← Masih di Folder Draf

Chapter Thirty Seven

Extra 2 — Mas

POV: Renata

Aku sudah merencanakan malam ini sejak tiga minggu lalu.

Aku tidak bangga mengakuinya. Aku CFO. Aku perempuan yang baru ditawari kursi Direktur Utama oleh dewan komisaris. Aku perempuan tiga puluh dua tahun yang sudah menikah dua kali, yang tahu persis bagaimana sebuah ruangan berubah ketika aku masuk, dan yang biasanya tidak perlu merencanakan apa pun untuk membuat seorang laki-laki kehilangan kalimat.

Tapi Bima bukan seorang laki-laki biasa.

Bima adalah laki-laki yang melompat ke kolam pakai sepatu karena aku tidak muncul selama tiga detik.

Jadi aku merencanakan. Dengan ketelitian yang biasanya kusimpan untuk laporan keuangan konsolidasi. Restoran villa di tepi lembah, meja di ujung dek kayu yang hanya diterangi lilin dan lampu-lampu kecil yang digantung di pohon kamboja. Menu lima hidangan yang kupilih sendiri lewat surel dengan chef-nya. Dan satu kotak kecil berpita hitam yang kusembunyikan di dasar koper, di bawah semua blus linen dan celana pendek, yang kubeli di butik di Plaza Indonesia dua minggu lalu dengan wajah yang sangat datar di depan pramuniaga.

Pramuniaga itu bertanya, Untuk acara apa, Bu?

Aku menjawab, Untuk suami saya.

Ia tersenyum dan membungkusnya dengan kertas tisu hitam tiga lapis.


Bima memakai kemeja putih.

Kemeja katun putih yang lain, karena yang tadi siang masih tergeletak basah di tepi kolam, dengan lengan digulung sampai siku dan dua kancing paling atas yang tidak dikancingkan. Ia tidak sengaja. Aku tahu ia tidak sengaja, karena ia pasti lupa. Ia tidak pernah membiarkan dua kancing tidak terkancing di kantor.

Tapi aku tidak memberitahunya.

Rambutnya masih sedikit basah dari mandi. Kacamata bingkai tipisnya sudah dikeringkan dan dibersihkan dua kali. Kulitnya yang sawo matang terlihat lebih gelap di bawah cahaya lilin, dan bahunya yang lebar, bahu yang kata Tasya bahu orang yang ngangkat karung tepung dari kecil, mengisi kemeja putih itu dengan cara yang membuat pelayan perempuan yang mengantar roti tersenyum terlalu lama ke arahnya.

Aku memperhatikan pelayan itu.

Bima tidak memperhatikan pelayan itu. Ia memperhatikan aku.

Ia sudah memperhatikanku sejak aku keluar dari kamar dengan gaun hitam selutut yang punggungnya terbuka sampai pinggang, dan ia berhenti di tengah jalan setapak batu andesit dengan wajah orang yang lupa cara berjalan.

“Kamu,” katanya waktu itu.

“Aku kenapa?”

“Kamu...” Ia tidak menyelesaikannya.

“Kamu enggak mau bilang aku cantik?”

“Aku mau,” katanya. “Tapi kata ‘cantik’ itu nggak cukup. Aku lagi nyari kata yang lebih akurat.”

“Udah ketemu?”

“Belum. Datanya terlalu besar.”

Aku menciumnya di tengah jalan setapak itu, di bawah pohon kamboja, sampai pelayan yang sedang menyalakan lilin di dek pura-pura sibuk dengan korek apinya.


Hidangan pertama adalah sup labu kuning dengan krim kelapa dan minyak cabai.

Supnya panas. Sangat panas. Aku menyendoknya terlalu cepat dan lidahku terbakar, dan aku mendesis pelan, menjauhkan sendok dari bibir.

Bima langsung meletakkan sendoknya.

Ia tidak bertanya apakah aku baik-baik saja. Ia hanya mengulurkan tangan ke seberang meja, mengambil mangkuk supku, menariknya ke depannya, dan mulai meniupnya. Pelan. Sangat serius. Dengan bibir yang dimonyongkan sedikit dan alis yang berkerut, seperti sedang mengerjakan sesuatu yang sangat penting. Ia mengaduk sup itu dengan sendok, meniupnya lagi, lalu mencelupkan ujung jari kelingkingnya ke permukaan sup untuk mengecek suhunya.

“Masih panas,” gumamnya. Ia meniup lagi.

Aku menatapnya.

Laki-laki ini. Laki-laki ini, dengan kemeja putih yang dua kancingnya lupa dikancingkan, yang meniup sup istrinya di restoran mewah di tepi lembah Ubud seolah-olah aku anak kecil yang baru belajar makan. Laki-laki yang empat tahun lalu duduk di barisan ketiga kelas hari Kamis dan tidak pernah menelepon. Laki-laki yang menyetrika blazerku dua puluh tiga menit, yang membawa sop ayam ke rumahku waktu aku demam, yang menghitung pintu darurat di pesawat.

“Aku sayang kamu,” kataku.

Begitu saja. Keluar begitu saja. Tidak ada aba-aba. Tidak ada musik. Tidak ada momen dramatis. Hanya aku, menatap suamiku meniup sup labu kuning, dan kata-kata itu terlepas dari mulutku seperti sesuatu yang sudah lama menunggu di ujung lidah dan akhirnya bosan menunggu.

Bima berhenti meniup.

Ia mengangkat kepala, dengan sendok masih di tangan, dan menatapku dari balik kacamatanya.

“Apa?”

“Aku sayang kamu,” ulangku. Lebih pelan. “Enggak ada alasan. Lagi pengin bilang aja.”

Ia menatapku lama. Telinganya mulai memerah dari ujung, perlahan, seperti tinta merah yang menyebar di kertas basah.

“Ren,” katanya. “Kamu nggak pernah bilang itu.”

“Aku pernah bilang aku cinta kamu.”

“Pernah. Tapi selalu pas momen besar. Pas lagi nangis. Pas di depan banyak orang. Pas semuanya lagi genting.” Ia meletakkan sendoknya. “Kamu belum pernah bilang ‘aku sayang kamu’. Kayak gini. Biasa aja.”

“Emang kenapa kalau biasa aja?”

“Justru itu.” Suaranya mengecil. “Karena biasa aja. Berarti kamu bakal bilang lagi. Besok. Lusa. Pas lagi sikat gigi. Pas lagi nyari kunci mobil.”

Aku menatapnya.

“Iya,” kataku. “Berarti aku bakal bilang lagi.”

Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mendorong mangkuk sup yang sekarang sudah hangat kembali ke depanku, pelan, dengan dua tangan, seperti menyerahkan sesuatu yang berharga.

“Udah nggak panas,” katanya serak.

Aku menyendok sup itu. Hangat. Sempurna.

“Makasih,” kataku.

Lalu, sebelum aku memikirkannya, sebelum aku sempat menimbang apakah itu terlalu berlebihan, terlalu manis, terlalu bukan aku, aku menambahkan:

“Makasih, Mas.”


Sendok di tangan Bima jatuh ke lantai dek kayu.

Bunyinya nyaring. Klang. Pelayan perempuan di ujung dek menoleh. Pasangan bule di meja sebelah menoleh. Seekor cicak di tiang lampu menoleh, aku yakin.

Bima tidak menoleh ke mana-mana. Ia menatapku dengan mulut sedikit terbuka.

“Kamu,” katanya. “Kamu barusan—”

“Apa?”

“Kamu panggil aku ‘Mas’.”

“Masa?”

“Ren.”

Aku menyendok supku lagi dengan wajah yang sangat tenang. “Kamu suami aku, kan? Orang Jawa. Istri orang Jawa panggil suaminya ‘Mas’. Bu Sumi panggil Bapak ‘Mas’. Mbak Ayu bilang begitu.”

“Kamu nanya ke Ayu?”

“Aku riset.”

Telinganya sekarang merah sepenuhnya. Merah sampai ke leher. Merah sampai ke kerah kemeja putih yang dua kancingnya terbuka.

Pelayan perempuan itu datang membawa sendok baru. Bima menerimanya tanpa melihat, mengucapkan terima kasih tanpa melihat, dan terus menatapku.

“Bilang lagi,” katanya pelan.

“Apa?”

“Yang tadi.”

Aku meletakkan sendokku. Aku mencondongkan badan ke depan, sedikit, cukup untuk membuat potongan leher gaun hitamku jatuh sedikit lebih rendah dan lilin di antara kami berkedip. Aku menatapnya dari balik bulu mata.

“Mas Bima,” kataku. Sangat pelan. Sangat lambat. Dengan suara yang biasanya kusimpan untuk tempat yang jauh lebih pribadi daripada restoran tepi lembah.

Bima menelan ludah. Aku melihat jakunnya naik dan turun.

“Kamu nggak boleh,” katanya serak, “ngomong kayak gitu di sini.”

“Kenapa?”

“Karena masih ada empat hidangan lagi.”

Aku tersenyum. Aku bersandar ke kursi, menyilangkan kaki di bawah meja, dan membiarkan ujung sandalku menyentuh betisnya. Pelan. Naik sedikit. Lalu turun.

“Kalau gitu,” kataku, “makannya cepetan, Mas.”


Kami menghabiskan empat hidangan berikutnya dalam empat puluh dua menit.

Aku tahu karena Bima menghitung. Ia melirik jam tangannya setiap kali piring diganti, dan aku menggodanya setiap kali ia melirik, dan ia menjadi semakin merah setiap kali aku menggodanya, sampai pelayan perempuan itu menyajikan makanan penutup, dua piring, satu mousse cokelat dan satu panna cotta dengan saus markisa, dan bertanya apakah kami ingin kopi.

“Enggak, makasih,” kataku.

“Nggak usah, Mbak,” kata Bima di saat yang sama.

Pelayan itu tersenyum dengan wajah orang yang sudah bekerja di restoran bulan madu selama sepuluh tahun dan tahu persis apa artinya ketika pasangan menolak kopi setelah makan malam Valentine, lalu ia pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

Bima menatap dua makanan penutup itu.

“Aku kenyang,” katanya otomatis.

Lalu ia berhenti. Ia menatapku. Aku menatapnya. Kami berdua tahu kalimat apa yang seharusnya mengikuti itu, kalimat yang ditulis Hendra di catatan reservasi Lumière empat tahun lalu, kalimat yang dibacakan Pak Yusuf di meja nomor tujuh, kalimat yang membuatku menangis di depan kursi kosong.

Dia akan bilang kenyang. Dia bohong.

“Kamu bohong,” kataku pelan.

“Iya,” katanya. “Aku bohong.”

Ia menarik piring panna cotta ke depannya dan memakannya, sendok demi sendok, dan mendorong mousse cokelat ke depanku tanpa berkata apa-apa.

Aku memakannya.

Aku tidak menangis. Tapi hampir.


Kotak berpita hitam itu kubuka di kamar mandi.

Kamar mandi villa ini setengah terbuka, dengan dinding batu alam di tiga sisi dan satu sisi yang menghadap langsung ke kebun pakis yang gelap. Bak mandi tembaga di tengah. Shower air hujan di sudut. Lampu-lampu kecil di lantai yang menyorot ke atas, membuat bayangan dedaunan menari di dinding batu.

Aku membuka kertas tisu hitam tiga lapis itu dan mengeluarkan isinya.

Gaun tidur. Satin. Warnanya merah bata, persis warna lipstikku, karena aku memintanya begitu. Tali spageti yang sangat tipis di bahu. Potongan leher yang rendah dengan renda halus berwarna sama di tepinya. Panjangnya di atas lutut, hanya sedikit di atas lutut, cukup untuk membuat seseorang bertanya-tanya. Kain satinnya sangat tipis, sangat licin, dan jatuh di tubuhku seperti air ketika aku memakainya.

Aku menatap diriku di cermin bundar di dinding batu.

Rambutku kugerai, masih sedikit basah dari mandi, bergelombang besar di bahu. Wajahku tanpa riasan kecuali lipstik merah bata yang kuoleskan ulang. Kulitku masih hangat dari air pancuran. Kain satin itu menempel di setiap lekuk, dan ketika aku bergerak, cahaya lampu kecil di lantai memantul di permukaannya seperti cahaya di air kolam tadi siang.

Aku tiga puluh dua tahun. Aku tahu persis apa yang terjadi pada sebuah ruangan ketika aku masuk. Sudah sejak umur tujuh belas aku tahu.

Tapi malam ini aku ingin tahu apa yang terjadi pada satu orang.

Aku membuka pintu kamar mandi.


Bima sedang duduk di tepi ranjang berkelambu putih, membaca brosur.

Tentu saja ia membaca brosur. Kali ini brosur tentang paket tur sepeda di sawah terasering Tegallalang. Ia membacanya dengan sangat serius, dengan kacamata yang sedikit merosot dan alis yang berkerut, dengan kemeja putih yang sekarang sudah terlepas tiga kancingnya karena ia kepanasan, dan dengan kaki telanjang di atas lantai kayu jati.

Ia mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ia mengangkat kepala.

Ia melihatku.

Brosur itu jatuh dari tangannya. Pelan, seperti selembar daun yang melayang, berputar sekali di udara sebelum mendarat di lantai.

Ia tidak bergerak. Ia tidak bernapas. Matanya, di balik kacamata yang merosot, bergerak turun dari wajahku ke tali spageti di bahuku, ke renda di potongan leher, ke kain satin merah bata yang menempel di pinggang dan pinggul, ke ujung gaun di atas lutut, ke kakiku yang telanjang di atas lantai kayu. Lalu naik lagi. Lalu turun lagi.

Aku berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan satu tangan bersandar di kusen, dan membiarkannya melihat.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu sesuatu yang merah menetes dari hidung Bima.

Ia tidak menyadarinya. Ia masih menatapku. Setetes lagi jatuh ke kemeja putihnya, ke dada, dan menyebar menjadi noda merah kecil di kain katun.

“Bima,” kataku.

Ia tidak menjawab.

“Bima. Hidung kamu.”

Ia mengangkat tangan, menyentuh bibir atasnya, dan menatap jari-jarinya yang sekarang merah.

“Oh,” katanya. Sangat pelan. Sangat bingung. “Oh. Aku... mimisan.”

Aku tertawa.

Aku tidak bisa menahannya. Aku tertawa sampai aku harus bersandar sepenuhnya ke kusen pintu, sampai mataku berair, sampai tali spageti di bahu kiriku melorot sedikit dan aku tidak peduli. Aku tertawa seperti aku tidak pernah tertawa sejak entah kapan, tawa yang keluar dari perut, tawa yang membuat Bima, dengan darah menetes dari hidungnya ke kemeja putih, akhirnya ikut tertawa, malu, sambil menutupi hidungnya dengan dua tangan.

“Jangan ketawa,” katanya dari balik tangannya. “Ren. Jangan ketawa. Ini darurat medis.”

“Darurat medis,” ulangku, terengah-engah. “Kamu mimisan gara-gara gaun.”

“Bukan gara-gara gaun.”

“Terus gara-gara apa?”

Ia menurunkan tangannya sedikit. Darah masih menetes. Matanya menatapku dari atas jari-jarinya.

“Gara-gara yang di dalam gaunnya,” katanya.

Tawaku berhenti.

Aku berjalan ke arahnya. Pelan. Mengambil kotak tisu dari nakas di samping ranjang. Lalu aku tidak duduk di sebelahnya. Aku duduk di pangkuannya, menyamping, dengan satu lengan melingkar di lehernya dan kain satin merah bata yang tersingkap sedikit di pahaku.

Ia berhenti bernapas lagi.

Aku menarik selembar tisu, memegang dagunya dengan dua jari, dan mendongakkan wajahnya sedikit. Aku menekan tisu itu ke hidungnya dengan sangat lembut, dengan wajah yang sangat serius, seperti perawat yang sangat profesional.

“Dongak,” kataku. “Jangan nunduk. Napas lewat mulut.”

“Ren—”

“Sssh. Pasien enggak boleh ngomong.”

Ia diam. Ia mendongak. Ia bernapas lewat mulut, dan napasnya hangat dan tidak teratur di pergelangan tanganku.

Aku menunggu. Satu menit. Dua menit. Tisu pertama merah. Aku menggantinya dengan tisu kedua. Selama itu, aku tidak bergerak dari pangkuannya, dan ia tidak bergerak dari bawahku, dan aku bisa merasakan setiap otot di pahanya menegang di bawah kain satin tipis itu.

“Udah berhenti,” kataku akhirnya. Aku menurunkan tisu. Hidungnya bersih. Ada noda merah kecil di kemeja putihnya, di atas jantung.

Bima menurunkan dagunya. Ia menatapku dari jarak sejengkal.

“Ren,” katanya serak.

“Hm?”

“Aku minta maaf. Aku malu banget.”

“Kenapa malu?”

“Aku mimisan. Di malam pertama bulan madu. Di depan istri aku yang pakai baju kayak gitu.” Ia memejamkan mata. “Dodi nggak boleh tahu. Sampai kapan pun.”

Aku tersenyum. Aku mendekatkan wajahku ke telinganya. Sangat dekat. Bibirku menyentuh daun telinganya yang masih merah.

“Mas,” bisikku.

Seluruh tubuhnya menegang di bawahku.

“Ini baru gaunnya,” bisikku. “Belum yang lain.”

Hening.

Lalu aku merasakan sesuatu yang hangat menetes lagi di pergelangan tanganku.

Aku menarik diri. Aku menatapnya. Tetesan merah baru muncul di bawah hidungnya.

“Bima,” kataku, dengan suara yang bergetar karena menahan tawa. “Kamu mimisan lagi.”

“Aku tahu,” katanya putus asa, sambil mendongak sendiri. “Aku tahu. Kamu yang salah. Kamu ngomong kayak gitu.”

Aku tertawa lagi. Aku menarik tisu ketiga dan menekannya ke hidungnya, dan kali ini aku tidak bisa berpura-pura serius sama sekali. Aku tertawa di bahunya sambil memegangi tisu di hidungnya, dan ia tertawa di bawah tisu itu dengan suara sengau, dan kelambu putih di sekeliling ranjang bergoyang tertiup angin malam dari lembah.


Mimisannya berhenti pada tisu kelima.

Aku membuang tisu-tisu itu ke tempat sampah rotan di samping nakas. Aku mencuci tanganku di wastafel batu. Aku kembali ke ranjang.

Bima masih duduk di tepi ranjang, persis di tempat yang sama, dengan kemeja putih bernoda merah di atas jantung dan wajah orang yang baru saja selamat dari kecelakaan kecil.

Kali ini aku tidak duduk di pangkuannya.

Aku berdiri di depannya. Di antara kedua lututnya. Sangat dekat, sehingga wajahnya sejajar dengan dadaku, dan ia harus mendongak untuk menatap mataku.

Aku mengangkat tanganku dan melepas kacamatanya. Melipatnya. Meletakkannya di nakas.

“Biar enggak mimisan lagi,” kataku. “Kamu enggak bisa lihat jelas kalau enggak pakai kacamata, kan?”

“Minus empat setengah,” katanya. “Tapi kamu sedekat ini, Ren. Aku bisa lihat.”

“Lihat apa?”

Ia tidak menjawab. Ia mengangkat tangannya, pelan, sangat pelan, seperti orang yang takut menyentuh sesuatu yang bisa pecah, dan meletakkan ujung jarinya di tali spageti di bahu kiriku. Tali yang tadi melorot waktu aku tertawa.

“Tanya dulu,” bisiknya. Kepada dirinya sendiri, kurasa. Lalu kepadaku. “Boleh?”

Aku menatapnya. Laki-laki ini. Laki-laki ini, yang mimisan dua kali karena aku, yang tangannya gemetar di tali spageti yang tidak lebih tebal dari benang, dan yang tetap, tetap, di tengah semua itu, bertanya.

Aku meletakkan tanganku di atas tangannya. Dan aku menuntunnya.

Bukan menaikkan tali itu ke bahuku. Menurunkannya.

Pelan.

Kain satin merah bata itu meluncur dari bahu kiriku, sedikit, hanya sedikit, cukup untuk membuat napas Bima tertahan dan jari-jarinya membeku di kulitku.

“Kamu enggak tahu caranya?” bisikku. Aku menunduk, sampai bibirku hanya sejengkal dari bibirnya. “Bagus. Aku suka ngajarin.”

Ia menatapku. Tanpa kacamata, matanya cokelat dan sangat dekat dan sangat gelap.

“Kamu bilang di mobil,” katanya pelan, “malam pernikahan. Aku nggak perlu tahu caranya. Aku cukup jangan lari.”

“Iya.”

“Aku nggak lari.”

“Aku tahu.”

“Tapi aku mau tahu caranya,” katanya. “Aku mau belajar. Yang bener. Yang teliti.” Ia menelan ludah. Telinganya merah. Matanya tidak. Matanya sangat jernih dan sangat serius. “Ajarin aku, Ren. Pelan-pelan. Aku janji aku murid yang paling rajin.”

Sesuatu di dadaku pecah. Sesuatu yang hangat, dan berat, dan sangat manis, seperti madu satu sendok yang larut di teh.

Aku menciumnya.

Bukan ciuman di kolam tadi siang, yang main-main dan dingin dan basah. Bukan ciuman di lamaran, yang malu-malu di depan keluarga. Ini ciuman yang lambat. Yang dalam. Ciuman seorang perempuan yang tahu persis apa yang ia mau, kepada laki-laki yang baru saja memintanya untuk mengajarinya.

Tangannya naik dari bahuku ke tengkukku, menyusup ke rambutku yang basah. Tanganku turun ke kancing-kancing kemeja putihnya yang tersisa. Satu. Dua. Tiga. Aku melepasnya dari bahunya, dan kali ini tidak ada air kolam yang menenggelamkannya. Kemeja itu jatuh ke lantai kayu jati di samping brosur tur sepeda Tegallalang, dengan noda merah kecil di atas jantung.

Aku mendorong dadanya. Pelan. Ia jatuh telentang di atas kelopak mawar yang tadi disusun membentuk hati, dan dua angsa handuk di tengahnya tergencet dan tidak lagi berciuman satu sama lain.

Aku naik ke atasnya.

Kain satin merah bata itu tersingkap di pahaku. Rambutku jatuh di sekeliling wajahnya seperti tirai. Ia menatapku dari bawah, dengan dada naik turun dan kelopak mawar menempel di bahunya, dengan wajah yang campuran antara takjub dan takut dan sesuatu yang jauh lebih dalam dari keduanya.

“Ren,” bisiknya. “Jantung aku.”

Aku meletakkan telapak tanganku di dadanya. Merasakannya. Cepat. Keras. Seperti burung yang terkurung.

“Seratus dua puluh?” tanyaku.

“Mungkin seratus empat puluh.”

“Aku yang bikin, kan?”

“Iya.”

Aku tersenyum. Aku menunduk, menciumi lehernya, rahangnya, sudut bibirnya, telinganya yang merah, sambil terus menekankan telapak tanganku di atas jantungnya yang berlari.

“Kali ini,” bisikku di telinganya, “kamu enggak usah ngitung, Mas.”

Tangannya di pinggangku mengerat.

“Aku yang hitung.”

Kelambu putih itu tertutup oleh angin dari lembah.

Lampu tidur di nakas, entah siapa yang memadamkannya, padam.


Pukul dua dini hari, aku terbangun karena dingin.

Selimutnya tidak ada. Gaun satin merah bata itu tidak ada. Kelopak mawar ada di mana-mana, menempel di kulitku, di bantal, di rambut Bima.

Bima ada di sebelahku. Tidur telentang, sangat lurus, dengan satu lengan di bawah leherku dan tangan yang lain di atas perutku, memelukku seperti orang yang takut aku hilang dalam tidur. Napasnya teratur. Wajahnya, tanpa kacamata, sangat muda dan sangat damai.

Aku tidak menarik selimut. Aku menempelkan tubuhku ke tubuhnya, karena tubuhnya hangat, sangat hangat, lebih hangat dari selimut mana pun.

Ia bergumam dalam tidurnya. Lengannya mengerat di sekelilingku.

“Ren,” gumamnya, dengan mata masih tertutup.

“Hm?”

“Kamu kedinginan?”

“Sedikit.”

Ia menarikku lebih rapat. Dadanya di punggungku. Napasnya di tengkukku. Kakinya membelit kakiku.

“Udah?” gumamnya.

“Udah.”

Hening sebentar. Lalu ia berbisik, sangat pelan, setengah tidur, dengan suara yang hanya bisa kudengar karena bibirnya tepat di belakang telingaku:

“Aku sayang kamu juga. Tadi lupa bilang. Pas di restoran.”

Aku tersenyum ke kegelapan.

“Telat lima jam, Mas.”

“Maaf,” gumamnya. “Lain kali aku bilang tepat waktu.”

Ia sudah tertidur lagi sebelum aku sempat menjawab.