Chapter Seventeen
Jangan Lari
POV: Bima
Senin pagi aku bangun pukul empat, padahal alarmku disetel pukul lima.
Aku tidak bisa tidur lagi. Aku berbaring di kasur dan mendengarkan kipas angin mengeluh, lalu adzan subuh dari masjid di ujung gang, lalu suara ibu kos menyapu halaman. Pukul setengah lima aku salat. Pukul lima aku menyetrika.
Aku menyetrika empat kemeja. Biru muda, putih, biru tua, abu-abu. Aku menggantungnya berjajar di gantungan di balik pintu dan menatapnya selama sepuluh menit, tidak bisa memutuskan. Biru muda adalah kemeja yang kupakai di hari email itu terkirim. Putih adalah kemeja yang kupakai saat kabur di tangga darurat. Biru tua adalah warna yang tenang. Abu-abu adalah warna yang tidak berarti apa-apa.
Pukul lima lewat dua puluh, aku menelepon Ayu.
“Mas?” Suaranya serak dan setengah tidur. “Mas, ini jam lima pagi. Aku kuliah jam sembilan.”
“Yu, Mas mau tanya.”
“Mas Bima kenapa? Mas sakit?”
“Kemeja yang bagus buat... buat ketemu orang. Pagi-pagi. Biru muda, putih, biru tua, apa abu-abu?”
Hening di seberang. Lalu suara selimut yang disingkap dengan kasar.
“MAS. INI BU RENATA?”
“Yu, pelan, lah. Ibu masih turu.”
(Artinya: “Ibu masih tidur.”)
“IBU UDAH BANGUN DARI JAM EMPAT, MAS. IBU LAGI NGGORENG.” Lalu, menjauh dari telepon: “BUUU! MAS BIMA MAU KETEMU BU RENATA PAGI-PAGI! TANYA KEMEJA!”
Dari jauh, sangat jelas, terdengar suara Ibu: “SING PUTIH! SING PUTIH, BIM! KOYO MANTEN!”
(Artinya: “YANG PUTIH! YANG PUTIH, BIM! KAYAK PENGANTIN!”)
“Bu, ini bukan nikahan—”
“PUTIH, BIM!”
Aku memakai yang biru tua.
Pukul enam lewat empat puluh, Mas Yanto sudah berdiri di pos jaga lobi saat aku masuk melalui pintu putar.
“Lho, Bim. Pagi banget. Belum ada orang.” Ia menatapku dari ujung kepala sampai ujung sepatu. “Kemejamu baru disetrika. Rambutmu disisir. Kowe ngapain?”
(Artinya: “Kamu ngapain?”)
“Kerja, Mas.”
“Jam setengah tujuh?”
“Ada kerjaan yang mesti beres, Mas.”
Mas Yanto menyipitkan mata. Lalu ia menatap lift eksekutif di ujung lobi. Lalu menatapku lagi.
“Bu Renata wis teko,” katanya pelan. “Jam enam lewat seperempat. Biasanya jam setengah delapan. Nggak pakai mobil di basement. Turun di lobi. Jalan ke lift sendirian. Nggak pakai kalung.”
(Artinya: “Bu Renata sudah datang,”)
Aku berhenti.
“Nggak pakai kalung?”
“Ndak, Bim. Aku nggatekke. Biasane ono rante cilik, emas. Ning gulune. Saiki ora ono.” Mas Yanto menatapku dengan wajah yang tiba-tiba sangat serius, wajah yang sama seperti waktu aku SD dan ia mengajariku cara memanjat pohon jambu di belakang rumah Pakde. “Bim. Kowe ngerti artine?”
(Artinya: “Nggak, Bim. Aku perhatikan. Biasanya ada rantai kecil, emas. Di lehernya. Sekarang nggak ada.” … “Bim. Kamu ngerti artinya?”)
Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke lift.
Aku tidak naik tangga darurat. Hari ini aku naik lift. Lantai delapan belas. Tombolnya menyala oranye.
