Chapter Twenty Nine
Folder Draf
POV: Renata
Selama empat hari, aku hampir tidak tidur.
Hari Selasa, aku menghabiskan sembilan jam di ruang rapat kecil di lantai lima belas bersama Pak Haji Rasyid dari Legal, laki-laki enam puluhan berpeci putih yang dulu mengirim stiker Pangeran Lem Sepatu ke grup pengajian dengan doa semoga Allah mudahkan urusannya. Ia membaca Kode Etik Wiraguna Group bersamaku, pasal demi pasal, mencari celah. Ia membaca kontrak kerja Om Gunawan. Ia membaca anggaran dasar perusahaan, akta pendirian, dan seratus dua belas halaman peraturan dewan komisaris.
“Pasal Tujuh mengatur pelaporan, Bu Renata,” katanya pukul delapan malam, sambil memijat pangkal hidungnya. “Bukan larangan. Hubungannya sendiri tidak dilarang. Yang dilarang adalah tidak melaporkannya. Dan sanksinya bisa diselesaikan dengan restrukturisasi garis pelaporan. Itu pernah dilakukan dua kali dalam sejarah perusahaan.”
“Om Gunawan enggak akan menyetujui restrukturisasi.”
“Om Gunawan tidak perlu menyetujuinya kalau dewan komisaris yang memerintahkannya.”
Hari Selasa sore, Sarah mengetuk pintu ruang rapat dan berkata bahwa Bima menitipkan sesuatu untuk Ibu Laksmi. Map plastik. Untuk Ibu Laksmi, bukan untukku. Sarah sudah mengantarkannya langsung ke Menteng.
Aku bertanya apa isinya. Sarah bilang ia tidak membukanya.
Aku bertanya apakah Bima bilang sesuatu. Sarah diam sebentar, lalu bilang Bima tahu tentang lantai dua puluh. Riko memberitahunya di lift hari Senin. Dan Bima sudah bertanya kepadaku, hari Senin malam, dan aku menjawab aku yang urus.
“Ibu sudah membaca pesannya?” tanya Sarah.
“Udah.”
“Ibu menjawab dengan benar?”
Aku tidak menjawab Sarah. Aku tidak menjawab Sarah karena aku tahu jawabannya, dan aku tidak ingin mendengarnya keras-keras.
Hari Rabu, Ibu Laksmi meneleponku pukul enam pagi.
“Renata. Kepala Treasury-mu datang ke rumahku kemarin sore. Ruslan Hakim. Dia membawa flash disk berisi semua berkas transfer bank untuk enam pembayaran Sinar Karya Mandiri. Dengan lampiran otorisasi yang dipindai. Ditandatangani Gunawan sendiri.” Suaranya, yang biasanya tenang seperti hakim, terdengar sedikit bergetar. “Lalu dua jam kemudian, asistenmu datang membawa map dari staf AP-mu. Rekonsiliasi lengkap. Catatan tangan di setiap halaman. Dan di halaman pertama, ia menulis bahwa kamu tidak terlibat dalam penyusunan dokumen itu.”
Aku berhenti bernapas.
“Itu cukup, Renata,” kata Ibu Laksmi. “Itu lebih dari cukup. Aku akan memanggil rapat gabungan luar biasa dewan komisaris dan direksi. Hari Sabtu. Gunawan tidak bisa menolak. Anggaran dasar memberiku hak itu sebagai Ketua Komite Audit.”
“Sabtu,” ulangku.
“Siapkan dirimu. Dan Renata.” Jeda. “Laporkan hubunganmu ke Compliance. Hari ini. Secara resmi. Sebelum Gunawan bisa memakainya di rapat.”
“Om Gunawan bilang jangan kasih tahu Bima.”
“Gunawan bilang banyak hal.” Suara Ibu Laksmi melunak. “Nak. Aku sudah menjadi hakim tiga puluh tahun. Aku sudah melihat banyak orang mengorbankan diri untuk melindungi orang yang mereka sayangi, tanpa bertanya. Hampir semua berakhir dengan dua orang yang sama-sama terluka, di dua tempat yang berbeda.”
Aku melaporkan hubunganku ke Compliance hari Rabu siang. Pak Fauzan menerima formulirku dengan wajah orang yang menelan sesuatu yang sangat asam. Lalu ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan formulir lain, yang diisi dengan tulisan tangan kecil dan rapi seperti cetakan, bertanggal Senin, pukul tujuh lewat empat puluh pagi.
Pihak terkait (Ibu Renata Halim) tidak mengetahui bahwa saya belum melapor. Mohon sanksi atas keterlambatan dijatuhkan kepada saya.
Aku menatap formulir itu lama sekali di meja Pak Fauzan.
“Dia datang sebelum siapa pun dari kantor saya datang, Bu,” kata Pak Fauzan pelan. “Duduk di kursi tunggu. Pukul tujuh empat puluh.”
Aku tidak bisa menjawab.
Hari Kamis, aku menghabiskan sepanjang hari bersama Ibu Laksmi dan Pak Haji Rasyid, menyusun bahan untuk rapat Sabtu. Ponselku mati sebagian besar waktu, karena Ibu Laksmi melarang ponsel di ruang tamunya. Aku tidak turun ke lantai tujuh. Aku tidak mengirim pesan kepada Bima. Aku tidak bisa. Belum. Belum sampai semuanya pasti.
Aku yang urus, kataku kepada diriku sendiri. Jumat malam, setelah semuanya siap, aku akan ke Benhil. Aku akan menceritakan semuanya. Aku akan meminta maaf karena tidak menjawab dengan benar. Dan hari Sabtu, setelah rapat, semuanya akan selesai, dan ia tidak perlu tahu betapa dekatnya ia hampir kehilangan segalanya.
Aku sudah menyusun rencana itu dengan sangat rapi. Seperti neraca. Semua kolom seimbang.
Aku lupa bahwa ada satu angka yang tidak kumasukkan.
Jumat pukul lima lewat lima sore, pintu ruanganku terbuka tanpa diketuk.
Pak Darto berdiri di ambang pintu. Napasnya terengah, seperti baru berlari dari lantai tujuh lewat tangga darurat. Rambutnya, yang biasanya disisir ke samping untuk menutupi bagian yang botak, berantakan. Di tangannya ada selembar kertas yang ia remas.
Di belakangnya, Sarah berdiri dari kursinya dengan tangan setengah terangkat, terlambat setengah detik.
“Bu,” kata Pak Darto. “Bu. Maaf. Saya tidak mengetuk.”
“Pak Darto—”
“Saya janji, Bu.” Suaranya pecah. “Saya janji ke dia. Hari Rabu. Dia minta saya jangan bilang ke Ibu sampai jam lima sore hari ini. Sampai dia keluar dari gedung. Saya janji. Saya duduk di ruangan saya dari jam empat, Bu, liatin jam dinding. Detik demi detik. Jam lima pas saya lari. Tangga darurat. Sebelas lantai. Asam urat saya kambuh beneran, Bu.”
Ia meletakkan kertas yang ia remas di mejaku. Ia meluruskannya dengan tangan yang gemetar.
Salinan surat pengunduran diri. Tulisan tangan kecil dan rapi seperti cetakan.
Bersama surat ini, saya, Bima Wicaksono, staf Accounts Payable, NIK 2024-0318, mengajukan pengunduran diri dari Wiraguna Group, efektif pada hari surat ini diterima.
Di bagian bawah, tiga tanda tangan. Pak Darto, miring dan gemetar, hari Rabu. Stempel HR. Dan di kolom Disetujui oleh Direktur Utama, goresan pulpen emas yang cepat dan yakin, bertanggal hari Kamis.
Aku menatap surat itu.
“Dia keluar jam lima, Bu,” kata Pak Darto. “Barusan. Riko periksa tasnya di lobi. Dia kasih kartu aksesnya ke Pak Komar. Dia pulang ke Purwokerto. Kereta jam tujuh dari Pasar Senen.”
Aku menatap jam dinding di ruanganku. Pukul lima lewat tujuh.
“Dia tidak tanda tangan surat pernyataan, Bu,” lanjut Pak Darto, sangat pelan. “Pak Gunawan kasih dia surat pernyataan bahwa temuannya salah. Pesangon enam bulan. Rekomendasi. Dia tidak mau. Katanya angkanya tidak salah.” Pak Darto menyeka matanya dengan punggung tangan. “Dia pergi tanpa apa-apa, Bu. Tanpa pesangon. Cuma bawa stabilo, klip kertas, lem sepatu, sama nasi rames dari Bu Tini.”
Aku tidak bisa bergerak.
Pukul lima lewat tujuh. Kereta pukul tujuh. Pasar Senen. Dari Sudirman, pada jam pulang kantor hari Jumat, dengan mobil, satu jam. Mungkin satu setengah. Pak Rahmat bisa menyetir lebih cepat. Pak Rahmat pernah menyetir dari rumah ke rumah sakit dalam dua puluh menit, pukul enam pagi, tiga tahun lalu.
Aku bisa mengejarnya.
Aku bisa sampai di Pasar Senen sebelum pukul tujuh. Aku bisa berdiri di peron dan mencarinya di antara ratusan orang dengan tas dan kardus dan anak kecil. Aku bisa menemukannya, dengan kacamata berbingkai tipis dan buku catatan cokelat dan telinga yang akan memerah begitu melihatku. Aku bisa menariknya turun dari kereta. Aku bisa bilang, jangan pergi, semuanya sudah kuurus, Sabtu rapat, Om Gunawan akan jatuh, kamu bisa kembali.
Dan ia akan kembali.
Ia akan turun dari kereta dan kembali bersamaku, karena aku yang memintanya. Karena aku yang memutuskannya. Karena aku sudah mengurus semuanya, sendirian, tanpa bertanya kepadanya, persis seperti yang ia lakukan.
Lalu suatu hari nanti, di masalah yang lain, di tahun yang lain, salah satu dari kami akan memutuskan sesuatu sendirian lagi. Dan yang lain akan mengejar. Dan kami akan terus begitu, selamanya. Dua orang yang sama-sama terlalu pandai melindungi, dan sama-sama tidak pernah belajar bertanya.
“Bu?” kata Pak Darto. “Bu, Ibu mau saya panggilkan Pak Rahmat?”
Aku menatap surat pengunduran diri itu.
“Tiga kali,” kataku pelan.
“Bu?”
“Tiga kali, Pak Darto.” Suaraku bergetar. “Empat tahun lalu, dia mutusin saya pantas dapat laki-laki yang lebih baik. Enam minggu lalu, dia mutusin mundur karena dia kira saya milih orang lain. Dan sekarang...”
Aku tidak menyelesaikan kalimat itu.
Karena di saat yang sama, aku mengambil ponselku dan membuka percakapan dengan Bima, dan aku menggulirnya ke atas, ke hari Senin malam, dan aku membaca pesan yang ia kirim pukul tujuh lewat lima puluh.
Renata. Aku dengar soal lantai dua puluh. Dari Riko, di lift. Dua pilihan. Jumat.
Apa benar kamu akan mundur?
Aku tanya dulu, sesuai kesepakatan. Aku tidak akan memutuskan apa-apa sebelum kamu jawab.
Dan di bawahnya, jawabanku, pukul sembilan lewat lima puluh dua.
Jangan khawatir. Aku yang urus.
Percaya padaku.
Jangan lakukan apa pun.
Aku membaca dua pesan itu, pertanyaannya dan jawabanku, berdampingan di layar ponsel. Dan aku melihatnya dengan sangat jelas, sejelas angka di kolom yang tidak cocok.
Ia bertanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sebelum memutuskan sesuatu yang besar, Bima Wicaksono bertanya. Ia melakukan persis seperti yang kuminta di sofa ruang tengahku, dengan kepalaku di bahunya. Mulai sekarang, tanya. Ia bertanya, dan ia bilang ia tidak akan memutuskan apa-apa sebelum aku menjawab.
Dan aku tidak menjawab.
Aku membalas pertanyaannya dengan kalimat yang sama persis dengan yang ia ucapkan kepada dirinya sendiri seumur hidup. Kalimat yang ia kenali, karena ia sudah memakainya untuk membeli obat ibunya dan membayar kuliah adiknya. Aku yang urus.
Lalu aku menyimpan kebenarannya di draf.
Aku membuka folder draf di aplikasi pesanku. Di sana, di percakapan dengan Bima, masih ada pesan yang kuketik hari Senin pukul sepuluh pagi, di ruangan ini, setelah keluar dari lantai dua puluh. Lima hari yang lalu.
Bima. Ada yang harus aku ceritakan. Tentang lantai dua puluh.
Draf.
Aku menatapnya. Aku menatapnya lama sekali, sementara Pak Darto berdiri di depan mejaku dengan wajah bingung dan Sarah berdiri di ambang pintu dengan wajah yang sama sekali tidak datar.
“Tiga kali dia,” kataku. Suaraku nyaris tidak terdengar. “Dan sekali aku.”
Tasya tiba pukul enam kurang sepuluh. Sarah yang meneleponnya.
Ia menerobos masuk ke ruanganku dengan jaket denim dan sepatu kets dan wajah merah karena berlari dari lobi. Mas Yanto, yang biasanya tidak mengizinkan tamu naik setelah pukul lima, mengantarnya sendiri sampai ke lift.
“KAK. Mbak Sarah bilang Mas Bima resign. Mbak Sarah bilang dia naik kereta jam tujuh. KAK, INI JAM ENAM KURANG SEPULUH. AYO.”
“Tasya.”
“AYO, KAK! Pak Rahmat udah di bawah! Aku udah bilang Pak Rahmat siapin mobil! Kita kejar! Pasar Senen! Kita masih bisa!”
“Enggak.”
Tasya berhenti di tengah ruangan.
“Apa?”
“Kakak enggak akan ngejar dia.”
Tasya menatapku seolah-olah aku baru saja bilang bumi itu datar. “Kak. Kamu gila? Kamu udah nunggu dia empat tahun! Kamu nunggu dia tiga minggu sama HP di samping bantal! Kamu nikah sama Mas Hendra sambil masih nunggu dia! Dan sekarang dia ada di Jakarta, satu jam dari sini, dan kamu nggak mau ngejar?”
“Kalau Kakak ngejar dia,” kataku, “dia pasti balik.”
“YA ITU POINNYA, KAK!”
“Dia balik karena Kakak yang nyuruh, Tasya.” Aku berdiri dari kursi. Aku berjalan ke jendela. Di bawah sana, Jalan Sudirman sudah gelap, dan lampu-lampu rem menyala merah di sepanjang jalan seperti untaian manik-manik. “Dia bakal turun dari kereta karena Kakak yang mutusin. Kayak selama ini. Kakak yang mutusin kapan dia boleh naik ke lantai delapan belas. Kakak yang mutusin ketentuan nomor satu sampai tujuh. Kakak yang mutusin dia enggak perlu tahu soal lantai dua puluh.”
“Kak—”
“Dan dia yang mutusin aku pantas dapat yang lebih baik. Dia yang mutusin mundur. Dia yang mutusin pergi.” Aku menatap pantulanku di kaca jendela. “Kami berdua sama, Tasya. Kami berdua terlalu pinter mutusin apa yang terbaik buat orang lain. Dan kami berdua enggak pernah belajar nanya.”
Tasya diam.
“Kalau Kakak ngejar dia sekarang,” lanjutku pelan, “dia enggak bakal pernah belajar. Kakak juga enggak. Kami bakal terus begini. Dia pergi, Kakak ngejar. Kakak nyembunyiin sesuatu, dia mundur. Selamanya.”
“Terus kamu mau ngapain?” Suara Tasya pecah. “Nunggu? Lagi? Kak, kamu udah nunggu empat tahun. Kamu mau nunggu empat tahun lagi?”
Aku berbalik dari jendela dan menatapnya.
“Empat tahun lalu, Kakak nunggu karena Kakak enggak tahu,” kataku. “Kakak nulis nomor di kertasnya dan enggak tahu dia ngerti atau enggak. Kakak enggak tahu dia bakal datang atau enggak. Kakak nunggu kayak orang nunggu hujan. Enggak bisa ngapa-ngapain selain berharap.”
Aku mengambil ponselku dari meja.
“Kali ini Kakak tahu,” kataku. “Kakak tahu dia bakal datang. Kakak tahu, karena dia udah naik seratus delapan puluh tujuh anak tangga sekali. Karena dia udah nulis empat puluh satu pertanyaan. Karena dia udah berdiri di depan pagar rumah Kakak dan minta izin ke Bi Asih sebelum masuk ke dapur.” Mataku panas. “Dia bakal datang, Tasya. Bukan karena Kakak yang nyuruh. Karena dia yang mutusin. Kali ini dengan nanya dulu.”
“Kalau dia nggak datang?”
“Dia bakal datang.”
“Kok kamu yakin?”
Aku tersenyum. Senyum yang miring, basah, dan sama sekali tidak dilatih.
“Karena Kakak bakal nunggu dia,” kataku. “Dan kali ini, menunggu itu pilihan Kakak. Bukan nasib.”
Tasya menatapku lama. Lalu ia menangis. Tasya, yang tidak pernah takut kepada apa pun, yang punya tiga ratus ribu pengikut karena berani mengatakan hal-hal yang tidak berani dikatakan orang lain di depan kamera, berdiri di tengah ruanganku dan menangis seperti anak kecil.
“Kak,” katanya di sela tangisnya. “Kamu nggak pakai ‘saya’. Dari tadi. Sama sekali.”
Aku tidak sadar.
Pukul tujuh kurang lima, ruanganku sudah kosong. Tasya pulang bersama Sarah, karena Sarah bilang Tasya tidak boleh menyetir dalam keadaan seperti itu. Pak Darto pulang dengan kaki yang benar-benar pincang, kali ini di kaki yang benar.
Sebelum pulang, Dodi naik ke lantai delapan belas.
Ia berdiri di ambang pintu ruanganku dengan kaus kerja yang tidak dimasukkan, rambut ikal yang berantakan, dan mata yang merah. Ia tidak masuk. Ia hanya berdiri di sana, menatapku.
“Bu,” katanya. “Maaf. Saya Dodi. Meja sebelah—”
“Saya tahu kamu siapa, Dodi.”
“Iya, Bu.” Ia menelan ludah. “Bu. Saya mau bilang sesuatu. Dan saya mau tanya dulu. Bima ngajarin saya. Katanya kalau mau bilang sesuatu yang penting, tanya dulu.”
Aku menatapnya. “Tanya.”
“Boleh saya kasih tahu Ibu sesuatu yang Bima nggak mau Ibu tahu?”
Aku diam lama.
“Apa itu?”
“Dia nulis email ke Ibu, Bu. Kemarin malam. Dia cerita ke saya tadi siang. Panjang. Pakai poin-poin.” Dodi menggigit bibir bawahnya. “Dan dia nggak kirim. Dia simpan di draf. Katanya kalau dia kirim sekarang, Ibu bakal nyuruh dia balik.”
Aku tidak bergerak.
“Saya nggak bisa bacain isinya, Bu,” lanjut Dodi. “Saya nggak tahu isinya. Tapi saya pikir Ibu harus tahu kalau email itu ada. Kalau dia nggak cuma pergi gitu aja. Kalau dia nulis sesuatu buat Ibu dulu.”
“Kenapa kamu tanya dulu?”
Dodi menatapku dengan mata yang merah.
“Karena saya nggak mau jadi kayak dia, Bu,” katanya. “Atau kayak Ibu. Maaf. Saya nggak mau mutusin sendiri apa yang Ibu perlu tahu. Jadi saya tanya.”
Aku menatap laki-laki gempal berkaus kusut di ambang pintu ruanganku. Laki-laki yang naik ke atas kursi beroda rusak dan membacakan surat Bima ke seluruh lantai tujuh, tujuh minggu lalu. Laki-laki yang menciptakan meme yang membuat satu gedung tertawa. Laki-laki yang menangis di pantry, di toilet, dan di depan papan taruhan. Laki-laki yang melihat kaus kakiku di bawah tirai dan berbohong kepada empat puluh orang untuk melindungiku.
“Terima kasih, Dodi,” kataku.
“Ibu mau saya bilang ke dia? Biar dia kirim?”
“Enggak.”
Dodi mengerutkan dahi.
“Biar dia sendiri yang mutusin kapan mau ngirim,” kataku. “Saya enggak mau baca surat itu karena ada orang lain yang nyuruh dia kirim. Saya mau baca karena dia sendiri yang mencet tombol kirim.”
Dodi menatapku lama. Lalu, perlahan, ia tersenyum. Senyum yang basah dan miring.
“Bu,” katanya. “Ibu sama Bima tuh mirip banget. Sumpah. Keras kepala dua-duanya.”
“Saya tahu.”
“Tapi Ibu yang lebih cantik.”
“Saya juga tahu, Dodi.”
Dodi tertawa. Tawa yang pendek dan pecah di tengah. Lalu ia membungkuk, dalam-dalam, dan pergi.
Pukul tujuh tepat, aku duduk sendirian di ruanganku di lantai delapan belas.
Lampu Sudirman menyala di luar jendela. Di suatu tempat di Pasar Senen, sebuah kereta berangkat ke Purwokerto. Di dalamnya, di kursi dekat jendela, seorang laki-laki dengan kacamata berbingkai tipis dan buku catatan cokelat di pangkuannya sedang menatap lampu-lampu Jakarta yang bergerak mundur.
Ponselku bergetar.
Satu pesan, dari nomor yang tidak kusimpan.
Saya menepati janji, Renata. Kamu tetap di kursimu. Anak itu sudah pergi tanpa saya minta. Tanpa pesangon. Selamat. — G.W.
Aku membaca pesan itu satu kali. Lalu aku menghapusnya.
Besok pukul sembilan pagi, Om Gunawan akan masuk ke ruang rapat lantai dua puluh dan menemukan Ibu Laksmi Dharmawangsa duduk di kursinya, di bawah lukisan ayahnya, dengan flash disk hitam dari Pak Ruslan dan map plastik dari seorang staf AP yang sudah mengundurkan diri, yang di halaman pertamanya tertulis bahwa aku tidak terlibat.
Besok bukan hariku untuk memikirkan Om Gunawan.
Malam ini, aku hanya punya satu hal yang harus kulakukan.
Aku membuka percakapan dengan Bima. Aku membuka draf yang sudah lima hari tersimpan di sana. Bima. Ada yang harus aku ceritakan. Tentang lantai dua puluh.
Aku tidak menghapusnya. Aku menambahkan kalimat di bawahnya. Pelan. Satu demi satu. Kali ini tanpa menghapus apa pun.
Bima. Ada yang harus aku ceritakan. Tentang lantai dua puluh.
Aku menulis kalimat di atas hari Senin pukul sepuluh pagi. Lalu aku menyimpannya di draf. Lima hari.
Kamu bertanya kepadaku hari Senin malam. Kamu bertanya apakah benar aku akan mundur. Kamu bilang kamu tidak akan memutuskan apa-apa sebelum aku menjawab.
Aku tidak menjawab. Aku bilang aku yang urus. Itu bukan jawaban. Aku tahu itu bukan jawaban saat aku mengetiknya. Aku mengetiknya karena aku takut kalau aku menjawab dengan jujur, kamu akan melakukan persis apa yang kamu lakukan sekarang.
Jadi aku melakukan hal yang sama denganmu. Aku memutuskan sendiri apa yang terbaik untukmu. Lalu aku menyimpannya di draf.
Maaf.
Aku tidak akan mengejarmu ke Purwokerto. Bukan karena aku tidak mau. Aku sangat mau. Pak Rahmat sudah menyiapkan mobil. Tasya sudah menangis. Aku tidak mengejarmu karena aku ingin, kali ini, kamu yang memutuskan untuk kembali. Bukan karena aku menyuruhmu. Karena kamu yang memilih. Dengan bertanya dulu kepadaku.
Dan aku akan menjawab. Dengan jujur. Apa pun jawabannya.
Aku di sini. Lantai delapan belas. Aku menunggu.
Kali ini karena aku memilih.
Renata.
P.S. Kamu kelihatan capek di foto lift itu. Kamu selalu kelihatan capek, sejak empat tahun lalu, sejak bangku paling depan. Semoga di Purwokerto ada yang menanyakan itu kepadamu. Kalau tidak ada, aku yang akan menanyakannya. Setiap hari. Kalau kamu mengizinkan.
Aku membaca pesan itu tiga kali. Seperti yang ia selalu lakukan.
Lalu, pukul tujuh lewat empat menit, saat kereta ke Purwokerto pasti sudah meninggalkan Pasar Senen dan melaju ke timur di bawah langit Jakarta yang gelap, aku menekan tombol kirim.
Di bagian atas layar, tulisan kecil berwarna abu-abu itu menghilang.
Draf.
Lalu muncul tanda centang satu. Abu-abu. Terkirim.
Aku meletakkan ponsel di meja, layar menghadap ke atas, dan aku tidak menatapnya. Aku menatap jendela, ke arah timur, ke arah yang tidak bisa kulihat dari lantai delapan belas, tempat sebuah kereta sedang membawa seseorang pergi.
Aku tidak menangis.
Aku hanya duduk di sana, di ruangan yang wangi melati dan kayu manis, dengan blazer krem yang pernah disetrika dua puluh tiga menit tergantung di balik pintu, jauh dari AC, dan aku menunggu.
Kali ini, aku tahu apa yang kutunggu.
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah
- 7 Satrio
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung
- 10 Taruhan Pantry
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu
- 14 Nomor untuk Konsultasi
- 15 Pengajian 17 November
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf reading
- 30 Purwokerto
- 31 Restu
- 32 Terkirim
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong
- 36 Extra 1 — Pesawat Pertama
- 37 Extra 2 — Mas
- 38 Extra 3 — Kangen Tiga Jam
- 39 Extra 4 — Hujan di Uluwatu
- 40 Extra 5 — Sebelas Lantai