← Masih di Folder Draf

Chapter Twenty Eight

Surat Pengunduran Diri

POV: Bima

Sebelum pergi, ada satu hal yang harus kuselesaikan.

Aku memikirkannya pukul tiga pagi, di lantai kos, setelah memutuskan. Kalau aku pergi, angka-angka itu kehilangan saksinya. Pak Gunawan tahu itu. Riko tahu itu. Itu sebabnya Riko berdiri di lift dan membacakan dua pilihan seperti laporan cuaca, lalu menambahkan itu hanya pengamatan saya, Mas, bukan saran.

Tapi angka tidak butuh saksi. Angka hanya butuh bukti.

Dan bukti yang kurang, kata Renata di lantai tujuh pukul satu pagi lima minggu lalu, adalah lembar persetujuan asli tagihan -R yang ditandatangani dari lantai dua puluh. Dokumen yang tidak pernah lewat AP. Dokumen yang hanya ada di arsip lantai dua puluh, yang hanya bisa diakses melalui sekretaris Pak Gunawan.

Pukul tiga lewat dua puluh pagi, aku menyadari bahwa itu tidak sepenuhnya benar.

Tagihan -R tidak lewat AP. Tapi pembayarannya harus lewat seseorang. Uang empat koma tujuh miliar tidak keluar dari rekening perusahaan dengan sendirinya. Seseorang harus menyusun berkas transfer bank. Seseorang harus mengunggahnya ke sistem perbankan. Dan bank, untuk setiap transfer di atas lima ratus juta rupiah, mewajibkan lampiran dokumen otorisasi yang dipindai.

Seseorang di Treasury.


Selasa pagi pukul tujuh, aku menunggu di depan meja Pak Ruslan, kepala divisi Treasury.

Pak Ruslan adalah laki-laki lima puluhan bertubuh pendek dengan kumis tebal dan perut yang membuncit di balik kemeja batik. Ia juara lomba tujuh belasan tingkat RT tiga tahun berturut-turut, dan ia memenangkan estafet karet gelang di Lembang hari Sabtu dengan teknik yang menurut Dodi tidak manusiawi. Ia juga orang yang sudah dua puluh tahun menandatangani berkas transfer bank perusahaan ini, setiap hari, tanpa pernah sekali pun terlambat.

Ia tiba pukul tujuh lewat delapan dan berhenti saat melihatku berdiri di sebelah mejanya.

“Bima.” Ia menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca. “Kamu pagi sekali.”

“Pak Ruslan. Boleh saya tanya sesuatu?”

Pak Ruslan meletakkan tas kerjanya di meja. Ia menatap sekeliling. Lantai tujuh masih kosong, kecuali Bu Yuyun yang sedang mengepel lorong di ujung.

“Tanya,” katanya.

“Pak,” kataku pelan. “Dua tahun terakhir, ada enam pembayaran ke PT Sinar Karya Mandiri yang nggak lewat AP. Nomor tagihannya pakai akhiran -R. Pembayarannya lewat batch transfer Treasury. Saya cuma mau tahu, Bapak masih simpan lampiran otorisasi yang dikirim ke bank untuk keenam transfer itu, nggak?”

Pak Ruslan tidak bergerak.

Ia menatapku untuk waktu yang lama. Kumisnya bergerak sedikit, seperti orang yang menggigit bibir bawahnya di baliknya. Lalu ia menarik kursinya dan duduk dengan sangat pelan, seperti lututnya tiba-tiba sakit.

“Kamu yang buka lemari arsip itu,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Iya, Pak.”

“Untuk Sinar Karya Mandiri.”

“Iya, Pak.”

Pak Ruslan menutup mata. Ia diam sangat lama. Lalu, tanpa membuka mata, ia berkata, “Dua tahun, Bima. Dua tahun saya tanda tangan berkas transfer itu. Enam kali. Setiap kali, lampirannya memo persetujuan dari lantai dua puluh dengan tanda tangan Pak Gunawan sendiri. Setiap kali, saya pikir, ini aneh, kenapa vendor konsultan dibayar dua kali untuk nomor tagihan yang hampir sama. Setiap kali, saya pikir, ini bukan urusan saya, saya cuma Treasury, saya cuma mentransfer apa yang sudah disetujui.”

Ia membuka mata.

“Setiap kali saya tanda tangan,” katanya, “saya pulang dan tidak bisa tidur.”

Ia menyalakan komputernya. Ia mengetik sesuatu dengan dua jari, pelan. Lalu ia membuka laci mejanya yang paling bawah, laci yang dikunci, dengan kunci kecil yang ia ambil dari dompetnya. Dari dalam laci itu, ia mengeluarkan sebuah flash disk berwarna hitam.

