Chapter Nine
Cincin di Kalung
POV: Renata
Aku terbangun di kamarku pukul tujuh pagi hari Kamis tanpa ingat bagaimana aku sampai di sana.
Aku ingat lantai tujuh. Aku ingat kursi rusak milik seseorang bernama Dodi, faktur kedua puluh enam sampai empat puluh delapan, dan seorang laki-laki yang tertidur di atas mejanya dengan kacamata miring dan bahu yang menggigil pelan karena AC. Aku ingat menyampirkan blazerku di punggungnya. Aku ingat masuk ke mobil.
Aku tidak ingat turun dari mobil.
“Ibu ketiduran di jalan,” kata Bi Asih, asisten rumah tanggaku, saat aku turun ke dapur dengan rambut kusut dan kemeja sutra kemarin yang belum kuganti. Ia menyodorkan secangkir teh. “Pak Rahmat nggak tega bangunin. Ibu ditungguin di mobil sampai setengah tiga, terus bangun sendiri, jalan ke kamar kayak orang ngelindur.”
“Saya ketiduran di mobil?”
“Iya, Bu. Pak Rahmat sampai cerita ke saya. Katanya, ‘Bi, Ibu tidur. Tidur beneran. Ngorok sedikit.’”
“Saya enggak ngorok.”
“Kata Pak Rahmat sedikit, Bu.”
Aku menyesap teh. Bi Asih tidak menambahkan madu. Bi Asih tidak pernah menambahkan madu, karena aku tidak pernah memintanya. Aku baru menyadari bahwa teh pagi di rumahku selama ini terasa ada yang kurang, dan aku baru tahu apa yang kurang itu hari Senin kemarin, di ruang rapat yang lampunya diredupkan.
“Bi,” kataku. “Mulai besok, tehnya pakai madu. Satu sendok teh.”
Bi Asih menatapku seperti aku baru saja mengumumkan akan pindah agama. “Madu, Bu?”
“Satu sendok teh.”
“Sejak kapan Ibu pakai madu?”
Sejak umur dua puluh delapan, di ruang kuliah lantai dua dengan AC yang separuh rusak. Lalu berhenti, karena Hendra tidak suka bau madu, dan aku berhenti melakukan banyak hal kecil yang tidak disukai Hendra tanpa ia pernah memintanya.
“Sejak hari ini,” kataku.
Sarah menyambutku di lantai delapan belas pukul sembilan dengan kantong plastik laundry yang digantung di gantungan baju.
“Bu. Ini diantar tadi pagi pukul tujuh lewat lima. Oleh Pak Yanto. Atas nama seseorang yang menolak disebut namanya tapi kita berdua tahu siapa.”
Di dalam kantong plastik bening itu tergantung blazer kremku. Disetrika. Bukan sekadar disetrika: setiap lipatan di bahu dan lengannya terlihat seperti baru keluar dari butik, dan kerahnya berdiri dengan sudut yang sempurna. Di gantungannya terikat sebuah label kertas kecil, ditulis dengan huruf rapi seperti cetakan.
Sutra campur wol. Suhu rendah, kain pelapis, 23 menit. Mohon jangan digantung di dekat AC.
Aku menatap label itu. Sarah menatapku.
“Bu,” katanya datar. “Ini lebih rapi dari hasil laundry langganan Ibu. Yang di Kemang. Yang satu potongnya seratus dua puluh ribu.”
“Terima kasih, Sarah.”
“Saya belum selesai, Bu.” Ia membuka tablet di tangannya. “Saya membatalkan dua rapat Ibu hari ini. Presentasi agensi kalender perusahaan pukul sepuluh, dan rapat vendor seragam karyawan pukul dua. Keduanya saya geser ke minggu depan.”
Aku berhenti di tengah jalan menuju ruanganku. “Saya enggak minta itu dibatalin.”
“Tidak, Bu.”
“Terus?”
“Pukul tujuh lewat lima, waktu blazer ini diantar, pengantarnya tidak langsung turun. Dia menunggu di lobi lantai delapan belas sampai saya datang pukul tujuh lewat lima belas. Dia bilang, dan saya kutip, ‘Mbak Sarah, maaf, saya bukan siapa-siapa, nggak berhak minta apa-apa. Tapi Bu Renata baru pulang kantor jam dua pagi. Kalau ada rapat hari ini yang bisa digeser tanpa ngerugiin perusahaan, mungkin… bisa dipertimbangkan.’”
Sarah menatap tabletnya, lalu menatapku.
“Lalu dia membungkuk dan turun lewat tangga darurat, Bu. Delapan belas lantai. Saya tidak tahu kenapa dia tidak pakai lift.”
Aku tahu kenapa. Lift jam tujuh pagi penuh dengan orang yang mengenalinya dari stiker.
“Kamu nurutin staf AP?”
“Saya menuruti akal sehat, Bu,” jawab Sarah. “Presentasi kalender bisa minggu depan. Vendor seragam bisa minggu depan. Dan Ibu, kalau saya boleh jujur, kelihatan seperti orang yang baru tidur empat jam.”
“Lima jam.”
“Empat setengah, Bu. Pak Rahmat yang bilang.”
Aku membuka mulut. Lalu menutupnya. Seluruh orang di hidupku tampaknya sedang bersekongkol, dan pusat persekongkolan itu duduk di lantai tujuh dengan kemeja biru tua dan telinga yang merah.
Aku masuk ke ruanganku dan menutup pintu. Aku menggantung blazer itu di balik pintu, jauh dari AC, karena labelnya berkata begitu. Lalu aku berdiri di depannya, menatapnya, dan menyadari bahwa aku sedang tersenyum seperti anak SMA yang baru dikirimi surat dari kakak kelas.
Aku menghentikan senyumku. Aku duduk. Aku membuka laptop.
Di layar, di kotak masuk, ada satu email dari alamat yang kukenal.
Dari: Lies Wiraguna
Subjek: Pengajian 17 November
Nduk, sehat? Seperti biasa, Mama mau mengadakan pengajian dan doa bersama untuk ulang tahun Hendra, tanggal 17 November, hari Selasa, di rumah Menteng. Yang ketiga. Mama harap kamu datang. Kalau bisa, ajak juga beberapa teman dari kantor, perwakilan tiap divisi seperti tahun lalu. Hendra dulu senang sekali kalau rumah ramai. Om Gunawan juga datang. Mama kangen kamu. Peluk, Mama.
Aku membacanya. Lalu aku memejamkan mata.
Ulang tahun Hendra. Yang ketiga tanpa Hendra. Tiga puluh sembilan tahun, kalau ia masih hidup.
Selama tiga tahun ini, Mama Lies tidak pernah membiarkan tanggal itu lewat begitu saja. Setiap tahun ia menggelar pengajian di rumah Menteng, rumah tempat Hendra dibesarkan, dengan nasi kuning dan rendang dan seratus orang tamu dan ustaz dari masjid dekat rumah. Tahun pertama aku datang dan duduk di pojok ruang tengah dengan kerudung hitam, dan tidak bisa bicara dengan siapa pun. Tahun kedua aku datang dan membantu di dapur sampai larut supaya tidak perlu bicara dengan siapa pun.
Tahun ini aku belum tahu.
Tanganku bergerak ke leher. Ke rantai emas tipis di bawah kerah. Ke cincin kecil di ujungnya.
Aku memutarnya di antara ibu jari dan telunjuk.
Lalu aku berhenti, karena aku teringat sesuatu dari tadi malam. Lantai tujuh. Lampu meja yang kuning. Aku duduk di kursi rusak dan memutar cincin ini, dan aku tidak sadar aku sedang melakukannya sampai seseorang di meja sebelah terdiam begitu lama sehingga kesunyiannya terasa seperti sentuhan.
Ia melihatnya.
Tentu saja ia melihatnya. Laki-laki itu melihat semuanya. Ia melihat bahwa aku tidak suka tempe, bahwa aku menguap di antrean, bahwa ada sambal di sudut bibir kiriku, bahwa aku migrain setiap hari pertama tutup buku. Ia pasti melihat cincin ini sejak minggu pertama. Mungkin sejak dua tahun lalu, dari balik pilar di lobi, saat aku turun dari mobil pada hari-hari ketika kerahku tidak cukup tinggi.
Dan ia tidak pernah bertanya.
Pukul dua belas, Tasya datang ke kantor tanpa pemberitahuan.
Ia muncul di lantai delapan belas dengan kacamata hitam besar, rok tenis putih, sepatu kets yang lebih mahal dari gaji bulanan Sarah, dan kamera kecil di tangan. Sarah menghadangnya di depan meja resepsionis seperti penjaga gawang.
“Mbak Tasya. Kameranya dimatikan.”
“Mbak Sarah, aku cuma mau bikin konten ‘A Day in My Sister’s Office’—”
“Kameranya dimatikan, Mbak Tasya.”
Tasya mematikan kameranya dengan wajah cemberut dan menerobos masuk ke ruanganku tanpa mengetuk. Ia langsung menjatuhkan diri ke sofa di pojok, menaikkan kakinya, dan menatapku dari balik kacamata hitam.
“Kak. Aku bawain salad. Yang kamu suka. Yang dressing-nya dipisah.”
“Makasih. Kakinya turunin.”
Ia menurunkan kakinya, lalu langsung menaikkannya lagi. “Kak. Aku mau ngomong serius.”
“Kamu enggak pernah ngomong serius.”
“Kali ini serius.” Ia melepas kacamata hitamnya. “Mama Lies telepon aku tadi pagi. Katanya kamu belum balas email soal pengajian Mas Hendra.”
Aku menusuk selada dengan garpu. “Baru tadi pagi emailnya masuk.”
“Kak. Kamu tahu maksudku.” Tasya duduk tegak. Untuk pertama kalinya sejak masuk, wajahnya tidak sedang bercanda. “Udah tiga tahun. Tiap tahun kamu dateng ke pengajian itu terus kamu sembunyi di dapur. Terus pulangnya kamu nggak ngomong sama siapa-siapa tiga hari. Terus kamu kerja sampai jam sebelas malam tiap hari selama sebulan, kayak kamu lagi ngehukum diri sendiri.”
“Saya tidak menghukum diri sendiri.”
“Kamu pakai ‘saya’ lagi.”
Aku meletakkan garpu.
“Kak,” kata Tasya, lebih pelan. “Mas Hendra itu orang baik. Aku sayang sama Mas Hendra. Dia satu-satunya pacar Kakak yang mau nemenin aku nonton konser K-pop dan ikut nyanyi walaupun suaranya fals. Tapi Mas Hendra udah nggak ada, Kak. Dan kamu masih di sini. Masih tiga puluh dua. Masih cantik banget sampai aku kadang kesel.”
“Tasya.”
“Aku serius! Kamu lembur sampai jam dua pagi aja kulit kamu masih glowing. Aku skincare dua belas langkah kalah sama kamu yang cuma cuci muka pakai sabun bayi.” Ia menghela napas. “Kamu nggak boleh terus begini. Kamu harus move on.”
“Aku udah move on.”
“Kamu masih pakai cincin Mas Hendra di leher.”
Aku diam.
Tasya bangkit dari sofa, berjalan ke mejaku, dan berdiri di depanku dengan tangan di pinggang. “Kak. Aku nggak minta kamu lupa sama Mas Hendra. Aku cuma minta kamu berhenti hidup kayak kamu yang mati.”
Lalu, sebelum aku bisa menjawab, matanya bergeser ke balik pintu. Ke blazer krem yang tergantung di sana dalam kantong plastik laundry, dengan label kertas kecil yang menjuntai dari gantungan.
Tasya menyipitkan mata. Ia berjalan ke pintu dan membaca label itu.
“Sutra campur wol,” bacanya keras-keras. “Suhu rendah, kain pelapis, dua puluh tiga menit. Mohon jangan digantung di dekat AC.”
Ia berbalik menatapku dengan mulut terbuka lebar.
“KAK.”
“Bukan apa-apa, ih.”
“KAK. SIAPA YANG NYETRIKA BLAZER KAMU DUA PULUH TIGA MENIT?”
“Tasya, pelanin suara kamu.”
“Ini dia? Ini cowok yang nulis surat? Yang benerin sepatu? Pangeran Lem Sepatu?” Ia mencengkeram label itu seperti mencengkeram tiket konser. “Kak, dia NYETRIKA BAJU KAMU? Kamu udah sampai tahap dia nyetrika baju kamu?”
“Dia ketiduran di lantai tujuh. Aku pinjemin blazer soalnya AC-nya dingin. Dia balikin. Itu aja.”
“Kamu minjemin blazer ke dia? Jam berapa?”
Aku tidak menjawab.
“Kak. Jam berapa?”
“Jam satu pagi.”
Tasya menjerit tanpa suara. Ia menutup mulutnya dengan dua tangan dan melompat-lompat kecil di tempat, persis seperti waktu umurnya dua belas tahun dan mendapat tiket konser boyband pertamanya.
Pukul satu lewat sepuluh, aku mengantar Tasya turun ke lobi, karena kalau tidak diantar ia akan berkeliling ke seluruh lantai mencari Pangeran Lem Sepatu dengan kamera menyala.
Lift eksekutif terbuka di lobi. Kami melangkah keluar.
Dan di sana, di dekat pilar samping pintu putar, berdiri seorang laki-laki tinggi berkemeja biru tua, sedang bicara dengan satpam lobi. Di antara mereka ada kantong plastik berisi sesuatu yang terbungkus daun pisang.
Aku berhenti. Tasya, yang berjalan di sebelahku, ikut berhenti karena aku berhenti.
“Kak?”
Bima tidak melihat kami. Pak Yanto sedang menyerahkan kantong plastik itu kepadanya sambil bicara cepat dalam bahasa Jawa dengan wajah sangat bahagia, dan Bima menerimanya dengan dua tangan seperti menerima sesuatu yang rapuh. Dari jarak sepuluh meter, aku mendengar sepotong kata: mendoan.
“Kak,” bisik Tasya. Tangannya mencengkeram lenganku. “Kak. Itu dia?”
Aku tidak menjawab.
Tasya menatap Bima. Tasya menatapnya dari ujung kepala sampai ujung sepatu pantofel yang solnya pernah lepas tiga kali, dengan kecepatan dan ketelitian seorang content creator yang sudah meninjau ratusan wajah untuk thumbnail. Lalu ia menarik napas sangat dalam.
“Ya Allah,” bisiknya. “Bahunya.”
“Tasya.”
“Kak. Bahunya. Lihat bahunya. Itu bukan bahu gym. Itu bahu orang yang ngangkat karung beras dari kecil.” Cengkeramannya di lenganku makin kuat. “Dan tingginya. Dan kacamatanya. Kak, dia kelihatan kayak pemeran utama drama Korea yang belum tahu dia pemeran utama.”
“Udah, ayo pergi.”
“Kak, dia nggak tahu dia ganteng. Lihat cara dia berdiri. Dia sama sekali nggak tahu.”
Aku menarik Tasya ke arah pintu putar di sisi lain lobi, menjauh dari pilar. Tapi saat kami melewati tengah lobi, Bima menoleh. Mungkin karena mendengar heels-ku. Mungkin karena Pak Yanto menyikutnya. Ia menoleh, melihatku, dan wajahnya berubah dari biasa menjadi terkejut menjadi merah, berurutan, dalam waktu kurang dari dua detik.
Ia membungkuk sedikit dari jauh. Sopan. Kaku. Seperti murid yang melihat kepala sekolah di pasar.
Aku mengangguk sekali, singkat, profesional, dan terus berjalan.
Tasya, di sebelahku, melambaikan tangan dengan sangat bersemangat ke arahnya sambil tersenyum lebar.
“Tasya.”
“Apa? Sopan santun, Kak.”
Aku mendorongnya masuk ke pintu putar.
Sore itu, setelah semua rapat selesai dan Sarah pulang dan lantai delapan belas kembali sunyi, aku duduk sendirian di ruanganku dan membalas email Mama Lies.
Ma, Renata datang. Renata ajak perwakilan divisi seperti biasa. Peluk, Renata.
Aku mengirimnya. Lalu aku duduk diam, menatap blazer di balik pintu.
Ada sesuatu yang harus kuakui kepada diriku sendiri, dan aku sudah menundanya sejak hari Senin pukul 09.14.
Sejak email itu datang, aku sudah menguji Bima Wicaksono empat kali. Aku menyentuh lengannya dua detik di ruanganku. Aku menyindirnya empat kali di ruang Pak Darto. Aku mengusir enam orang dari meja kantin untuk duduk berhadapan dengannya di depan dua ratus orang. Aku mengirim pesan pukul sepuluh malam hari Jumat dengan pertanyaan yang tidak benar-benar ingin kutanyakan.
Aku tahu apa yang sedang kulakukan. Aku sudah melakukannya sejak umur tujuh belas. Menarik, lalu melepas. Mendekat, lalu menjauh. Membiarkan laki-laki itu memikirkan dua detik sentuhan selama seminggu. Itu permainan yang sangat kukuasai. Aku bisa memainkannya sambil tidur.
Dan aku memainkannya dengan Bima karena ia aman.
Itu kebenaran yang tidak enak. Laki-laki itu aman. Ia tidak akan menuntut apa pun. Ia tidak akan memintaku makan malam di lantai lima puluh enam. Ia tidak akan bilang aku bisa menunggu kamu bosan dengan mainan barumu. Ia hanya akan duduk di lantai tujuh dan menerima apa pun yang kuberikan, dua detik atau dua jam atau tidak sama sekali, dan berterima kasih untuk itu, dan pulang untuk menyetrika kemeja.
Dengan Bima, aku bisa merasakan sesuatu tanpa harus memutuskan apa pun. Aku bisa merasa hidup lagi, sedikit, tanpa harus melepaskan cincin di leherku.
Itu tidak adil.
Itu sangat, sangat tidak adil. Untuk Bima, yang empat tahun lalu membuat sapu tangannya basah karena teh yang tumpah dari termosku, dan dua tahun lalu melamar ke perusahaan ini karena namaku ada di halaman empat belas. Untuk Hendra, yang menungguku tanpa pernah bertanya siapa yang sedang kutunggu, dan pergi sebelum aku sempat bilang bahwa aku sudah berhenti menunggu.
Dan mungkin, kalau aku jujur, tidak adil juga untuk diriku sendiri.
Aku menyentuh cincin di bawah kerahku. Aku tidak memutarnya. Aku hanya menggenggamnya, seperti menggenggam sesuatu yang belum siap kulepaskan.
Tujuh belas November. Tiga minggu lagi.
Di balik pintu, blazer krem itu tergantung dengan tenang, jauh dari AC, seperti yang diminta labelnya. Lipatannya sempurna. Kerahnya berdiri dengan sudut yang tepat. Tidak ada satu kerutan pun.
Seseorang menyetrikanya selama dua puluh tiga menit pukul dua pagi, setelah mengantarkanku pulang dengan jarak satu jengkal yang tidak pernah ia perpendek.
Dan aku, perempuan tiga puluh dua tahun yang berpengalaman, yang bisa membaca semua laki-laki seperti membaca neraca, sedang duduk sendirian di lantai delapan belas pukul tujuh malam dan tidak tahu harus berbuat apa dengan sebuah blazer yang disetrika terlalu rapi.
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah
- 7 Satrio
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung reading
- 10 Taruhan Pantry
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu
- 14 Nomor untuk Konsultasi
- 15 Pengajian 17 November
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf
- 30 Purwokerto
- 31 Restu
- 32 Terkirim
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong