← Masih di Folder Draf

Chapter One

Terkirim ke Semua

POV: Bima

Pukul 09.14 hari Senin, aku sedang mencocokkan faktur nomor 0447 dengan bukti transfer nomor 0447 ketika laptopku berbunyi pelan.

Bunyinya bukan bunyi email masuk. Aku hafal bunyi email masuk. Ini bunyi yang lain, bunyi yang jarang sekali kudengar karena aku jarang sekali mengirim email yang tidak berisi lampiran Excel.

Di pojok kanan bawah layar muncul kotak kecil abu-abu.

Pesan Anda telah terkirim.

Aku menatapnya. Aku tidak mengirim apa-apa. Tanganku sedang memegang stabilo kuning, dan stabilo kuning tidak bisa mengirim email.

Lalu, satu detik kemudian, seluruh lantai tujuh berbunyi.

Bukan satu laptop. Semua laptop. Bunyi notifikasi itu datang dari meja Dodi di sebelahku, dari meja Mbak Wina di depan, dari meja tim Treasury di seberang sekat, dari ruang kaca Pak Darto di ujung, dari ponsel-ponsel yang tergeletak di samping cangkir kopi. Bunyinya bersahut-sahutan seperti kentongan ronda di kampungku, hanya saja ini lebih rapi dan lebih mahal.

“Siapa yang kirim ke all-staff Senin pagi begini,” gerutu Dodi sambil membuka laptopnya. “Kalau ini undangan senam lagi, gue resign.”

Aku ikut membuka kotak masuk. Tanganku masih memegang stabilo.

Email teratas di kotak masukku berasal dari aku sendiri.

Dari: Bima Wicaksono
Kepada: renata.halim@wiraguna.co.id; all-staff@wiraguna.co.id
Subjek: Untuk Bu Renata (jangan dikirim)
Tanggal draf: Kamis, 13 Oktober 2022, 23.48

Stabilo kuning itu jatuh ke lantai.

Aku tidak memungutnya. Aku tidak bisa. Seluruh tubuhku sedang sibuk mengirim darah ke telinga.

“Lho,” kata Dodi.

Aku menoleh pelan-pelan ke arahnya, seperti orang yang menoleh ke arah suara harimau.

“Lho, lho, lho.” Dodi mencondongkan badan ke layarnya. Wajahnya berubah dari bosan menjadi bahagia dengan kecepatan yang belum pernah kulihat pada manusia. “Bim. Bima. Mas Bima Wicaksono. Ini lo?”

“Bukan,” kataku.

Itu bohong, dan aku tidak pandai berbohong. Telingaku langsung terasa panas, seperti ada yang menempelkan setrika ke dua sisinya.

“Telinga lo merah,” kata Dodi.

“Bukan aku, Dod. Aku nggak ngirim apa-apa. Aku lagi pegang stabilo.”

“Stabilonya di lantai.”

“Tadi aku pegang.”

Dodi tidak mendengarkan lagi. Ia sudah naik ke kursinya. Kursi Dodi adalah kursi beroda yang sudah lama rusak pegasnya, jadi ia berdiri di atasnya sambil oleng ke kiri dan ke kanan seperti penumpang angkot jurusan Kampung Melayu.

“Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,” serunya ke seluruh lantai tujuh. “Divisi Accounts Payable dengan bangga mempersembahkan—”

“Dodi, jangan.”

“—surat cinta pertama dalam sejarah Wiraguna Group yang dikirim ke dua ribu orang sekaligus!”

Lantai tujuh, yang biasanya hanya ramai saat tutup buku dan saat ada yang membawa gorengan, mendadak berdiri semua. Mbak Wina menutup mulutnya dengan dua tangan. Tim Treasury mengintip dari atas sekat seperti barisan meerkat. Seseorang di pojok berteriak, “Bacain! Bacain!”

Aku menekan tombol yang pernah kubaca di artikel bantuan Outlook: Tarik kembali pesan ini.

Sebuah kotak dialog muncul.

Penarikan kembali gagal untuk 1.987 penerima.

Aku menekannya lagi.

Penarikan kembali gagal untuk 1.987 penerima.

Aku menekannya sekali lagi, karena aku orang yang teliti dan orang yang teliti selalu memeriksa tiga kali.

Penarikan kembali gagal untuk 1.987 penerima. Penarikan kembali berhasil untuk 1 penerima.

Satu penerima itu adalah aku sendiri.

Di atas kursinya, Dodi berdeham. Ia membaca dengan suara penyiar radio malam, suara yang ia pakai setiap kali membacakan pengumuman kenaikan harga parkir.

“Bu Renata yang terhormat,” bacanya.

Lantai tujuh menjerit.

“Dod… aku mohon.”

“Saya tidak tahu apakah surat ini boleh ditulis. Saya juga tidak tahu apakah Ibu akan membacanya, karena saya belum memutuskan untuk mengirimnya. Mungkin tidak akan pernah.”

“Tapi kekirim!” teriak seseorang dari Treasury. Lantai tujuh tertawa.

Aku menunduk dan menatap stabilo kuning di lantai. Aku mendengarkan kalimat-kalimatku sendiri dibacakan dengan suara Dodi, dan rasanya seperti mendengar rekaman suaraku sendiri dari tape recorder, hanya seribu kali lebih buruk.

“Saya mahasiswa yang duduk di bangku paling depan. Yang selalu bertanya satu pertanyaan setiap pertemuan. Ibu mungkin tidak ingat. Itu tidak apa-apa.”

Kuingat malam itu. Kamis, tiga belas Oktober, hampir tengah malam, di kamar kos ukuran tiga kali tiga dengan kipas angin yang bunyinya seperti orang mengeluh. Aku menulis surat ini selama dua jam dan menghapusnya enam kali. Aku menulis subjeknya dengan sangat sadar: jangan dikirim. Supaya aku tidak lupa. Supaya kalau suatu hari aku jadi berani, tanganku ingat untuk berhenti.

“Selama empat minggu Ibu mengajar, saya mencatat semua yang Ibu katakan. Saya juga mencatat hal-hal yang tidak Ibu katakan. Misalnya, Ibu selalu menyelipkan rambut ke belakang telinga kiri sebelum menjelaskan angka yang penting. Ibu tidak pernah memakai pulpen hitam, hanya merah. Ibu tertawa paling keras waktu ada mahasiswa yang salah menghitung depresiasi, tapi Ibu tidak pernah menertawakan orangnya.”

Lantai tujuh tidak lagi berteriak. Lantai tujuh mulai mendengarkan, dan entah kenapa itu lebih buruk.

“Saya mengagumi Ibu. Saya tahu ini tidak sopan, karena Ibu dosen tamu dan saya hanya mahasiswa yang skripsinya belum selesai. Tapi kalau saya tidak menulisnya, saya takut tidak akan ada yang pernah mengatakannya kepada Ibu.”

Mbak Wina mengeluarkan bunyi seperti balon yang dikempiskan pelan-pelan.

“Satu hal lagi, Bu. Di pertemuan terakhir, Ibu kelihatan capek. Ibu tersenyum sepanjang kelas, tapi Ibu kelihatan capek. Saya tidak tahu apa sebabnya. Saya hanya berharap ada orang yang menanyakan itu kepada Ibu.”

Dodi berhenti. Ia menatap layar, lalu menatapku dari atas kursinya yang oleng. Untuk pertama kalinya pagi itu, wajahnya tidak sedang bahagia.

“Udah,” katanya pelan. “Udah segitu doang. Ditutup pake ‘Hormat saya, Bima Wicaksono, NIM sekian-sekian’.”

“Ada NIM-nya?” tanya Mbak Wina.

“Ada NIM-nya.”

“Ya Allah, Bim,” kata Mbak Wina. “Lu nulis surat cinta pake NIM.”

“Bukan surat cinta, Mbak. Itu surat kekaguman.”

“Bedanya apa?”

Aku membuka mulut untuk menjelaskan, lalu menutupnya lagi. Aku sudah empat tahun memikirkan pertanyaan itu dan belum menemukan jawabannya.


Pukul 09.19, pintu ruang kaca di ujung lantai terbuka dengan keras.

Pak Darto keluar. Pak Darto adalah Head of Accounts Payable, atasan langsungku, laki-laki lima puluh tahun dengan rambut yang disisir ke samping untuk menutupi bagian yang sudah tidak ada rambutnya. Beliau orang baik. Beliau juga orang paling mudah panik yang pernah kukenal, termasuk ibuku saat mendengar harga cabai naik.

“Siapa,” kata Pak Darto dengan suara bergetar, “yang kirim email ke Bu Renata?”