“Saya simpan salinannya,” katanya. “Semuanya. Berkas transfer, lampiran yang dipindai, bukti konfirmasi bank. Saya simpan sejak transfer kedua. Saya tidak tahu kenapa. Mungkin karena saya tahu suatu hari seseorang akan datang dan bertanya.”

Ia meletakkan flash disk itu di mejanya, di antara kami.

“Saya tidak berani menyerahkannya kepada siapa pun,” katanya. “Audit internal lapor ke Pak Gunawan. Compliance lapor ke Pak Gunawan. Direksi takut kepada Pak Gunawan. Saya punya dua anak kuliah, Bima.”

“Saya ngerti, Pak.”

“Kamu juga mau menyerahkannya ke Bu Renata?”

Aku menatap flash disk itu.

“Nggak, Pak,” kataku. “Ke Ibu Laksmi Dharmawangsa. Ketua Komite Audit. Bukan ke Bu Renata.”

Pak Ruslan mengerutkan dahi. “Kenapa bukan ke Bu Renata?”

“Soalnya kalau bukti ini datang dari Bu Renata, Pak Gunawan pasti bilang itu balas dendam pribadi. Gara-gara saya. Gara-gara foto-foto itu.” Aku menelan ludah. “Kalau bukti ini datang langsung ke Komite Audit dari kepala Treasury yang udah dua puluh tahun tanda tangan berkas transfer tanpa pernah terlambat, nggak ada yang bisa bilang itu balas dendam.”

Pak Ruslan menatapku lama.

“Kamu mau saya yang menyerahkannya?”

“Saya tanya dulu, Pak. Saya nggak mau maksa Bapak. Bapak punya dua anak kuliah.” Aku menatapnya. “Kalau Bapak nggak mau, saya ngerti kok. Saya cari cara lain.”

Pak Ruslan menatap flash disk hitam di mejanya. Lalu ia menatap ke luar jendela, ke arah gedung-gedung Sudirman yang mulai terang oleh matahari pagi. Lalu ia menatapku lagi.

“Kamu tahu apa yang kamu lakukan di pantry kemarin?” katanya.

Aku tidak menjawab.

“Anak Treasury cerita ke saya. Yang berdiri di dekat dispenser. Dia bilang kamu hafal halaman laporan tahunan dua ribu dua puluh dua. Dia bilang kamu tahu Procurement salah hitung PPN di baris empat belas.” Pak Ruslan menghela napas panjang. “Dia bilang dia pulang dan tidak bisa tidur.”

Ia mengambil flash disk itu dan memasukkannya ke saku kemeja batiknya.

“Saya yang serahkan,” katanya. “Hari ini. Ke Bu Laksmi. Langsung.”

“Terima kasih, Pak.”

“Jangan berterima kasih.” Pak Ruslan berdiri. “Seharusnya saya yang berterima kasih. Dua tahun saya menunggu seseorang datang dan bertanya.” Ia menatapku. “Ternyata yang datang staf AP berumur dua puluh delapan tahun yang kalah lomba balap karung.”

“Saya nggak ikut balap karung, Pak.”

“Saya tahu. Itu lelucon.”


Selasa siang, aku menyusun semuanya.

Rekonsiliasi faktur fisik empat puluh delapan lembar. Daftar enam pasang tagihan dengan nomor seri faktur pajak yang disorot kuning. Alur persetujuan. Akta perusahaan. Foto pernikahan dari majalah gaya hidup. Catatan tangan di setiap halaman. Semua yang sudah kutunjukkan kepada Renata lima minggu lalu, ditambah semua yang kutemukan setelahnya: pola tanggal transfer, kode anggaran yang dipakai, nama pejabat di lantai dua puluh yang menginput setiap tagihan -R ke sistem.

Aku memasukkan semuanya ke dalam map plastik yang baru. Di halaman pertama, aku menulis:

Untuk Ibu Laksmi Dharmawangsa, Ketua Komite Audit. Disusun oleh Bima Wicaksono, staf Accounts Payable. Bukti pendukung (berkas transfer bank dan lampiran otorisasi) diserahkan terpisah oleh Bapak Ruslan Hakim, Kepala Divisi Treasury. Ibu Renata Halim tidak terlibat dalam penyusunan dokumen ini.

Itu bohong. Satu-satunya bohong di seluruh map itu. Renata terlibat. Renata mencocokkan faktur dua puluh enam sampai empat puluh delapan di kursi rusak Dodi pukul satu pagi.

Tapi aku tidak menulis bahwa ia tidak tahu. Aku menulis bahwa ia tidak terlibat dalam penyusunan dokumen ini. Dokumen ini, map ini, aku yang menyusunnya. Sendiri. Di lantai tujuh, Selasa siang.

Telingaku memerah sedikit saat menulisnya. Aku membiarkannya.

Pukul empat sore, aku naik ke lantai delapan belas.

Aku tidak naik lift eksekutif. Aku tidak naik ke ujung koridor. Aku berhenti di depan meja Mbak Sarah, yang mendongak dari tabletnya dan menatapku dengan wajah datar.

Pintu kaca buram di ujung koridor tertutup. Lampu di dalamnya menyala. Aku tidak menatapnya.

“Mbak,” kataku. Aku meletakkan map plastik itu di mejanya. “Tolong serahin ini ke Ibu Laksmi Dharmawangsa. Bukan ke Bu Renata. Ke Ibu Laksmi.”

Mbak Sarah menatap map itu. Lalu menatapku.

“Kenapa tidak ke Ibu?”

“Biar nggak ada yang bilang ini balas dendam Ibu.”

Mbak Sarah tidak bergerak.

“Bima,” katanya pelan. “Ibu ada di dalam. Kamu bisa masuk.”

“Saya tahu, Mbak.”

“Ibu sedang menyusun sesuatu. Dengan Pak Haji Rasyid. Sejak kemarin. Ibu belum tidur.”

“Saya tahu, Mbak. Ibu bilang Ibu yang urus.” Aku menatap pintu kaca buram itu, sekali, sebentar, lalu kembali menatap Mbak Sarah. “Saya juga lagi ngurus sesuatu.”

Mbak Sarah menatapku lama. Lalu, dengan suara yang sangat pelan dan tidak datar sama sekali:

“Kamu sudah tanya ke Ibu?”

“Udah, Mbak. Semalam.”

“Ibu jawab apa?”

“Ibu bilang, ‘Jangan khawatir. Aku yang urus. Percaya padaku.’”

Mbak Sarah memejamkan mata. Hanya sebentar. Lalu membukanya lagi.

“Itu bukan jawaban, Bima.”

“Saya tahu, Mbak.”

“Lalu kenapa kamu—”

“Karena saya tahu kalimat itu, Mbak.” Aku mendengar suaraku bergetar. “Saya udah ngucapin itu seumur hidup. Itu kalimat orang yang lagi ngorbanin sesuatu dan nggak mau orang lain tahu.”

Mbak Sarah tidak menjawab.

“Tolong serahin ke Ibu Laksmi, Mbak,” kataku. “Hari ini, kalau bisa. Pak Ruslan udah nyerahin bukti pendukungnya tadi siang. Ibu Laksmi udah tahu dokumen ini bakal datang.”

Aku berbalik.

“Bima.”

Aku berhenti.

“Kamu mau melakukan sesuatu yang bodoh,” kata Mbak Sarah. Bukan pertanyaan.

Aku tidak menjawab.

“Saya hanya mengatur jadwal,” katanya. Suaranya pecah sedikit di tengah. “Saya tidak bisa menghentikanmu. Tapi saya mau kamu tahu satu hal. Selama tiga tahun saya bekerja dengan Ibu, saya belum pernah melihatnya tertawa seperti yang ia lakukan lima minggu terakhir. Belum pernah.”

Aku berdiri di koridor lantai delapan belas, di bawah lampu-lampu kuning, membelakangi Mbak Sarah dan pintu kaca buram itu.

“Justru itu, Mbak,” kataku pelan. “Justru karena itu saya harus pergi.”

Aku berjalan ke lift. Aku tidak menoleh.


Rabu pagi pukul delapan, aku menyerahkan surat pengunduran diri kepada Pak Darto.

Aku menulisnya Selasa malam, di kos, dengan tulisan tangan, karena surat pengunduran diri yang diketik terasa seperti surat yang tidak sungguh-sungguh. Satu halaman. Tiga paragraf. Aku memeriksanya tiga kali.

Dengan hormat,

Bersama surat ini, saya, Bima Wicaksono, staf Accounts Payable, NIK 2024-0318, mengajukan pengunduran diri dari Wiraguna Group, efektif pada hari surat ini diterima.

Saya memahami bahwa pengunduran diri tanpa pemberitahuan tiga puluh hari melanggar ketentuan kontrak kerja, dan saya bersedia untuk tidak menerima pesangon maupun hak-hak lain sebagai konsekuensinya.

Saya mengucapkan terima kasih atas kesempatan bekerja selama dua tahun, lima bulan, dan satu hari.

Pak Darto membacanya di ruang kacanya. Ia membacanya sekali, dengan wajah yang perlahan berubah dari bingung menjadi pucat. Lalu ia membacanya lagi. Lalu ia meletakkannya di meja dan menatapku dari balik kacamatanya.

“Bima,” katanya. Suaranya kecil. “Apa ini?”

“Surat pengunduran diri, Pak.”

“Saya bisa baca. Saya tanya, apa ini?”

“Saya mundur, Pak.”

“Kenapa?”

Aku tidak menjawab.

Pak Darto menatapku lama. Lalu menatap tanaman lidah mertua di pojok ruangan, yang sudah tidak setengah kering lagi karena aku menyiramnya setiap hari Jumat sejak bulan Oktober. Lalu menatapku lagi.

“Ini soal lantai dua puluh,” katanya pelan. “Soal Pasal Tujuh. Soal pilihan yang diberikan ke Bu Renata.”

Aku menatapnya.

“Bima, saya sudah tiga puluh tahun kerja kantoran. Saya tahu kapan ada orang dipanggil ke lantai dua puluh dan keluar dengan wajah seperti kuburan.” Pak Darto melepas kacamatanya dan mengusap matanya. “Kamu mau menyelamatkan Bu Renata.”

“Saya mau Bu Renata tetap di kursinya, Pak.”

“Dan kamu pikir caranya dengan pergi.”

“Kalau saya pergi, nggak ada lagi Pasal Tujuh. Nggak ada lagi alasan buat nyingkirin beliau.”

Pak Darto menatap surat itu. Tangannya gemetar sedikit.

“Bu Renata sudah tahu?”

“Belum, Pak.”

“Kamu tidak tanya ke beliau?”

“Saya udah tanya, Pak. Beliau bilang beliau yang urus.”

Pak Darto menutup mata. Lalu ia membukanya, mengambil pulpen dari sakunya, dan menatap surat itu dengan wajah orang yang sedang memegang sesuatu yang sangat berat.

“Saya tidak mau tanda tangan ini, Bima.”

“Pak, tolong.”

“Saya tidak mau.” Pak Darto meletakkan pulpennya. “Saya bertaruh lima puluh ribu bahwa kamu tidak akan pernah. Saya kalah di depan dinding lift lantai dua. Saya senang kalah. Itu lima puluh ribu terbaik yang pernah saya keluarkan.” Suaranya bergetar. “Saya tidak mau tanda tangan surat yang membuat semua itu sia-sia.”

“Pak Darto,” kataku pelan. “Kalau Bapak nggak tanda tangan, saya serahin langsung ke HR. Hasilnya sama aja. Tapi saya lebih seneng Bapak yang tanda tangan. Bapak atasan saya. Bapak yang nerima saya dua tahun lalu.”

Pak Darto menatapku. Matanya merah. Lalu, dengan gerakan sangat lambat, ia mengambil pulpennya lagi dan menandatangani surat itu di bagian bawah, di kolom Diterima oleh. Tanda tangannya miring dan gemetar.

Lalu ia berdiri, memutari mejanya, dan memelukku.

Pak Darto, laki-laki lima puluh tahun dengan rambut yang disisir ke samping dan cicilan rumah di Cibubur, memelukku di ruang kacanya di lantai tujuh, di depan seluruh divisi AP yang berdiri di balik kaca dan menatap dengan mulut terbuka. Ia memelukku seperti seorang ayah memeluk anaknya yang akan merantau.

“Kamu anak paling bodoh yang pernah saya kenal,” katanya di bahuku.

“Dodi juga bilang gitu, Pak.”

“Dodi benar.” Ia melepaskan pelukannya dan menepuk bahuku dua kali. “Hati-hati, Bim.”


Kamis pagi, sekretaris Pak Gunawan meneleponku. Lantai dua puluh. Pukul sembilan.

Aku belum pernah ke lantai dua puluh. Lift eksekutif membawaku ke sana dalam sunyi. Pintunya terbuka ke koridor berkarpet merah anggur dengan dinding panel kayu jati, dan di ujungnya, sebuah pintu ganda dari kayu ukir dengan pegangan kuningan.

Pak Gunawan duduk di balik meja kayu besar di ruangan yang dua kali lebih luas dari ruangan Renata. Di belakangnya, dinding kaca yang menghadap ke seluruh Sudirman. Di mejanya, surat pengunduran diriku, yang sudah ditandatangani Pak Darto dan distempel HR.

“Bima Wicaksono,” katanya. Ia tersenyum. Senyum yang sama seperti di pengajian, saat ia menepuk bahuku dan bilang lemari arsip banyak debunya. “Duduk.”

Aku duduk.

“Saya sudah membaca suratmu. Sangat rapi. Tulisan tanganmu bagus.” Ia menyentuh surat itu dengan ujung jari. “Kamu mengorbankan pesangonmu. Itu tidak perlu. Saya bisa memberimu pesangon. Saya bisa memberimu lebih dari pesangon.”

Ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan selembar kertas lain. Ia meletakkannya di sebelah surat pengunduran diriku.

“Ini surat pernyataan,” katanya. “Isinya sederhana. Kamu menyatakan bahwa catatan-catatan yang kamu buat tentang vendor Sinar Karya Mandiri adalah hasil kesalahpahaman. Bahwa kamu tidak memahami prosedur revisi tagihan untuk pekerjaan tambahan. Bahwa kamu menarik semua temuanmu.” Ia tersenyum lebih lebar. “Tanda tangan di sini, dan kamu mendapat pesangon penuh, enam bulan gaji, dan surat rekomendasi dari saya pribadi. Dengan surat rekomendasi dari saya, kamu bisa bekerja di perusahaan mana pun di Jakarta.”

Aku menatap surat pernyataan itu. Lalu aku menatap Pak Gunawan.

“Angkanya tidak salah, Pak,” kataku.

Senyum Pak Gunawan tidak berubah. Tapi tangannya, yang memegang tasbih kayu cendana, berhenti memutar.

“Saya udah periksa tiga kali,” kataku. “Enam pasang tagihan. Nomor seri faktur pajak yang sama. Empat koma tujuh satu dua miliar. Saya nggak bisa tanda tangan kalau isinya bilang angkanya salah, Pak. Karena angkanya tidak salah.”

“Kamu tahu apa yang terjadi kalau kamu tidak tanda tangan?”

“Saya tetap mundur, Pak. Tanpa pesangon. Tanpa rekomendasi.” Aku menatapnya. “Saya nggak minta apa-apa dari Bapak. Saya cuma minta satu hal.”

“Apa?”

“Bu Renata tetap di kursinya.”

Pak Gunawan menatapku lama. Lalu ia tertawa. Tawa yang pendek, kering, seperti batuk.

“Kamu benar-benar mencintainya,” katanya. “Itu yang tidak saya mengerti dari kalian, anak-anak muda. Kalian mengorbankan segalanya untuk perempuan yang tidak akan mengingat kalian lima tahun lagi.”

Aku tidak menjawab.

Pak Gunawan mengambil pulpen emasnya. Ia menandatangani surat pengunduran diriku di kolom Disetujui oleh Direktur Utama. Goresannya cepat dan yakin. Ia menyingkirkan surat pernyataan ke laci.

“Efektif hari ini,” katanya. “Akses sistemmu akan dicabut pukul lima sore. Kartu aksesmu dikembalikan besok, hari terakhirmu. Barang-barang pribadi dibawa pulang. Tidak ada yang dibawa keluar dari gedung ini kecuali barang pribadi. Riko akan memeriksa tasmu.”

“Baik, Pak.”

“Dan Bima.” Ia tersenyum lagi. “Bu Renata akan tetap di kursinya. Kamu tidak perlu khawatir. Saya orang yang menepati janji.”

Aku berdiri. Aku berjalan ke pintu kayu ukir dengan pegangan kuningan.

“Satu hal lagi,” kata Pak Gunawan di belakangku. “Kamu tidak akan bilang apa-apa ke dia, kan? Tentang ini?”

Aku berhenti dengan tangan di pegangan pintu.

“Tidak, Pak,” kataku. “Itu bukan urusan Bapak.”

Aku keluar.


Kamis malam, aku duduk di kamar kos di depan laptop pribadiku, dan aku membuka email.

Bukan email kantor. Akses email kantorku sudah dicabut pukul lima sore. Email pribadi. Akun yang sama yang empat tahun lalu kupakai untuk menulis surat pukul sebelas lewat empat puluh delapan malam. Akun yang dua tahun lalu kusambungkan ke Outlook di laptop kantor dan menyebabkan semua ini.

Aku membuka jendela pesan baru.

Di kolom penerima, aku mengetik alamat email pribadinya. Aku tahu alamatnya. Ia memberikannya kepadaku di sofa ruang tengahnya, setelah sop ayam, setelah empat puluh satu pertanyaan. Kalau kamu mau kirim sesuatu yang bukan urusan kantor, kirim ke sini.

Di kolom subjek, aku mengetik. Lalu menghapusnya. Lalu mengetiknya lagi.

Untuk Renata (jangan dikirim)

Lalu aku menulis.

Renata,

Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Jadi aku pakai poin-poin, seperti biasa. Maaf.

Poin satu. Aku sudah mengundurkan diri. Efektif hari Kamis. Pak Gunawan sudah tanda tangan. Kamu tidak perlu memilih apa pun hari Jumat. Pasal Tujuh sudah tidak berlaku, karena aku sudah tidak di garis pelaporanmu.

Poin dua. Aku tidak menandatangani surat pernyataan bahwa angka-angka itu salah. Angkanya tidak salah. Semua bukti sudah sampai ke Ibu Laksmi, lewat Mbak Sarah dan Pak Ruslan dari Treasury. Pak Ruslan menyimpan salinan berkas transfer bank dengan lampiran otorisasi Pak Gunawan selama dua tahun. Itu lembar persetujuan yang kamu cari. Kamu tidak terlibat dalam penyusunan dokumen itu. Aku sudah menulisnya di halaman pertama. Tidak ada yang bisa bilang itu balas dendammu.

Poin tiga. Aku sudah bertanya. Hari Senin malam. Aku bertanya apakah benar kamu akan mundur. Kamu bilang kamu yang urus. Aku tahu kalimat itu, Renata. Aku sudah mengucapkannya seumur hidup. Jadi aku tahu jawabannya.

Poin empat. Aku tahu kamu akan marah. Aku tahu ini yang ketiga kalinya. Aku tahu kita punya kesepakatan. Aku sudah mencoba. Aku bertanya. Tapi kalau aku menunggu jawabanmu yang sebenarnya, kamu sudah menandatangani surat pengunduran diri di lantai dua puluh. Dan aku tidak bisa membiarkan itu. Kamu membangun kursi itu tiga belas tahun. Aku baru dua tahun di lantai tujuh.

Poin lima. Aku pulang ke Purwokerto besok malam. Kereta jam tujuh. Ibu sudah tahu. Ibu marah. Ayu lebih marah.

Poin enam. Penutup.

Aku tidak menyesal. Aku ingin kamu tahu itu. Aku tidak menyesal menulis surat empat tahun lalu. Aku tidak menyesal email itu terkirim ke dua ribu orang. Aku tidak menyesal naik ke lantai delapan belas dan memperbaiki sepatumu dan menyetrika blazermu dan memasak sop ayam di dapurmu. Aku tidak menyesal satu detik pun dari tujuh minggu terakhir.

Aku hanya menyesal empat tahun lalu aku tidak menelepon.

Kali ini aku tidak akan menyimpannya empat tahun. Tapi aku juga tidak bisa mengirimnya sekarang. Kalau aku kirim sekarang, kamu akan menyuruhku kembali, dan aku akan kembali, dan Pak Gunawan akan punya alasan lagi.

Jadi aku simpan dulu. Di sini. Di folder yang sama.

Kamu kelihatan capek, Renata. Kamu selalu kelihatan capek. Semoga setelah ini, ada orang yang menanyakan itu kepadamu setiap hari.

Bima

Aku membaca email itu tiga kali.

Lalu aku menggerakkan kursor ke tombol kirim. Tombol biru di pojok kiri bawah. Aku menatapnya lama. Sangat lama. Kipas angin mengeluh. Di luar, suara motor lewat di gang. Di masjid di ujung jalan, seseorang sedang mengaji dengan suara yang pelan dan serak.

Lalu aku menutup jendela pesan.

Sebuah kotak dialog kecil muncul: Simpan perubahan sebagai draf?

Aku menekan Ya.

Di kiri layar, di daftar folder, angka di sebelah tulisan Draf berubah dari nol menjadi satu.

Aku menatap angka itu.

Empat tahun lalu, angka itu juga satu. Selama empat tahun, angka itu tetap satu, sampai suatu Senin pagi pukul 09.14, sistem migrasi email mengirimnya ke dua ribu orang tanpa izinku.

Sekarang angka itu satu lagi.

Aku menutup laptop. Aku berbaring di kasur. Aku tidak tidur.


Jumat adalah hari terakhirku.

Aku datang pukul tujuh kurang sepuluh, seperti biasa. Mas Yanto di pos jaga lobi menatapku dengan mata merah dan tidak berkata apa-apa. Ia hanya memberi hormat dengan dua jari di pelipis, seperti yang biasa ia lakukan untuk Renata.

Aku tidak berdiri di samping pilar.

Lantai tujuh hari itu terasa seperti rumah duka. Tidak ada yang bicara keras. Mbak Wina membawa gorengan dua kantong dan meletakkannya di mejaku tanpa berkata apa-apa, lalu kembali ke mejanya dan pura-pura mengetik sambil sesekali mengusap matanya. Tim Treasury datang satu per satu untuk menyalamiku, termasuk laki-laki yang kemarin berdiri di dekat dispenser. Ia menyalamiku lama dan berkata, Mas, maaf, dan pergi sebelum aku sempat menjawab.

Pukul sepuluh, Jordi datang dari lantai dua belas dengan kotak martabak.

“Telur bebek empat, Mas,” katanya. Suaranya serak. “Pake daging sapi. Yang spesial. Saya janji dari bulan Oktober.”

“Mas Jordi, nggak usah.”

“Perlu, Mas.” Ia meletakkan kotak martabak di mejaku. Matanya berkaca-kaca. “Kalau saya nggak salah konfigurasi aturan distribusi, Mas nggak akan kayak gini.”

“Kalau Mas Jordi nggak salah konfigurasi,” kataku, “saya masih di pilar, Mas. Saya nggak bakal pernah naik ke lantai delapan belas.”

Jordi menatapku. Lalu ia menangis. Di lantai tujuh, di depan semua orang, laki-laki dua puluh enam tahun dengan rambut yang berdiri di satu sisi menangis sambil memeluk kotak martabak yang sudah ia serahkan.

Pukul dua belas, Bu Tini dari kantin turun ke lantai tujuh membawa bungkusan daun pisang.

“Nasi rames, Mas,” katanya. “Sayur lodeh, tempe goreng, telur balado. Kayak waktu Bu Renata makan di kantin.”

Aku menerima bungkusan itu dan tidak bisa berkata apa-apa.

Dodi tidak bicara denganku sepanjang pagi.

Ia duduk di mejanya, di sebelahku, dan mengetik dengan sangat keras dan sangat cepat. Ia tidak menoleh ke arahku. Ia tidak menawarkan kopi sachet. Ia tidak naik ke atas kursi. Ia hanya mengetik, dan sesekali berhenti, dan menatap layarnya tanpa bergerak, lalu mengetik lagi.

Pukul tiga sore, aku mulai membereskan meja.

Tidak banyak yang harus dibereskan. Stabilo kuning. Kotak klip kertas. Tube lem sepatu ukuran kecil. Gelas plastik bergambar logo Wiraguna. Kalender meja. Dan stiker yang ditempel Mbak Wina di dinding kubikel tujuh minggu lalu: aku berlutut di lantai marmer lobi memegang sepatu hak tinggi hitam, dengan efek kilau berbintang dan tulisan merah muda. Kirim, Bim — Edisi Pangeran Lem Sepatu.

Aku mencoba mencopot stiker itu. Selotipnya sudah terlalu lama menempel. Sudutnya robek sedikit.

“Jangan dicopot.”

Aku menoleh. Dodi berdiri di sebelah kubikelku. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia menatapku.

“Biarin di situ,” katanya. Suaranya serak. “Biar siapa pun yang duduk di sini nanti tahu siapa yang duduk di sini sebelumnya.”

Aku melepaskan sudut stiker itu. Stiker itu tetap di dinding, sedikit robek di satu sudut.

Dodi menatapku. Lalu ia menarik kursinya yang rusak pegasnya dan duduk di sebelahku, oleng ke kiri.

“Bim,” katanya pelan. “Lo udah bilang ke dia?”

“Belum.”

“Lo mau bilang?”

“Aku tulis email. Semalam.”

“Lo kirim?”

Aku tidak menjawab.

Dodi menatapku lama sekali. Lalu ia menutup wajahnya dengan dua tangan dan menghela napas yang sangat panjang dari balik tangannya.

“Draf,” katanya. “Lo simpen di draf. Lagi.”

“Dod—”

“Bim. BIM.” Ia menurunkan tangannya. Matanya merah. “Gue udah nangis di pantry buat lo. Gue udah nangis di toilet buat lo. Gue udah nyembunyiin kaus kaki CFO dari empat puluh orang buat lo. Dan lo nyimpen email di draf. LAGI.”

“Kalau aku kirim, dia pasti nyuruh aku balik.”

“YA BIARIN DIA NYURUH LO BALIK!”

Seluruh lantai tujuh menoleh.

Dodi tidak peduli. Ia berdiri dari kursinya. Kursi itu oleng dan jatuh ke belakang dengan bunyi keras.

“Lo selalu gitu, Bim! Lo selalu mutusin sendiri! Lo pikir lo pahlawan? Lo pikir lo nyelametin dia? Lo nggak nyelametin siapa-siapa! Lo cuma kabur! Kayak empat tahun lalu! Kayak di tangga darurat! Kayak di toilet! Lo kabur, terus lo bilang itu demi dia!”

Aku tidak bisa menjawab.

Dodi berdiri di depanku dengan napas terengah dan mata merah, di tengah lantai tujuh, di depan dua puluh orang yang menatap dalam diam. Lalu bahunya turun. Suaranya turun.

“Gue cuma pengen lo bahagia, Bim,” katanya pelan. “Itu aja. Dua tahun gue duduk di sebelah lo. Lo nggak pernah bahagia. Lo nyetrika, lo cocokin faktur, lo kirim duit ke Purwokerto, lo makan mi instan, lo berdiri di pilar. Tujuh minggu terakhir lo bahagia. Gue liat. Satu lantai liat.” Ia mengusap matanya dengan lengan kemeja. “Dan sekarang lo buang. Sendiri. Tanpa nanya siapa-siapa.”

“Aku udah nanya, Dod.”

“Lo nanya satu kali. Dia jawab nggak jelas. Terus lo langsung mutusin.” Dodi menggeleng. “Itu bukan nanya, Bim. Itu nyari alasan.”

Aku menatapnya.

Dodi benar. Aku tahu Dodi benar. Aku tahu sejak pukul tiga pagi hari Selasa, di lantai kos, saat aku membaca aku yang urus dan memutuskan bahwa aku tahu artinya tanpa bertanya lagi. Aku tahu, dan aku tetap melakukannya, karena aku tidak tahu cara lain.

Aku memasukkan stabilo kuning, kotak klip kertas, dan tube lem sepatu ke dalam tas. Aku mengambil buku catatan cokelat. Aku memasukkannya ke tas juga. Lalu aku berdiri.

“Maaf, Dod,” kataku.

Dodi tidak menjawab. Ia menatapku dengan mata merah, lalu, tiba-tiba, ia memelukku. Keras. Seperti menepuk ban mobil sebelum perjalanan jauh, tapi dengan seluruh badan.

“Lo tolol,” katanya di bahuku.

“Aku tahu.”

“Lo tolol yang paling baik.”

“Aku tahu, Dod.”

Ia melepaskanku. Ia memungut kursinya dari lantai. Ia duduk dan menatap layar komputernya dan tidak menoleh lagi.


Pukul lima sore, Riko memeriksa tasku di lobi.

Ia melakukannya dengan sangat teliti. Stabilo kuning. Kotak klip kertas. Tube lem sepatu. Gelas plastik. Kalender meja. Bungkusan nasi rames dari Bu Tini yang belum kumakan. Kotak martabak dari Jordi. Buku catatan cokelat.

Ia membuka buku catatan cokelat itu. Ia membaliknya halaman demi halaman. Daftar faktur bulan Oktober. Catatan rekonsiliasi. Empat puluh satu pertanyaan. Ia berhenti di halaman paling belakang, di mana terselip selembar kertas lama yang terlipat dua kali, selembar catatan kecil bertuliskan JANGAN DIMAKAN MAS BIMA, dan sebatang pulpen merah dengan tutup yang tergigit di ujung.

Ia mengangkat pulpen itu.

“Ini milik perusahaan?” tanyanya.

“Bukan,” kataku. “Itu punya seseorang. Saya simpan empat tahun.”

Riko menatap pulpen itu. Lalu menatapku. Untuk sepersekian detik, sesuatu bergerak di wajahnya yang biasanya tidak membaca apa pun. Lalu ia meletakkan pulpen itu kembali di halaman paling belakang buku catatan cokelat, menutup bukunya, dan memasukkannya ke tasku.

“Silakan, Mas,” katanya.

Aku menyerahkan kartu aksesku kepada Pak Komar di pos jaga. Pak Komar menerimanya dengan dua tangan, seperti menerima sesuatu yang sangat berharga, dan menatapku dengan mata yang basah.

“Taruhan saya hilang, Mas,” katanya pelan. “Seratus ribu. Bu Renata yang nembak duluan.”

“Bu Renata memang yang nembak duluan, Pak,” kataku. “Empat tahun lalu. Pakai pulpen merah. Bapak menang.”

Pak Komar menatapku dengan bingung.

Aku berjalan keluar melalui pintu putar. Di luar, Jalan Sudirman pukul lima sore, macet, abu-abu, dengan lampu-lampu rem yang menyala merah di sepanjang jalan.

Aku tidak menoleh ke lantai delapan belas.

Aku tahu ia ada di sana. Lampu ruangannya menyala. Aku melihatnya dari trotoar seberang, satu kotak cahaya di antara ratusan kotak cahaya di gedung itu, di lantai delapan belas, di ujung timur.

Aku tidak menoleh.

Pukul tujuh malam, kereta dari Stasiun Pasar Senen berangkat ke Purwokerto. Aku duduk di kursi dekat jendela di gerbong ekonomi, dengan tas di pangkuan dan buku catatan cokelat di dalamnya, dan menatap lampu-lampu Jakarta yang bergerak mundur, makin lama makin kecil, sampai hanya tinggal titik-titik di kegelapan.

Di ponselku, di aplikasi email, di folder Draf, ada angka satu.