Chapter Seven
Satrio
POV: Renata
Satrio Hadikusumo memilih restoran di lantai lima puluh enam sebuah hotel di SCBD, dengan dinding kaca dari lantai ke langit-langit dan pemandangan Jakarta yang berkelip seperti papan sirkuit raksasa.
Tentu saja ia memilih tempat itu. Satrio selalu memilih tempat yang tinggi, karena di tempat yang tinggi orang-orang merasa kecil, dan orang yang merasa kecil lebih mudah dibuat terkesan.
Aku datang pukul tujuh lewat dua belas. Terlambat dua belas menit, dengan sengaja. Aku memakai gaun hitam selutut tanpa lengan dengan potongan leher lurus, satu gelang emas tipis, dan anting mutiara kecil peninggalan nenekku. Rambutku kugerai dengan gelombang yang lebih besar dari biasanya. Bibirku tetap merah bata. Aku tidak pernah mengganti warna bibirku untuk siapa pun.
Saat pelayan mengantarku ke meja, aku memperhatikan apa yang selalu terjadi. Dua laki-laki di meja dekat jendela berhenti bicara. Seorang perempuan muda yang sedang memotret makanannya menurunkan ponsel. Pelayan yang membawakan nampan anggur melambat setengah langkah. Itu informasi. Aku mencatatnya seperti mencatat suhu udara, lalu mengabaikannya.
Satrio sudah berdiri sebelum aku sampai. Ia memakai setelan abu-abu gelap tanpa dasi, kemeja putih dengan dua kancing atas terbuka, dan jam tangan yang harganya cukup untuk membiayai kuliah seluruh angkatan di kampus Depok itu. Rambutnya disisir ke belakang dengan rapi, sedikit beruban di pelipis, dan uban itu membuatnya terlihat lebih mahal, bukan lebih tua. Ia tahu itu. Ia tidak pernah mewarnainya.
“Renata,” katanya. Ia mencium pipiku, kiri dan kanan, dan tangannya menyentuh pinggangku dengan ringan, tepat di titik yang benar, selama waktu yang benar. “Kamu terlambat dua belas menit.”
“Macet.”
“Kamu tidak pernah terlambat karena macet. Kamu terlambat karena kamu ingin aku menunggu.” Ia menarik kursiku. “Dan aku menunggu. Jadi kita sama-sama dapat yang kita mau.”
Aku duduk. Ia duduk. Pelayan menuangkan air.
“Kamu cantik sekali malam ini,” katanya. “Seluruh ruangan ini berhenti bernapas waktu kamu masuk. Aku menghitung. Tujuh orang.”
“Delapan. Kamu lupa pelayan anggur.”
Satrio tertawa. Tawanya sudah dilatih bertahun-tahun di ruang rapat dan lapangan golf, cukup keras untuk terdengar tulus dan cukup pelan untuk tidak mengganggu meja lain. “Aku lupa kamu selalu menghitung lebih teliti dariku.”
Ia memesan untuk kami berdua tanpa bertanya. Tiram dari Prancis, steak wagyu tingkat kematangan medium rare untukku, karena ia ingat aku tidak suka daging yang terlalu matang. Ia ingat. Satrio selalu ingat hal-hal seperti itu. Ia mengingatnya dengan cara yang sama seperti bankir mengingat suku bunga: karena itu berguna.
Selama dua jam berikutnya, Satrio melakukan semuanya dengan benar.
Ia bertanya tentang pekerjaanku dan mendengarkan jawabanku dengan wajah yang sangat tertarik. Ia bercerita tentang kesepakatan merger yang baru ia tutup di Singapura, dengan cukup detail untuk terdengar mengesankan dan cukup ringkas untuk tidak terdengar menyombong. Ia menyinggung Hendra sekali, dengan suara yang dipelankan dan mata yang sedikit menunduk, lalu dengan halus mengalihkan pembicaraan sebelum suasananya menjadi berat. Ia membuat tiga lelucon, dan ketiganya lucu. Ia menyentuh punggung tanganku dua kali, masing-masing selama dua detik, tidak lebih.
Aku mengenali semua langkah itu. Aku bisa menyebutkan nama setiap langkahnya. Sebagian besar aku sendiri yang mengajarinya, tujuh tahun lalu, waktu kami masih pacaran dan masih menganggap cinta sebagai permainan catur di antara dua orang yang sama-sama pandai.
Dan aku bosan.
Aku menyadarinya saat steak datang, saat Satrio memotongkan sepotong kecil dari piringnya sendiri dan meletakkannya di piringku dengan berkata, “Coba punyaku. Ini lebih enak.” Itu langkah yang sangat bagus. Langkah yang hangat, akrab, sedikit posesif. Lima tahun lalu aku akan tersenyum dan memakannya.
Malam ini aku menatap potongan daging itu dan memikirkan sebutir telur balado yang kutinggalkan di sisi piring kantin, di bagian yang paling dekat dengan seseorang yang tidak tahu bahwa itu bukan kebetulan.
“Kamu tidak makan,” kata Satrio.
“Aku udah kenyang.”
“Kamu baru makan tiga suap.” Ia menyipitkan mata sedikit, dengan cara yang dulu kuanggap menarik. “Kamu memikirkan sesuatu.”
“Kerjaan.”
“Bukan.” Ia menuangkan anggur ke gelasku yang masih penuh. “Kamu memikirkan anak AP itu.”
Aku mengangkat gelasku dan meminum seteguk, perlahan, tanpa mengalihkan pandangan dari wajahnya. “Siapa yang ngasih tahu kamu?”
“Renata. Seluruh Sudirman tahu. Aku punya tiga mantan analis yang sekarang kerja di Wiraguna. Mereka mengirimiku email itu hari Senin, dan stiker itu hari Kamis.” Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan layarnya. Itu stiker yang kulihat di grup WhatsApp Sarah: Bima berlutut di lantai marmer lobi, memegang sepatuku, dengan efek kilau berbintang dan tulisan merah muda. Pangeran Lem Sepatu.
Satrio tertawa lagi, lebih pelan kali ini.
“Aku harus mengakui, ini lucu,” katanya. “Anak magang yang memperbaiki sepatumu di tengah lobi. Sangat romantis. Sangat sinetron.”
“Dia bukan anak magang. Dia staf AP. Udah dua tahun.”
“Dua tahun, dan masih staf.” Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku. “Renata. Aku tidak cemburu. Aku hanya terhibur. Aku sudah menunggumu tiga tahun dengan sabar. Aku bisa menunggu kamu bosan dengan mainan barumu.”
“Dia bukan mainan.”
“Lalu apa?”
Aku tidak menjawab. Bukan karena aku tidak bisa. Karena aku tidak tahu jawabannya, dan aku tidak pernah memberikan jawaban yang belum kuketahui kepada Satrio Hadikusumo.
Satrio membaca diamku dan tersenyum, dengan senyum orang yang baru saja mengira ia menang.
“Kamu tahu apa yang selalu kusukai darimu?” katanya. “Kamu tidak pernah kehilangan kendali. Bahkan di pemakaman. Bahkan sekarang. Kamu duduk di sini, di restoran paling mahal di Jakarta, dengan laki-laki yang mengenalmu lebih baik dari siapa pun, dan kamu masih menghitung berapa orang yang menatapmu saat kamu masuk.”
“Delapan,” kataku.
“Delapan,” ulangnya, puas. “Itu Renata yang aku kenal.”
Ia benar. Itu Renata yang ia kenal. Itu juga Renata yang mulai membuatku lelah.
Pukul sepuluh malam, aku duduk di kursi belakang mobilku di jalan tol dalam kota, menatap lampu-lampu jalan yang lewat seperti angka yang bergulir di layar.
Satrio mengantarku sampai lobi hotel dan mencium pipiku lagi, kiri dan kanan. Ia bilang, Minggu depan lagi?, dan aku bilang, Kita lihat, dan ia tersenyum karena ia menganggap kita lihat sebagai iya yang malu-malu. Dulu memang begitu artinya. Sekarang aku sendiri tidak tahu.
Pak Rahmat, sopirku selama enam tahun, menyetir dengan tenang dan diam. Radio mobil memutar lagu lama dengan volume sangat pelan. Di luar, Jakarta basah oleh gerimis yang tidak sampai menjadi hujan.
Aku membuka ponsel. Aku membuka direktori karyawan internal, aplikasi yang biasanya hanya kupakai untuk mencari nomor kepala divisi. Aku mengetik Bima. Ada tiga hasil. Bima Arya dari Logistik. Bima Saputra dari Sales. Bima Wicaksono dari Accounts Payable, dengan foto profil yang jelas diambil di studio foto murah: latar belakang biru, kemeja putih, dasi hitam, wajah yang terlalu serius, telinga yang untungnya tidak merah.
Aku menyalin nomornya. Aku membuka aplikasi pesan. Aku mengetik.
Berapa total tagihan vendor yang jatuh tempo minggu depan?
Aku menatap pesan itu. Itu pertanyaan yang sah. Itu pertanyaan kerja. CFO menanyakan angka kepada staf AP pada pukul sepuluh malam hari Jumat adalah hal yang bisa saja terjadi, walaupun belum pernah terjadi dalam sejarah Wiraguna Group. Aku tidak sedang melakukan apa pun yang aneh.
Aku menekan kirim.
Lalu, karena aku perempuan tiga puluh dua tahun yang berpengalaman dan tidak menatap ponselnya menunggu balasan dari laki-laki, aku membalik ponsel ke pangkuanku dan menatap ke luar jendela.
Ponselku bergetar setelah empat puluh tiga detik.
Aku tidak menghitung. Layarnya menunjukkan waktu kirim dan waktu terima, dan aku kebetulan melihat keduanya.
Selamat malam, Bu.
Total tagihan vendor jatuh tempo periode 2–6 November: Rp18.462.750.000 (delapan belas miliar empat ratus enam puluh dua juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah), dari 14 vendor.
Rincian ada di file Rekon_AP_Okt_v3.xlsx, folder Shared/Finance/AP/2026/Q4, sheet “Jatuh Tempo”, baris 12 sampai 25. Nomor referensi dokumen AP-REC-1026-0447.
Vendor terbesar PT Lintas Kargo Nusantara, Rp4.210.000.000, jatuh tempo Rabu. Sudah saya cek kesesuaian PO dan GR-nya. Aman, Bu.
Mohon maaf kalau Ibu perlu angka ini sekarang tapi saya baru bisa membalas 43 detik kemudian. Tadi saya sedang menyetrika.
Aku membaca pesan itu sekali.
Lalu aku membacanya lagi.
Pada bacaan ketiga, aku sampai di kalimat terakhir, dan sesuatu di dadaku pecah seperti gelembung sabun. Aku tertawa. Aku tertawa sendirian di kursi belakang mobil, di jalan tol dalam kota, dengan gaun hitam dan anting mutiara nenekku, tertawa sampai aku harus menutup mulut dengan tangan dan Pak Rahmat melirikku dari kaca spion dengan alis terangkat.
“Ibu baik-baik saja?” tanya Pak Rahmat.
“Baik, Pak.”
“Ibu ketawa.”
“Iya, Pak.”
Pak Rahmat diam sebentar, lalu kembali menatap jalan. “Sudah lama Ibu nggak ketawa di mobil,” katanya pelan, seperti bicara kepada setir.
Aku berhenti tertawa.
Pak Rahmat sudah menyetir untukku sejak sebelum menikah. Ia mengantarku ke rumah sakit tiga tahun lalu, pukul enam pagi, dengan kecepatan yang membuatku tidak berani bernapas. Ia mengantarku ke pemakaman. Ia mengantarku dari pemakaman. Selama tiga tahun ia mengantarku pulang dari kantor pukul sembilan, sepuluh, sebelas malam, dan tidak pernah sekali pun bertanya kenapa aku tidak pulang lebih cepat.
Aku menatap pesan di ponselku. Tadi saya sedang menyetrika. Siapa yang menyetrika pukul sepuluh malam hari Jumat? Siapa yang menuliskan nominal dengan angka dan huruf sekaligus di pesan WhatsApp, seperti mengisi cek?
Aku mengetik balasan.
Terima kasih. Kamu menyetrika apa jam segini?
Tiga puluh satu detik.
Kemeja untuk Senin, Bu. Senin tutup buku. Saya mau pakai yang biru tua.
Kenapa yang biru tua?
Sembilan detik. Lalu satu menit. Lalu dua menit. Titik-titik kecil di layar muncul, menghilang, muncul lagi. Aku membayangkannya duduk di kamar kosnya, di depan papan setrika, menatap ponsel dengan telinga yang memerah, mengetik dan menghapus dan mengetik lagi.
Akhirnya pesan itu masuk.
Karena warnanya tenang, Bu. Saya rasa Senin besok akan jadi hari yang berat untuk Ibu.
Aku menatap kalimat itu lama sekali.
Lalu aku mengetik: Selamat malam, Bima.
Selamat malam, Bu. Semoga Ibu tidur nyenyak.
Aku mematikan layar ponsel dan menyandarkan kepala di jendela mobil. Gerimis di luar sudah berhenti. Lampu-lampu jalan bergulir lewat, satu per satu, dan aku memikirkan dua laki-laki. Satu menghabiskan dua jam di lantai lima puluh enam untuk menunjukkan betapa baik ia mengenalku. Satu lagi menghabiskan empat puluh tiga detik untuk menjawab pertanyaan yang tidak benar-benar ingin kutanyakan, lalu memilih kemeja berwarna tenang karena ia tahu hari Senin-ku akan berat.
Aku hanya pernah menyebut tutup buku sekali, di kantin, sambil lalu.
Senin pagi, kepalaku sudah berdenyut sejak subuh.
Selalu begitu. Hari pertama tutup buku, sejak aku masih staf akuntansi junior di firma audit, migrainku datang seperti tamu yang tidak pernah diundang tapi selalu tahu jadwal. Biasanya dimulai dari belakang mata kiri, lalu menjalar ke pelipis, lalu menetap di sana sampai sore seperti paku yang ditancapkan pelan-pelan.
Aku tiba di lantai delapan belas pukul tujuh lewat lima puluh dengan kacamata hitam yang baru kulepas di depan lift. Rapat tutup buku dijadwalkan pukul delapan di ruang rapat Saba, ruang berdinding kaca bening di tengah koridor, dengan sepuluh lampu panel LED di langit-langit yang terangnya seperti lampu ruang operasi.
Aku membenci ruangan itu setiap hari Senin tutup buku.
Aku membuka pintunya, sudah bersiap memicingkan mata.
Ruangan itu redup.
Bukan gelap. Redup. Dari sepuluh lampu panel di langit-langit, hanya empat yang menyala, empat lampu di sisi yang jauh dari jendela. Sisanya mati. Tirai jendela diturunkan setengah, sehingga cahaya pagi Sudirman masuk dengan lembut, keabu-abuan, seperti cahaya di kamar pada pukul enam pagi.
Di kursiku, kursi di ujung meja yang selalu kududuki, ada tiga benda.
Sebungkus obat sakit kepala dari apotek, yang biasa, bungkus hijau putih, dua tablet.
Segelas air hangat dengan tutup kertas, uapnya masih tipis mengepul.
Dan sebuah termos kecil berbahan baja tahan karat, berwarna perak polos, seukuran botol minum. Aku mengangkatnya. Termos itu hangat. Aku membuka tutupnya, dan wangi teh melati dengan madu langsung naik ke hidungku.
Aku menatap bagian dalam tutup termos itu. Karet penyegelnya putih bersih. Baru. Belum pernah dipakai.
Aku berdiri di ruang rapat yang redup itu, memegang termos perak, dan selama beberapa detik aku lupa bahwa kepalaku sedang dipaku.
Tidak ada kartu. Tidak ada nama. Tidak ada catatan apa pun.
Di saklar lampu dekat pintu, sebuah kertas tempel kuning kecil ditempelkan dengan rapi, sejajar dengan tepi saklar. Tulisannya kecil, rapi, nyaris seperti cetakan.
Lampu sisi jendela sengaja dimatikan. Mohon tidak dinyalakan sampai pukul 12.00. Terima kasih.
Tidak ada nama di situ juga.
Pintu ruang rapat terbuka. Pak Darto masuk dengan laptop di pelukan, diikuti dua kepala divisi lain. Pak Darto mendongak ke langit-langit dengan wajah panik.
“Lho, Bu, lampunya rusak? Saya panggil GA, Bu? Mungkin korsleting, Bu. Kemarin di lantai tujuh juga ada yang kedip-kedip—”
“Jangan,” kataku.
Pak Darto berhenti dengan tangan sudah setengah terulur ke saklar.
“Biarin kayak gitu, Pak Darto. Makasih.”
“Tapi, Bu, gelap—”
“Pak Darto bisa baca laporan Bapak pakai empat lampu?”
Pak Darto menatap laptopnya. “Bisa, Bu.”
“Kalau gitu biarin.”
Ia menurunkan tangannya pelan-pelan dan duduk, melirik saklar itu dengan curiga seperti melirik ular yang sedang tidur. Lalu matanya jatuh ke kertas tempel kuning, dan ia mengerutkan dahi, dan aku melihatnya mengenali sesuatu di tulisan tangan itu. Pak Darto menandatangani lembar persetujuan dari staf yang sama setiap hari selama dua tahun. Ia mengenali tulisan itu sebaik ia mengenali tanda tangannya sendiri.
Ia membuka mulut. Aku menatapnya. Ia menutup mulut.
“Kita mulai,” kataku.
Aku duduk. Aku meminum dua tablet obat itu dengan air hangat. Lalu, saat Pak Darto mulai membacakan ringkasan utang usaha bulan Oktober, aku menuang teh melati dengan madu dari termos perak ke dalam tutupnya yang berfungsi sebagai cangkir, dan meminumnya pelan-pelan.
Rasanya persis seperti teh yang dulu kubawa ke ruang kelas di Depok. Manisnya sama. Takaran madunya sama. Seseorang mengingatnya dengan sangat teliti.
Pukul sepuluh, migrainku mereda.
Pukul sebelas, aku menyadari bahwa aku sudah menyelipkan rambut ke belakang telinga kiri sebanyak enam kali, dan tidak satu pun dari angka yang kami bahas cukup penting untuk itu.
Setelah rapat, aku memanggil Sarah ke ruanganku.
“Siapa yang nyiapin ruang Saba tadi pagi?”
Sarah menatapku dengan wajah datarnya yang sempurna. “Saya tidak tahu, Bu. Waktu saya datang pukul tujuh lewat lima belas, ruangannya sudah seperti itu.”
“Pak Yanto di lobi?”
“Saya sudah tanya, Bu. Katanya ada karyawan yang naik pukul enam lewat empat puluh lima. Pakai kartu akses biasa. Pak Yanto tidak mau menyebutkan namanya.”
“Kenapa enggak mau?”
“Katanya, Bu, karena orangnya minta dirahasiakan. Dan karena orangnya sepupunya.”
Aku menatap Sarah. Sarah menatapku.
“Bu,” katanya, dengan suara yang tetap datar tapi entah bagaimana terdengar sangat penuh pengertian. “Apakah Ibu ingin saya mencari tahu lebih lanjut?”
Aku menatap termos perak di mejaku. Termos itu kubawa dari ruang rapat. Aku tidak tahu kenapa aku membawanya. Masih ada sisa teh di dalamnya, sudah tidak terlalu hangat.
“Enggak perlu,” kataku. “Saya udah tahu.”
Sarah mengangguk dan berbalik ke pintu. Di ambang pintu ia berhenti, seperti yang mulai sering ia lakukan akhir-akhir ini.
“Bu.”
“Hm.”
“Ibu tidak memakai kacamata hitam waktu keluar dari ruang rapat tadi. Biasanya Ibu pakai sampai jam dua.”
Lalu ia keluar.
Aku memutar kursi ke arah jendela dan menatap Sudirman di siang hari, yang berwarna abu-abu terang dan bising dan sama sekali tidak romantis. Di pangkuanku, termos perak itu masih hangat sedikit.
Satrio ingat bahwa aku tidak suka daging yang terlalu matang. Ia mengingatnya tujuh tahun lalu, ketika aku memberitahunya, dan ia menyimpannya seperti kartu as di dalam lengan baju.
Bima Wicaksono ingat takaran madu di termos yang hanya ia lihat empat kali, empat tahun lalu. Ia mengingat bahwa karetnya aus. Dan ia tidak pernah memberitahuku bahwa ia ingat. Ia hanya menaruhnya di kursiku, mematikan enam lampu, menempelkan kertas kecil di saklar, lalu turun kembali ke lantai tujuh sebelum siapa pun melihatnya.
Satrio menginginkan aku tahu betapa baik ia mengenalku.
Bima tidak menginginkan apa pun.
Dan itu, aku mulai menyadari, adalah hal yang jauh lebih berbahaya.
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah
- 7 Satrio reading
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung
- 10 Taruhan Pantry
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu
- 14 Nomor untuk Konsultasi
- 15 Pengajian 17 November
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf
- 30 Purwokerto
- 31 Restu
- 32 Terkirim
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong