← Masih di Folder Draf

Chapter Twenty Seven

Aturan Nomor 7

POV: Bima

Dodi meneleponku pukul empat lewat dua belas pagi.

“Bim. Bangun. Jangan buka grup apa pun. Gue ke kos lo sekarang.”

Aku membuka grup. Tentu saja aku membuka grup. Aku sudah bangun sejak pukul tiga karena tidak bisa tidur setelah Lembang, dan ponselku sudah bergetar empat belas kali sejak pukul dua.

Tiga foto.

Aku menatapnya di kasur kos dengan lampu masih mati, di bawah kipas angin yang mengeluh. Bungalo nomor enam. Selimut merah. Rambut tergerai di jalan setapak di antara pohon pinus. Aku di balkon dengan kaus oranye. Pintu lift eksekutif dengan cap waktu 02/12/2026 20:31, dengan wajahku di belakangnya dan rambutku yang berantakan.

Lalu tulisan di bawahnya.

Kita semua tahu apa yang dicari laki-laki muda dari janda kaya.

Aku membacanya sekali. Lalu aku meletakkan ponsel di kasur dan duduk di lantai dan menatap dinding kos yang catnya mengelupas di bagian sudut.

Bukan aku yang membuatku duduk di lantai. Bukan kalimat tentang laki-laki muda. Aku sudah mendengar banyak kalimat tentang laki-laki dari kampung yang tidak punya apa-apa. Itu tidak apa-apa.

Yang membuatku duduk di lantai adalah foto pertama. Wajahnya setengah tertutup bayangan, setengahnya tidak. Ia sedang tersenyum di foto itu. Aku tahu kenapa. Ia baru saja keluar dari balik tirai dan tertawa sampai menangis karena Dodi melihat kaus kakinya. Ia tersenyum karena ia bahagia.

Dan seseorang mengambil foto senyum itu dari balik pohon pinus dan menuliskan janda kaya di bawahnya.

Pukul lima kurang sepuluh, Dodi mengetuk pintu kos dengan dua bungkus nasi uduk dan wajah yang belum dicuci.

“Bim,” katanya. “Lo udah liat.”

“Udah.”

Dodi duduk di lantai di sebelahku tanpa bertanya. Ia membuka bungkus nasi uduk dan meletakkan satu di depanku.

“Makan,” katanya.

“Nggak lapar, Dod.”

“Gue nggak nanya lo lapar atau nggak. Makan. Hari ini bakal panjang.”


Aku tidak langsung ke kantor.

Aku pergi ke lantai lima belas, ke kantor Compliance, pukul tujuh lewat empat puluh, sebelum siapa pun dari Compliance datang. Aku duduk di kursi tunggu di depan meja resepsionis yang kosong, dengan map plastik di pangkuan dan buku catatan cokelat di dalamnya.

Semalam, setelah Dodi pulang dan sebelum subuh, aku membaca Kode Etik Wiraguna Group. Seratus dua puluh empat halaman. Aku sudah membacanya dua tahun lalu, saat baru masuk, tapi aku membacanya lagi, pelan, satu per satu, sampai ke Bab Dua, Pasal Tujuh, ayat dua.

Hubungan romantis atau hubungan pribadi yang setara antara atasan dan bawahan dalam satu garis pelaporan langsung maupun tidak langsung wajib dilaporkan kepada fungsi Compliance dalam waktu tujuh hari kerja.

Tujuh hari kerja.

Aku menghitung. Senin, dua puluh tiga November, pukul tujuh pagi, di sofa krem di ruangan lantai delapan belas. Disetujui. Tanpa revisi. Dari hari itu sampai hari ini, ada lima belas hari kerja.

Aku terlambat delapan hari.

Aku tidak tahu aturan itu ada sampai pukul dua pagi tadi. Tapi tidak tahu aturan bukan alasan. Aku sudah mengatakannya sendiri di ruang rapat Saba tujuh minggu lalu, saat aku meminta namaku dicantumkan di laporan insiden email.

Jadi pukul tujuh lewat empat puluh, aku duduk di depan kantor Compliance dengan formulir pelaporan benturan kepentingan yang sudah kuisi semalam dengan tulisan tangan kecil dan rapi. Nama. Jabatan. Nama pihak terkait. Jabatan pihak terkait. Sifat hubungan. Tanggal hubungan dimulai.

Di kolom Keterangan tambahan, aku menulis:

Saya terlambat melapor delapan hari kerja karena tidak membaca ulang Kode Etik. Itu kelalaian saya. Pihak terkait (Ibu Renata Halim) tidak mengetahui bahwa saya belum melapor. Mohon sanksi atas keterlambatan dijatuhkan kepada saya.

Pukul delapan lewat lima, seorang staf Compliance perempuan berkerudung biru datang dan membuka pintu kantor. Ia melihatku dan berhenti.

“Mas... Mas yang di foto?”

“Saya Bima Wicaksono, Mbak. Saya mau serahin formulir ini ke Pak Fauzan.”

Ia menatap formulirku. Lalu menatapku.

“Pak Fauzan tidak ada, Mas,” katanya pelan. “Beliau dipanggil ke lantai dua puluh. Rapat jam sembilan. Dengan Pak Gunawan dan Bu Mega.” Ia ragu. “Soal Mas, kayaknya.”


Pukul dua siang, aku duduk di ruang rapat kecil di lantai lima belas, di depan Bu Mega dan Pak Fauzan.

Ruangan itu tidak berjendela. Dindingnya putih, mejanya abu-abu, dan lampu neonnya berkedip sedikit di satu sudut. Di meja, di depan Pak Fauzan, ada formulir pelaporan yang kuisi semalam. Di sebelahnya, ada map biru tebal milik Bu Mega.

“Saudara Bima,” kata Pak Fauzan. Wajahnya, yang biasanya seperti orang yang baru menelan sesuatu yang asam, hari ini terlihat seperti orang yang menelan sesuatu yang asam dan tidak bisa memuntahkannya. “Kami sudah menerima formulir Anda.”

“Iya, Pak.”

“Anda mengaku melanggar Pasal Tujuh ayat dua.”

“Iya, Pak. Delapan hari terlambat.”

“Dan Anda meminta sanksi dijatuhkan kepada Anda.”

“Iya, Pak. Bukan ke Bu Renata. Beliau nggak tahu saya belum lapor.”

Pak Fauzan menatap formulir itu. Lalu menatap Bu Mega. Bu Mega membetulkan kacamatanya, untuk kesekian kalinya.

“Saudara Bima,” kata Bu Mega pelan. “Kami tidak bisa memutuskan sanksi hari ini. Keputusan akan diambil oleh Direktur Utama. Hari Jumat.”

“Pak Gunawan?”

“Pak Gunawan.”

“Terus kenapa saya dipanggil hari ini, Bu?”

Bu Mega membuka map birunya. Ia mengeluarkan selembar kertas. Cetakan foto dari kamera keamanan: pintu ruang kaca Pak Darto di lantai tujuh, dengan cap waktu dua puluh lima hari yang lalu, pukul dua puluh dua lewat tujuh belas menit. Aku di depan lemari arsip. Kaleng Khong Guan terbuka di tanganku.

“Ini untuk pelanggaran yang lain,” kata Bu Mega. “Akses arsip di luar jam kerja tanpa otorisasi. Menggunakan kunci cadangan yang diambil dari meja atasan tanpa izin.”

Aku menatap foto itu. Itu aku. Itu benar.

“Saudara Bima,” kata Pak Fauzan. “Apa yang Anda cari di lemari arsip malam itu?”

Aku menatapnya. Aku bisa mengatakan semuanya. PT Sinar Karya Mandiri. Enam pasang tagihan. Empat koma tujuh satu dua miliar. Adik ipar Pak Gunawan. Aku tidak bisa berbohong, dan aku tidak ingin berbohong.

Tapi Renata bilang, di lantai tujuh pukul satu pagi, dengan rambut diikat pulpen merah: Jangan bicarakan dengan siapa pun, termasuk saya, di gedung ini.

Dan Pak Fauzan baru saja keluar dari rapat dengan Pak Gunawan.

“Saya mencocokkan faktur, Pak,” kataku.

“Faktur apa?”

“Faktur vendor, Pak. Untuk rekonsiliasi pra-audit.”

“Pukul sepuluh malam?”

“Saya teliti, Pak.”

Pak Fauzan menatapku lama. Ia tahu aku tidak menjawab seluruhnya. Aku melihatnya di wajahnya. Tapi ia juga melihat telingaku, yang tidak merah, karena aku tidak berbohong. Aku memang mencocokkan faktur. Hanya tidak semuanya.

Lalu Pak Fauzan melakukan sesuatu yang tidak kuduga. Ia menutup map birunya. Ia menatap pintu ruangan yang tertutup. Lalu ia mencondongkan badan sedikit ke arahku dan berbicara dengan suara yang jauh lebih pelan dari suaranya yang biasa.

“Saudara Bima. Saya sudah dua belas tahun di Compliance. Saya sudah melihat banyak orang dipecat. Kebanyakan pantas.” Ia menatap formulirku. “Belum pernah ada orang yang datang sendiri pukul tujuh empat puluh pagi untuk mengaku terlambat delapan hari dan meminta dirinya yang dihukum.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Saya tidak bisa membantu Anda,” lanjutnya. “Keputusannya bukan di saya. Tapi saya akan mencatat formulir ini. Dengan tanggal dan jamnya. Supaya siapa pun yang membacanya nanti tahu bahwa Anda melapor sendiri.”

“Terima kasih, Pak.”

“Jangan berterima kasih.” Pak Fauzan bersandar kembali. Wajahnya kembali menjadi wajah orang yang menelan sesuatu yang asam. “Itu prosedur.”


Pukul empat sore, aku turun ke pantry lantai tujuh untuk mengisi botol minum.

Aku tidak ingin ke pantry. Sejak pagi, lantai tujuh terasa seperti tempat yang belum pernah kukunjungi. Orang-orang menatapku saat aku lewat, lalu menatap ke tempat lain. Mbak Wina membawakanku gorengan dan menepuk bahuku tanpa berkata apa-apa. Jordi datang dari lantai dua belas dan berdiri di depan mejaku selama satu menit dengan wajah orang yang ingin minta maaf atas sesuatu yang bukan salahnya. Pak Darto keluar dari ruang kacanya tiga kali, berdiri di ambang pintu, menatapku, lalu masuk lagi.

Papan taruhan di pantry sudah tidak ada. Dodi mencopotnya pukul tujuh pagi, sebelum siapa pun datang. Di dinding, hanya tersisa bekas paku dan bayangan persegi panjang yang lebih bersih dari cat di sekitarnya.

Pantry tidak kosong.

Ada empat orang di sana. Dua dari tim Tax lantai delapan, satu dari Procurement lantai sebelas yang turun entah untuk apa, dan satu dari Treasury yang tidak ikut offsite. Mereka berdiri di dekat dispenser dengan gelas kopi di tangan, dan mereka sedang bicara, dan mereka tidak melihatku masuk.

“...udah jelas lah,” kata laki-laki dari Procurement. “Cewek umur tiga dua, janda, kaya, cantik, sendirian tiga tahun. Terus ada cowok kampung yang umurnya dua delapan, gajinya kecil, nyamperin. Lo pikir dia ngincer apa? Hati?”

Laki-laki dari Tax tertawa. “Tapi Bu Renata pinter, masa nggak sadar?”

“Pinter di angka, belum tentu pinter di cowok. Janda yang kesepian tuh gampang, bro. Dikasih perhatian dikit, langsung luluh. Nyetrika blazer, benerin sepatu. Itu trik lama. Gue juga bisa.”

“Terus kenapa CFO mau? Dia bisa dapet siapa aja.”

“Siapa bilang dia nggak dapet siapa aja?” Laki-laki dari Procurement menyesap kopinya. “Tiap malem lembur sampe jam sebelas. Lo pikir lembur ngapain? Ngitung neraca? Gue denger dulu sebelum nikah sama Pak Hendra, dia juga naiknya cepet banget. VP di umur dua delapan. Lo pikir itu dari mana?”

“Hus.”

“Gue cuma bilang. CFO main sama staf. Dari dulu juga gitu kali caranya.”

Aku berdiri di ambang pintu pantry dengan botol minum yang kosong di tangan.

Aku tidak merasakan telingaku. Aku tidak merasakan apa pun. Aku hanya merasakan sesuatu yang dingin dan sangat tenang yang naik dari perutku ke dadaku, seperti air yang naik di gelas sampai penuh.

Aku masuk ke pantry. Aku berjalan melewati mereka ke dispenser. Mereka berhenti bicara saat melihatku. Laki-laki dari Tax menunduk. Laki-laki dari Treasury mundur selangkah. Laki-laki dari Procurement tidak mundur. Ia menatapku dengan senyum kecil di sudut bibir, senyum orang yang sudah menunggu ini.

Aku mengisi botol minumku. Air dari dispenser mengalir pelan dengan bunyi yang terdengar sangat keras di pantry yang tiba-tiba sunyi. Aku menunggu sampai botolnya penuh. Aku menutupnya.

Lalu aku berbalik dan menatap mereka.

Aku tidak meninggikan suara. Aku tidak tahu caranya. Aku hanya bicara dengan suara yang sama dengan yang kupakai saat membacakan saldo akhir di rapat rekonsiliasi.

“Laporan keuangan Bu Renata,” kataku, “nggak pernah selisih satu rupiah pun. Saya udah periksa dua tahun. Tiap bulan. Nggak pernah.”

Mereka menatapku.

“Bu Renata jadi VP di umur dua puluh delapan karena beliau yang beresin restrukturisasi utang anak perusahaan di Kalimantan yang gagal ditangani tiga direktur sebelum beliau. Itu ada di laporan tahunan dua ribu dua puluh dua. Halaman tiga puluh satu. Kalian bisa baca sendiri.”

Hening.

“Beliau lembur sampai jam sebelas malam karena beliau yang periksa ulang semua angka yang kalian kirim ke lantai delapan belas. Termasuk angka kalian.” Aku menatap laki-laki dari Procurement. “Pengajuan anggaran Procurement kuartal tiga ada salah hitung PPN di baris empat belas. Bu Renata yang nemu. Bukan Anda.”

Wajah laki-laki dari Procurement berubah.

“Dan klaim lembur kalian,” kataku, menatap mereka satu per satu, “saya yang periksa. Tiap bulan. Saya tahu berapa jam kalian beneran lembur, dan berapa jam yang kalian tulis.”

Pantry sangat sunyi. Bahkan dispenser berhenti berdengung.

“Kalian boleh bilang apa aja soal saya,” kataku. “Saya memang dari kampung. Gaji saya memang kecil. Saya memang nggak punya apa-apa. Itu bener semua.” Aku memegang botol minumku lebih erat. “Tapi jangan bilang apa-apa soal beliau. Kalian nggak tahu apa-apa tentang beliau.”

Aku berjalan keluar dari pantry.

Di ambang pintu, aku hampir menabrak seseorang. Seseorang yang berdiri di sana dengan tablet di pelukan dan wajah yang sangat datar dan mata yang sama sekali tidak datar.

Mbak Sarah.

Aku tidak tahu sudah berapa lama ia berdiri di sana. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatapku, dan aku melihat sesuatu di matanya yang belum pernah kulihat di sana. Lalu ia minggir untuk membiarkanku lewat.

Di belakangku, di pantry, aku mendengar laki-laki dari Treasury berbisik, “Gila. Dia hafal halaman laporan tahunan.”


Aku tidak tahu tentang lantai dua puluh sampai pukul tujuh malam.

Aku tahu ada rapat. Staf Compliance berkerudung biru sudah memberitahuku. Aku tahu Renata dipanggil. Aku tahu, karena aku tidak melihatnya sepanjang hari. Ia tidak turun ke lantai tujuh. Ia tidak mengirim pesan. Pesan terakhir di ponselku masih Selamat tidur, Renata. Lembang dingin. Rumahmu hangat.

Aku tidak mengirim pesan juga. Aku pikir ia sedang menangani sesuatu. Aku pikir ia akan memberitahuku saat ia siap. Kami punya kesepakatan.

Pukul tujuh malam, aku turun ke lobi untuk pulang. Lift eksekutif kosong, tapi aku tidak naik lift eksekutif. Aku naik lift biasa, yang di dalamnya ada satu orang lagi.

Riko.

Ia berdiri di sudut lift dengan laptop di pelukan dan ponsel di tangan, layar menyala. Ia menatapku saat aku masuk. Ia tersenyum, senyum sopan yang sama seperti di api unggun Lembang.

“Mas Bima.”

Aku tidak menjawab. Aku menekan tombol L.

Pintu lift tertutup. Lift mulai turun. Lantai enam. Lima.

“Mas,” kata Riko pelan, menatap angka di atas pintu. “Saya mau sampaikan sesuatu. Tidak resmi. Dari Pak Gunawan.”

Aku menatapnya.

“Pak Gunawan memberi Bu Renata dua pilihan tadi pagi,” lanjutnya, dengan suara seperti sedang membacakan laporan cuaca. “Pilihan pertama: Bu Renata mengundurkan diri sebagai CFO. Alasan pribadi. Foto-foto itu tidak sampai ke dewan komisaris. Mas tetap bekerja.”

Lantai empat.

“Pilihan kedua: Bu Renata tetap di kursinya. Mas diberhentikan dengan tidak hormat. Karena akses arsip tanpa izin. Dengan catatan seperti itu, Mas tidak akan bisa bekerja di bidang keuangan lagi. Di mana pun.”

Lantai tiga.

“Batasnya hari Jumat.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Satu hal lagi, Mas.” Riko akhirnya menoleh dan menatapku. “Bu Renata sudah memberi tanda kepada Pak Gunawan. Tidak resmi. Tapi Pak Gunawan cukup yakin beliau akan memilih yang pertama. Beliau akan mengundurkan diri. Untuk melindungi Mas.”

Lantai dua.

“Pak Gunawan merasa itu sangat disayangkan,” kata Riko. “CFO terbaik dalam sejarah perusahaan, mundur karena staf AP. Tapi beliau menghormati pilihan Bu Renata.”

Lobi. Denting. Pintu terbuka.

Riko melangkah keluar. Ia berhenti di ambang pintu, berbalik, dan menatapku dengan wajah yang tidak membaca apa pun.

“Tentu saja,” katanya, “kalau Mas yang mengundurkan diri lebih dulu, sebelum Jumat, masalah Pasal Tujuh selesai dengan sendirinya. Tidak ada lagi hubungan atasan-bawahan. Bu Renata tidak perlu memilih apa-apa.” Ia tersenyum. “Itu hanya pengamatan saya, Mas. Bukan saran.”

Ia pergi, melewati Pak Komar di pos jaga, melewati pintu putar, ke jalan Sudirman yang sudah gelap.

Aku berdiri di dalam lift yang terbuka sampai pintunya mulai menutup, dan aku harus menahannya dengan tangan.


Aku tidak langsung memutuskan.

Aku ingin mengatakan itu dengan jelas, karena itu penting. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak langsung memutuskan.

Aku pulang ke kos. Aku duduk di lantai, bersandar di kasur, dengan buku catatan cokelat di pangkuan. Aku membuka halaman Hal yang harus kutanyakan dulu. Empat puluh satu pertanyaan. Aku membaca semuanya. Aku membaca nomor dua puluh sembilan sampai lima kali.

29. Kamu ingin tahu kebenaran sekarang, walaupun kamu capek, atau kamu ingin aku menunggu?

Lalu aku mengambil ponsel. Aku membuka percakapan dengan Renata. Aku mengetik.

Renata. Aku dengar soal lantai dua puluh. Dari Riko, di lift. Dua pilihan. Jumat.

Apa benar kamu akan mundur?

Aku tanya dulu, sesuai kesepakatan. Aku tidak akan memutuskan apa-apa sebelum kamu jawab.

Aku menatap pesan itu. Telingaku tidak merah. Aku tidak menyembunyikan apa pun.

Aku menekan kirim.

Aku menunggu.

Satu menit. Lima menit. Sepuluh. Dua puluh. Tanda centang dua, tapi tidak biru. Ia belum membacanya. Mungkin ia sedang rapat. Mungkin ponselnya mati. Mungkin ia sedang di rumah Ibu Laksmi, atau Pak Haji Rasyid, atau siapa pun yang bisa membantunya. Mungkin ia sedang tidur. Ia capek. Ia selalu capek.

Pukul sembilan lewat empat puluh, tanda centang berubah biru.

Lalu titik-titik muncul di layar. Lama. Sangat lama. Muncul, menghilang, muncul lagi. Aku membayangkannya di rumahnya di Kebayoran Baru, di sofa ruang tengah tempat aku membacakan empat puluh satu pertanyaan, mengetik dan menghapus dan mengetik lagi.

Pukul sembilan lewat lima puluh dua, pesannya masuk.

Jangan khawatir. Aku yang urus.

Percaya padaku.

Jangan lakukan apa pun.

Aku membaca pesan itu.

Aku membacanya sekali. Dua kali. Tiga kali. Aku membacanya seperti membaca laporan keuangan yang angkanya tidak cocok, mencari baris yang terlewat, mencari keterangan yang menjelaskan selisihnya.

Aku yang urus.

Ia tidak menjawab pertanyaanku. Aku bertanya apakah benar ia akan mundur. Ia tidak bilang tidak. Ia hanya bilang ia yang urus.

Aku tahu kalimat itu. Aku sudah mengatakannya kepada diriku sendiri ribuan kali. Kepada Ibu, saat aku membeli obatnya dengan uang jajan seminggu. Kepada Ayu, saat aku makan mi instan sebulan supaya uang kuliahnya cukup. Kepada diriku sendiri, empat tahun lalu, di kamar kos di Depok, dengan pulpen merah di tangan. Aku yang urus. Jangan khawatir. Mereka tidak perlu tahu.

Aku yang urus adalah kalimat yang diucapkan orang yang sedang mengorbankan sesuatu dan tidak ingin orang lain tahu.

Ia akan mundur.

Ia akan mundur dari kursi CFO, kursi yang ia bangun selama tiga belas tahun, dari staf junior yang mencocokkan faktur sampai jam tiga pagi, sampai VP di umur dua puluh delapan, sampai CFO. Kursi yang ia pertahankan tiga tahun di depan Pak Gunawan, di bawah lukisan kakek Pak Hendra. Ia akan meninggalkannya. Untukku. Supaya aku, staf AP dengan gaji yang tidak sampai sepersepuluh gajinya, tetap bisa bekerja.

Dan ia tidak akan memberitahuku. Ia hanya akan bilang aku yang urus.

Aku menatap dinding kos yang catnya mengelupas.

Aku tahu, dengan kepastian yang sama seperti aku tahu saldo akhir di kolom terakhir, bahwa kalau aku bertanya lagi, ia akan menjawab dengan kalimat yang sama. Percaya padaku. Jangan lakukan apa pun. Dan kalau aku tidak melakukan apa pun, hari Jumat ia akan menandatangani surat pengunduran diri di lantai dua puluh, dan Pak Gunawan akan tersenyum, dan semua yang ia bangun akan hilang.

Kecuali aku pergi lebih dulu.

Kalau Mas yang mengundurkan diri lebih dulu, masalah Pasal Tujuh selesai dengan sendirinya.

Aku tahu Riko sengaja mengatakannya. Aku tahu itu jebakan, atau sesuatu yang mirip jebakan. Aku tahu Pak Gunawan ingin aku pergi, karena aku yang menemukan angka-angka itu, dan kalau aku pergi, angka-angka itu akan kehilangan saksinya.

Tapi aku juga tahu bahwa kalau aku tidak pergi, Renata yang akan pergi.

Dan antara aku kehilangan pekerjaan di Wiraguna dan Renata kehilangan segalanya, angkanya tidak perlu dihitung tiga kali.

Aku menatap pesan terakhirnya. Jangan lakukan apa pun.

Aku bertanya. Aku sudah bertanya. Aku melakukan apa yang ia minta di sofa ruang tengahnya, dengan kepala di bahuku dan selimut di pangkuannya. Aku bertanya sebelum memutuskan.

Ia tidak menjawab.

Aku mengetik balasan: Baik.

Aku mengirimnya.

Lalu aku duduk di lantai kos sampai pukul tiga pagi, dan pada pukul tiga pagi, di bawah kipas angin yang mengeluh, aku memutuskan.

Sendirian.

Lagi.

Telingaku merah sepanjang malam. Tidak ada yang melihatnya.