← Masih di Folder Draf

Chapter Twenty Three

Sop Ayam

POV: Bima

Aku tidak menelepon hari Sabtu.

Aku tidak mengirim pesan hari Minggu. Aku tidak datang ke lantai delapan belas hari Senin. Aku tidak menyalakan AC atau mematikan lampu atau menaruh termos di kursi siapa pun. Hari Selasa, saat aku melihat mobil putih masuk ke basement pukul 07.41 dari balik pintu putar lobi, aku tidak berdiri di samping pilar. Aku berdiri di sebelah mesin absensi, sepuluh meter dari pilar, dan aku memaksa diriku menatap layar mesin absensi sampai mobil itu menghilang.

Biar aku yang memutuskan kapan.

Aku menuruti permintaannya. Itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan dengan benar.

Tapi aku tidak bisa tidur.

Setiap malam sejak Sabtu, aku duduk di lantai kos dengan buku catatan cokelat di pangkuan. Aku tidak menulis daftar faktur. Aku tidak menulis catatan rekonsiliasi. Aku menulis sesuatu yang belum pernah kutulis sebelumnya, di halaman baru, dengan judul yang kutulis dengan huruf kecil dan rapi di bagian atas:

Hal yang harus kutanyakan dulu.

Di bawahnya, aku menulis pertanyaan. Satu per satu. Setiap pertanyaan adalah sesuatu yang selama ini kuputuskan sendiri tanpa bertanya. Malam Sabtu ada sebelas. Malam Minggu, dua puluh tiga. Malam Senin, tiga puluh empat. Malam Selasa, aku berhenti di empat puluh satu, karena aku menyadari bahwa daftar itu tidak akan pernah selesai. Daftar itu adalah daftar seluruh hidupku.

1. Boleh aku menyukaimu dari jauh, atau kamu ingin tahu?
2. Laki-laki di tempat parkir itu siapa?
3. Kalau aku menelepon, kamu mau mengangkat?
...
17. Kamu ingin aku menunggu di pilar, atau kamu lebih suka aku tidak di sana?
...
29. Kamu ingin tahu kebenaran sekarang, walaupun kamu capek, atau kamu ingin aku menunggu?
...
41. Kamu masih ingin aku di sini?


Hari Rabu pukul sepuluh pagi, Mbak Sarah menelepon ke mejaku.

Mbak Sarah tidak pernah menelepon ke mejaku. Ia mengirim catatan tempel lewat kurir, atau email dengan subjek yang sangat pendek, atau muncul sendiri di lantai tujuh seperti burung hantu di siang hari. Tapi telepon mejaku berbunyi, dan nomor yang muncul di layarnya adalah nomor ekstensi lantai delapan belas.

“Bima,” kata Mbak Sarah. Suaranya datar, seperti biasa. Tapi ada sesuatu di bawahnya. “Bu Renata tidak masuk hari ini.”

Aku berhenti bernapas.

“Demam,” lanjutnya. “Sejak semalam. Tiga puluh delapan koma tujuh, kata Bi Asih, asisten rumah tangganya. Ibu menelepon saya jam enam pagi, minta semua rapat dibatalkan. Termasuk rapat dengan auditor eksternal jam dua siang, yang tidak bisa dibatalkan, jadi saya geser ke besok.”

“Ibu udah ke dokter, Mbak?”

“Tidak mau. Katanya hanya kecapekan.” Jeda. “Bi Asih bilang Ibu belum makan sejak kemarin siang. Bi Asih sudah masak bubur. Ibu tidak mau. Bi Asih masak sup. Ibu tidak mau. Bi Asih menelepon saya jam sembilan dan menangis.”

Aku mencengkeram gagang telepon.

“Bima.” Suara Mbak Sarah turun satu nada. “Saya tidak menyuruhmu melakukan apa pun. Saya ingin itu jelas. Ibu meminta saya untuk tidak mengganggunya, dan saya tidak mengganggunya. Saya hanya memberi tahu staf AP bahwa CFO tidak masuk hari ini, karena ada beberapa dokumen yang perlu persetujuan beliau dan akan tertunda.”

“Iya, Mbak.”

“Alamat rumah Ibu ada di sistem HR. Kamu tidak punya akses ke sistem HR.”