Lantai delapan belas pada pukul enam lewat empat puluh lima masih gelap. Lampu-lampu koridor belum dinyalakan. Meja resepsionis kosong. Meja Mbak Sarah kosong, dengan catatan JANGAN SENTUH yang masih menempel di monitornya.
Hanya satu cahaya di ujung koridor. Dari pintu kaca buram yang bertuliskan Office of the Chief Financial Officer.
Pintu itu terbuka sedikit. Hanya sedikit, cukup lebar untuk satu orang.
Aku berjalan menyusuri koridor. Langkahku di karpet abu-abu tidak berbunyi. Jantungku berbunyi. Aku bisa mendengarnya di telinga, keras dan cepat, seperti mesin hitung yang dipakai untuk menghitung angka yang terlalu besar.
Aku mengetuk pintu yang sudah terbuka itu.
“Masuk, Bima.”
Ruangannya tidak terang. Lampu langit-langit mati. Hanya lampu meja yang menyala, dan cahaya fajar yang masuk dari jendela besar di belakang meja, abu-abu kebiruan, perlahan berubah menjadi jingga di ujung langit di atas gedung-gedung Sudirman.
Bu Renata tidak duduk di balik mejanya. Ia duduk di sofa di sudut ruangan, sofa kulit berwarna krem yang biasanya hanya dipakai untuk tamu. Ia duduk dengan kaki terlipat ke satu sisi dan tangan di pangkuan, seperti orang yang sudah menunggu lama.
Ia memakai kemeja sutra putih dengan kerah terbuka dan celana panjang hitam. Rambutnya digerai, belum ditata, jatuh dalam gelombang alami yang sedikit berantakan di satu sisi. Riasannya tipis. Sangat tipis. Bibirnya merah bata, tapi lebih pudar dari biasanya, seperti warna yang dipoles terburu-buru tanpa cermin.
Dan lehernya kosong.
Aku melihatnya dari ambang pintu. Tulang selangkanya yang terlihat di balik kerah kemeja terbuka. Kulit kuning langsat yang bersih, tanpa rantai emas tipis, tanpa cincin kecil yang biasa menggantung di sana. Hanya leher, dan tulang selangka, dan cahaya fajar yang jatuh di atasnya.
Aku tidak bisa berhenti menatapnya.
“Tutup pintunya,” katanya.
Aku menutup pintu. Aku berdiri di sana, satu langkah di dalam ruangan, dengan tangan kosong. Aku tidak membawa buku catatan cokelat. Untuk pertama kalinya, aku tidak membawanya. Aku tidak tahu apa yang akan kucatat.
“Duduk,” katanya. Ia menepuk bantal sofa di sebelahnya.
Aku menatap bantal itu. Lalu aku menatap kursi di depan mejanya, kursi yang biasa kududuki. Lalu aku menatap bantal sofa lagi.
“Bima,” katanya pelan. “Duduk di sini.”
Aku duduk di ujung sofa. Ujung yang paling jauh. Ada jarak satu bantal di antara kami. Satu bantal krem dengan jahitan cokelat di tepinya.
Bu Renata menatap jarak itu. Lalu ia menatapku. Sudut bibirnya bergerak sedikit, tapi ia tidak menyindirnya.
“Sabtu malam saya ke Lumière,” katanya.
“Iya, Bu.”
“Kamu tahu.”
“Saya nebak aja, Bu. Dari ‘dua makanan penutup’.”
“Pak Yusuf cerita soal telepon hari Selasa.” Ia menatapku. “Kamu tanya soal makanan penutupnya.”
Telingaku mulai memanas. “Saya cuma mau memastikan, Bu.”
“Saya tahu.” Ia menatap jendela, ke arah langit yang makin jingga. “Hendra ninggalin catatan di reservasinya. Tiga hal. Satu, siapkan dua makanan penutup, karena saya bakal bilang kenyang padahal bohong. Dua, jangan putar lagu sedih. Tiga, kalau dia telat, bilang dia lagi cari parkir.”
Aku tidak bicara.
