku lagi.

“Selamat siang, Bu,” katanya dengan suara tercekik.

“Selamat siang, Dodi.”

Aku terus berjalan. Di belakangku, aku mendengar Dodi berbisik keras, “Bim. BIM. Satu sendok? SATU SENDOK?”


Ketentuan nomor dua dilanggar pukul tiga sore.

Ketentuan nomor satu dilanggar pukul empat lewat dua puluh, di ruang rapat Saba, saat Bima menyerahkan dokumen rekonsiliasi kepadaku di depan tiga kepala divisi dan jari-jariku menyentuh punggung tangannya di bawah map selama dua detik. Tidak ada yang melihat. Ia melihat. Ia menjatuhkan pulpennya.

Ketentuan nomor lima dilanggar oleh dia sendiri pukul lima sore, di depan pintu lift lantai delapan belas, saat aku bilang sampai besok dan ia menjawab sampai besok, Re, lalu membeku dengan wajah orang yang baru saja menginjak ranjau, lalu menambahkan dengan sangat cepat, -kap. Rekap. Sampai besok rekapnya, Bu.

Sarah, di mejanya, tidak mengangkat wajah dari tablet. Tapi aku melihat bahunya bergetar.

Pukul enam sore, aku duduk di ruanganku dan membuka buku catatan kulit hitam di halaman yang berisi daftar ketentuan. Aku mengambil pulpen merah. Aku mencentang setiap nomor yang sudah dilanggar.

Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam.

Hanya tersisa nomor tujuh.

Pengecualian atas ketentuan di atas hanya dapat ditetapkan oleh pihak pertama.

Aku menatap nomor tujuh itu lama. Lalu aku tersenyum. Itu bukan senyum yang sopan.


Pukul tujuh malam, lantai delapan belas sudah kosong. Sarah sudah pulang. Lampu-lampu koridor sudah diredupkan menjadi lampu malam yang kuning. Di luar jendela, Sudirman menyala seperti papan sirkuit raksasa, lampu-lampu jalan bergaris kuning dan merah di bawah langit yang sudah gelap.

Aku berdiri di depan cermin kecil di balik pintu lemari ruanganku.

Aku tidak memperbaiki riasanku. Aku sengaja tidak memperbaikinya. Lipstikku sudah sedikit pudar di tengah, setelah seharian minum teh dan menggigit bibir di rapat. Rambutku sudah tidak serapi tadi pagi; gelombangnya sudah melonggar dan jatuh lebih bebas di bahu. Aku melepas blazer dan menggantungnya di balik pintu, jauh dari AC, seperti yang pernah diminta sebuah label kertas kecil. Kemeja sutra di bawahnya berwarna merah anggur, dengan dua kancing atas yang sengaja kubiarkan terbuka.

Aku menatap pantulanku. Perempuan tiga puluh dua tahun dengan rambut yang sedikit berantakan, lipstik yang sedikit pudar, dan kerah yang sedikit terbuka, dengan leher yang tidak lagi memakai apa pun.

Aku tahu persis apa yang dilakukan penampilan seperti ini kepada laki-laki. Aku sudah tahu sejak umur tujuh belas. Penampilan yang terlalu rapi membuat laki-laki merasa harus berusaha. Penampilan yang sedikit berantakan, di akhir hari, di ruangan yang lampunya redup, membuat laki-laki merasa diizinkan.

Aku tidak sedang ingin membuatnya merasa harus berusaha.

Aku mengambil ponsel. Aku mengetik empat kata, dan aku tersenyum saat mengetiknya, karena aku tahu ia akan mengenali kata-kata itu. Kata-kata yang tiga minggu lalu dibaca oleh dua ribu orang dan membuat seisi lantai tujuh memutar lagu Gugur Bunga.

Ke ruangan saya. Sekarang.

Aku menekan kirim.

Empat puluh tiga detik kemudian, aku mendengar lift berdenting di ujung koridor.

Empat puluh tiga detik. Dari lantai tujuh. Ia pasti sudah berdiri di depan lift sejak pukul enam, menunggu.


Ia mengetuk dua kali.

“Masuk.”

Pintu terbuka. Bima berdiri di ambangnya dengan kemeja biru tua, kacamata berbingkai tipis, dan buku catatan cokelat di bawah lengannya. Tentu saja ia membawa buku catatan. Ia dipanggil ke ruangan atasan; itu prosedur.

Ia melihatku dan berhenti bergerak.

Aku berdiri di dekat jendela, setengah bersandar di tepi meja, dengan tangan bertumpu di belakang pinggang. Lampu ruangan mati. Hanya lampu meja yang menyala, dan cahaya kota dari jendela di belakangku. Aku tahu bagaimana kelihatannya dari ambang pintu: siluet di depan lampu-lampu Sudirman, dengan kemeja merah anggur dan rambut yang jatuh di satu bahu.

Aku membiarkannya melihat.

“Tutup pintunya,” kataku.

Ia menutup pintu. Ia tidak bergerak dari depan pintu itu.

“Buku catatan,” kataku. “Taruh.”

Ia menatap buku catatan di bawah lengannya, seperti baru menyadari keberadaannya. Ia meletakkannya di kursi di dekat pintu. Dengan sangat rapi. Sejajar dengan tepi kursi.

“Sini.”

Ia berjalan. Pelan. Setiap langkahnya terasa seperti sedang menyeberangi jembatan gantung. Ia berhenti satu meter di depanku. Lalu, saat aku hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa, ia maju setengah langkah lagi. Lalu berhenti.

Dari jarak ini, dengan cahaya lampu meja di sisi wajahnya, aku bisa melihat semuanya. Rahang yang tegas. Bekas luka kecil di dagu. Bulu mata pendek dan lurus di balik kacamata. Telinga yang sudah merah, merah sekali, dari cuping sampai ke ujung atas. Leher yang menegang. Jakun yang bergerak naik turun saat ia menelan ludah.

“Kamu ngelanggar ketentuan nomor lima,” kataku.

“Maaf, Bu. Saya keceplosan.”

“Kamu manggil saya ‘Re’.”

“Kan saya tambahin ‘-kap’, Bu.”

“Enggak ada yang percaya ‘-kap’. Sarah ketawa.”

“Mbak Sarah nggak pernah ketawa, Bu.”

“Bahunya bergetar. Itu ketawa versi Sarah.”

Ia diam. Aku diam. AC berdengung. Di luar, sebuah bus TransJakarta lewat di jalur khusus dengan lampu yang menyorot jendela-jendela gedung.

“Bima,” kataku.

“Ya, Bu.”

“Ketentuan nomor tujuh.”

Ia menatapku. Aku melihatnya mengingat-ingat. Aku melihatnya menemukan kalimatnya di kepalanya, persis seperti yang kutulis tadi pagi dengan pulpen merah. Pengecualian atas ketentuan di atas hanya dapat ditetapkan oleh pihak pertama.

Jakunnya bergerak lagi.

Aku menegakkan badan dari tepi meja. Sekarang hanya ada setengah langkah di antara kami. Tanpa heels, aku harus mendongak sedikit untuk menatapnya. Aku sengaja melepas heels-ku sepuluh menit yang lalu. Aku ingin mendongak.

Aku mengangkat kedua tanganku dan melepas kacamatanya.

Pelan. Satu tangan di tiap gagangnya. Ia tidak bergerak sama sekali. Aku melipat kacamata itu dengan hati-hati, kedua gagangnya ke dalam, lalu meletakkannya di atas meja di belakangku, sejajar dengan tepi meja. Rapi. Seperti cara ia melipat sesuatu.

Tanpa kacamata, matanya terlihat berbeda. Lebih gelap. Lebih dekat. Sedikit menyipit, karena ia tidak bisa melihat dengan jelas tanpa kacamata, dan karena itu ia harus menatapku lebih lekat.

“Kamu bisa lihat saya?” tanyaku.

“Sedikit kabur, Bu.”

“Bagus.” Aku meletakkan satu tangan di dadanya, di atas kemeja biru tua, tepat di tempat jantungnya berdetak. Detaknya sangat cepat. Begitu cepat sampai aku bisa merasakannya di telapak tanganku seperti sayap burung yang terperangkap. “Jantung kamu.”

“Iya, Bu.”

“Berapa?”

“Saya nggak ngitung, Bu.”

“Untuk pertama kalinya.”

“Untuk pertama kalinya, Bu.”

Aku tersenyum. Lalu aku menggeser tanganku dari dadanya ke lehernya, ke tengkuknya, ke rambut pendek di belakang kepalanya. Aku merasakan seluruh tubuhnya menegang, seperti orang yang berdiri di tepi tebing.

“Bima,” bisikku. “Jangan dihitung.”

“Apanya yang jangan dihitung, Bu?”

Aku tidak menjawab. Aku berjinjit sedikit, menarik tengkuknya dengan pelan ke arahku, dan menciumnya.


Aku sudah dicium banyak laki-laki.

Aku tidak mengatakannya untuk menyombong. Aku mengatakannya karena itu fakta, dan karena itu penting untuk memahami apa yang terjadi berikutnya. Aku sudah dicium oleh laki-laki yang terlalu percaya diri, yang menciumku seperti sedang memenangkan sesuatu. Oleh laki-laki yang terlalu berhati-hati, yang menciumku seperti meminta izin di setiap detik. Oleh Satrio, yang menciumku dengan teknik yang sempurna dan tidak pernah sekali pun lupa di mana tangannya harus berada. Oleh Hendra, yang menciumku dengan lembut dan sabar dan selalu tertawa kecil di tengahnya, karena katanya ia masih tidak percaya aku bilang iya.

Bima tidak tahu cara mencium.

Itu jelas dari detik pertama. Bibirnya kaku. Ia tidak bergerak. Ia tidak tahu harus menaruh tangannya di mana; tangannya menggantung di sisi badannya seperti dua papan kayu. Ia bahkan, demi Tuhan, menahan napas.

Lalu, di detik ketiga, sesuatu berubah.

Tangannya bergerak. Pelan, sangat pelan, seperti seseorang yang meraih sesuatu di dalam gelap. Satu tangan mendarat di pinggangku, di atas kemeja sutra, dengan ringan, nyaris tidak menyentuh. Tangan yang lain naik dan menyentuh pipiku. Ujung jarinya gemetar. Ia menyentuh pipiku seperti menyentuh kertas tua yang bisa sobek kalau ditekan terlalu keras.

Dan bibirnya melunak.

Ia tidak tahu tekniknya. Tapi ia belajar dengan cara yang sama ia belajar segalanya: dengan memperhatikan. Ia memperhatikan bagaimana aku bergerak, dan mengikuti. Ia memperhatikan kapan aku menarik napas, dan menunggu. Ia memperhatikan saat tanganku di tengkuknya mengencang sedikit, dan ia mendekat sedikit. Hanya sedikit. Seolah-olah setiap sentimeter perlu izin.

Itu bukan ciuman terbaik yang pernah kuterima secara teknis.

Itu ciuman yang paling membuatku lupa caranya berdiri.

Aku tidak tahu kapan aku berhenti. Aku tidak tahu kapan aku membuka mata. Aku hanya tahu bahwa saat aku membukanya, dahiku menempel di dahinya, tanganku masih di tengkuknya, dan napasku sendiri, yang selalu teratur, yang selalu kukendalikan bahkan di pemakaman, berantakan.

Ia membuka mata perlahan. Matanya tanpa kacamata, gelap dan sedikit menyipit dan sangat, sangat dekat.

Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatapku seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan angka mana pun.

Aku menunggu. Aku menunggu ia mengatakan sesuatu. Aku sudah mendengar banyak hal yang dikatakan laki-laki setelah ciuman pertama. Wow. Akhirnya. Aku sudah lama menginginkan ini. Kamu cantik sekali.

“Terima kasih,” kata Bima.

Aku menatapnya.

“Terima kasih, Bu,” ulangnya, dengan suara yang pecah dan sangat tulus dan sama sekali tidak sadar bahwa itu adalah hal paling aneh yang pernah dikatakan siapa pun kepadaku setelah ciuman.

Aku tertawa.

Aku tidak bisa menahannya. Aku menyandarkan dahiku di dadanya dan tertawa, dengan napas yang masih berantakan dan bahu yang berguncang, dengan tangannya masih di pinggangku dan tanganku masih di tengkuknya. Ia tidak bergerak. Ia hanya berdiri dan membiarkanku tertawa di dadanya, dan aku bisa merasakan jantungnya berdetak di pipiku, masih sangat cepat, seperti sayap burung.

“Kamu bilang terima kasih,” kataku di dadanya.

“Maaf, Bu. Saya nggak tahu harus bilang apa.”

“Enggak ada yang pernah bilang terima kasih.”

“Itu kan sopan, Bu. Kata ibu saya, kalau dikasih sesuatu, harus bilang terima kasih.”

Aku tertawa lebih keras.

Lalu aku mengangkat wajahku dan menatapnya. Telinganya sudah tidak merah lagi. Telinganya sudah melampaui merah, menjadi warna yang tidak punya nama, warna yang mungkin hanya ada di ujung paling jauh spektrum.

“Bima,” kataku. “Siapa nama kamu?”

Ia menatapku. Ia membuka mulut.

“B...” katanya.

Ia berhenti. Keningnya berkerut. Ia benar-benar sedang berpikir.

“Saya... saya lupa, Bu.”

Aku memejamkan mata dan menempelkan dahiku kembali ke dadanya.

“Tuhan,” bisikku. “Kamu sangat berbahaya.”

“Ibu udah bilang itu di kantin, Bu.”

“Ternyata saya ngeremehin kamu.”


Pukul delapan, aku menyerahkan kacamatanya.

Ia memakainya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia mengambil buku catatan cokelat dari kursi dekat pintu. Ia merapikan kemejanya, yang sudah kusut di bagian dada karena dahiku, dan di bagian tengkuk karena tanganku.

Aku duduk di tepi meja, tanpa sepatu, dengan rambut yang lebih berantakan dari sejam yang lalu dan lipstik yang sekarang sudah hampir hilang sama sekali.

“Bu,” katanya di ambang pintu.

“Hm.”

Ia menatapku. Lalu menatap lantai. Lalu menatapku lagi. Lalu ia menunjuk sudut bibirnya sendiri.

“Lipstik Ibu,” katanya pelan. “Ada di... di saya.”

Aku menatap bibirnya. Di sudut bibir kirinya, samar, ada noda merah bata.

Aku tertawa lagi. Aku mengambil tisu dari kotak di mejaku, berjalan menghampirinya dengan kaki telanjang di atas karpet, dan menghapus noda itu dengan pelan. Ia berdiri diam sepanjang aku melakukannya, menatapku dari jarak dua puluh sentimeter dengan mata yang tidak berkedip.

“Udah,” kataku.

“Terima kasih, Bu.”

“Berhenti bilang terima kasih.”

“Baik, Bu.” Jeda. “Terima kasih, Bu. Maaf. Kebiasaan.”

Ia keluar. Aku mendengar langkahnya di koridor, teratur, lalu tidak teratur, lalu berhenti. Lalu bunyi sesuatu yang menabrak dinding, pelan, seperti bahu yang terbentur. Lalu langkahnya lagi, lebih cepat. Lalu lift berdenting.

Aku berdiri di ruanganku sendirian dan menyentuh bibirku dengan ujung jari.

Lalu aku membuka buku catatan kulit hitam di halaman ketentuan. Di bawah nomor tujuh, dengan pulpen merah, aku menulis:

Pengecualian ditetapkan: Selasa, 24 November, pukul 19.06.

Catatan pihak pertama: pihak kedua mengucapkan terima kasih. Pihak kedua lupa namanya sendiri. Pihak pertama lupa caranya berdiri.

Aku menutup buku itu dan tertawa sendirian di ruangan yang gelap, di lantai delapan belas, sampai aku harus duduk.