Chapter Nineteen
Pelajaran Pertama
POV: Bima
Selasa malam pukul sebelas, aku duduk di kasur kos dengan ponsel di tangan dan mengetik di kolom pencarian:
cara membalas ciuman pacar yang lebih berpengalaman
Aku menatap kalimat itu. Lalu aku menghapusnya. Lalu aku mengetiknya lagi, karena aku orang yang teliti dan orang yang teliti mencari informasi sebelum mengambil tindakan.
Hasil pertama adalah artikel dari sebuah situs gaya hidup berjudul 17 Tanda Kamu Pencium yang Buruk (Nomor 9 Bikin Kaget!). Aku membukanya. Nomor satu: Kamu terlalu kaku. Nomor dua: Kamu menahan napas. Nomor tiga: Kamu tidak tahu harus menaruh tangan di mana.
Aku menutup artikel itu setelah nomor tiga. Aku tidak sanggup melihat nomor sembilan.
Hasil kedua adalah forum tanya jawab. Seseorang bertanya, Pacarku lebih tua 4 tahun dan lebih berpengalaman. Aku harus gimana? Jawaban teratas, dengan tiga ratus empat puluh suka, berbunyi: Santai aja bro. Jadi diri sendiri. Cewek yang lebih berpengalaman biasanya udah bosan sama cowok yang sok jago.
Aku membaca jawaban itu tiga kali. Jadi diri sendiri. Aku tidak tahu apakah diriku sendiri adalah sesuatu yang bisa diandalkan dalam situasi ini. Diriku sendiri baru saja mengucapkan terima kasih setelah ciuman pertama dan lupa namanya sendiri.
Hasil ketiga adalah video tutorial berdurasi dua belas menit. Aku tidak membukanya.
Pukul sebelas lewat tiga puluh, ponselku bergetar.
Kamu belum tidur.
Aku menatap pesan itu. Lalu aku menatap kolom pencarian yang masih terbuka di layar. Lalu aku menutupnya dengan sangat cepat, seolah-olah ia bisa melihatnya.
Belum, Bu. Bagaimana Ibu tahu?
Tanda centang biru. Kamu online. Kamu sedang apa?
Aku menatap pertanyaan itu. Aku tidak bisa berbohong. Bahkan lewat pesan, aku tidak bisa. Aku mencoba mengetik membaca, lalu menghapusnya, karena aku memang membaca, tapi itu tidak sepenuhnya jujur.
Riset, Bu.
Riset apa?
Satu menit. Dua menit. Aku mengetik dan menghapus empat kali.
Riset tentang cara menjadi pacar yang baik, Bu.
Balasannya tidak langsung datang. Lalu, setelah tiga puluh detik, satu pesan:
Bima.
Iya, Bu.
Jangan riset. Kamu tidak perlu riset.
Tapi saya tidak tahu caranya, Bu.
Saya tahu. Itu sebabnya kamu tidak perlu riset.
Aku menatap pesan itu lama. Lalu satu pesan lagi masuk.
Dan berhenti panggil saya Bu jam sebelas malam. Kita sudah punya ketentuan nomor empat. Setelah pukul 19.00 itu waktu pribadi.
Aku mengetik: Baik, Re
Aku berhenti. Jariku membeku di atas layar.
Lalu, dengan napas tertahan, aku menyelesaikannya: Baik, Renata.
Aku menekan kirim sebelum aku bisa berubah pikiran.
Lima detik. Sepuluh detik. Lalu:
Lihat. Kamu bisa.
Lalu, satu detik kemudian:
Selamat malam, Bima. Jangan nonton video tutorial.
Aku menjatuhkan ponselku ke kasur dan menutup wajah dengan bantal. Bagaimana ia tahu soal video tutorial? Aku tidak membukanya. Aku hanya melihatnya.
Perempuan itu tahu segalanya.
Rabu pagi, Dodi menungguku di depan lift dengan mug World’s Okayest Employee yang ternyata tidak pecah kemarin, hanya terkelupas sedikit di bagian pegangan.
“Bim,” katanya dengan suara pelan dan serius. “Gue mau nanya sesuatu, dan lo harus jawab jujur.”