“Saya makan dua-duanya,” katanya. “Crème brûlée sama tart lemon. Terus saya ngobrol sama dia. Lama. Di dalam kepala saya. Saya ceritain semuanya.” Ia diam sebentar. “Saya cerita soal kamu.”
Aku berhenti bernapas.
“Terus saya lepas cincinnya.”
Tangannya bergerak ke lehernya. Ke tempat kosong di antara tulang selangkanya. Ia menyentuhnya dengan ujung jari, perlahan, seperti menyentuh bekas luka yang sudah sembuh.
“Cincinnya mau saya kasih ke Mama Lies. Itu cincin anaknya. Mama yang lebih berhak nyimpen, bukan saya.” Ia menurunkan tangannya. “Saya udah selesai, Bima. Sama Hendra. Bukan selesai mencintai dia. Saya bakal selalu sayang sama dia. Tapi selesai menunggu sesuatu yang enggak akan datang. Selesai merasa bersalah karena saya masih di sini dan dia enggak.”
Ia menoleh ke arahku.
“Saya udah selesai,” ulangnya. “Dan sekarang saya mau mulai sesuatu.”
Cahaya fajar sudah sampai ke sofa. Jatuh di separuh wajahnya, di pipi kiri, di tahi lalat kecil di bawah mata kiri, di helai-helai rambut yang lepas di dekat telinga. Matanya, dalam cahaya itu, berwarna cokelat terang seperti teh yang baru diseduh.
Lalu ia mengulurkan tangannya.
Melewati jarak satu bantal krem dengan jahitan cokelat di tepinya. Tangannya mendarat di atas tanganku, yang terletak di atas lutut kiriku, dan jari-jarinya, yang panjang dan dingin karena AC, perlahan menyusup di antara jari-jariku sampai tangan kami saling menggenggam.
Aku menatap tangan kami.
Aku belum pernah menggenggam tangan perempuan. Selain Ibu, waktu menyeberang jalan di Pasar Wage. Selain Ayu, waktu ia masih kecil dan takut petir. Aku tidak tahu bahwa tangan bisa terasa seperti ini: dingin di ujung jari, hangat di telapak, dan sangat, sangat pas, seperti dua lembar kertas yang dilipat bersama dan ternyata ujung-ujungnya bertemu dengan sempurna.
“Bima,” katanya.
Aku mengangkat wajah. Ia menatapku dengan senyum kecil. Bukan senyum yang dilatih. Bukan senyum yang membuat orang di lobi hotel lupa nama istri mereka. Senyum yang sedikit miring, sedikit ragu, seperti senyum seseorang yang sudah lama tidak memakainya dan lupa bagaimana caranya.
“Empat tahun lalu, saya yang nulis nomornya,” katanya pelan. “Tiga minggu lalu, saya yang balas emailnya. Dua minggu lalu, saya yang ngejar kamu ke tangga darurat. Jumat kemarin, saya yang kasih tahu kamu soal kelas hari Kamis.”
Ia mengeratkan genggamannya sedikit.
“Kirim, Bim,” bisiknya. “Kali ini kamu yang bilang.”
Aku tidak tahu berapa lama aku diam. Mungkin sepuluh detik. Mungkin satu menit. Aku hanya tahu bahwa matahari sudah naik sedikit lebih tinggi di belakang gedung-gedung Sudirman saat aku akhirnya membuka mulut.
“Bu,” kataku. “Boleh saya... eh, saya biasanya pakai poin-poin, Bu.”
Ia menatapku. Alisnya naik sedikit. “Poin-poin?”
“Kayak laporan, Bu. Biar nggak ada yang kelewat.”
Ia menatapku selama tiga detik. Lalu bahunya bergetar, sangat sedikit, seperti orang yang menahan tawa dengan sekuat tenaga. Ia menggigit bibir bawahnya. Lalu ia mengangguk.
“Silakan,” katanya. “Laporkan.”
Aku menarik napas.
“Poin satu,” kataku. “Saya suka sama Ibu sejak hari Kamis, dua puluh dua September dua ribu dua puluh dua, jam tiga lewat dua puluh sore. Waktu Ibu salah hitung overhead di slide sembilan, terus Ibu malah ketawa waktu saya tunjukkan, bukan marah. Saya belum pernah lihat dosen yang ketawa waktu dikoreksi mahasiswa.”
Bahunya bergetar lebih keras.
“Poin dua. Perasaan saya nggak berkurang selama empat tahun, dua bulan, dan satu hari. Udah saya cek berkali-kali. Nggak ada penurunan. Kadang malah naik. Apalagi minggu-minggu ini.”
“Bima—”
“Belum selesai, Bu.” Aku menatap tangan kami yang saling menggenggam, karena lebih mudah menatap itu daripada menatap wajahnya. “Poin tiga. Saya nggak punya mobil. Saya ngekos tiga kali empat di Bendungan Hilir, kipas anginnya rusak. Gaji saya nggak sampai sepersepuluh gaji Ibu. Tiap bulan separuh gaji saya kirim ke Purwokerto buat kuliah Ayu. Saya nggak bisa ajak Ibu makan di lantai lima puluh enam. Saya nggak tahu cara pesan anggur.”
Ia berhenti tertawa.
“Poin empat. Saya nggak punya pengalaman. Sama sekali. Belum pernah pacaran, belum pernah kencan, belum pernah kirim bunga, belum pernah pegang tangan perempuan selain ibu sama adik saya, sampai empat menit yang lalu. Saya nggak tahu langkah-langkahnya. Saya bakal banyak salah. Mungkin saya bakal bikin Ibu malu di depan orang.”
Aku diam sebentar. Telingaku sudah sangat panas, seperti dua bara di sisi kepalaku.
“Poin lima,” kataku, lebih pelan. “Tapi saya bisa memperhatikan. Saya ingat takaran madu di teh Ibu. Saya tahu kapan Ibu capek. Saya bisa benerin sepatu, nyetrika blazer, nyelamatin rendang. Saya bisa duduk diam di sebelah Ibu selama yang Ibu perlu, dan nggak pergi.” Aku menelan ludah. “Saya nggak bisa kasih Ibu apa yang bisa dikasih orang lain. Tapi saya bisa kasih semua yang saya punya. Itu nggak banyak. Tapi itu semuanya.”
Ruangan itu sangat sunyi.
“Poin enam,” kataku akhirnya. “Penutup.”
Aku mengangkat wajah dan menatapnya.
“Saya mencintai Ibu, Bu Renata,” kataku. “Sejak empat tahun lalu. Udah saya periksa tiga kali. Angkanya cocok.”
Bu Renata menatapku.
Tidak ada yang bergerak di wajahnya. Tidak ada senyum, tidak ada tawa, tidak ada air mata. Ia hanya menatapku dengan mata cokelat terang di bawah cahaya fajar, dengan bibir yang sedikit terbuka, seperti orang yang baru saja membaca laporan keuangan dengan angka yang terlalu bagus untuk dipercaya.
Satu detik. Dua detik. Lima detik.
Aku mulai panik. Aku mulai berpikir bahwa poin-poin itu kesalahan. Bahwa seharusnya aku bicara dengan cara biasa, seperti orang normal, seperti laki-laki di film. Bahwa angkanya cocok adalah kalimat paling tidak romantis yang pernah diucapkan siapa pun dalam sejarah manusia.
Lalu ia tertawa.
Ia tertawa dengan cara yang belum pernah kudengar. Bukan tawa tanpa suara di balik tisu seperti di kantin. Bukan tawa pelan di lantai tujuh pukul satu pagi. Tawa yang keras, lepas, dari perut, sampai ia membungkuk dan menempelkan dahinya ke bahuku dan bahunya berguncang dan tangannya yang masih menggenggam tanganku meremas sangat keras.
Dahinya di bahuku.
Aku membeku.
“Poin-poin,” katanya di bahuku, masih tertawa. “Kamu nyatain cinta pakai poin-poin. Enam poin. Ada penutupnya.”
“Maaf, Bu.”
“Jangan minta maaf.” Ia mengangkat wajahnya dari bahuku. Matanya basah, dan aku tidak tahu apakah karena tertawa atau karena yang lain. Wajahnya sangat dekat sekarang. Aku bisa melihat setiap bulu matanya. Aku bisa melihat bintik-bintik kecil berwarna emas di iris matanya yang cokelat. Aku bisa mencium melati dan kayu manis dan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih hangat, yang mungkin adalah wangi kulitnya sendiri.
“Bima,” katanya. “Saya udah nerima banyak pernyataan cinta. Di restoran mahal, di mobil mewah, di pantai Bali dengan matahari terbenam. Pakai bunga, pakai cincin, pakai puisi yang dihafal semalaman.”
“Iya, Bu.”
“Enggak ada satu pun yang pakai poin enam.”
“Maaf, Bu.”
“Dan enggak ada satu pun,” katanya, lebih pelan, dengan suara yang tiba-tiba bergetar, “yang bilang mereka bakal kasih semuanya, walaupun semuanya itu enggak banyak.”
Ia mengangkat tangan kirinya, tangan yang tidak menggenggam tanganku, dan menyentuh pipiku. Ujung jarinya dingin. Telapaknya hangat. Ibu jarinya menyapu tulang pipiku dengan sangat pelan, satu kali, dari ujung ke ujung.
“Disetujui,” katanya.
Aku menatapnya.
“Disetujui,” ulangnya. “Tanpa revisi. Enggak perlu diperiksa ulang.”
Ia tersenyum. Dan kali ini senyumnya tidak miring, tidak ragu. Senyumnya penuh, sampai ke matanya, sampai matanya menyipit di sudut-sudutnya dan tahi lalat kecil di bawah mata kirinya terangkat sedikit.
“Satu syarat,” katanya.
“Apa pun, Bu.”
Ia mendekatkan wajahnya sedikit lagi. Hanya sedikit. Cukup dekat untuk berbisik.
“Jangan lari.”
“Saya nggak akan lari, Bu.”
“Enggak ke tangga darurat.”
“Nggak, Bu.”
“Enggak ke toilet lantai tujuh.”
“...Ibu tahu soal toilet?”
“Bu Yuyun lihat kamu masuk, terus Dodi nyusul. Sarah tahu dalam lima menit.” Senyumnya melebar. “Enggak ada yang bisa kamu sembunyiin di gedung ini, Bima. Apalagi dari saya.”
“Saya nggak akan lari, Bu,” kataku. “Ke mana pun.”
“Bagus.” Ia menurunkan tangannya dari pipiku, tapi tangan yang lain tetap menggenggam tanganku. “Dan satu lagi. Kalau kita cuma berdua, berhenti panggil saya ‘Bu’.”
Aku menatapnya. Aku membuka mulut. Aku mencoba.
“Re...”
Kata itu tersangkut di tenggorokanku seperti tulang ikan. Telingaku menyala.
“Re...”
“Renata,” katanya, membantu. “Tiga suku kata. Kamu bisa.”
“Re-na-ta,” kataku. Suaraku pecah di tengah.
Ia tertawa lagi. Pelan, kali ini. Lalu ia menyandarkan kepalanya di bahuku, dengan sengaja, dan tidak mengangkatnya lagi.
“Pelan-pelan aja,” katanya di bahuku. “Kita punya waktu.”
Kami duduk di sofa krem di ruangan CFO lantai delapan belas, sementara matahari naik di atas Sudirman dan cahaya jingga berubah menjadi kuning dan menyinari seluruh ruangan. Tangannya menggenggam tanganku. Kepalanya di bahuku. Jarak satu bantal sudah tidak ada.
Aku tidak bergerak sama sekali. Aku takut kalau aku bergerak, semuanya akan hilang seperti mimpi.
Pukul tujuh lewat lima belas, aku mendengar lift berdenting di ujung koridor. Langkah kaki cepat dan efisien. Laci meja dibuka. Lalu hening.
Lalu ketukan di pintu. Dua kali, sopan.
“Bu,” kata suara Mbak Sarah dari luar. “Selamat pagi. Saya taruh teh di meja depan. Dengan madu. Dan saya bawa dua cangkir, kalau-kalau.” Jeda. “Saya tidak akan masuk sampai Ibu panggil.”
Langkahnya menjauh.
Bu Renata, di bahuku, tertawa tanpa suara sampai bahunya bergetar.
“Sarah tahu,” bisiknya.
“Mbak Sarah selalu tahu,” kataku.
Pukul delapan kurang lima, aku turun ke lantai tujuh.
Aku turun dengan lift. Lift itu berisi empat orang dari Legal dan dua orang dari Procurement, dan mereka semua menatapku dan tidak ada yang bicara sepanjang perjalanan dari lantai delapan belas ke lantai tujuh. Aku menatap pintu lift dan berusaha keras untuk tidak tersenyum. Aku gagal.
Pintu lift terbuka di lantai tujuh.
Dodi sudah berdiri di depan lift. Ia memegang mug World’s Okayest Employee dan menatapku dengan mata yang menyipit seperti detektif di film.
“Lo dari mana?”
“Lantai delapan belas.”
“Jam berapa lo naik?”
“Enam empat puluh lima.”
Dodi menatap wajahku. Lalu telingaku. Lalu tanganku, yang entah kenapa masih sedikit terangkat di sisi badan, seolah-olah masih menggenggam sesuatu.
Lalu ia menatap wajahku lagi.
“Bim,” katanya pelan. “Lo senyum.”
“Aku nggak senyum.”
“Lo senyum, Bim. Lo senyum kayak orang yang baru menang undian rumah.”
“Aku nggak boleh bilang apa-apa, Dod.”
Dodi menjatuhkan mugnya.
Mug World’s Okayest Employee jatuh ke karpet biru tua, tidak pecah, berguling dua kali, dan berhenti di dekat sepatuku dengan kopi yang tumpah membentuk noda baru di dekat noda lama di dekat dispenser.
Dodi tidak memungutnya. Ia menatapku dengan mulut terbuka lebar. Lalu ia menutup mulutnya dengan dua tangan. Lalu ia berbalik, berjalan sangat cepat ke arah pantry, berhenti di depan papan tulis putih yang miring, dan menatap baris paling bawah yang ia tulis sendiri hari Jumat lalu, sambil terlentang di lantai toilet.
Dodi — Hari ini — Rp100.000.
Hari Jumat itu ia kalah. Hari Jumat itu aku naik ke lantai delapan belas dan hanya bilang lima kata.
Dodi mengambil spidol merah. Ia mencoret tulisannya sendiri. Lalu di bawahnya, ia menulis dengan huruf yang sangat besar dan gemetar:
Dodi — SENIN — Rp200.000 — (saksi: kuping Bima)
Ia berbalik dan menatapku dari pantry dengan mata berkaca-kaca.
“Gue nggak akan cerita ke siapa-siapa,” katanya dengan suara serak. “Demi Allah. Gue nggak akan cerita.”
“Makasih, Dod.”
“Tapi gue boleh nangis, kan?”
“Boleh, Dod.”
Dodi menangis di pantry lantai tujuh, sendirian, di depan papan taruhan, sambil memegang spidol merah. Mbak Wina, yang baru datang dengan sekantong gorengan, berhenti di ambang pintu pantry dan menatapnya dengan bingung.
“Dod? Kamu kenapa?”
“Gue terharu, Mbak.”
“Terharu kenapa?”
Dodi tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arahku dengan spidol merah, dan Mbak Wina menoleh, dan menatapku, dan menatap telingaku, dan gorengan di tangannya jatuh ke lantai.
Aku duduk di mejaku. Aku membuka laptop. Aku mengambil stabilo kuning dan faktur nomor 0712.
Tanganku masih hangat.
Aku tidak mencuci tangan sampai jam makan siang.
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah
- 7 Satrio
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung
- 10 Taruhan Pantry
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu
- 14 Nomor untuk Konsultasi
- 15 Pengajian 17 November
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari reading
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf
- 30 Purwokerto
- 31 Restu
- 32 Terkirim
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong