← Masih di Folder Draf

Chapter Three

Kirim, Bim

POV: Bima

Aku kembali ke lantai tujuh pukul 10.02, dan seluruh lantai berdiri lagi.

Kali ini tidak ada yang bersorak. Mereka hanya berdiri dan menatapku seperti menatap tentara yang pulang dari medan perang dengan semua anggota badan masih lengkap, dan tidak ada yang tahu apakah itu kabar baik atau keajaiban.

“Lo masih kerja di sini?” tanya Dodi.

“Masih.”

“Lo nggak dipecat?”

“Nggak.”

“Terus dia ngomong apa?”

“Aku nggak boleh cerita ke siapa-siapa soal yang terjadi di ruangan itu.”

Dodi menyipitkan mata. Ia memperhatikan wajahku, lalu telingaku, lalu wajahku lagi, seperti seorang dukun yang membaca ampas kopi.

“Telinga lo masih merah,” katanya pelan. “Bim. Dia ngapain lo?”

“Nggak ngapa-ngapain.”

“Telinga lo makin merah.”

“Dod, aku mau kerja.”

Aku duduk. Aku membuka faktur nomor 0448. Aku mengambil stabilo kuning. Tanganku sedikit gemetar, dan aku memutuskan bahwa itu karena AC lantai tujuh terlalu dingin, bukan karena dua jari yang menyentuh lenganku selama dua detik di lantai delapan belas.

Dua detik. Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya.

Di sebelahku, Dodi masih menatapku. Lalu, perlahan, senyumnya kembali, senyum yang sama seperti tadi pagi saat ia naik ke atas kursi.

“Oke,” katanya. “Oke. Gue ngerti. Lo nggak boleh cerita. Tapi gue boleh nebak, kan?”

“Nggak boleh.”

“Tebakan pertama: dia marah.”

Aku diam.

“Tebakan kedua: dia nggak marah.”

Aku diam lebih lama.

Dodi menutup mulutnya dengan dua tangan, lalu berbalik ke seluruh lantai tujuh dan berbisik dengan suara yang bisa terdengar sampai parkiran basement: “DIA NGGAK MARAH.”


Sampai siang, aku menerima empat puluh tiga pesan WhatsApp dari nomor-nomor yang tidak kukenal, dua belas permintaan pertemanan di Instagram dari karyawan lantai lain, dan satu undangan kalender berjudul Klarifikasi Insiden Email (Wajib Hadir) dari bagian HR, pukul 14.00, ruang rapat Saba di lantai delapan belas.

Lantai delapan belas lagi.

Aku juga akhirnya membuka pesan suara dari Ibu. Aku membukanya di tangga darurat antara lantai tujuh dan enam, karena hanya di situ tidak ada orang yang akan mendengar.

Tiga menit dua belas detik.

“Bim. Iki Ibu.” Jeda panjang. Bunyi wajan. Ibu selalu merekam pesan suara sambil menggoreng mendoan. “Mas Yanto kirim email ke grup. Ibu ra paham opo isine soale Ibu ra iso bukak lampirane. Tapi Ayu bacakke. Ayu nangis. Ibu yo nangis. Pakdemu ngguyu. Bulik Har takon terus CFO iku opo.”

(Artinya: “Bim. Ini Ibu.” … “Mas Yanto kirim email ke grup. Ibu nggak paham apa isinya soalnya Ibu nggak bisa buka lampirannya. Tapi Ayu bacain. Ayu nangis. Ibu juga nangis. Pakdemu ketawa. Bulik Har nanya terus CFO itu apa.”)

Bunyi minyak mendesis. Bunyi spatula.

“Bim. Kowe nulis surat kuwi patang taun kepungkur? Lha kok ora tau cerito karo Ibu? Ibu ki ibumu. Mbok yo cerito.”

(Artinya: “Bim. Kamu nulis surat itu empat tahun yang lalu? Lha kok nggak pernah cerita sama Ibu? Ibu ini ibumu. Mbok ya cerita.”)

Lagi bunyi wajan.

“Terus Mas Yanto kirim fotone. Fotone sing nang website kantormu kuwi lho. Ya Allah, Bim. Ayu-ne. Kok kayak artis sinetron jam pitu. Iki tenan bosmu? Kok iso kowe wani nulis surat nggo wong koyo ngene? Ibu bangga lho. Tapi yo isin. Tapi bangga.”

(Artinya: “Terus Mas Yanto kirim fotonya. Foto yang di website kantormu itu lho. Ya Allah, Bim. Cantiknya. Kok kayak artis sinetron jam tujuh. Ini beneran bosmu? Kok bisa kamu berani nulis surat buat orang kayak begini? Ibu bangga lho. Tapi ya malu. Tapi bangga.”)

Jeda. Suara Ibu melembut.

“Kowe ra popo to, Le? Ibu ngerti kowe mesti lagi isin banget. Ra popo. Wong jujur ki ra perlu isin. Sing perlu isin kuwi sing ngapusi.”

(Artinya: “Kamu nggak apa-apa kan, Nak? Ibu ngerti kamu pasti lagi malu banget. Nggak apa-apa. Orang jujur itu nggak perlu malu. Yang perlu malu itu yang bohong.”)

Lalu, setelah jeda yang sangat panjang, dengan suara yang sudah kembali biasa:

“Wis. Ibu arep ngangkat mendoan. Bengi telpon. Salam karo calon mantu.”

(Artinya: “Sudah. Ibu mau angkat mendoan dulu. Nanti malam telepon. Salam buat calon menantu.”)

Pesan berakhir.

Aku duduk di anak tangga lantai enam setengah dan menatap dinding beton bercat abu-abu. Ibu selalu begitu. Tiga menit dua belas detik, dan dua menit lima puluh detiknya tentang mendoan, tapi dua puluh dua detik sisanya cukup untuk membuatku harus melepas kacamata dan menekan pangkal hidung lama sekali.

Calon mantu.

Aku mengetik balasan: Bu, beliau bukan calon mantu. Beliau atasan dari atasan dari atasan saya.

Aku membacanya lagi. Aku menghapusnya.

Aku mengetik: Bima baik-baik saja, Bu. Nanti malam Bima telepon.

Aku membacanya. Jariku melayang di atas tombol kirim. Aku tidak tahu kenapa aku ragu. Mungkin karena pagi ini aku belajar bahwa sebuah pesan, sekali terkirim, tidak bisa ditarik kembali, bahkan dengan tiga kali percobaan.

Pintu tangga darurat di atas kepalaku terbuka.

“Nah. Ketemu.” Dodi turun dua anak tangga dan berdiri di atasku, memegang dua gelas kopi sachet. Ia menyodorkan satu. “Lo kabur ke sini dari tadi. Gue cari ke toilet, ke pantry, ke musala. Ternyata di sini lo, kayak tokoh sinetron yang abis diputusin.”

“Aku nggak diputusin, Dod. Pacaran aja belum pernah.”

“Iya, iya. Itu malah lebih sedih.” Ia duduk di sebelahku dan melirik ponselku. “Lagi ngetik ke siapa?”

“Ibu.”

“Udah lima menit lo pelototin layar itu.”

“Lagi mastiin isinya bener.”

Dodi menatap layarku. Lalu menatapku. Lalu, dengan wajah paling serius yang pernah kulihat sejak ia membuat presentasi tentang mengapa kantor harus menyediakan kerupuk di pantry, ia menepuk bahuku.

“Kirim, Bim,” katanya.

Aku menatapnya.

“Kirim aja, Bim. Yang ini nggak bakal nyasar ke Bu Renata, kok.”

Lalu ia tertawa begitu keras sampai suaranya memantul ke sepuluh lantai tangga darurat, dan aku tahu, dengan kepastian yang biasanya hanya kumiliki terhadap angka di kolom saldo akhir, bahwa kalimat itu tidak akan pernah mati.

Aku mengirim pesan untuk Ibu.


Ternyata aku benar.

Pukul satu siang, seseorang dari tim Treasury mengunggah foto yang diambil Dodi di depan lift: aku dengan kemeja biru muda, buku catatan cokelat, telinga merah, dan pintu lift yang setengah tertutup. Di bawahnya ditambahkan tulisan kuning besar dengan huruf tebal: KIRIM, BIM.

Pukul satu lewat sepuluh, foto itu sudah menjadi stiker WhatsApp.

Pukul satu lewat lima belas, aku menerimanya dari tujuh grup berbeda, termasuk grup Pengajian Bulanan Karyawan Wiraguna, tempat Pak Haji Rasyid dari bagian Legal mengirimnya dengan keterangan Semoga Allah mudahkan urusannya, aamiin.

Pukul satu lewat dua puluh, Mbak Wina berdiri di sebelah mejaku memegang sepiring gorengan.

“Bim,” katanya. “Mau bakwan?”

“Makasih, Mbak.”

“Ambil, Bim.” Lalu, dengan wajah polos: “Kirim, Bim.”

Seluruh lantai tujuh tertawa.

Aku mengambil bakwan.


Ruang rapat Saba di lantai delapan belas berdinding kaca bening, bukan kaca buram seperti ruangan Bu Renata. Dari dalam, aku bisa melihat seluruh koridor: karpet abu-abu, lampu kuning, dan pintu kaca buram bertuliskan Office of the Chief Financial Officer di ujungnya.

Aku sengaja duduk membelakangi pintu itu.

Di ruangan itu ada lima orang. Bu Mega dari HR, perempuan berkacamata dengan map biru tebal. Pak Hardi, kepala divisi IT, laki-laki besar yang wajahnya selalu terlihat seperti baru dikabari server mati. Pak Darto, yang duduk di sebelahku dan memegangi gelas air mineral dengan dua tangan. Aku. Dan Jordi.

Aku baru pertama kali melihat Jordi. Ia lebih muda dari yang kubayangkan, kurus, dengan rambut yang berdiri di satu sisi seperti baru bangun tidur. Ia membawa laptop, map, dan sebuah kotak martabak yang sudah kosong. Saat aku masuk, ia berdiri begitu cepat sampai kursinya terguling ke belakang.

“Mas,” katanya. “Mas Bima. Maaf. Maaf banget, Mas. Demi Allah, saya minta maaf.”

“Nggak apa-apa, Mas Jordi.”

“Apa-apa, Mas. Ini apa-apa banget.” Ia membuka laptopnya dengan tangan gemetar. “Saya sudah siapkan root cause analysis. Empat belas slide. Saya kerjakan dari jam sepuluh tadi.”

Empat belas slide itu ternyata sangat rinci. Ada diagram alur sinkronisasi email, ada tangkapan layar konfigurasi aturan distribusi, ada grafik waktu yang menunjukkan bahwa dalam rentang dua menit pagi ini, tiga ratus empat puluh sembilan draf dari seratus dua belas akun yang tersambung ikut terkirim ke penerima masing-masing. Hanya satu yang tembus ke all-staff, karena satu aturan distribusi lama yang seharusnya sudah dihapus masih aktif untuk akun-akun yang tersambung sebelum tahun 2025.

“Jadi ada tiga ratus empat puluh delapan email lain yang juga terkirim pagi ini,” kata Bu Mega sambil membaca catatannya.

“Betul, Bu. Tapi itu cuma ke penerima aslinya. Bukan ke semua orang.”

“Isinya apa saja?”

Jordi menelan ludah. “Macam-macam, Bu. Ada draf pengunduran diri tiga orang yang belum jadi resign. Ada draf komplain ke vendor katering. Ada draf ucapan ulang tahun yang telat setahun. Dan ada satu draf dari tim Marketing ke mantan pacarnya, Bu, tapi orangnya sudah konfirmasi mantannya sudah blokir dia, jadi aman.”

Pak Darto menyemburkan airnya sedikit.

“Intinya,” kata Pak Hardi dengan suara berat, “ini kelalaian tim IT. Aturan distribusi lama seharusnya dibersihkan sebelum migrasi. Itu tanggung jawab pelaksana.” Ia tidak menyebut nama Jordi. Ia tidak perlu. Semua orang di ruangan itu menoleh ke arah Jordi, yang perlahan-lahan menyusut di kursinya seperti kerupuk yang tersiram kuah.

“Kami akan buat laporan insiden,” lanjut Pak Hardi. “Nama pelaksana dicantumkan, plus surat peringatan pertama. Itu prosedur.”

Jordi menunduk. Tangannya mencengkeram tepi meja. Aku melihat buku-buku jarinya memutih.

Aku tahu rasanya. Bukan surat peringatan, karena aku belum pernah menerimanya. Tapi rasanya ditatap seisi ruangan sebagai satu-satunya orang yang salah. Pagi ini aku merasakannya di lantai tujuh. Bedanya, aku ditatap sambil ditertawakan. Jordi ditatap sambil diadili.

“Pak,” kataku.

Semua orang menoleh ke arahku. Pak Darto menginjak kakiku di bawah meja, keras. Aku tetap bicara.

“Draf yang ke all-staff itu dari akun pribadi saya, Pak. Saya sendiri yang nyambungin ke laptop kantor. Di kebijakan TI halaman tujuh, poin empat, karyawan dilarang menyambungkan akun email pribadi ke perangkat perusahaan tanpa persetujuan tertulis. Saya nggak pernah minta persetujuan. Saya baru tahu aturan itu dua jam lalu, waktu baca ulang kebijakannya. Tapi nggak tahu aturan kan bukan alasan.”

Bu Mega berhenti menulis. Pak Hardi mengerutkan dahi.

“Jadi kalau ada nama yang harus dicantumkan di laporan insiden,” lanjutku, “tolong cantumkan nama saya juga. Di urutan pertama, kalau bisa. Soalnya kalau saya nggak nyambungin akun itu, Mas Jordi nggak bakal punya draf apa pun buat terkirim ke mana pun.”

Ruangan itu hening.

Jordi mengangkat wajahnya dan menatapku seperti menatap seseorang yang baru saja menariknya keluar dari sumur.

“Mas,” bisiknya. “Mas nggak perlu—”

“Perlu, Mas. Itu fakta.”

Pak Darto menginjak kakiku lagi, lebih keras, lalu berbisik tanpa menggerakkan bibir: “Kamu gila. Kamu mau kena SP?”

“Kalau memang salah, Pak, ya kena.”

“Saya punya cicilan di Cibubur, Bima.”

“Itu nggak ada hubungannya, Pak.”

Bu Mega dan Pak Hardi saling pandang. Lalu Bu Mega menulis sesuatu di mapnya, lama. Pak Hardi menghela napas panjang, napas orang besar yang baru menyadari bahwa urusan ini tidak akan selesai secepat yang ia inginkan.

“Kami akan diskusikan dulu,” kata Bu Mega akhirnya. “Laporan insiden mencantumkan dua pihak. Untuk sanksi, kami tinjau ulang. Kemungkinan cukup teguran lisan untuk keduanya, mengingat tidak ada data perusahaan yang bocor.”

“Hanya data hati,” gumam Pak Darto.

“Apa, Pak Darto?”

“Tidak, Bu. Saya batuk.”

Rapat bubar. Jordi menyalamiku begitu erat sampai jariku sakit. Matanya berkaca-kaca. “Mas, besok saya bawain martabak lagi.”

“Nggak usah, Mas.”

“Yang spesial, Mas. Telur bebek empat.”

“Mas Jordi, beneran nggak usah.”

“Pakai daging sapi, Mas.”

Aku menyerah dan mengangguk.

Saat semua orang berdiri dan keluar, aku membalikkan badan untuk mengambil buku catatanku dari kursi. Dan saat itulah aku melihat pantulan di dinding kaca.

Di koridor, beberapa meter dari pintu ruang rapat, seseorang berdiri bersandar di dinding dengan tangan terlipat.

Blazer hitam pas badan. Rok pensil abu-abu tua. Heels hitam berujung runcing. Rambut hitam bergelombang yang jatuh di atas bahu kanan. Bibir merah bata. Ia sedang menatap ke dalam ruang rapat, ke arah kursi yang tadi kududuki, dan aku tidak tahu sudah berapa lama ia berdiri di sana.

Aku membeku.

Pantulannya di kaca bertemu dengan pantulanku. Selama satu detik, kami saling menatap melalui bayangan masing-masing.

Lalu Bu Renata menegakkan badan, berbalik, dan berjalan kembali ke ujung koridor. Bunyi heels-nya pelan dan teratur. Ia tidak menoleh. Pintu kaca buram di ujung koridor terbuka, dan menutup.

“Bim.” Pak Darto menarik lenganku. “Ayo. Kamu ngapain bengong?”

“Bu Renata tadi di luar, Pak.”

Pak Darto langsung pucat. “Dari kapan?”

“Saya nggak tahu, Pak.”

“Dia dengar kamu ngaku salah?”

“Saya nggak tahu, Pak.”

Pak Darto memegangi dadanya lagi. “Ya Allah. Ya Allah. Sudah, kita turun. Cepat. Sebelum dia berubah pikiran soal membubarkan AP.”


Malam itu aku pulang pukul delapan, sedikit lebih lambat dari biasanya karena faktur nomor 0448 sampai 0471 tidak bisa dicocokkan sambil ditatap dua puluh orang yang berbisik Kirim, Bim setiap kali aku menekan tombol Enter.

Kosku di Bendungan Hilir ukurannya tiga kali empat. Itu lebih besar dari kos kuliahku di Depok, tapi kipas anginnya sama-sama berbunyi seperti orang mengeluh. Aku menelepon Ibu, yang bertanya apakah Bu Renata sudah punya anak (belum), apakah Bu Renata bisa masak (Bima tidak tahu, Bu), dan apakah Bu Renata sudah tahu bahwa Bima jago bikin sambal tomat (Bu, tolong). Ayu merebut telepon dan menjerit selama satu menit penuh, lalu menyerahkannya kembali ke Ibu, yang mengatakan sesuatu tentang tetangga sebelah yang anaknya juga menikah dengan janda kaya dan sekarang punya mobil Fortuner.

“Bu,” kataku. “Bima ora bakal nikah sama siapa-siapa.”

(Artinya: “Bima nggak bakal nikah sama siapa-siapa.”)

“Lha kok?”

(Artinya: “Lho, kok gitu?”)

“Lah beliau kan atasan Bima, Bu. Terus beliau pantas dapat orang yang lebih baik.”

Ibu diam sebentar.

“Bim,” katanya. “Kowe ki ket cilik senengane ngomong koyo ngono. ‘Ayu pantes entuk sepatu sing luwih apik.’ ‘Ibu pantes ngaso.’ ‘Bapak pantes—’”

(Artinya: “Kamu itu dari kecil sukanya ngomong kayak gitu. ‘Ayu pantas dapat sepatu yang lebih bagus.’ ‘Ibu pantas istirahat.’ ‘Bapak pantas—’”)

Ia berhenti.

“Wis,” katanya, lebih pelan. “Mangan sing akeh. Turu sing cukup.”

(Artinya: “Sudah,” … “Makan yang banyak. Tidur yang cukup.”)

Setelah telepon ditutup, aku duduk lama di tepi kasur.

Lalu aku membuka tas kerja dan mengeluarkan selembar kertas yang tadi sore, sebelum pulang, kuambil dari laci mejaku di lantai tujuh. Aku tidak tahu kenapa aku membawanya pulang. Selama dua tahun kertas itu tinggal di laci kantor, dan sebelum itu dua tahun tinggal di map plastik di kos Depok. Kertas itu tidak pernah ikut aku ke mana pun. Tapi malam ini, entah kenapa, aku tidak ingin meninggalkannya sendirian di lantai tujuh.

Kertas HVS biasa. Kekuningan di bagian tepi. Di bagian atasnya tertulis judul tugas dengan tulisan tanganku sendiri yang terlalu rapi, dan di bawahnya angka-angka yang sudah tidak penting lagi. Di pojok kanan bawah, ada tulisan tangan lain. Miring. Ditulis dengan pulpen merah.

Aku tidak membacanya. Aku sudah hafal isinya.

Aku hanya menatap tinta merah itu sebentar, lalu melipat kertasnya dua kali dan menyelipkannya ke dalam buku catatan cokelat, di antara halaman yang berisi daftar faktur bulan Oktober.

Lalu aku mematikan lampu, berbaring, dan mendengarkan kipas angin mengeluh sampai aku tertidur.

Aku bermimpi tentang lift yang tidak berhenti di lantai mana pun, dan seseorang berdiri di dalamnya bersamaku, wangi melati dan kayu manis, tanpa berkata apa-apa.