“Aku selalu jawab jujur, Dod.”
“Iya, iya, makanya gue nanya ke lo.” Ia menarikku ke pojok dekat dispenser. “Kemarin malam. Jam tujuh. Gue liat lo naik lift. Ke lantai delapan belas. Terus lo turun jam delapan lewat sepuluh. Terus lo nabrak tiang di depan lift lantai tujuh.”
“Aku nggak nabrak tiang.”
“Bim. Bu Yuyun liat. Lo nabrak tiang, terus lo minta maaf ke tiangnya.”
Aku diam.
“Bim. Apa yang terjadi di lantai delapan belas jam tujuh malam?”
“Nggak ada apa-apa, Dod.”
Telingaku memanas. Pelan, dari cuping, naik ke atas.
Dodi menatap telingaku. Ia menatapnya dengan intensitas seorang ilmuwan yang mengamati mikroba di bawah mikroskop. Lalu wajahnya berubah perlahan, dari serius menjadi curiga menjadi tidak percaya.
“Bim,” bisiknya. “Kuping lo. Itu warna baru. Gue belum pernah liat warna itu.”
“Warnanya sama aja, Dod.”
“Bukan. Biasanya merah cabe. Ini merah... ini merah bata, Bim.” Dodi menutup mulutnya dengan tangan. “Ya Allah. Merah bata. Warna lipstik—”
“DODI.”
“—Bu Renata.”
Mbak Wina, yang sedang mengisi termos di dispenser di sebelah kami, menjatuhkan termosnya.
Selama tiga hari berikutnya, aku belajar sesuatu yang tidak bisa ditemukan di artikel mana pun: menjadi pacar Renata Halim di lingkungan kantor adalah seperti menjadi staf AP di perusahaan yang setiap jam diaudit tanpa pemberitahuan.
Hari Rabu pukul sepuluh, aku menerima email dari alamat kantornya.
Dari: Renata Halim
Kepada: Bima Wicaksono
Subjek: Revisi
Kemejamu kusut di bagian tengkuk. Saya tahu kenapa.
— R
Aku menatap email itu. Aku memegang tengkukku. Kemejaku memang kusut di sana. Aku menyetrikanya tadi pagi selama sebelas menit, tapi entah bagaimana bagian itu tetap kusut, seolah-olah ada sesuatu yang meremasnya semalam dan lipatannya tidak mau hilang.
Aku menghapus email itu. Lalu aku memeriksa folder Item yang Dihapus dan menghapusnya dari sana juga. Lalu aku sadar bahwa sistem email kantor menyimpan semuanya di server dan Jordi bisa membacanya. Lalu aku menghabiskan sepuluh menit berikutnya menatap layar dengan perasaan seperti orang yang baru saja menelan kunci.
Hari Rabu pukul dua siang, ia lewat di depan mejaku.
Ia sedang berjalan dari ruang Pak Darto menuju lift, dengan dua kepala divisi lain di sebelahnya, membicarakan anggaran tahun depan. Ia tidak menatapku. Ia tidak berhenti. Tapi saat ia lewat tepat di sebelah kursiku, pulpen merah di tangannya jatuh ke lantai, tepat di sebelah kakiku.
Aku memungutnya. Aku menyodorkannya.
Ia mengambil pulpen itu dari tanganku. Ujung jarinya menyentuh ujung jariku. Satu detik. Dua detik.
“Terima kasih,” katanya dengan suara CFO, tanpa menatapku, lalu melanjutkan berjalan sambil membicarakan anggaran.
Aku menatap tanganku sendiri sampai Dodi menyikutku.
“Bim. Itu disengaja.”
“Apanya yang disengaja?”
“Pulpennya, Bim. Dia sengaja jatuhin pulpennya. Bu Renata nggak pernah jatuhin apa-apa. Dia CFO. CFO nggak jatuhin pulpen. CFO jatuhin orang.”
Hari Kamis pukul sebelas, dalam rapat rekonsiliasi di ruang Saba, ia membahas selisih kurs di laporan Treasury dengan suara yang tenang dan profesional, lalu, di tengah kalimat tentang nilai tukar dolar, ia berkata, “...dan saya rasa semua orang di ruangan ini setuju bahwa hal-hal yang kusut perlu disetrika ulang, termasuk asumsi kurs kita.”
Ia melirikku sepersekian detik.
Aku menatap catatanku dan berusaha keras untuk tidak merasakan tengkukku.
Kepala divisi Treasury mengangguk-angguk serius. “Setuju, Bu. Asumsi kurs kita memang perlu disetrika.”
Pak Darto, di sebelahku, berbisik tanpa menggerakkan bibir: “Bim. Kenapa kupingmu merah? Ini rapat soal kurs.”
“Saya kepanasan, Pak.”
“AC-nya delapan belas derajat, Bim.”
Tapi ada satu hal lagi yang kupelajari dalam tiga hari itu, dan hal itu tidak lucu sama sekali.
Hari Kamis sore, aku melihatnya lelah.
Bukan lelah yang biasa. Ia selalu lelah, sejak empat tahun lalu; aku sudah terbiasa melihatnya. Tapi hari Kamis berbeda. Hari itu ada rapat direksi tertutup di lantai dua puluh selama empat jam, dan saat ia keluar dari lift dan berjalan kembali ke ruangannya, aku kebetulan sedang berdiri di koridor lantai delapan belas, mengantar dokumen ke Mbak Sarah.
Wajahnya pucat di balik riasan. Bahunya sedikit turun, seolah-olah ada sesuatu yang berat yang ia pikul dari lantai dua puluh. Ia memegang map dengan dua tangan, terlalu erat. Dan saat ia lewat di depanku, ia tidak menyelipkan rambut ke belakang telinga, tidak menatapku, tidak menjatuhkan pulpen. Ia hanya berjalan lurus ke ruangannya dan menutup pintu.
Mbak Sarah menatap pintu yang tertutup itu. Lalu menatapku.
“Pak Gunawan,” katanya pelan. “Empat jam. Soal temuan auditor internal. Saya tidak tahu detailnya. Tapi Ibu keluar dengan wajah seperti itu.”
Aku menatap pintu kaca buram itu. Lalu aku menatap jadwal di layar tablet Mbak Sarah, yang kebetulan terbuka di mejanya. Pukul lima: rapat dengan konsultan pajak. Pukul enam: panggilan video dengan kantor cabang Surabaya. Pukul tujuh: makan malam dengan direktur bank.
“Mbak,” kataku. “Rapat konsultan pajak itu bisa diwakilin Pak Hadi dari Tax, nggak?”
Mbak Sarah menatapku.
“Terus panggilan sama Surabaya,” lanjutku, “itu kan laporan bulanan rutin. Ringkasannya bisa dikirim lewat email aja. Saya bisa bantu rangkum angkanya kalau Mbak perlu.”
Mbak Sarah tidak menjawab selama tiga detik. Lalu ia mengambil tabletnya, mengetuk layar beberapa kali, dan meletakkannya kembali.
“Sudah,” katanya. “Konsultan pajak ke Pak Hadi. Surabaya lewat email. Makan malam dengan direktur bank tidak bisa digeser, Bima. Itu penting.”
“Makasih, Mbak.”
“Jangan berterima kasih kepada saya.” Ia menatapku dengan wajah datar. “Saya hanya mengatur jadwal.”
Pukul delapan malam, saat aku sudah di kos, ponselku bergetar.
Sarah membatalkan dua agendaku hari ini. Dia bilang itu keputusannya sendiri.
Aku menatap pesan itu. Aku tidak membalasnya. Aku tidak bisa berbohong, tapi aku juga tidak harus menjawab semua hal.
Dia tidak pandai berbohong untukmu, Bima. Dia menulis “keputusan saya sendiri” lalu menambahkan titik tiga kali. Sarah tidak pernah memakai titik tiga kali.
Aku menatap layar.
Lalu, setelah lama, aku mengetik sesuatu yang belum pernah kuketik sebelumnya. Sesuatu yang tidak memakai Bu, tidak memakai angka, tidak memakai nomor referensi dokumen.
Kamu capek?
Aku mengirimnya. Lalu aku menatapnya. Kamu. Aku belum pernah memanggilnya kamu. Tidak di pesan, tidak di mana pun.
Balasannya tidak datang selama dua menit. Lalu lima menit. Lalu sepuluh. Aku mulai berpikir bahwa aku sudah melanggar sesuatu, bahwa kamu terlalu cepat, terlalu lancang.
Lalu ponselku bergetar.
Kamu satu-satunya orang yang tanya aku capek atau nggak.
Yang lain tanya aku sanggup atau nggak.
Aku menatap dua kalimat itu. Lalu satu pesan lagi masuk:
Iya. Aku capek. Sangat.
Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku tidak punya poin-poin untuk ini. Aku tidak punya angka. Jadi aku mengetik satu-satunya hal yang terpikir olehku.
Istirahat. Besok aku bawakan teh. Dengan madu.
Lalu, setelah ragu:
Satu sendok teh.
Balasannya datang cepat kali ini.
Kamu bilang “aku”.
Aku menatap pesanku sendiri. Ia benar. Aku menulis aku. Aku tidak sadar aku menulisnya.
Maaf, Bu.
Jangan minta maaf. Dan jangan kembali ke Bu. Kamu sudah sampai di “aku”. Jangan mundur.
Selamat malam, Bima.
Hari Jumat malam, aku tidak bisa tidur.
Bukan karena ciuman. Bukan karena email Revisi atau pulpen merah yang jatuh atau kamu capek. Aku tidak bisa tidur karena sesuatu yang lain, sesuatu yang sudah empat tahun kusimpan di tempat yang sama dengan surat itu. Di folder draf. Di tempat yang tidak pernah kukirim.
Aku duduk di lantai kos, bersandar di kasur, dengan buku catatan cokelat di pangkuan. Aku membukanya dari belakang. Lembar tugas yang terlipat dua kali. Kalau mau diskusi. Dua belas angka dengan tinta merah.
Dan di bawahnya, terselip di antara halaman yang paling belakang, sesuatu yang belum pernah kutunjukkan kepada siapa pun.
Sebuah pulpen. Pulpen merah. Merek biasa, yang dijual di toko alat tulis mana pun. Tutupnya sedikit tergigit di ujung.
Pulpen yang ia tinggalkan di mejaku, hari Kamis, tiga belas Oktober dua ribu dua puluh dua, setelah ia menulis dua belas angka di pojok lembar tugasku.
Aku memegang pulpen itu dan memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku membiarkan diriku mengingat seluruh hari itu. Bukan versi yang kuceritakan kepada diriku sendiri. Versi yang sebenarnya.
Kamis sore, empat tahun lalu.
Kelas selesai pukul lima. Ia membagikan tugas dari meja ke meja. Ia berhenti di bangkuku. Ia membungkuk, menulis sesuatu di pojok kertasku dengan pulpen merah, dan pergi ke meja berikutnya tanpa menatapku.
Aku membaca tulisan itu sebelum ia sampai di meja ketiga.
Kalau mau diskusi.
Aku tidak bodoh. Dodi salah tentang itu. Aku tidak pernah bodoh tentang hal-hal kecil, dan tulisan itu bukan hal kecil. Aku membaca tiga kata itu, dan dua belas angka di bawahnya, dan aku tahu artinya. Aku tahu dengan kepastian yang sama seperti aku tahu bahwa nilai tugasku A dan tidak ada yang perlu didiskusikan.
Itu bukan nomor untuk konsultasi skripsi.
Ia meninggalkan pulpennya di mejaku. Aku tidak tahu apakah sengaja atau tidak. Aku memungutnya setelah kelas bubar dan berlari keluar untuk mengembalikannya, menuruni tangga gedung fakultas dua anak sekaligus, sampai ke tempat parkir.
Aku melihatnya di tempat parkir.
Ia berdiri di sebelah mobil hitam yang mengilap. Di sebelahnya ada seorang laki-laki. Tinggi, berkemeja putih, berdasi, dengan senyum yang lebar dan mata yang menyipit karena terlalu bahagia. Laki-laki itu membukakan pintu mobil untuknya. Laki-laki itu memegang sesuatu di tangan, sebuah termos kecil berwarna perak yang baru, dan menyerahkannya kepadanya dengan kata-kata yang tidak bisa kudengar dari jarak tiga puluh meter. Ia menerima termos itu. Ia tersenyum lelah. Laki-laki itu menyentuh siku tangannya, dengan sangat lembut, saat ia masuk ke mobil.
Aku berdiri di pinggir tempat parkir dengan pulpen merah di tangan.
Aku tidak tahu siapa laki-laki itu. Sepuluh bulan kemudian, di kamar kos yang sama, di layar ponsel yang retak, aku akan melihat foto laki-laki itu di sebuah artikel berita, dan aku akan tahu namanya. Tapi hari itu aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa ia tinggi dan tersenyum lebar dan berkemeja putih dan membukakan pintu mobil yang mengilap, dan ia membawakan termos baru untuk perempuan yang termosnya bocor karena karetnya aus.
Dan aku hanya mahasiswa dengan sapu tangan kotak-kotak biru dan pengetahuan bahwa karet termos bisa diganti dengan dua ribu lima ratus rupiah.
Malam itu aku pulang ke kos dan menulis surat. Aku menulisnya selama dua jam dan menghapusnya enam kali. Aku menulis bahwa aku mengaguminya. Aku menulis bahwa ia kelihatan capek. Aku tidak menulis tentang tulisan di pojok tugasku. Aku tidak menulis bahwa aku tahu.
Aku memberi surat itu judul jangan dikirim.
Bukan karena aku takut lupa untuk tidak mengirimnya. Itu yang kukatakan kepadanya tiga minggu lalu, di ruangannya, dan telingaku tidak merah saat itu karena aku sudah mengatakannya kepada diriku sendiri begitu sering sampai terdengar benar.
Aku memberinya judul jangan dikirim karena aku sudah memutuskan.
Malam itu, di kamar kos tiga kali tiga dengan kipas angin yang mengeluh, aku memutuskan bahwa ia pantas mendapatkan laki-laki yang bisa membukakan pintu mobil yang mengilap. Laki-laki yang bisa membawakan termos baru, bukan sekadar tahu harga karetnya. Laki-laki yang sudah selesai kuliah, sudah bekerja, sudah punya sesuatu untuk diberikan selain sapu tangan dan perhatian.
Aku memutuskan bahwa yang terbaik untuknya adalah aku tidak menelepon.
Aku tidak bertanya kepadanya. Aku tidak menelepon untuk bertanya apakah laki-laki di tempat parkir itu siapa-siapa. Aku tidak menelepon untuk bertanya apa yang ia maksud dengan kalau mau diskusi. Aku hanya memutuskan, sendirian, di kamar kos, dengan pulpen merahnya di tanganku.
Akhir pekan itu aku pulang ke Purwokerto. Aku duduk di dapur sambil membantu Ibu mengupas bawang untuk pesanan nasi rames. Aku menceritakan semuanya kepada Ibu, karena aku tidak pernah bisa menyimpan apa pun dari Ibu. Aku menunjukkan kertas tugasku. Aku menunjukkan tulisan merah di pojoknya.
Lha, telpon toh, Bim, kata Ibu waktu itu. Wong ayu kok dianggurke.
(Artinya: “Lha, telepon dong, Bim,” … “Perempuan cantik kok dianggurin.”)
Ora, Bu, kataku. Dosennya pantas dapat yang lebih baik. Bima iki sapa.
(Artinya: “Nggak, Bu,” … “Memangnya Bima ini siapa.”)
Ibu menatapku lama sekali dengan pisau bawang di tangannya. Lalu ia menghela napas dan kembali mengupas bawang, dan tidak pernah membahasnya lagi.
Selama empat tahun setelah itu, aku menyebutnya nomor untuk konsultasi.
Aku menyebutnya begitu setiap malam, di map plastik di kos Depok, di laci meja lantai tujuh, di buku catatan cokelat. Aku menyebutnya begitu supaya aku tidak perlu mengakui bahwa aku tahu. Supaya aku tidak perlu mengakui bahwa aku memilih untuk tidak datang. Supaya aku bisa menyimpan kertas itu tanpa harus menyimpan penyesalan.
Karena kalau itu hanya nomor konsultasi, aku tidak melewatkan apa pun.
Tapi kalau itu bukan nomor konsultasi, dan aku tahu itu bukan, dan aku tetap tidak datang, maka aku yang memutuskan bahwa ia akan menunggu tiga minggu dengan ponsel di samping bantal.
Aku yang memutuskan bahwa ia akan menikah dengan orang lain sambil masih menunggu.
Aku yang membuat laki-laki baik itu, laki-laki dengan senyum lebar dan mata yang menyipit, menulis semoga tahun ini dia sudah berhenti menunggu di kolom keterangan klaim jamuan.
Aku.
Aku membuka mata. Kamar kos tiga kali empat di Bendungan Hilir. Kipas angin mengeluh. Jam di ponselku menunjukkan pukul satu lewat dua puluh pagi.
Pulpen merah itu masih di tanganku. Tutupnya tergigit di ujung. Aku tahu siapa yang menggigitnya. Ia menggigit tutup pulpen saat sedang berpikir, di kelas, di setiap pertemuan. Aku mencatatnya di buku tulis bergaris empat tahun lalu, di antara rumus biaya overhead dan contoh kasus perputaran persediaan yang terlalu bagus untuk industri itu.
Aku menatap ponselku. Percakapan terakhir kami masih terbuka. Jangan mundur.
Ia tidak tahu.
Ia pikir aku tidak menelepon karena aku tidak mengerti. Karena aku polos, dan bodoh soal kode, dan menyimpan kertas itu empat tahun dengan niat yang murni dan tidak tahu apa-apa. Ia memaafkanku untuk sesuatu yang ia kira adalah kesalahan karena ketidaktahuan.
Ia tidak tahu bahwa itu bukan ketidaktahuan.
Itu keputusan.
Aku mengetik di ponselku, di percakapan dengannya. Aku mengetik pelan-pelan, satu kata demi satu kata.
Renata. Ada yang harus aku ceritakan. Tentang kenapa aku tidak menelepon.
Aku menatap kalimat itu lama. Jariku melayang di atas tombol kirim.
Pukul satu lewat dua puluh pagi. Ia sedang tidur, mungkin. Ia capek. Sangat, katanya. Ia baru saja keluar dari rapat empat jam dengan Pak Gunawan, dan ia baru saja melepas cincin almarhum suaminya seminggu yang lalu, dan ia baru saja mulai tertawa lagi.
Kalau aku mengirim ini sekarang, ia akan bangun dan membacanya, dan ia akan tahu bahwa laki-laki yang ia tunggu tiga minggu itu sebenarnya tahu dan memilih tidak datang. Ia akan tahu bahwa aku yang membuatnya menikah sambil menunggu.
Ia akan sedih lagi. Baru seminggu ia berhenti sedih.
Aku menatap tombol kirim.
Lalu, dengan ibu jari yang terasa sangat berat, aku menekan tombol lain.
Simpan sebagai draf.
Pesan itu menghilang dari kolom ketik. Di bagian atas layar, sebuah tulisan kecil berwarna abu-abu muncul: Draf.
Aku meletakkan ponsel di kasur, layar menghadap ke bawah.
Aku tahu apa yang baru saja kulakukan. Aku sudah melakukannya sebelumnya. Empat tahun lalu, di kamar kos yang lain, dengan kipas angin yang lain, pukul sebelas lewat empat puluh delapan malam.
Aku memutuskan sendiri lagi.
Nanti saja, kataku kepada diriku sendiri. Setelah ia tidak terlalu capek. Setelah urusan Pak Gunawan selesai. Setelah ia benar-benar bahagia. Nanti.
Telingaku panas.
Di kamar kos yang gelap, tanpa cermin dan tanpa siapa pun yang melihat, telingaku memerah, karena aku sedang menyembunyikan sesuatu. Dari dia. Dan dari diriku sendiri.
Aku tahu itu. Dan aku tetap tidak mengirimnya.
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah
- 7 Satrio
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung
- 10 Taruhan Pantry
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu
- 14 Nomor untuk Konsultasi
- 15 Pengajian 17 November
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama reading
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf
- 30 Purwokerto
- 31 Restu
- 32 Terkirim
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong