← Masih di Folder Draf

Chapter Twelve

Satu Klaim Lagi

POV: Bima

Kamis pagi, papan taruhan di pantry lantai tujuh punya baris baru.

Tangga darurat — Rp75.000 — Bu Yuyun (cleaning service lt. 7–8)

Aku menatap baris itu sambil mengisi botol minum. Tulisannya besar-besar dan agak miring, seperti ditulis oleh orang yang jarang memegang spidol papan tulis.

“Bu Yuyun ikut taruhan?” tanyaku.

“Bu Yuyun saksi mata, Bim.” Dodi muncul di sebelahku dengan mug kopi dan wajah orang yang sudah dua hari menyimpan berita besar. “Kemarin jam dua belas lewat dua puluh, dia lagi ngepel tangga lantai enam. Terus dia denger suara dari atas. Katanya ada orang ketawa. Suara cewek. Lama banget. Terus dia ngintip ke atas, dan dia lihat siapa coba?”

Aku tidak menjawab.

“Bu Renata, Bim. Bu Renata ketawa sendirian di bordes lantai tujuh setengah. Sambil nyender di tembok. Kata Bu Yuyun, ‘Saya kira kesurupan, Mas.’” Dodi menyipitkan mata ke arahku. “Dan lima menit sebelumnya, Bu Yuyun ditabrak orang yang lari turun tangga dua anak sekaligus. Cowok. Tinggi. Kemeja putih. Kuping merah.”

“Dodi.”

“Kemeja lo kemarin putih, Bim.”

“Yang pakai kemeja putih kan banyak, Dod.”

“Kuping lo sekarang merah.”

Aku meninggalkan pantry tanpa mengisi botol minumku sampai penuh.


Pukul sepuluh, sebuah email masuk ke kotak masukku.

Dari: Renata Halim
Kepada: Bima Wicaksono
Subjek: EXP-2023-0712

Buka rinciannya. Bawa ke ruangan saya pukul 16.00. Sendiri, bukan kurir.

— R

Aku membaca email itu tiga kali. Lalu aku menatap baris pertama di daftar klaim yang masih terbuka di layarku, baris yang sudah tiga minggu kulewati setiap pagi dengan perasaan seperti melewati makam.

Jangan disentuh sampai saya bilang.

Beliau sudah bilang.

Aku mengklik baris itu. Jendela rincian klaim terbuka.

EXP-2023-0712
Pemohon: Hendra Wiraguna
Tanggal pengajuan: 03 Juli 2023
Kategori: Jamuan (Pribadi — Akan Dipotong dari Tunjangan)
Nominal: Rp4.850.000
Lampiran: 1 berkas (Kuitansi_Lumiere.pdf)

Keterangan:
Deposit Lumière, Menteng. Anniversary pertama, 14 Januari 2024. Meja nomor 7, dekat jendela, yang sama dengan malam dia bilang iya. Reservasi harus 6 bulan sebelumnya, jadi saya pesan sekarang supaya tidak kehabisan. Potong dari tunjangan saya saja, ini bukan urusan kantor, saya cuma malas bayar pakai kartu pribadi karena dia selalu cek tagihan kartu saya dan nanti ketahuan. Semoga tahun ini dia sudah berhenti menunggu.

Aku membaca keterangan itu sekali, dan tanganku berhenti di atas mouse.

Lalu aku membacanya lagi.

Dia selalu cek tagihan kartu saya dan nanti ketahuan. Aku hampir tersenyum di bagian itu. Laki-laki ini ingin memberi kejutan. Ia menyembunyikan deposit makan malam ulang tahun pernikahan dari istrinya dengan cara mengajukannya sebagai klaim kantor, karena istrinya CFO dan istrinya memeriksa semua angka. Itu hal yang sangat konyol dan sangat manis, seperti sesuatu yang akan dilakukan Dodi kalau Dodi punya istri dan istrinya seorang auditor.

Lalu aku sampai di kalimat terakhir.

Semoga tahun ini dia sudah berhenti menunggu.

Aku membaca kalimat itu empat kali. Lima kali. Aku tidak tahu berapa kali. Kalimat itu duduk di layarku seperti angka yang tidak cocok di kolom saldo, angka yang tidak bisa dijelaskan dengan biaya administrasi transfer atau kesalahan pembulatan.

Berhenti menunggu.

Menunggu siapa?

Aku tidak perlu menebak lama. Aku hanya perlu mengingat hari Jumat sore. Lobi Wiraguna. Mobil hitam panjang yang mengilap seperti sepatu baru disemir. Seorang laki-laki dengan uban di pelipis dan buket mawar merah, bersandar di pintu mobil seperti iklan jam tangan. Bukan lili. Aku belajar.

Satrio Hadikusumo. Mantan pacar Bu Renata sebelum ia menikah. Bankir. Level sultan, kata Mas Yanto. Laki-laki yang mengirim lili ke lantai delapan belas, lalu mawar ke lobi, lalu berkata kepadaku, dengan sangat ramah, sisanya biar saya yang urus.

Bu Renata menikah dengan Pak Hendra sambil menunggu seseorang. Dan Pak Hendra tahu.

Aku menyandarkan punggung di kursi. Di sebelahku, Dodi sedang bersenandung lagu dangdut sambil mengetik. Di seberang sekat, tim Treasury sedang berdebat soal kurs dolar. Lantai tujuh berjalan seperti biasa.

Aku menatap lampiran klaim itu. Kuitansi dari Lumière, dipindai dengan agak miring. Kop suratnya berhuruf emas, ditulis dalam bahasa Prancis. Tanggal reservasi: 14 Januari 2024. Meja nomor 7. Jumlah tamu: dua. Deposit: Rp4.850.000. Di bagian bawah ada catatan kecil bercetak miring: Deposit tidak dapat dikembalikan, namun dapat digunakan sewaktu-waktu sebagai kredit reservasi atas nama pemesan.

Diajukan tiga Juli. Pak Hendra wafat bulan Agustus, lima bulan sebelum makan malam ulang tahun pernikahan pertama di meja nomor 7.

Deposit itu masih ada di sana. Di restoran di Menteng. Selama tiga tahun. Atas nama orang yang sudah tidak ada.

Aku mencetak rincian klaim dan kuitansinya. Aku memasukkannya ke dalam map biru. Aku menutup map itu dan meletakkannya di mejaku, dan aku tidak membukanya lagi sampai pukul empat kurang sepuluh.


Pukul empat kurang lima, aku berdiri di depan lift dengan map biru di tangan.

“Bim.” Dodi menyusulku. Wajahnya, untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, tidak sedang bercanda. “Itu klaim yatim?”

“Iya, Dod.”

“Lo dipanggil buat itu?”

“Iya.”

Dodi menatap map biru itu. Lalu menatapku. “Bim. Kalau lo butuh apa-apa. Habis ini. Gue di pantry. Gue traktir kopi sachet.”

“Makasih, Dod.”

“Dua sachet.”

Pintu lift terbuka. Aku masuk. Aku menekan angka delapan belas. Tombolnya menyala oranye.

Pintu lift hampir tertutup saat Dodi menyelipkan tangannya dan menahannya.

“Bim,” katanya. “Lo udah baca keterangannya?”

“Udah.”

“Isinya apa?”

Aku tidak menjawab. Dodi menatap wajahku selama beberapa detik, lalu perlahan menarik tangannya. Pintu lift tertutup.


Mbak Sarah tidak menatapku saat aku lewat di depan mejanya. Ia hanya menunjuk pintu ruangan Bu Renata dengan dagunya, dan berkata dengan suara pelan, “Ibu sudah menunggu sejak setengah empat.”

Aku mengetuk.

“Masuk.”

Bu Renata duduk di balik mejanya. Lampu ruangannya tidak dinyalakan semua; hanya lampu meja dan cahaya sore yang masuk dari jendela, kuning keemasan, jatuh miring melintasi lantai. Ia memakai kemeja sutra berwarna biru pucat dengan kerah tinggi. Rambutnya digerai dan disisir ke satu sisi, ke bahu kiri. Bibirnya merah bata, seperti biasa, tapi warnanya tampak lebih pudar dari biasanya, seperti sudah digigit berkali-kali.

Ia tidak tersenyum saat aku masuk. Ia tidak menyindir apa pun. Ia hanya menatap map biru di tanganku.

“Duduk,” katanya.

Aku duduk. Aku meletakkan map itu di mejanya. Aku tidak membukanya. Aku menunggu.

Ia tidak langsung menyentuhnya. Ia menatap map itu dengan kedua tangan terlipat di pangkuan, seperti menatap sesuatu yang bisa menggigit.

“Kamu udah baca?” tanyanya.

“Sudah, Bu.”

“Semuanya?”

“Semuanya, Bu.”

Ia mengangguk perlahan. Lalu ia membuka map itu.

Aku tidak menatapnya saat ia membaca. Aku menatap jendela di belakangnya, deretan gedung Sudirman yang berwarna keemasan terkena matahari sore. Aku menghitung jendela di gedung seberang. Empat belas lantai, delapan jendela per lantai. Seratus dua belas.

Aku mendengar kertas dibalik. Halaman pertama, rincian klaim. Halaman kedua, kuitansi.

Lalu aku tidak mendengar apa-apa.

Keheningan itu berlangsung sangat lama. Aku menghitung jendela gedung seberang dua kali. Lalu aku tidak tahan lagi, dan aku menatap Bu Renata.

Ia masih memegang halaman pertama. Matanya terpaku di bagian bawah halaman, di kolom keterangan. Wajahnya tidak bergerak sama sekali. Tidak ada air mata. Tidak ada kerutan di dahi. Ia hanya menatap, dan menatap, dan bibirnya sedikit terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu yang tidak jadi diucapkan.

Lalu tangan yang memegang kertas itu mulai gemetar.

Pelan. Sangat pelan. Getarannya dimulai di ujung jari dan merambat naik, ke pergelangan, ke siku, sampai kertas di tangannya bergetar seperti daun di angin sore. Ia meletakkan kertas itu di meja. Ia meletakkannya dengan sangat hati-hati, sangat rapi, sejajar dengan tepi meja. Lalu ia meletakkan kedua tangannya di atas kertas itu, seperti menutupi sesuatu supaya tidak terbang.

“Dia tahu,” katanya. Suaranya hampir tidak terdengar. “Dia tahu selama ini.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu apa yang bisa kujawab.

“Dia enggak pernah bertanya. Tujuh bulan. Dia enggak pernah sekali pun bertanya.” Ia menatap kertas di bawah tangannya. “Dan dia pesan meja yang sama. Meja nomor tujuh. Dia ingat nomornya.”

Bahunya mulai bergetar.

Aku melihatnya runtuh. Tidak seperti di film, tidak dengan suara keras atau gerakan besar. Bu Renata runtuh seperti bangunan tua yang fondasinya sudah lama retak: pelan, dari dalam, dengan cara yang hampir sopan. Kepalanya menunduk. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya. Bahunya bergetar tanpa suara. Lalu satu tetes air mata jatuh ke atas kertas, tepat di atas kata menunggu, dan tintanya mulai menyebar perlahan.

Ia tidak terisak. Ia tidak menutup wajahnya. Ia hanya duduk di sana, di kursi CFO di lantai delapan belas, dengan tangan di atas kertas yang mulai basah, dan menangis dengan kepala tertunduk seperti seseorang yang sudah lama sekali tidak menangis dan lupa caranya.

Aku tidak bergerak. Aku tidak tahu boleh bergerak atau tidak.

Lalu aku teringat sesuatu.

Aku merogoh saku celana. Ada di sana, seperti selalu. Ibu selalu menyelipkan satu di setiap celana yang ia setrika sejak aku SD, dan setelah aku pindah ke Jakarta, aku melanjutkannya sendiri. Kebiasaan orang Purwokerto, kata Dodi. Kebiasaan orang tua, kata Mbak Wina.

Sapu tangan kain. Kotak-kotak biru.

Aku melipatnya dua kali dan meletakkannya di meja, di samping tangannya. Tidak menyodorkannya. Hanya meletakkannya di sana, supaya ia bisa mengambilnya kalau mau dan tidak perlu merasa diberi.

Bu Renata melihatnya.

Ia melihat sapu tangan itu, dan tangisnya berhenti. Begitu saja. Seperti keran yang ditutup tiba-tiba. Ia menatap sapu tangan kotak-kotak biru itu dengan mata yang basah dan lebar, dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca, ekspresi yang belum pernah kulihat di wajah siapa pun. Seolah-olah yang kuletakkan di meja itu bukan sapu tangan, melainkan sesuatu yang sudah lama hilang dan tiba-tiba kembali.

Tangannya terulur perlahan. Ia mengambil sapu tangan itu. Ia tidak memakainya untuk mengusap air mata. Ia hanya memegangnya, dengan dua tangan, di pangkuannya, dan menatapnya.

Lalu ia menangis lagi. Lebih keras dari sebelumnya. Kali ini dengan suara.

Aku tidak mengerti. Aku hanya memberi sapu tangan. Aku tidak tahu kenapa sapu tangan bisa membuat seseorang menangis lebih keras. Aku duduk di kursi di depan mejanya dengan tangan di lutut, merasa sangat besar dan sangat canggung dan sangat tidak berguna, dan tidak tahu harus berbuat apa.

Jadi aku tetap duduk.

Itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan. Aku tidak pergi. Aku tidak bicara. Aku tidak menyentuhnya. Aku hanya tetap duduk di sana, di kursi di depan mejanya, sementara matahari sore pelan-pelan turun di belakangnya dan cahaya keemasan di lantai berubah menjadi jingga, lalu merah, lalu ungu.

Di luar dinding kaca buram, aku melihat bayangan Mbak Sarah berdiri dari mejanya. Bayangan itu bergerak ke pintu ruangan, berhenti, lalu berbalik dan berjalan ke ujung koridor. Aku mendengar bunyi kunci diputar. Mbak Sarah mengunci pintu kaca koridor lantai delapan belas dari luar.

Tidak ada yang akan masuk.


Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana. Mungkin setengah jam. Mungkin lebih.

Tangisnya mereda perlahan, seperti hujan yang berubah menjadi gerimis. Bahunya berhenti bergetar. Napasnya kembali teratur. Akhirnya ia mengangkat wajah, dan aku melihatnya.

Maskaranya luntur membentuk garis-garis hitam tipis di pipi. Matanya merah dan sembap. Hidungnya merah. Bibirnya yang merah bata sekarang hampir pudar sama sekali, hanya tersisa sedikit di sudut-sudutnya. Rambutnya kusut di satu sisi, menempel di pipi yang basah.

Dan ia tetap perempuan paling cantik yang pernah kulihat.

Aku tidak tahu bagaimana itu mungkin. Aku sudah memeriksanya dengan teliti selama empat tahun, dan aku masih tidak tahu. Mungkin karena untuk pertama kalinya aku melihatnya tanpa apa pun. Tanpa senyum yang dilatih, tanpa kalimat yang disusun, tanpa jarak yang diatur dengan sengaja. Hanya perempuan tiga puluh dua tahun yang menangis untuk suaminya di ruangan yang mulai gelap.

“Maaf,” katanya. Suaranya serak.

“Nggak apa-apa, Bu.”

“Saya enggak pernah nangis di kantor.”

“Saya nggak bakal bilang siapa-siapa, Bu.”

Ia tertawa kecil, basah, sengau. “Satu gedung pasti udah tahu. Sarah ngunci koridor. Itu enggak pernah kejadian.”

“Mbak Sarah juga nggak bakal bilang apa-apa, Bu.”

“Sarah enggak perlu bilang. Orang-orang bakal tahu justru karena Sarah enggak bilang apa-apa.” Ia mengusap pipinya dengan punggung tangan. Garis maskara di pipinya makin berantakan. Lalu ia menunduk menatap sapu tangan di pangkuannya, dan untuk pertama kalinya ia memakainya, mengusap matanya dengan sangat pelan, seolah-olah takut merusaknya.

“Kamu masih bawa ini,” katanya pelan.

“Selalu, Bu. Kebiasaan dari ibu saya.”

Ia menatapku dengan mata yang masih basah. Ada sesuatu di tatapannya. Sesuatu yang besar, berat, dan sangat hati-hati, seperti orang yang memegang gelas berisi air sampai penuh dan tidak ingin menumpahkan setetes pun. Aku tidak tahu apa itu. Aku hanya tahu bahwa aku belum pernah ditatap seperti itu oleh siapa pun.

“Kamu tidak bertanya,” katanya.

“Nanya apa, Bu?”

“Siapa yang saya tunggu.”

Aku menatap tanganku sendiri di atas lutut.

Aku tahu siapa yang ditunggunya. Aku melihatnya hari Jumat di lobi, dengan mawar merah dan mobil yang mengilap. Aku tidak perlu bertanya. Bertanya hanya akan membuat Bu Renata harus mengatakannya keras-keras, dan aku tidak ingin mendengarnya keras-keras. Lebih baik aku tahu dengan diam, seperti mengetahui saldo akhir tanpa perlu membacakannya di depan semua orang.

“Itu bukan urusan saya, Bu,” kataku.

Bu Renata tidak menjawab. Ia hanya menatapku dengan tatapan berat dan hati-hati itu selama beberapa detik lagi. Lalu ia menunduk, mengambil pulpen merah dari mejanya, dan menarik halaman pertama rincian klaim yang sudah basah di bagian tengah.

Di kolom persetujuan, yang selama tiga tahun kosong, ia menulis tanda tangannya. Satu goresan miring. Tinta merah.

“Disetujui,” katanya. “Bukan dipotong dari tunjangan. Saya yang bayar. Tutup klaimnya, Bima. Hari ini.”

“Bu, Ibu nggak perlu—”

“Saya perlu.” Ia menyerahkan kertas itu kepadaku. Matanya masih merah, tapi suaranya sudah kembali, sedikit. “Klaim ini udah tiga tahun yatim. Udah waktunya ada yang ngakuin.”

Aku menerima kertas itu. Tanda tangannya masih basah. Tinta merahnya sedikit luntur di satu sisi, terkena air mata yang jatuh sebelumnya.

“Baik, Bu,” kataku.

Aku berdiri. Ia tidak berdiri. Aku berjalan ke pintu, dan saat tanganku menyentuh gagang pintu, aku berhenti. Aku tidak berbalik.

“Bu.”

“Hm.”

“Di kuitansinya... depositnya masih bisa dipakai. Buat kredit reservasi. Atas nama Pak Hendra.”

Di belakangku, Bu Renata tidak menjawab.

“Saya cuma pengin Ibu tahu, Bu,” kataku. “Itu aja.”

Aku membuka pintu dan keluar.

Koridor lantai delapan belas sudah gelap. Hanya lampu-lampu kuning di dinding yang menyala. Mbak Sarah duduk di mejanya dengan tablet di pangkuan, dan saat aku lewat, ia mengangkat wajahnya dan menatapku. Tidak dengan wajah datar. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Mbak Sarah menatapku dengan sesuatu yang mirip dengan kebaikan.

Ia berdiri, berjalan ke pintu kaca koridor, dan membuka kuncinya untukku.

“Terima kasih sudah tetap duduk,” katanya pelan.

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya mengangguk dan masuk ke lift.

Di dalam lift, sendirian, menatap bayanganku di dinding yang mengilap, aku menyadari bahwa sapu tangan kotak-kotak biru itu tidak kembali kepadaku. Ia masih menggenggamnya. Ia menggenggamnya dengan dua tangan, di pangkuannya, saat aku pergi.

Aku tidak keberatan.

Aku punya banyak di kos. Ibu membelikan selusin setiap Lebaran.

Tapi entah kenapa, aku berharap sapu tangan yang itu, yang satu itu, tidak pernah ia kembalikan.

Di lantai tujuh, Dodi sudah menunggu di depan lift dengan dua gelas kopi sachet di tangan. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menyodorkan satu gelas kepadaku, dan kami berdiri berdua di depan lift yang menutup, minum kopi sachet yang terlalu manis, sementara lantai tujuh mulai kosong dan matahari sudah sepenuhnya tenggelam di balik gedung-gedung Sudirman.

Aku menutup klaim EXP-2023-0712 pukul enam lewat empat belas menit.

Status: Disetujui.

Setelah tiga tahun, empat bulan, dan sembilan hari, klaim itu akhirnya tidak yatim lagi.