Seluruh lantai tujuh menoleh ke arahku dengan kekompakan tim paduan suara.

“Saya, Pak,” kataku. “Tapi saya nggak ngirim, Pak.”

“Bagaimana bisa kamu kirim tapi tidak kirim?”

“Itu draf, Pak. Dari akun pribadi saya. Empat tahun lalu.”

Pak Darto memegangi dadanya. “Empat tahun lalu kamu belum kerja di sini.”

“Betul, Pak.”

“Terus kenapa bisa ke all-staff?”

“Saya nggak tahu, Pak.”

“Kamu tahu siapa Bu Renata?”

Pertanyaan itu sangat bodoh, dan Pak Darto sepertinya menyadarinya begitu kata-kata itu keluar. Semua orang di gedung ini tahu siapa Bu Renata. Semua orang di gedung ini tahu cara berjalan Bu Renata, bunyi heels-nya di lantai marmer lobi, dan bagaimana ruangan rapat tiba-tiba menjadi lebih sunyi saat beliau masuk.

Renata Halim. CFO Wiraguna Group. Tiga puluh dua tahun. Perempuan paling cantik yang pernah kulihat secara langsung, dan aku sudah memeriksanya dengan teliti selama empat tahun, jadi itu bukan pendapat.

Tingginya seratus tujuh puluh dua sentimeter, dan dengan heels ia lebih tinggi dari separuh direksi. Rambutnya hitam sebahu, bergelombang besar, dan bergerak sedikit terlambat dari kepalanya setiap kali ia menoleh. Ia punya tahi lalat kecil di bawah mata kiri, yang hanya kelihatan kalau kamu cukup dekat, dan aku hanya pernah cukup dekat satu kali: di kelas hari Kamis, saat ia membungkuk memeriksa catatanku. Bibirnya selalu berwarna merah bata. Bukan merah cabai, bukan merah jambu. Merah bata, seperti dinding rumah lama yang hangat kena matahari sore.

Di kantor ini, orang menyebutnya dengan banyak nama. Bu CFO. Bu Bos. Ratu Lantai Delapan Belas. Dan, kalau mereka pikir tidak ada yang mendengar, janda paling cantik se-Sudirman.

Aku tidak pernah memanggilnya dengan nama-nama itu. Di kepalaku, dia selalu Bu Renata. Dosen tamu yang kelihatan capek.

“Saya tahu, Pak,” jawabku.

Pak Darto mengangguk-angguk dengan cepat, seperti mainan anjing di dasbor mobil. “Oke. Oke. Tidak apa-apa. Kita tenang. Kita—” Ia berhenti. “AP mau dibubarkan.”

“Nggak, Pak.”

“Kita semua dipecat.”

“Belum tentu, Pak.”

“Saya punya cicilan rumah di Cibubur, Bima.”

“Saya tahu, Pak. Bapak sering cerita.”


Pukul 09.23, email kedua masuk ke seluruh perusahaan.

Dari: IT Infrastructure
Subjek: MOHON ABAIKAN email yang terkirim otomatis pagi ini

Yth. seluruh karyawan, pagi ini terjadi kendala teknis pada migrasi sistem email. Beberapa draf dari akun yang tersinkronisasi terkirim tanpa disengaja. Mohon untuk TIDAK membuka, membaca, atau meneruskan email berjudul “Untuk Bu Renata (jangan dikirim)”. Terima kasih atas pengertiannya. — Jordi, IT Infra

“Nah,” kata Dodi, yang sudah turun dari kursi dan sekarang duduk menyamping dengan kaki di atas meja. “Sekarang yang tadinya belum baca jadi baca semua.”

Ia benar. Dari balik sekat, aku mendengar bunyi klik serempak dari tim Treasury. Dari lantai bawah, sayup-sayup terdengar seseorang menjerit, “YANG MANA? YANG MANA EMAILNYA?”

Ponselku bergetar di meja.

Satu kali. Dua kali. Dua belas kali.

Aku membalikkannya. Notifikasi menumpuk dari satu grup WhatsApp yang biasanya hanya berisi ucapan selamat pagi bergambar bunga, foto kambing kurban, dan pertanyaan Pakde Narto apakah ada yang punya nomor tukang servis kulkas.

TRAH WICAKSONO (47 anggota)

Mas Yanto: [Meneruskan email]
Mas Yanto: iki bener Bima ponakane Bulik Sumi to??

(Artinya: “Ini beneran Bima keponakannya Bulik Sumi, kan??”)

Mas Yanto: aku satpam lobi kantore lho, emaile nyampe ke HP dinas 😂😂😂

(Artinya: “Aku satpam lobi kantornya lho, email-nya nyampe ke HP dinas”)

Pakde Narto: Masya Allah
Bulik Har: Sapa Renata?

(Artinya: “Siapa Renata?”)

Ayu: MAS BIMAAAAAAA
Ayu: AKU MALU TAPI BANGGA
Bulik Har: Renata iku sapa??

(Artinya: “Renata itu siapa??”)

Mas Yanto: Bos e kantor, Bulik. CFO.

(Artinya: “Bosnya kantor, Bulik.”)

Bulik Har: CFO iku opo

(Artinya: “CFO itu apa”)

Pakde Narto: Sing ngurus duit

(Artinya: “Yang ngurus duit”)

Bulik Har: Wah apik, Bima pinter milih

(Artinya: “Wah bagus, Bima pintar milih”)

Lalu, di paling bawah, satu pesan suara berdurasi tiga menit dua belas detik dari Ibu.

Aku tidak berani membukanya. Aku hafal suara ibuku saat senang, saat marah, dan saat ingin tahu sesuatu. Pesan suara tiga menit biasanya kombinasi ketiganya.

Aku membalik ponsel lagi.

“Bim,” kata Dodi.

“Hm.”

“Lo beneran suka sama Bu Renata?”

Aku tidak menjawab. Aku memungut stabilo kuning dari lantai, membuka tutupnya, dan kembali ke faktur nomor 0447. Aku mencocokkan nominalnya: delapan puluh empat juta tiga ratus ribu rupiah. Cocok. Aku menandainya dengan kuning.

“Bim.”

“Itu empat tahun lalu, Dod.”

“Itu bukan jawaban.”

Aku tahu itu bukan jawaban. Aku tahu, karena jawabannya ada di laci mejaku, terselip di bawah buku catatan bersampul cokelat. Jawabannya adalah alasan kenapa dua tahun lalu, dari sekian banyak lowongan di Jakarta, aku melamar ke perusahaan ini. Alasan kenapa setiap pagi aku datang dua puluh menit lebih awal, supaya bisa melihat mobil putih masuk ke basement sebelum aku naik lift. Alasan kenapa aku tidak pernah sekalipun naik ke lantai delapan belas, padahal ada tiga dokumen per minggu yang seharusnya kuantar sendiri dan selalu kutitipkan ke kurir internal.

Aku hanya ingin tahu dia baik-baik saja. Dari jauh. Dari lantai tujuh.

Itu saja.

“Itu bukan jawaban,” ulang Dodi, lebih pelan.

“Aku tahu,” kataku.


Pukul 09.31, laptopku berbunyi lagi.

Bunyi email masuk. Bunyi yang biasa.

Tapi entah kenapa, seluruh lantai tujuh mendadak hening, seolah-olah dua ribu laptop di gedung ini berbunyi bersamaan dan semua orang tahu email ini berbeda. Mungkin memang begitu. Mungkin di lantai bawah dan lantai atas, semua orang juga sedang menahan napas dan menatap layar yang sama.

Aku menatap kotak masukku.

Dari: Renata Halim
Kepada: Bima Wicaksono
Cc: all-staff@wiraguna.co.id
Subjek: RE: Untuk Bu Renata (jangan dikirim)

Dia membalas semua.

Tentu saja dia membalas semua. Renata Halim tidak pernah melakukan apa pun setengah-setengah.

Isi emailnya hanya satu baris.

Ke ruangan saya. Sekarang.

Tidak ada salam. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada titik dua atau emoji. Hanya empat kata yang dibaca oleh dua ribu orang dalam waktu yang sama, dan setiap kata terasa seperti ketukan heels di lantai marmer.

Di sebelahku, Dodi menghembuskan napas panjang.

“Innalillahi,” katanya.

“Dia belum mati, Dod.”

“Gue bukan ngomongin dia.”

Pak Darto muncul lagi di pintu ruang kacanya. Wajahnya putih. Tangannya memegang kusen pintu. “Bima,” katanya, suaranya nyaris berbisik. “Lantai delapan belas.”

“Iya, Pak.”

“Kamu tahu jalannya?”

“Lift, Pak. Tekan angka delapan belas.”

“Kamu belum pernah ke sana.”

“Belum, Pak.”

Pak Darto menatapku dengan iba, seperti menatap kambing yang sedang dituntun ke lapangan masjid seminggu sebelum Iduladha. “Rapikan kemejamu,” katanya. “Dan kalau dia tanya soal AP, bilang kami semua bekerja keras. Terutama saya.”

Aku berdiri. Aku merapikan kemejaku, yang sebenarnya sudah rapi karena aku menyetrikanya tadi pagi selama sebelas menit. Aku membetulkan letak kacamataku. Aku mengambil buku catatan cokelat dari laci, lalu meletakkannya kembali, lalu mengambilnya lagi. Orang yang dipanggil ke ruangan atasan harus membawa buku catatan. Itu prosedur.

Saat aku mengambil buku itu, ujung jariku menyentuh selembar kertas lama yang terselip di bawahnya. Kertas yang sudah kekuningan di bagian tepinya. Kertas yang tidak pernah kubuang.

Aku tidak menyentuhnya lagi. Aku menutup laci.

Saat aku berjalan menuju lift, seluruh lantai tujuh menatapku. Tidak ada yang bersorak lagi. Mbak Wina mengacungkan dua jempol dengan wajah prihatin. Tim Treasury berdiri dari balik sekat seperti barisan kehormatan di pemakaman. Seseorang memutar lagu Gugur Bunga dari ponselnya, lalu dimatikan buru-buru oleh orang di sebelahnya.

Dodi menyusulku sampai depan lift. Ia menepuk bahuku dua kali, keras, seperti menepuk ban mobil sebelum perjalanan jauh.

“Bim.”

“Hm.”

“Kalau lo dipecat, gue yang bawain kardus lo.”

“Makasih, Dod.”

“Tapi kalau lo jadian, lo traktir satu divisi.”

“Aku nggak bakal jadian, Dod.”

“Lo nggak tahu itu.”

Pintu lift terbuka. Aku masuk. Aku menekan angka delapan belas. Tombolnya menyala oranye, dan aku menatapnya seperti menatap sesuatu yang selama dua tahun hanya kulihat dari luar etalase.

Pintu lift mulai menutup. Di celahnya yang makin sempit, aku melihat Dodi mengangkat ponselnya dan memotretku.

“Buat dokumentasi,” katanya. “Buat sejarah.”

Lalu pintunya tertutup, dan aku sendirian dengan bayanganku di dinding lift yang mengilap: laki-laki dua puluh delapan tahun dengan kemeja biru muda, kacamata bingkai tipis, buku catatan cokelat di tangan kiri, dan dua telinga yang merahnya seperti lampu rem.

Lift mulai naik.

Lantai delapan. Sembilan. Sepuluh.

Aku memikirkan semua hal yang mungkin dia katakan. Kamu dipecat. Kamu tidak sopan. Kamu mempermalukan saya di depan dua ribu orang. Siapa kamu sebenarnya.

Lantai empat belas. Lima belas.

Aku memikirkan semua hal yang ingin kukatakan. Maaf. Itu kecelakaan. Saya tidak bermaksud. Saya tidak akan mengganggu Ibu lagi.

Lantai tujuh belas.

Lalu aku memikirkan satu hal yang tidak ingin kukatakan, karena itu benar dan karena aku tidak bisa berbohong: bahwa setiap kata di surat itu masih benar sampai hari ini. Bahkan kalimat terakhirnya. Terutama kalimat terakhirnya.

Lantai delapan belas.

Bunyi denting halus. Pintu lift terbuka ke koridor berlantai kayu dengan karpet abu-abu dan lampu-lampu kuning yang hangat. Di ujung koridor ada meja resepsionis, dan di belakangnya ada dinding kaca buram bertuliskan Office of the Chief Financial Officer.

Udaranya wangi. Wangi melati, dan sesuatu yang lebih hangat di bawahnya, seperti kayu manis.

Aku mengenali wangi itu. Aku pernah menciumnya sekali, empat tahun lalu, saat seseorang membungkuk di atas mejaku dan menulis sesuatu dengan pulpen merah di pojok lembar tugasku.

Aku melangkah keluar dari lift.