← Masih di Folder Draf

Chapter Eight

Lembur

POV: Bima

Minggu tutup buku adalah minggu ketika lantai tujuh berubah menjadi kapal yang tenggelam pelan-pelan.

Hari Senin semua orang masih semangat. Hari Selasa semua orang mulai memesan kopi dua kali. Hari Rabu, pukul tujuh malam, separuh divisi sudah pulang dengan wajah orang yang dikalahkan, dan separuh lagi masih duduk di depan layar dengan mata merah dan rambut yang tidak lagi tersisir.

“Gue pulang, Bim,” kata Dodi pukul tujuh lewat lima belas. Ia memakai jaket dan menyampirkan tas di bahu dengan gerakan dramatis, seperti tentara yang meninggalkan benteng. “Kalau besok pagi gue nggak dateng, artinya gue mati di KRL. Tolong bilang ke anak gue bapaknya pahlawan.”

“Lah, kamu kan belum punya anak, Dod.”

“Bilang ke anak gue yang akan datang.”

Ia pergi. Mbak Wina pergi. Tim Treasury pergi satu per satu, seperti lampu yang dimatikan berurutan. Pukul delapan, Pak Darto keluar dari ruang kacanya, mematikan lampu ruangannya, dan berhenti di depan mejaku.

“Bim, jangan lembur sampai malam,” katanya. “Listrik mahal.”

“Kan listriknya bukan Bapak yang bayar, Pak.”

“Tetap saja. Perusahaan juga perlu hemat.” Lalu, setelah ragu sebentar, ia menunduk sedikit dan berbisik, “Bim. Lampu di ruang Saba hari Senin. Itu kamu?”

Aku menatap layar.

“Telingamu merah, Bim.”

“Selamat malam, Pak.”

Pak Darto menghela napas panjang, napas seorang ayah yang tahu anaknya sedang menuju sesuatu yang tidak bisa dihentikan. “Hati-hati,” katanya. Aku tidak tahu ia sedang bicara tentang jalan pulang atau tentang yang lain. Lalu ia pergi, dan lantai tujuh tinggal aku seorang.


Aku tidak lembur karena laporan tutup buku belum selesai. Laporanku sudah selesai hari Selasa sore.

Aku lembur karena sesuatu tidak cocok.

Hal itu dimulai dari kebiasaan lamaku: setiap kali tutup buku, aku mencocokkan nomor seri faktur pajak dari semua vendor dengan data di sistem pajak, satu per satu. Tidak ada yang menyuruhku melakukannya. Tidak ada prosedur yang mewajibkannya. Sistem kami sudah memeriksa keabsahan faktur pajak secara otomatis, dan sistem itu tidak pernah salah.

Tapi sistem hanya memeriksa apakah sebuah faktur pajak sah. Sistem tidak memeriksa apakah faktur pajak yang sama dipakai dua kali.

Hari Selasa sore, saat semua orang sibuk mengejar tenggat, aku menemukan nomor seri faktur pajak yang sama muncul di dua pembayaran berbeda. Vendornya PT Sinar Karya Mandiri, perusahaan jasa konsultasi manajemen. Nomor tagihannya berbeda: yang satu SKM/INV/2024/0318, yang lain SKM/INV/2024/0318-R. Nominalnya sama persis. Tanggal pembayarannya berselisih empat bulan.

Aku memeriksa ulang. Lalu aku memeriksa semua tagihan PT Sinar Karya Mandiri selama dua tahun terakhir.

Ada enam pasang.

Enam tagihan, masing-masing dibayar dua kali. Yang pertama selalu melalui jalur normal: diajukan oleh divisi pengguna, diperiksa AP, disetujui manajer. Yang kedua, dengan akhiran -R yang katanya berarti revisi, tidak pernah lewat AP sama sekali. Tagihan itu masuk melalui jalur persetujuan khusus yang hanya dipakai untuk pengeluaran strategis tingkat direksi, dan semua persetujuannya ditandatangani dari lantai dua puluh.

Total pembayaran gandanya empat miliar tujuh ratus dua belas juta rupiah.

Aku memeriksa akta perusahaan PT Sinar Karya Mandiri di situs resmi pemerintah. Direktur utamanya bernama Hartono Sasmita. Nama itu tidak berarti apa-apa bagiku sampai aku mengetiknya di mesin pencari dan menemukan foto pernikahan seorang pengusaha di majalah gaya hidup sepuluh tahun lalu. Foto itu berisi keluarga besar mempelai perempuan. Di barisan depan, tersenyum lebar dengan batik cokelat, berdiri Pak Gunawan Wiraguna.

Hartono Sasmita adalah adik iparnya.

Aku menutup laptopku hari Selasa itu dan pulang dengan perut mual. Aku tidak bisa tidur. Aku menyetrika empat kemeja sekaligus sampai pukul satu pagi.

Hari Rabu, aku mencetak semuanya.


Pukul sembilan malam, aku berdiri di depan lift dengan map plastik tebal di tangan.

Aku sudah memikirkannya seharian. Aku tidak bisa melapor ke Pak Darto, karena tagihan -R itu tidak pernah lewat AP dan Pak Darto akan panik dan ikut terseret. Aku tidak bisa melapor ke auditor internal, karena kepala auditor internal melapor langsung kepada CEO. Aku tidak bisa diam saja, karena aku sudah melihatnya, dan sesuatu yang sudah dilihat tidak bisa dibuat tidak terlihat.

Hanya ada satu orang di gedung ini yang lebih tinggi dari lantai dua puluh dalam urusan uang.

Aku menekan angka delapan belas.

Lantai delapan belas pada pukul sembilan malam ternyata sangat berbeda dengan pukul sepuluh pagi. Koridornya remang. Hanya lampu-lampu kuning di dinding yang menyala. Meja resepsionis kosong. Meja Sarah kosong, laptopnya tertutup, dan ada catatan tempel di monitornya yang bertuliskan JANGAN SENTUH dengan huruf kapital.

Tapi pintu kaca buram di ujung koridor masih terang dari dalam.

Aku berdiri di depannya selama satu menit penuh. Aku mengangkat tangan untuk mengetuk. Aku menurunkannya. Aku mengangkatnya lagi.

“Masuk, Bima.”

Suaranya dari dalam. Aku membeku.

“Saya bisa lihat bayangan kamu di kaca. Kamu udah berdiri di situ satu menit. Masuk.”

Aku membuka pintu.

Bu Renata duduk di balik mejanya, dikelilingi tumpukan kertas. Ia sudah melepas blazernya; blazer itu tersampir di sandaran kursi. Ia memakai kemeja sutra berwarna gading dengan lengan digulung sampai siku, dan rambutnya diikat asal-asalan di puncak kepala dengan pulpen merah yang ditusukkan sebagai jepit. Beberapa helai lepas dan jatuh di sekitar lehernya. Riasannya sudah luntur, dan tanpa riasan lengkap ia terlihat lebih muda, dan lebih lelah, dan entah bagaimana justru lebih cantik, seperti lukisan yang bingkai emasnya dilepas sehingga yang tersisa hanya lukisannya.

Ia tidak memakai sepatu. Aku melihat heels-nya tergeletak di bawah meja, miring, satu di atas yang lain.

“Kamu belum pulang,” katanya.

“Ibu juga belum, Bu.”

“Saya CFO. Saya dibayar buat belum pulang.” Ia menatap map di tanganku. “Apa itu?”

Aku melangkah ke mejanya dan meletakkan map itu di depannya.

“Bu,” kataku. “Sebelum Ibu buka… saya mau bilang satu hal dulu. Kalau saya salah, saya yang tanggung. Udah saya periksa tiga kali. Tapi kalau ternyata salah, tolong jangan bawa-bawa nama Pak Darto. Beliau nggak tahu apa-apa.”

Bu Renata menatapku untuk waktu yang lama. Lalu ia membuka map itu.

Aku berdiri dan menunggu. Aku memperhatikan wajahnya saat ia membaca halaman pertama: daftar enam pasang tagihan dengan nomor faktur pajak yang disorot kuning. Halaman kedua: rincian alur persetujuan. Halaman ketiga: cetakan akta PT Sinar Karya Mandiri. Halaman keempat: foto pernikahan dari majalah gaya hidup, dengan satu wajah dilingkari pulpen biru.

Wajahnya tidak berubah. Sama sekali. Ia membaca seperti membaca menu sarapan.

Tapi tangannya, yang memegang tepi kertas, perlahan-lahan menegang sampai buku-buku jarinya memutih.

“Siapa lagi yang tahu?” tanyanya pelan.

“Nggak ada, Bu.”

“Pak Darto?”

“Belum, Bu.”

“Dodi? Teman sebelah kamu?”

“Nggak, Bu. Dodi nggak bisa nyimpen rahasia. Kemarin aja dia cerita ke satpam soal warna kaus kaki saya.”

Sudut bibirnya bergerak sedikit, lalu kembali datar.

“Kenapa kamu bawa ini ke saya?”

“Soalnya cuma Ibu orang di gedung ini yang nggak takut ke lantai dua puluh, Bu.”

Ia menutup map itu. Ia meletakkan kedua tangannya di atasnya, seperti menutupi sesuatu yang bisa terbang.

“Bima,” katanya. “Dengerin saya baik-baik. Ini bukan salah input. Ini bukan selisih pembulatan. Kalau ini benar, ini penggelapan. Dan yang nyetujuin CEO perusahaan ini, yang juga paman almarhum suami saya, dan yang dari tiga tahun lalu cari alasan buat ngeluarin saya dari kursi ini.” Ia menatapku lurus. “Kamu ngerti apa artinya kalau nama kamu ada di dokumen ini?”

“Saya ngerti, Bu.”

“Kamu bisa dipecat. Kamu bisa dituntut balik dengan tuduhan pencemaran nama baik. Kamu bisa enggak pernah dapat kerja di bidang keuangan lagi di Jakarta.”

“Saya tahu, Bu.”

“Dan kamu tetap bawa ini ke saya.”

“Angkanya nggak cocok, Bu,” kataku. “Saya nggak bisa pura-pura angkanya cocok.”

Bu Renata menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat. Bukan geli, bukan kesal, bukan menguji. Sesuatu yang lebih serius, seperti orang yang baru menyadari bahwa barang yang ia kira hiasan ternyata adalah fondasi bangunan.

“Duduk,” katanya.

Aku duduk.

“Kita mulai dari awal. Tunjukin saya semuanya. Satu per satu.”


Kami bekerja sampai pukul sebelas.

Aku tidak pernah bekerja bersama Bu Renata sebelumnya, dan ternyata itu pengalaman yang sama sekali berbeda dari yang kubayangkan. Aku membayangkan ia akan memberi perintah dan aku akan menjalankannya. Kenyataannya, ia bertanya. Ia bertanya terus-menerus, cepat, tajam, dan setiap pertanyaannya membuka sudut yang belum terpikir olehku. Kenapa akhiran -R tidak memicu peringatan sistem. Dari mana kode anggaran pembayaran kedua diambil. Apakah ada vendor lain dengan pola serupa.

Aku menjawab sebisaku. Saat aku tidak tahu jawabannya, aku bilang tidak tahu, dan ia tidak marah. Ia hanya menulis pertanyaannya di kertas dengan pulpen merah dan berkata, “Cari besok.”

Pukul sepuluh, ia meminta faktur fisik dari arsip.

“Arsipnya di lantai tujuh, Bu. Di lemari belakang ruang Pak Darto.”

“Ambil. Semua tagihan Sinar Karya Mandiri dua tahun terakhir. Yang asli, bukan pindaian.”

“Sekarang, Bu?”

“Sekarang. Sebelum ada yang kepikiran buat ngerapiin lemari itu.”

Aku turun ke lantai tujuh. Aku membuka lemari arsip dengan kunci cadangan yang ada di laci Pak Darto, karena aku tahu di mana Pak Darto menyimpan kunci cadangannya: di dalam kaleng biskuit Khong Guan, di bawah biskuit. Aku mengeluarkan dua bundel map tebal. Aku mulai mencocokkan faktur fisik dengan daftar di laptopku, satu per satu, di mejaku sendiri, di bawah satu-satunya lampu yang masih menyala di lantai tujuh.

Aku ingat mencocokkan faktur kedua puluh tiga.

Aku tidak ingat faktur kedua puluh empat.


Aku terbangun karena dingin.

Bukan, aku terbangun karena tidak dingin. Itu yang aneh. AC lantai tujuh selalu sangat dingin pada malam hari, karena sistem pengaturan suhu gedung menyetel semua lantai pada suhu yang sama dan lantai tujuh punya terlalu banyak jendela. Aku sudah dua kali masuk angin karena lembur di sini. Tapi sekarang punggung dan bahuku hangat.

Aku membuka mata. Pipiku menempel di atas faktur kedua puluh empat. Kacamataku miring. Di layar laptop, jam menunjukkan pukul satu lewat sepuluh.

Sesuatu tersampir di bahuku. Kain yang lembut, berwarna krem, wangi melati dan kayu manis.

Blazer.

Aku duduk tegak terlalu cepat, dan blazer itu meluncur ke pangkuanku. Aku menangkapnya dengan dua tangan, panik, seperti menangkap bayi yang jatuh dari ayunan.

“Jangan dijatuhin. Itu mahal.”

Aku menoleh.

Bu Renata duduk di meja Dodi. Di kursi Dodi yang rusak pegasnya, dengan kaki terlipat di bawah tubuhnya, tanpa sepatu. Kemeja sutra gadingnya berkerut di bagian lengan. Rambutnya masih diikat dengan pulpen merah, dan sekarang lebih berantakan lagi. Di pangkuannya ada setumpuk faktur dari lemari arsip. Ia sedang membacanya di bawah lampu meja Dodi yang kecil, yang cahayanya kuning dan jatuh tepat di sisi wajahnya sehingga separuh wajahnya terang dan separuhnya dalam bayangan.

Aku tidak tahu sudah berapa lama ia duduk di sana.

“Bu,” kataku, suaraku serak. “Ibu turun ke sini?”

“Kamu enggak balik. Saya nunggu empat puluh menit. Saya pikir kamu dibawa kabur hantu lantai tujuh.” Ia membalik halaman. “Ternyata kamu tidur di atas faktur. Untung enggak ngiler.”

Aku menyentuh sudut bibirku. Kering. Aku menghembuskan napas lega.

“Saya udah selesai nyocokin sisanya,” lanjutnya. “Dua puluh enam sampai empat puluh delapan. Semuanya cocok sama temuan kamu. Enam pasang. Empat koma tujuh satu dua miliar.”

“Ibu yang nyocokin?”

“Kamu kira CFO enggak bisa baca faktur?” Ia meletakkan tumpukan kertas itu di meja Dodi dan meluruskan kakinya. Kakinya telanjang, dan aku buru-buru menatap ke tempat lain. “Saya dulu staf junior di firma audit. Dua tahun saya nyocokin faktur sampai jam tiga pagi. Saya tahu rasanya ketiduran di atas kertas.”

Aku menatap blazer di pangkuanku. “Ini punya Ibu.”

“AC lantai tujuh dingin,” katanya. “Kamu menggigil waktu tidur.”

“Terima kasih, Bu.”

“Jangan salah paham.”

“Saya nggak salah paham, Bu.”

“Bagus.” Ia menatap ke luar jendela, ke arah gedung-gedung Sudirman yang hanya tinggal beberapa jendela menyala. “Soalnya ini cuma blazer.”

Aku melipat blazer itu dengan hati-hati, seperti melipat bendera. Lipatan bahu ke dalam. Lengan disejajarkan. Kerah dirapikan.

“Bu,” kataku. “Boleh saya setrika dulu sebelum saya balikin? Kainnya kusut di bagian punggung, Bu. Tadi saya tidurin.”

Ia menoleh ke arahku perlahan. Lalu ia tertawa. Pelan, lelah, dengan suara yang sedikit serak karena sudah pukul satu pagi. Tawanya memantul di lantai tujuh yang kosong.

“Kamu mau nyetrika blazer saya.”

“Itu sutra campur wol, Bu. Harus suhu rendah, pakai kain pelapis. Saya ada kok kain pelapisnya.”

“Ya jelas kamu punya.” Ia menggeleng-geleng, masih tersenyum. “Balikin besok. Disetrika.”

“Baik, Bu.”

Lalu ia diam. Senyumnya pelan-pelan memudar, seperti lampu yang diredupkan. Ia menatap jendela lagi, dan tangan kanannya bergerak ke lehernya.

Aku baru memperhatikan bahwa ia memakai kalung. Rantai emas tipis, sangat tipis, nyaris tidak terlihat di bawah kerah kemejanya pada siang hari. Di ujung rantai itu, menggantung di antara tulang selangkanya, ada sebuah cincin.

Cincin emas putih polos. Tanpa permata. Cincin kawin.

Ia memutarnya di antara ibu jari dan telunjuk. Pelan. Berulang-ulang. Dengan mata yang menatap jendela tapi tidak melihat apa pun di baliknya. Itu gerakan yang sangat otomatis, seperti orang yang menghitung tasbih tanpa menyadarinya. Aku menduga ia sudah melakukannya ribuan kali. Di mobil, di ruang rapat, di ruangannya pukul sepuluh malam ketika tidak ada yang melihat.

Aku tidak bicara. Aku tidak tahu harus bicara apa.

Di bawah lampu meja Dodi yang kuning, di kursi yang rusak pegasnya, dengan kaki telanjang dan rambut yang diikat pulpen, Bu Renata memutar cincin kawin almarhum suaminya, dan aku menyadari sesuatu yang selama empat tahun berhasil kuhindari.

Aku sudah tahu ia janda. Semua orang tahu. Aku sudah membaca beritanya di layar ponsel retak di kamar kos Depok. Aku sudah tahu bahwa ia pernah dicintai oleh laki-laki yang tinggi dan tersenyum lebar dan menjadi direktur di usia tiga puluh. Aku sudah tahu bahwa laki-laki itu meninggal.

Tapi aku belum pernah melihatnya merindukan laki-laki itu.

Sekarang aku melihatnya. Dari jarak dua meter. Di lantai tujuh, pukul satu pagi.

Jaraknya bukan lantai tujuh dan lantai delapan belas. Jaraknya bukan staf AP dan CFO, bukan dua puluh delapan dan tiga puluh dua, bukan kos di Bendungan Hilir dan apartemen yang aku tidak tahu di mana. Jaraknya adalah cincin kecil itu, yang ia putar di antara jari-jarinya seperti sesuatu yang belum selesai.

Aku tidak punya hak apa pun atas cincin itu. Aku tidak punya hak apa pun atas apa yang belum selesai.

“Bima,” katanya, tanpa menoleh. Tangannya berhenti memutar cincin.

“Ya, Bu.”

“Temuan kamu. Simpan semua salinannya di tempat aman. Bukan di laptop kantor. Bukan di surel kantor. Jangan dibahas sama siapa pun, termasuk saya, di gedung ini. Kalau saya perlu sesuatu, saya yang hubungi kamu.” Ia menurunkan tangannya. Cincin itu kembali menggantung di balik kerah kemejanya. “Ini bakal makan waktu. Lantai dua puluh enggak bisa diserang pakai satu map plastik. Kamu harus sabar.”

“Saya bisa sabar, Bu.”

“Saya tahu.” Ia menoleh. Matanya, di bawah lampu kuning, terlihat lebih gelap dari biasanya. “Kamu udah sabar empat tahun.”

Aku tidak bisa menjawab itu.

Ia berdiri. Ia memungut heels-nya dari bawah meja Dodi dan memakainya, satu per satu, dengan berpegangan pada sandaran kursi. Ia merapikan lengan kemejanya. Ia menarik pulpen merah dari rambutnya, dan rambut itu jatuh tergerai ke bahu dalam satu gelombang panjang yang wangi melati, dan aku harus menunduk lagi ke faktur kedua puluh empat.

“Pak Rahmat nunggu di basement,” katanya. “Saya antar kamu pulang.”

“Nggak usah, Bu. Saya naik ojek aja.”

“Jam satu pagi.”

“Ojek kan ada dua puluh empat jam, Bu.”

“Bima.” Ia berhenti di ujung lorong kubikel, setengah berbalik. Lampu darurat hijau di atas pintu keluar membuat siluetnya terlihat seperti potongan kertas hitam di atas kaca. “Kamu baru nyerahin bukti penggelapan empat miliar yang ditandatangani CEO. Kamu pikir saya bakal biarin kamu naik ojek sendirian jam satu pagi?”

Aku tidak punya bantahan untuk itu.


Di lobi, satpam malam bernama Pak Komar menatap kami dengan mata yang membesar saat kami keluar dari lift bersama.

“Malam, Bu Renata,” katanya, lalu berbisik kepadaku saat Bu Renata berjalan lebih dulu ke arah pintu putar: “Mas. Jam segini Ibu masih cantik gitu. Heran saya. Istri saya baru jam sembilan aja udah kayak abis dikejar Satpol PP.”

“Pak Komar.”

“Iya, iya. Saya diem.”

Di basement, Pak Rahmat membukakan pintu belakang mobil putih itu. Mobil putih yang setiap pagi kulihat dari balik pilar pukul 07.38. Aku berdiri di sebelahnya, ragu, sampai Bu Renata masuk lebih dulu ke kursi belakang dan menepuk jok di sebelahnya tanpa berkata apa-apa.

Aku duduk di ujung paling jauh dari kursi itu, dekat pintu. Blazer krem itu kupangku dengan dua tangan, terlipat rapi. Map plastik berisi bukti kumasukkan ke dalam tas dan tas itu kupeluk di dada.

Mobil melaju keluar dari basement. Jalan Sudirman pukul satu pagi kosong dan berkilau karena sisa hujan. Lampu-lampu jalan melintas di wajah Bu Renata, terang, gelap, terang, gelap.

Ia tidak bicara sepanjang perjalanan. Ia hanya bersandar di jendela dengan mata terpejam.

Di lampu merah Karet, ia tertidur.

Aku tahu, karena napasnya berubah menjadi pelan dan teratur, dan karena kepalanya perlahan-lahan miring dari jendela ke arah tengah kursi. Ke arahku. Satu sentimeter. Dua. Tiga.

Kepalanya berhenti satu jengkal dari bahuku. Tidak menyentuh. Hanya satu jengkal.

Aku tidak bergerak sama sekali. Aku tidak bernapas terlalu keras. Aku duduk sangat tegak dengan blazer di pangkuan dan tas di dada, dan aku menatap lurus ke depan, ke kaca spion, tempat mata Pak Rahmat bertemu dengan mataku.

Pak Rahmat tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengurangi kecepatan mobil sedikit, dan menyetir dengan sangat, sangat halus, menghindari setiap lubang di jalan dari Karet sampai Bendungan Hilir.

Saat mobil berhenti di depan gang kosku, Bu Renata masih tertidur. Aku membuka pintu dengan sangat pelan. Aku turun dengan sangat pelan. Pak Rahmat menurunkan kaca jendela depan.

“Mas Bima,” bisiknya.

“Ya, Pak?”

“Terima kasih, ya.”

“Buat apa, Pak?”

Pak Rahmat menatap kaca spion, ke arah kursi belakang tempat Bu Renata tidur dengan kepala bersandar di jok, mulut sedikit terbuka, satu tangan masih menggenggam rantai kalung di lehernya.

“Sudah tiga tahun Ibu nggak pernah ketiduran di mobil,” katanya. “Biasanya Ibu cuma lihat jendela sampai rumah.”

Lalu kacanya naik, dan mobil putih itu melaju pergi dengan sangat pelan, dan aku berdiri di mulut gang kos di Bendungan Hilir pukul satu lewat empat puluh pagi, memeluk blazer krem yang wangi melati dan kayu manis, sampai lampu belakang mobil itu menghilang di tikungan.

Malam itu aku menyetrika blazernya dengan suhu paling rendah, dengan kain pelapis, selama dua puluh tiga menit.

Lalu aku tidak bisa tidur sampai subuh, karena aku terus memikirkan sebuah cincin kecil yang diputar di antara ibu jari dan telunjuk, dan jarak satu jengkal yang tidak berani kuperpendek.