Chapter Twenty One
Lift Lantai 18
POV: Bima
Ketentuan nomor dua berbunyi: Tidak naik lift yang sama.
Selama seminggu, kami melanggarnya empat kali. Semua pelanggaran terjadi setelah pukul tujuh malam, saat gedung sudah setengah kosong dan lift eksekutif hanya diisi oleh petugas kebersihan dan satpam yang berkeliling. Renata yang menetapkan pengecualiannya. Ia menuliskannya di buku catatan kulit hitam dengan pulpen merah: Pengecualian nomor dua berlaku setelah pukul 19.00, apabila lift kosong.
Aku bertanya apa yang terjadi kalau lift tidak kosong.
“Kita tunggu lift berikutnya,” katanya.
“Kalau lift berikutnya juga nggak kosong?”
“Kamu naik tangga.”
Rabu malam, pukul delapan lewat sepuluh, lift eksekutif kosong.
Kami masuk dari lantai delapan belas. Ia menekan tombol B2, basement tempat Pak Rahmat menunggu. Aku menekan tombol L, lobi, karena aku pulang naik ojek. Lift mulai turun. Ia berdiri di sudut kanan, aku di sudut kiri, dengan jarak satu meter di antara kami, seperti dua orang asing yang kebetulan pulang di jam yang sama.
Ia menatap angka di atas pintu. Aku menatapnya.
Ia memakai blazer abu-abu muda hari ini, dengan kemeja sutra berwarna salem di dalamnya, dan rok pensil abu-abu tua. Rambutnya diikat rendah di tengkuk dengan pita hitam tipis, dan beberapa helai sudah lepas setelah seharian di rapat dengan auditor eksternal. Ia lelah. Aku bisa melihatnya dari cara ia bersandar sedikit di dinding lift, dari cara ia memegang tas tangan dengan dua tangan di depan tubuhnya, dari kerutan halus di antara alisnya yang belum hilang sejak pukul tiga sore.
Tapi wajahnya, di bawah lampu lift yang putih dan tidak menyanjung siapa pun, tetap wajah paling cantik yang pernah kulihat. Aku sudah memeriksanya. Datanya konsisten.
“Kamu ngeliatin aku,” katanya tanpa menoleh.
“Iya.”
“Berhenti.”
“Nggak bisa.”
Sudut bibirnya bergerak. “Di lift ada kamera, Bima.”
“Kameranya di sudut kanan atas. Ibu berdiri pas di bawahnya. Jadi kameranya nggak bisa lihat wajah Ibu. Cuma ubun-ubun.”
Ia menoleh perlahan dan menatapku. “Kamu udah ngecek posisi kamera lift?”
“Empat hari lalu. Waktu kita pertama kali melanggar ketentuan nomor dua.”
Ia menatapku selama tiga detik. Lalu ia menunduk dan tertawa tanpa suara, bahunya bergetar.
Lantai lima belas. Empat belas.
Lalu lift berguncang.
Bukan guncangan besar. Hanya sentakan kecil, seperti mobil yang menginjak polisi tidur terlalu cepat. Lampu di langit-langit berkedip sekali. Dua kali. Lalu padam.
Lift berhenti.
Gelap. Bukan gelap total; lampu darurat kecil di panel tombol menyala dengan cahaya kuning redup, cukup untuk melihat bentuk-bentuk tapi tidak cukup untuk melihat wajah. Dengungan mesin yang biasanya terdengar samar di balik dinding lift berhenti. Kipas ventilasi di langit-langit berhenti. Yang tersisa hanya kesunyian, dan bunyi napas dua orang.
“Bima,” kata Renata.
Suaranya berbeda. Aku belum pernah mendengar suaranya seperti itu. Tipis. Tinggi. Seperti senar yang ditarik terlalu kencang.
“Saya di sini,” kataku.
“Lift-nya berhenti.”
“Iya. Mungkin listrik. Atau sensor.”
“Lift-nya berhenti, Bima.”
Aku menoleh ke arahnya. Dalam cahaya kuning redup, aku melihat bentuknya di sudut kanan lift. Ia tidak lagi bersandar di dinding. Ia menempel di dinding. Punggungnya menekan panel baja, dan tangannya mencengkeram pegangan besi di sisi lift begitu erat sampai aku bisa mendengar tas tangannya jatuh ke lantai. Dadanya naik-turun dengan cepat. Terlalu cepat.
“Renata,” kataku pelan.
“Aku enggak suka,” katanya. Napasnya pendek. “Aku enggak suka tempat yang... aku enggak suka kalau enggak bisa keluar.”
Aku tidak tahu itu. Dalam empat tahun memperhatikannya, aku tidak pernah tahu itu. Ia selalu naik lift. Setiap hari. Delapan belas lantai. Ia tidak pernah naik tangga.
“Sejak kapan?” tanyaku.
Ia tidak menjawab. Napasnya makin cepat. Aku mendengarnya mulai tersengal-sengal, dengan bunyi kecil di ujung setiap tarikan napas, seperti orang yang tenggelam di air dangkal.
Aku bergerak.
Aku tidak berpikir. Tubuhku bergerak lebih dulu, seperti di lobi waktu hak sepatunya patah. Aku melangkah ke sudut kanan dan berdiri di depannya, dekat, tapi tidak menempel. Aku tidak memeluknya. Aku tidak tahu apakah dipeluk akan membuat ruang di sekitarnya terasa lebih sempit. Aku hanya mengulurkan dua tanganku, telapak menghadap ke atas, di antara kami.
“Pegang tangan saya,” kataku.
Tangannya, yang mencengkeram pegangan besi, tidak bergerak.
“Renata. Lepas pegangannya. Pegang tangan saya aja.”
Butuh beberapa detik. Lalu jari-jarinya terlepas dari besi, satu demi satu, dan tangannya jatuh ke tanganku. Dingin. Basah oleh keringat. Gemetar seperti burung kecil yang jatuh dari sarang.
Aku menggenggamnya. Erat. Tidak terlalu erat.
“Sekarang dengerin saya,” kataku. Aku memakai suara yang sama dengan yang kupakai saat Ayu masih kecil dan terbangun karena petir. Suara yang pelan dan rendah dan tidak tergesa-gesa. “Lift ini punya tiga sistem pengaman. Rem mekanis, rem elektromagnetik, sama penyangga hidrolik di dasar sumur. Kalau listrik mati, remnya otomatis ngunci. Lift nggak bisa jatuh. Nggak ada satu pun lift di gedung ini yang pernah jatuh sejak dibangun tahun dua ribu sebelas. Saya udah baca laporan pemeliharaannya.”
“Kamu...” Napasnya tersendat. “Kamu baca laporan pemeliharaan lift?”
“Dua tahun lalu. Waktu saya baru masuk. Semua dokumen SOP gedung saya baca.” Aku mengeratkan genggamanku sedikit. “Prosedur lift macet ada di halaman empat puluh dua. Langkah pertama: jangan coba buka pintu. Langkah kedua: tekan tombol interkom darurat. Langkah ketiga: tunggu. Teknisinya datang lima sampai lima belas menit.”
Aku melepaskan satu tangan, hanya satu, dan menekan tombol interkom di panel. Tombol bergambar lonceng kuning. Aku menekannya dan menahannya.
Bunyi gemerisik. Lalu suara laki-laki yang mengantuk: “Pos satpam. Ada apa?”
“Pak, selamat malam. Ini lift eksekutif, macet di antara lantai empat belas dan tiga belas. Dua orang di dalam. Nggak ada yang luka.”
“Waduh. Sebentar, Pak. Listrik di sisi timur gedung lagi turun. PLN. Genset lagi dinyalain. Paling lima sampai sepuluh menit, Pak. Teknisi lift saya panggil.”
“Baik, Pak. Terima kasih.”
“Siapa yang di dalam, Pak?”
Aku menatap Renata, yang masih menempel di dinding dengan satu tangan dalam genggamanku dan napas yang masih pendek.
“Staf AP dan satu orang lagi, Pak,” kataku. “Kami tunggu.”
Interkom berbunyi klik dan diam.
Aku kembali menggenggam tangannya dengan dua tangan.
“Lima sampai sepuluh menit,” kataku. “Sekarang kita napas dulu.”
“Aku lagi napas.”
“Kecepetan. Ikutin saya.” Aku menarik napas perlahan, cukup keras untuk ia dengar. “Tarik empat hitungan. Satu. Dua. Tiga. Empat.”
Ia mencoba. Napasnya tersendat di hitungan kedua.
“Nggak apa-apa. Coba lagi. Satu. Dua. Tiga. Empat. Tahan. Satu sampai tujuh. Lepas pelan-pelan. Delapan hitungan.”
Kami bernapas bersama. Sekali. Dua kali. Lima kali. Aku menghitung untuknya, dengan suara pelan, di dalam kotak baja yang menggantung di antara lantai empat belas dan tiga belas, dalam cahaya kuning redup dari panel tombol. Tangannya perlahan berhenti gemetar. Napasnya perlahan memanjang. Ia tidak lagi menempel di dinding; punggungnya hanya bersandar sekarang.
“Kamu tahu teknik ini dari mana?” tanyanya setelah napas kesepuluh. Suaranya masih tipis, tapi tidak lagi seperti senar yang akan putus.
“Ayu, Bu. Adik saya. Waktu kecil dia takut petir. Tiap ada petir, dia sembunyi di bawah meja, terus nggak bisa napas. Saya baca di buku kesehatan, di perpustakaan sekolah. Empat, tujuh, delapan.”
“Kamu masih SMP waktu itu.”
“Kelas dua.”
Ia diam sebentar. Lalu tangannya dalam genggamanku mengeratkan diri.
“Cerita sesuatu,” katanya. “Apa aja. Biar aku enggak mikirin... ini.”
Jadi aku bercerita.
Aku bercerita tentang dapur Ibu di Purwokerto, yang dindingnya hitam karena asap tungku dan lantainya selalu licin karena minyak. Tentang Ibu yang bangun jam tiga pagi setiap hari untuk menggoreng mendoan, dan tentang radio kecil di atas lemari yang selalu memutar siaran wayang kulit dalam bahasa Jawa yang tidak pernah kumengerti. Tentang Ayu yang waktu umur enam tahun mencoba membantu menggoreng dan malah menjatuhkan sebaskom adonan tepung ke kepalaku, sehingga aku berangkat sekolah dengan rambut putih seperti kakek-kakek. Tentang Bapak.
Aku tidak berniat bercerita tentang Bapak. Tapi ceritanya keluar begitu saja, di dalam lift yang gelap.
Tentang Bapak yang bekerja sebagai kuli angkut di Pasar Wage, yang punggungnya bungkuk sebelum umur empat puluh. Tentang Bapak yang selalu pulang membawa satu bungkus kacang rebus untukku dan satu bungkus permen untuk Ayu, padahal uangnya hanya cukup untuk beras. Tentang Bapak yang suatu pagi, waktu aku kelas satu SMA, tidak bangun.
“Tidak bangun,” ulang Renata pelan.
“Jantung, kata dokter puskesmas. Nggak ada yang tahu sebelumnya. Bapak nggak pernah periksa. Nggak ada uang buat periksa.”
Tangannya dalam genggamanku tiba-tiba sangat diam.
“Sejak itu saya yang ngangkat karung tepung Ibu,” lanjutku. “Dan sejak itu saya selalu periksa semuanya tiga kali. Laporan pemeliharaan lift. Posisi kamera. Kunci kompor. Soalnya saya pikir, kalau semuanya saya periksa dengan teliti, nggak bakal ada lagi yang nggak bangun di pagi hari.”
Hening. Dalam cahaya kuning redup, aku melihat Renata menatapku. Matanya basah.
“Hendra juga tidak bangun,” bisiknya.
“Saya tahu.”
“Pagi itu, aku nelepon ambulans. Mereka bawa dia ke rumah sakit. Aku ikut di ambulans.” Napasnya mulai cepat lagi. “Di rumah sakit, mereka bawa dia ke ruang operasi di lantai enam. Lift-nya... lift rumah sakit itu macet. Di antara lantai empat dan lima. Tujuh menit. Aku di dalam lift itu sama dua perawat dan Hendra di atas brankar. Tujuh menit. Aku pegang tangannya. Tangannya masih hangat.”
Aku berhenti bernapas.
“Waktu lift-nya jalan lagi dan pintunya terbuka,” lanjutnya, sangat pelan, “tangannya udah enggak hangat lagi.”
Aku tidak tahu harus berkata apa. Tidak ada poin-poin untuk ini. Tidak ada laporan pemeliharaan, tidak ada halaman empat puluh dua, tidak ada empat-tujuh-delapan.
Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang terpikir olehku. Aku mengangkat tangannya yang dingin dalam genggamanku, dan menempelkannya di dadaku. Di atas jantungku. Di atas kemeja biru muda yang kusetrika tadi pagi selama sebelas menit.
“Hangat,” kataku. “Saya masih hangat, Renata. Saya tidak ke mana-mana.”
Ia menatap tangannya sendiri di dadaku. Lalu ia menatapku.
Lalu ia menangis. Tanpa suara. Air matanya jatuh dalam cahaya kuning redup, dan tangannya tetap di dadaku, dan aku tetap menggenggamnya di sana, dan kami berdiri di dalam lift yang macet di antara lantai empat belas dan tiga belas sementara jantungku berdetak di bawah telapak tangannya, cukup keras untuk ia hitung kalau ia mau.
Sebelas menit kemudian, lampu menyala.
Dengungan mesin kembali. Kipas ventilasi berputar. Lift berguncang sekali, pelan, lalu mulai bergerak turun dengan bunyi yang halus dan teratur seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Renata menghembuskan napas panjang yang bergetar.
Ia masih bersandar di dinding. Tangannya masih di dadaku. Wajahnya basah, maskaranya luntur sedikit di sudut mata kanan, dan bibirnya yang merah bata gemetar. Ia menatapku dengan mata yang merah dan lebar dan sangat, sangat dekat.
“Kamu tahu prosedurnya,” katanya. Suaranya serak.
“Halaman empat puluh dua.”
“Kamu enggak panik.”
“Saya panik, Renata. Di dalam. Cuma nggak saya tunjukin.”
“Telinga kamu enggak merah.”
“Soalnya saya nggak nyembunyiin apa-apa,” kataku. “Saya memang panik. Saya cuma milih buat tetap tenang. Soalnya Ibu perlu saya tenang.”
Ia menatapku. Lalu ia tertawa kecil, basah. “Kamu balik lagi ke ‘Ibu’.”
“Maaf. Kebiasaan.”
Lantai sebelas. Sepuluh.
Ia melepaskan tangannya dari dadaku. Aku berpikir ia akan mundur, merapikan diri, memungut tas tangannya, kembali ke sudut kanan lift, kembali menjadi CFO yang berdiri tegak di bawah kamera.
Ia tidak mundur.
Ia mengangkat kedua tangannya dan memegang wajahku. Satu tangan di masing-masing pipi. Telapak tangannya masih dingin, tapi tidak lagi gemetar.
“Bima,” katanya. Suaranya rendah. Sangat rendah. Bukan suara yang tipis seperti tadi. Bukan suara CFO. Suara yang belum pernah kudengar, suara yang membuat bulu di tengkukku berdiri.
“Iya.”
“Kamu enggak perlu tahu caranya.”
Aku menatapnya.
“Aku tahu,” bisiknya. “Kamu cukup jangan lari.”
Lalu ia menciumku.
Ini bukan ciuman di ruangannya, seminggu lalu, yang pelan dan hati-hati dan diakhiri dengan aku mengucapkan terima kasih. Ini berbeda. Ini ciuman dari seseorang yang baru saja keluar dari kegelapan, dan yang ingin memastikan sesuatu masih hangat. Tangannya menarik wajahku turun. Bibirnya menekan bibirku dengan cara yang tidak meminta izin. Ia menciumku dalam, dan lama, dan aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan, sesuatu yang membuat lututku tidak lagi terasa seperti lututku sendiri.
Aku tidak tahu caranya. Ia benar.
Tapi aku tidak lari.
Tanganku menemukan pinggangnya. Kali ini tidak ragu, tidak setengah-setengah, tidak seperti menyentuh kertas tua yang bisa sobek. Aku menariknya mendekat, dan ia membiarkannya, dan punggungnya menempel di dinding lift lagi, tapi kali ini bukan karena takut. Tangannya bergeser dari pipiku ke rambutku, ke tengkukku, dan meremas, dan aku mendengar diriku sendiri mengeluarkan suara yang belum pernah kudengar keluar dari tenggorokanku.
Lantai tujuh. Enam. Lima.
Ia menarik bibirnya sedikit. Hanya sedikit. Napasnya di wajahku, cepat dan hangat.
“Kamu belajar,” bisiknya.
“Saya merhatiin,” bisikku.
Ia tersenyum di bibirku. Lalu ia menciumku lagi.
Lantai empat. Tiga. Dua.
Denting.
Lift berhenti.
Pintu terbuka.
Aku tidak menyadarinya. Renata tidak menyadarinya. Kami masih di dalam lift dengan punggungnya di dinding dan tanganku di pinggangnya dan tangannya di rambutku, dan pintu lift terbuka ke arah koridor lantai dua, bukan lobi, bukan basement, lantai dua, karena seseorang di lantai dua sedang menekan tombol turun.
Seseorang itu berdiri di depan pintu lift dengan map di satu tangan dan kaleng biskuit Khong Guan di tangan yang lain.
Pak Darto.
Kami membeku.
Pak Darto membeku.
Selama tiga detik yang terasa seperti tiga tahun, tidak ada yang bergerak. Pak Darto berdiri di depan lift dengan mulut terbuka dan mata yang membesar sampai hampir keluar dari kacamatanya. Renata masih di dinding. Aku masih di depannya. Tanganku masih di pinggangnya. Tangannya masih di rambutku.
Lalu Pak Darto melakukan sesuatu yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku.
Ia memutar badannya seratus delapan puluh derajat. Membelakangi lift. Lalu ia berbicara kepada dinding koridor di depannya, dengan suara yang sangat keras dan sangat jelas.
“Saya tidak melihat apa-apa.”
Kami tidak bergerak.
“Saya ke lantai dua untuk mengambil dokumen cicilan rumah Cibubur yang ketinggalan di ruang arsip lama,” lanjut Pak Darto kepada dinding. “Saya juga mengambil kaleng Khong Guan yang berisi kunci cadangan. Saya akan turun dengan lift berikutnya. Saya tidak melihat apa pun di lift ini. Lift ini kosong.”
Pintu lift mulai menutup.
“Selamat malam, Bu,” kata Pak Darto kepada dinding. “Selamat malam, Bim.”
Pintu tertutup.
Lift mulai turun ke lobi.
Renata menatapku. Aku menatapnya. Rambutku berantakan karena tangannya. Lipstiknya berpindah ke wajahku, aku yakin, dalam jumlah yang jauh lebih banyak dari minggu lalu.
Lalu Renata tertawa.
Ia tertawa begitu keras sampai harus berpegangan di bahuku supaya tidak meluncur ke lantai lift. Ia tertawa dengan wajah basah oleh air mata yang tadi, dan dengan napas yang masih berantakan, dan dengan bunyi yang memantul di dinding baja seperti lonceng.
“Lift ini kosong,” katanya di antara tawa. “Dia bilang lift ini kosong.”
“Pak Darto pasang taruhan lima puluh ribu, katanya saya nggak bakal pernah,” kataku.
Ia tertawa lebih keras.
“Dia baru kalah lima puluh ribu,” katanya. “Di depan dinding.”
Lift berhenti di lobi. Denting. Pintu terbuka.
Mas Yanto tidak bertugas malam. Yang bertugas Pak Komar, yang berdiri di pos jaga dengan senter di tangan, dan yang langsung menyorotkan senternya ke dalam lift begitu pintu terbuka.
“Ya Allah, Bu! Ibu yang kejebak? Saya kira cuma staf AP—” Senternya bergeser ke wajahku. Ke wajahku yang merah. Ke rambutku yang berantakan. Ke noda merah bata di sudut bibirku dan di rahangku dan, demi Tuhan, di leherku. “...Mas Bima.”
Aku tidak berkata apa-apa.
Pak Komar menatapku selama lima detik. Lalu menatap Renata, yang sedang memungut tas tangannya dari lantai lift dengan sangat tenang, seolah-olah tidak ada apa pun yang terjadi, seolah-olah wajahnya tidak basah dan rambutnya tidak terlepas dari pita hitam.
Pak Komar mematikan senternya.
“Taruhan saya seratus ribu,” bisiknya kepadaku. “Bu Renata yang nembak duluan.”
“Pak Komar.”
“Iya, iya. Saya diem.”
Renata melangkah keluar dari lift. Ia merapikan blazernya. Ia menyelipkan rambut yang terlepas ke belakang telinga kiri. Ia menatap Pak Komar dengan wajah CFO yang sempurna.
“Selamat malam, Pak Komar,” katanya. “Tolong laporkan gangguan listrik malam ini ke bagian Facility Management. Saya mau laporan tertulis besok pagi. Termasuk kenapa genset butuh sebelas menit untuk menyala.”
“Siap, Bu.”
Ia berbalik dan berjalan ke arah tangga menuju basement, ke tempat Pak Rahmat menunggu. Ia tidak naik lift lagi. Aku tahu kenapa.
Di ujung tangga, ia berhenti dan menoleh.
“Bima.”
“Iya, Bu.”
“Bersihin leher kamu sebelum naik ojek.”
Lalu ia turun.
Pak Komar menatapku. Aku menatap Pak Komar. Lalu aku mengambil sapu tangan dari saku celana, sapu tangan kotak-kotak biru yang baru, karena yang lama masih ada di laci meja seseorang di lantai delapan belas, dan menggosok leherku di depan pintu putar lobi Wiraguna pukul delapan lewat tiga puluh malam, sementara Pak Komar pura-pura sangat sibuk memeriksa senternya.
Telingaku tidak merah.
Aku tidak menyembunyikan apa pun. Tidak ada yang perlu disembunyikan. Pak Darto sudah tahu. Pak Komar sudah tahu. Satu gedung mungkin akan tahu besok pagi.
Kecuali satu hal.
Di ponselku, di percakapan dengan Renata, di bagian atas layar, masih ada tulisan kecil berwarna abu-abu yang belum kuhapus sejak Jumat malam.
Draf.
Aku menatapnya di atas jok ojek, di bawah lampu jalan Sudirman yang melintas satu per satu. Jariku melayang di atasnya.
Malam ini ia menceritakan lift rumah sakit. Tujuh menit. Tangan yang masih hangat dan tidak hangat lagi. Ia baru saja keluar dari kegelapan, dan ia memilih menciumku untuk memastikan sesuatu masih hangat.
Aku tidak bisa membuatnya sedih lagi malam ini.
Nanti, kataku kepada diriku sendiri. Nanti saja.
Telingaku mulai memanas di bawah helm ojek, di jalan yang gelap, di mana tidak ada siapa pun yang bisa melihatnya.
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah
- 7 Satrio
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung
- 10 Taruhan Pantry
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu
- 14 Nomor untuk Konsultasi
- 15 Pengajian 17 November
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18 reading
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf
- 30 Purwokerto
- 31 Restu
- 32 Terkirim
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong
- 36 Extra 1 — Pesawat Pertama
- 37 Extra 2 — Mas
- 38 Extra 3 — Kangen Tiga Jam
- 39 Extra 4 — Hujan di Uluwatu
- 40 Extra 5 — Sebelas Lantai