“Nggak, Mbak.”

“Tapi kamu punya akses ke data alamat penerima reimbursement,” kata Mbak Sarah. “Karena kamu staf AP. Dan Ibu mengajukan reimbursement biaya taksi bulan Juni.”

Hening.

“Saya tidak bilang apa-apa, Bima,” kata Mbak Sarah. “Saya hanya mengatur jadwal.”

Klik.


Rumah Renata ada di sebuah jalan yang tenang di Kebayoran Baru, di antara deretan rumah tua bertembok putih dengan pagar besi hitam dan pohon kamboja di halaman depan. Rumahnya sendiri tidak terlalu besar, lebih kecil dari yang kubayangkan untuk seorang CFO. Dua lantai. Atap genteng cokelat. Halaman depan berisi rumput yang dipangkas rapi dan satu pohon mangga yang buahnya masih kecil-kecil dan hijau.

Aku berdiri di depan pagarnya pukul dua belas siang dengan kantong belanjaan di dua tangan.

Ayam kampung setengah ekor, dipotong delapan. Wortel, kentang, buncis, seledri, daun bawang. Bawang merah, bawang putih, merica butiran, pala. Dua batang kayu manis. Satu ruas jahe. Aku membelinya di pasar Santa dalam empat puluh menit, setelah izin pulang cepat kepada Pak Darto dengan alasan urusan keluarga. Pak Darto menatapku lama, lalu menatap telingaku, lalu berkata, “Pergi. Jangan bilang ke saya ke mana.”

Aku tidak menekan bel.

Aku berdiri di depan pagar dan menatap jendela-jendela di lantai dua. Semuanya tertutup tirai. Salah satu dari jendela itu pasti kamarnya. Ia ada di sana, demam tiga puluh delapan koma tujuh, belum makan sejak kemarin siang. Bi Asih sudah memasak bubur dan sup, dan ia menolak keduanya.

Dulu aku akan langsung masuk. Dulu, aku akan menekan bel, meminta izin kepada Bi Asih untuk memakai dapur, memasak sop, mengantarnya ke kamar, dan pergi sebelum ia sempat menolak. Itu yang kulakukan dengan termos di ruang Saba. Itu yang kulakukan dengan obat migrain dan lampu yang diredupkan. Itu yang kulakukan dengan mendoan, dan dengan deposit Lumière, dan dengan dua rapat yang dibatalkan lewat Mbak Sarah.

Aku selalu memutuskan apa yang baik untuknya, lalu melakukannya, tanpa bertanya.

Biar aku yang memutuskan kapan.

Aku menurunkan kantong belanjaan ke trotoar. Aku mengeluarkan buku catatan cokelat dari tas. Aku membukanya di halaman Hal yang harus kutanyakan dulu, dan aku membaca pertanyaan nomor satu sampai empat puluh satu, sekali lagi, berdiri di depan pagar besi hitam di bawah matahari Kebayoran Baru pukul dua belas siang.

Lalu aku menekan bel.

Pintu depan terbuka setelah dua kali bel. Seorang perempuan paruh baya berdaster batik dan berkerudung instan keluar ke teras. Wajahnya bulat dan matanya bengkak, seperti orang yang baru menangis.

“Cari siapa, Mas?”

“Bi Asih?”

Ia menyipitkan mata. “Iya. Mas siapa?”

“Saya Bima, Bi. Dari kantor Bu Renata.”

Mata Bi Asih membesar. Ia menatapku dari ujung kepala sampai ke kantong belanjaan di trotoar. Lalu tangannya terangkat ke mulut.

“Mas yang nyetrika blazer? Yang dua puluh tiga menit?”

“...Iya, Bi.”

“Ya Allah.” Bi Asih berjalan cepat ke pagar dan memegang besinya dengan dua tangan, seperti narapidana yang menatap pengunjung. “Mas. Ibu sakit, Mas. Ibu nggak mau makan. Saya udah masak bubur, udah masak sup, Ibu bilang nggak lapar. Ibu cuma tidur, bangun, liat jendela, tidur lagi. Dari kemarin.”

“Saya tahu, Bi. Mbak Sarah cerita.”

“Mas mau masuk? Masuk, Mas. Masuk aja.”

“Bi,” kataku. “Saya belum boleh masuk.”

Bi Asih menatapku dengan bingung.

“Bu Renata minta saya nggak datang,” kataku pelan. “Hari Sabtu. Beliau bilang beliau yang memutuskan kapan. Jadi saya nggak boleh masuk kalau beliau nggak ngizinin.”

“Terus Mas ngapain di sini?”

Aku menunjukkan kantong belanjaan di trotoar.

“Saya bawa bahan sop ayam, Bi. Sop ayam ala Purwokerto. Ibu saya selalu masak ini kalau ada yang sakit di rumah. Pakai kayu manis sama pala.” Aku menelan ludah. “Bi, bisa tolong tanyain ke Bu Renata? Saya boleh nggak masak sop di dapur sini? Di dapur aja. Saya nggak bakal naik. Saya nggak bakal nemuin beliau kalau beliau nggak mau. Saya masak, terus Bibi yang antar. Habis itu saya pulang.”

Bi Asih menatapku.

“Terus kalau beliau bilang nggak,” lanjutku, “bahannya saya titip ke Bibi, saya pulang. Saya nggak bakal tersinggung. Itu hak beliau.”

Bi Asih menatapku lama sekali. Matanya yang bengkak mulai berkaca-kaca lagi.

“Mas,” katanya pelan. “Mas mau saya nanya dulu ke Ibu? Mas nggak langsung masuk?”

“Saya harus tanya dulu, Bi.”

Bi Asih menatapku seperti melihat sesuatu yang sangat aneh dan sangat berharga. Lalu ia berbalik dan berlari ke dalam rumah, dasternya berkibar.

Aku berdiri di depan pagar. Aku menunggu.

Satu menit. Tiga menit. Lima menit.

Delapan menit kemudian, Bi Asih kembali. Napasnya terengah. Wajahnya aneh, separuh ingin tertawa, separuh ingin menangis.

“Ibu bilang,” katanya, membuka gembok pagar, “‘Bilang dia boleh masak. Tapi jangan naik.’”

Aku menghembuskan napas yang kutahan selama delapan menit.

“Terus Ibu bilang satu lagi,” lanjut Bi Asih. “Ibu bilang, ‘Dan bilang ke dia, terima kasih sudah bertanya.’”


Dapur rumah Renata bersih dan terang, dengan lantai keramik putih, kabinet kayu berwarna krem, dan jendela besar yang menghadap ke taman belakang berisi pot-pot anggrek. Semuanya rapi. Terlalu rapi, seperti dapur yang jarang dipakai memasak oleh pemiliknya. Di rak dekat jendela, di antara toples gula dan kopi, ada sebuah termos perak kecil yang ditaruh di bagian paling belakang, tertutup debu tipis.

Aku menatap termos itu sebentar. Lalu aku tidak menatapnya lagi.

Aku memasak.

Bi Asih berdiri di sebelahku sepanjang waktu, pertama dengan curiga, lalu dengan penasaran, lalu dengan kagum. Ia menonton aku membakar ayam kampung sebentar di atas api langsung untuk menghilangkan bau amis. Ia menonton aku menumis bawang merah, bawang putih, dan jahe yang digeprek sampai wangi, lalu memasukkan dua batang kayu manis dan sejumput pala yang diparut. Ia menonton aku merebus ayam dengan api kecil, sangat kecil, dan menyendok buih di permukaannya satu per satu dengan sendok sayur.

“Kenapa apinya kecil banget, Mas?”

“Biar kuahnya bening, Bi. Kalau apinya gede, kuahnya keruh. Kata ibu saya, sop buat orang sakit harus bening. Biar yang makan ngerasa ringan.”

“Kayu manisnya buat apa?”

“Hangat, Bi. Buat yang demam. Kalau pala, biar tidurnya nyenyak.”

Bi Asih mencatat semuanya di ponselnya.

Pukul satu lewat empat puluh, pintu belakang dapur terbuka dan Pak Rahmat masuk membawa kantong plastik berisi obat dari apotek. Ia berhenti di ambang pintu dan menatapku yang sedang mengiris seledri.

“Mas Bima,” katanya.

“Pak Rahmat.”

Pak Rahmat menatap panci di atas kompor. Menatap Bi Asih. Menatapku lagi. Lalu ia meletakkan kantong obat di meja dapur, menarik kursi dari meja makan kecil di sudut, dan duduk.

“Saya tunggu di sini aja,” katanya. “Wanginya enak.”


Pukul dua lewat sepuluh, sop ayamnya jadi.

Kuahnya bening keemasan, dengan potongan wortel dan kentang yang lembut, buncis yang masih hijau, dan taburan seledri serta bawang goreng di atasnya. Wangi kayu manis dan pala naik dari mangkuk seperti asap tipis. Aku menyendok nasi hangat ke mangkuk terpisah. Aku menyiapkan sambal kecap di cawan kecil, dengan irisan cabai rawit yang tidak terlalu banyak, karena ia tidak tahan pedas.

Aku menyusun semuanya di atas nampan. Mangkuk sop. Mangkuk nasi. Cawan sambal kecap. Segelas air hangat. Satu sendok, satu garpu. Satu serbet yang dilipat dua kali.

Lalu aku menyerahkan nampan itu kepada Bi Asih.

“Tolong antar ke Bu Renata, Bi.”

Bi Asih menatap nampan itu. Lalu menatapku. “Mas nggak antar sendiri?”

“Beliau bilang jangan naik, Bi.”

Bi Asih menghela napas panjang, napas seseorang yang tidak mengerti kenapa dua orang dewasa harus serumit ini. Lalu ia mengambil nampan itu dan berjalan ke tangga.

Aku mencuci panci. Aku mengelap kompor. Aku membersihkan sisa kulit bawang dan potongan seledri dari meja dapur. Aku mencuci pisau dan talenan dan meletakkannya di rak. Pak Rahmat menonton aku dari kursinya tanpa berkata apa-apa.

Lalu aku mengambil tasku dan berjalan ke pintu belakang.

“Mas,” kata Pak Rahmat. “Mau ke mana?”

“Pulang, Pak. Sopnya udah jadi.”

“Mas nggak nunggu tahu Ibu makan atau nggak?”

Aku berhenti di ambang pintu.

Aku ingin menunggu. Aku sangat ingin menunggu. Aku ingin duduk di kursi dapur itu sampai Bi Asih turun membawa nampan yang kosong, dan aku ingin tahu bahwa ia makan, bahwa kuahnya cukup hangat, bahwa kayu manisnya tidak terlalu banyak. Aku ingin naik tangga itu dan berdiri di depan pintu kamarnya dan bertanya apakah ia sudah merasa lebih baik.

Tapi ia bilang jangan naik.

“Nanti Bi Asih bisa kabarin saya, Pak,” kataku. “Lewat Mbak Sarah.”

Aku membuka pintu belakang.

“Bima.”

Suara itu datang dari arah tangga.

Aku membeku di ambang pintu. Pak Rahmat berdiri dari kursinya. Di belakangnya, di kaki tangga yang menghubungkan dapur dengan lantai dua, berdiri Renata.

Ia memakai sweter rajut abu-abu yang kebesaran, sampai menutupi setengah telapak tangannya. Celana piyama katun bergaris biru-putih. Kaus kaki tebal. Rambutnya terurai berantakan, kusut di satu sisi seperti baru bangun tidur. Wajahnya pucat, dengan semburat merah di pipi karena demam, dan bibirnya, yang selalu merah bata, sekarang berwarna merah muda pucat, kering dan sedikit pecah di bagian tengah. Tidak ada riasan sama sekali. Tidak ada blazer, tidak ada heels, tidak ada pulpen merah.

Dan ia tetap perempuan paling cantik yang pernah kulihat. Aku sudah berhenti terkejut dengan itu. Datanya konsisten. Sudah empat tahun konsisten.

Ia memegang mangkuk sop di dua tangan. Mangkuknya setengah kosong.

“Kamu mau pulang,” katanya. Suaranya serak.

“Iya.”

“Tanpa bertanya dulu aku mau kamu pulang atau enggak?”

Aku membuka mulut. Menutupnya.

Renata berjalan turun dari anak tangga terakhir, pelan, dengan kaus kaki tebal di lantai keramik. Ia meletakkan mangkuk sop di meja dapur. Ia menatap Pak Rahmat. Pak Rahmat tiba-tiba ingat ada yang harus ia periksa di mobil, dan keluar lewat pintu belakang sambil menarik Bi Asih, yang sedang berdiri di tangga dan menolak keluar.

Pintu belakang tertutup.

Hanya kami berdua di dapur.

“Kamu bertanya ke Bi Asih,” katanya. “Kamu boleh masak atau enggak.”

“Iya.”

“Kamu enggak naik.”

“Kamu bilang jangan naik.”

“Dan kamu mau pulang tanpa tahu aku makan atau enggak.”

“Kamu bilang biar kamu yang memutuskan.”

Renata menatapku dengan mata yang merah dan berkaca-kaca karena demam, atau karena sesuatu yang lain. Ia menarik napas, lalu batuk kecil, lalu menarik napas lagi.

“Kamu bawa apa di tas kamu?” tanyanya.

Aku tidak menjawab. Aku membuka tas. Aku mengeluarkan buku catatan cokelat.

“Daftar,” kataku.

“Daftar apa?”

Aku membuka halamannya. Hal yang harus kutanyakan dulu. Empat puluh satu pertanyaan, ditulis dengan huruf kecil dan rapi selama empat malam.

Aku menyerahkan buku itu kepadanya.

Renata membacanya. Berdiri di dapurnya sendiri, dengan sweter kebesaran dan kaus kaki tebal, di bawah cahaya siang yang masuk dari jendela taman belakang. Ia membacanya pelan. Halaman demi halaman. Sesekali bibirnya bergerak tanpa suara. Di pertanyaan nomor tujuh belas, ia berhenti lama. Di pertanyaan nomor dua puluh sembilan, tangannya gemetar.

Di pertanyaan nomor empat puluh satu, ia berhenti membaca.

41. Kamu masih ingin aku di sini?

Ia mengangkat wajah.

“Kamu nulis ini empat hari?”

“Empat malam.”

“Kenapa?”

“Karena semua hal yang saya putuskan sendiri soal kamu,” kataku pelan, “harusnya jadi pertanyaan. Dulu saya nggak tahu. Sekarang saya tahu. Saya coba tulis semuanya. Tapi daftarnya nggak pernah selesai. Saya berhenti di empat puluh satu karena... karena itu yang paling penting.”

Renata menatapku. Ia tidak menjawab pertanyaan nomor empat puluh satu. Ia menutup buku catatan itu, pelan, dan memeluknya di depan dadanya.

“Pertanyaan pertama,” katanya. “Boleh kamu di sini sekarang?”

“Itu bukan pertanyaan saya. Itu pertanyaanmu.”

“Aku lagi belajar dari kamu,” katanya. “Aku juga biasa mutusin sendiri, Bima. Kita sama. Aku cuma lebih jago nyembunyiinnya.” Ia menelan ludah. “Jadi aku tanya. Boleh kamu di sini sekarang? Atau kamu harus pulang?”

“Saya boleh di sini,” kataku. “Kalau kamu mau.”

“Aku mau.”


Kami duduk di sofa ruang tengah, yang menghadap ke taman belakang melalui pintu kaca geser. Ia di satu ujung, terbungkus selimut tipis yang diambilkan Bi Asih, dengan mangkuk sop kedua di pangkuannya. Aku di ujung lain. Kali ini tanpa jarak satu bantal. Hanya setengah.

Ia makan sop itu sampai habis. Lalu ia meminta setengah mangkuk lagi, dan Bi Asih, yang tiba-tiba sudah kembali ke dapur, mengantarkannya dengan wajah orang yang baru menyaksikan mukjizat.

Lalu aku menceritakan semuanya.

Aku tidak menyimpan apa pun. Aku menceritakan pulpen merah yang ia tinggalkan di mejaku, yang masih kusimpan di buku cokelat dengan tutup yang ia gigit. Aku menceritakan tempat parkir, Hendra, termos perak. Aku menceritakan kamar kos di Depok, surat yang kutulis pukul sebelas lewat empat puluh delapan malam, dan kenapa aku memberinya judul jangan dikirim. Aku menceritakan Purwokerto, Ibu, bawang yang dikupas di dapur, Bima iki sapa. Aku menceritakan dua tahun berdiri di samping pilar, dan kenapa aku masuk ke Wiraguna, dan kenapa aku tidak pernah naik ke lantai delapan belas.

(Artinya: “Memangnya Bima ini siapa”)

Aku menceritakan Satrio di lobi, sisanya biar saya yang urus, dan kenapa aku mundur.

Aku menceritakan draf hari Sabtu pukul satu lewat dua puluh pagi.

Lalu aku mengambil ponselku. Aku membuka percakapan kami. Draf itu masih di sana, di kolom ketik, dengan tulisan kecil berwarna abu-abu di atasnya.

Renata. Ada yang harus aku ceritakan. Tentang kenapa aku tidak menelepon.

Aku menatap tombol kirim.

Lalu, di depan matanya, di sofa ruang tengah rumahnya di Kebayoran Baru, aku menekannya.

Ponselnya, di meja kecil di sebelah sofa, bergetar.

Renata menatap ponselnya. Lalu menatapku. Lalu ia mengambil ponselnya dan membaca pesan itu. Pesan yang seharusnya sampai seminggu lalu. Pesan yang seharusnya sampai empat tahun lalu.

“Terlambat,” katanya pelan.

“Saya tahu.”

“Seminggu terlambat.”

“Empat tahun terlambat,” kataku. “Saya tahu.”

Ia menatap layar ponselnya untuk waktu yang lama. Lalu ia meletakkannya di pangkuan, di atas selimut, dan menatapku.

“Satu syarat,” katanya.

“Apa pun.”

“Mulai sekarang, tanya.” Matanya basah. “Sebelum kamu mutusin apa pun soal aku. Sebelum kamu mundur, sebelum kamu nyimpen sesuatu di draf, sebelum kamu mutusin aku terlalu capek atau terlalu rapuh atau pantas dapat yang lebih baik. Tanya. Aku mungkin bilang tidak. Aku mungkin marah. Tapi tanya.”

“Saya akan tanya.”

“Dan aku juga bakal tanya,” katanya. “Aku juga bakal belajar.”

Ia mengulurkan tangannya dari bawah selimut. Tangannya hangat, sekarang. Terlalu hangat, karena demam. Aku menggenggamnya.

“Kamu masih demam,” kataku.

“Udah turun. Sop kamu.”

“Kayu manis dan pala.”

“Itu yang bikin enak?”

“Itu yang membuatnya hangat.”

Ia tersenyum. Lalu ia menarik tanganku, perlahan, dan aku bergeser di sofa, setengah bantal itu menghilang, dan ia menyandarkan kepalanya di bahuku.


Aku tidak tahu kapan semuanya berubah.

Mungkin saat ia mengangkat wajahnya dari bahuku dan menatapku dari jarak yang terlalu dekat. Mungkin saat ia berkata, aku sudah tidak marah, dengan suara yang serak dan rendah. Mungkin saat ia menciumku, pelan, di sudut bibir, lalu di bibir, dengan rasa kayu manis dan pala yang masih tersisa di lidahnya.

Aku tidak tahu kapan ciuman itu berubah dari pelan menjadi tidak pelan.

Aku tahu bahwa selimut tipis itu jatuh ke lantai. Aku tahu bahwa ia bergeser, dan aku bergeser, dan tiba-tiba punggungku menempel di sandaran sofa dan ia setengah berada di pangkuanku, dengan sweter abu-abu kebesaran dan kaus kaki tebal dan rambut yang berantakan jatuh di wajahku. Aku tahu tangannya ada di rambutku, lalu di leherku, lalu di kerah kemejaku, dan jari-jarinya menemukan kancing teratas.

Satu kancing.

Aku tahu, dengan kepastian seperti angka di kolom saldo akhir, bahwa aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya dan bahwa setiap sel di tubuhku ingin mencari tahu.

Dua kancing.

“Re—” kataku di bibirnya.

Ia tidak berhenti.

“Re—Renata—”

“Hm?”

“Tunggu.”

Ia berhenti. Ia mengangkat wajahnya sedikit, dua sentimeter. Matanya gelap. Napasnya cepat. Pipinya merah, dan aku tidak tahu apakah itu karena demam atau karena yang lain.

“Kamu,” kataku, napasku berantakan, “kamu demam.”

“Udah turun.”

“Masih tiga puluh tujuh koma lima. Tadi Bi Asih bilang.”

“Itu normal.”

“Itu nggak normal, Renata. Normal itu tiga puluh enam koma lima sampai tiga puluh tujuh.”

Ia menatapku. Lalu bibirnya bergerak, seperti menahan tawa. “Kamu ngitung suhu badanku. Sekarang.”

“Saya selalu ngitung.”

“Bima—”

“Dan Bi Asih di dapur,” kataku cepat. “Saya bisa dengar Bi Asih nyuci piring. Dia berhenti nyuci piring tiga menit lalu. Dia lagi dengerin.”

Dari arah dapur, terdengar bunyi piring yang jatuh ke bak cuci, diikuti bunyi keran yang dinyalakan sangat keras.

Renata menutup mulutnya dengan tangan.

“Dan,” kataku. Aku menatapnya. Aku menatap wajahnya yang dua sentimeter di atasku, dengan rambut yang jatuh di pipiku dan bibir yang merah muda pucat dan sedikit pecah dan sangat, sangat dekat. Telingaku terbakar. Seluruh tubuhku terbakar. Dan aku mengatakan satu-satunya hal yang benar, karena aku tidak bisa mengatakan hal lain.

“Dan saya belum menikahimu.”

Ia membeku.

Hening. Keran di dapur masih menyala dengan keras. Di taman belakang, seekor burung berkicau di pohon mangga.

Renata menatapku lama sekali. Matanya, yang tadi gelap, perlahan berubah. Menjadi basah. Menjadi lembut. Menjadi sesuatu yang tidak bisa kuberi nama.

“Kamu belum menikahiku,” ulangnya pelan.

“Belum.”

“Belum,” katanya sekali lagi, seolah-olah mencicipi kata itu. “Bukan ‘tidak’. ‘Belum’.”

Telingaku menyala seperti lampu rem di jalan tol.

“Saya... maksud saya...”

“Aku tahu maksud kamu.” Ia tersenyum. Lalu ia tertawa, pelan, di dadaku, dengan bahu yang bergetar dan tangan yang masih di kerah kemejaku. “Kamu ngehentiin perempuan yang lagi buka kancing kemeja kamu dengan bilang kamu belum menikahinya.”

“Maaf.”

“Jangan minta maaf.” Ia mengangkat wajah dan menatapku. “Enggak ada laki-laki yang pernah ngehentiin aku, Bima. Enggak ada satu pun.”

Ia memasang kembali kedua kancing kemejaku. Pelan. Satu per satu. Dengan jari yang sedikit gemetar. Lalu ia merapikan kerahnya. Lalu ia menepuk dadaku dua kali, di atas jantung, seperti menepuk sesuatu yang berharga.

Lalu ia bergeser turun dari pangkuanku, memungut selimut dari lantai, dan membungkus dirinya kembali, dan menyandarkan kepalanya di bahuku seperti tidak ada yang terjadi.

“Bi Asih,” katanya, dengan suara yang cukup keras untuk terdengar sampai dapur. “Kerannya boleh dimatiin.”

Keran di dapur langsung mati.

“Sama tolong bikinin teh. Dua cangkir. Madu satu sendok.”

“I-iya, Bu!”

Renata memejamkan mata di bahuku. Napasnya pelan-pelan kembali teratur. Tangannya menemukan tanganku di atas sofa dan menggenggamnya.

“Pertanyaan nomor empat puluh satu,” katanya pelan, dengan mata tertutup.

Aku menunggu.

“Iya,” katanya. “Aku masih ingin kamu di sini.”

Aku tidak bisa menjawab. Jadi aku hanya duduk di sana, dengan kepalanya di bahuku, tangannya di tanganku, dan buku catatan cokelat yang terjepit di antara kami, sampai Bi Asih membawa dua cangkir teh dengan wajah yang semerah telingaku, dan sampai matahari mulai turun di balik pohon mangga di taman belakang.

Aku tidak menghitung berapa lama.

Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin tahu.